BAB II KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
2. Model Pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus,
a. Pengertian Model Pembelajaran
Good dan Travers menjelaskan bahwa model adalah: “Abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks dari suatu sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainya”.31 Pengertian model lainnya yaitu suatu kerangka konseptual yang akan digunakan sebagai pedoman dan acuan untuk melakukan suatu kegiatan.32 Proses pembelajaran di kelas bukan hanya sebatas bagaimana cara guru dapat mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya ke dalam otak-otak siswa, akan tetapi tentang bagaimana cara guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang produktif sehingga dapat mengembangkan potensi atau keterampilan yang dimiliki siswa secara optimal.
Sebagaimana menurut Joyce dan Weil hakikat mengajar (teaching) adalah: “Membantu para pelajar untuk dapat memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan belajar bagaimana cara belajar”.33 Definisi belajar menurut Anthony Robbins yaitu: “Belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru”.34 Dapat disimpulkan bahwa di dalam proses pembelajaran berangkat dari pengalaman-pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki atau dipahami siswa, untuk dapat dihubungkan dengan ilmu pengetahuan yang akan dipelajarinya.
Model pembelajaran dijadikan oleh guru sebagai pedoman mengajar dan didalamnya terdapat langkah-langkah instruksional yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa, dan pengembangan penggunaan media pembelajaran sehingga tujuan dari pembelajaran yang dirancang atau yang diinginkan dapat tercapai.
31Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Kencana, 2011), Cet. 3, h. 48.
32Syaiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2012), Cet. 10, h. 175.
33Ibid., h. 176.
34Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), Cet. III, h. 15.
Soekamto mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah:
“Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar-mengajar”.35
Dalam dunia pendidikan yang menjadikan subjek dan objeknya adalah manusia, mengakibatkan perlunya diadakan sebuah pengembangan dan inovasi dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini dikarenakan seiring dengan perkembangan zaman akan terjadi permasalahan kehidupan yang jauh lebih kompleks, sehingga diharapkan dengan proses pembelajaran yang tepat dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas baik dari segi IQ, EQ, maupun SQ.
b. Langkah-Langkah Model Pembelajaran KADIR
Diantara banyaknya macam-macam model pembelajaran, model KADIR merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan di dalam pembelajaran matematika. Model pembelajaran KADIR merupakan model pembelajaran yang terdiri dari 5 tahapan yaitu: koneksi, aplikasi, diskursus, improvisasi, dan refleksi.36 Penjelasan mengenai tahapan model pembelajaran KADIR selengkapnya disajikan pada uraian berikut:
1) Koneksi
Koneksi dalam bahasa inggris berasal dari kata connecting yang merupakan tahap mengkoneksikan atau menghubungkan informasi lama dan informasi baru yang dimiliki siswa.37 Tahap koneksi yang dimaksud adalah
35Ibid., h. 22.
36Kadir, ”Pengembangan Model Pembelajaran KADIR Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis (Higher Order Thinking)”, Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional FITK UIN Jakarta, Prosiding Guru dalam Membangun Peradaban Bangsa, Jakarta, 4-5 Mei 2015, h. 224.
37Kd Windu Wardika, Ketut Udy Ariawan, dan I Putu Suka Arsa “Penerapan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) Meningkatkan Hasil Aktivitas Belajar Perakitan Komputer Kelas XTKJ2 SMK Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2014/2015”, e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha, 4, 2015.
