• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan

Setelah berakhirnya pelaksanaan tindakan pada siklus I, peneliti melakukan analisis deskriptif dari beberapa data penelitian yang berupa hasil tes kemampuan berpikir kreatif siswa, hasil pengamatan guru observer terhadap perkembangan berpikir kreatif matematis siswa, respon siswa tentang penerapan model pembelajaran KADIR, dan hasil dari wawancara ke guru dan siswa.

Jika hasil analisis deskriptif pada siklus I masih belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan, maka penelitian akan dilanjutkan ke siklus II atau siklus selanjutnya. Dan penelitian ini akan dihentikan apabila model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) telah berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan tercapainya semua indikator keberhasilan yang diharapkan pada penelitian ini.

46

BAB IV

DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Data penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas 8.1 Mts Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2015/2016. Tahapan penelitian diawali dengan kegiatan pra penelitian kemudian pelaksanaan tindakan

yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Data-data hasil penelitian dikumpulkan dan dianalisis, dan temuan-temuan dalam penelitian diinterpretasikan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penelitian. Berikut ini deskripsi data hasil penelitian:

1. Pelaksanaan Pra Penelitian

Sebagai langkah awal penelitian tindakan kelas peneliti melakukan kegiatan pra penelitian di sekolah MTs Negeri 5 Jakarta pada bulan Desember 2015 dan Januari 2016. Pada tahap ini peneliti melakukan wawancara dengan guru bidang studi matematika dan observasi dikelas yang akan dilakukan tindakan untuk mengetahui aktivitas siswa, kendala atau hambatan apa saja yang terjadi selama proses pembelajaran matematika berlangsung dan memberikan tes berpikir kreatif matematis untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.

Kegiatan pertama pada tahap pra penelitian dilakukan pada hari Rabu, 16 Desember 2015 peneliti menemui wakil kurikulum untuk meminta izin melakukan penelitian di sekolah tersebut, mengetahui kondisi sekolah, kurikulum yang digunakan, selanjutnya peneliti juga menemui guru matematika kelas 8 untuk konsultasi tentang penelitian, jadwal sekolah, dan materi yang akan diterapkan dalam penelitian. Kegiatan kedua pada tahap ini dilaksanakan pada hari Kamis, 14 Januari 2016, peneliti melakukan wawancara dengan guru matematika yang mengajar kelas 8 di MTs Negeri 5 Jakarta. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika kelas 8 diputuskan kelas yang akan menjadi subjek penelitian adalah kelas 8.1 karena kemampuan siswa kelas 8.1 dalam pelajaran matematika lebih rendah dibandingkan kelas lainnya.

Pada hari Jum’at 15 Januari 2016 peneliti melakukan observasi untuk mengetahui aktivitas siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran matematika di kelas 8.1. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan observasi proses pembelajaran matematika diperoleh informasi sebagai berikut :

a. Model pembelajaran yang digunakan guru adalah model pembelajaran langsung dan dalam pemberian latihan sifatnya soal-soal rutin dan bukan soal tipe open ended.

b. Kegiatan pembelajaran sebagian besar masih didominasi oleh guru sehingga aktivitas siswa di kelas hanya mendengarkan dan mencatat penjelasan guru.

c. Antusiasme siswa selama mengikuti pelajaran matematika maih rendah dan kurang fokus, sehingga jika siswa merasa bosen ia akan bercanda dengan temannya, melamun, atau sibuk dengan kegiatan diluar aktivitas pembelajaran.

d. Kebanyakan siswa tidak percaya diri untuk memberikan ide-ide atau gagasan matematik dan juga untuk bertanya selama proses pembelajaran berlangsung.

e. Siswa cenderung menghapal rumus-rumus matematika bukan memahami konsepnya sehingga sebagian besar siswa merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika yang berbeda dengan contoh soal yang sudah dicontohkan oleh ibu guru.

