• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Distribusi Logistik Pemilu 2014

C. Moda Transportasi yang Digunakan

Selain identifikasi daerah prioritas dan alokasi waktu yang diperlukan, yang tidak kalah penting adalah pemilihan moda transportasi yang digunakan. Sebelum pelaksanaan tahapan pengadaan logistik, KPU sudah menggali data dan informasi mengenai ketersediaan sarana pengangkutan yang akan digunakan untuk pendistribusian logistik dari Penyedia ke KPU Kabupaten/Kota. Data-data yang dikumpulkan antara lain :

1. Jalur transportasi darat, laut dan udara;

2. Kapasitas angkut;

3. Perkiraan waktu;

4. Biaya.dan sebagainya.

Data-data tersebut diatas diperoleh dari beberapa sumber, yaitu melalui survei, ekspedisi, dan tenaga ahli distribusi.

Pemilihan moda transportasi yang digunakan dalam pendistribusian logistik Pemilu 2014 berperan penting agar pendistribusian logistik Pemilu dapat berjalan secara tepat, cepat, efektif dan efisien. Penentuan moda transportasi tidak hanya mempertimbangkan kecepatan (durasi), namun juga kapasitas, keamanan dan biaya. Sebagai contoh untuk mendistribusikan logistik Pemilu dengan volume 10 ton dari penyedia di Jakarta ke Makassar, tentunya paling cepat menggunakan cargo pesawat terbang yang membutuhkan waktu kurang dari 1 hari untuk pengiriman dan bongkar muat, namun kapasitas cargo pesawat terbang paling banyak dalam 1 kali penerbangan adalah 1,5 ton sehingga untuk mengirim logistik sebanyak 10 ton diperlukan lebih dari 6 kali penerbangan sehingga dengan jadwal penerbangan kargo akan susah untuk menyelesaikan dalam hitungan hari. Sementara jika menggunakan kargo kapal laut, pengiriman tersebut dapat dilakukan dalam sekali angkut walaupun memakan waktu lebih lama yaitu 3 – 4 hari. Contoh tersebut di atas dan juga informasi-informasi lainnya akan menjadi referensi dalam pemilihan moda transportasi yang digunakan dalam pendistribusian logistik Pemilu.

Hasil dari rumusan pemilihan moda transportasi kemudian dituangkan dalam dokumen pengadaan, sebagai berikut :

1. Penyedia harus didukung oleh ekspedisi apabila tidak mempunyai jaringan pendistribusian sendiri;

2. Data jaringan yang dimiliki oleh perusahaan ekspedisi mencakup wilayah pada paket yang akan dikerjakan;

3. Moda angkutan memenuhi standar layak jalan dan aman (misalnya: menggunakan angkutan darat, harus menggunakan truk box);

4. Perusahaan ekspedisi harus mampu memberikan laporan update posisi/status keberadaan barang yang dikirim dari tempat keberangkatan hingga tempat tujuan secara berkala.

Pasal 142 ayat (7) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta pasal 105 ayat (7) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, menyebutkan bahwa perlengkapan pemungutan suara dan dukungan perlengkapan lainnya harus sudah diterima Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) paling lambat 1 (satu) hari sebelum hari/tanggal pemungutan suara.

Guna menjamin logistik Pemilu diterima oleh KPPS secara tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, tepat tempat tujuan, dan tepat waktu, maka KPU/KIP Kabupaten/Kota memegang peranan penting dan strategis, yang dalam hal ini berperan dalam pemeliharaan dan inventarisasi logistik Pemilu, melalui pelaksanaan beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap tersebut, meliputi penerimaan, penyimpanan (penataan dan pengelompokan), pengepakan (pensortiran, pengesetan, penghitungan, dan pengepakan), pemeliharaan, penyaluran dan inventarisasi logistik Pemilu. Kegiatan-kegiatan pada tahapan tersebut membutuhkan personil yang cukup dan berkompeten, melibatkan badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS) serta membutuhkan perhitungan alokasi waktu yang akurat agar logistik dapat diterima KPPS pada 1 hari sebelum hari/tanggal pelaksanaan pemungutan suara.

A. Penerimaan

Penerimaan merupakan proses penyerahan dan penerimaan logistik Pemilu di gudang KPU Kabupaten/Kota.

Dalam proses penyerahan dan penerimaan ini dilakukan:

1. Pendataan jumlah dan mutu logistik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Pencatatan administratif sebagai dokumen yang dapat dipertanggung jawabkan oleh petugas yang bersangkutan.

Barang yang telah diterima akan masuk sebagai stock gudang. Hal-hal penting yang mendapat perhatian dalam penerimaan logistik Pemilu:

1. Daftar Alokasi Kebutuhan;

2. Surat Jalan; dan

3. Bukti Tanda Terima Barang

Bukti Tanda Terima Barang serta Faktur akan berhubungan dengan pembayaran ke pihak penyedia. Bukti Tanda Terima Barang akan dijadikan dasar oleh pihak penyedia untuk menagih ke satker KPU, KPU Provinsi dan atau KPU Kabupaten/Kota. Pentingnya untuk membuat Bukti Tanda Terima Barang ini asli dan ada tanda-tanda yang dilampirkan, semisal PO atau surat lain yang menjamin keaslian dokumen ini.

Pada Pemilu 2014 KPU Kabupaten/Kota mempunyai tugas untuk membantu KPU melakukan penerimaan logistik Pemilu ke badan penyelenggara ad-hoc di tingkat di bawahnya (PPK, PPS dan KPPS), dan membuat laporan penerimaan logistik Pemilu. Dalam hal ini, pejabat penerima barang di KPU Kabupaten/Kota meneliti dan mencocokkan barang logistik Pemilu yang diterima dengan surat perintah pengiriman (SPP) barang dari KPU dan atau KPU Provinsi dan menandatangani Berita Acara Serah Terima (BAST) barang.

Khusus untuk surat suara KPU Kabupaten/Kota setelah menerima logistik dari KPU dan KPU Provinsi melakukan:

1. Pengecekan jumlah surat suara;

2. Memisahkan/mensortir surat suara yang rusak dan surat suara yang baik melibatkan anggota PPK, PPS dan anggota masyarakat; dan

3. Melipat surat suara menurut petunjuk mengenai :

a. Surat suara yang dikategorikan rusak dan tidak lolos sortir;

b. Cara pelipatan surat suara; dan

c. Mekanisme pelaporan dalam hal ada surat suara rusak dan/atau kurang dari jumlah yang dibutuhkan.

Selanjutnya KPU Kabupaten/Kota melaporkan hasil pengecekan logistik Pemilu kepada KPU dan KPU Provinsi dalam 2 (dua) bentuk laporan yaitu:

1. Laporan secara umum mengenai logistik Pemilu yang telah diterima, paling lambat 1 X 24 jam dengan bentuk format laporan memuat jenis/item logistik yang diterima dan tanggal penerimaan; dan

2. Laporan secara rinci mengenai logistik Pemilu yang telah diterima memuat jenis /item logistik, kebutuhan barang, barang yang diterima, satuan barang (lembar atau buah atau botol) kondisi barang (baik/lebih/kurang/

rusak) dan tanggal penerimaan barang paling lambat 2 X 24 jam sejak penerimaan logistik Pemilu, dan laporan tersebut merupakan hasil pengecekan atau penghitungan logistik Pemilu yang diterima.

Laporan logistik Pemilu 2014 ditandatangani oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota dan diketahui ketua KPU Kabupaten/

Kota.

