KERANGKA TEORI
2.1 Model Economic Order Quantity (EOQ)
Salah satu keputusan yang harus diambil dalam manajemen persediaan adalah ukuran pesanan. Untuk item yang permintaan atau kebutuhannya relatif stabil dalam jangka panjang, ukuran pesanan akan berimplikasi pada frekuensi pemesanan dan rata-rata persediaan yang akan disimpan oleh perusahaan. Menurut Pujawan (2005:105) semakin kecil ukuran pesanan berarti semakin cepat persediaan habis sehingga semakin sering pesanan harus dilakukan. Karena biasanya ada ongkos tetap pemesanan yang terlalu besar. Sebaliknya, kalau pesanan dilakukan dalam ukuran besar, perusahaan akan lebih jarang memesan, namun secara rata-rata harus menyimpan persediaan dalam jumlah yang lebih besar.
Model sederhana yang bisa digunakan untuk menentukan ukuran pesanan yang ekonomis adalah Model economic order quantity (EOQ). Model ini mempertimbangkan dua ongkos persediaan diatas, yakni ongkos pesan dan ongkos simpan. Ongkos pesan yang dimaksud adalah ongkos-ongkos tetap yang keluar setiap kali pemesanan dilakukan dan tidak tergantung pada ukuran atau volume pesanan. Sedangkan ongkos simpan adalah ongkos yang terjadi akibat perusahaan menyimpan barang tersebut selama suatu periode tertentu.
Model ini merupakan salah satu model deterministik statis, yaitu tingkat permintaannya diketahui secara pasti dan bersifat konstan. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Ford Harris dari Westinghouse pada tahun 1915. Meskipun terdapat berbagai macam asumsi yang harus dipenuhi dalam model
EOQ, bagaimanapun juga EOQ adalah model manajemen persediaan yang dapat meminimumkan total biaya. Menurut Yamit (2005:51) Model EOQ dapat dilakukan dengan menggunakan asumsi sebagai berikut:
1. Kebutuhan bahan baku dapat ditentukan, relatif tetap, dan terus menerus. 2. Tenggang waktu pemesanan dapat ditentukan dan relatif tetap.
3. Tidak diperkenankan adanya kekurangan persediaan; artinya setelah kebutuhan dan tenggang waktu dapat ditentukan secara pasti berarti kekurangan persediaan dapat dihindari.
4. Pemesanan datang sekaligus dan akan menambah persediaan.
5. Struktur biaya tidak berubah; biaya pemesanan atau persiapan sama tanpa memperhatikan jumlah yang dipesan, biaya simpan adalah berdasarkan fungsi linier terhadap rata-rata persediaan, dan harga beli atau biaya pembelian per unit adalah konstan (tidak ada potongan).
6. Kapasitas gudang dan modal cukup untuk menampung dan membeli pesanan. 7. Pembelian adalah satu jenis item.
Dalam persoalan persediaan dikenal beberapa model. Menurut Aminuddin (2005:148-162) masing-masing model mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan parameter persoalan. Pada dasarnya model persediaan dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu model deterministik dan model stokastik. Model deterministik semua parameternya-parameternya diasumsikan diketahui dengan pasti sedangkan model stokastik nilai-nilai parameternya tidak diketahui dengan pasti, berupa nilai-nilai acak. Berikut ini jenis-jenis persediaan determenistik: 1. Model EOQ statis (klasik).
3. Model EOQ Fixed Production Rate. 4. Model EOQ Quantity Discount. 2.1.1 Model EOQ statis (klasik)
Model persediaan statis (klasik) merupakan model persediaan yang paling sederhana dari berbagai model yang ada. Terdapat beberapa asumsi-asumsi yang ada pada Model Statis ini yakni:
1. Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan, 2. Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui (tertentu), 3. Barang yang dipesan diasumsikan dapat segera tersedia. 4. Waktu ancang-ancang (lead time) bersifat konstan,
5. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan,
6. Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan (storage), dan
7. Tidak ada quantity discount.
Adapun proses penghitungannya dengan menganalisa tahap demi tahap sebagai berikut:
Biaya Total Persediaan = Biaya Pesanan + Biaya Penyimpanan + Biaya Pembelian
Parameter-parameter yang dipakai dalam model ini adalah: D = Jumlah kebutuhan produk selama satu periode
k = Biaya pesanan setiap kali pesan
h = Biaya penyimpanan per-unit persediaan c = Biaya pembelian per-unit produk
t = Waktu antara satu pemesanan kepemesanan berikutnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan mengenai: a. Jumlah pemesanan yang optimal (EOQ),
b. Frekuensi pemesanan (f), c. Waktu antar pemesanan (t0),
d. Biaya Total Persediaan yang relevan (TIC).
