HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1.Setting Penelitian
8) Minat Membaca
SMP Negeri 1 Sleman telah memiliki perpustakaan yang cukup luas dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Namun dalam mengembangkan minat membaca siswa, sekolah memiliki program khusus selain kunjungan rutin ke perpustakaan. Sekolah menerapkan program membaca setiap pagi 15 menit sebelum mata pelajaran dimulai. Disampaikan ibu EHA dalam wawancara selaku Plt kepala sekolah di SMP Negeri 1 Sleman, sebagai berikut.
“Ada programnya itu program membaca, 15 menit setiap hari Senin sampai hari Kamis, setiap hari Senin sampai Kamis 15 menit pada pukul 07.00 sampai 07.15 itu sudah dijadwal, selain itu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk eksplorasi itu memperluas pengetahuan...” (EHA, 2 April 2016)
Ada program membaca yang dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan Kamis 15 menit awal dari pukul 07.00 sampai pukul 17.15 siswa diberikan waktu untuk membaca buku dan mengeksplorasi pengetahuan mereka. Disampaikan pula oleh ibu KT pada saat wawancara, yaitu:
“Ini baru saja ada kegiatan membaca sebelum pelajaran dimulai ada kegiatan membaca15 menit. 15 menit sebelum pelajaran dimulai itu setiap hari, tapi baru berjalan beberapa bulan ini.” (KT, 19 Maret 2016)
Kegiatan membaca yang dilakukan 15 menit sebelum pelajaran dimulai ini telah terlaksana dalam waktu beberapa bulan terakhir. Kedua pernyataan tersebut didukung dengan hasil wawancara siswa yaitu:
99
“...Jadi dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis itu 15 menit sebelum pembelajaran akan dimulai baca buku, tapi guru wali kelasku kan menyarankan buku yang mungkin banyak memiliki manfaat kaya ensiklopedia, atau buku lainnya” (MIH, 18 Maret 2016)
Kebijakan tersebut diterapkan untuk membiasakan siswa membaca buku setiap harinya. Karena pada dasarnya suatu kebiasaan itu pada awalnya harus di paksakan diterapkan terlebih dahulu sebelum sedikit demi sedikit tanpa disuruh pun siswa sudah dengan sadar diri membaca buku baik itu fiksi maupun non fiksi. Seperti yang disampaikan oleh bapak AI dalam wawancara sebagai berikut.
“...kemarin itu sudah kita coba, 15 menit awal itu kita berikan waktu anak-anak silahkan membaca dan membuat sebuah rangkuman dari hasil membacanya itu kemudian kita presentasikan apa yang kamu baca. Dan kemarin bukan buku materi pelajaran tapi lebih banyak buku tentang cerita-cerita fiksi atau apa gitu, novel. Yang penting anak-anak membaca dulu” (AI, 19 Maret 2016)
Dengan diterapkannya kebijakan tersebut kini keadaan perpustakaan mulai ramai, dan koleksi koleksi yang dimiliki perpustakaan pun diperbaharui sehingga menambah minat membaca siswa.
100
Hal tersebut didukung dengan hasil pengamatan peneliti, bahwa setiap harinya perpustakaan ini selalu ramai dikunjungi siswa baik itu untuk peminjaman buku atau untuk penggunaan komputer sebagai media pencari informasi. Selain itu petugas perpustakaan yang ada di SMP Negeri 1 Sleman begitu ramah dengan pengunjung sehingga dapat meningkatkan minat siswa untuk berkunjung ke perpustakaan ini.
9) Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada di dalam dirinya. Selain itu kegiatan ekstrakurikuler ini dapat menjadi sarana siswa dalam memanfaatkan waktu dan mengembangkan prestasinya di bidang non akademik. Oleh karena itu sekolah selalu berusaha untuk memaksimalkan fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada agar siswa dapat berkegiatan dengan nyaman di sekolah. Berikut merupakan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Sleman: Osis, PMR, KIR, Tonti, Marching Band, Pramuka, Batik, Voly, Basket, Sepak Bola, Pencak Silat, Aero Modeling, Atletik, Karawitan, Musik, dan Paduan Suara. Kegiatan ekstrakurikuler ini lebih difokuskan kepada siswa kelas VII dan VIII, sedangkan kelas IX lebih disarankan untuk mengurangi segala kegiatan non akademik dan mulai diarahkan untuk persiapan Ujian Nasional.
101 B. Pembahasan
Kultur sekolah menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sekolah karena kultur sekolah merupakan sekumpulan nilai, adat-istiadat, norma, dan asumsi yang dijadikan sekolah sebagai pedoman pengembangan peningkatan kualitas sekolah. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Barnawi & M. Arifin (2013: 67) bahwa kemajuan suatu sekolah sangatlah ditentukan oleh budaya sekolah yang tertanam dalam setiap diri warga sekolah. Hal ini sangatlah beralasan karena budaya sekolah mengandung kekuatan yang mampu menggerakkan kehidupan sekolah. Budaya sekolah dalam hal ini berperan dalam mengarahkan pikiran, ucapan, dan tindakan seluruh warga sekolah. Budaya sekolah yang terkonsep dengan baik sesuai dengan tujuan sekolah memiliki strategi, daya ungkit untuk berprestasi, sekaligus mengantarkan warga sekolah kepada gerbang kesuksesan. Namun sebaliknya, apabila budaya sekolah tidak dikelola dengan baik, dibiarkan begitu saja, justru akan membahayakan keberlangsungan sekolah. Budaya juga dapat digunakan sebagai strategi sekolah untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, serta memenangkan mutu para siswa. Hal serupa dimiliki oleh SMP Negeri 1 Sleman sebagai salah satu sekolah favorit dan sekolah andalan di kabupaten Sleman yang memiliki pengembangan kultur sekolah sebagai pembentuk kepribadian sekolah. Pengembangan kultur sekolah di SMP Negeri 1 Sleman adalah sebagai berikut. 1. Gambaran Kultur Sekolah di SMP Negeri 1 Sleman
Kultur sekolah merupakan aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sekolah karena kultur itu sendiri merupakan suatu
102
kumpulan adat istiadat, asumsi-asumsi, dan nilai-nilai yang dijadikan pandangan agar sekolah mampu menjadi sekolah yang baik dan berkualitas. Seperti yang disampaikan oleh Deal & Peterson dalam sebuah jurnal milik Ariefa Efianingrum (2013: 21) bahwa kebudayaan sekolah merupakan kesatuan dari norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan, ritual dan upacara-upacara, simbol-simbol, serta cerita yang membentuk kepribadian suatu sekolah. Hal yang serupa dimiliki oleh SMP Negeri 1 Sleman sebagai salah satu sekolah favorit yang memiliki pengembangan kultur sebagai pembentuk kepribadian siswa.
Bagi kepala sekolah pemahaman setiap warga sekolah mengenai kultur sekolah merupakan hal yang sangat penting. Hal tersebut dikarenakan, setiap sekolah memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Dengan memahami kultur yang berkembang di lingkungan sekolah tersebut, sekolah dapat menyusun strategi ataupun rencana untuk memperbaiki mutu sekolah, mengatasi permasalahan sekolah, dan melakukan perbaikan di setiap aspek. Akan tetapi pemahaman tentang kultur sekolah di SMP Negeri 1 Sleman belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh warga sekolah. Siswa masih belum terlalu memahami apakah yang dimaksud dengan kultur sekolah.
