• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Pengelolaan Logistik Pemilu Luar Negeri

C. Pendistribusian

1. Pemilu Anggota DPR Tahun 2014

Pengiriman logistik Pemilu Anggota DPR ke luar negeri dilakukan KPU surat Keputusan KPU nomor 01/

Kpts/KPU/TAHUN 2014 tentang tugas pokok dan fungsi bidang logistik dan distribusi, Pokja PLN dalam pelaksanaan Pemilu Anggota DPR melakukan beberapa aktivitas pendukung diantaranya menerima, mensortir, dan membantu pendistribusian logistik Pemilu ke 130 (seratus tiga puluh) PPLN yang berada di Luar Negeri dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu aspek tepat waktu dan tepat sasaran sebagaimana diamanatkan dalam kebijakan KPU terkait pengiriman logistik ke luar negeri.

Pelaksanaan pengiriman logistik Pemilu Anggota DPR Tahun 2014 untuk Pemilu di luar negeri memang membutuhkan ekstra perhatian dari segi teknis pelaksanaan dan teknis administrasinya. Hal ini masih menjadi pertimbangan dalam melaksanakan pengiriman logistik ke 130 (seratus tiga puluh) PPLN secara cepat dan tepat (tidak ada keterlambatan). Pengiriman logistik pada Pemilu 2014 dilakukan oleh KPU.

Dalam pelaksanaan pengiriman logistik ke 130 (seratus tiga puluh) PPLN, KPU bekerja sama dengan PT. Pos Logistik Indonesia selaku perusahaan yang berkompeten dalam mengirimkan barang skala internasional, sebelum dilakukan pengiriman logistik ke PPLN, KPU menjalin koordinasi dengan pihak Kemenlu yang memiliki otoritas dalam menggunakan kantong diplomat, agar pengiriman logistik lebih cepat dan aman.

Kendala utama yang dialami dalam pengiriman logistik Pemilu Anggota DPR Tahun 2014 lebih disebabkan oleh keterlibatan pihak ketiga, misalnya mekanisme pengiriman dengan kargo di bandara yang membutuhkan waktu lebih lama sehingga terjadi keterlambatan dari target pengiriman yang ditetapkan KPU kepada masing-masing PPLN.

Antisipasi yang dilakukan adalah melakukan koordinasi intens dengan pihak Pokja PLN (Kemenlu) untuk memonitor secara berkala lokasi (posisi) logistik pendistribusian kepada seluruh PPLN.

Kekurangan logistik yang diakibatkan adanya kurang kirim atau kerusakan barang akibat pengiriman, dipenuhi dengan pengiriman kembali melalui PT. Pos Logistik Indonesia, dan juga dikirimkan melalui kurir pada saat kegiatan bimbingan teknis dan sosialisasi Pemilu Anggota DPR di 45 titik pertemuan PPLN. Sehingga mempercepat proses pemenuhan kebutuhan logistik tersebut.

Pengiriman logistik, menggunakan kantong diplomat (diplomatic bag) dengan menyatukan seluruh logistik untuk keperluan PPLN yang bersangkutan bila jumlahnya sedikit. Namun pengiriman untuk wilayah PPLN dengan jumlah pemilih (DPTLN) dan KPPSLN yang cukup banyak misalnya Malaysia, Singapore, Riyadh, dan Hongkong dilakukan secara terpisah antara logistik satu dengan lainnya seperti surat suara, tinta, sampul, formulir plano dan segel.

