• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Dinamis

Dalam dokumen BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 36-67)

D. Model Pengendalian Pencemaran Sungai Martapura

1. Model Dinamis

a. Model Peningkatan Partisipasi Masyarakat.

Model dinamis peningkatan partisipasi masyarakat adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui penerapan pemahaman dengan metode sosialisasi secara kontinyu, konsisten dan berkesinambungan. Partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam pengelolaan dan pengendalian pencemaran domestik Sungai Martapura, khususnya parameter E.coli. Kondisi masyarakat tepi air yang berpendidikan rendah rentan akan kemiskinan menjadi pemicu pertambahan pencemaran domestik.

Kebijakan sosialisasi dan penambahan pemahaman lingkungan merupakan salah satu strategi untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam melakukan mitigasi terhadap pencemaran Sungai Martapura. Teori psikologi lingkungan yang diungkapkan Iskandar (2012) menyatakan bahwa pengajaran sosialisasi merupakan suatu pengajaran dengan cara pengkondisian (learning condition). Aliran proses belajar tanpa perantara dapat terjadi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dalam interaksi antara manusia dengan lingkungan dengn memperhitungkan adanya proses dalam diri manusia melalui hubungan asosiatif maupun non asosiatif. Stimulus akan menggerakkan otak manusia untuk merespon secara responsif yang ingin dipelajari sehingga merubah pemahaman dan perilaku dari manusia untuk mengaktualisasikan apa yang telah dipelajari dalam bentuk sebuah tindakan. Teori psikologi lingkungan ini sejalan dengan model atau pola peningkatan partisiapasi masyarakat dengan sistem dinamik.

Causal Loops dari model partisipasi masyarakat dapat dilihat pada gambar 28 berikut ini:

Partisisipasi dipengaruhi oleh serangkaian satuan persepsi yang terdiri dari variabel pendidikan, nilai-nilai kearifan lokal, pengelolaan limbah dan sampah, perilaku dan sosial budaya. Hubungan sebab akibat menjelaskan interpensi dari sosialisasi akan memberikan perubahan pada perilaku. Model ini dapat disimulasikan dengan memberikan asumsi tingkat pendidikan (TP) . Jika pendidikan tertinggi adalah Doktor dengan masa tempuh atau lamanya pendidikan selama 23 tahun, maka dapat dihitung persentase lama pendidikan (LP). Melalui hasil dari persentase LP dapat berkorelasi dengan pendapatan, sehingga didapatkan asumsi dari jumlah pendapatan yang diperoleh sesuai dengan jenjang pendidikan tertentu. Asumsi TP, LP dan Pendapatan yang dapat dihitung pada tabel 17 berikut ini.

Gambar 28. Causal Loops Model Partisipasi Masyarakat Tepi Air Sungai Martapura.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

185 Tabel 17. Asumsi Persentasi Tingkat Pendidikan dan Pendapatan

Tingkat pendidikan lama pendidikan

(tahun) % lama pendidikan Pendapatan UMK 2016

1 4,35 217.391

2 8,70 434.783

3 13,04 652.174

4 17,39 869.565

5 21,74 1.086.957

Sekolah Dasar 6 26,09 1.304.348

7 30,43 1.521.739

8 34,78 1.739.130

Sekolah Menengah 9 39,13 1.956.522

Pertama 10 43,48 2.173.913

11 47,83 2.391.304

Sekolah Menengah 12 52,17 2.608.696 2.150.000

Atas 13 56,52 2.826.087 2.080.000

14 60,87 3.043.478 (UMP)

15 65,22 3.260.870

Strata 1 16 69,57 3.478.261

17 73,91 3.695.652

Srata 2 18 78,26 3.913.043

19 82,61 4.130.435

20 86,96 4.347.826

21 91,30 4.565.217

22 95,65 4.782.609

Strata 3 23 100,00 5.000.000

Sumber : Asumsi Data Primer 2015-2016

Asumsi yang kedua adalah dengan memprediksikan jika dalam setiap tahun terjadi peningkatan partisipasi sebanyak 15% melalui variabel nilai pemahaman lingkungan dan sosialisasi maka dapat disimulasikan peningkatan angka partisipasi yang dapat dicapai dalam kurun waktu 20 tahun. Prediksi kemungkinan tersebut dapat di lihat pada gambar 29 berikut ini.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

