a. Pengertian Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran CIRC pertama kali dikemukakan oleh Robert E. Slavin dkk. Alasan pengembangan model ini Karena kekhawatiran mereka terhadap pengajaran membaca, menulis dan seni berbahasa oleh pendidik masih dilakukan secara tradisional. Model Cooperative Integrated Reading and Composition termasuk salah satu model pembelajaran Cooperative Learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis.14 Model ini merupakan kooperatif terpadu atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Cooperative Integrated Reading and Composition telah berkembang bukan hanya di pakai pada pembelajaran
bahasa saja. Melainkan pada pelajaran matematika, model Cooperative Integrated Reading and Composition dikembangkan oleh Stevans dan Kolega pada akhir tahun 1980. Cooperative Integrated Reading and Composition adalah teknik pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam pelajaran membaca, menulis, dan seni bahasa.15 Di dalam model pembelajaran ini, peserta didik diminta untuk membuat kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri dari 4 atau 5 peserta didik. Sebelum membentuk kelompok, peserta didik di arahkan untuk saling bekerjasama dalam suatu kelompok. Salah satu peserta didik membacakan soal dan dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompoknya tentang isi penyelesaian soal-soal cerita matematika, kemudian berdiskusi kepada teman-temannya yang menciptakan suatu dorongan kepada teman yang lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain dan sebagainya. Peserta didik yang pandai, sedang, atau lemah dan masing-masing peserta didik sebaiknya merasa cocok satu sama lain.16 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta didik tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan pendidik, melainkan peserta didik juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. 17
15Robert E.Slavin, Cooperative Learning: Teori Riset, dan Praktek , (Bandung: Nusa Media,2015). h.210.
16Tri Indah Setyorini, Metode CIRC, Pustaka Jaya, (Jakarta: Pustaka Jaya, 2013), h.29. 17Op.Cit,.h. 29.
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Dalam mengajukan petanyaan kepada seluruh kelas, pendidik menggunakan beberapa fase sebagai sintaks didapatkan fase-fase berikut.18
1) Fase Pengenalan konsep.
Fase ini pendidik mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan pendidik, buku paket, atau media lainnya.
2) Fase Eksplorasi dan aplikasi.
Fase ini memberikan peluang pada peserta didik untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan pendidik.
3) Fase Publikasi.
Pada fase ini peserta didik mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya.
18Imas Kurniasih S.Pd & Berlin Sani, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran, (Jogjakarta: kata pena, Cetakan ketiga, 2016), h.90.
Model pembelajaran CIRC memiliki langkah-langkah sebagai berikut (dalam Stevan):19
1) Pendidik membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 peserta didik.
2) Pendidik menjelaskan secara singkat materi pembelajaran dan memberikan soal permasalah berupa soal cerita
3) Peserta didik bekerja sama saling membacakan, menemukan kata kunci dari soal cerita, memberikan jawaban dan penyelesaian soal cerita yang dituliskan pada lembar kertas.
4) Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok. 5) Peserta didik memberikan penguatan (reinfoecement)
6) Pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan. 7) Penutup.
Model CIRC menurut slavin antara lain:20
1) Peserta didik dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan isi bacaan.
2) Peserta didik harus menuliskan inti permasalahan dari bacaan dan menuliskan prosedur penyelesaian masalahnya secara sistematis.
19Miftahul Huda,M.Pd, Op.Cit, h. 222.
20Robert E.Slavin,Cooperative Learning: Teori Riset, dan Praktek , (Bandung: Nusa Media,2015). h.16.
3) Apabila terdapat kesulitan, peserta didik dapat membandingkan jawabannya ke kelompok lain untuk mendapatkan hasil yang benar.
4) Semua peserta didik akan mendapatkan informasi yang sama sehingga mempermudah dalam memahami materi belajar.
Dalam hal ini peneliti menggunakan langkah-langkah model pembelajaran CIRC dengan (dalam Stevan) dimana antara lain:
1) Pendidik membentuk kelompok-kelompok yang masingmasing terdiri dari 4-5 peserta didik.
2) Pendidik menjelaskan secara singkat materi pembelajaran dan memberikan soal permasalah berupa soal cerita
3) Peserta didik bekerja sama saling membacakan, menemukan kata kunci dari soal cerita, memberikan jawaban dan penyelesaian soal cerita yang dituliskan pada lembar kertas.
4) Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok. 5) Peserta didik memberikan penguatan (reinfoecement)
6) Pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan. 7) Penutup
Dapat dikatakan pertama pendidik membentuk kelompok menjadi 4-5 peserta didik, selama proses pembelajaran peserta didik saling bekerja sama. dalam menyelesaikan LKS (wacana), setiap peserta didik dalam kelompok siap untuk mempertanggung jawabkan hasil diskusinya. Dalam penilaian ini peserta didik yang ditunjuk secara acak siap dalam menjelaskan hasil diskusinya. Peserta didik bekerja
sama dan dituntut untuk belajar membaca dan memahami suatu soal cerita kemudian menuliskan penyelesaian soal cerita secara sistematis bersama kelompoknnya masing-masing. Di saat perwakilan kelompok menjawab dengan benar maka nilai optimal akan diberikan kepada seluruh anggota kelompok, sebaliknya saat perwakilan kelompok kurang tepat dalam menjawab maka nilai yang akan di berikan akan berkurang. Hal ini membuat anggota kelompoknya memahami jawaban dan menjawab dengan benar untuk mencapai nilai optimal secara kelompok. Dan untuk peserta didik yang mewakili kelompoknya nilai individunya di dapat saat peserta didik memberikan penguatan dan tes. Penguatan yang dimaksud adalah peserta didik membuat kesimpulan bersama peneliti tentang apa yang telah di bahas. Peneliti memberikan evaluasi atas hasil diskusi dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Secara khusus, Slavin dalam Suyitno menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:
1) CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.
2) Dominasi pendidik dalam pembelajaran berkurang.
3) Peserta didik termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok. 4) Para peserta didik dapat memahami makna soal dan saling mengecek
pekerjaannya.
Kekurangan model CIRC adalah:
1) Pada saat persentasi hanya peserta didik yang aktif tampil. 2) Tidak semua peserta didik bisa mengerjakan soal dengan teliti. 3. Metode Garis dalam Perkalian
a) Pengertian Perkalian
Menurut Ina Kurniawati (dalam Halfi arahmi) perkalian adalah suatu cara pendek dan mudah untuk menulis dan melakukan suatu penjumlahan. Perkalian suatu penjumlahan yang ditulis secara singkat. Contoh, 3 kali tujuh berarti 7 ditambah 7 ditambah 7 atau tiga buah angka tujuh dijumlahkan secara bersama. Tujuh dikali delapan berarti 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 atau tujuh buah angka delapan dijumlahkan secara bersama-sama. Konsep ini harus dipahami oleh anak. 21
Menurut Darmin (dalam Halfi Rahmi) Perkalian adalah operasi penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Oleh karena itu untuk memahami konsep perkalian, maka harus menguasai konsep penjumlahan. Lambang yang dipergunakan dalam perkalian adalah tanda silang (x).22 Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perkalian adalah suatu operasi penjumlahan yang ditulis secara berulang sebanyak lawan bilangan yang dikalikan. Peralian bisanya di bentuk dengan tanda (x).
21Halfi Rahmi, Meningkatkan Kemampuan Pengoperasian Perkalian Melalui Metode Horizontal Bagi Anak Tunarungu, (E-Jurnal Pendidikan Khusus,Volume 1 Nomor 2, Mei 2012), h. 117.
b) Pengertian Metode Garis
Menurut Auliya (dalam Elisa Arisandi) menyatakan bahwa metode garismatika yaitu metode dengan menghitung titik persilang pada garis, seperti menggambar garis mendatar dan garis tegak yang nantinya disilangkan, lalu berikan tanda titik pada persilangan garis tersebut lalu hitung banyak titik sebagai hasil perkaliannya. Hasil perkaliannya didapatkan hanya dengan menjumlahkan banyaknya titik potong persilangan garisnya. Operasi perkalian ini bersifat komutatif maka dapat bebas menentukan garis tegak dan mendatar untuk angka yang akan dikalikan.23
Metode horizontal di singkat metris dikembangkan oleh Stephanus Ivan Goenawan. Sekarang beliau adalah seorang dosen fisika di Universitas Katolik Atma Jaya. Konsep metris berawal dari pemikiran bahwa suatu bilangan dapat dipecah-pecah menjadi elemen-elemen satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. 24
Sig, Aa (dalam Halfi Ramadhani) menyatakan bahwa “metode horizontal adalah ilmu hitung dasar baru yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari metode tradisional/vertikal dan sempoa”. Metode horizontal merupakan metode dasar perhitungan aritmatika bentuk deduktif dari metode sempoa, metode ini bukan sekedar rumus atau formula untuk mempercepat perhitungan tetapi merupakan cara berfikir (The way of thinking).25 Menurut penjelasan di atas disimpulkan bahwa metode garis vertikal dan horizontal adalah suatu metode dengan menghitung
23Elisa Arisandi, Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Untuk Anak Diskalkulia Melalui Metode Garismatika, (E - Jurnal Pendidikan Khusus, Volume 3 Nomor 3, September 2014), h. 480.
