• Tidak ada hasil yang ditemukan

12 MINYAK SAWIT ADALAH MINYAK NABATI YANG PALING

SEHAT

Di Indonesia, minyak sawit dikenal sebagai bahan baku minyak goreng yang memiliki beberapa keunggulan. Kandungan asam lemak yang seimbang menyebabkan minyak sawit goreng dapat digunakan untuk deep frying dengan tingkat stabilitas yang tinggi, tidak mudah tengik sehingga produk gorengannya awet dan tidak mengandung radikal bebas. Karakteristik yang demikian sangat cocok dengan eating habit masyarakat Indonesia yang menyukai makanan crispy. Aplikasi minyak sawit di bidang pangan juga tidak hanya terbatas untuk minyak goreng saja, produk pangan lainnya yang menggunakan minyak sawit seperti margarin, shortening, cocoa butter substitute dan cokelat, youghurt, ice cream dan masih banyak lagi.

Namun, dibalik besarnya peran minyak sawit dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia, masih banyak black campaign yang menuduh adanya kandungan dalam minyak sawit yang membahayakan kesehatan. Black campaign tersebut kembali beredar di ruang publik beberapa waktu lalu. Minyak sawit dianggap setara dengan zat aditif makanan yang berbahaya seperti pemanis buatan, penyedap, pengawet dan pewarna yang bersifat karsinogenik dan memicu penyakit kronis lainnya. Penyebarluasan isu tersebut bermaksud untuk kembali menyuarakan gerakan “Palm Oil Free”.

Penyetaraan minyak sawit dengan zat aditif makanan yang berbahaya tersebut, tidak sesuai dengan hasil studi empiris yang telah dilakukan oleh para akademisi dan nutrisionist di dalam negeri dan luar negeri. Faktanya, para ahli dan peneliti menyebutkan minyak sawit sebagai “the world’s richest natural plant” karena minyak sawit mengandung berbagai macam vitamin dan asam lemak yang diperlukan oleh tubuh manusia.

Sumber Vitamin A. Kandungan beta karotene atau Pro-vitamin A yang terdapat dalam minyak sawit berperan sebagai prekusor vitamin A dalam tubuh. Crude Palm Oil mengandung sekitar 6700 μg vitamin A dan menjadi sumber vitamin A yang besar dibandingkan buah dan sayuran. Untuk setiap volume yang sama, andungan vitamin A pada minyak sawit 15 kali lebih banyak dari kandungan vitamin A wortel, lebih dari 100 kali lebih banyak dari kandungan vitamin A pisang dan lebih dari 300 kali lebih banyak dari kandungan vitamin A jeruk. Besarnya kandungan vitamin A dalam minyak sawit berperan sebagai antioksidan yang dapat melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas yang dapat menguatkan imunitas tubuh dan memproduksi antibodi untuk melawan virus dan bakteri.

Sumber Vitamin E. Minyak sawit juga mengandung Alfa tokoferol atau vitamin E yang terdiri dari 20 persen tocopherols dan 80 persen tocotrienols. Kandungan tocotrienols yang melimpah dalam minyak sawit menjadikan minyak sawit sebagai sumber makanan yang kaya antioksidan yang bermanfaat bagi sel dan organ tubuh. Kandungan vitamin E dalam minyak sawit mencapai 1,172 ppm, atau lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain seperti minyak kedelai (958 ppm), minyak jagung (782 ppm), minyak biji bunga matahari (546 ppm), minyak zaitun (51 ppm) dan minyak kelapa (36 ppm).

Kandungan vitamin A dan E yang kaya akan antioksidan selain dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh, tetapi juga terbukti dapat menghambat penyakit kanker. Banyak penelitian di dalam dan luar negeri menyebutkan bahwa konsumsi minyak sawit dapat menekan perkembangan sel kanker, menurunkan dan megendalikan pertumbuhan (berat dan volume) tumor dan mencegah berbagai penyakit degeneratif lainnya. Sebagai catatan, minyak sawit lebih baik dibandingkan dengan minyak kedelai dalam pencegahan penyakit degeneratif karena kandungan antioksidan khususnya tokotrienol minyak sawit dua kali lebih banyak dibandingkan minyak kedelai.