186

Tahun pemahaman lingkungan (%/yr) sosialisasi (%/yr) partisipasi (%) 01 Jan 2016

Peningkatan pemahaman lingkungan di masyarakat akan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pengendalian pencemaran domestik.

Mertode yang dipergunakan adalah sosialisasi. Permatasari (2008) menyatakan bahwa adanya hubungan antara persepsi dan partisipasi akan menciptakan perubahan perilaku dalam menggunakan air sungai. Semakin positif persepsi maka perilaku baik terhadap penggunaan air sungai juga semakin tinggi.

b. Model konsep peran pemerintah dalam perencanaan pengelolaan dan pengendalian pencemaran Sungai Martapura.

Sungai Martapura mengalir melintasi batas administratif menyebabkan adanya eksploitasi dari pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan tujuan masing-masing.

Keadaan ini tentu akan meemunculkan konflik kualitas dan kuantitas berkaitan dengan kelangkaan, pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kondisi demikian juga menimbulkan kompetisi yang bersifat horizontal dan vertikal secara sektoral dengan kewilayahan dan kewenangan secara administratif (Raharja,2009). Melihat banyaknya pihak yang berkepentingan dan memanfaatkan Sungai Martapura memperlihatkan bahwa pengelolaan tdak hanya dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus melibatkan semua pihak dalam suatu konsep yang disepakati bersama dan dijalankan bersama melalui perencanaan yang saling bersinergi dan berkesinambungan. Adapun strategi pengelolaan Sungai

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Gambar 29. Prediksi Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dengan Metode Sosialisasi Martapura.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

187 Martapura yang termanajerial dan terkonsep secara internal untuk penanganan pencemaran dari hulu ke hilir dapat dilihat pada gambar 30 berikut ini.

Strategi pengelolaan Sungai Martapura pada gambar 30 meliputi beberapa hal penting yang harus diseeragamkan dan diselaraskan secara teknis maupun non teknis dalam pengelolaan. Model ini diharapkan dapat dijadikan acuan atau pedoman dalam penyusunan strategi selanjutnya sebagai perwujudan dan implementasi perencanaan yang bersinergi antar stake holder dan kewenangan pada wilayah administratif. Adapun beberapa variabel pembentuk model pengelolaan Sungai Martapura adalah sebagai berikut.

a. Menetapkan keseragaman kebijakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran dengan memperhatikan masing-masing kepentingan pada masing masing wilayah.

b. Menetapkan pola pengelolaan dan pola pengendalian pencemaran.

c. Menetapkan rencana pengelolaan dan pengendalian pencemaran secara bertahap dan masing-masing menjadikan sebagai prioritas kegiatan baik dalam rencana jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

d. Mengatur dan menetapkan regulasi yang menetapkan pemberian izin terhadap penyediaan, peruntukkan dan pemanfaatan sumberdaya air Sungai Martapura.

e. Membentuk satu organisasi khusus yang dibentuk bersama yang bertugas untuk mengurus, mengawasi dan mengevaluasi program pengelolaan dan pengendalian pencemaran serta menjaga efektifitas, kualitas dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan dan

Gambar 30. Model Pengelolaan Sungai Martapura.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tahun tahapan pengelolaan (%) pengelolaan sungai (yr^-1) 01 Jan 2016

pengendalian pencemaran Sungai Martapura. Korelasi dan sinergitas model atau pola pengelolaan Sungai Martapura dapat dilihat pada Causal Loops model dinamik pada gambar 31 berikut ini.