Selain KPU Kabupaten/Kota, pihak yang terlibat dalam penerimaan logistik Pemilu adalah badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS) dengan tugas masing-masing sebagai berikut :

Tugas PPK dalam penerimaan logistik Pemilu:

1. PPK menerima logistik Pemilu dari KPU Kabupaten/Kota;

2. PPK meneliti dan mencocokkan logistik Pemilu dengan surat perintah pengiriman (SPP) dari KPU Kabupaten/

Kota dan menandatangani BAST;

3. PPK melakukan koordinasi dengan camat, Panwaslu kecamatan dan aparat keamanan, untuk pengamanan logistik pada saat penerimaan logistik Pemilu; dan

4. PPK melaporkan penerimaan logistik Pemilu kepada KPU Kabupaten/Kota Tugas PPS dalam penerimaan logistik Pemilu:

1. PPS menerima dan menghitung jumlah kotak yang diterima dari PPK;

2. PPS meneliti dan mencocokkan dan menandatangani BAST;

3. PPS melakukan koordinasi dengan kepala desa/lurah, Panwaslu lapangan dan aparat keamanan untuk pengamanan logistik Pemilu pada saat penerimaan logistik Pemilu; dan

4. PPS melaporkan penerimaan logistik Pemilu kepada PPK.

Tugas KPPS dalam penerimaan logistik Pemilu:

1. KPPS menerima perlengkapan pemungutan dan penghitungan suara yang diperlukan di TPS dari PPS selambat-lambatnya 1 (satu) hari sebelum hari dan tanggal pemungutan suara;

2. KPPS menandatangani BAST dari PPS ke KPPS; dan 3. KPPS melaporkan penerimaan barang logistik kepada PPS.

B. Penyimpanan

Setelah proses penerimaan logistik Pemilu, maka dilakukan kegiatan penyimpanan logistik Pemilu yang telah diterima dengan tata letak yang baik. Adapun tujuan penyimpanan logistik Pemilu bertujuan antara lain adalah:

1. Untuk menjaga kelayakan, kualitas dan keawetan logistik Pemilu;

2. Untuk mengatur keluarnya logistik Pemilu secara tertib untuk disalurkan kepada badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS);

3. Untuk meminimalisir berbagai kerusakan logistik Pemilu;

4. Untuk mengukur dan meneliti jumlah logistik Pemilu;

5. Untuk melakukan pengamanan terhadap logistik Pemilu; dan.

6. Untuk memberikan informasi kepada pihak lain yang membutuhkan.

Permasalahan yang dihadapi dalam penyimpanan logistik adalah sebagai berikut:

1. Penanganan administrasi fisik: jumlah, jenis klasifikasi, dan karakteristik logistik; dan

2. Biaya operasional antara lain meliputi biaya penerangan, perawatan, pendingin, pengamanan, dan pengendalian.

Berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi penyimpanan logistik Pemilu, beberapa faktor yang harus mendapat perhatian dalam penyimpanan logistik antara lain:

1. Pemilihan lokasi

Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan jalur cepat, dan lokasi mudah.

2. Logistik

Logistik Pemilu harus diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya.

3. Pengaturan ruang

Ruangan penyimpanan logistik Pemilu harus mematuhi segala aturan ruangan yang telah ditentukan. Jangan sampai barang itu rusak karena penataan ruangan yang tidak benar. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang tata letak gudang adalah sebagai berikut:

a. Untuk kemudahan bergerak, gudang jangan disekat-sekat, kecuali jika diperlukan. Perhatikan posisi dinding dan pintu untuk mempermudah gerakan.

b. Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran logistik dan peralatan, tata letak ruang gudang perlu memiliki lorong dan dapat ditata berdasarkan sistem sebagai berikut:

1) Arus garis lurus;

2) Arus huruf U; dan 3) Arus huruf L.

4. Prosedur atau sistem penyimpanan

Faktor ini mencakup segala tata cara terkait penyimpanan barang yang di dalamnya juga memperhatikan aspek keamanan barang.

Agar logistik Pemilu yang disimpan di gudang tidak mengalami kerusakan, maka penyimpanan logistik Pemilu di gudang menggunakan sistem FIFO ((First in First Out), yaitu suatu sistem penyimpanan barang yang mana barang yang masuk terlebih dahulu juga dikeluarkan terlebih dahulu secara berurutan atau sesuai kronologis sesuai dengan daftar prioritas lokasi penyaluran logistik Pemilu. Kelebihan sistem ini antara lain adalah sebagai berikut :

1. Barang akan lebih terjaga kualitasnya

Dengan menggunakan sistem FIFO, maka logistik Pemilu yang pertama kali masuk juga pertama kali keluar, sehingga logistik Pemilu tidak terlalu lama tersimpan dalam gudang dan kualitas logistik pun bisa terjamin serta mengantisipasi terjadinya kerusakan secara masal.

