• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urut Reg

No Nama BAZDA Propinsi No Urut

Reg 1 BAZDA Nanggro Aceh

Darussalam

001 17 BAZDA Kalimantan Timur 017 2 BAZDA Sumatera Utara 002 18 BAZDA Kalimantan Tengah 018 3 BAZDA Sumatera Barat 003 19 BAZDA Kalimantan Selatan 019

4 BAZDA Riau 004 20 BAZDA Nusa Tenggara Barat 020

5 BAZDA Jambi 005 21 BAZDA Nusa TenggaraTimur 021

6 BAZDA Bengkulu 006 22 BAZDA Sulawesi Utara 022

68

Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar-Rahman, Zakat: 1001 Masalah dan Solusinya, (Jakarta: Pustaka Cerdas, 2000), h.181.

69

Eri sudewo. Manajemen zakat tinggalkan 15 tradisi terapkan 4 prinsip dasar, (Jakarta: Spora Internusa Prima, 2004) hal 281

70

7 BAZDA Bandar Lampung 007 23 BAZDA Sulawesi Tengah 023 8 BAZDA Bangka Belitung 008 24 BAZDA Sulawesi Tenggara 024

9 BAZDA Banten 009 25 BAZDA Sulawesi Selatan 025

10 BAZDA DKI Jakarta 010 26 BAZDA Gorontalo 026

11 BAZDA Jawa Barat 011 27 BAZDA Maluku 027

12 BAZDA Jawa Tengah 012 28 BAZDA Maluku Utara 028 13 BAZDA Yogyakarta 013 29 BAZDA Irian Jaya ( Papua) 029 14 BAZDA Jawa Timur 014 30 BAZDA Irian Jaya Barat 030

15 BAZDA Bali 015 31 BAZDA Irian Jaya Tengah 031

16 BAZDA Kalimantan Barat 016 32 BAZDA Kepulauan Riau 032

BAZNAS Kabupaten/Kota dibentuk oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas usul Bupati/Walikota setelah mendapat pertimbangan BAZNAS. Dalam hal Gubernur atau Bupati/Walikota tidak mengusulkan pembentukan BAZNAS Provinsi atau BAZNAS Kabupaten/Kota, Menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat membentuk BAZNAS Provinsi atau BAZNAS Kabupaten/Kota setelah mendapat pertimbangan BAZNAS.BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota melaksanakan tugas dan fungsi BAZNAS di Provinsi atau Kabupaten/Kota masing-masing.71 Menurut Undang-Undang, BAZ dapat didirikan di ibu Kota, di tingkat Provinsi, di tingkat daerah khusus, di tingkat Kabupaten di tingkat Kecamatan.72

2. Tugas dan Fungsi Badan Amil Zakat

Salah satu tugas penting dari Badan Amil zakat adalah melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan, melalui berbagai forum dan media. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan masyarakat Muzakki akan semakin sadar untuk

71

http://pusat.baznas.go.id/bazda-kabupaten/ di akses pada 18 january 2015

72

Eri sudewo. Manajemen zakat tinggalkan 15 tradisi terapkan 4 prinsip dasar, (Jakarta: Spora Internusa Prima, 2004) hal 281-282

membayar zakat melalui Badan Amil Zakat yang kuat, amanah, dan terpercaya. 3. Laporan Keuangan Badan Amil Zakat

Laporan keuangan Badan Amil Zakat merupakan sarana pertanggung jawaban manajemen atas pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada Badan Amil Zakat. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan BAZ:

a. Basis kas untuk penerimaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah selain pemanfaatan aset kelolaan.

b. Basis aktual untuk penyaluran zakat dalam bentuk pemenfaatan aset kelolaan dan transaksi pada dana Amil.73

Dalam akuntansi keuangan, ada lima laporan yang harus dikerjakan divisi Pengelolaan Keuangan:

1. Neraca

Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan pada waktu tertentu. Tujuannya untuk mengetahui kekayaan atas harta yang dimiliki, berbagai kewajiban yang harus ditunaikan serta mengetahui saldo dananya. Dengan neraca ini, posisi keuangan organisasi atau lembaga dapat tergambarkan secara jelas.

2. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana (LSPD)

Tujuan dari LSPD adalah menggambarkan aktivitas lembaga, terutama dalam menjelaskan asal sumber-sumber pendanaan serta penyalurannya sesuai dengan bidang garapan masing-masing. Dengan demikian, LSPD ini tak lain

73

Teten Kustiawan, dkk., Pedoman Akuntansi Amil Zakat: Panduan Implementasi Penyusunan

menggambarkan kinerja lembaga ditinjau dari aspek finance. 3. Laporan Perubahan Dana Termanfaatkan (LPDT)

Tujuan dari LPDT adalah menggambarkan berbagai aktivitas pendanaan non-cash. Contohnya adalah pinjaman utang dan pemberian piutang.