Simulasi pencapaian model pengelolaan Sungai Martapura, diasumsikan jika pengelolaan Sungai Martapura sekarang ini baru mencapai 20% dan diprediksi terjadi peningkatan pengelolaan karena pembenahan dalam sistem manajemen, maka pencapaian pengelolaan dapat dicapai pada tahun ke-10. Simulasi dapat dilihat pada gambar 32 berikut ini.

Gambar 31. Causal Loops Model Pengelolaan Sungai Martapura.

Gambar 32. Prediksi Capaian Pengelolaan Sungai Martapura.

Tahun 2016- 2026

Tahun 2016- 2026

Tahapan Pengelolaan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

189 Strategi pengelolaan Sungai Martapura pada gambar 31 berjalan dengan lambat, namun tahapan pengelolaan sungai mencapai progres yang terus meningkat secara bertahap. Tindakan pengelolaan yang baik dan benar secara kontinyu dan konsisten baik dalam segi kebijakan, perencanaan, regulasi, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi membawa progres yang besar untuk pemulihan Sungai Martapura. Pada simulasi diprediksikan bahwa pencapaian pemantapan pengelolaan Sungai Martapura dicapai pada tahun ke-10 yaitu pada Tahun 2026 jika perhitungan dimulai pada Tahun 2016 dengan persyaratan bahwa semua variabel dalam satuan pengelolaan dapat dilaksanakan sesuai dengan panduan pengelolaan.

Kebijakan dalam pengendalian berkaitan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dan dikarenakan ego sektoral dari peran pemerintah sehingga manajemen pengelolaan sungai tidak dapat dicapai (Putri, 2011). Raharja (2009) mengungkapkan bahwa Implementasi kebijakan dari pengelolaan sungai memiliki implikasi prinsip pembagian urusan pemerintahan yaitu perlu ditambahkannya prinsip pemba-gian kewenangan dari dua prinsip (ultra vires andgeneral competence) menjadi tiga prinsip (ultravires, general competence, dan corecompe-tence).

c. Model Dinamik Pengendalian Pencemaran Sungai Martapura.

Model dinamik pengendalian pencemaran Sungai Martapura adalah merupakan model yang menggabungkan dan memadukan konsep partisipasi masyarakat tepi air dan peran pemerintah dalam perencanaan pengelolaan dan pengendalian pencemaran Sungai Martapura. Untuk menggabungkan konsep peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengelolaan Sungai Martapura yang dilakukan oleh pemerintah dipilih sebagai strategi lain bermodel dinamik yang bersenergi, berkolaborasi dan saling berhubungan sebab akibat dan berlaku dinamis sesuai dengan system yang dipilih. Model ini meniru secara dekat perilaku dari kondisi yang terjadi baik dalam situasi existing maupun prediksi di masa yang akan dating. Perlakuan model yang kompleks akan semakin mendekati situasi yang sebenarnya, sehingga model dinamik secara keseluruhan dan penggabungan dari sub-sub modelnya dapat dilihat pada gambar 33 berikut ini.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

190 Gambar 33 menjelaskan hubungan keterkaitan dari semua aspek atau variabel yang kompleks dan saling mempengaruhi, berkaitan dan berkesinambungan. Faktor pendidikan, kearifan lokal, perilaku, kemampuan mengolah sampah dan limbah serta sosial dan budaya memberi pengaruh terhadap pembentukan persepsi masyarakat tepi air. Tekanan dari perekonomian yang rendah sebagai akibat dari rendahnya juga pendidikan msyarakat membawa pada pembentukan partisipasi dan perubahan perilaku. Disisi lain, pencemaran Sungai Martapura tidak bisa lepas dari kerusakan DAS pada bagian hulu yang terbawa ke bagian hilir. Sepanjang aliran Sungai Martapura dari hulu ke hilir didapati permukiman dan perilaku domestik masyarakat khususnya masyarakat tepi air berkonstribusi besar untuk memberikan pencemaran pada Sungai Martapura. Peran pemerintah pada bagian lainnya melakukan pengelolaan pada Sungai Martapura meliputi beberapa aspek yaitu kebijakan, regulasi dan penegakan hukum, rencana, pelaksanaan program dan pelaksanaan kegiatan serta pemantauan dan evaluasi.

