BAB II LANDASAN TEORI
F. Miskonsepsi
1. Pengertian Miskonsepsi
Miskonsepsi atau salah konsep dapat didefenisikan sebagai suatu konsep yang tidak sesuai dengan konsep yang diakui oleh para ahli. Miskonsepsi atau salah konsep menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu (Suparno, 2005: 4). Biasanya miskonsepsi
menyangkut kesalahan siswa dalam pemahaman hubungan antar konsep. Misalnya kesalahan dalam hubungan antara gaya dan momentum, atau antara arus dan tegangan, atau antara massa jenis dan massa (van den Berg, E., 1991 : 10).
2. Mendeteksi Terjadinya Miskonsepsi
Untuk mendeteksi terjadinya miskonsepsi, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Beberapa alat yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi diantaranya adalah peta konsep (concept maps), tes multiple choice dengan reasoning terbuka, tes esai tertulis, wawancara diagnosis, diskusi dalam kelas, dan praktikum dengan tanya jawab (Suparno, 2005: 129). Beberapa peneliti menggunakan beberapa alat tersebut bersama-sama untuk melengkapi, seperti misalnya esai dengan wawancara. Dalam penelitian ini, alat yang akan digunakan yaitu:
a. Tes Multiple Choice dengan Reasoning Terbuka
Tes pilihan ganda dengan alasan terbuka dapat digunakan untuk mendeteksi terjadinya miskonsepsi pada siswa. Dalam tes ini, siswa tidak hanya akan memilih jawaban yang mereka anggap benar, tapi harus dapat menyertakan alasan mengapa mereka memilih jawaban tersebut. Alasan yang diberikan oleh siswa dapat dikategorikan sebagai miskonsepsi apabila penalaran siswa tidak lengkap atau salah. Tidak lengkapnya alasan biasanya terjadi karena informasi yang diperoleh atau data yang didapatkan tidak lengkap. Akibatnya,
siswa menarik kesimpulan secara salah dan menimbulkan terjadinya miskonsepsi.
b. Wawancara Diagnosis
Wawancara dapat juga dilakukan untuk mendeteksi miskonsepsi pada siswa. Dalam wawancara ini, guru memilih konsep fisika yang diperkirakan sulit dimengerti, kemudian siswa diajak untuk mengekspresikan gagasan mereka mengenai konsep-konsep tersebut. Dengan cara tersebut, dapat diketahui miskonsepsi yang ada dan darimana mereka memperoleh miskonsepsi tersebut.
Selain menggunakkan kedua alat tersebut, instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa adalah CRI (Certainty of Response Index). Instrumen ini dikembangkan oleh Hassan (1999) dan merupakan tingkat keyakinan siswa dalam menjawab soal. Skala tingkat keyakinan yang akan digunakan adalah skala 2 dengan kriteria yakin dan tidak yakin.
Instrumen ini akan digabungkan dengan tes multiple choice dengan
reasoning terbuka, sehingga disebut sebagai tes diagnostik pilihan ganda tiga tingkat. Tingkat pertama berisi pilihan jawaban, tingkat kedua berisi alasan dan tingkat ketiga berisi keyakinan.
3. Penyebab Miskonsepsi dan Cara Mengatasinya
Dalam Suparno (2005: 29), penyebab miskonsepsi secara garis besar diringkas dalam lima kelompok, yaitu: siswa, guru, buku teks, konteks dan metode mengajar.
a. Siswa
Beberapa penyebab miskonsepsi yang berasal dari siswa yaitu: • Prakonsepsi atau Konsep Awal Siswa
Biasanya, banyak siswa yang telah memiliki konsep awal tentang suatu bahan sebelum siswa mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah konsep awal ini jelas akan menyebabkan miskonsepsi saat mengikuti kegiatan pembelajaran hingga kesalahan tersebut diperbaiki dengan cara siswa dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya bahwa konsep tersebut tidak benar.