menghubungkan dua atau lebih hal yang memiliki tujuan untuk memahami sesuatu.38
Pada tahap ini siswa diajak untuk dapat menghubungkan konsep baru yang akan dipelajari dengan konsep lama yang telah dimiliki siswa. Tahap ini bertujuan agar siswa dapat mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuan yang akan dipelajarinya, sehingga tidak lagi harus menerima dan mengingat dalam otak siswa semua perangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang diajarkan oleh guru secara keseluruhan. Tahap koneksi dapat menciptakan proses pembelajaran bermakna, menurut Ausebel belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.39
Guru harus dapat mengidentifikasi apa yang telah siswa ketahui tentang pelajaran sebelumnya yang berkaitan dengan pelajaran yang akan dipelajari dan untuk menghubungkannya dapat dengan cara seperti brainstorming atau mind mapping, yaitu dengan cara memberikan siswa pertanyaan-pertanyaan yang mengaktifkan kembali pengetahuan sebelumnya dan semua ide-ide sementara siswa dapat ditulis di papan tulis sehingga dengan bantuan guru siswa dapat menghubungkan ide-ide tersebut menjadi konsep yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
Koneksi dapat dikatakan sebagai langkah awal dalam pembelajaran yang dapat membuat siswa berperan aktif dalam diskusi pembelajaran untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan. Menurut Kadir pembentukan konsep baru yang akan dipelajari siswa dapat dibentuk berdasarkan konsep lama yang lebih mapan melalui prinsip asimilasi dan akomodasi dalam kognisi peserta didik.40 Menurut Pastor terdapat empat langkah agar informasi baru yang akan diajarkan kepada siswa bisa lebih mudah dipahami, diantaranya yaitu:
a) Information chuncking (potongan informasi), sebaiknya materi yang akan dipelajari disajikan dalam bentuk sub-sub topik yang lebih sederhana dan mudah untuk siswa pahami.
38Semiawan, op.cit., h. 61.
39Trianto, op. cit., h. 37.
40Kadir, loc. cit.
b) Kontekstual, yaitu menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan kegiatan nyata sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa.
c) Prior knowledge, yaitu guru harus dapat mengetahui sejauh mana kemampuan atau pengetahuan awal siswa sehingga dengan tepat guru dapat memfasilitasi siswa informasi baru yang secara bertahap dan berkesinambungan untuk dapat menciptakan pembelajaran bermakna.
d) Accomodate leaners, yaitu materi atau pengetahuan baru disajikan secara lebih menyenangkan dengan ragam pendekatan dan media pembelajaran.41
Di dalam pembelajaran matematika yang antar konsep, dalil, atau teori-teorinya saling berkaitan dan berhubungan hendaknya menerapkan pembelajaran yang dimulai dari hal yang diketahui siswa ke yang belum diketahui, dari konkrit ke abstrak, dari hal-hal yang mudah ke yang sulit dan terdapat materi yang terintegrasi pada saat pembelajaran berlangsung.
2) Aplikasi
Aplikasi dalam bahasa inggris applying merupakan belajar dalam konteks bagaimana pengetahuan atau informasi baru yang diperoleh siswa dapat digunakan dalam berbagai situasi yang dia hadapi, baik situasi yang mudah maupun yang sulit.42
Tahap aplikasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap ilmu pengetahuan baru yang telah siswa dapatkan pada tahap koneksi, sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat bermanfaat dan berguna dalam menyelesaikan sebuah permasalahan dalam konteks ini guru dapat memberikan soal-soal pemecahan masalah yang cukup menantang, bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa.
Navarra mengatakan bahwa proses aplikasi merupakan bagian yang paling penting dari proses belajar aktif. 43 Ketika siswa dapat menyadari bahwa
41Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), Cet. 2, h. 252-253.
42Gelar Dwirahayu dan Munasprianto Ramli (eds.), Pendekatan Baru dalam Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi, (Jakarta: PIC UIN, 2007), Cet. I, h. 126.
43Kadir, op. cit., h. 225.
suatu rumus atau definisi yang telah mereka pahami dan bagaimana proses terbentuknya dapat diterapkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan sehari-hari, mereka akan merasa senang dan antusias dalam belajar.
3) Diskursus
Sumarmo mendefinisikan diskursus dalam proses pembelajaran sebagai:
Wacana sentral tempat berlangsungnya diskusi dan pembahasan, penemuan dan tukar menukar idea siswa, serta pengembangan kemampuan berpikir siswa, melalui proses bagaimana cara guru dan siswa mempresentasikan, memikirkan, berbicara, dan menyetujui atau menolak sesuatu.44 Menurut Kadir: “Diskursus merupakan faktor terpenting untuk menemukan kebenaran ilmiah dan mengembangkan ilmu pengetahuan, karena hakikatnya kebenaran ilmiah dikembangkan berdasarkan diskursus atau wacana yang berkembang bukan ditentukan oleh seorang ilmuan atau pakar tertentu”.45
Pada tahap diskursus harus dapat diseimbangkan antara peran guru dan peran siswa, karena jika semua aktivitas dalam pembelajaran lebih didominasi oleh guru maka aktivitas siswa di kelas hanya sebatas mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan soal-soal latihan dengan sistematika cara menjawab yang telah diajarkan guru dan hal ini akan menghambat kreativitas siswa.
