Pengelolaan Daerah Aliran Sungai adalah salah satu kewenangan pemerintah yang dapat di desentralisasi berdasarkan urusan atau fungsi (function) dan kewenangan (authority). Agusalim dalam Raharja (2009) menyebutkan bahwa desentralisasi adalah penyerahan atau pelimpahan kekuasaan dari pemerintah yang lebih tinggi kepada lembaga yang berada dalam tingkatan yang lebih rendah. Sungai adalah sumberdaya yang mengalir dan tidak mengenal batas wilayah secara teknis, namun menijau prinsip pengelolaan DAS dalam kerangka desentralisasi dan otonomi. Kerangka tersebut meliputi pembagian wilayah administratif sesuai dengan wilayah masing-masing untuk menghindari benturan kewenangan dan kepentingan. Konsekwensinya adalah tidak mungkin mengelola sungai secara sektoral atau mandiri oleh masing-masing organisasi dengan berkepentingan yang berada dalam lintasan aliran sungai tersebut.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
176 Merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 pengelolaan DAS terkotak-kotak terbagi atas kewenangan wilayah kabupaten dan kota. Sungai Martapura adalah sungai besar yang melintasi Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin dan Kabupaten Batola. Berdasarkan klasifikasi kewenangan otomom, Pemerintah Kota Banjarmasin hanya mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan sungai pada bagian hilir sesuai dengan batas-batas wilayah administratif. Sebagai hilir tentu saja pencemaran tidak hanya berasal dari bagian hilir saja, tetapi juga mendapatkannya dari bagian hulu, walaupun pada bagian hilir juga terjadi aktivitas pencemaran. Adapun Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi pencemaran pada Sungai Martapura adalah sebagai berikut.
1. Regulasi.
a. Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Sungai.
Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Sungai terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang larangan untuk melakukan pencemaran dan tindakan hukum atas pendirian bangunan di daerah sempadan sungai yaitu :
1) Pasal 2 (4) menyebutkan bahwa dilarang membuang benda berupa bahan padat, cair yang berupa limbah ke dalam maupun di sekitar sungai yang dapat menurunkan kualitas air hingga membahayakan atau menurunkan kualitas air dan membahayakan pengguna air dan lingkungan.
2) Pasal 16 (1) Dihukum dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan atau denda paling tinggi Rp. 50.000.000,- terhadap perbuatan sebagai berikut.
a) Mendirikan bangunan diatas sempadan atau garis sungai.
b) Merusak tebing atau pinggiran bantaran sungai.
c) Membuang sampah, limbah organik atau non organik ke sungai, sempadan atau garis sungai.
d) Merubah atau menambah suatu bangunan yang sudah ada di bantaran sungai atau sempadan sungai sebelum perda ini diberlakukan.
Peraturan Daerah ini sangat jelas mengatur untuk pengendalian pencemaran sungai secara domestik maupun non domestik, begitu pula dengan penataan permukiman
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
177 disepanjnag aliran sungai, walaupun pada kenyataannya pertumbuhan permukiman tidak terkendali dan terkesan dibiarkan saja oleh pemerintah. Ada beberapa kelemahan dalam Peraturan Daerah ini, diantaranya :
1) Belum ada pengaturan Rencana Tata Ruang untuk pemanfaatan sempadan sungai selain sebagai RTH.
2) Belum ada pengaturan pengelolaan sungai secara terintegrasi antara hulu dan hilir 3) Belum ada pengaturan tentang Konservasi Sungai untuk dijadikan acuan dalam penataan ruang.
4) Belum ada pengaturan keterlibatan masyarakat dalam konservasi sungai.
b. Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 7 Tahun 2010 tentang Izin Pembuangan dan Pengolahan Limbah Cair.
Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 7 Tahun 2010 tentang Izin Pembuangan dan Pengolahan Limbah Cair mengatur tentang perizinan pembuangan limbah cair dan perlindungan Sumber Daya Air, meliputi :
1) Pasal 4 (2) menyebutkan bahwa setiap pengembang pemukiman dengan bangunan hunian minimal 20 (dua puluh) unit, wajib membuat pengolahan limbah cair berupa tangki septik komunal yang memenuhi persyaratan teknis.
2) Pasal 8 ayat 1 dan 2 melarang setiap usaha atau kegiatan membuang limbah cair ke badan air , air tanah yang tidak sesuai dengan baku mutu yang sudah menjadi ketetapan.
3) Pasal 19 adalah ketentuan pidana terhadap pelanggaran yang dilakukan pada pasal 4 menjalani pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan pasal 8 pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Beberapa kelemahan yang ditemukan dalam Peraturan Daerah ini, diantaranya adalah :
1) Belum ada devinisi dan pengaturan untuk pembuangan limbah cair domestik bagi masyarakat yang bermukim disepanjang aliran sungai.
