• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PEMBINAAN DALAM KATEKESE UMAT MODEL

C. Shared Christian Praxis sebagai Alternatif Katekese Umat

1. Pengertian Shared Christian Praxis

Shared Christian Praxis bermula dari kebutuhan para katekis untuk menemukan suatu pendekatan katekese yang handal dan efektif, artinya pendekatan

yang memiliki dasar teologis yang kuat. Shared Christian Praxis merupakan salah satu model katekese yang dapat digunakan oleh para umat kristiani karena model

ini bersifat dialogis-partisipatif supaya dapat mendorong peserta berdasarkan

komunikasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan “Tradisi” dan “visi

Kristiani”, sehingga baik pribadi ataupun bersama mampu mengambil suatu

keputusan demi semakin terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 1997:

1). Model Shared Christian Praxis berawal dari pengalaman hidup peserta yang kemudian direfleksikan secara kritis dan dikonfrontasikan dengan pengalaman

iman dan visi kristiani (Sumarno Ds, 2009: 15). Komponen pokok yang harus ada

dalam katekese model Shared Christian Praxis yaitu Shared, Christian dan Praxis

(Groome, 1997: 2-5). Shared yaitu komunikasi yang timbal balik menekankan pada dialog, kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas. Christian mengusahakan kekayaan iman kristiani supaya dapat menjadi pengalaman iman jemaat yang

menekankan Tradisi (Kitab Suci, sakramen dan nyanyian rohani) dan visi kristiani

a. Shared

Kata Shared berarti komunikasi yang timbal balik, sikap aktif dan kritis dari setiap peserta, terbuka untuk kehadiran sesama dan rahmat Tuhan dengan

menekankan aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan dan solidaritas. Dengan

demikian kata Shared atau sharing berarti berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan dan saling mendengarkan orang lain bukan sekedar omong-omong atau diskusi

biasa. Dialog lebih dekat dengan arti sarasehan yaitu mencari keselarasan hati budi

dan cinta kasih, maka dialog merupakan komunikasi iman antar peserta (Sumarno

Ds, 2009: 16).

Dua unsur penting yang harus diperhatikan dalam dialog yaitu membicarakan

dan mendengarkan. Dalam dialog diharapkan setiap peserta terbuka mendengarkan

dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati. Membicarakan berarti

menyampaikan apa yang menjadi kebenaran, pengalaman dan mengatakan apa

yang terjadi pada dirinya sebagaimana adanya. Membicarakan juga tidak berarti

memberi nasehat atau menjelaskan pengalaman yang umum. Mendengarkan berarti

mendengar dengan hati dan rasa tentang apa yang disampaikan atau

dikomunikasikan oleh orang lain (Sumarno Ds, 2009: 15-16).

Dengan mendengarkan orang lain maka peserta dapat menemukan diri sendiri

dan menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya (Sumarno Ds, 2009: 17). Dialog

juga ditandai dengan adanya kejujuran, keterbukaan, kepekaan dan saling

menghormati antara yang satu dan yang lainnya baik sesama peserta maupun

peserta dengan pendamping. Dialog juga memberi peneguhan, penegasan dan

hasrat untuk maju bersama sehingga dalam dialog tidak ada yang mementingkan

Dalam sharing ada syarat yang harus diperhatikan, yakni peserta diharapkan

secara terbuka untuk siap mendengarkan dengan hati dan berkomunikasi dengan

kebebasan hati. Peserta dihormati sebagai subyek yang unik, otonom, dan

bertanggung jawab dengan kesadaran kritis-reflektif. Dalam suasana dialog peserta

didorong membuat penegasan dan penilaian serta mengambil keputusan pada

keterlibatan baru. Peserta mengkonfrontasikan pengalaman pribadi dengan tradisi

dan visi hidup kristiani dan peserta meneguhkan pokok-pokok nilai kristiani yang

mendasar untuk menemukan nilai-nilai baru yang cocok dengan konteks hidup

yang diwujudkan (Groome, 1997: 4-5).

