BAB II KAJIAN TEORITIS
B. Model Pembelajaran Guided Inquiry
1. Pengertian Model Pembelajaran Guided Inquiry
Menurut Zulfiani, dkk “Guided Inquiry adalah tahap guided inquiry mengacu pada tindakan utama guru ialah mengajukan permasalahan, siswa menentukan proses dan penyelesaian masalah”.22
Menurut Rustaman, “guided inquiry atau inkuiri terbimbing adalah salah satu model pembelajaran dimana guru membimbing siswa
21
Ibid., h. 208-209. 22
15
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan
pada suatu diskusi”.23
Berdasarkan pengertian yang dikutip dari jurnal Alan Colburn,
“inquiryis the teacher provides only the material and problems to in vestigate. Students devise their own to solve the problem”.24 Guided inquiry atau inkuiri terbimbing merupakan salah satu model pembelajaran inquiry dimana guru memberikan suatu tema permasalahan dan memberitahukan bahan-bahan dan alat-alat yang dibutuhkan, tetapi tidak memberikan prosedur kerja dan siswalah yang meyelesaikan permasalahannya. Kegiatan guided inquiry masalah dikemukakan oleh oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan yang intensif dari guru. Dalam hal ini, pertanyaan yang diberikan oleh guru tersebut akan membimbing siswa untuk mencari dan terlibat sepenuhnya dalam proses pembelajaran.25
Dari uraian diatas, guided inquiry dapat diartikan sebagai salah satu model pembelajaran berbasis inquiry yang penyajian masalah, pertanyaan dan materi atau bahan penunjang ditentukan oleh guru. Masalah dan pertanyaan ini yang mendorong siswa melakukan penyelidikan untuk menentukan jawabannya.Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini adalah mengumpulkan data dari masalah yang ditentukan guru, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisis hasil, membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
23
Nuryani Y. Rustaman, et al, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: UNM, 2005), cet ke-1, h. 95
24
Alan Corburn, an Inquiry primer, 2000 (online),
http://www.experientiallearning.ucdavis.edu/module2/el2-60-primer.pdf 25
Ahmad Sharif Ahmad Hasan, 2012, “The Effects of Guided Inquiry Instruction on Students’ Achievement and Understanding of the Nature of Science in Environmental Biology Course” The British University in Dubai. h.3 Diakses 19/02/14 dari
2. Karakteristik Model Pembelajaran Guided Inquiry
Menurut Carol C. kuhlthau dan Ross J. Todd ada enam karakteristik model Guided Inquiry, yaitu:26
a. Siswa belajar aktif dan terefleksi pada pengalaman
Jhon Dewey menggambarkanpembelajaran sebagai proses aktif induvidu, bukan sesuatu dilakukan untuk seseorang tetapi lebih kepada sesuatu itu dilakukan oleh seseorang. Pembelajaran merupakan sebuah kombinasi dari tindakan refleksi yang berpengalaman. Dewey sangat menekankan pembelajaran hand on (berdasarkan pengalaman) sebagai penentang metode otoriter dan menganggap bahwa pengalam dan inquiry sangat penting dalam pembelajaran bermakna.
b. Siswa belajar berdasarkan apa yang mereka tahu
Pengalaman masa lalu dan pengertian sebelumnya merupakan bentuk dasar untuk membangun pengetahuan baru.
Ausubel prihatin dengan individu yang belajar materi verbal/tekstual dengan jumlah yang besar di sekolah. Menurut Ausubel faktor terpenting yang mempengaruhi pembelajaran adalah melalui apa yang mereka tahu.
c. Siswa mengembangkan rangkaian berfikir dalam proses pembelajaran melalui bimbingan.
Rangkaian berfikir kearah yang lebih tinggi memerlukan proses yang mendalam yang membawa kepada sebuah pemahaman. Proses yang mendalam memerlukan waktu dan motivasi yang dikembangkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang otentik mengenai objek yang telah digambarkan dari pengalaman dan keingintahuan siswa.
Proses yang mendalam juga memerlukan perkembangan kemampuan intelektual yang melebihi dari penemuan dan
26Carol C. Kuhtau dan Ross J. Todd, 2006, “Guided Inquiry: A Framework for Learning Throug School Libraries in 21st Century School”, diakses 20/01/13 dari http://cissl.scils.rutgers.edu/guided inquiry/char.htm
17
pengumpulan fakta. Menurut Bloom, kemampuan intelektual seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analitik sisntesis, dan evaluasi membantu merangsang untuk berinquiry yang membawa kepada pengetahuan dan pemahaman yang mendalam.
d. Perkembangan siswa terjadi secara bertahap
Siswa berkembang melalui tahap perkembangan, kognitif, kapasitas mereka untuk berpikir abstrak ditingkatkan oleh umur. Perkembangan ini merupakan proses komplek yang meliputi kegiatan berpikir, tindakan refleksi, menemukan dan menghubungkan ide, membuat hubungan, mengembangkan dan mengubah pengetahuan sebelumnya, kemampuan, serta sikap dan nilai.
e. Siswa mempunyai cara yang berbeda dalam pembelajaran
Siswa belajar melalui semua pengertiannya. Mereka menggunakan seluruh kemampuan fisik, mental dan sosial untuk membangun pemahaman yang mendalam mengenai dunia dan apa yang hidup di dalamnya.
f. Siswa belajar melalui interkasi sosial dengan orang lain.
Siswa hidup di lingkungan sosial dimana mereka terus menerus belajar melalui interaksi dengan orang lain di sekitar mereka. Orang tua, teman, saudara, guru, kenalan, dan orang asing merupakan bagian dari lingkungan sosial yang membentuk pembelajaran lingkungan pergaulan dimana mereka membangun pemahaman mengenai dunia dan membuat makna untuk mereka. Vigotsky berpendapat bahwa perkembangan proses hidup bergantung kepada interaksi sosial dan pembalajaran sosial berperan penting untuk pengembangan kognitif.
Berdasarkan karakteristik tersebut, guided inquirymerupakan sebuah pendekatan yang berfokus pada proses berpikir yang membangun pemahaman oleh keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Siswa belajar dengan membangun pemahaman
mereka sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan apa yang telah mereka tahu. Selain itu, siswa juga belajar melalui interaksi dengan orang lain yang berperan penting dalam perkembangan kognitifnya.
3. Tahapan Pembelajaran Guided Inquiry
Selain memiliki karakteristik, guided inquiry mempunyai beberapa tahapan. Menurut David M. Hanson dan Richard S. Moog, kegiatan guided iquiry terdiri dari lima tahapan, yaitu :27
a. Orientasi
Orientasi menyiapkan siswa untuk belajar. Orientasi memberikan motivasi untuk beraktivitas, menciptakan minat, membangkitkan keingintahuan, dan membuat hubungan dengan pengetahuan sebelumnya.
Pengenalan terhadap tujuan pembelajaran dan kriteria keberhasilan memfokuskan siswa untuk menghadapi persoalan penting dan menentukan tingkat penguasaan yang diharapkan.
b. Eksplorasi
Pada tahap eksplorasi, siswa mempunyai kesempatan untuk mengadakan observasi, mendesain, eksperimen, mengumpulkan, menguji, dan menganilisis data, menyelidiki hubungan serta mengemukakan pertanyaan dan menguji hipotesis.
c. Pembentukan Konsep
Sebagai hasil eksplorasi, konsep ditemukan, dikenalkan, dan dibentuk. Pemahaman konseptual dikembangkan oleh keterlibatan siswa dalam penemuan, bukan penyampaian informasi melalui naskah atau ceramah.
d. Aplikasi
Aplikasi melibatkan penggunaan pengetahuan baru dalam latihan, masalah, dan situasi penelitian lain. Latihan memberikan kesempatan bagi siswa untuk membentuk kepercayaan diri pada situasi yang sederhana dan konteks yang akrab. Pemahaman dan
27David M. Hanson & Richard S. Moog.”Process Oriented Guided Inquiry Learning
19
pembelajaran yang sebenarnya diperlihatkan pada permasalahan yang mengharuskan siswa untuk mentransfer pengetahuan baru kedalam konteks yang tidak akrab, memadukannya pada cara yang baru dan berbeda untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dunia.
e. Penutupan
Setiap kegiatan diakhiri dengan membuat validasi terhadap hasil yang merela dapatkan, refleksi terhadap apa yang telah mereka pelajari dan menilai penampilan mereka.
4. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Guided Inquiry
Kegiatan pembelajaran yang memuat tindak interaksi antara pembelajar dan pengajar berorientasi pada sasaran belajar, berakhir dengan evaluasi. Kegiatan evaluasi terdiri dari kegiatan evaluasi hasil belajar dan kegiatan evaluasi proses pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa kegiatan evaluasi merupakan bagian dari integral dari kegiatan pembelajaran/pendidikan.
Dalam pendidikan yang lebih tinggi, siswa belajar melalui penilaian yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, dimana siswa belajar memahami pendidikan dengan membangun pengetahuan dan menggunakan hasil penilaian tersebut untuk meningkatkan ilmu pendidikan. Karena pembelajaran itu sendiri dapat diartikansebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar dengan kehendaknya sendiri. 28
Evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu evaluation. Oemar Hamalik mengatakan bahwa,“evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpuulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem
28
Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), edisi I. Cet. I h. 85
pengajaran”.29 Sedangkan menurut Ralph Tyler, mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.30
Evaluasi berarti sebagai proses sistematik menetapkan nilai tentang sesuatu hal, seperti objek, unjuk kerja, kegiatan, hasil, tujuan dan hal lain berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian. Evaluasi belajar adalah proses penetuan pemerolehan hasil belajar berdasarkan kriteria tertentu.