2. Pencatatan yang lebih sistematis

Pada sistem FIFO, petugas pencatatan barang masuk dan barang keluar akan lebih mudah mengontrol. Hal ini dikarenakan keluarnya barang secara berurutan atau sesuai kronologis sesuai dengan daftar prioritas lokasi penyaluran logistik Pemilu, sehingg petugas pencatan tidak perlu melakukan pengecekan terhadap semua barang. Petugas biasanya hanya mengecek jumlah barang yang keluar pada saat itu apakah sesuai dengan jumlah barang pada saat barang tersebut masuk.

Penyaluran logistik Pemilu hingga ke TPS dilakukan secara berjenjang melibatkan badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS) dalam penyimpanannya, dengan rincian tugas masing-masing badan penyelenggara ad-ad-hoc sebagai berikut :

Tugas PPK dalam penyimpanan logistik Pemilu:

1. PPK menjaga keamanan barang logistik Pemilu selama masa penyimpanan di PPK, yakni tidak membuka, merusak, atau menghilangkan, dan menyimpan pada tempat (gudang) yang memadai dan dapat dijamin keamanannya;

2. PPK melakukan koordinasi dengan camat, Panwaslu kecamatan dan aparat keamanan untuk pengamanan logistik dan Pemilu selama penyimpanan logistik Pemilu di PPK.

Tugas PPS dalam penyimpanan logistik Pemilu:

1. PPS menjaga keamanan logistik Pemilu selama masa penyimpanan di PPS, yakni tidak membuka, merusak, atau menghilangkan, dan menyimpan pada tempat yang memadai dan dapat dijamin keamanannya; dan

2. PPS melakukan koordinasi dengan Lurah/Kepala Desa, Waslulap dan petugas keamanan untuk pengamanan logistik Pemilu selama penyimpanan logistik Pemilu di PPS.

Tugas KPPS dalam penyimpanan logistik Pemilu:

KPPS menjaga keamanan logistik Pemilu selama masa penyimpanan di TPS, yakni tidak membuka, merusak, atau menghilangkan (untuk alasan keamanan dapat disimpan pada tempat yang memadai dan dapat dijamin keamanannya)

C. Pengepakan

Sebelum logistik Pemilu disalurkan ke badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS) secara berjenjang, KPU Kabupaten/Kota melakukan pengepakan logistik Pemilu dengan alasan utama sebagai berikut :

1. Melalui pengepakan identifikasi produk menjadi lebih efektif dan mencegah pertukaran oleh produk pesaing;

dan

2. Pengepakan dapat mangurangi kemungkinan kerusakan barang dan kemudahan dalam pengiriman.

KPU Kabupaten/Kota melakukan pengepakan logistik Pemilu berdasarkan alokasi per TPS dan alokasi logistik untuk PPK dan PPS, dengan melibatkan PPK dan PPS yang bersangkutan, dengan kegiatan sebagai berikut:

1. Menghitung surat suara per TPS;

2. Menghitung formulir seri model C per TPS;

3. Menghitung DPT per TPS (sesuai nama pemilih terdaftar di TPS yang bersangkutan);

4. Menghitung alat kelengkapan pemungutan dan penghitungan suara per TPS;

5. Menghitung alat kelengkapan rekapitulasi penghitungan perolehan suara di PPK;

6. Mengepak logistik per TPS:

a. Logistik Pemilu yang dimasukkan ke dalam kotak suara, adalah:

• Surat suara dalam sampul kertas dan disegel

• Tinta sidik jari

• Alat dan alas coblos

• Segel

• Formulir seri model C dan lampirannya (tidak termasuk model C6)

• Lem/perekat, karet/tali pengikat, label, spidol biru, sampul kertas, kantong plastik, dan ballpoint biru.

