• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PEMBINAAN DALAM KATEKESE UMAT MODEL

B. Pengertian Umum Katekese

7. Model-model Katekese Umat

Katekese sebagai salah satu tugas pastoral Gereja dalam bidang pewartaan,

maka katekese harus membantu setiap umat beriman supaya semakin terbuka akan

sabda Allah, mendengar, mengerti, memahami, dan menghayati sabda itu dalam

hati. Karena itu maka, katekese harus dikembangkan dan diperbaharui supaya

katekese sungguh dapat menjawab kebutuhan umat dalam mengembangkan

imannya. Umur dan perkembangan nalar orang kristen dan taraf kematangan rohani

sebagai anggota Gereja, dan banyak kondisi lainnya meminta, agar katekese

menggenakan metode-metode yang bermacam-macam untuk mencapai tujuannya

yang khas yaitu pembinaan iman (CT, art. 51).

Dalam buku panduan APP dan Adven yang diterbitkan dalam tingkat

keuskupan di Indonesia terdapat bermacam-macam contoh model pendalam iman

yang ditawarkan. Meskipun masih bersifat liturgis, namun hingga tahun 1990-an

pendalaman iman tidak lagi manekankan sifat liturgisnya, tetapi lebih-lebih bersifat

kateketis. Dalam buku panduan tersebut langkah pendalaman iman umumnya

mengandung tiga unsur dasar, yakni pengalaman hidup konkrit, teks Kitab Suci

atau Tradisi, dan penerapan konkrit pada hidup peserta katekese. Pendalaman iman

umumnya terdapat tiga model, yakni model pengalaman hidup, model biblis, dan

model campuran biblis dan pengalaman hidup. Model pengalaman hidup bertolak

dari pengalaman hidup sehari-hari, model biblis menekankan pengalaman Kitab

Suci atau Tradisi, sedangkan model campuran biblis dan pengalaman hidup

menekankan pada hubungan antara Kitab Suci atau Tradisi dengan pengalaman

hidup konkrit (Sumarno Ds, 2009: 11).

a. Model pengalaman hidup

Katekese umat model pengalaman hidup bertitik tolak pada pengalaman hidup

konkrit sehari-hari. Model ini terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut

(Sumarno Ds, 2009: 11-12):

1) Introduksi

Introduksi atau pengantar merupakan proses pembukaan untuk memaparkan apa

yang akan dilakukan atau sebagai tahap pengenalan terhadap hal yang akan

dibicarakan. Dengan memberikan pengantar singkat diharapkan peserta sudah

mulai dikondisikan untuk dapat mengikuti pendalaman iman yang akan

berlangsung. Introduksi atau pengantar dalam katekese umat berisikan lagu dan doa

pembukaan sesuai dengan tema yang digunakan dalam katekese. Apabila

pertemuaan katekese dilaksanakan secara berkelanjutan, maka pendamping perlu

menghubungkan dengan tema-tema yang telah dibahas dalam kesempatan katekese

sebelumnya (Sumarno Ds, 2009: 11).

2) Penyajian suatu pengalaman hidup

Pendamping mengajak peserta mengungkapkan pengalaman hidup berupa

pengalaman konkrit yang sungguh-sungguh dialami oleh umat. Pengalaman yang

diceritakan atau disharingkan oleh peserta bukan pengalaman orang lain, tetapi

pengalaman yang sunggu-sungguh dialami. Pendamping dapat mempersiapkan

suatu peristiwa konkrit yang diambil dari surat kabar, cerita bergambar, cerita

pendek, teks nyanyian ataupun cuplikan film yang sesuai dengan tema dan situasi

permasalahan dan keprihatinan hidup peserta. Pada tahap ini katekis berperan

untuk menciptakan suasana yang terbuka dan rasa percaya supaya peserta dapat

mengungkapkan pengalaman hidupnya tanpa ketakutan. Pendamping memberikan

panduan pertanyaan untuk membantu peserta agar berani berbicara saat pertemuan

berlangsung supaya semua mendapatkan bagian atau giliran untuk mensharingkan

pengalamannya. Pada tahap ini peserta diajak untuk terlibat aktif (Sumarno Ds,

2009: 11).

