• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. KAJIAN TEORI

4. Model Pembelajaran Inovatif

Model pembelajaran inovatif akan menjelaskan (a) Pengertian pendekatan kontekstual, (b) Karakteristik pendekatan kontestual, (c) Langkah pendekatan kontekstual, dan (d) Media.

a. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Nurhadi (2002:47) menyatakan bahwa, “Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Johnson (dalam Suryawati, Osman, dan Meerah, 2010) yaitu, “Contextual teaching and learning

condition of the student and encourage students to use their own knowledge in their daily life. This method will help students to be a more independent and

natural learners in their effort to develop their knowledge”.

Selain kedua pengertian tersebut, ada pula pengertian pendekatan kontekstual menurut Johnson (2007:15). CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pembelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Berdasarkan ketiga pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, mengembangkan pengetahuan yang dimiliki siswa dalam kehidupannya sendiri, serta menuntut siswa menemukan makna berdasarkan hal yang telah mereka pelajari. Jadi dalam pembelajaran kontekstual, guru membebaskan siswa untuk beraktivitas (terkait dengan mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri) secara alami dalam pembelajaran. Peran guru hanyalah memfasilitasi proses belajar siswa dan membiarkan siswa menemukan makna dari hal yang mereka pelajari.

Menurut Johnson (dalam Komalasari:2010) ada sembilan karakteristik pendekatan kontekstual, yaitu: 1) making meaningful connections (membuat hubungan penuh makna), artinya siswa dapat mengatur sendiri sebagai orang yang belajar aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat

bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing); 2) doing significant work (melakukan pekerjaan penting), artinya siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai anggota masyarakat; 3)

self-regulated learning (belajar mengatur sendiri), artinya siswa melakukan pekerjaan

yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produk/hasilnya yang sifatnya nyata; 4) collaborating (kerja sama), artinya siswa dapat bekerja sama, guru dapat membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok (membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi); 5) criticall and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif), artinya siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan bukti-bukti dan logika; 6) nurturing the individual (memelihara individu), artinya siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa; 7) reaching high

standards (mencapai standar tinggi); 8) using authentic asesment (penggunaan

penilaian sebenarnya), artinya siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”; 9)

using authentic asesment (mengadakan assessment autentik), artinya siswa

yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

b. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Karakteristik pembelajaran kontekstual di atas sesuai dengan tingkat perkembangan anak sekolah dasar yaitu operasional konkret. Menurut Piaget (dalam Komalasari, 2010:20) menyatakan bahwa, “Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret”.Jadi, penyusunan karakteristik yang dilakukan oleh ahli tersebut bertujuan agar siswa tidak hanya tahu mengenai hal yang dipelajari, akan tetapi siswa juga mampu menemukan kebermaknaan dari hal yang mereka pelajari. c. Langkah-langkah Pendekatan Kontekstual

Langkah pada pendekatan kontekstual memiliki 7 langkah yang akan dijabarkan sebagai berikut (Majid, 2014:181).

Kontruktivisme, pada langkah ini pemikiran anak dikembangkan dengan

belajar lebih bermakna, dengan bekerja sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Pada tahap ini anak mencari sendiri dengan menggali pengetahuan yang telah didapatkannya pada kegiatan pembelajaran, sehingga anak menjadi lebih mandiri.

Inkuiri, pada langkah ini melihat sejauh apa anak menangkap topik dengan

melakukan pengamatan sendiri, langkah ini dimaksudkan agar anak dapat melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi pada hasil

percobaan yang dilakukan selain itu anak juga dapat mengaitkan hasil percobaannya dengan materi yang telah ia dapatkan.

Bertanya, langkah ini membangun rasa ingin tau anak. Bertanya kegiatan ini

diharapkan agar anak banyak bertanya dengan maksud rasa ingin tau mereka yang tinggi sehingga mereka bertanya kepada guru mengenai materi yang telah disampaikan.

Masyarakat belajar, langkah ini dapat tercipta dalam pembelajaran

kontekstual. Mayarakat belajar yang berarti anak harus mampu membentuk kelompok belajar pada kegiatan pembelajaran, kelompok belajar ini dimaksudkan untuk mereka bekerjasama dalam melakukan suatu percobaan dan menyelesaikan masalah pada kegiatan pembelajaran.

Model sebagai contoh pembelajaran, adanya model pada langkah

pembelajaran dimaksudkan agar lebih mudah pemahaman siswa. Model juga mendukung siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, karena dengan adanya model siswa akan lebih tertarik dan rasa ingin tau mereka dalam kegiatan pembelajaran tinggi.

Refleksi, langkah ini dilakukan pada setiap akhir pembelajaran. Hal ini agar

pada kegiatan pembelajaran dilihat apa saja kesulitan anak selama mengikuti pembelajaran, bagaimana perasaan mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sehingga hasil refleksi ini dapat dijadikan oleh guru sebagai koreksi kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan, dan lebih membenahi pada pembelajaran berikutnya.

Penilaian sebenarnya, langkah ini dilakukan untuk melihat kemampuan yang

dimiliki oleh siswa. Pada langkah ini dimaksudkan agar melihat seberapa jauh tingkah pemahaman anak terhadap materi yang telah disampaikan, langkah penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara.

d. Media Pembelajaran

Media pembelajaran disini akan membahas (1) pengertian media, (2) fungsi

Dokumen terkait