Berdasarkan model tersebut didapatkan beberapa skenario pengendalian pencemaran Sungai Martapura yaitu :

Gambar 33. Model Dinamik Pengendalian Pencemaran Sungai Martapura.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1) Jika di asumsikan bahwa peningkatan partisipasi masyarakat memberikan peranan yang besar dalam pengendalian limbah dan menekan kerusakan DAS hanya 10%

disamping pengelolaan sungai secara termanajerial maka limbah dapat dikendalikan dalam jangka waktu 15 tahun. Simulasi skenario dapat dilihat pada gambar 34 berikut ini.

2) Jika dalam pengelolaan Sungai Martapura yang ditekan adalah kerusakan DAS dengan mengurangi kerusakan DAS yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan, industri, penebangan pohon dan bahan galian B dan C ditekan, dan kerusakan yang ditimbulkan hanya 5% saja dalam tiap tahun, maka kemampuan untuk mengendalikan limbah dicapai dalam kurun waktu 35 tahun. Hasil simulasi dapat dilihat pada gambar 35 berikut ini.

3) Skenario yang ketiga adalah jika pengelolaan Sungai Martapura secara termanajerial dengan baik dan secara keseluruhan dari elemen-elemen pengelolaan maksimal dicapai 100%, maka pengendalian limbah tidak akan mampu dicapai juga dengan 100%. Kebijakan

Gambar 35. Simulasi Skenario Penurunan Kerusakan DAS

Tahun 2016- 2030

Persen

Gambar 34. Simulasi Skenario Peningkatan Partisipasi Masyarakat Tepi Air

Tahun 2016- 2050

Persen

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

top down selama ini dirasa sangat tidak optimal disebabkan adanya unsur-unsur lain yang seharusnya terlibat tetapi pada kenyataannya tidak terlibat menjadi penghambat dalam pencapaian pengelolaan Sungai Martapura. Sampai tahun keberapun pengendalian pencemaran akan mencapai kestabilan angka 78%. Hasil simulasi dapat dilihat pada gambar 36 berikut ini.

Hasil simulasi model dinamik dari 3 skenario, maka skenario 1 yang dianggap paling cocok untuk pengendalian pencemaran Sungai Martapura. Meningkatkan pemahaman tentang lingkungan dengan metode pendidikan non formal adalah strategi yang diprioritaskan disbanding dengan beberapa stategi lainnya. Melalui peningkatan pemahaman tentang lingkungan maka secara otomatis akan membangun partisipasi masyarakat dalam pengendalian pencemaran khususnya E.coli. Melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan pengelolaan Sungai Martapura adalah salah satu bentuk penyediaan wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam bentuk fisik. Memberikan pemahaman bukanlah hal yang mudah, diperlukan pemahaman karakter, kesabaran, kontinuitas dan stabilitas yang berkesinambungan agar sasaran pencapaian penambahan pemahaman tentang lingkungan dapat dicapai. Sosialisasi dipilih sebagai metode yang baik untuk meningkatkan pemahaman bagi masyarakat yang sudah tidak beusia sekolah, sedangkan untuk generasi baru dan masih berusia sekolah tentu bangku pendidikan merupakan pilihan skenario lainnya.

Gambar 36. Simulasi Skenario Dengan Memaksimalkan Pengelolaan Sungai Martapura.