3) Pendalaman pengalaman hidup

Peserta diajak untuk mengaktualisasikan pengalaman dalam situasi hidup

nyata. Pendamping membagi peserta dalam kelompok kecil yang teridri dari 4-5

anggota supaya semua mendapat giliran untuk mensharingkan pengalaman

imannya. Pendamping mengajak peserta untuk mengolah pengalaman hidup yang

aktual supaya dapat menjadi refleksi atas pengalaman hidup yang telah dilalui,

dengan demikian peserta dapat menemukan makna hidup yang lebih baik dari

pengalaman suka dan duka yang telah dilalui (Sumarno Ds, 2009: 11).

4) Rangkuman pendalaman pengalaman hidup

Pendamping mengajak peserta untuk menentukan sikap hidup yang sesuai

dengan iman dan Tradisi kristiani. Tahap ini bertujuan untuk membentuk sikap

hidup ketika seseorang menghadapi suatu permasalahan. Peran pendamping pada

tahap ini mengajak peserta untuk dapat menentukan dan menemukan serta

memiliki sikap hidup yang sesuai dengan iman dan Tradisi kristiani (Sumarno Ds,

5) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja

Diharapkan setiap peserta mempunyai teks beserta panduan pertanyaan

pendalaman disekitar tema dalam hal yang mengesankan dan pesan inti dari teks

tersebut. Teks dibaca oleh seorang peserta, kemudian diberi kesempatan hening

sejenak untuk merefleksikan teks tersebut dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan

pendalaman. Pada tahap ini diharapkan peserta sungguh menggunakan inderanya

untuk mendengar dan melihat. Pendamping berperan menciptakan suasana

sedemikian rupa agar penyampaian Tradisi kristiani dapat ditangkap peserta

dengan baik. Pada tahap ini sangat dibutuhkan peran peserta untuk mendengar teks

yang dibaca dengan cermat dan melihat ayat demi ayat serta ikut membacanya

(Sumarno Ds, 2009: 11).

6) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi

Para peserta mencoba bersama menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah

direnungkan secara pribadi setelah membaca teks. Akan lebih baik apabila teks

dibaca sekali lagi oleh pendamping secara perlahan-lahan. Di sini pendamping

katekese membantu peserta untuk mencari dan mengungkapkan pesan inti menurut

bahasa peserta sendiri sehubungan dengan tema dan menciptakan suasana terbuka

sehingga peserta tidak takut untuk mengungkapkan tafsiran mereka sehubungan

dengan tema yang dapat dipetik dan digali dari bacaan teks Kitab Suci. Tafsiran

yang telah dipersiapkan pendamping bukan harga mati, maka pendamping perlu

mendengar dan menerima tafsiran dari peserta. Pada langkah ini ada interpretasi

hendak dicapai pada tahap ini adalah supaya nilai-nilai kristiani meresap dalam

kehidupan umat (Sumarno Ds, 2009: 12).

7) Rangkuman pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi

Pendamping mencoba menghubungkan pesan inti yang diungkapkan peserta

dengan pesan inti yang telah disiapkan berdasarkan sumber yang telah diolahnya

sehubungan dengan tema. Pendamping memberi masukan dari apa yang sudah

dipersiapkan dengan bantuan buku-buku tafsir atau buku-buku yang bersangkutan

dengan teks. Tafsir dari pendamping diharapkan membatasi pada pesan pokok yang

dapat dimengerti oleh peserta sehubungan dengan tema dan tujuan pertemuan. Pada

tahap ini pendamping sangat dianjur untuk menggunakan buku-buku penunjang

dalam member rangkuman supaya peserta semakin diperkaya pengetahuan akan

iman kristiani (Sumarno Ds, 2009: 12).

8) Penerapan dalam hidup konkrit

Para peserta diajak untuk mengambil beberapa kesimpulan praktis sekitar

tema untuk hidup sehari-hari dalam situasi nyata mereka dalam masyarakat,

lingkungan, Gereja, wilayah, paroki dan keluarga. Saat hening peserta diajak untuk

merenungkan dan mengumpulkan niat-niat atau tindakkan apa yang akan diambil

untuk selanjutnya. Pada tahap ini pendamping mengajak peserta untuk bertindak

9) Penutup

Pendamping mengajak peserta untuk mengungkapkan doa-doa spontan hasil

buah katekese dan bisa pula doa umat lainnya secara bebas. Bila perlu pendamping

mengakhiri katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan tema dan

tujuan katekese. Kemudian diakhiri dengan satu doa bersama atau nyanyian

penutup sesuai dengan tema (Sumarno Ds, 2009: 12).

b. Model biblis

Katekese umat dengan model biblis bertitik tolak dari pengalaman Kitab Suci

atau Tradisi. Katekese umat bertitik tolak dari pengalaman Kitab Suci dan tradisi,

dua hal tersebut menerangi situasi hidup peserta. Model ini terdiri dari

langkah-langkah sebagai berikut (Sumarno Ds, 2009: 12-13).

