BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Penelitian
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa mengalami peningkatan sebesar 12,25 dari siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 66 meningkat mencapai 78,25 pada siklus II, dan telah mencapai salah satu indikator keberhasilan penelitian yaitu nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematis siswa ≥75. Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan model KADIR mulai dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan terakhir menggunakan bantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) ditambah dengan bantuan media bangun ruang dapat membantu siswa mengkonstruksi ilmu pengetahuan secara mandiri dan meningkatkan aktivitas siswa agar dapat lebih aktif selama proses pembelajaran.
Untuk indikator fluency, flexibility, dan elaboration mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sehingga siswa telah dapat memberikan banyak gagasan yang beragam dalam menjawab soal tes matematik, hal ini ditunjukkan oleh kelancaran siswa memberikan jawaban yang lebih banyak dengan cara penyelesaian yang beragam atau lebih dari satu cara penyelesaian disertai dengan langkah-langkah penyelesaian yang lebih terperinci. Meningkatnya kemampuan berpikir kreatif siswa pada setiap indikatornya sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ali Maskur, dkk (2012) yaitu kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dapat ditingkatkan dengan pembelajaran matematika dengan strategi ICARE beracuan konstruktivisme.
Selama penerapan pembelajaran matematika dengan model KADIR siswa diberi kesempatan agar dapat memberikan ide atau gagasannya pada tahap koneksi sebagai langkah awal siswa untuk dapat mempelajari sesuatu yang baru dari pengetahuan awal yang siswa miliki sehingga dapat menjadi pembelajaran bermakna selanjutnya dapat dikembangkan pengetahuan tersebut oleh siswa dengan cara membangun dan mentransformasikan pengetahuan yang kompleks ke dalam diri siswa dengan keaktifan siswa dalam berdiskusi dan diakhiri dengan kegiatan mengevaluasi dan merefleksikan apa yang telah mereka pelajari sehingga meningkat proses berpikirnya. Temuan yang berkaitan dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan ide atau gagasannya pada tahap
pembelajaran sesuai dengan teori yang diungkapkan menurut NCTM dalam Arifin A.T, dkk (2014) bahwa kemampuan komunikasi matematis merupakan alat bantu dalam transisi pengetahuan matematika atau sebagai fondasi dalam membangun pengetahuan matematik, sehingga siswa perlu dibiasakan untuk dapat memberikan argumen atas setiap jawabannya serta memberikan tanggapan atas jawaban yang diberikan oleh orang lain sehingga apa yang dipelajarinya menjadi lebih bermakna.
Pembelajaran dengan model KADIR diakhiri dengan tahap refleksi yaitu siswa dapat merefleksikan apa yang telah dipelajarinya yang salah satunya dengan membuat peta konsep, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang oleh Jannatul Khoiriyah, ddk (2014) bahwa pembelajaran matematika menggunakan model CORE dengan teknik peta konsep atau mind mapping dapat meningkatkan aktivitas, ketuntasan hasil tes belajar, respon positif, dan motivasi siswa karena dapat membuat siswa lebih mudah untuk memetakan dan mengingat kembali materi yang telah dipelajari dan juga merupakan salah satu teknik mencatat yang efektif dan kreatif karena dalam teknik mind mapping tersebut terdapat gambar dan warna yang menarik, sehingga dengan warna dan gambar tersebut otak kiri dan kanan manusia dilatih untuk seimbang dan membuat catatan menjadi lebih menarik dan dapat diingat dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan catatan linier biasa.