4. Laporan Arus Kas

Tujuan laporan arus kas adalah menggambarkan aliran kas keluar masuk. Pertimbangan alur keluar masuk didasarkan pada tiga jenis aktivitas yakni operasi, investasi, dan pendanaan.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Berisi penjelasan atas ke-4 jenis laporan di atas, sebagai catatan khusus yang lebih rinci sifatnya. Catatan ini tentu tidak untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas. Fungsinya untuk menjelaskan bagian yang dianggap perlu. Dalam kondisi tertentu, catatan ini bisa diberikan pada Muzakki atau donatur yang membutuhkan.74

D. Kinerja

1. Pengertian Kinerja

Whitmore secara sederhana mengemukakan, kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang di tuntut dari seseorang75 Pengertian yang menurut Whitmore merupakan pengertian yang menuntut kebutuhan paling minim untuk berhasil. Oleh kerena itu, Whitmore mengemukakan pengertian kinerja yang dianggapnya representative, maka tergambarnya tanggung jawab yang besar

74

Eri sudewo. Manajemen zakat tinggalkan 15 tradisi terapkan 4 prinsip dasar, (Jakarta: Spora Internusa Prima, 2004) hal .214-215.

75

Jhon whitmore, coaching for performance, seni mengarahkan untuk mendongkrak kinerja,

terjemahan dwi helly purnomo dan Louis nivianto (Jakarta: gramedia pustaka utama, 1997) hal

dari pekerjaan seseorang76

Berdasarkan pengertian diatas kinerja yang nyata jauh melampaui apa yang di harapkan adalah kinerja yang menetapkan standar-standar tertinggi orang itu sendiri, selalu standar-standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan orang lain. Dengan demikian menurut whitmore kinerja adalah suatu perbuatan , suatu prestasi, atau apa yang di perlihatkan seseorang melalui keterampilan yang nyata77

2. Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja (appraisal of performance) adalah proses yang mengukur kinerja seseorang. Dalam proses ini sudah tentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya standar, target/ sasaran, atau criteria yang sudah di tetapkan lebih dahulu dan telah disepakati bersama. Evaluasi kinerja merupakan salah satu fungsi mendasar personalia, kadang-kadang disebut juga dengan review kerja, penilaian karyawan, atau rating personalia.

Denga kata lain evaluasi kinerja adalah proses penetuan seberapa baik karyawan melaksanakan tugas mereka78

3. Tujuan Evaluasi

Noor Fuad mengemukakan tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menyediakan pengetahuan dan keahlian dalam membangun system penilaian kinerja dan penerapan system imbal jasa, untuk memotivasi pekerja yang

76

Hamzah B, uno dan nina lamatenggo, teori kinerja dan pengukurannya cetakan-1 (Jakarta: PT bumi aksara, 2012), hal.1-2

77

Jhon whitmore, coaching for performance, seni mengarahkan untuk mendongkrak kinerja,

terjemahan dwi helly purnomo dan Louis nivianto (Jakarta: gramedia pustaka utama, 1997) hal

108

78

Hamzah B, uno dan nina lamatenggo, teori kinerja dan pengukurannya cetakan-1 (Jakarta: PT bumi aksara, 2012), hal.71-72

berhubungan dengan dukungan dalam meningkatkan kapabilitas dan pertumbuhan79. Westerman menyatakan, evaluasi kinerja mempunyai beberapa tujuan yaitu meningkatkan kecakapan seseorang untuk menungkatkan pelaksanaan nilai tambah, mengidentifikasi kesulitan-kesulitan, dan menyetujui suatu rencana untuk mencapai peningkatan yang telah diproyeksikan.80

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan evaluasi kinerja adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat dan valid mengenai kinerja seseorang dalam kurun waktu tertentu, pada suatu lembaga demi peningkatan nasib atau kesejahteraan mereka81

4. Prinsip -Prinsip Evaluasi Kinerja

Pembahasan prinsip-prinsip evaluasi kinerja meliputi hal-hal, antara lain criteria evaluasi kinerja, sifat evaluasi kinerja dan prosedur evaluasi kinerja82 prosedur evaluasi kinerja terdiri dari beberapa langkah yang dilalui, yaitu bagian personalia mengirimkan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerja (DP3) kepada setiap pejabat yang mempunyai bawahan dalam ligkungan pengawasannya disertai dengan pedoman dalam memberikan nilainya83

79

Noor fuad, evaluasi Kinerja (ringkasan materi kuliah) untuk mahasiswa pasca sarjana 80

Hamzah B, uno dan nina lamatenggo, teori kinerja dan pengukurannya cetakan-1 (Jakarta: PT bumi aksara, 2012), hal.88

81

Hamzah B, uno dan nina lamatenggo, teori kinerja dan pengukurannya cetakan-1 (Jakarta: PT bumi aksara, 2012), hal.89

82

John westerman, pengelolaan sumberdaya manusia (Jakarta, bumi aksara, 1999) hal. 163-164 83

Hamzah B, uno dan nina lamatenggo, teori kinerja dan pengukurannya cetakan-1 (Jakarta: PT bumi aksara, 2012), hal.95

45

BAB III

Dokumen terkait