1) Doa pembukaan atau nyanyian pembukaan

Pada tahap ini pendamping memaparkan apa yang akan dilakukan atau

sebagai langkah pengenalan terhadap hal yang akan dibicarakan. Dengan demikian

diharapkan proses pendalaman iman dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Pendamping sebaiknya membuat doa atau nyanyian pembukaan sesuai dengan

tema Kitab Suci yang ditentukan untuk pertemuan katekese pada saat ini serta

menghubungkan tema katekese ini dengan tema-tema katekese sebelumnya.

Kekhasan dari langkah ini adalah memaparkan apa yang akan dilakukan atau

pengenalan terhadaphal yang akan dibicarakan. Langkah ini bertujuan untuk

membuka proses pendalaman iman agar berjalan dengan baik dan lancar (Sumarno

2) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi

Peserta membacakan kutipan yang dipilih langsung dari Kitab Suci.

Pembacaan Kitab Suci dibaca oleh salah satu peserta. Sebaiknya teks tersebut

diperbanyak untuk para peserta. Pembacaan teks Kitab Suci diikuti saat hening

untuk merefleksikan pertanyaan-pertanyaan pendalaman, misalnya; kata atau

kalimat mana yang penting (kunci) menurut peserta? Apa pesan inti dari teks

tersebut ? Apakah arti pesan tersebut bagi hidup konkret peserta?. Pengungkapan

hasil permenungan sebagai bentuk dari pengolahan terhadap teks Kitab Suci atau

Tradisi. Permenungan dapat diperkaya melalui bahan-bahan dari buku-buku

pendukung yang telah dipersiapkan oleh pendamping, namun rangkuman jawaban

dari peserta tetap diterima. Pada tahap ini terjadi penyampaian teks Kitab Suci dan

Tradisi kristiani, sehingga tujuan yang hendak dicapai adalah Kitab Suci menjadi

pusat atau sentral yang sungguh dipahami oleh peserta (Sumarno Ds, 2009: 12).

3) Pendalaman Teks Kitab Suci atau Tradisi

Peserta mengungkapkan hasil permenungan sebagai bentuk dari pengolahan

terhadap teks Kitab Suci dan Tradisi kristiani, sehingga tujuan yang hendak dicapai

pada tahap ini adalah menampilkan atau menyampaikan pada peserta pesan ari teks

Kitab Suci atau tradisi. Pendamping membuat rangkuman dari jawaban peserta,

terutama pesan inti teks Kitab Suci sehubungan dengan tema. Pendamping

mencoba menghubungkan rangkuman jawaban peserta dengan hasil persiapan

pribadi, yang diolah berdasarkan renungan maupun pembacaan lebih mendalam

dari sumber-sumber lain, terutama berhubungan dengan tema, sehingga peserta

4) Pendalaman pengalaman hidup

Langkah ini memungkinkan peserta menghubungkan pesan teks Kitab Suci

dengan pengalaman hidupnya sesuai dengan tema seperti yang terdapat dalam

budaya setempat, dalam hidup bermasyarakat, menggereja, berkeluarga, bekerja

dan belajar. Yang diharapkan dalam langkah ini adalah aktualisasi nilai dan Tradisi

Kristiani terhadap hidup umat beriman (Sumarno Ds, 2009: 13).

5) Penerapan dalam hidup peserta

Pendamping mengajak peserta untuk merefleksikan dan mengambil

kesimpulan apa yang sebaiknya dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata dalam

situasi dan kondisi setempat. Semangat dan kekuatan mana yang dapat diambil dari

pesan teks Kitab Suci untuk dapat diwujudkan dalam praktek hidup sehari-hari

dalam menghadapi permasalahan dan keprihatinan, baik berupa kejadian hidup

pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan menggereja. Pendamping mengajak

peserta untuk menyusun rencana konkrit, yang bertujuan supaya apa yang telah

diperoleh dalam atau selama pendalaman iman berlangsung dapat diterapkan dalam

hidup sehari-hari (Sumarno Ds, 2009: 13).