Pada penelitian ini aktivitas siswa juga diamati perkembangannya selama berlangsungnya pembelajaran matematika menggunakan model KADIR, hasil penelitian mengungkapkan bahwa adanya peningkatan persentase aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 10,52% dan persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu ≥70%. Hal ini menunjukkan pembelajaran dengan model KADIR dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam memberikan ide atau gagasan yang mereka miliki pada tahap koneksi dan dihubungkan dengan pengetahuan yang akan dipelajari selanjutnya pada saat diskurusus dimana siswa mempresentasikan hasil diksinya di depan kelas dan terjadinya proses tanya jawab atau saling memberikan ide atau gagasan atau proses menolak sebuah gagasan disertai dengan alasan yang logis aktivitas siswa
dalam keaktifan bertanya dan memperhatikan penjelasan guru atau teman dapat dikembangkan sehingga pada tahap improvisasi siswa sudah mulai mencoba memberikan gagasan baru yang beragam atau mengimprov konsep yang telah mereka dapatkan di tahap sebelumnya.
Temuan yang berhubungan dengan meningkatnya aktivitas siswa dengan model KADIR sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh C. Asri Budiningsih dalam Muhammad Abduh: Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan, bahwa kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif dapat dimunculkan dengan lingkungan pembelajaran yang demokratis memberi kebebasan kepada siswa untuk memberikan pendapat atau gagasannya dan mendorong siswa agar terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar dan juga sesuai dengan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Kd Windu Wardika, dkk (2015) yaitu dengan penerapan model pembelajaran CORE dapat meningkatkan ativitas belajar diantaranya aspek visual, lisan, mendengarkan, menulis, menggambar, mental dan emosional siswa, dimana dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan untuk kriteria sangat aktif dan aktif sedangkan untuk kriteria cukup aktif, kurang aktif, dan sangat kurang aktif mengalami penurunan.
Berdasarkan jurnal harian siswa, respon positif siswa dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan model KADIR dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 13,22%, dan rata-rata persentase respon positif siswa pada siklus II telah mencapai salah satu indikator keberhasilan yaitu ≥70%.
Sebagian besar siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan model KADIR, karena siswa dapat berdiskusi dengan temannya dalam mempelajari matematika dengan adanya LKS membuat siswa dapat lebih mudah memahami matematika yang dibantu dengan media bangun ruang selain itu siswa merasa lebih bersemangat belajar matematika karena banyak hal baru yang siswa belum ketahui dan dapatkan. Beberapa siswa yang memberikan respon netral atau negatif rata-rata dipengaruhi oleh senang atau tidaknya siswa dan juga sulit atau tidaknya pembelajaran matematika yang dialami siswa pada setiap pertemuannya.
Temuan penelitian yang berhubungan dengan upaya peneliti dalam meminimalisir respon netral dan negatif siswa dilakukan dengan cara membuat lingkungan pembelajaran matematika yang lebih aktif dan suasana yang lebih menyenangkan dengan cara memberikan games atau teka-teki yang mengasah konsetrasi dan kreativitas siswa, memberikan reward kepada siswa yang aktif dan mengapresiasi semua ide atau gagasan siswa, memberikan langkah-langkah yang lebih terperinci pada tahap diskursus agar siswa lebih mudah dapat menemukan rumus matematik. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Indrawati dan Wawan Setiawan (2009) dalam modul pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan bahwa pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila di dalamnya terdapat suasana yang rileks, bebas dari tekanan, aman, menarik, bangkitnya minat belajar, adanya keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, bersemangat dan konsentrasi tinggi.
104
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan deskripsi data dan pembahasan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir kreatif matematis dengan penerapan model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan nilai rata-rata pada siklus I sebesar 66,00 meningkat menjadi 78,25 pada siklus II dan telah mencapai salah satu indikator keberhasilan yaitu nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematis siswa mencapai 75. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis terlihat dari peningkatan pada semua indikator-indikatornya dari siklus I ke siklus II yang meliputi berpikir rinci (elaboration) mencapai skor tertinggi sebesar 81,25 pada siklus II, berpikir lancar (fluency) mencapai skor 80,47 pada siklus II, dan terakhir berpikir luwes (flexibility) mencapai skor sebesar 73,05 pada siklus II.