Tahun 2016- 2050

Persen

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

193 Kota Banjarmasin memiliki saat ini memiliki Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan yaitu Melingai ( Masyarakat Perduli Sungai) dan FKH (Forum Kota Hijau). Kedua LSM terdiri dari masyarakat di semua lapisan (Birokrasi, Legislasi, Akademisi, Praktisi, TNI, POLRI, Pengusaha dan lainnya) telah melakukan berbagai macam kegiatan yang mendukung untuk pelestarian Sungai Martapura dan peningkatan pertambahan RTH. Kegiatan ini dilaksanakan secara kontinyu mingguan untk membersihkan sungai, seperti membersihkan sampah sungai, penanaman pohon di bantaran sungai yang dimaksudkan untuk menciptakan rasa memiliki dan kecintaan terhadap Sungai Martapura. Kegiatan ini belum mencapai pokok sasaran yang tepat dalam partisipasi karena :

a. Lokasi pembersihan masih terfocus pada siring tengah Kota Banjarmasin dan Taman Bekantan yang menjadi Ikon Kota Banjarmasin.

b. Belum melibatkan masyarakat secara umum khususnya masyarakat tepi air untuk berbenah dalam perubahan perilaku kehidupan.

c. Belum memiliki agenda yang jelas sehingga belum tercapai pokok sasaran konservasi Sungai Martapura. Gerakan-gerakan perduli lingkungan selama ini hanya berlangsung secara spontanitas.

d. Belum ada arahan, skema, program, kegiatan yang terarah untuk konservasi Sungai Martapura.

Dalam kondisi yang demikian dituntut peran pemerintah untuk mengarahkan kegiatan yang sudah berlangsung dan perkembangannya sangat signifikan ini agar sasaran peningkatan partisipasi masyarakat tepi air dapat dipraktekkan secara langsung, disamping usaha sosialisasi dan himbauan untuk terus melakukan konservasi terhadap Sungai Martapura. Jika stimulan demikian dapat diarahkan dengan baik dengan sasaran yang tepat dan konsisten , maka patisipasi masyarakat dalam pengendalian pencemaran Sungai Martapura tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama akan lebih cepat didapatkan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

194 b. Model gambar dan komputer untuk rancangan penataan ruang permukiman masyarakat tepi air dan lingkungan dalam peningkatan citra kota.

Kota Banjarmasin sebagai Kota Pusaka memiliki pusaka-pusaka unik yang menjadi simbol peradaban ketradisionalan di masa lampau. Bentuk permukiman masyarakat tepi air yang berbanjar mengikuti aliran sungai merupakan suatu kesaujanaan dari Sungai Martapura bersama dengan atribut budaya airnya.

Permasalahan utama yang terjadi pada pencemaran Sungai Martapura adalah pencemaran domestik dari masyarakat tepi air yang bermukim di sepanjang perairan Sungai Martapura yang didasari oleh perilaku buruk masyarakat tepi air seperti membuang sampah, air cucian kamar mandi maupun buangan faeces secara langsung ke sungai yang seecara pasti akan memberikan dampak terhadap kualitas air sungai. Dinamika lahan permukiman terhadap kualitas air sungai dapat diketahui pola kualitas air sungai berdasarkan pola perilaku masyarakat tepi air, maka dengan demikian dapat menghasilkan sebuah skenario kebijakan penataan permukiman masyarakat tepi air Sungi Martapura yang mengacu pada budaya sungai yang menjadi daya tarik pariwisata dan searah dengan konsep P3KP dengan mempertimbangkan :

1) Dalamnya keterkaitan dan kolerasi antara penghuni permukiman masyarakat tepi air dengan Sungai Martapura.

2) Pola budaya sungai dalam konsep psikologis penghuni permukiman tepi air Sungai Martapura.

3) Orientasi bangunan dalam konsep Banjarmasin sebagai Kota Pusaka dengan mengetengahkan tata bangunan, fungsi bangunan, struktur serta konstruksi serta sanitasi dan penataan lingkungan.

4) Aspek non fisik yang meliputi kondisi sosial, ekonomi dan budaya sungai.