Pada hari Jum’at 22 Januari 2016 peneliti melakukan tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada kelas 8.1 yang terdiri terdiri dari tiga buah soal uraian materi bangun datar segi empat yang mencakup indikator fluency, flexibility, dan elaboration. Berikut ini hasil kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada tahap pra penelitian yang disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1

Hasil Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Tahap Pra Penelitian Interval

Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh data bahwa terdapat 2 orang siswa mendapat nilai tertinggi yaitu 75 dan 1 orang siswa mendapat nilai terendah yaitu 17 dengan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematis siswa secara keseluruhan adalah 52,13 dan siswa yang mendapat nilai di atas KKM (≥75) sebanyak 6,25% (lihat lampiran 8). Berdasarkan hasil tes berpikir kreatif matematis yang telah peneliti laksanakan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas 8.1 masih rendah dengan rincian untuk indikator fluency mencapai skor sebesar 44,53, flexibility sebesar 42,19, dan elaboration sebesar 65,63.

2. Deskripsi Tindakan Siklus I

Tindakan siklus I merupakan tindakan awal yang sangat penting, karena hasil pengamatan dari kegiatan belajar mengajar dan hasil kemampuan berpikir kreatif matematis pada siklus I akan dijadikan sebagai refleksi bagi peneliti pada pembelajaran selanjutnya. Tahapan penelitian pada siklus I dideskripsikan sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus I ini adalah peneliti mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), serta instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa siklus I. Peneliti juga mempersiapkan instrumen nontes untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya tindakan yang beracuan dengan ciri-ciri kreativitas siswa dari segi nonaptitude atau afektif yang terdapat pada lembar observasi aktivitas siswa, selain itu peneliti juga mempersiapkan lembar jurnal harian siswa dan alat dokumentasi.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

Pelaksanaan tindakan siklus I dimulai pada hari Kamis, 11 Februari 2016 sampai dengan hari Kamis, 25 Februari 2016, dengan alokasi waktu tiap pertemuan sebanyak 2 jam pelajaran (2 x 40 menit). Tahap pelaksanaan tindakan bersamaan dengan tahap observasi, peneliti melaksanakan RPP yang telah direncanakan dalam pembelajaran sedangkan guru matematika kelas

menjadi guru observer. Pada tahap ini penelitian berlangsung selama empat pertemuan ditambah satu pertemuan untuk tes kemampuan berpikir kreatif pada akhir siklus I. Adapun deskripsi pelaksanaan tindakan siklus I pada setiap pertemuannya sebagai berikut:

1) Pertemuan Pertama/Kamis, 11 Februari 2016. 10.00-11.20

Peneliti mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberi salam, membaca do’a, memeriksa kehadiran siswa dan semua siswa hadir. Pada kesempatan ini peneliti memperkenalkan diri kepada siswa, dan menjelaskan tujuan peneliti. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan membagi siswa menjadi 8 kelompok dengan cara setiap siswa berhitung dari 1-8. Peneliti membagikan LKS dan model kerangka kubus kepada setiap kelompok dan menjelaskan langkah-langkah cara mengerjakan LKS.

Pada tahap koneksi siswa secara berkelompok mengamati benda-benda sekitar yang merupakan bangun ruang sisi datar, selanjutnya dengan strategi brainstorming guru membimbing setiap kelompok untuk dapat memberikan ide atau gagasannya dengan menyebutkan contoh-contoh benda sekitar yang merupakan bangun ruang kubus dan balok berdasarkan konsep yang siswa pahami. Semua jawaban atau ide-ide yang diberikan oleh siswa ditulis di papan tulis sehingga setiap siswa dapat melihat jawaban temannya dan membandingkannya atau mengkombinasikannya, dan jika terdapat jawaban yang kurang tepat peneliti membimbing siswa untuk membahasnya bersama.

Pada tahap ini terdapat beberapa kelompok yang masih salah dan tertukar dalam memberikan contoh antara kubus dan balok, seperti siswa dari kelompok 1 memberikan contoh kubus yaitu keju dan kelompok 2 memberikan contoh balok yaitu meja. Setelah kelompok 1 dan 2 menggambar contoh benda tersebut di papan tulis, peneliti bertanya kepada seluruh siswa “Apakah contoh benda tersebut merupakan bangun ruang kubus atau balok?”. Bebeberapa siswa memberikan pendapat atau idenya jika keju pada umumnya berbentuk balok kecuali jika keju tersebut dipotong sehingga semua ukuran sisi-sisinya sama, sedangkan meja bukan merupakan bangun ruang dikarenakan hanya permukaan atasnya saja yang ditutupi oleh bangun datar persegi panjang.

Siswa menyebutkan unsur-unsur yang mereka ketahui dari bangun ruang kubus atau balok, dan dengan bantuan media kerangka kubus peneliti membimbing siswa untuk dapat memberikan pendapatnya tentang definisi unsur-unsur tersebut. Sebagian besar siswa telah dapat dan berani untuk memberikan gagasannya terkait definisi titik sudut, rusuk, dan sisi, sedangkan untuk mendefinisikan diagonal sisi, diagonal ruang dan bidang diagonal pada bangun ruang siswa mengalami kesulitan yang disebabkan karena unsur-unsur tersebut merupakan hal baru bagi siswa. Peneliti membimbing siswa berdasarkan konsep telah mengetahui konsep garis diagonal pada bangun datar akhirnya siswa dapat memahami semua definisi unsur-unsur tersebut.

Pada tahap aplikasi siswa secara berkelompok menyelesaikan soal pemecahan masalah yaitu menggambar bangun ruang kubus dan menyebutkan semua unsur-unsurnya berdasarkan konsep definisi unsur-unsur kubus yang telah mereka pahami pada tahap koneksi. Pada saat siswa menggambar kubus terdapat keberagaman jawaban siswa dalam memberi urutan penamaan setiap titik sudutnya dan sebagian besar kelompok telah dapat menyebutkan unsur-unsur dari bangun ruang kubus, hanya terdapat beberapa kelompok yang masih salah dalam menentukan bidang diagonal kubus. Pada tahap diskursus setiap kelompok berdiskusi mengidentifikasi sifat-sifat dari bangun ruang kubus yang telah mereka gambar pada tahap aplikasi, dengan cara mengamati kerangka kubus yang disediakan oleh peneliti dan mengukur panjang rusuk, diagonal sisi, diagonal ruang, dan sisi kubusnya dengan penggaris. Kegiatan siswa mengidentifikasi sifat-sifat kubus dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.1

Siswa Berdiskusi Mengidentifikasi Sifat-Sifat Kubus

Aktivitas siswa pada saat presentasi dan tanya jawab antar kelompok masih kurang kondusif karena pada saat presentasi terdapat beberapa siswa yang tidak fokus memperhatikan dan terdapat siswa yang bertanya tentang penamaan pada bangun ruang kubus yang benar dikarenakan beberapa kelompok berbeda dalam memberikan urutan pengsimbolan huruf pada titik sudut kubus sesuai dengan nama dari kubus tersebut.

Pada tahap improvisasi siswa mengembangkan konsep yang telah mereka pahami tentang sifat-sifat kubus dan unsurnya ke dalam bentuk yang baru, siswa menentukan nama sebuah bangun ruang jika sisi-sisi pada bangun ruang kubus diperpanjang. Pada tahap ini terdapat keberagaman cara siswa untuk memperpanjangnya diantaranya dapat diperpanjang ke samping, ke belakang, atau ke atas sehingga akan membentuk bangun ruang balok. Peneliti membimbing setiap kelompok secara bergantian untuk memberikan ide-idenya dalam mengidentifikasi sifat-sifat dari bangun ruang balok dan peneliti mempersilahkan setiap kelompok untuk dapat memberikan pendapat yang berbeda dari jawaban kelompok lain atau melengkapi jawaban yang tertulis di papan tulis. Keberagaman jawaban siswa dalam mengidentifikasi sifat-sifat balok dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.2

Variasi Jawaban Siswa Mengidentifikasi Sifat-Sifat Balok

Pada tahap refleksi setiap kelompok menyimpulkan perbedaan antara kubus dengan balok berdasarkan sifat-sifatnya sesuai dengan apa yang telah mereka pahami pada tahap-tahap sebelumnya. Setiap kelompok memberikan kesimpulan yang berbeda, untuk kelompok 1 memberikan kesimpulan yang jelas dan detail sedangkan kelompok 7 hanya memberikan kesimpulan yang sederhana.

Jawaban siswa tahap refleksi dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.3

Hasil Refleksi Siswa Membuat Kesimpulan

Setelah berderingnya bel tanda berakhirnya pembelajaran matematika, peneliti mengakhiri pembelajaran dengan memberi tugas siswa secara berkelompok untuk membentuk kerangka kubus dari potongan kayu yang telah disediakan oleh peneliti dan memberitahukan siswa materi selanjutnya yaitu tentang jaring-jaring kubus dan luas permukaannya. Kemudian peneliti menutup pembelajaran dengan mengucapkan hamdallah dan salam.

