PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) BERBANTUAN METODE
GARIS PADA SOAL CERITA MATEMATIKA
SKRIPSI
(Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
dalam Ilmu Pendidikan Matematika)
Oleh HESTI RIANTI NPM: 1211050104
Jurusan : Pendidikan Matematika
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) BERBANTUAN METODE
GARIS PADA SOAL CERITA MATEMATIKA
SKRIPSI
Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1 untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun oleh:
HESTI RIANTI NPM : 1211050104
Jurusan : Pendidikan Matematika
PEMBIMBING AKADEMIK I : Dr. Zulhannan, MA. PEMBIMBING AKADEMIK II : Rany Widyastuti,M.Pd
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) BERBANTUAN METODE
GARIS PADA SOAL CERITA MATEMATIKA Oleh
HESTI RIANTI
Berdasarkan hasil pra-survey di SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung peserta didik kelas IV diketahui bahwa kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika masih rendah. Selain itu, peserta didik juga mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan dalam perkalian. CIRC adalah model kooperatif terpadu membaca dan menulis. CIRC dalam matematika tidak hanya sekedar membaca dan menulis dari suatu bacaan akan tetapi perlu menemukan penyelesaian yang melibatkan perhitungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran CIRC, model pembelajaran CIRC berbantuan metode garis dan model Konvensional terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika peserta didik.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasy experimental design (desain eksperiment semu). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung tahun pelajaran 2016/2017. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara teknik jenuh dan acak kelas. Teknik pengumpulan data berupa soal tes kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika berupa soal uraian, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis varian satu jalan dengan sel tidak sama.
Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama, dengan taraf signifikan 0,05 dari hasil data diperoleh = 16,832 dan = 3,071. Nilai maka ditolak. Hal ini berarti terdapat pengaruh model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis terhadap kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika. Berdasarkan hasil komparasi ganda dapat disimpulkan bahwa (1) model pembelajaran CIRC sama baiknya dengan model pembelajaran CIRC berbantuan metode garis, (2) model pembelajaran CIRC sama baiknya dengan model pembelajaran konvensional, (3) model pembelajaran CIRC berbantuan metode garis lebih baik dari model pembelajaran konvensional.
Kata kunci : Model Pembelajaran CIRC, Metode garis dalam perkalian, Menyelesaikan soal-soal cerita matematika.
MOTTO
ِﻢْﺴِﺑ
ﻢﯿِﺣﱠﺮﻟا ِﻦَﻤْﺣﱠﺮﻟا ِ ﱠﷲ
َﻖَﻠَﺧ يِﺬﱠﻟٱ َﻚﱢﺑَر ِﻢ ۡﺳﭑِﺑ ۡأَﺮۡﻗٱ
١
ٍﻖَﻠَﻋ ۡﻦِﻣ َﻦ َٰﺴﻧِ ۡﻹٱ َﻖَﻠَﺧ
٢
ُمَﺮ ۡﻛَ ۡﻷٱ َﻚﱡﺑَرَو ۡأَﺮۡﻗٱ
٣
ِﻢَﻠَﻘۡﻟﭑِﺑ َﻢﱠﻠَﻋ يِﺬﱠﻟٱ
٤
ۡﻢَﻠ ۡﻌَﯾ ۡﻢَﻟ ﺎَﻣ َﻦ َٰﺴﻧِ ۡﻹٱ َﻢﱠﻠَﻋ
٥
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 29 Juli 1993, di Desa Sumberjo Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung yaitu putri dari dua bersaudara, Anak dari Bapak Sutarmin dengan Ibu Sundari.
Pendidikan dimulai dari SD Negeri 3 Sumberejo selesai pada tahun 2006. Kemudian melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 13 Bandar Lampung selesai pada tahun 2009. Sekolah Menegah Atas dilanjutkan di SMA PERSADA selesai pada tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis melanjutkan proses pendalaman ilmu di Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Matematika. Pada bulan Agustus 2015 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Mekar Sari, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan. Pada bulan November 2015 penulis melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SD Negeri 2 Sumberejo Bandar Lampung.
Bandar Lampung, Juni 2017
KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirahiim.