Kultur sekolah terdiri dari artifak dan nilai-nilai yang diyakini di lingkungan SMP Negeri 1 Sleman itu sendiri. Artifak merupakan lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati karena artifak itu sendiri berhubungan dengan sarana prasarana sekolah, dan kegiatan yang terdapat di dalam lingkungan sekolah. SMP Negeri 1 Sleman terletak di pinggir Jalan Magelang yang merupakan akses jalanan utama masyarakat sehingga sekolah ini termasuk dalam
103
kondisi lokasi yang strategis. Sekolah ini memiliki lahan yang cukup luas dan sebagian besar bangunan dari sekolah ini merupakan bangunan bekas Belanda dahulu. Keadaan kultur fisik dari sekolah ini secara keseluruhan telah menunjukkan bahwa sarana prasarana yang dimiliki sekolah telah memadai, yaitu: lapangan sekolah, ruang kelas, ruang kantor, Masjid, laboratorium Biologi, laboratorium Fisika, perpustakaan, ruang keterampilan, ruang musik, ruang elektronika, laboratorium komputer, ruang bimbingan konseling, UKS, koperasi sekolah, ruang agama, aula, kantin sekolah, dapur sekolah, toilet siswa, toilet guru dan karyawan. Sekolah juga memiliki berbagai gambar dan slogan yang di pasang di koridor, di dalam kelas, dan setiap sudut sekolah. Gambar dan slogan tersebut menjadi salah satu media pemberian motivasi siswa dan warga sekolah yang lainnya dalam proses pembelajaran, bertindak, dan bersikap. Selanjutnya cara berpakaian warga sekolah sudah memenuhi syarat yang telah ditetapkan sekolah sehingga dengan begitu dapat disimpulkan bahwa siswa dan warga sekolah lain telah mematuhi tata tertib dalam berpakaian.
Disamping memiliki artifak fisik yang berupa sarana prasarana dan bangunan lainnya, SMP Negeri 1 Sleman juga memiliki nilai-nilai yang diyakini dan diimplementasikan yaitu nilai budaya bersih, budaya berprestasi, budaya religius, budaya disiplin, budaya kerjasama, budaya sopan santun, budaya tanggung jawab, dan minat membaca. Budaya bersih ditanamkan kepada seluruh siswa agar mereka dapat secara sadar untuk senantiasa menjaga agar lingkungan belajar mereka baik di sekolah maupun di luar sekolah terjaga dengan baik. Penanaman budaya bersih ini ditanamkan sekolah melalui berbagai program salah
104
satunya dengan adanya program tumitlangkung atau yang sering disebut dengan tujuh menit untuk kebersihan lingkungan. Selain itu sekolah juga menyediakan tempat sampah di berbagai sudut sekolah serta dengan adanya Jumat bersih dan regu piket di setiap kelas. Kebersihan di lingkungan sekolah di SMP Negeri 1 Sleman sudah cukup bersih, baik itu di ruang kelas maupun di ruang perkantoran dan di kawasan lapangan sekolah.
Budaya berprestasi di SMP Negeri 1 Sleman ditanamkan dalam kegiatan belajar mengajar setiap hari. Dalam satu minggu sekolah mengadakan kegiatan sarapan pagi. Sarapan pagi disini adalah siswa diberikan soal-soal evaluasi mata pelajaran sebagai pengganti Ulangan Sabtu Bersama (USB). Dengan adanya program sarapan pagi ini guru dapat mengetahui di bagian manakah siswa belum paham atau belum menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Selain adanya program sarapan pagi, pemberian reward and punishment juga berlaku untuk memberikan motivasi kepada siswa agar senantiasa berprestasi. Pembimbingan untuk siswa yang berkemampuan dalam suatu bidang untuk mengikuti lomba juga dilaksanakan agar siswa tersebut mampu untuk berkompetisi dengan siswa dari sekolah lain. Berdasarkan hasil observasi terdapat banyak piala dan piagam yang tersusun di lemari kaca yang terdapat di lobi sekolah. Piala tersebut menjadi salah satu bukti bahwa SMP Negeri 1 Sleman telah cukup banyak meraih prestasi. Prestasi-prestasi yang telah diraih oleh warga sekolah tersebut selanjutnya diberikan penghargaan oleh pihak sekolah. Sekolah memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Penghargaan tersebut biasanya berupa ucapan selamat, pemberian hadiah, piala/
105
piagam, uang bimbingan belajar, serta point penghargaan bagi siswa yang beprestasi.