Konsep penataan Water Front City selalu menjadi prioritas dari Kota Banjarmasin untuk dikembangkan. Salah satu karakteristik yang ditonjolkan adalah muka bangunan yang menghadap sungai yang bertujuan untuk menjadikan sungai sebagai halaman depan sehingga harapan sungai akan menjadi bersih menjadi prioritas seperti yang diperlihatkan pada gambar 37 berikut ini.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

195 Beracuan pada konsep penataan tersebut maka untuk permukiman tepian air Sungai Martapura juga akan menjadi sasaran selanjutnya untuk ditata. Penataan permukiman tepian air tidak lepas dari kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang dihitung berdasarkan skoring fungsi kawasan strategis budaya dalam Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 5 Tahun 2013 tentang RTRW Kota Banjarmasin 2013-2032 disebutkan bahwa kemampuan daya dukung kawasan budaya tersedia 28,55 ha dan kemampuan daya tampung yang sudah melampaui ambang batas daya tampung lahan.

Keadaan geografi wilayah Banjarmasin berada pada ketinggian rata-rata 0.16 m di bawah permukaan air laut dengan kondisi daerah yang berpaya-paya dan relatif datar dengan kemiringan lereng berkisar antara 0 – 3% menjadi hampir seluruh wilayah digenangi air pada waktu air sungai pasang. Curah hujan yang tinggi cukup menimbulkan masalah, karena hujan yang cukup besar menimbulkan banjir di daratan dan menggenangi sebagian jalan utama kota sehingga transportasi darat terganggu. Salah satu penyebab adalah karena tidak berfungsinya saluran air atau drainase kota, bahkan di sebagian wilayah kota saluran air hujan di pinggir jalan tidak terlihat, air hujan mengalir ke tanah sekitarnya yang lebih rendah atau langsung ke sungai. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Banjarmasin Tahun 2015 curah hujan tertinggi yang tercatat adalah 650 mm pada bulan Januari dan terendah 236 mm/bulan sedangkan jumlah hujan rata-rata 157 hari. Dengan faktor alam seperti ini Banjarmasin termasuk daerah tropis dengan suhu rata-rata antara 26,2 C sampai 34,4 C.

Gambar 37. Konsep Water Front City

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

196 Kota Banjarmasin selain dibelah oleh Sungai Martapura dikelilingi oleh perairan yaitu Sungai Barito dan Laut Jawa. Kondisi pasang surut Sungai Martapura disebabkan oleh instrusi air laut sehingga Kota Banjarmasin berkarakter rawa. Kawasan sepanjang bantaran sungai rawan akan ketinggian gelombang dan banjir selain kebakaran.

Kekumuhan dan kemiskinan menjadi faktor utama dalam penentuan kerentanan sosial untuk kawasan bantaran sungai dapat dilihat pada gambar 38 berikut.

Sebagian kelurahan Sungai Jingah pada gambar 38 termasuk lokasi yang rawan akan bencana kebakaran. Pertumbuhan permukiman liar dan padat, peningkatan suhu udara dan kerusakan jaringan instalasi listrik pada musim kemarau adalah faktor penyebab terjadinya kebakaran, walaupun kerawanan bencana kebakaran ini bukan gejala yang ditimbulkan oleh alam melainkan oleh kelalaian manusia.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar 38. Peta Rawan Bencana Kebakaran Kota Banjarmasin 197

Rawan Bencana Kebakaran Sungai Jingah

Kelurahan Sungai Jingah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

198 Kawasan Strategis Kota Banjarmasin sesuai dengan RTRW 2011-2032 meliputi kawasan strategis pengembangan ekonomi dan sosial budaya, namun belum dipetakan untuk kawasan strategis untuk perlindungan lingkungan dan pariwisata. RTRW Kota ini masih dalam proses evaluasi 5 tahunan dan mengetur strategi baru agar sesuai dengan perencanaan pola ruang, dengan harapan tidak terjadi penambahan degradasi lingkungan.