2) Belum ada devinisi dan pengaturan untuk pembuangan limbah cair domestik bagi UKM dan usaha lain yang melakukan pembuangan limbah ke aliran yang menuju sungai, seperti rumah makan dan hotel .
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
178 c. Peraturan Daerah Nomor 31 Tahun 2012 tentang Penetapan, Pengaturan dan Pemanfaatan Sempadan Sungai dan Bekas Sungai.
Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 31 Tahun 2012 tentang Penetapan, Pengaturan dan Pemanfaatan Sempadan Sungai dan Bekas Sungai terdapat 2 pasal yang dengan jelas mengatur garis sempadan sungai, yaitu :
1) Pasal 8 (2) menyebutkan penetapan Garis Sempadan Sungai mempertimbangkan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Pada pasal ini dapat dijadikan landasan dalam penyusunan Peraturan Daerah baru untuk zonasi penataan kawasan pusaka , mengingat belum ada peraturan yang melindungi konservasi dan restorasi zona-zona kawasan pusaka.
2) Pasal 9 menjelaskan bahwa garis sempadan pada sungai bertanggul atau siring ditentukan berjarak 3 meter dari tepi luar tanggul sepanjang aliran sungai.
5) Pasal 10 menyatakan bahwa garis sempadan sungai tidak bertanggul ditentukan plaing sedikit berjarak 15 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang aliran sungai dengan kedalaman 3-20 meter.
6) Pasal 13 (1) memaparkan bahwa pemanfaatan sempadan sungai hanya dapat dilakukan untuk kepentingan tertentu :
a) Bangunan prasarana Sumber Daya Air.
b) Fasilitas Jembatan dan Dermaga dengan fasilitas pendukungnya.
c) Jalur pipa, gas dan air minum
d) Rentang kabel listrik dan telekomunikasi.
e) Fasilitas Umum , bangunan pemerintah.
7) Pasal 21 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam pasal 9,10, 13(2) dan 16 (6)
diancam pidana kurungan selama 6 (enam) bulan atau denda paling tinggi Rp. 50.000.000,-
Peraturan Daerah Kota Banjarmasin secara umum sudah mengatur pemanfaatan, pengelolaan dan pengaturan pembuangan limbah cair ke Sungai Martapura, walaupun terdapat beberapa kelemahan dalam peraturan tersebut. Bagiian terpenting dari peraturan ini adalah pengawasan, pengendalian dan penegakaan hukum yang dirasa masih sangat kurang dikarenakan SDM yang kurang memadai , eksistensi dan konsistensi dalam pelaksanaan regulasi.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
179 2. Program dan Kegiatan
Beberapa program dan kegiatan pemerintah yang dilaksankan secara kontinyu untuk mengendalikan pencemaran pada Sungai Martapura, diantaranya :
a) Pembangunan Siring di bantaran sungai di kawasan kota dan pusat kota untuk menahan luapan air ketika air sungai pasang dan menggenangi Kota Banjarmasin dengan konstruksi yang memberi penguatan pada tebing atau bibir sungai yang saat ini sudah dibangun sepanjang 10 kilometer.
b) Relokasi kampung ketupat, yang menjadi kampung wisata dalam zoning kota pusaka yang padat akan permukiman dengan segala atribut aktivitas domestik dalam membuat ketupat.
c) Melaksanakan kegiatan pengurukan dan normalisasi sungai besar dan sungai kecil untuk melancarkan arus sungai yang tersumbat oleh sampah yang bertujuan un tuk menggalakkan kembali transportasi air untuk mengembalikan fungsi dan budaya sungai serta mengurangi kemacetan lalu lintas secara kontintyu.
d) Membangkitkan partisipasi masyarakat untuk menjaga dan melindungi Sungai Martapura melalui lomba angkat-angkat lumpur yang dilaksankan setiap tahun.
e) Membangkitkan partisipasi masyarakat dalam budaya kesungaian dan kepariwisataan dengan melaksanakan lomba dayung dan tanglong di sungai pada setiap tahun.
