BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
3. Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013
Mengingat tuntutan kompetensi yang harus dicapai oleh anak didik, perlu adanya perubahan dalam strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang seharusnya dikembangkan diharapkan dapat melayani dan memfasilitasi peserta didik untuk mampu berbuat dan melakukan susuatu.
Menurut Stevany (dalam Dewi Hikmah Marisda.2018) model pembelajaran merupakan salah satu unsur penting di dalam proses pembelajaran.
Dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat maka proses belajar mengajar akan lebih baik dan tidak membosankan. Menurut Tawil (dalam Dewi Hikmah Marisda.2018) juga sependapat dengan penyataan di atas, yang menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan petunjuk bagi guru dalam merencanakan pembelajaran di kelas, mulai dari mempersiapkan perangkat pembelajaran, media dan alat bantu, sampai alat evaluasi yang mengarah pada upaya pencapaian tujuan pembelajaran.
Banyak model pembelajaran telah dikembangkan oleh guru yang pada dasarnya untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menguasi suatu pengatahuan atau pelajaran tertentu. Pengembangan model sangat tergantung dari karakteristik mata pelajaran ataupun materi yang akan diberikan kepada peserta didik sehingga tidak ada model pembelajaran tertentu yang diyakini sebagai model pembelajaran paling baik. Semua tergantung sitauasi dan kondisinya.
Fungsi model pembelajaran adalah sebagi pedoman bagi pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa setiap
model yang akan digunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dipakai dalam pembelajaran tersebut.
a. Problem Basic Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)
Duch (dalam Shoimin.2017) menyatakan bahawa Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah (PBM) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagi konteks untuk para peserta didik belajar berpikir ktitis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.
b. Model Pembelajaran Discovery
Menurut Suhana (dalam Pangestika.2015) pembelajaran penemuan merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara matematis, kritis, dan logis, sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.
Kelebihan dari model ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri namun tidak semua siswa mampu melakukan sebuah penemuan. Model discovery bertujuan untuk membangun sikap, kreatif, dan inovasi serta membangun sikap percaya diri dan terbuka terhadap hasil temuannya dalam proses pembelajaran dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
c. Model Pembelajaran PjBL (Project Basic Learning)
Menurut Goodman (dalam Sujana dan Sopandi.2020) PjBL merupakan model pembelajaran yang dibangun di atas kegiatan belajar dan tugas nyata yang
telah membawa tantangan bagi peserta didik untuk dipecahkan. Kegiatan ini umumnya mencerminkan jenis pembelajaran dan pekerjaan yang dilakukan orang di dalam kehidupan sehari-hari. PjBL umunya dilakukan oleh kelompok peserta didik yang bekerja bersama menuju satu tujuan bersama. PjBL mengajarkan peserta didik buka hanya konten, tetapi juga keterampilan pentingdalam cara peserta didik harus dapat berfungsi sebgai orang dewasa di masyarakat kita.
Keterampilan ini termasuk keterampilan berkomunikasi dan mempresentasikan, berorganisasi, magemen waktu, melakukan penelitian, penilaian diri, refleksi, partisipasi kelompok, kepemimpinan, dan berpikir kritis.
Model pembelajaran PjBL merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai media belajar sekaligus strategi belajar peserta didik. Dalam hal ini, peran guru dalam merancang grand design sangatlah utama.
Mulai dari merencakanakan kegiatan, materi, sampai evaluasi atau penilaian. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Boss dan Kraus (dalam Abidin.2016) bahwa PJBL merupakan sebuah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas peserta didik dalam memecahkan berbagai permasalahan di sekolah, maupun dalam kehidupan yang bersifat open ended, serta dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka ke dalam mengerjakan sebuah proyek umtukmenghasilkan produk tertentu.
d. Model Pembelajaran Inkuiri
Indrawati (dalam Trianto.2010) menyatakan bahwa suatu pembelajaran pada umumnya akan lebih efektif apabila diselenggarakan oleh pembelajaran pemrosesan informasi. Hal ini dikarenakan model-model pemprosesan informasi menekan pada bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap
cara-cara mengolah informasi. Salah satu yang termasuk dalam model pemprosesan informasi adalah model inkuiri. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.
Inkuiri berasal dari kata inquiry yang merupakan kata dalam bahasa inggris yang berarti penyelidikan atau meminta keterangan. Inkuiri cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep (Anam, 2015: 7).
Menurut Gulo (dalam Putra.2013) strategi inkuiri berarti suatu kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Lebih lanjut, Wina (dalam Shoihimin.2017) menyatakan bahwa strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Menurut Hamalik (2011) bahwa pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada peserta didik di mana kelompok peserta didik inkuiri ke dalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural kelompok.
Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah 1) keterlibatan peserta didik secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, 2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran, dan 3) mengembangkan sikap percaya diri pada peserta didik tentang apa yang ditemukan pada proses inkuiri.
Ada tiga macam model pembelajaran discovery/inquiry, yaitu discovery/Inkuiri terbimbing, discovery/inquiry bebas dan discovery/inquiry yang termodifikasi.
4. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
a. Pengertian Model Pembelajaran Inkuri Terbimbing
Menurut beberapa tokoh seperti Bonnstetter; Marten-Hansen; dan Oliver-Hoyo, Inkuiri terbimbing adalah suatu model pembelajaran inkuiri yang pada pelaksanaannya peserta didik bekerja (bukan hanya duduk, mendengarkan lalu menulis) untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dikemukakan oleh guru di bawah bimbingan yang inisiatif dari guru. Tugas guru lebih seperti memancing peserta didik untuk melakukan sesuatu. Guru datang ke kelas dengan membawa masalah untuk dipecahkan oleh peserta didik, kemudian mereka dibimbing untuk menemukan cara terbaik dalam memecahkan masalah tersebut (Anam, 2015 :17).
Dalam model inkuiri terbimbing, guru dan peserta didik memainkan peran penting dalam mengajukan pertanyaan, mengembangkan jawaban dan penataan bahan dan kasus. Penggunaan model inkuiri sangat penting dalam transisi dari mengajar metode untuk metode pengajaran lain yang kurang dan lebih jelas terstruktur untuk solusi alternatif. Kegiatan inkuiri terbimbing membantu peserta didik untuk mengembangkan tanggung jawab masing-masing, metode kognitif, laporan pembuatan, pemecahan masalah dan memahami keterampilan
Pembelajaran inkuiri terbimbing membatasi peran guru sebagai sumber informasi (Yasmin, 2015:72). Guru tidak memberitahukan konsep-konsep tetapi membimbing peserta didik menemukan konsep-konsep tersebut melalui kegiatan
belajar, sehingga konsep yang didapat berdasarkan kegiatan dan pengalaman belajar tersebut akan selalu diingat peserta didik dalam waktu yang lama.
Kegiatan inkuiri terbimbing membantu peserta didik untuk mengembangkan tanggung jawab masing-masing, metode kognitif, laporan pembuatan, pemecahan masalah dan memahami keterampilan
b. Karakteristik Inkuiri Terbimbing
Orlich (dalam Anam.2015) menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Kemampuan berpikir peserta didik dikembangkan melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi;
2) Sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau objek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai;
3) Bagian tertentu dari pembelajaran dikontrol oleh guru misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas;
4) Setiap peserta didik berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas;
5) Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran;
6) Sejumlah generalisasi tertentu, biasanya akan diperoleh dari peserta didik;
7) Guru memotivasi semua siwa untuk mengomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh peserta didik dalam kelas.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing menekankan pada keterlibatan peserta didik secara maksimal dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik akan dapat mengembangkan rasa percaya dirinya atas temuannya dengan bantuan guru,
karena dalam hal ini guru berperan sebagai penanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran.
c. Langkah-Langkah Inkuiri Terbimbing
Langkah-langkah dalam melaksanakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dilaksanakan atas petunjuk dari guru. Kegiatannya dimulai dari pertanyaan inti, yaitu guru mengajukan berbagai pertanyaan yang melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik pada kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya peserta didik melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang dikemukakannya (Hanafiah & Suhana, 2009: 77).
Alberta Learning Centre (2004: 10), salah satu lembaga pembelajaran dan pengajaran di Canada, mengemukakan bahwa ada enam tahap dalam metode guided inquiry, yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. 1 Tahap-Tahap Inkuiri Terbimbing
Tahap Keterangan
Planning (perencanaan)
Guru memberikan topik masalah ke peserta didik.
Peserta didik menentukan prosedur untuk memecahkan masalah tersebut
Retrieving
(mendapatkan informasi)
Peserta didik mengumpulkan informasi tentang masalah dari sumber yang ada sesuai dengan arahan dan petunjuk dari guru.
Processing (memproses)
Peserta didik melakukan percobaan/eksperimen dan analisis data untuk membuktikan hipotesisnya.
Creating
(membuat laporan hasil)
Peserta didik melaporakan hasil eksperimen dan analisis data dalam bentuk laporan
Sharing
(membagikan informasi)
Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya pada orang lain.
Guru mengontrol dan mengawasi pelaksanaan diskusi, kemudian
Berdasarkan uraian diatas metode inqury terbimbing adalah suatu metode seorang guru untuk membimbing peserta didik dalam membangun pengetahuan dan pemahamannya melalui suatu penyelidikan yang dirancang secara hati-hati dan tetap dalam pengawasan. Tahapan metode guided inquiri adalah Planning , Retrieving, Processing , Creating, Sharing,dan Evaluating.
d. Kelebihan Inkuiri Terbimbing
Menurut Bruner (dalam Anam.2015) kelebihan model inkuiri yaitu peserta didik akan memamahi konsep-konsep dasar dan ide-ide dengan lebih baik, membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru, mendorong peserta didik untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. Sedangkan menurut Marsh (dalam Ngalimun.2015) keunggulan model pembelajaran inkuiri yaitu model inkuiri memberikan nilai transfer yang unggul jika dibandingkan dengan metode-metode lainnya. Keuntungan penting dari model inkuiri adalah berbagai kompetensi yang berbeda dan pengetahuan peserta didik berkembang ketika peserta didik terlibat dalam proses inkuiri
e. Kekurangan Inkuiri Terbimbing
Kekurangan inkuiri seperti diungkapkan oleh Kurniasih dan Sani (2015:115) adalah sebagai berikut.
memberikan penjelasan untuk bagian yang kurang tepat.
Evaluating (mengevaluasi) Guru dan peserta didik bersama-sama mengevaluasi proses yang telah dilaksanakan.
1) Sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar.
2) Memungkinkan untuk terjadi proses pembelajaran yang panjang sehingga akan terkendala dengan waktu.