• Pemikiran Asosiatif
Asosiasi siswa terhadap istilah-istilah sehari-hari kadang-kadang juga membuat miskonsepsi. Banyak siswa mengasosiasikan kerja dan energi. Menurut siswa, bila seseorang sudah mengeluarkan energi yang besar untuk mendorong mobil maka pasti terjadi kerja meskipun mobil itu tetap diam. Bila ini terjadi, maka untuk mengatasinya adalah dengan memberi penjelasan konsep secara pelan-pelan dan memperlihatkan kejadiannya agar siswa dapat mengubah pikiran asosiatifnya.
• Pemikiran Humanistik
Dalam model pemikiran ini, siswa menganggap benda itu berperilaku seperti manusia. Misalnya, siswa beranggapan
bahwa bila benda diam di atas meja, maka benda itu tidak melakukan gaya pada meja, seperti manusia diam tidak melakukan apa-apa. Untuk memperbaikinya, siswa perlu dibantu berpikir dan diberikan contoh nyata serta dituntun untuk mengamati contoh tersebut.
• Alasan yang Tidak Lengkap atau Salah Generalisasi
Seringkali alasan yang tidak lengkap dipengaruhi karena informasi dan data yang dikumpulkan tidak lengkap. Hal ini sering membuat siswa dengan cepat menarik kesimpulan akan sebuah konsep sehingga terjadilah miskonsepsi. Bilaini terjadi, maka yang perlu dilakukan adalah membantu siswa untuk melengkapi alasan tersebut.
• Pemikiran Intuitif
Siswa sering mengandalan intuisi yang dimilikiya dalam menarik kesimpulan. Akibatnya, tak jarang siswa mendapatkan miskonsepsi karena tindaknnya. Kebanyakan pemikiran intuitif yang tidak benar lebih mudah diluruskan dengan menghadapkan siswa pada peristiwa atau kejadian yang berlawanan dengan intuisi mereka.
• Tahap Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif siswa yang tidak sesuai dengan bahan yang digeluti dapat menjadi penyebab adanya miskonsepsi siswa. Untuk mengatasi penyebab ini, maka seorang guru perlu
menjelaskan konsep yang ada sesaui dengan perkembangan kognitif siswa. Misalnya dengan memberi contoh nyata kemudian pelan-pelan ke abstrak.
• Kemampuan Siswa
Kebanyakan siswa yang kemampuannya dalam bidang fisika lemah, akan banyak mengalami miskonspsi dalam belajar fisika. Mereka tidak dapat menangkap konsep fisika yang diajarkan guru secara lengkap dan tepat. Untuk mengatasi penyebab demikian, maka yang perlu dilakukan adalah memberi bantuan secara pelan-pelan hingga siswa dapat memahami dengan baik.
• Minat Belajar
Siswa yang tidak berminat belajar fisika, cenderung mengalami miskonsepsi. Maka dari itu siswa perlu diberi motivasi misalnya dengan membuat pembelajaran lebih menarik menggunakkan metode pembelajaran yang tidak monoton. b. Guru
Kesalahan guru biasanya terjadi dalam dua hal yaitu: (1) Karena guru tidak menguasai konsep yang benar dari bahan fisika, dan (2) guru menjelaskan secara keliru meskipun konsep yang diajarkan dikuasainya. Selain itu tidak memberi waktu siswa untuk mengungkapkan gagasan dan buruknya relasi dengan siswa juga merupakan tindakan guru yang dapat menyebabkan terjadinya
miskonsepsi. Maka dari itu, guru perlu memperbaiki hal tersebut dan belajar mendalami lagi konsep yang akan diajarkan.
c. Buku Teks
Beberapa miskonsepsi juga berasal dari buku teks yang digunakan siswa. Kesalahan yang tertulis dalam buku teks akan mudah dicerna oleh siswa dan dengan demikian mereka memperoleh miskonsepsi. Dalam mengatasi hal tersebut, guru perlu memperhatikan buku teks yang digunakan oleh siswa dan memeriksa secara teliti isi dari buku tersebut untuk melihat ada tidaknya miskonsepsi yang mungkin dapat ditimbulkan.
d. Konteks
Kesalahan siswa dapat berasal dari kekacauan bahasa yang digunakan, karena bahasa sehari-hari lain dengan bahasa ilmiah. McClelland (1985) dalam Suparno (2005: 72) menganjurkan guru mendefiniskan istilah dan konsep dengan jelas dan tidak menggunakkan bahasa yang ambigu, serta melatih siswa dengan cara yang sama.