Adapun rumus yang akan digunakan dalam pemecahannya adalah sebagai berikut:
a. Dari rumus Wilson, rumus untuk menentukan jumlah pesanan yang optimal (EOQ):
���= �2�� ℎ
b. Rumus untuk menentukan Frekuensi pemesanan (f):
�= � �
c. Rumus untuk waktu antar pemesanan (t0):
t0= ���
�
d. Rumus untuk menentukan Total persediaan yang relevan (TIC):
��� = √ 2��ℎ
2.1.2 Model EOQ dengan back order
Pada asumsi keenam dalam model dasar EOQ adalah tidak adanya back order karena kehabisan persediaan (shortage cost). Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan actual (actual demand) dan biasanya lebih rendah dibandingkan biaya persediaan tambahan
yang diperlukan bila memenuhi seluruh kebutuhan tanpa back order. Tujuannya adalah untuk menentukan ukuran kuantitas (Q) optimal yang meminimasi Total biaya (TIC) persediaan sehingga bisa diasumsikan sebagai berikut:
1. Berapa jumlah persediaan maksimal yang diinginkan pada awal siklus pemesanan produksi.
2. Berapa jumlah kehabisan persediaan maksimal yang diperbolehkan.
Dalam model ini dipakai asumsi bahwa perusahaan menanggung beban biaya kehabisan persediaan (shortage cost), yaitu kerugian atas ketidakmampuan perusahaan menyediakan barang yang dibutuhkan (p) dan lama kebutuhan itu baru dapat dipenuhi. Berdasarkan model dan asumsi tersebut, maka TIC persediaan model back order dapat dinyatakan dalam persamaan:
TIC = Biaya Pesanan + Biaya Penyimpanan + Biaya Kehabisan Persediaan
Adapun rumus yang akan digunakan dalam pemecahannya adalah sebagai berikut: TIC = k� �+ ℎH2 2� +� (� − �)2 2�
Tujuan model persediaan ini adalah mencari nilai Q dan H yang dapat meminimasi TIC persediaan. Dengan menderivatifkan secara parsial persamaan diatas, maka diperoleh:
� =�2�� ℎ � �+ℎ � �= �2�� ℎ � � �+ℎ
Dengan memasukkan persamaan Q dan H ke persamaan TIC, maka diperoleh:
��� = √2ℎ�����
+ℎ
2.1.3 Model EOQ fixed production rate
Pada model ini harus dikaitkan dengan tingkat produksi dari perusahaan pemasok barang atau produsen. Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi pada penggunaan model ini adalah:
1. Tingkat permintaan konstan.
2. Tingkat produksi dari pemasok konstan.
3. Tingkat produksi lebih besar dari tingkat permintaan per tahun. 4. Lead time konstan.
5. Tidak di ijinkan adanya back order. 2.1.4 Model EOQ quantity discount
Model ini didasari oleh adanya kemungkinan potongan kuantitas atau harga per unit barang bila perusahaan membeli dalam kuantitas persediaan yang lebih besar. Misalkan holding cost bervariasi sesuai ketentuan dari pemasok, maka penentuan EOQ yang optimal memerlukan perhitungan seluruh biaya-biaya minimum feasible.
Jika holding cost merupakan persentase dari harga, maka prosedur penentuan EOQ adalah sebagai berikut:
1. Untuk setiap potongan harga hitung EOQ-nya.
2. Jika EOQ diluar jangkauan pada tiap potongan harga (tidak feasible) maka sesuaikan nilai EOQ (naikkan pada kuantitas terendah sehingga feasible).
3. Hitung total cost tiap EOQ (setelah disesuaikan). 4. Pilih EOQ yang menghasilkan total cost terendah. 2.2Supply Chain
Supply chain atau biasa disebut sebagai rantai pasokan yang merupakan sistem perpaduan antara ilmu dan seni yang dikaitkan dalam saluran distribusi untuk perusahaan. Awal mulanya biasa dikenal dengan sistem logistik, namun seiring perkembangan jaman teleh berubah menjadi manajemen rantai pasokan atau disebut juga sebagai supply chain management (SCM).
