• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Mind mapping sebagai Alat Evaluasi

1. Peta Konsep dan Mind mapping Sebuah Perbandingan

Kartika (1990) menyatakan pemetaan konsep adalah salah satu strategi belajar mengajar untuk membuat belajar bermakna, sedangkan peta konsep dapat dipakai sebagai salah satu indikasi taraf pemahaman siswa akan konsep-konsep yang dipelajari. Dalam aspek pemahaman konsep, hasil belajar berupa perubahan struktur kognitif pemahaman siswa. Perubahan struktur kognitif dalam pikiran siswa dapat dilihat dari proses pemetaan konsep dan peta konsep yang dihasilkannya. Pemetaan konsep merupakan salah satu srategi yang dapat memberi peluang pada siswa berperan serta secara aktif dalam proses belajar mengajar.

Belajar bermakna adalah belajar yang di samping dapat mengingat dan menyatakan kembali definisi dari suatu konsep, prinsip, dan hukum IPA, juga harus dapat menempatkan pengetahuan yang baru diperoleh secara tepat dalam jaringan (peta) pengetahuan yang telah dimilikinya, dan mengetahui hubungannya dengan sebanyak-banyaknya pengetahuan yang telah dimilikinya. Kedalaman dan keluasan pemahaman seseorang akan suatu konsep terletak pada banyaknya hubungan dengan konsep lain. Konsep yang berdiri sendira yang tidak mempunyai kaitan dengan konsep lain, kecuali tidak fungsional dan tidak penting, juga mudah dilupakan.

Pemetaan konsep merupakan salah satu cara untuk mengekternalisasikan konsep-konsep yang telah diperoleh beserta

hubungannya dan peta konsep merupakan hasil eksternalisasi tersebut. Dari peta konsep dapat dilihat keutuhan (unity) dari bangunan pengetahuan (body

of knowledge) yang dimiliki. Darinya juga dapat diketahui keluasan

(banyaknya konsep yang dapat ditangkap dari apa yang dipelajari) dan kedalaman pemahaman (banyaknya hubungan antara konsep-konsep yang dapat dinyatakan). Dari peta konsep dapat diketahui apakah suatu konsep dipelajari bermakna atau secara hafalan. Bila suatu konsep yang seharusnya mempunyai hubungan dengan konsep yang lain, ternyata tidak dapat diletakkan dalam peta konsep yang telah dimiliki, maka konsep tersebut dipelajari hanya secara informatif-verbalistik (hafalan).

Hubungan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain dapat dideskripsikan dalam apa yang disebut peta konsep (concept map)atau jaringan konsep (concept network). Dalam arti luas peta konsep adalah peta (jaringan, diagram) yang memuat konsep-konsep dan hubungannya. Dalam arti yang lebih spesifik peta konsep dapat menyatakan hubungan hierarkis antara konsep yang satu dengan konsep yang lain (Moreire,1987 dalam Kartika, 1990).

Peta konsep dari suatu bangunan pengetahuan yang sama tidak tunggal. Bila ada dua orang yang membangun peta konsep tentang teori yang sama, kiranya tidak dapat diharapkan hasilnya adalah peta konsep yang sama. Bahkan hampir dapat dipastikan bahwa peta konsep dari kedua orang itu akan berbeda. Dapat dipastikan demikian karena kekayaan atau konsep-konsepnya mungkin berbeda; keluasan dan kedalaman akan

pemahaman konsep dan hubungannya mungkin juga berbeda (Kartika, 1990).

Kartika (1990) mengemukakan bahwa membangun peta konsep meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi semua konsep yang akan dipetakan; (2) mengurutkan konsep-konsep tersebut dari yang paling umum ke yang paling khusus (bila peta konsep akan dibuat secara hierarkhis); (3) menetapkan hubungan yang mungkin antara konsep yang satu dengan konsep lainnya dengan membuat garis penghubung dan menuliskan hubungan tersebut pada garis penghubung tersebut.