6) Doa penutup

Pendamping mengajak peserta merenungkan dalam hati tentang

kesulitan-kesulitan yang ada apabila hendak mewujudkan pesan ini, cara mana yang bisa

ditempuh untuk mengatasi kesulitan tersebut, hal mana yang menunjang pesan teks

tersebut dalam hidup pribadi atau hidup bersama dalam masyarakat atau

menutup katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan proses

pertemuan (Sumarno Ds, 2009: 13).

c. Model campuran: biblis dan pengalaman hidup

Langkah-langkahnya merupakan perpaduan antara model biblis dan model

pengalaman hidup. Model ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut (Sumarno

Ds, 2009: 13-14):

1) Doa pembukaan

Introduksi atau pembuka mengungkapkan pokok-pokok tema pertemuan dan

menghubungkan dengan tema katekese-katekese sebelumnya, bila ada. Langkah

ini sebagai introduksi atau pengantar untuk memulai keseluruhan proses

pertemuan. Tujuannya adalah memulai pertemuan dan mengajak peserta

mempersiapkan hati serta pikiran untuk masuk dalam suasana pendalaman iman.

Lagu pembukaan hendaknya disesuaikan dengan tema dan tujuan yang diharapkan

dalam katekese tersebut (Sumarno Ds, 2009: 13).

2) Pembacaan teks Kitab Suci atau Tradisi

Peserta membaca secara langsung teks Kitab Suci atau buku dokumen yang

memuat Tradisi. Bila dirasa perlu, pendamping bisa mengulangi pembacaan

tersebut secara pelan-pelan. Peserta diberi kesempatan hening untuk merenungkan

bacaan tersebut. Pembacaan teks Kitab Suci menjadi hal penting pada langkah ini

mengetahui tentang teks yang dipilih dalam pendalaman iman tersebut (Sumarno

Ds, 2009: 13).

3) Penyajian pengalaman hidup

Pendamping mengajak peserta untuk mengungkapkan konkrit melalui sarana

media komunikasi yang telah dipersiapkan oleh pendamping, bila mungkin dengan

sarana audio-visual atau dengan sarana lain yang dapat membangkitkan semangat

peserta untuk menanggapinya. Tujuannya adalah untuk mengetahui keprihatinan

dan permasalahan yang dihadapi oleh umat setempat (Sumarno Ds, 2009: 13).

4) Pendalaman pengalaman hidup dan teks biblis atau Tradisi

Peserta diajak untuk merefleksikan pesan dan kesan dari pengalaman hidup

dan dikonfrontasikan dengan teks Kitab Suci atau Tradisi yang dibacakan. Peserta

diharapkan memperoleh pesan teks Kitab Suci bagi hidupnya dan bagi

permasalahan yang sedang dihadapinya, dengan tujuan supaya peserta memperoleh

inspirasi baru bagi hidupnya dari teks kitab Suci. Kesimpulan disampaikan oleh

pendamping dan bila mungkin langkah konkrit dipikirkan bersama (Sumarno Ds,

2009: 14).

5) Penerapan meditatif

Pendamping mengajak peserta menghubungkan pengalaman konkrit dengan

teks Kitab Suci. Pendamping membuat pertanyaan-pertanyaan reflektif yang

menghubungkan pengalaman konkrit dalam hidup dan situasi peserta, refleksi

Suci atau Tradisi. Peserta diajak untuk memetik pelajaran nyata dalam hidup

pribadi dalam keluarga, dalam hidup bermasyarakat dan menggereja (Sumarno Ds,

2009: 14). Peserta diharapkan dapat menerapkan nilai dan tradisi kristiani dalam

hidupnya.

6) Evaluasi singkat

Evaluasi berupa jalannya ketekese, isi, tema, dan langkah-langkah katekese

serta proses komunikasi iman yang berlangsung, bila memungkinkan. Harapannya

adalah pertemuan selanjutnya dapat menjadi lebih baik dan lebih relevan dengan

kebutuhan serta aspirasi peserta (Sumarno Ds, 2009: 14).

.

7) Doa penutup

Pendamping mengajak peserta untuk menciptakan suasana hening dan peserta

diberi kesempatan untuk mengungkapkan doa-doa spontan kemudian diakhiri doa

penutup oleh pendamping dengan merangkum seluruh proses pendalaman iman.

Pada bagian ini diharapkan peserta memperoleh peneguhan dan memperoleh tugas

perutusan baru. Nyanyian penutup bisa dipilih untuk mengakhiri katekese ini

dengan lagu yang sesuai dengan tema (Sumarno Ds, 2009: 14).

C.Shared Christian Praxis sebagai Alternatif Katekese Umat Model

Dokumen terkait