24Halfi Rahmi, Op. Cit, h. 117. 25Ibid.
persilangan antara garis tegak (vertikal) dan garis datar (horizontal) yang kemudian diberikan tanda titik pada persilangan garis tersebut lalu hitung banyak titiknya. Kemudian dari setiap bilangan yang di bentuk garis datar dan tegak tersebut di bagi menjadi beberapa elemen-elemen satuan, puluhan, ratusan dan seterusnya. Hasil dari perkalian terhadap bilangan yang telah dibagi menjadi elemen-elemen tersebut dijumlahkan.
c) Langkah langkah Metode Garis
Metode perkalian garis ini “mewakilkan” bilangan atau angka yang akan dikalikan dengan satu garis, satu satuan dengan garis. Misal angka 2 akan diwakili 2 garis, angka berikutnya 5 diwakili dengan 5 garis, dan seterusnya. Kemudian garis yang mewakili disusun mendatar (horizontal) secara terpisah untuk angka perkalian pertama dan garis tegak (vetikal) terpisah untuk angka perkalian kedua. Hasil dari perkalian tersebut didapat dengan cara memberikan tanda titik pada persilangan garis tegak (vertikal) dan garis datar (horizontal) pada setiap pojok-pojoknya. Jumlah persilangan garis di bagian pojok kanan bawah mewakili angka terendah yaitu satuan. Selanjutkan kearah kiri atas adalah angka yang lebih tinggi.
Contoh Soal:
Dalam acara wisata sekolah dibutuhkan 25 unit mobil. Jika setiap mobil berisikan 15 orang maka berapa jumlah siswa semuanya?
Penyelesaian:
Diketahui: Banyaknya mobil = 25 dan isi mobil = 15 Diketahui: berapa jumlah siswa?
Jawab: 25 x 15 = …
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Buatlah angka 2 dengan mewakili 2 garis dan angka 5 mewakili 5 garis secara tegak. Antara garis pada angka 2 dan 5 diberi jarak terpisah.
2. Buatlah angka 1 dengan mewakili 1 garis dan angka 5 mewakili 5 garis secara mendatar. Antara garis pada angka 1 dan 5 diberi jarak terpisah.
3. Beri tanda titik pada persilangan dan garis tegak dan datar (gunakan warna agar terlihat)
4. Beri tanda “)” dan “(“untuk memisahkan bagian pojok atas yang paling tinggi elemennya dan pada pojok bawah bagian terendah yaitu disebut satuan, lalu di bagian tengah adalah puluhan pojok atas dijumlahkan dengan pojok bawah bagian kiri.
Jadi 25 x 15
Penyelesaian metode Horizontal p= Ratuan | Puluhan | Satuan = 2 x 1| 2 x 5 + 5 x 1 | 5 x 5 = 2 |10 + 5 | 25 = 2 | 15 | 25 = 2 | 15 + 2 | 5 = 2 | 17 | 5 = 2 + 1 | 7 | 5 = 3 | 7 | 5 = 375
Penyelesaian metode Vertikal 200
150 25 + 375
d) Tujuan Metode Garis
Metode garis bertujuan untuk membantu peserta didik yang bermasalah dalam menghapal tabel perkalian dasar 1-10 terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika. Dimana peserta didik tidak dibuat rumit hanya dengan membuat unsur garis tegak dan datar yang saling bersilangan dengan memberikan tanda titik pada persilangan tersebut dan menghitungnya.
e) Kelebihan dan Kekurangan Metode Garis
(1) Kelebihan Metode Garis sebagai suatu pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Mengembangkan pemikiran kritis dan ketrampilan kreatif peserta didik b. Dapat digunakan kapan saja, dimana saja, dan untuk siapa saja
c. Metode ini dapat menarik minat anak dalam belajar matematika karena penggunaannya ada unsur menggambar garis titik dengan warna warni, d. Dapat digunakan meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan
masalah peserta didik
(2) Kekurangan Metode Garis sebagai suatu pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Membutuhkan bayak waktu
b. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.
c. Tidak bisa digunakan bagi anak yang belum bisa berhitung dengan baik, 26 4. Model Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang mengutamakan hasil yang terukur dan pendidik berperan aktif dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk menghapal materi yang di sampaikan oleh pendidik dan materi pembelajaran lebih didominasi tentang konsep, fakta, dan perinsip.27 Dengan demikian, model konvensional merupakan suatu pembelajaran yang terpusat pada pendidik yang berdampak terhadap pembelajaran yang kurang optimal karena pendidik membuat peserta didik pasif dalam kegiatan. Model konvensional yang biasa di gunakan pendidik dalam materi pembelajaran perkalian ini dengan metode perkalian bersusun yang berdasarkan tabel perkalian dasar 1 sampai dengan perkalian 10. Dalam proses pembelajarannya peserta didik diharuskan menghapal semua yang terdapat dalam tabel perkalian dasar 1 sampai dengan perkalian 10. Metode ini bisa dinamakan metode konvensional dimana peserta didik hanya dikhususkan menghafal saja tanpa mengetahui konsepnya secara sistematis. Dalam proses nya pendidik tidak mengembangkan aspek kemampuan peserta didik sehingga banyak yang mengalami kesulitan dalam penyelesaian soal perkalian, karena pendidi berpikir bahwa peserta didik telah menghafal dan menguasai perkalian dasar.
26Elisa Arisandi, Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Untuk Anak Diskalkulia Melalui Metode Garismatika, (E – Jurnal Pendidikan Khusus, Volume 3 Nomor 3, September 2014), h. 480.
27Dr.H.Martinis Yamin.M.Pd., Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Group, 2013), h.59.
5. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition