• Tidak ada hasil yang ditemukan

33 PALM O’CORNER 2020 DI UNIVERSITAS PALANGKARAYA:

INDUSTRI SAWIT SOLUSI DI MASA PANDEMI DAN ERA NEW NORMAL

Palm O’Corner merupakan program tahunan PASPI (Palm Oil Agribusiness Startegic Policy Institute) yang diadakan di universitas seluruh Indonesia. Acara tersebut kembali digelar pada Sabtu, 27 Juni 2020. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diadakan dengan format seminar di enam universitas seperti IPB, UISU dan Unsri, Palm O’Corner tahun ini yang dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19 diselenggarakan melalui aplikasi Zoom. Meskipun acara tersebut dilakukan secara virtual, namun tidak menghalangi diselenggarakannya sesi sharing dan diskusi interkatif antara stakeholder sawit, akademisi dan mahasiswa yang mengangkat topik terkini mengenai industri perkelapasawitan. Selain itu, dalam kesempatan ini juga menjadi ruang yang tepat untuk berbagi informasi dan meng-counter isu negatif sawit berdasarkan data dan fakta yang valid, sehingga dapat meluruskan kesalahpahaman mahasiswa dan generasi milineal yang sudah terprovokasi oleh black campaign.

Pada tahun 2020, PASPI bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan untuk mengadakan Webinar Palm O’Corner di Universitas Palangkaraya. Dengan mengusung tema “Ekonomicovid-Sawit Kalimantan Tengah : Imunitas Ekonomi, Lokomotif Pemulihan Ekonomi dan Sustainabilitas”, webinar ini menghadirkan pembicara yang berkompeten dibidangnya, antara lain Dr. Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif PASPI); Dr. Andrie Elia, SE., M.Si (Rektor Universitas Palangkaraya); Dwi Darmawan (Ketua GAPKI Kalimantan Tengah); Ir. Rawing Rambang, MP, (Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah); Yudo Herlambang (Ketua Tim Advisory & Pengembangan Ekonomi KPw Bank

Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah) dan Widodo (Plt. DPW Apkasindo Kalimantan Tengah).

Acara ini dibuka dengan penyampaian Keynote Speech dari Dekan Fakutas Ekonomi Bisnis Universitas Palangkaraya yaitu Dr. Miar SE., M.Si. Dalam sesi tersebut, Dr. Miar juga memberikan sedikit gambaran mengenai bagaimana perkembangan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah pada Triwulan I-2020. Tingkat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah mengalami pada periode ini (2.95%) lebih rendah dibandingkan Triwulan IV-2019 (6.02%). Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kalteng tersebut sebagai dampak akibat pandemi Covid-19.

Berdasarkan paparan perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah mengungkapkan bahwa perlambatan ekonomi Kalimantan Tengah dibandingkan triwulan sebelumnya disebabkan karena melemahnya kinerja pertanian dan industri pengolahan serta terkontraksinya kinerja konstruksi. Ekonomi Kalteng masih bergantung pada sumberdaya alam, salah satunya perkebunan dan industri kelapa sawit yang memiliki pangsa sekitar 36% terhadap perekonomian Kalteng. Penurunan produksi TBS dan CPO serta menurunnya harga CPO global akibat demand importir yang menurun, menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan ekonomi Kalteng.

Kadisbun Kalteng juga mengungkapkan meskipun Covid-19 mempengaruhi perekonomian Kalteng, namun secara umum tidak mempengaruhi perkembangan kinerja perkebunan sawit dan PKS. Hal tersebut dapat dilihat dari sebanyak 118 PKS tetap beroperasional, penyerapan tenaga kerja pada perkebunan sawit besar juga tetap tinggi yakni mencapai lebih dari 165 ribu tenaga kerja.

Ketua GAPKI cabang Kalteng juga mengungkapkan bahwa perusahaan perkebunan sawit juga telah menerapkan “Protokol GAPKI melawan Covid-19” sehingga operasional kebunnya tetap berlanjut dan tidak ada klaster penularan yang berasal perkebunan sawit. Berbeda dengan industri lainnya yang banyak

memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya (PHK), namun hal tersebut tidak terjadi pada perkebunan sawit bahkan hak karyawan untuk mendapatkan THR Idul Fitri 1441 H dapat terbayarkan semua sekaligus. Perusahaan perkebunan sawit yang merupakan anggota GAPKI juga memberikan bantuan berupa APD, masker, produk higenitas kepada para tenaga medis di RSUD maupun puskesmas. Selain itu, bantuan sembako juga diberikan oleh perusahaan perkebunan kepada masyarakat Kalimantan Tengah.

Tidak hanya perusahaan perkebunan sawit yang tetap beroperasi dan tidak terlalu terdampak akibat Covid-19, petani sawit juga mampu bertahan di masa pandemi ini. Dalam paparan Plt. DPW Apkasindo Kalteng menunjukkan bahwa harga TBS di masa pandemi ini relatif lebih baik dibandingkan periode yang sama di tahun 2019, meskipun ada kasus petani yang menerima harga TBS yang lebih rendah karena ada PKS yang tidak patuh dan tidak mengikuti penetapan harga TBS Disbun Provinsi.

Harga TBS yang lebih baik juga berimplikasi pada kebutuhan sembako petani tetap terjaga sehingga petani tidak perlu menjadi penerima bantuan sosial dari pemerintah, justru banyak petani sawit yang melakukan bakti kepedulian sosial untuk masyarakat sekitar kebun.

Dr. Tungkot Sipayung dalam webinar ini juga memaparkan bagaimana industri sawit tetap menjadi lokomotif ekonomi yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional di masa pandemi Covid-19. Industri sawit memiliki imunitas yang tinggi sehingga produksi dan ekspor minyak sawit tetap stabil bahkan nilai akumulasi ekspor minyak sawit dan produk turunannya pada periode Januari-April 2020 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Pandemi Covid-19 juga menjadi hikmah bagi industri sawit, karena industri ini berhasil melahirkan produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat seluruh dunia untuk melawan virus Corona seperti berbagai produk yang digunakan untuk menjaga higenitas seperti sabun, hand sanitizer, deterjen, disinfektan, maupun produk

micronutrient yang dibutuhkan oleh tubuh untuk meningkatkan sistem imun seperti Vitamin A (beta carotene), Vitamin E dan Asam Palmitat.

Berdasarkan paparan dari para panelis dalam webinar tersebut menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memiliki dampak terhadap perlambatan ekonomi Kalteng. Namun di sisi lain, pandemi ini juga mampu menunjukkan bahwa industri sawit tetap mampu menjadi lokomotif yang tetap menggerakkan perekonomian provinsi Kalteng di tengah masa pandemi Covid-19. Melihat besarnya potensi demand berbagai produk olahan sawit yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia untuk memitigasi penyebaran Covid-19, hal tersebut menjadi tambahan “batu bara” untuk semakin menggerakkan lokomotif industri sawit dalam rangka memulihkan perekonomian di era New Normal.

34