b. Logistik Pemilu di luar kotak suara dan dikemas tersendiri, adalah:

• Daftar pasangan calon

• Daftar Pemilih Tetap (DPT)

• Tanda pengenal KPPS, saksi, dan petugas pengamanan

• Panduan teknis pengisian formulir pemungutan dan penghitungan suara di TPS

• Gembok dan anak kunci dalam plastik transparan

• Alat bantu tunanetra/template

• Bilik pemungutan suara

• Surat pemberitahuan/undangan untuk memberikan suara di TPS (model C6)

• Kartu pemilih

7. Melakukan pengecekan akhir kelengkapan logistik per TPS, sebagai berikut:

a. PPK yang bersangkutan mengelompokkan kotak suara per PPS; dan

b. Meminta PPS melakukan pengecekan sebelum kotak pemungutan suara digembok dan disegel untuk memastikan ketepatan jumlah dan jenis logistik per TPS di wilayah kerja PPS yang bersangkutan.

D. Pemeliharaan

Salah satu prinsip pergudangan ialah logistik Pemilu yang disimpan harus dalam keadaan siap pakai (ready for use). Oleh karena itu, dalam fungsi penyimpanan logistik Pemilu diperlukan pemeliharaan dan perawatan logistik dengan baik. Pemeliharaan merupakan kegiatan perawatan logistik Pemilu agar kondisi tetap terjamin dan siap pakai untuk dipergunakan pada kegiatan pemungutan dan penghitungan suara secara efektif dan efisien dan akuntabel, melalui prinsip:

1. 5R = Ringkas, Rapih, Resik (bersih), Rawat, Rajin (secara terus-menerus);

2. First In First Out (FIFO) yaitu logistik Pemilu yang pertama masuk adalah yang pertama harus keluar; dan 3. Logistik Pemilu disusun di atas pallet secara rapih dan teratur, sesuai dengan ketentuan.

Untuk menjaga keamanan dan keselamatan logistik Pemilu selama disimpan di gudang, maka KPU Kabupaten/

Kota memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Lokasi gudang diupayakan aman dari bencana (misalnya aman dari gempa, banjir, tanah longsor).

2. Pencegahan kebakaran

3. Dihindari penumpukan bahan-bahan yang mudah terbakar.

Komisioner KPU Hadar Navis Gumay, sedang memeriksa produksi logistik pemilu.

4. Dipasang alat alarm kebakaran.

5. Alat pemadam kebakaran harus diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau dan dalam jumlah yang cukup.

Contoh: tersedianya bak pasir, tabung pemadam kebakaran, hidran, karung goni, galah berpengait besi.

6. Keamanan gudang diupayakan dengan membangun pagar keliling, dan menugaskan petugas keamanan.

Selain merawat logistik Pemilu sesuai dengan jenis bahannya, maka agar logistik Pemilu tetap dalam kualitas yang baik, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Melakukan pengecekan logistik Pemilu dan melakukan perawatan secara periodik. Hal ini dimaksudkan agar logistik Pemilu tidak mengalami kerusakan yang parah. Jika dilakukan pengecekan secara berkala maka jika terdapat sedikit kerusakan dapat segera diperbaiki;

2. Menjaga gudang dari kebocoran atap. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga gudang dari berbagai ancaman cuaca baik itu panas matahari maupun hujan. Biasanya ada barang-barang tertentu yang sangat sensitif dengan air maupun panas matahari maka dari itu sangatlah perlu untuk menjaga atap gudang tetap dalam keadaan semestinya;

3. Menghindari penempatan logistik Pemilu yang dapat mempengaruhi kualitas maupun kerusakan barang;

4. Mengecek instalasi listrik secara periodik. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya konsleting listrik yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Konsleting mungkin dapat disebabkan adanya kabel yang terkelupas oleh tikus yang akan mengakibatkan arus pendek sehingga akan berakibat fatal yaitu kebakaran;