Di dalam tahap diskursus dapat dikembangkan kemampuan komunikasi siswa dalam memberikan argumen terhadap setiap jawabannya serta memberikan tanggapan atas jawaban yang diberikan orang lain sehingga apa yang sedang dipelajari bermakna bagi siswa, seperti menurut NCTM kemampuan komunikasi siswa perlu dikembangkan sebab melalui komunikasi siswa dapat mengorganisasi dan mensolidkan berpikir matematikanya serta dapat mengeksplorasi ide-ide matematika.46
44Utari Sumarmo, Berpikir dan Disposisi Matematik Serta Pembelajarannya, (Bandung;
FPMIPA UPI, 2013), h. 217.
45Kadir, loc. cit.
46A.T. Arifin, Kartono, dan H. Sutarto, “Keefektifan Strategi Pembelajaran REACT Pada Kemampuan Siswa Kelas VII Aspek Komunikasi Matematis”, Jurnal Kreano, 5, 2014, h. 92.
Guru memiliki peran utama untuk dapat mengembangkan dan mengatur tahap diskursus yang baik, dimana perlu menciptakan suatu lingkungan belajar dimana siswa terdorong untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika yang bermakna.
NCTM menyarankan beberapa tugas atau peran guru matematika dalam mengembangkan diskursus diantaranya adalah:
1) Mengajukan pertanyaan dan memberi tugas matematik yang memotivasi, membangkitkan, dan menantang peserta didik berfikir.
2) Mendengarkan idea, meminta penjelasan, dan menetapkan idea siswa yang dapat dikembangkan.
3) Menetapkan kapan dan bagaimana memperkenalkan notasi dan bahasa matematika secara tepat.
4) Menetapkan kapan dan bagaimana cara menyajikan informasi, mengeksplorasi isu, membuat model, dan menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk mengatasi masalah.
5) Memantau kesiapan dan menetapkan kapan dan bagaimana mendorong tumbuhnya partisipasi siswa. 47
Menurut Sumarmo guru harus dapat mengatur dan mengembangkan pada tahap diskurusus, agar dapat terciptanya suasana dan proses pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif melakukan kegiatan sebagai berikut:48
1) Siswa hendaknya dikondisikan untuk mendengarkan, merespon, dan mengajukan pertanyaan mengenai topik matematika yang sedang dibahas.
2) Selama diskursus, selain siswa aktif dalam mendengarkan, merespon, dan mengajukan pertanyaan mereka juga harus didorong untuk menggunakan berbagai cara untuk bernalar, membuat koneksi, dan berkomunikasi matematik.
47Kadir, op. cit., h. 226.
48Sumarmo, op.cit.,h. 226-227
3) Selain kegiatan siswa di atas, siswa hendaknya meyakinkan diri terhadap validitas representasi, solusi, konjektur, jawaban, kejadian matematis, dan argumen.
4) Improvisasi
Improvisasi adalah tahap mengembangkan kualitas kemampuan ke arah yang lebih baik dan inovatif. 49Tahap ini berperan untuk dapat melakukan pengembangan atas konsep-konsep yang telah diimplementasikan dalam menyelesaikan masalah pada tahap aplikasi dan telah diwacanakan dalam diskusi dan pembahasan, penemuan dan tukar menukar idea siswa serta pengembangan berpikir siswa pada tahap diskursus sehingga dapat dimatangkan dan dikembangkan mutunya ke arah yang lebih baik sehingga menjadi lebih istimewa.
Improvisasi membutuhkan spontanitas, kreatifitas, daya cipta serta daya khayal siswa yang dapat dikembangkan dengan cara menciptakan lingkungan pembelajaran dimana siswa aktif untuk bertanya tentang konsep yang belum dipahami, dan memberikan ide-idenya yang inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan masalah. Dengan terjadinya keberagaman jawaban siswa memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir matematis siswa.