Budaya religius dalam lingkungan SMP Negeri 1 Sleman berdasarkan hasil penelitian sudah sangat baik. Hal ini tercermin dengan adanya sholat berjamaah yang rutin dilakukan baik oleh siswa maupun guru dan staf karyawan di lingkungan SMP Negeri 1 Sleman. Budaya religius di sekolah ini ditanamkan melalui berbagai kegiatan keagamaan diantara yaitu adanya sholat dhuha dan zhuhur berjamaah, tadarus bersama bagi siswa yang beragama muslim dan pendalaman Iman untuk siswa yang non muslim. Selain kegiatan tersebut sekolah juga mengadakan pengajian yang biasanya rutin dilakukan dan itupun bergantian antar kelas dalam satu periode waktunya.
Kedisiplinan merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah SMP Negeri 1 Sleman. Penanaman budaya disiplin di sekolah ini tertuang dalam adanya aturan tata tertib baik untuk guru maupun siswa. Selanjutnya budaya disiplin tersebut ditanamkan melalui kegiatan sehari-hari seperti masuk sekolah tepat waktu, masuk kelas tepat waktu, tidak membawa handphone ke sekolah, menggunakan sepatu berwarna hitam, serta mengumpulkan tugas tepat waktu sesuai dengan kesepakatan antara siswa dengan guru. Budaya disiplin tersebut juga ditanamkan melalui slogan-slogan yang terpasang di setiap sudut sekolah. Hal ini dimaksudkan agar para siswa maupun guru dan staf karyawan termotivasi untuk senantiasa berperilaku disiplin dan mematuhi aturan yang ada. Sistem point juga diterapkan sekolah sebagai penegas aturan yang telah ada. Sistem point ini berlaku untuk siswa dan mencakup beberapa aspek diantara adalah mengenai
106
keterlambatan, pakaian seragam, pengumpulan tugas, serta pelanggaran-pelanggaran lain yang mungkin dilakukan oleh siswa dengan point maksimal 100 dengan sanksi dikeluarkan dari sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, budaya disiplin yang terdapat di SMP Negeri 1 Sleman sudah cukup baik. Meskipun terdapat beberapa pelanggaran kecil seperti terlambat masuk sekolah, atau membawa handphone, sekolah senantiasa berusaha untuk mengatasi pelanggaran-pelanggaran kecil tersebut dengan adanya peraturan yang jelas dan tegas. Adanya sanksi bagi siswa yang melanggar, pembinaan, serta himbauan yang rutin diberikan oleh pihak sekolah pada saat upacara bendera.
Dalam pelaksanaan program yang diterapkan oleh sekolah, kerjasama antar warga sekolah akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kesuksesan pelaksanaan program tersebut. Sekolah menanamkan budaya kerjasama dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Di dalam kurikulum 2013, kerjasama menjadi salah satu aspek yang dinilai guru, oleh karena itu penanaman budaya kerjasama secara rutin diberikan karena hal tersebut juga telah tercantum di dalam kurikulum 2013. Selain itu, dengan adanya classmeeting maupun outbound yang diselenggarakan oleh sekolah juga dapat melatih budaya kerjasama siswa. Hal mengenai budaya kerjasama yang paling terlihat pada saat peneliti melakukan penelitian adalah, sekumpulan siswa mengerjakan satu petak wilayah tembok sekolah/ aula untuk digambari dengan motif batik kemudian diberi warna. Kegiatan ini cukup efektif untuk membuat siswa mampu bekerja sama, karena dengan wilayah cukup luas dan anggota kelompok yang tidak banyak untuk
107
menyelesaikan tugas tersebut para siswa harus bekerja semua dan tidak hanya mengandalkan satu atau dua orang saja didalam kelompok.