5. Menggunakan metode FIFO untuk menghindari kerusakan barang;

6. Menyediakan alat pemadam kebakaran. Kebakaran merupakan suatu hal yang tidak terduga. Kebakaran dapat disebabkan oleh konsleting listrik maupun kelalaian manusia itu sendiri. Maka dari itu sangatlah penting jika di gudang disediakan alat pemadam kebakaran dan letak alat pemadam kebakaran ini haruslah mudah dijangkau;

dan

7. Memberi alas untuk setiap logistik Pemilu agar terhindar dari kelembaban dan tidak dimakan rayap.

Aspek lain yang tidak kalah penting dalam pemeliharaan logistik Pemilu agar logistik Pemilu dapat siap digunakan pada saat pemungutan dan penghitungan suara adalah dengan adanya pengawasan (stock opname).

Beberapa cara untuk memudahkan pengawasan antara lain sebagai berikut:

1. Gudang luas dengan banyak barang dilengkapi peta gudang;

2. Pengaturan sirkulasi udara: salah satu faktor penting dalam merancang gudang adalah adanya sirkulasi udara yang cukup di dalam ruangan, termasuk pengaturan kelembaban udara dan pengaturan pencahayaan;

3. Penggunaan rak dan pallet yang tepat dapat meningkatkan sirkulasi udara, perlindungan terhadap banjir, serangan hama, kelembaban dan efisiensi penanganan; dan

4. Mengelompokkan logistik Pemilu per TPS dalam satu kecamatan. dengan mengurutkan sesuai dengan daftar prioritas lekasi penyaluran ke badan penyelenggara ad-hoc, agar nantinya mudah dilakukan pengawasan, pengecekan sewaktu-waktu, dan pencatatannya (inventarisasi) mudah.

E. Penyaluran

Pada Pemilu 2014 KPU Kabupaten/Kota mempunyai tugas untuk membantu KPU melakukan penyaluran logistik Pemilu ke badan penyelenggara ad-hoc di tingkat di bawahnya (PPK, PPS dan KPPS), dan membuat laporan penyaluran logistik Pemilu. Kegiatan utama penyaluran adalah pengiriman logistik Pemilu kepada badan penyelenggaran ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS) sesuai alokasi kebutuhan di masing-masing badan penyelenggara ad-ad-hoc dengan disertai surat jalan untuk logistik yang sudah dikeluarkan. KPU Kabupaten/Kota menyalurkan kotak pemungutan suara dan perlengkapan pendukung pemungutan dan penghitungan suara ke PPS melalui PPK, dan dibuatkan berita acara serah

terima (BAST). Azas-azas penyaluran logistik Pemilu yang dilaksanakan dalam penyaluran logistik antara lain:

1. Ketepatan jenis dan spesifikasi logistik yang disampaikan

Azas ini berkaitan erat dengan penyaluran logistik yang harus sesuai dengan jenis dan spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya

2. Ketepatan jumlah logistik yg disampaikan

Azas ini sangat memperhatikan ketelitian jumlah barang yang dikirim. Alangkah baiknya barang yang dikirim itu tidak kurang ataupun tidak lebih dari yangg seharusnya (sesuai permintaan/ kebutuhan).

3. Ketepatan waktu penyampaian

Azas ini sangat memperhatikan perhitungan waktu yang digunakan untuk menyalurkan logistik Pemilu, jangan sampai terlambat datang, karena akan berakibat pada terhambatnya aktivitas pemungutan dan penghitungan suara.

4. Ketepatan tempat penyampaian

Azas ini merupakan azas yang sangat penting dalam penyaluran logistik Pemilu hingga ke TPS. Penyaluran logistik Pemilu yang salah tujuan atau bahkan tertukar dengan TPS lain akan mengganggu aktivitas pemungutan dan penghitungan suara.

5. Ketepatan kondisi logistik yg disampaikan

Azas ini mengisyaratkan bahwa logistik Pemilu yang disalurkan harus siap pakai (“ready for use”), sehingga, diperlukan suatu pemeliharaan dan perawatan selama di dalam penyimpanan/gudang.

