• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Kontekstualisasi Pembelajaran 1.Pengertian Model Pembelajaran

MODEL KONTEKSTUALISASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Model Kontekstualisasi Pembelajaran 1.Pengertian Model Pembelajaran

MODEL KONTEKSTUALISASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Model Kontekstualisasi Pembelajaran 1. Pengertian Model Pembelajaran

Istilah ‘Model Kontekstualisai Pembelajaran’ jika diurai terdiri kata ‘model’, ‘kontekstualisasi’ dan ‘Pembelajaran’ dan untuk memahami studi ini diperlukan uraian satu per satu dari ketiga istilah tersebut, sehingga didapatkan suatu pemahaman yang utuh dari istilah model kontekstualisasi pembelajaran ini.

Hal ini diperlukan, karena dalam penggunaannya secara etimologis, terdapat banyak term yang saling dipertukarkan atau dalam penyebutannya memiliki makna dan maksud yang sama (interchangable) dengan istilah ‘model’ sebagaimana penulis maksud dalam bab ini.

Term-term tersebut antara lain pola, desain, tipe, gaya, strategi,

pendekatan (approach) dan mungkin masih banyak yang lainnya.

Model dalam konteks penelitian ini menurut hemat penulis tak memiliki spesifikasi karakter yang berbeda dengan istilah-istilah diatas, yakni dipahami sebagai

something of type, pattern , model dan sebagainya. Namun

secara implementatif, istilah model kontekstualisasi pembelajaran dalam studi ini memiliki arah yang sedikit berbeda dengan penggunaan pada umumnya terhadap istilah-istilah gaya pembelajaran, strategi pembelajaran dan sebagainya.

Menurut kamus bahasa Indonesia, model atau pola dipahami sebagai cara kerja, sistem kerja, atau bentuk (struktur yang tetap).1 model juga bisa dipahami sebagai bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”. Dengan demikian yang dimaksud model disini adalah bentuk-bentuk dan pola cara, system kerja tertentu dari proses bbelajar dan pembelajaran yang dilakukan seseorang atau masyarakat belajar.

Sementara, istilah belajar sendiri sampai saat ini telah banyak definisi yang telah ada. Secara umum, belajar yang dipandang sebagai proses dasar perkembangan hidup manusia, dimana semua aktivitas yang dicapai manusia pada dasarnya tidak lain adalah hasil belajar. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dengan berbagai upaya macam bentuk kegiatan atau perbuatan dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan sebagai bekal untuk hidupnya.

Lester D. Crow and Alice Crow, memberikan pengertian tentang belajar adalah learning is a modification of behavior accompanying growth processes that are brought about through adjustment to tensions initiated through

sensory stimulation.2 Bahwa belajar adalah perubahan

tingkah laku yang mengikuti suatu proses pertumbuhan sebagai hasil penyesuaian diri secara terus menerus yang berasal dari pengaruh luar.

1 Anton M. Moeliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia¸ (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), cet. Ke-4, hlm. 692.

2 Lester D. Crow and Alice Crow, Human Development and Learning, (New York: American Book Company, 1956), hlm. 215.

Menurut W.S. Winkel, belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap”.3 Sedangkan menurut Syekh Abdul Aziz dan Abdul Majid:

اﺪﻳﺪﺟ اﺮﻴﻴﻐﺗ ﺎﻬﻴﻓ ثﺪﺤﻴﻓ ﺔﻘﺑﺎﺳ ةﺮﺒﺧ ﻰﻠﻋ أﺮﻄﻳ ﻢﻠﻌﺘﻤﻟا ﻦﻫد ﻰﻓ ﺮﻴﻴﻐﺗ ﻮﻫ ﻢﻠﻌﺘﻟا نأ

.

4

Artinya: “Sesungguhnya belajar adalah suatu perubahan pada akal siswa yang terjadi karena pengalaman terdahulu, maka terjadi dalam pengalaman itu perubahan yang baru”.

Kemudian menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.5 Dari beberapa pengertian belajar tersebut, maka dapat ditarik benang merah sebagai berikut: Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan dan perubahan itu dinyatakan dalam bentuk tingkah laku ataupun pengalaman.

Untuk itu, Pembelajaran sebagai aktivitas belajar membutuhkan suatu bentuk pengorganisasian yang baik. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu menyerap dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru

3 W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grasindo, 1996), Cet. IV, hlm. 53.

4 Abdul Aziz dan Abdul Majid, al-Tarbiyah wa al-Thuruq al-Tadris, Juz 2, (Makkah: Dar al-Ma’arif, t.th.), hlm. 167.

5 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 2.

dengan mudah. Salah dalam model pembelajaran akan mengakibatkan sulitnya materi pelajaran masuk sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

Guru sangat membutuhkan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dan hasil belajar siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Namun tidak semua materi pelajaran dapat disajikan dengan model pembelajaran yang sama. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dan menunjangkeberhasilan belajar siswa.

Dengan penjelasan diatas, Secara terminologi jika kedua term diatas digabung menjadi ‘model pembelajaran’, maka dapat penulis definisikan sebagai adalah suatu cara, sistem atau bentuk struktur yang tetap dalam memperoleh hasil belajar yang biasanya berupa pengetahuan, kepandaian atau ilmu pengetahuan dan bentuk-bentuk perubahan tingkah laku lainnya.

Secara spesifik Model pembelajaran juga bisa dipahami sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematika mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.6 Dapat pula dikatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

6 M o h a m m a d N u r d a n P r i m a R e t n o W i k a n d a r i , Pendekatan-pendekatan Kontruktivis dalam Pembelajaran, (Surabaya : University Press, 1999), 12

Meski demikian, guna sedikit memperjelas beberapa istilah pembelajaran yang memiliki kemiripan makna dengan istilah model pembelajaran seperti penulis sebut dimuka, yakni seperti pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran; teknik pembelajaran; taktik pembelajaran; dan desain pembelajaran; setidaknya perlu disimak penjelasan beberapa istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student

centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang

berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered

approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan sebagaimana dikutip mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

1.Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

2.Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

4.Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.7

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah: 1) Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik; 2) Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif; 3) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran; dan 4) Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat

7 Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003.

konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran8.

Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1)

exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning9. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian,

8 Baca : Wina Senjaya. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008

“teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara “taktik pembelajaran” merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu.

Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran”. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran”. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola

umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Melengkapi penjelasan tentang desain pembelajaran yang juga sering dimaksudkan untuk menyebut istilah model pembelajaran, Dadang Supriatna, M.Ed menerangkan bahwa Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses.

Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan embelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai

tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem

pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.

Dalam konteks ini, menurut hemat penulis, desain pembelajaran dimaksud lebih pada konteks desain pembelajaran sebagai proses. Senada dengan maksud tersebut, Syaiful Sagala menjelaskan (2005:136) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.10

Dengan sedikit istilah yang berbeda, namun dengan maksud yang sama, Abdul Wahid yang biasa menyebutnya dengan istilah pola belajar mendefiniskan model pembelajaran adalah suatu cara atau bentuk pengorganisasian berbagai aktivitas dalam upaya memperoleh kepandaian atau ilmu yang diindikasikan dengan terjadinya perubahan tingkah laku atau tanggapan terhadap suatu permasalahan melalui pengalaman atau latihan.11

10 Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung, Alfabet, 2005

11 Abdul Wahid, Studi Komparasi Pola Belajar antara Mahasiswa yang Berindek Prestasi Tinggi dengan yang Berindek Prestasi Rendah Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Jurnal Penelitian Walisongo; Vol XI, No. 2, Nopember, (Semarang: Perpustakaan IAIN Walisongo, 2003), hlm. 164.

Sementara menurut Bobi De Porter dan Mike Hernacki yang biasa menggunakan istilah ‘cara’ menerangkan bahwa cara belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana dia menyerap dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi.12 model belajar di sini dimaksudkan sebagai suatu cara atau bentuk pengorganisasian berbagai aktivitas dalam belajar mulai dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau kepandaian dengan diindikasikan terjadinya perubahan tingkah laku baik melalui pengalaman ataupun latihan dan aktivitas-aktivitas belajar lainnya.

Dengan berbagai penjelasan diatas, maka model pembelajaran yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematika mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar atau upaya-upaya pengembangan pembelajaran secara sistematik yang meliputi pendekatan, strategi, teknik, gaya, desain yang menjadi satu kesatuan sistem yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran.

Seluruh kerangka konseptual tersebut digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan

12 Bobbi de Porter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, (Bandung: Kaifa, 2003), cet. XVIII, hlm. 110.

strategi pembelajaran. An instructional strategy is a method for delivering instruction that is intended to help students achieve alearning objective (Burden & Byrd, 1999:85)

Model pembelajaran merupakan deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan keseluruhan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, program, dan bantuan belajar karena hakikat mengajar membantu pebelajar (peserta didik) memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan belajar bagaimana cara belajar.

model pembelajaran juga bisa dimaknai sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-peserta didik di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan perbuatan/kegiatan guru-peserta didik yang dikenal dengan istilah sintaks. Secara implisit di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat karakteristik lainnya dari sebuah model dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan model pembelajaran yang lainnya.

Dengan maksud tersebut, istilah kontekstualisasi yang berada diantara kata’ model’ dan ‘pembelajaran’ bermakna sebagai upaya-upaya dan usaha dalam

melakukan pengembangan-pengembangan yang sistematis dan terorganisir dari berbagai aktivitas pembelajaran diatas.

2. Karakteristik dan Unsur Model Pembelajaran

Sebuah Model pembelajaran sebagai rekayasa tertentu dalam mengorganisir pengalaman belajar, setidaknya memiliki ciri-ciri atau karakter khusus, antara lain:

a. Rasional-teoritik . Bahwa suatu model pembelajaran yang direncakan atau dipolakan memepertimbangkan aspek rasional dan logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, dalam hal ini manajemen pendidikan atau lembaga.

b.Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.

c.Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.

b.d.Lingkungan belajar yang duperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.13

Demikian juga, Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil (1980), yaitu :

1. Syntax, yaitu langkah-langkah operasional

pembelajaran,

2. Social system, adalah suasana dan norma yang berlaku

dalam pembelajaran,

3. Principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,

4. Support system, segala sarana, bahan, alat, atau

lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan

5. Instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang

diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects).

Selain itu, dalam desain pembelajaran setidaknya harus memenuhi komponen utama, yakni 1) P embe laj a r (pih ak y ang me njad i f o kus) ya ng p erl u di ket a hui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat; 2) T u j u a n P e m b e l a j a r a n ( u m u m d a n k h u s u s ) A d a l a h p e n j a b a r a n kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar; 3) Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari; 4) Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar; 5) Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar; dan 5) P e n i l a i a n B e l a j a r , t e n t a n g p e n g u k u r a n k e m a m p u a n a t a u kompetensi ang sudah dikuasai atau belum.

B. Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Sekolah Dasar