2. Aktivitas siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan telah mencapai salah satu indikator keberhasilan yaitu persentase rata-rata aktivitas siswa 70%. Pada siklus I persentase rata-rata aktivitas siswa sebesar 68,67% meningkat menjadi 79,19% pada siklus II, hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya semua aspek-aspek aktivitas siswa yang dimati dari siklus I ke siklus II. Aspek aktivitas siswa yang diamati meliputi aktivitas siswa dalam memberikan gagasan mencapai peningkatan yang paling besar yaitu sebesar 17,18%, aktivitas bertanya meningkat sebesar 11,61%, aktivitas fokus memperhatikan penjelasan guru meningkat sebesar 10,96% dan juga pada aktivitas melibatkan diri dalam diskusi kelompok meningkat sebesar 2,36%.
3. Siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) dan telah mencapai salah satu indikator keberhasilan yaitu persentase rata-rata respon positif siswa . Hal ini menunjukkan sebagian besar siswa memberikan respon positif atau menyukai pembelajaran dengan model KADIR diantaranya karena pembelajaranya menyenangkan, seru, mudah untuk memahami materi dengan bantuan LKS, dan juga siswa senang belajar dengan bantuan media dan aktivitas pembelajaran lainnya. Terdapat peningkatan respon positif siswa dari 69,33% pada siklus I menjadi 82,55% pada siklus II, dan menurunnya persentase respon negatif siswa sebesar 7,05% dan juga respon netral siswa menurun sebesar 6,17% dari siklus I ke siklus II.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) dapat menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk diterapkan dalam proses pembelajaran matematika atau pembelajaran lainnya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa.
2. Bagi para guru dapat mengembangkan model pembelajaran KADIR dan LKS sesuai dengan kemampuan berpikir matematis siswa yang ingin dikembangkan dan agar dapat selalu memberikan umpan balik yang positif kepada siswa, baik dalam bentuk pertanyaan maupun bimbingan agar dapat membantu siswa dalam membangun pengetahuannya secara mandiri dan aktif sehingga siswa dapat memahami konsep pelajaran dengan baik.
3. Bagi p a r a peneliti selanjutnya penelitian ini dapat dilanjutkan dengan meneliti keterkaitan model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) terhadap kemampuan matematik lain
atau variabel lainnya.
106
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad. “Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan”, https://sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULISAN/jgri1331699416.pdf, 30 Maret 2016.
Arifin, A.T., dkk. Keefektifan Strategi Pembelajaran REACT Pada Kemampuan Siswa Kelas VII Aspek Komunikasi Matematis, Jurnal Kreano. 5, 2014.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, Cet. 4, 2015.
Arikunto, Suharsimi., dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara, 2014.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. Undang-Undang Repubik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dwirahayu, Gelar., dan Ramli, Munasprianto (eds.). Pendekatan Baru dalam Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi. Jakarta: PIC IISEP UIN Jakarta, Cet. I, 2007.
Florida, Richard., et al. “Creativity and Prosperity: The Global Creativity Index 2015”, http://martinprosperity.org/media/Global-Creativity-Index-2015.pdf, 26 Oktober 2015.
Hendriana, Heris., dan Soemarmo, Utari. Penilaian Pembelajaran Matematika.
Bandung: PT Refika Aditama, 2014.
Indrawati., dan Setiawan, Wawan. “Modul Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan”,
https://aguswuryanto.files.wordpress.com/2011/03/modul-pakem-sd-dalam-mgmp-bermutu.pdf, 25 Maret 2016.
Kadir, “Pengembangan Model Pembelajaran KADIR Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis (Higher Order Thinking)”. Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional FITK UIN Jakarta: Prosiding Guru dalam Membangun Peradaban Bangsa, Jakarta 4-5 Mei 2015.
Khoiriyah, Jannatul., dkk. Pengembangan Rencana Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa Model Pembelajaran CORE dengan Teknik Mind Mapping Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung Kelas IX SMP. Kadikma. 5, 2014.
Kuswana, Wowo Sunaryo. Taksonomi Berpikir. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2011.
Lawshe, C. H. “A quantitative Approach to Content Validity”.
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.460.9380&rep=
rep1&type=pdf , 16 Desember 2015.
Mann, Eric Louis. “Mathematical Creativity and School Mathematics: Indicators of Mathematical Creativity in Middle School Students”, http://www.gifted.uconn.edu/siegle/Dissertations/Eric%20Mann.pdf, 1 Oktober 2015.
Maskur, Ali., dkk. Pembelajaran Matematika dengan Strategi ICARE Beracuan Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Materi Dimensi Tiga. Journal of Primary Educational. 2, 2012.
Mullis, Ina V. S., et al. “TIMMS 2011 International Research in Mathematic.
USA: International Association for the Evaluation of Educational
Achievement (IEA)”,
http://timssandpirls.bc.edu/timss2011/downloads/T11_IR_Mathematics_F ullBook.pdf, 15 Agustus 2015.
Munandar, Utami. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:
PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1985.
Nadjafikhaha, Mehdi., et al. “Mathematical Creativity: Some Definitions and Characteristics”. Procedia Social and Behavioral Sciences, www.scienedirect.com, 15 Oktober 2015.
National Research Council. Everybody Counts: A Report to the Nation on the Future of Mathematics Education. Washington DC: National Academy Press, 1989.
Rachmawati, Yeni., dan Euis Kurniati. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Kencana, Cet. 1, 2010.
Ruseffendi. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: PT Tarsito, 2005.
Sagala, Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, Cet. 10, 2012.
Sanjaya, Wina. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana, Cet. 3, 2011.
---. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana, Cet. 7, 2010.
Satiadarma, Monty P., dan Fidelis E. Waruwu. Mendidik Kecerdasan. Jakarta:
Pustaka Populer Obor, Ed. I, 2003.
Semiawan, Conny R., dkk (eds.). Metaphorming Beberapa Strategi Berpikir Kreatif. Jakarta: PT Indeks, Cet. I, 2013.
Siswono, Tatag Yuli Eko. Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pengajuan dan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Surabaya: Unesa University Press, 2008.
Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Sudarma, Momon. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Ed. I, 2013.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Ed. 1, Cet. 13, 2012.
---. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. 25, 2014.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta, 2013.
Sumarmo, Utari. Berpikir dan Disposisi Matematik: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan Pada Peserta Didik. Bandung: FPMIPA UPI, 2010.
---. Berpikir dan Disposisi Matematik Serta Pembelajarannya.
Bandung: FPMIPA UPI, 2013.
Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. 2, 2012.
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana, Cet. III, 2010.
Wardika, Windu Kd., dkk. Penerapan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending) Meningkatkan Hasil Aktivitas Belajar Perakitan Komputer Kelas XTKJ2 SMK Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2014/2015. e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha. 4, 2015.
Wijaya, Ariyadi. Pendidikan Matematika Realistik: Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu, Cet. 1, 2012.
Nama Sekolah : MTs Negeri 5 Jakarta Mata Pelajaran : Matematika
Kelas : VIII (Delapan)
Semester / TP : Genap / 2015-2016 Materi Pokok : Bangun Ruang Sisi Datar Alokasi Waktu : 2 × 40 Menit (Pertemuan Ke 1)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
A. Standar Kompetensi :
5. Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.
B. Kompetensi Dasar :
5.1 Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya.
C. Indikator :
1. Menyebutkan sifat-sifat dan unsur-unsur bangun ruang kubus.
2. Menyebutkan sifat-sifat dan unsur-unsur bangun ruang balok.
D. Tujuan Pembelajaran :
Setelah selesai proses pembelajaran menggunakan model KADIR diharapkan siswa dapat:
1. Menggambar bangun ruang kubus dan balok.
2. Mengidentifikasi sifat-sifat pada bangun ruang kubus dan balok.
3. Menyebutkan semua unsur-unsur pada bangun ruang kubus dan balok.
E. Materi / Bahan Ajar : Terlampir
F. Model Pembelajaran :
KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi).