Pada tahap improvisasi ini guru dihadapkan dengan beberapa kemungkinan yang terjadi diluar rencananya, seperti menurut Kadir tahap improvisasi diwujudkan dalam bentuk antisipasi pedagogik dan antisipasi didaktik dengan mempertimbangkan situasi sosial dan sistem sosial kultural kelas dalam proses “Thinking Classroom”.50 Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat memiliki kemampuan antisipasi didaktis ialah kemampuan membuat berbagai macam antisipasi respon siswa yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran ditinjau dari sudut pandang materi yang diajarkan, sedangkan jika ditinjau dari sudut pandang tingkah laku siswa dinamakan sebagai antisipasi pedagogis.
49Kadir, loc.cit.
50Kadir, op.cit., h. 228.
5) Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu.51 Tahap refleksi adalah tahap guru membimbing siswa untuk dapat berpikir ke belakang dan mengungkapkan konsep-konsep apa saja yang telah mereka pelajari, sehingga akan terjadi proses penguatan dan menghubungkan antara konsep-konsep yang dimiliki siswa dengan yang baru saja dipelajari.
Tahap ini merupakan tahap konfirmasi yang dilakukan guru terhadap materi pelajaran yang telah siswa pelajari, dan poin penting untuk diingat dalam refleksi adalah guru perlu menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk mengungkapkan apa yang telah mereka pelajari.52 Hal lain yang dapat guru lakukan pada tahap ini adalah: pernyataan langsung dari siswa tentang apa yang telah mereka pelajari hari itu dan kesan pesanya, mengerjakan kuis, hasil karya, catatan atau jurnal harian siswa.
c. Deskripsi Proses Pembelajaran Dengan Model Pembelajaran KADIR.
Penerapan model pembelajaran KADIR yang terdiri dari tahap: koneksi, aplikasi, diskursus, improvisasi, dan refleksi dalam proses pembelajaran di kelas dapat diuraikan sebagai berikut:53
Tabel 2.3
Fase Desain Pembelajaran Model KADIR
Langkah-Langkah Deskripsi Kegiatan Pembelajaran
1. Koneksi Menggunakan strategi mind mapping dan brainstorming untuk mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan baru yang akan dipelajarinya.
51Trianto, op. cit., h. 117.
52Ali Maskur, St. Budi Waluya, dan Rochmad, “Pembelajaran Matematika dengan Strategi ICARE Beracuan Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Materi Dimensi Tiga”, Unnes Journal of Primary Educational, 2, 2012, h. 87.
53Kadir, op. cit., h. 229.
Menerapkan hubungan antar topik matematika, bidang studi lain, dan kehidupan sehari-hari.
Menggunakan dalil pengaitan untuk mencari hubungan satu prosedur dengan prosedur lain dan memahami representasi ekuivalen konsep yang sama.
2. Aplikasi Melakukan identifikasi masalah dan menerapkan rumus, dalil, konsep dan prinsip matematika dalam penyelesaian masalah.
Membuat model matematik dari suatu masalah, memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah.
Menginterpretasi hasil penyelesaian masalah.
3. Diskursus Mengajukan pertanyaan dan memberi tugas matematik yang menantang peserta didik untuk berpikir.
Mendorong tumbuhnya partisipasi siswa dalam berdiskusi dan menggunakan beragam cara untuk bernalar.
Meyakinkan diri terhadap validitas representasi, solusi, konjektur, jawaban, kejadian matematis, dan argumen dalam menyelesaikan permasalahan.
4. Improvisasi Mengembangkan mutu pemahaman konsep ke arah yang lebih baik.
Melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga dapat memberikan beragam solusi penyelesaian dari sebuah permasalahan.
Mampu menemukan kombinasi-kombinasi yang tidak biasa dari unsur-unsur yang biasa.
5. Refleksi Menyimpulkan apa yang telah peserta didik pelajari sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dapat dilakukan dengan cara melakukan presentasi, menulis sebuah ringkasan, menyusun peta konsep, mengerjakan kuis, memeriksa kebenaran proses dan hasil pemecahan masalah, dan mengevaluasi kelebihan dan kekurangan diri sendiri terhadap materi yang telah dipelajari.