Di bagian lain, usaha untuk memitigasi pencemaran domestik khususnya untuk menekan kuantitas bakteri E.coli yang mendominasi parameter pencemar pada Sungai Martapura , Pemerintah Kota Banjarmasin membangun suatu alat yang desain berbentuk tabung yang berfungsi sebagai septictank yang dinamakan Tripikon-S. Normasari (2016) menyebutkan bahwa selain berfungsi untuk mengendalikan pencemaran E.coli pada Sungai Martapura, Tripikon-S adalah salah satu usaha pemerintah dalam mengatasi sanitasi masyarakat tepi air yang memiliki lahan sempit dan berdaerah rawa. Tripikon-S sebagai sebuah konstruksi pengganti septictank mampu untuk melalukan proses penguraian sampai 90% hanya bersifat mengurangi namun tidak menghilangkan E.coli yang memasuki perairan Sungai Martapura. Efektifitas Tripikon-S dapat dilihat pada gambar 26 berikut.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
180 Gambar 26 . Efektifitas Tripikon-S dalam mengolah limbah E.Coli .
Tripikon-S yang berfungsi sebagai septictank secara efisiensi mampu menurunkan jumlah kadar limbah E.coli melalui proses aerob dan anaerob yang terjadi didalamnya.
Gambar 26 menjelaskan bahwa Tripikon-S mampu menurunkan jumlah kadar limbah E.Coli sebesar 90.31 % dengan syarat azas dalam kriteria volume Tripikon-S terpenuhi dengan baik dari perhitungan jumlah pengguna dan volume limbah sesuai dengan volume daya tampung pada Tripikon-S.
Peran pemerintah dalam mengatasi kerusakan lingkungan seperti halnya pencemaran pada Sungai Martapura menuntut manajemen pengelolaan yang lebih profesional dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen secara lebih komprehensif dan berkesinambungan.
Secara mendetail pemerintah harus dapat meruntut keterkaitan pengelolaan secara perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sebuah program dan kegiatan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dalam kerangka otonomi, pemerintah harus mampu menggali dan memanfatkan sumberdaya alam, manusia, sentra industri bahkan keuangan sebagai modal pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kodotie (2002) menterjemahkan pembangunan berkelanjutan sebagai suatu kehidupan sosial dan harmonis dengan pengelolaan yang berbasis keterpaduan. Pola keterpaduan ini sangat sulit diwujudkan karena keterpaduan sistem antara alam, ekonomi dan sosial yang sangat kompleks, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan dalam pengelolaan sangat besar.
Mengatasi masalah pencemaran Sungai Martapura, tidak bisa hanya memperdebatkan sistem dan cara pengelolaan pada bagian hilir, tetapi konstibusi bagian hulu harus dipertimbangkan untuk dibenahi. Dalam pembangunan secara makro Kota Banjarmasin,
limbah terolah limbah tidak terolah
90,31 % 9,69 %
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
181 Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar memiliki satu kesatuan dalam mewujudkan Banjar Bakula atau Banjar Bersaudara. Secara Eksternal dalam konsteks ini sangat dimungkinkan Pemerintah Kota Banjarmasin mempunyai keterkaitan dalam pengelolaan DAS Martapura bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya membuat sebuah konsep pengelolaan yang berkesinambungan. Penggunaan metode pengelolaan one river one manajemen sangat dimungkinkan untuk diwujudkan, asalkan dapat menselaraskan keragaman pola pikir dan program pada masing-masing kebijakan pemerintah dalam kewilayahan yang berbeda sesuai dengan porsi, sumberdaya dan dampak yang ditimbulkan dari pembangunan yang memberikan dampak pencemaran.
Adapun beberapa strategi dalam pengelolaan Sungai Martapura dengan manajemen dan berkonsep internal dengan tujuan untuk menangani pencemaran dari hulu ke hilir adalah sebagai berikut.
a. Menetapkan keseragaman kebijakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran dengan memperhatikan masing-masing kepentingan.
b. Menetapkan pola pengelolaan dan pola pengendalian pencemaran.
c. Menetapkan rencana pengelolaan dan pengendalian pencemaran secara bertahap dan masing-masing menjadikan sebagai prioritas kegiatan dalam rencana jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
d. Mengatur dan menetapkan regulasi yang menetapkan pemberian izin terhadap penyediaan, peruntukkan dan pemanfaatan Sumber Daya Air Sungai Martapura.
e. Membentuk satu organisasi khusus yang dibentuk bersama yang bertugas untuk mengurus, mengawasi dan mengevaluasi program pengelolaan dan pengendalian pencemaran serta menjaga efektifitas, kualitas dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan dan pengendalian pencemaran Sungai Martapura.
Proses suatu kebijakan salah satunya adalah langkah yang diambil setelah melakukan pilihan alternative atau solusi dari suatu permasalahan pembangunan yaitu menyangkut program yang akan dilaksanakan yang terdiri dari formula-formula yang menggabungkan pemanfaatan sumberdaya alam dan manusia yang di dukung oleh anggaran untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan. Masyarakat adalah modal penting dalam pembangunan,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
182 sehingga kebijakan tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan dari masyarakat selaku objek dan subjek pembangunan.