G. Skenario Pembelajaran :
Tahap Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahuluan (10 menit)
Guru mengucapkan salam, menanyakan kabar siswa dan mempersiapkan fisik dan psikis siswa dengan memimpin doa.
Guru mengecek kehadiran siswa.
Guru memberikan apersepsi kepada siswa tentang contoh macam-macam bangun ruang sisi datar dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Guru meminta siswa untuk berhitung dari 1-8 dan untuk siswa yang mendapatkan nomor yang sama membentuk menjadi satu kelompok diskusi dan membagikan kepada setiap kelompok LKS dan kerangka bangun ruang kubus.
Kegiatan Inti Guru meminta siswa untuk mengamati dan memberikan contoh benda sekitar yang merupakan bangun ruang kubus dan balok.
Guru membimbing siswa dengan strategi brainstorming untuk dapat mengemukakan gagasan, pengetahuan atau konsep yang dimilikinya untuk menentukan sifat-sifat dan unsur-unsur dari benda-benda yang telah mereka sebutkan dan menghubungkanya dengan materi yang akan dipelajari tentang sifat-sifat pada bangun ruang kubus dan balok dan juga siswa dapat mendefinisikan unsur-unsur meliputi: rusuk, sisi, titik sudut, diagonal sisi, diagonal ruang dan bidang diagonal pada kubus dan balok.
Eksplorasi (25 menit)
1. Koneksi
2. Aplikasi Siswa berdiskusi dengan teman satu kelompoknya untuk menggambar bangun ruang kubus.
Guru memberikan permasalahan matematika
kepada siswa untuk menyebutkan semua unsur-unsur kubus dengan cara menerapkan
konsep definisi rusuk, sisi, titik sudut, diagonal sisi, diagonal ruang, dan bidang diagonal yang telah siswa dapatkan pada tahap koneksi.
Elaborasi (30 menit)
3. Diskursus Guru memantau setiap anggota kelompok untuk dapat aktif dalam berdiskusi, memeriksa argumen atau ide yang dimilikinya, dan bernalar untuk dapat mengidentifikasi sifat-sifat kubus dengan bantuan media kerangka kubus yang disediakan oleh guru.
Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas dan membimbing diskusi bersama atau tanya jawab antar kelompok.
4. Improvisasi Guru memberikan permasalahan kepada siswa untuk dapat menentukan nama bangun ruang sisi datar apabila bangun ruang kubus diperpanjang sisi-sisinya dan menunjuk setiap kelompok secara bergantian dan membimbingnya untuk dapat menyatakan ide, pendapat, dan jawabannya yang beragam dalam mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang tersebut.
Konfirmasi (10 menit)
Guru mengkonfirmasi hasil diskusi siswa tentang unsur-unsur dan sifat-sifat bangun ruang kubus dan balok dan tanya jawab jika ada yang belum dimengerti.
5. Refleksi
Guru menunjuk beberapa kelompok untuk dapat menyimpulkan materi hari ini yaitu perbedaan kubus dan balok berdasarkan sifat-sifatnya.
Guru memberikan kuis atau latihan soal kepada setiap kelompok dan dikumpulkan kepada guru.
Penutup (5 menit)
Guru menginfokan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutya dan tugas untuk setiap kelompok membuat kerangka kubus dari potongan kayu yang telah disediakan oleh guru.
Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan hamdalah dan salam.
H. Media Pembelajaran dan Alat :
Kerangka kubus, Penggaris, Whiteboard, Marker, Laptop, LCD, dan Penghapus.
I. Sumber Rujukan :
Sukino; Wilson Simangunsong. 2006. Matematika SMP Jilid 2 Kelas VIII.
Jakarta: Erlangga.
Umi Salamah. 2012. Berlogika dengan Matematika Untuk Kelas VIII SMP dan MTs. Platinum: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Nuniek Avianti Agus. 2007. Mudah Belajar Matematika 2: Untuk Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Sumber buku lain, Internet, dll.