Kandungan Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh yang Seimbang. Komposisi asam lemak minyak sawit terdiri atas asam lemak jenuh (44% asam lemak palmitat, 5% asam lemak stearic), 40% asam lemak tak jenuh ikatan rangkap tunggal (monounsaturated fatty acid, MUFA), 10% asam lemak tak jenuh ikatan rangkap jamak (poly unsaturated fatty acid, PUFA) dan 0.4% asam lemak alpha linolenic. Dr Puspo Edi Giriwono dari Seafast IPB menyampaikan bahwa minyak sawit adalah minyak nabati yang paling sehat sebagai bahan baku minyak goreng dibandingkan minyak nabati lainnya. Hal ini dikarenakan hanya minyak sawit yang memiliki karakteristik kandungan asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang. Dibandingkan dengan minyak nabati lain seperti minyak kelapa, minyak kedelai, minyak jagung dan minyak biji bunga matahari dengan komposisi asam lemak tak jenuh (85-90%) dan asam lemak jenuh (10-15%) yang tidak seimbang. Meskipun komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang relatif seimbang, namun para ahli berpendapat bahwa minyak sawit memiliki karakteristik perilaku monosaturated oils (asam lemak tidak jenuh).

Karakteristik minyak sawit yang demikian juga dibuktikan oleh penelitian para peneliti yang menyimpulkan bahwa konsumsi minyak goreng sawit tidak meningkatkan kolesterol tubuh dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Bahkan sebaliknya, konsumsi minyak sawit justru memperbaiki kolesterol tubuh yakni meningkatkan kolesterol baik (High Density Lipoprotein/HDL), menurunkan kadar kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein/LDL) dan asam lemak (trigliserida) serta mengurangi deposisi lemak tubuh. Sehingga konsumsi minyak sawit dapat mengurangi/mencegah berbagai penyakit yang terkait dengan kadar dan kualitas kolesterol darah seperti penyakit kardiovaskuler/aterosklerosis.

Minyak Sawit Tidak Mengandung Asam Lemak Trans.

Asam lemak trans (trans-fatty acid) mempunyai dampak yang merugikan kesehatan manusia. Sehingga banyak negara-negara Barat melarang menggunakan asam lemak trans dalam bahan

makanan. Asam lemak trans dihasilkan dari proses hidrogenisasi (khususnya hidrogenisasi parsial) untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak dalam pembuatan minyak makan (edible oil) seperti minyak goreng kedelai. Secara alamiah, minyak goreng sawit memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bersifat semi solid dengan titik leleh berkisar antara 33oC–39oC, tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunaanya sebagai lemak makanan, sehingga asam lemak trans tidak terbentuk. Dengan demikian minyak goreng sawit tidak mengandung asam lemak trans.

Hal yang menarik adalah bahwa konsumsi minyak kedelai hidrogenisasi penuh (fully hydrogenated soybean oil) maupun hidrogenisasi parsial (partially hydrogenated soybean oil) justru menghambat produksi kelenjar insulin, meningkatkan kadar glukosa darah dan menurunkan HDL kolesterol (Sundram et al., 2007). Sebaliknya, para ahli menemukan bahwa konsumsi minyak sawit tidak mempengaruhi laju aktivitas/fungsi (sekresi) insulin maupun kadar glukosa darah. Bahkan, Bovet et al., (2009) mengungkapkan bahwa penurunan konsumsi minyak sawit justru meningkatkan kasus diabetes. Artinya konsumsi minyak sawit yang tidak memerlukan proses hidrogenisasi dan tidak mengandung lemak trans lebih sehat dibandingkan konsumsi minyak kedelai yang dapat memicu diabetes.

Minyak Sawit Mengandung Asam Lemak Esensial.

Minyak sawit mengandung asam lemak esensial oleat sebesar 36.3 persen, asam lemak esensial linoleat sebesar 8.3 persen dan asam lemak linolenat minyak sawit sebesar 0.5 persen.

Komposisi asam lemak esensial pada minyak sawit cukup dan seimbang dan komposisinya juga mirip dengan komposisi asam lemak esensial pada Air Susu Ibu.

Kandungan vitamin dan asam lemak (jenuh, tak jenuh dan esensial) yang sangat kaya di dalam minyak sawit sangat diperlukan oleh tubuh. Terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk di Indonesia, konsumsi produk

berbasis minyak sawit mampu meningkatkan imunitas tubuh sehingga terhindar dari virus Corona. Oleh karena itu, penyebarluasan black campaign dengan menyetarakan minyak sawit sama berbahayanya dengan zat aditif (pemanis buatan, penyedap, pengawet dan pewarna) sama artinya dengan berkata tidak jujur bahkan cenderung menyebarkan berita bohong.

13