Budaya untuk berperilaku sopan santun telah menjadi kebiasaan di sekolah ini. Hal ini ditunjukkan dengan interaksi yang terjadi baik diantara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru, dan warga sekolah dengan tamu. Sekolah menerapkan sistem 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) di lingkungan sekolah, hal tersebut telah tercantum di dalam buku saku/ buku peraturan sekolah. Pada saat pagi hari, di dekat pintu gerbang biasanya beberapa guru berdiri menunggu siswa yang berangkat untuk bersalaman. Selain itu, setiap siswa bertemu guru maupun staf di lingkungan sekolah mereka langsung berjalan mendekat, mengucapkan salam kemudian bersalaman. Hal ini sudah menjadi kebiasaan siswa setiap harinya. Interaksi yang terjalin sangat akrab namun tetap dalam batas kesopanan antara siswa dengan guru. Pada saat berpapasan dengan tamu, siswa tersenyum kemudian mengangguk sebagai tanda memberikan salam. Pada saat upacara, kepala sekolah juga selalu menghimbau seluruh warga sekolah agar menerapkan budaya sopan santun di sekolah. Terlebih lagi untuk guru dan karyawan agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menjadi teladan bagi siswa.
Budaya tanggung jawab ditanamkan oleh sekolah kepada siswa melalui pemberian tugas. Hal tersebut juga telah menjadi bagian dari kurikulum 2013 bahwa nilai tanggung jawab menjadi salah satu aspek yang dinilai dari siswa. Bagi siswa yang tidak menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya maka biasanya akan diberikan sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa pengurangan nilai
108
untuk siswa yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu hingga pemberian hukuman seperti mengerjakan tugas di luar kelas. Selain dengan ditanamkan melalui pemberian tugas, sekolah sedang berencana membagi area lingkungan sekolah menjadi beberapa bagian untuk kemudian dibagi agar dapat dikelola oleh siswa. Hal ini selain sebagai program memperindah lingkungan sekolah yang ada, dapat juga melatih seberasa besar rasa tanggung jawab siswa terhadap kawasan yang mereka miliki. Seperti yang telah terlaksana yaitu pembagian tembok sekolah dan aula untuk dapat di hias dengan motif batik oleh sekelompok siswa. Selain melatih tanggung jawab, tugas tersebut juga melatih kerjasama siswa. Untuk budaya tanggung jawab staf dan karyawan biasanya sekolah melakukan evaluasi terhadap program-program yang telah dibentuk.
SMP Negeri 1 Sleman memiliki perpustakaan yang cukup luas dengan buku koleksi yang cukup banyak dan fasilitas yang cukup memadai. Beberapa tahun ini pengunjung perpustakaan mengalami peningkatan pengunjung sesuai dengan diperbaharuinya keadaan dan koleksi yang ada di perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, siswa di SMP Negeri 1 Sleman telah memiliki minat baca yang sudah cukup tinggi. Minat baca ini tentunya bermanfaat untuk menambah pengetahuan maupun untuk mengisi waktu luang siswa. Pihak sekolah bekerja sama dengan petugas perpustakaan untuk meningkatkan minat baca para siswa. Sekolah memiliki program untuk mewajibkan siswa membaca 10-15 menit sebelum pelajaran di mulai pagi hari. Siswa boleh membawa novel ataupun majalah, buku apa saja asalkan para siswa menggunakan waktu yang telah disediakan tersebut untuk membaca buku. Mayoritas siswa lebih suka membaca
109
novel ataupun komik. Hingga saat ini sudah cukup banyak siswa yang berkunjung ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku, browsing, ataupun meminjam dan mengembalikan buku.
2. Implementasi Program Sekolah dalam Pengembangan Kultur Sekolah