Dilihat dari tingkat kognitif, peta konsep memiliki tingkat analisis yang lebih tinggi dibandingkan dengan mind mapping. Peta konsep menggunakan kata-kata konsep, intisari dari suatu pokok bahasan yang dituangkan dalam hierarki. Menurut Munthe (2009), concept map menggambarkan satu arti hubungan di antara konsep, tingkat dan kualitas pemahaman si pembuat tentang topik. Sedangkan mind mapping meskipun hampir sama, tetapi berbeda. Mind mapping menggunakan kata-kata kunci dari suatu konsep, disusun secara linear, berkembang, sangat variatif, mind

mapping menggambarkan satu asosiasi. Penelitian ini tidak menggunakan

peta konsepkarena memiliki tingkat kognitif yang sangat tinggi, membutuhkan analisa dan kemampuan pemahaman tinggi akan suatu materi, penggunaan mind mapping lebih sesuai untuk tingkat kognitif siswa di lokasi penelitian.

2. Keunggulan Mind Mapping sebagai Alat Evaluasi

Mind mapping akan lebih banyak mengakomodasi kecerdasan siswa,

dan membuat siswa belajar mandiri dan kreatif dalam pengolahan informasi. Penggunaan mind mapping sebagai alat evaluasi, akan memberikan variasi alat ukur untuk menentukan penilaian pemahaman siswa terhadap suatu pokok bahasan yang dipelajari. Secara psikologis, suasana tes akan berbeda dengan tes konvensional yang biasa dilakukan guru. Siswa menjadi nyaman dengan kegiatan pembuatan mind map yang dilakukan dan tidak seperti tes pada umumnya yang menegangkan. Pembuatan mind mapping akan membantu siswa lebih kreatif, siswa menentukan sendiri isi mind map yang akan dibuat. Tes konvensional kurang dapat mengakomodasi kecerdasan ganda yang dimiliki masing-masing siswa, karena tes konvensional cenderung akan membuat siswa belajar hafalan. Mind mapping akan mengakomodasi kecerdasan ganda yang dimiliki siswa, sehingga siswa lebih leluasa mengeksplorasikan pemahamannya dalam mind map yang dibuat, sehingga guru akan lebih dapat melihat penguasaan siswa akan suatu materi (Goodnough, 2002).

3. Kelemahan Mind Mapping sebagai Alat Evaluasi

Mind mapping akan dapat mengakomodasi beberapa kecerdasan

ganda yang dimiliki siswa. Tetapi, penggunaan mind map sebagai alat evaluasi ini secara teknis akan membutuhkan alokasi waktu belajar yang lebih lama. Siswa harus mengenal mind mapping dengan baik, sehingga saat

pelaksanaan evaluasi, siswa dapat membuat dengan tepat. Selain siswa yang harus dipersiapkan untuk terbiasa dengan pembuatan mind mapping, guru sebagai evaluator harus menguasai sistem penilaian yang digunakan dalam acuan skoring mind mapping. Rubrik penilaian berbeda dari tes konvensional yang biasa dilakukan, dan harus selalu disesuaikan dengan materi yang akan dievaluasi.

4. Menilai Mind Map

Mind map dibuat untuk mengetahui kompleksitas dan komprehensif

pemahaman siswa. Indikator kompleksitas dan komprehensif pemahaman siswa:

Menunjukkan keluasan suatu materi, semakin banyak aspek dalam suatu konsep yang dipahami dan dituangkan dalam suatu materi. Menunjukkan kedalaman, semakin detail sebuah konsep.

Menunjukkan hubungan proposisi, kalimat netral yang menunjukkan hubungan diantara subyek predikat.

Menyatakan hubungan hierarkis antara konsep yang umum dengan konsep khusus.

Terstruktur, menunjukkan konsep yang umum dan konsep khusus. Memuat konsep dunia hewan dan konsep non IPA

Mind map dunia hewan saling berkaitan antar pokok bahasan.

Penilaian mind map

Penilaian mind mapping yang dibuat siswa menggunakan skala ukur rasio. Skala ini merupakan skala ukur yang paling tepat dan presisi baik dalam kegiatan penelitian maupun dalam evaluasi program. Alat ukur ini memiliki fungsi membedakan, memberi peringkat, berjarak sama, mempunyai titik awal/nol (Sukardi, 2014).

Dokumen terkait