J. Penilaian Hasil Belajar : Indikator Pencapaian
Kompetensi
Penilaian Teknik Bentuk
Instrumen Contoh Instrumen / Soal 1. Menyebutkan
b. Sebutkanlah semua diagonal sisi balok tersebut !
c. Apakah panjang semua diagonal ruang balok tersebut sama? Buktikanlah!
Jakarta, ...
Mengetahui,
Guru Mapel Matematika Peneliti,
Kumulus Krestiwi, S. Pd Qaishum Mardhiyati Al Mastury ... NIM : 1112017000059
Nama Sekolah : MTs Negeri 5 Jakarta Mata Pelajaran : Matematika
Kelas : VIII (Delapan)
Semester / TP : Genap / 2015-2016 Materi Pokok : Bangun Ruang Sisi Datar Alokasi Waktu : 2 × 40 Menit (Pertemuan Ke 2)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
A. Standar Kompetensi :
5. Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.
B. Kompetensi Dasar :
5.2 Membuat jaring-jaring kubus, balok, prisma dan limas.
5.3 Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma, dan limas.
C. Indikator :
1. Membuat beragam bentuk jaring-jaring kubus.
2. Menyelesaikan permasalahan matematika dengan menerapkan konsep luas permukaan kubus.
D. Tujuan Pembelajaran :
Setelah selesai proses pembelajaran menggunakan model KADIR diharapkan siswa dapat:
1. Membuat beragam bentuk jaring-jaring kubus.
2. Menemukan rumus umum luas permukaan bangun ruang kubus.
3. Menyelesaikan permasalahan matematika dengan menerapkan konsep luas permukaan bangun ruang kubus.
E. Materi / Bahan Ajar : Terlampir
F. Model Pembelajaran :
KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi).
G. Skenario Pembelajaran :
Tahap Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Pendahuluan (7 Menit)
Guru mengucapkan salam, menanyakan kabar siswa dan mempersiapkan fisik dan psikis siswa dengan memimpin doa.
Guru mengecek kehadiran siswa.
Guru memberikan apersepsi tentang aplikasi rumus luas permukaan dalam kehidupan sehari-hari dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Guru meminta siswa untuk duduk secara berkelompok seperti pertemuan sebelumnya dan membagikan kepada setiap kelompok LKS dan bangun ruang kubus dari karton.
Kegiatan Inti
Guru meminta siswa untuk mengamati kerangka kubus yang telah mereka buat dari potongan kayu dan menentukan jumlah dan ukuran potongan kayu yang digunakan untuk membuat kerangka kubus tersebut.
Guru membimbing setiap siswa dengan strategi brainstorming untuk dapat mengemukakan gagasan, pengetahuan atau konsep yang dimilikinya tentang karakteristik bangun ruang kubus dan menghubungkannya dengan konsep kerangka kubus sehingga didapatkan konsep jika kerangka kubus terdiri dari rusuk-rusuk kubus yang sama panjang atau sama dengan 12 x s, untuk s = panjang rusuk kubus.
Eksplorasi (25 Menit)
1. Koneksi
2. Aplikasi Siswa berdiskusi dengan teman satu kelompoknya untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah yaitu menentukan panjang rusuk kerangka kubus dan memberikan solusi tentang bagaimana cara menentukan luas triplek untuk menutupi seluruh permukaan kerangka kubus tanpa menggunakan rumus matematik.
Siswa membuat jaring-jaring kubus dengan cara menggunting media bangun ruang kubus yang terbuat dari karton sepanjang rusuk-rusuk yang telah ditentukan.
Guru berkeliling kelas membantu siswa dalam membuat jaring-jaring kubus.
Elaborasi (30 Menit)
3. Diskursus Guru memantau setiap anggota kelompok untuk
3. Diskursus Guru memantau setiap anggota kelompok untuk