Pada pertemuan pertama berdasarkan hasil diskusi dengan guru observer aktivitas siswa terdapat beberapa kendala diantaranya siswa masih kurang terbiasa untuk melakukan pembelajaran matematika secara berdiskusi kelompok, hanya sebanyak 11 siswa atau sebesar 34,38% yang sudah aktif dalam berdiskusi dan tertantang dalam menyelesaikan tugas-tugas pada LKS tanpa bantuan peneliti sedangkan 21 siswa lainnya atau 65,63% masih kurang aktif dalam diskusi kelompok seperti pada gambar berikut:

Gambar 4.4

Beberapa Siswa Tidak Berpartisipasi Mengerjakan LKS

Aktivitas siswa memberikan gagasan selama proses pembelajaran masih rendah terutama pada tahap koneksi, diskursus dan improvisasi diantara 19 siswa atau sebesar 59,38% yang sudah berani untuk memberikan gagasannya hanya terdapat 7 orang siswa saja atau 21,88% yang sudah baik dalam memberikan banyak gagasan dengan lancar. Diantara 25 siswa yang sudah memperhatikan penjelasan guru atau teman hanya 12 orang siswa saja yang sudah tenang dan fokus mendengarkan penjelasan temannya pada tahap diskursus sedangkan siswa lainnya masih kurang fokus atau masih terlihat melamun atau mengerjakan hal lain selain mencatat penjelasan guru atau temannya. Hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan pertama disajikan pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2

Aktivitas Siswa Pada Pertemuan Ke-1

No Aspek Yang Diamati Persentase

1. Keaktifan memberikan sebuah ide atau gagasan 59,38%

2. Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan 65,63%

3. Fokus memperhatikan penjelasan guru atau teman 78,13%

4. Melibatkan diri dalam diskusi kelompok dan tertantang

menyelesaikan tugas-tugas pada LKS. 84,38%

Rata-rata 71,88%

2) Pertemuan Kedua/Jum’at, 12 Februari 2016. 06.30-07.50

Peneliti mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberi salam, membaca do’a dan memeriksa kehadiran siswa dan terdapat satu orang siswa tidak hadir dikarenakan sakit. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan meminta siswa untuk duduk secara berkelompok sesuai dengan kelompoknya kemaren, peneliti juga membagikan LKS serta bangun ruang kubus yang terbuat dari karton kepada setiap kelompok.

Pada tahap koneksi setiap kelompok mengamati kerangka kubus yang telah mereka buat dari potongan-potongan kayu, dengan teknik tanya jawab peneliti membimbing setiap kelompok untuk dapat memberikan ide-idenya tentang banyak potongan kayu yang dibutuhkan untuk membentuk kerangka kubus dan panjang setiap potongan kayu tersebut. Sebagian besar kelompok

telah dapat mengidentifikasi sifat-sifat kubus yaitu semua rusuk kubus memiliki ukuran yang sama panjang sehingga siswa dapat menentukan rumus kerangka kubus yaitu 12 x panjang rusuk kubus = 12 x s. Pada tahap ini kelompok 4 memberikan pendapat jika panjang setiap kayu yang mereka gunakan untuk membuat kerangka kubus tidak sama panjang, setelah melakukan tanya jawab hal ini disebabkan karena kerangka yang dibuat oleh kelompok 4 bukan merupakan kerangka kubus akan tetapi kerangka balok.

Pada tahap aplikasi terdapat beberapa kelompok mengalami kesulitan untuk memberikan solusi penyelesaian dalam bentuk cerita atau langkah-langkah penyelesaian yang terperinci tanpa menggunakan rumus dalam menentukan luas triplek yang dibutuhkan untuk menutupi seluruh permukaan kerangka kubus. Setelah siswa dapat menentukan panjang rusuk kubus secara berkelompok siswa membuat jaring-jaring kubus sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada LKS yaitu dengan cara menggunting model bangun ruang kubus yang disediakan oleh guru dan dapat dilihat pada gambar 4.5 di bawah ini:

Gambar 4.5

Siswa Membuat Jaring-Jaring Kubus

Pada tahap diskursus siswa berdiskusi untuk dapat menemukan rumus umum luas permukaan kubus dari jaring-jaring kubus yang telah mereka buat pada tahap aplikasi yaitu dengan cara menjumlahkan luas semua bangun datar persegi yang terdapat pada jaring-jaring kubus tersebut sehingga didapatkan rumus umum luas permukaan kubus = 6 x luas persegi = 6 x s x s. Peneliti menunjuk kelompok 3 untuk melakukan presentasi di depan kelas, pada saat melakukan presentasi siswa masih terlihat malu-malu sehingga cara siswa

mempresentasikan hanya sebatas membacakan hasil diskusinya di depan kelas.

Pada saat melakukan tanya jawab tidak terlalu banyak siswa yang bertanya dan kelompok 5 bertanya karena kurang paham mengenai konsep luas permukaan kubus sehingga siswa salah dalam menemukan rumus luas permukaan kubus = 14 x s, yang didapatkan dengan cara menghitung keliling jaring-jaring kubus bukan luas permukaannya. Perwakilan kelompok 3 saat melakukan presentasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.6

Siswa Mempresentasikan Hasil Diskusinya di Depan Kelas

Pada saat peneliti mempersilahkan perwakilan kelompok yang bersedia untuk menggambar jaring-jaring kubus yang beragam, hanya dua orang perwakilan kelompok yang bersedia maju ke depan sedangkan kelompok lainnya takut untuk menuliskan jawabannya di depan kelas sehingga peneliti menunjuk beberapa kelompok lainnya secara bergantian untuk mengambarkan jaring-jaring kubus tersebut di depan kelas seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.7

Siswa Menggambar Jaring-Jaring Kubus yang Beragam

Pada tahap improvisasi beberapa kelompok telah dapat membuat bentuk lain dari jaring-jaring kubus yang telah mereka buat pada tahap aplikasi, sedangkan kelompok 8 masih terdapat kesalahan dalam membuat jaring-jaring kubus dan kelompok 6 hanya mampu meniru bentuk jaring-jaring kubus seperti pada tahap aplikasi hanya saja diputar bentuknya. Tahap refleksi umumnya siswa sudah dapat memberikan kesimpulan yang benar terkait materi pelajaran pada pertemuan ini, sehingga didapatkan kesimpulan jika jaring-jaring kubus terdiri dari enam buah bangun datar persegi yang memiliki ukuran sama besar dan luas permukaan kubus adalah luas semua bangun datar pada jaring-jaring kubus dan dirumuskan 6 x s x s. Setelah berderingnya bel tanda berakhirnya pembelajaran matematika, peneliti mengakhiri pembelajaran dengan memberitahukan siswa materi selanjutnya dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan hamdallah dan salam.

Pada pertemuan kedua terdapat penurunan persentase aktivitas siswa dibandingkan pertemuan pertama yaitu hanya sebanyak 22 siswa atau 70,97%

yang melibatkan diri dalam diskusi kelompok dan mengerjakan tugas-tugas pada LKS, akan tetapi jumlah siswa yang sudah dapat berdiskusi aktif dalam diskusi kelompok dan tidak lagi bergantung dengan bantuan peneliti dalam menyelesaikan LKS meningkat yaitu sebanyak 17 siswa atau 54,84%. Hal ini mengakibatkan aktivitas siswa bertanya juga menurun dan sebagian besar siswa telah dapat memahami dan mengerjakan LKS dengan benar atau mudah untuk siswa pahami. Hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan kedua disajikan pada tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3

Aktivitas Siswa Pada Pertemuan Ke-2

No Aspek Yang Diamati Persentase

1. Keaktifan memberikan sebuah ide atau gagasan 61,29%

2. Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan 54,84%

3. Fokus memperhatikan penjelasan guru atau teman 70,97%

4. Melibatkan diri dalam diskusi kelompok dan tertantang

menyelesaikan tugas-tugas pada LKS. 70,97%

Rata-rata 64,52%

3) Pertemuan Ketiga/Kamis, 18 Februari 2016. 10.00-11.20

Peneliti mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberi salam, membaca do’a dan selanjutnya memeriksa kehadiran siswa dan semua siswa hadir. Selanjutnya peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan meminta siswa untuk duduk secara berkelompok sesuai dengan kelompoknya kemaren, peneliti juga membagikan LKS, kerangka balok, dan bangun ruang balok yang terbuat dari karton kepada setiap kelompok.

Pada tahap koneksi siswa mengamati kerangka balok dari besi dan dengan teknik tanya jawab guru membimbing setiap kelompok untuk dapat memberikan ide-idenya tentang banyak rusuk dan ukurannya pada kerangka balok. Pada saat peneliti bertanya “Apakah semua panjang rusuk pada kerangka balok memiliki ukuran yang sama panjang?” semua siswa setuju jika ukuran panjang rusuk balok tidak sama panjang. Pada saat peneliti meminta siswa untuk memberikan alasannya, kelompok 4 memberikan pendapatnya yaitu “Karena balok memiliki sifat jika rusuk-rusuk yang sejajar memiliki ukuran sama panjang” sedangkan kelompok 7 memberikan pendapat yaitu

“Karena panjang dan lebar balok tidak sama”. Berdasarkan unsur-unsur balok dan jika setiap rusuk panjang pada kerangka balok diberi simbol “p”, lebar simbol “l” dan tinggi simbol “t” maka siswa dapat menemukan rumus kerangka balok yaitu: 4p + 4l + 4t = 4 (p+l+t).

Pada tahap aplikasi sebagian besar kelompok telah dapat menyelesaikan soal matematik yaitu menentukan tinggi kerangka balok dengan menerapkan rumus yang telah mereka dapatkan pada tahap koneksi, hanya terdapat beberapa kelompok saja yang masih salah dalam proses perhitungannya. Pada pertemuan kedua sebagian besar kelompok sudah mulai dapat memahami cara menentukan luas kain yang dibutuhkan untuk menutupi seluruh permukaan kerangka balok tanpa menggunakan rumus, dengan memberikan jawaban yang terperinci.

Beberapa jawaban siswa pada tahap aplikasi dapat dilihat di bawah ini:

Gambar 4.8

Variasi Gagasan Siswa Menentukan Luas Permukaan Balok

Pada tahap diskursus siswa berdiskusi dengan teman satu kelompoknya untuk dapat menemukan rumus umum luas permukaan balok dengan cara menjumlahkan seluruh bangun datar yang terdapat pada jaring-jaring balok dan berdasarkan sifat balok diketahui luas sisi depan = luas sisi belakang = p x t, luas sisi kanan = luas sisi kiri = l x t, dan luas sisi atas = luas sisi bawah = p x l sehingga didapatkan rumusnya yaitu 2 (pt + pl +lt). Pada tahap diskursus sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menemukan rumus umum luas permukaan balok sehingga banyak siswa yang bertanya dan pada saat kelompok 1 mempresentasikan hasil diskusinya di depan sebagian besar siswa sudah mulai berani untuk bertanya atau memberikan jawaban dibandingkan pada pertemuan sebelumnya.

Pada tahap improvisasi siswa sudah lebih paham dalam membuat jaring-jaring balok yang beragam, seperti kelompok 6 dimana pada pertemuan

sebelumnya belum dapat membuat jaring-jaring kubus yang beragam maka pada pertemuan ini anggota kelompok 6 terlebih dahulu menggambar beragam model jaring-jaring balok di kertas dan mengguntingnya, hal ini bertujuan agar siswa dapat membuktikan apakah jaring-jaring tersebut sudah benar atau belum benar.

Aktivitas siswa membuat jaring-jaring balok yang beragam dapat dilihat pada gambar 4.9 di bawah ini:

Gambar 4.9

Siswa Membuat Jaring-Jaring Balok yang Beragam

Peneliti mempersilahkan untuk perwakilan kelompok menggambar jaring-jaring balok di depan kelas dengan syarat harus berbeda dari yang telah digambar oleh kelompok lain, dan kelompok 3 masih kurang tepat dalam menggambar jaring-jaring balok dikarenakan terdapat beberapa sisi yang tidak

Peneliti mempersilahkan untuk perwakilan kelompok menggambar jaring-jaring balok di depan kelas dengan syarat harus berbeda dari yang telah digambar oleh kelompok lain, dan kelompok 3 masih kurang tepat dalam menggambar jaring-jaring balok dikarenakan terdapat beberapa sisi yang tidak