2.2.1 Sistem manajemen logistik
Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (2000:7) kegiatan logistik adalah suatu perpaduan dari sistem-sistem manajemen distribusi fisik, manajemen material dan transfer persediaan internal. Hal ini menyangkut masalah segala aspek gerakan fisik dari pemasok, perantara, lokasi serta fasilitas yang merupakan struktur operasi dari organisasi perusahaan yang bersangkutan. Adapun saluran distribusinya sebagai berikut:
1. Produsen – konsumen. Bentuk saluran ini yang paling pendek dan paling sederhana, karena dari produsen langsung ke konsumen. Kegiatan logistiknya juga harus menyesuaikan dengan bentuk saluran distribusi ini.
2. Produsen – pengecer – konsumen. Saluran distribusi ini sering disebut dengan saluran distribusi langsung. Pengecer besar langsung mengadakan pembelian ke produsen.
3. Produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen. Saluran distribusi ini banyak digunakan oleh produsen dan hal ini sering disebut distribusi tradisional. Dalam model ini produsen hanya melayani penjualan dalam
jumlah yang cukup besar kepada para pedagang besar saja, dan tidak melayani pengecer.
4. Produsen – agen – pengecer – konsumen. Produsen memilih agen sebagai penyalurnya. Agen bekerja untuk perusahaan dan tidak memiliki hak kepemilikan atas barang tersebut (penghantar), dan agen ini menjalankan kegiatan perdagangan besar terhadap pengecer besar dalam saluran distribusi yang ada.
5. Produsen – agen – pedagang besar – pengecer – konsumen. Pada saluran distribusi ini, perusahaan menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya ketoko-toko kecil/pengecer.
2.1.2 Supply chain management (SCM)
Supply chain management merupakan sistem/metode pengelolaan dari perusahaan atau pabrik sampai kepada konsumen akhir. Menurut Pujawan (2005:5) terdapat tiga macam aliran yang harus dikelola:
1. Aliran barang yang mengalir dari hulu (Upstream) ke hilir (downstream). Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai diproduksi, kemudian dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau ritel, kemudian ke pemakai akhir.
2. Aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu.
3. Aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya. Informasi tentang persediaan produk yang masih ada di masing-masing supermarket sering dibutuhkan oleh distributor maupun pabrik. Informasi tentang ketersediaan kapasitas produksi yang dimiliki oleh supplier juga
sering dibutuhkan oleh pabrik. Informasi tentang status pengiriman bahan baku sering dibutuhkan oleh perusahaan yang mengirim ataupun yang akan menerima.
2.1.3 Tantangan dalam mengelola supply chain management
Mengelola suatu supply chain bukanlah hal yang mudah. Menurut Pujawan (2005:100) supply chain melibatkan sangat banyak pihak di dalam maupun diluar sebuah perusahaan serta menangani cakupan kegiatan yang sangat luas. Ditambah lagi dengan berbagai ketidakpastian yang ada disepanjang supply chain serta semakin tingginya persaingan di pasar, supply chain management membutuhkan pendekatan dan model pengelolaan yang tangguh untuk bisa tetap bisa bertahan dalam dunia bisnis. Berikut akan dijelaskan beberapa tantangan dalam mengelola supply chain:
1. Kompleksitas struktur supply chain. Suatu supply chain biasanya sangat kompleks, melibatkan banyak pihak didalam maupun diluar perusahaan. Pihak-pihak tersebut sering kali memiliki kepentingan yang berbeda-beda, bahkan tidak jarang bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Di dalam perusahaan sendiripun perbedaan kepentingan ini sering muncul. Sebagai contoh, bagian pemasaran ingin memuaskan pelanggan sehingga sering membuat kesepakatan dengan pelanggan tanpa mengecek secara baik-baik kemampuan bagian produksi. Perubahan jadwal produksi secara tiba-tiba sering harus terjadi karena bagian pemasaran menyepakati perubahan order (pesanan) dari pelanggan. Di sisi lain, bagian produksi biasanya cukup resistant terhadap perubahan-perubahan mendadak seperti itu karena akan berakibat pada rendahnya utilitas mesin dan seringnya pengadaan bahan baku
harus dimajukan atau diubah. Ini membuat kinerja bagian produksi kelihatan kurang bagus. Konflik antar bagian ini merupakan suatu tantangan besar dalam mengelola suplly chain.