Pengiriman logistik Pemilu Anggota DPR Tahun 2014 mulai dilaksanakan pada bulan Februari 2014 sampai dengan bulan Maret 2014, sementara proses dan administrasi pelaksanaan distribusinya diharapkan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan Pemilu Anggota DPR Tahun 2014 di masing-masing PPLN. Tenggang waktu tersebut dijadikan sebagai acuan dalam keberhasilan pengiriman logistik hingga tingkat PPLN. Logistik yang dijadwalkan harus mengikuti ketentuan tersebut adalah untuk surat suara, tinta, segel, hologram, sampul, dan formulir yang diadakan oleh KPU. Sebelum pengiriman dilakukan, logistik dikumpulkan di gudang transit bandara Soekarno-Hatta (sewa oleh PT. Pos Logistik Indonesia). Setelah tiba di lokasi (tujuan) pengiriman yaitu gudang transit dimaksud, logistik selanjutnya di-packing oleh petugas berdasarkan jumlah pemilih luar negeri (DPTLN) dan jumlah KPPSLN dari masing-masing Negara (PPLN) tujuan. Pengiriman dilaksanakan oleh PT. Pos Logistik Indonesia, dengan melalui prosedur pengiriman biasa yang dilindungi dengan fasilitas diplomat. Hal ini untuk mendapatkan fasilitas kepabeanan dan fasilitas perlindungan keamanan dari Negara pada saat dilakukan pengiriman ke Negara lain. Untuk PPLN (negara) yang sulit di jangkau oleh pengiriman secara reguler, maka dilakukan pengiriman langsung oleh kurir diplomatik.

Kegiatan distribusi logistik ke PPLN dilakukan dengan memperhatikan tahapan-tahapan penerimaan logistik dari KPU, jadwal pengiriman dan proses pengurusan pengeluaran barang (custom clereance) pada setiap wilayah Negara akreditasi atau yuridiksi perwakilan RI. Pendistribusian tersebut dilakukan dengan dibantu oleh PPLN dan bekerja sama dengan perwakilan RI Negara setempat.

2. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014

Untuk pengiriman logistik Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014, KPU melakukan lelang bagi pihak penyedia yang akan mengirimkan logistik ke seluruh PPLN. Namun dalam proses pelelangan tersebut mengalami gagal lelang, sehingga dilakukan penunjukan langsung dan pihak penyedia yang ditunjuk adalah PT. Pos Logistik Indonesia.

Pihak perusahaan yang ditunjuk tersebut pada Pemilu Anggota DPR Tahun 2014 telah melaksanakan pengiriman logistik ke seluruh PPLN, sehingga lebih memudahkan dalam teknis pelaksanaanya.

Pengiriman logistik kemasing-masing PPLN sudah dimulai sejak 1 (satu) bulan sebelum hari H Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 PPLN, dan batas waktu penerimaan di tingkat PPLN adalah 2 (dua) minggu sebelum hari H tersebut. Mekanisme pengepakan dilakukan dengan metode yang sama sebagaimana dilaksanakan pada Pemilu Anggota DPR untuk Pemilu di luar negeri.

Secara umum, mekanisme pengiriman logistik Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 masih sama seperti pada Pemilu Anggota DPR Tahun 2014. Kendala yang dialami oleh KPU dalam proses pengiriman logistik adalah proses pengeluaran barang dari kargo bandara di beberapa Negara yang membutuhkan waktu lebih lama, misalnya di Negara-Negara Timur Tengah yang sedang mengalami konflik perang atau kerusuhan.

Penyediaan logistik Pemilu 2014 secara umum tidak mengalami kendala secara berarti, hal ini dapat dilihat dari kelancaran proses pemungutan dan penghitungan suara di 130 (seratus tiga puluh) PPLN. Pengendalian pengadaan dan pengiriman logistik Pemilu 2014 untuk Pemilu di luar negeri telah dilakukan dengan baik, melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak-pihak terkait seperti Pokja PLN (Kemenlu) dan pihak ekspedisi. Adanya keterlambatan pengiriman logistik dari target waktu yang ditetapkan oleh KPU yaitu 2 (dua) minggu sebelum hari H Pemilu di luar negeri (dilakukan lebih awal dari Pemilu di dalam negeri), dapat diantisipasi oleh PPLN sehingga pelaksanaan Pemilu 2014 di luar negeri dapat dilaksanakan sesuai target.

Secara umum, proses pengadaan dan pengiriman logistik Pemilu 2014 untuk Pemilu di luar negeri dapat dilaksanakan dengan lancar walaupun terdapat kendala keterlambatan namun masih dapat diantisipasi oleh PPLN.