Kawasan sempadan sungai di sepanjang aliran sungai merupakan kawasan perlindungan setempat yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup. Sungai Martapura merupakan Ruang Terbuka Biru termasuk anak-anak sungainya. Ruang Terbuka Hijau dipusatkan pada hutan, taman kota dan taman buatan yang adilokasikan di beberapa kawasan, namun dalam perencanaan sepanjang aliran sungai akan dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau. Adapun daya dukung lingkungan dalam peta RTRW Kawasan Strategis Kota Banjarmasin dapat dilihat pada gambar 39 berikut ini.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Gambar 39. Peta Kawasan Strategis Kota Banjarmasin. 199

Sungai Martapura sebagai

Kawasan Strategis Ruang Terbuka Biru

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

200 Model penataan permukiman tradisional mempertimbangkan proses keberlanjutan ekosistem perairan Sungai Martapura yang merupakan Sumber Daya Alam dan pusaka sosial budaya serta memberi support daya dukung lingkungan berkelanjutan menyangkut manajemen limbah, pengelolaan sungai dan partisipasi masyarakat. Dalam upaya pelestarian lingkungan, selalu terjadi kegiatan pemanfaatan, termasuk didalamnya penataan, pengendalian, pemulihan dan pengembangan kawasan. Pada zonasi pusaka keempat elemen itu disatukan dalam bentuk model prototype pengembangan kawasan permukiman tradisional banjar yang di desain dengan memperhatikan tiga aspek utama yaitu ekologi, ekonomi dan sosial dengan memanfaatkan kawasan potensial budaya Kota Banjarmasin.

Penataan permukiman tepian air menurut Dwisusano (2013) adalah perwujudan ekologi masyarakat berorientasi kepada sungai dan aktivitas ditepian sungai. Perencanaan lanskap riparian Sungai Martapura dibangun adalah untuk meningkatkan kualitas lingkungan alami di Kota Banjarmasin (Nurisyah dan Anisa, 2011). Konsep dasar perencanaan lanskap riparian Sungai Marta-pura adalah untuk revitalisasi Sungai Martapura dalam usaha untuk meningkatkan kualitas lingkungan alami guna mendukung keberlangsungan kehidupan ekosistem Sungai Martapura Adapun model penataan tersebut dapat dilihat pada gambar 40 berikut ini.

Gambar 40. Model Penataan Kawasan Bantaran Sungai Martapura Kelurahan Sungai Bilu

Kelurahan Sungai Jingah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

201 Daya dukung lahan permukiman pada Kelurahan sungai bilu tersisa 103,88 ha dari 1044,62 ha luas kelurahan dengan total populasi 2.364 jiwa. Model penataan permukiman hanya mempergunakan lahan 2, 25 ha. Penataan permukiman pada Kelurahan Sungai jingah membutuhkan 0,68 ha dari luas kelurahan 2045,33 ha dan jumlah populasi 5.336 jiwa. Model penataan ini sangat layak untuk kondisi permukiman yang padat di bantaran sungai, dengan daya dukung yang memadai ditambah dengan jaringan listrik dan PDAM serta jaringan komunikasi yang lancer, walaupun daya tampung kawasan sudah tidak mampu lagi untuk menampung jumlah penduduk yang semakin meningkat.

Model desain penatan permukiman tradisional pada tepian perairan Sungai Martapura di kawasan Sungai Bilu dan Sungai Jingah merupakan solusi yang tepat untuk menyeimbangkan antara kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan karena model penataan kawasan tepi air pada zonasi pusaka merupakan satu tindakan restorasi, konservasi sekaligus rehabilitasi lingkungan DAS Martapura dan situs budaya.

Model desain penatan permukiman tradisional pada tepian perairan Sungai Martapura di kawasan Sungai Bilu dan Sungai Jingah merupakan solusi yang tepat untuk menyeimbangkan antara kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan karena model penataan kawasan tepi air pada zonasi pusaka merupakan satu tindakan restorasi, konservasi sekaligus rehabilitasi lingkungan DAS Martapura dan situs budaya.

Dalam dokumen BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 36-67)

Dokumen terkait