e. Metode Mengajar
Beberapa siswa mengalami miskonsepsi dari metode mengajar yang digunakan guru. Maka sangat penting, suatu metode mengajar yang dapat menimbulkan miskonsepsi, terlebih bila sering, perlu dikritisi dan dilihat kembali. Seperti misalnya, beberapa guru menjelaskan konsep fisika secara langsung dengan
bentuk matematika, dengan rumus matematis. Kadang-kadang siswa hanya menghafal rumus itu, tetapi tidak dapat mengerti konsep apa yang ada dibaliknya sehingga terjadi miskonsepsi. Persoalan seperti ini harus dibenahi dan dilihat kembali agar peluang terjadinya miskonsepsi pada siswa semakin kecil.
4. Metode Pembelajaran untuk Mengatasi Miskonsepsi
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, cara yang dapat digunakan untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa yaitu:
a. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu (Darmadi, 2017: 184). Metode ini pernah digunakan untuk mengatasi miskonsepsi siswa dalam memahami Hukum Archimedes oleh Sri Puji Astuti pada tahun 2010 dalam penelitiannya yang berjudul
Pemahaman, Miskonsepsi dan Cara Mengatasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI Teknik Jaringan Komputer SMK Negeri 2 Klaten tentang Hukum Archimedes dengan Metode Demonstrasi.
Dalam penelitian tersebut, setelah mendeteksi terjadinya miskonsepsi pada siswa dengan melakukan pretest menggunakan instrument berupa Tes multiple Choice dengan Reasoning Terbuka, metode demonstrasi digunakan untuk mengatasi miskonsepsi yang terjadi. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode demonstrasi dapat digunakan untuk mengatasi miskonsepsi siswa terhadap
Hukum Archimedes. Hal ini dapat dilihat dengan terjadinya peningkatan pemahaman mereka sesuai dengan konsep yang sesungguhnya melalui hasil posttest yang peneliti lakukan sesudah demonstrasi berakhir.
Meskipun berhasil mengatasi miskonsepsi, metode demonstrasi ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Menurut Smaldino, etc (2011: 32), keterbatasan metode demonstrasi yaitu:
o Pandangan yang terbatas. Setiap siswa mungkin tidak memiliki pandangan yang setara dalam memahami konsep yang tertuang dalam metode demonstrasi yang dilakukan, sehingga beberapa siswa mungkin melewatkan beberapa aspek pengalaman tersebut.
o Masalah Mengikuti. Tentu saja tidak semua siswa bisa mengikuti demonstrasi ketika hanya satu tahapan tunggal yang digunakan.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi dan media pembelajaran. Guru dapat menyiapkan video pembelajaran yang menunjukkan sebuah demonstrasi kepada siswa dan membahasnya bersama. Tentu saja cara tersebut sangat bermanfaat, karena guru tidak harus melaksanakan demonstrasi dan memandu pengamatan siswa pada saat yang bersamaan (Smaldino etc, 2011: 33).
b. Menggunakan Video Pembelajaran
Sean dan Krause (2014) dalam penelitian yang berjudul The effect of Incorporating Youtube Videos into an Interventon Anddressing Students’ Misconceptions Related to Solution, Solubility dan Saturation menunjukkan bahwa video pembelajaran yang berisi demonstrasi dapat dijadikan sebagai sebuah sarana baru untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa.
Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2013 dan melibatkan 39 orang siswa dari berbagai jurusan yang telah terdaftar di kelas teknik dan ilmu pengantar material. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intervensi penggunaan video di youtube yang membahas miskonsepsi tentang konsep solusi dan kelarutan (Solution and Solubility Concept). Instrument penilaian yang digunakan dalam penelitian ini berupa pretest dan posttest. Pretest dilakukan sebelum video ditayangkan, sedangkan posstest dilakukan setelahnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan video yang berisi demonstrasi tentang konsep solusi dan kelarutan, sangat efektif untuk memperbaiki miskonsepsi siswa. Dari hasil tersebut, peneliti menyatakan bahwa jenis intervensi demikian, berpotensi diterapkan pada miskonsepsi siswa terhadap konsep-konsep lainnya.