2. Ketidakpastian. Ketidakpastian merupakan sumber utama kesulitan pengelolaan suatu supply chain. Ketidakpastian menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana yang telah dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering menciptakan pengaman disepanjang supply chain. Pengaman ini bisa berupa persediaan yang berlebih (safety stock), waktu (safety time),ataupun kapasitas produksi dan transportasi. Di sisi lain ketidakpastian sering menyebabkan janji tidak bisa terpenuhi. Dengan kata lain, customer service level akan lebih rendah pada situasi dimana ketidakpastian cukup tinggi. Berdasarkan sumbernya, ada tiga klasifikasi utama ketidakpastian pada supply chain, yaitu:
a. Ketidakpastian permintaan, seperti adanya kesalahan administrasi persediaan, adanya syarat jumlah pengiriman minimum dari pabrik, dan keharusan untuk mengakomodasikan ketidakpastian pelanggan.
b. Ketidakpastian dari arah supplier, seperti leadtime pengiriman, harga bahan baku atau komponen, kualitas, serta kuantitas material yang dikirim.
c. Ketidakpastian internal, seperti kerusakan mesin, mesin yang tidak sempurna, ketidakpastian tenaga kerja, serta ketidakpastian waktu dan kualitas produksi. 2.3Peramalan
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun
jasa. Menurut Nasution (2008:29-33) perlu dilakukan peramalan pada beberapa bidang penting, antara lain peramalan tentang teknologi, peramalan tentang kondisi ekonomi dan peramalan permintaan. Namun untuk saat ini penulis hanya terfokus para peramalan permintaan, sebagai berikut:
2.3.1 Peramalan permintaan
Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk-produk yang diharapkan akan terealisir untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang. Peramalan permintaan ini digunakan untuk meramalkan permintaan dari produk yang bersifat bebas (tidak tergantung), seperti peramalan produk jadi. 2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
Permintaan akan suatu produk pada suatu perusahaan merupakan resultan dari berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam pasar. Faktor-faktor ini hampir selalu merupakan kekuatan yang berada diluar kendali perusahaan. Berbagai faktor tersebut antara lain:
1. Siklus bisnis. Penjualan produk akan dipengaruhi oleh permintaan akan produk tersebut, dan permintaan akan suatu produk akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang membentuk siklus bisnis dengan fase-fase inflasi, resesi, depresi dan masa pemulihan.
2. Siklus hidup produk. Siklus hidup suatu produk biasanya mengikuti suatu pola yang biasa disebut kurva S. Kurva S menggambarkan besarnya permintaan terhadap waktu, dimana siklus hidup suatu produk akan dibagi menjadi fase pengenalan, fase pertumbuhan, fase kematangan dan akhirnya fase penurunan. Untuk menjaga kelangsungan usaha, maka perlu dilakukan inovasi produk pada saat yang tepat.
3. Faktor-faktor lain. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi permintaan adalah reaksi balik dari pesaing, perilaku konsumen yang berubah, dan usaha-usaha yang dilakukan sendiri oleh perusaha-usahaan seperti peningkatan kualitas, pelayanan, anggaran periklanan, dan kebijaksanaan pembayaran secara kredit. 2.3.3 Karakteristik peramalan yang baik
Peramalan yang baik mempunyai beberapa kriteria yang penting, antara lain sebagai berikut:
1. Akurasi. Akurasi suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasaan dan konsistensian peramalan tersebut.Hasil peramalan dikatakan bias bila peramalan tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan peramalan relatif kecil. Peramalan yang terlalu rendah akan mengakibatkan kekurangan persediaan, sehingga permintaan konsumen tidak dapat dipenuhi dengan segera, akibatnya adalah perusahaan dimungkinkan kehilangan pelanggan dan kehilangan keuntungan penjualan. Peramalan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya penumpukan persediaan, sehingga banyak modal yang terserap sia-sia.
2. Biaya. Biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu peramalan adalah tergantung dari jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan, dan metode peramalan yang dipakai. Ketiga faktor pemicu biaya tersebut akan mempengaruhi berapa banyak data yang dibutuhkan, bagaimana pengolahan datanya (manual atau komputerisasi), bagaimana penyimpanan datanya dan siapa tenaga ahli yang diperbantukan.
3. Kemudahan. Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat dan mudah diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Adalah percuma memakai metode yang canggih, tetapi tidak dapat diaplikasikan pada sistem perusahaan karena keterbatasan dana, sumberdaya manusia, maupun peralatan teknologi. (Nasution, 2008: 32-33).