A. Kendala

Pengadaan logistik Pemilu 2014 dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal KPU, Sekretariat KPU Provinsi, dan Sekretariat KPU Kabupaten/Kota sesuai dengan pendelegasian pengadaan jenis logistik di masing-masing tingkatan.

Dalam Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014, pengadaan formulir yang diperlukan untuk pemungutan, penghitungan, dan rekapitulasi dilakukan oleh Sekretariat Jenderal KPU dan Sekretariat KPU Provinsi (KPU Provinsi).

KPU mengadakan Formulir seri C, D dan DCT untuk Pemilu Anggota DPR dan DPRD, sedangkan untuk KPU Provinsi mengadakan Formulir seri C, D dan DCT untuk Pemilu Anggota DRPD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Dengan adanya pendelegasian tersebut, paket pekerjaan tidak terkonsentrasi di KPU, tetapi tersebar pada 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Berbeda dengan pengadaan Formulir dan DCT di KPU yang berlangsung dengan lancar, pengadaan Formulir dan DCT yang dilakukan oleh KPU Provinsi mengalami beberapa kendala, yaitu gagal lelang yang terjadi pada Pengadaan Formulir dan DCT di Provinsi Bali dan Provinsi Jawa Barat yang disebabkan karena tidak ada peserta lelang yang memenuhi persyaratan dalam evaluasi penawaran.

Gagal lelang dalam pengadaan formulir dan DCT di provinsi Bali baru diketahui pada 24 Februari 2014 atau 44 hari sebelum pelaksanaan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014, sehingga tidak mungkin untuk dilakukan pelelangan ulang yang membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 20 hari kalender dan hanya menyisakan waktu 24 hari kalender untuk pelaksanaan pekerjaan pensortiran, penghitungan dan pengepakan serta pendistribusian sejumlah 3.443.781 lembar formulir ukuran folio dan 226.878 lembar formulir ukuran plano serta 16.188 DCT ukuran plano sampai dengan KPPS.

Sedangkan gagal lelang pengadaan formulir C1 plano dan DCT di provinsi Jawa Barat baru diketahui pada tanggal 1 Maret 2014 atau 39 hari sebelum pelaksanaan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014, dengan sisa alokasi waktu yang tersedia maka tidak dimungkinkan untuk melaksanakan pelelangan ulang karena akan mempersempit waktu untuk untuk pelaksanaan pekerjaan pensortiran, penghitungan dan pengepakan serta pendistribusian sejumlah 90.918 formulir C1 ukuran plano dan 1.342.774 DCT ukuran plano sampai dengan KPPS.

Dengan adanya permasalahan gagal lelang yang dapat mengganggu jadwal pelaksanaan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD pada 9 April 2014, maka satuan kerja bersurat kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) guna memohon penyelesaian permasalahan mekanisme pengadaan formulir dan DCT tersebut pada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). LKPP kemudian menyampaikan dua langkah penyelesaian pengadaan formulir dan DCT, yaitu:

Pertama, penetapan mekanisme penujukan langsung oleh Pengguna Anggaran (PA) dalam hal ini adalah Ketua KPU.

Kedua, dapat dilakukan mekanisme addendum kontrak paket pengadaan yang serupa di Sekretariat Jenderal KPU.

Dari dua alternatif tersebut, Sekretariat Jenderal KPU, memutuskan untuk menggunakan alternatif kedua, yaitu dilakukan addendum kontrak paket pengadaan di Sekretariat Jenderal KPU.

Batas ketentuan addendum dalam peraturan barang dan jasa pemerintah adalah 10% dari nilai kontrak.

Jika addendum dilakukan pada paket pekerjaan pengadaan formulir C dan D serta DCT Pemilu Anggota DPR dan DPD Tahun 2014 maka tidak bisa memenuhi nilai addendum paket pekerjaan pengadaan formulir dan DCT Pemilu Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014 untuk Provinsi Bali dengan nilai Rp. 1.172.078.800,- (nilai HPS) dan untuk Provinsi Jawa Barat dengan nilai Rp. 2.927.544.414,- (nilai HPS), karena nilai kontrak pada paket pekerjaan formulir C dan D serta DCT Pemilu Anggota DPR dan DPD Tahun 2014 yang terdiri dari 8 paket pekerjaan senilai Rp 2 miliar sampai dengan Rp 5,9 miliar. Selain itu pertimbangan lainnya adalah karena pada saat yang sama perusahaan-perusahaan percetakan penyedia formulir KPU secara kapasitas masih disibukkan dalam penyelesaian

pekerjaan sehingga kapasitas produksinya tidak dapat ditambah dengan pekerjaan baru.

Dengan pertimbangan tersebut, addendum untuk melaksanakan paket pekerjaan formulir dan DCT Pemilu Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014 untuk Provinsi Bali dan Provinsi Jawa Barat diputuskan pada paket pekerjaan Surat Suara Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 yang nilai kontraknya lebih besar, yaitu Rp 8 miliar sampai dengan Rp 32,6 miliar. Selain pertimbangan besaran nilai addendum kontrak, juga mempertimbangkan kapasitas percetakan penyedia surat suara yang pada saat itu dapat melaksanakan pekerjaan tambahan, karena pencetakan surat-suara sudah mencapai tahap pengepakan dan distribusi.

Kendala lainnya adalah pada pemenuhan Pemilu Tahun 2014 logistik kabupaten Sumba Barat Daya, terdapat peristiwa force majeure yang terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya. Pada hari Jumat tanggal 28 Maret 2014 atau h-12 sebelum penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD (pada 9 April 2014) terjadi pembakaran kantor KPU Kabupaten Sumba Barat Daya oleh massa karena kekecewaan dalam sengketa Pemilihan Kepala Daerah. Akibat pembakaran tersebut, logistik Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014 yang sedang dipersiapkan dan disimpan dalam kantor KPU ikut terbakar.

Penggantian logistik Pemilu dilakukan melalui mekanisme penunjukan langsung karena tidak cukup waktu jika harus dilakukan dengan pelelangan. Selain itu, dalam konteks pemenuhan kebutuhan logistik Pemilu Sumba Barat Daya akibat force majeure juga sudah memenuhi kriteria untuk dilakukan penunjukan langsung sesuai dengan Perpres 54 Tahun 2014 sebagaimana diubah terakhir dengan Perpres 70 Tahun 2012, yaitu: Pertama, hasil pekerjaan tidak dapat ditunda. Kedua, menyangkut kepentingan/keselamatan masyarakat. Ketiga, tidak cukup waktu untuk melakukan pelelangan dan pelaksanaan pekerjaan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Ketua KPU selaku Pengguna Anggaran memerintahkan dilakukannya Penunjukan Langsung untuk memenuhi kebutuhan logistik Pemilu 2014 yang dilaksanakan oleh Pokja ULP KPU.

Pelaksanaan pekerjaan dalam penunjukan langsung dibagi menurut jenis logistik, lokasi dan ketersediaan bahan yang dimiliki oleh penyedia karena dengan waktu yang begitu singkat tidak memungkinkan bagi penyedia untuk melakukan pemesanan/penyedian bahan. Proses pengadaan logistik tersebut hanya mencakup pengadaan logistik saja, karena penyedia tidak mampu melakukan pendistribusian dengan waktu yang sangat terbatas. Untuk itu pelaksanaan pekerjaan untuk pendistribusian juga dibuatkan paket penunjukan langsung tersendiri terhadap perusahaan yang secara kualifikasi memenuhi dan mampu melaksanakan pendistribusian pengadaan logistik Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 dari penyedia sampai Kabupaten Sumba Barat Daya. Rincian pemenuhan logistik Kabupaten Sumba Barat Daya baik yang dilakukan secara penunjukan langsung maupun pengadaan langsung (sesuai besaran nilai pengadaannya) adalah sebagi berikut:

1. Surat Suara, Formulir C, D dan DCT

Untuk pemenuhan Surat Suara, Formulir C, D dan DCT Pemilu Anggota DPR dan DPD Tahun 2014 Kabupaten Sumba Barat dilakukan penunjukan langsung kepada PT Antar Surya Jaya yang merupakan anggota Kemitraan PT Gramedia. Pemilihan perusahaan tersebut karena memiliki ketersediaan bahan baku kertas dan lokasi percetakan yang berada pada Kota Surabaya Jawa Timur sehingga dalam pendistribusian lebih efisien dan efektif dibandingkan dari lokasi lainnya (misal : Solo, Semarang, Bandung dan Jakarta).

2. Tinta Sidik Jari

Untuk pemenuhan Tinta Sidik Jari kebutuhan Pemilu 2014 di Kabupaten Sumba Barat Daya dilakukan pengadaan langsung melalui PT. Tintamas Tirta Surya yang berlokasi di Surabaya Jawa Timur, hal tersebut dikarenakan PT. Tintamas Tirta Surya masih memiliki ketersediaan stok tinta sidik jari Pemilu 2014 dan lokasi pabrik yang berada di Jawa Timur sehingga lebih efektif dan efisien dalam pendistribusian (dibandingkan dari Jakarta atau Bogor).

3. Segel dan Hologram

Pemenuhan segel dan hologram Pemilu Anggota DPR dan DPD Tahun 2014 Kabupaten Sumba Barat Daya dilakukan secara pengadaan langsung dengan penyedia PT. Pura Barutama yang berlokasi di Kudus Jawa Tengah. PT.

Pura Barutama adalah penyedia yang memproduksi segel dan hologram dalam Pemilu Anggota DPR, DPR dan DPRD Tahun 2014.

4. Kotak Suara dan Bilik Pemungutan Suara

Pemenuhan kebutuhan kotak suara dan bilik pemungutan suara pada Pemilu Tahun 2014 di Kabupaten Sumba Barat Daya dilakukan melalui pengadaan langsung oleh penyedia CV. Point Plus Asia. CV. Point Plus Asia yang memproduksi kotak suara dan bilik pemungutan suara untuk memenuhi kekurangan kotak suara dan bilik pemungutan suara dilakukan oleh masing-masing provinsi pada 2014.

5. Sampul

Pemenuhan sampul mengalami kendala karena dalam pembuatan sampul banyak diperlukan tenaga manusia, sehingga tidak banyak penyedia yang mampu melaksanakan dengan alokasi waktu yang terbatas. Dengan kondisi tersebut maka KPU harus memilih percetakan yang mempunyai kapasitas besar dan berpengalaman dalam pencetakan sampul sehingga kemudian diputuskan untuk melakukan pengadaan langsung dengan PT. Daindo Offset Printing yang berlokasi di Tangerang Banten.

6. Jasa Distribusi Logistik Pemilu

Penyedia jasa distribusi logistik Pemilu memegang peran sangat urgen dalam pemenuhan logistik Pemilu 2014 di kabupaten Sumba Barat Daya. Untuk itu dalam proses pemilihan penyedia jasa distribusi, sebelumnya KPU mengundang beberapa perusahaan yang bergerak pada bidang ekspedisi untuk menjajaki dan membahas paket pekerjaan distribusi logistik Pemilu untuk Kabupaten Sumba Barat Daya, yaitu PT. Pos Logistik dan CV Mandala Dumastio. Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan ekspedisi pendukung dalam pengiriman surat suara dan formulir Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014. Setelah proses pertemuan tersebut. CV Mandala Dumastio dinilai lebih siap dan lebih responsif dalam melaksanakan pakerjaan jasa distribusi tersebut, sehingga dilakukan penunjukan langsung kepada CV. Mandala Dumastio.

Pelaksanaan pekerjaan jasa distribusi logistik Pemilu untuk Kabupaten Sumba Barat Daya dilakukan dengan titik pemberangkatan dari Surabaya Provinsi Jawa Timur, karena volume logistik paling banyak yaitu surat suara dan formulir dicetak di Surabaya. Sehingga logistik lainnya dari Jakarta, Tangerang dan Kudus lebih dahulu dikirimkan ke Surabaya sebelum diberangkatkan secara bersama-sama ke Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kendala lain yang dihadapi adalah adanya surat suara tertukar antar dapil. Tertukarnya surat suara antar dapil banyak terjadi setelah surat suara sampai di TPS karena proses sortir dan pengepakan di tingkat KPU Kabupaten/Kota dilaksanakan tidak sesuai SOP, atau setelah surat suara melalui proses pensortiran oleh KPU Kabupaten/Kota karena kesalahan kirim dari percetakan ke KPU Kabupaten/Kota.

Surat suara tertukar pada Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 terjadi di 742 TPS di 95 Kabupaten/Kota, dengan kasus tertukar paling banyak terjadi di Kota Sukabumi Jawa Barat yakni 102 TPS (sumber:

laporan monitoring logistik KPU, 2014). Terhadap kasus surat suara tertukar tersebut, berdasarkan rekomendasi Panwaslu kemudian dilakukan penggantian surat suara dan dilakukan pemungutan suara ulang.

B. Solusi

Permasalahan lainya adalah menyangkut Perubahan DPT. Penghitungan kebutuhan logistik Pemilu ditentukan oleh jumlah pemilih dan jumlah badan penyelenggara yang ditetapkan melalui Keputusan KPU. Dalam Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014, dasar penghitungan alokasi kebutuhan logistik Pemilu mengalami beberapa perubahan, seiring dengan tahapan pemutakhiran data pemilih dan penetapan badan penyelenggara. Perubahan jumlah pemilih dan badan penyelenggara ini membawa permasalahan tersendiri terkait pemenuhan logistik Pemilu, di antaranya adalah pada beberapa pemenuhan jenis logistik untuk surat suara Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014.

Dalam pemenuhan surat suara Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014, yang awal proses pengadaannya (Oktober 2013) menggunakan dasar penghitungan alokasi kebutuhan adalah KKPU Nomor 630 Tahun 2013, kemudian berubah menyesuaiakan alokasi penghitungan surat suara berdasarkan KKPU Nomor 913 Tahun 2013 sampai dengan penandatanganan kontrak (24 dan 28 Januari 2014). Dalam masa pelaksanaan pekerjaan, terdapat perubahaan penghitungan alokasi kebutuhan yaitu berdasarkan KKPU Nomor 240 Tahun 2014 yang ditetapkan tanggal 15 Februari 2014, pada saat itu sebagian besar penyedia telah mengirimkan surat-suara ke KPU Kabupaten/

Kota. Perubahan DPT mengakibatkan terjadinya selisih lebih dan kurang (sebagian besar lebih) jumlah surat suara yang diterima oleh KPU Kabupaten/Kota. Untuk KPU Kabupaten/Kota yang mengalami kekurangan kemudian akan dikirim sejumlah kekurangan tersebut, sementara untuk KPU Kabupaten/Kota yang mengalami kelebihan maka diharuskan untuk menyimpan dan menghapuskan surat suara lebih. Penyelesaian lebih dan kurang surat suara tersebut mempengaruhi tingkat efisiensi penggunaan anggaran, karena kelebihan pencetakan surat suara harus tetap dibayarkan sesuai kontrak, selain itu juga berpotensi penyalahgunaan surat suara karena jumlah yang dicetak melebihi kebutuhan.

Ketidakefisienan pengadaan juga terjadi dalam pemenuhan logistik Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014. Dalam pemenuhan logistik Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014, khususnya pengadaan tinta sidik jari serta logistik lainnya yang penghitungan alokasi kebutuhan logistiknya berdasarkan jumlah badan penyelenggara.

Proses pengadaan dan kontrak tinta sidik jari dilakukan berdasarkan KKPU Nomor 355 Tahun 2013 tanggal 19 Februari 2013 dengan KPPS sejumlah 546.301, dimana pada masing-masing KPPS dialokasikan 2 botol tinta sidik jari.