b. Christian

Istilah Christian dalam katekese model Shared Christian Praxis dapat diartikan kristiani dengan maksud mengusahakan harta kekayaan iman tradisi

kristiani dan visinya sepanjang sejarah dapat terjangkau dan relevan dengan

kehidupan umat. Tradisi (dengan huruf T besar) dalam Gereja berarti seluruh

pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang terungkap dan sudah dibakukan

dalam Gereja dalam rangka menanggapi pewahyuan Allah di dunia ini. Tradisi

Gereja meliputi seluruh corak kehidupan kristiani, Kitab Suci tertulis, tafsir,

penelitian para teolog, ibadat, simbol, ritus, hiasan atau lukisan yang menjadi

ekspresi iman umat akan pengalamannya berhadapan dengan Allah, sakramen,

kehadiran Allah dalam hidup, mati dan kebangkitan Kristus (Sumarno Ds, 2009:

17). Setiap manusia mempunyai pengalaman dan sejarah masing-masing, manusia

mempunyai tradisinya sendiri dalam menghayati dan menjalani hidupnya atas dasar

beriman mereka, maka tradisi (dengan huruf t kecil) menunjuk pada pengalaman

hidup manusia konkrit (Sumarno Ds, 2009: 17). Tradisi kristiani mengungkapkan

realita iman jemaat yang hidup dan sungguh dihidupi. Tradisi kristiani tidak hanya

berupa pengajaran Gereja tetapi meliputi Kitab Suci, spilitualitas, refleksi teologis,

sakramen, liturgi, kepemimpinan, kehidupan dalam jemaat, seni dan nyanyian

rohani. Tradisi Kristiani mengundang keterlibatan praksis dan pembentukan pribadi

(Groome, 1997: 3).

Visi (dengan huruf besar V) adalah suatu kenyataan hadirnya atau manifestasi

konkrit dari isi tradisi yang menjadi jawaban hidup orang beriman terhadap apa

yang ditawarkan dalam pengalaman iman kristiani. Jadi Visi merupakan

manifestasi konkrit dari jawaban manusia terhadap janji Allah yang diwujudkan

dalam sejarah atau Tradisi (Sumarno Ds, 2009: 17). Setiap manusia dalam

hidupnya selalu berusaha menanggapi janji Allah dalam hidupnya dan

merumuskannya dalam visi kristianinya atas dasar pengenalannya akan

pengalaman yang dihayati. Jadi Visi kristiani peserta merupakan kritik atas praksis

perbuatannya masa kini untuk terbuka pada masa depan (Sumarno Ds, 2009: 17).

Visi kristiani lebih menggarisbawahi tuntutan dan janji yang terkandung dalam

tradisi, tanggung jawab dan pengutusan orang kristiani sebagai jalan untuk

menghidupi semangat dan sikap kemuridan mereka. Baik tradisi maupun visi

kristiani keduanya menyingkapkan nilai-nilai kerajaan Allah yang benar-benar

dihidupi dan diusahakan (Groome, 1997: 3). Tradisi dan visi kristiani

menumbuhkan rasa “memiliki” dan kesatuan sebagai jemaat beriman, sekaligus

meneguhkan identitas peserta. Di dalam dialog iman, pengalaman hidup faktual

c. Praxis

Praxis mengacu pada tindakan manusia untuk mencapai perubahan hidup dengan menyatukan antara praktek dan teori (Sumarno Ds, 2009: 15). Praxis

mempunyai tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: aktivitas, refleksi, dan

kreativitas. Aktivitas atau masa lampau meliputi kegiatan mental dan fisik,

kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik bersama

yang semuanya merupakan medan untuk perwujudan diri manusia. Refleksi atau

masa sekarang menekankan refleksi kritis terhadap tindakan historis pribadi dan

sosial terhadap praxis pribadi dan kehidupan bersama masyarakat serta terhadap tradisi dan visi kristiani. Kreativitas atau masa depan memadukan antara aktivitas

dan refleksi yang menekankan sifat transenden manusia.

Refleksi kritis merupakan kegiatan manusia yang meliputi tiga unsur yaitu akal

budi dalam mengevaluasi masa sekarang, ingatan kritis dalam menyikap masa lalu

dalam masa sekarang dan imajinatif untuk menghadapi masa depan dalam masa

sekarang (Sumarno Ds, 2009: 15). Dalam taraf afektif, refleksi melibatkan

pengalamanku dalam pengalaman hidup pribadi dan bersama. Refleksi meliputi

hati dan kepala sehingga refleksi melibatkan ingatan dan imajinasi. Kata kritis

berasal dari bahasa Yunani yaitu kritein, yang berarti memisah-misahkan, mengandaikan kemampuan untuk membedakan yang baik, benar dan betul dalam

masa kini (Sumarno Ds, 2009: 16).

Dokumen terkait