Selain memperhatikan azas-azas tersebut, hal lain yang perlu diperhatikan adalah proses kegiatan dan administrasi penyaluran logistik Pemilu. Adapun langkah-langkah atau proses penyaluran logistik adalah sebagai berikut:

1. Meneliti daftar alokasi kebutuhan logistik Pemilu bagi setiap badan penyelenggara ad-hoc (PPK, PPS dan KPPS).

Proses ini bertujuan untuk mengetahui secara pasti logistik-logistik yang dapat disalurkan kepada PPK, PPS dan KPPS sesuai dengan kebutuhan.

2. Mempersiapkan logistik Pemilu secara fisik.

Dalam proses ini dilakukan pengambilan dan pengelompokan logistik Pemilu sesuai dengan kebutuhan badan penyelenggara ad-hoc. Selain itu pada tahap ini juga sangat penting dilakukan pengecekan kembali terhadap logistik yang akan disalurkan dengan cara dikelompokkan berdasarkan jenis, spesifikasi, jumlah, nilai maupun kondisi barang tersebut.

3. Penyerahan logistik kepada PPK, PPS dan KPPS.

Tahapan ini dilakukan melalui dua cara yaitu PPK. PPS dan KPPS mengambil ke satker KPU Kabupaten/Kota atau satker KPU Kabupaten/Kota menyampaikan kepada PPK, PPS dan KPPS.

Dalam penyaluran logistik Pemilu hingga ke TPS, KPU Kabupaten/Kota melibatkan badan penyelenggara ad-hoc (PPK dan PPS), dengan rincian tugas sebagai berikut:

Tugas PPK dalam penyaluran logistik Pemilu:

1. PPK menyalurkan logistik Pemilu kepada PPS sesuai jadwal, berpedoman kepada Keputusan KPU Provinsi/KPU Kabupaten/Kota tentang tahapan program dan jadwal waktu penyelenggaraan Pemilu, serta dibuatkan BAST.

Dalam menyalurkan logistik Pemilu, PPK memperhatikan ketentuan sebagai berikut:

a. Mendahulukan desa terjauh dan/atau sulit dijangkau;

b. Menyertakan anggota PPK dan petugas pengamanan; dan c. Menggunakan alat transportasi cepat dan aman.

2. PPK melakukan koordinasi dengan camat, Panwaslu kecamatan dan aparat keamanan, untuk pengamanan logistik Pemilu selama penyaluran ke PPS.

3. PPK melaporkan penyaluran logistik Pemilu kepada KPU Kabupaten/Kota.

Tugas PPS dalam penyaluran logistik Pemilu :

1. PPS menyalurkan logistik Pemilu kepada KPPS sesuai jadwal;

2. PPS membuat berita acara serah terima (BAST) logistik dari PPS ke KPPS;

3. PPS melakukan koordinasi dengan kepala desa/lurah, Panwaslu lapangan dan aparat keamanan untuk pengamanan logistik Pemilu pada saat penyaluran logistik Pemilu ke KPPS;

4. PPS menjaga keamanan logistik Pemilu pada saat penyaluran ke KPPS, yakni tidak membuka, merusak, atau menghilangkan logistik Pemilu; dan

5. PPS melaporkan penyaluran logistik kepada PPK

Dalam rangka mendukung kelancaran penyaluran logistik Pemilu, maka dibutuhkan daftar prioritas lokasi penyaluran dan jadwal penyaluran logistik Pemilu.

1. Identifikasi Daerah Prioritas

Identifikasi daerah prioritas penyaluran logistik Pemilu ke PPK, PPS dan KPPS dilakukan sebelum pelaksanaan pengadaan dan dilakukan update informasi secara berkala mengenai titik rawan dan daerah prioritas. Berdasarkan hasil identifikasi daerah prioritas yang berhasil dihimpun, maka dapat terinventarisir daerah prioritas penyaluran logistik Pemilu Tahun 2014 di 32 Provinsi.

Dari 33 provinsi, hanya provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saja yang tidak mempunyai daerah prioritas

Dari 33 provinsi, hanya provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saja yang tidak mempunyai daerah prioritas