Kemudian setelah kebutuhan sejumlah KPPS tersebut terkirim di KPU Kabupaten/Kota, terdapat perubahan jumlah badan penyelenggara, yaitu pada 13 Juni 2014 berdasarkan KKPU Nomor 477 Tahun 2014 dengan KKPS sejumlah 479.183 dan pada tanggal 24 Juni 2014 berdasarkan KKPU Nomor 506 Tahun 2014 dengan KPPS sejumlah 479.183.

Namun kelebihan pengiriman tinta sidik jari pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 tersebut dapat dieliminir dengan alokasi penggunaan tinta sidik jari, yaitu untuk 2 botol per TPS untuk jumlah pemilih sampai dengan 500 orang, dan 3 botol per TPS untuk pemilih diatas 500 orang (berdasarkan SK 402 Tahun 2014 tentang Ketentuan Teknis Standar dan Kebutuhan Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014).

Persoalan lain yang menonjol adalah soal selisih penghitungan jumlah surat suara cadangan 2% per Dapil/Kab/

Kota dengan 2% per TPS. Dalam pemenuhan logistik Pemilu 2014, terdapat permasalahan yang sama sebagaimana dalam pemenuhan logistik Pemilu 2009, yaitu selisih penghitungan jumlah surat suara cadangan 2% per Dapil/

Kabupaten/Kota dengan 2% per TPS. Dasar pemenuhan surat suara Pemilu adalah Keputusan KPU mengenai jumlah pemilih dan jumlah badan penyelenggara, permasalahan muncul ketika basis penghitungan pemenuhan surat suara cadangan bukan perhitungan 2 % per TPS, namun adalah 2 % per dapil untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 dan 2 % per Kabupaten/Kota untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014. Sesuai ketentuan, dalam perhitungan surat suara cadangan 2 % jika diperoleh hasil bilangan desimal maka harus dibulatkan keatas (misalnya : 425 x 2% = 8,6; maka jumlah surat suara cadangan sejumlah 9 lembar), dengan pembulatan ke atas tersebut menjadikan perbedaan jumlah kebutuhan surat suara cadangan, dengan asumsi jika pembulatan per TPS dimungkinkan jumlah surat suara cadangan hasil pembulatan adalah ≤ jumlah TPS, sementara jika pembulatan per dapil dan per Kabupaten/Kota maka jumlah surat suara cadangan hasil pembulatan adalah ≤ jumlah dapil dan Kabupaten/Kota.

Berdasarkan ketentuan undang-undang pemenuhan kebutuhan surat suara cadangan adalah 2% per TPS, namun tentunya untuk menghitung kebutuhan tersebut akan sangat susah karena harus melakukan perkalian sejumlah ± 500.000 tps dalam Pemilu 2014. Selain itu, di dalam KKPU yang menerapkan jumlah pemilih dan jumlah badan penyelanggara yang ditetapkan oleh KPU tidak terdapat rincian jumlah pemilih per TPS, kecuali jika memakai KKPU yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten/Kota.

1) Kesalahan alokasi dan penggunaan

Pemenuhan logistik Pemilu Tahun 2014, juga diwarnai oleh kesalahan dalam alokasi dan penggunaan kebutuhan logistik Pemilu, khususnya untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Kesalahan alokasi dan penggunaan tersebut banyak terjadi dalam penggunaan hologram pengaman formulir model C1, lampiran model C1 dan C1 plano. Hologram merupakan jenis pengaman yang baru digunakan dalam Pemilu 2014, dengan cara ditempelkan hanya pada 1 (satu) set formulir model C1, lampiran model C1 dan C1 untuk menandai keaslian formulir tersebut diantara 16 set (untuk aceh 18 set) salinannya. Dalam penggunaan hologram tersebut, beberapa KPU Kabupaten/

Kota melakukan kesalahan penempelan hologram, yaitu dengan menempel seluruh set formulir dengan hologram.

Kota melakukan kesalahan penempelan hologram, yaitu dengan menempel seluruh set formulir dengan hologram.