Puji syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beserta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Berkat petunjuk dari Allah SWT peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Integrted Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Sumberejo Bandar Lampung”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pada fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, peneliti merasa perlu menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Chairul Anwar, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung
2. Bapak Dr. Nanang Supriadi, M.Sc selaku ketua jurusan Pendidikan Matematika
3. Bapak Dr. Zulhannan, MA selaku pembimbing 1 yang selalu memberikan bimbingan, motivasi dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Ana Maria S selaku Wakil Kepala Sekolah SD Negeri 2 Sumberejo, Ermeni, S.Pd selaku wali kelas IVA Nurejeki , S.Pd selaku wali kelas IVB, Resmiyati, S.Pd selaku wali kelas IVC yang telah memberikan bantuan hingga terselesainya skripsi ini.
6. Bapak Ibu dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang telah membimbing dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis, serta Bapak Ibu staf Kasubag, staf Perpustakaan IAIN Raden Intan Lampung.
7. Teman-teman seperjuangan jurusan Pendidikan Matematika angkatan 2012 terkhususkan (Yulita Ridhawati, Popy, Meyza, Octa, Anis, Putri, Hafiza, tia, Maya, Rully, Renny, Nisa, Dila) terima kasih atas kebersamaan dan persahabatan yang telah terbangun selama ini.
8. Almamaterku tercinta UIN Raden Intan Lampung yang ku banggakan.
Akhirnya, dengan iringan terima kasih peneliti memanjatkan do’a kepada Allah SWT semoga jerih payah dan amal baik bapak-bapak dan ibu-ibu serta teman-teman sekalian akan mendapatkan balasan yang baik pula dari Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti pada khususnya dan para pembaca pada umumnya. Aamiiin.
Bandar Lampung, Juni 2017
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ... i
ABSTRAK ... ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv Latar Belakang Masalah 1 A.IdentifikasiMasalah ………...10
B.Pembatasan Masalah ... 11
C. Rumusan Masalah ... 11
D. Tujuan Penelitian ... 11
E. Manfaat Penelitian ... 12
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 12
G. Definisi Operasional ... 13
BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori……… 16
1. Pengertian Metode Pembelajaran Kooperatif……….. 16
2. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Compositon (CIRC) ………17
a. Pengertian Model Pembelajaran CIRC…………. ……… 17
b. Langkah- langkah Model Pembelajaran CIRC………. 19
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC………22
3. Metode Garis dalam Perkalian ……….23
b. Pengertian Metode Garis ………..24
c. Langkah-langkah Metode Garis ………25
d. Tujuan Metode Garis ………27
e. Kelebihan dan Kekurangan Metode Garis ………27
4. Model Konvensional ………28
5. Model CIRC berbantuan Metode Garis ………29
6. Soal-soal Cerita Matematika ………30
a. Pengertian Soal-soal Cerita Matematika ... 30
b. Langkah-langkah dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita ... 31
B. Kerangka Berfikir ………...33
C. Hipotesis ………35
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ……….….38
B. Variabel Penelitian……… .38
1. Variabel Bebas (Independent) ………...… .38
2. Variabel Terikat (Dependent) ………...… ..38
C. Desain Penelitian ………...… ………39
D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ……… ..,40
1. Populasi ………...… ………...40
2. Sampel………...… ……….. …40
3. Teknik Sampling………...… ………40
E. Teknik Pengumpulan Data………...… ………..41
1. Dokumentasi ………...… ……….41
2. Observasi ………...… ………. 42
3. Tes………...… ……….43
4. Wawancara ………...… ………..43
Cerita Matematika………...… ………44
2. Pedoman Penskoran Soal kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika ………... 45
G. Uji Coba Instrumen………...… ………46
1. Uji Validitas………...… ………46
2. Uji Reliabilitas………...… ………49
3. Uji Tingkat Kesukaran………...… ……….50
4. Uji Daya Pembeda ………...… ………….52
H. Teknik Analisis Data………...… ……….53
1. Uji Prasyarat Analisis ………...… ………53
a. Uji Normalitas ………...… ……….53
b. Uji Homogenitas ………...… …….55
2. Uji Hipotesis………...… ………57
3. Uji Lanjut………...… ……….60
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Data Hasil Uji Coba Instrumen ... 63
1. Uji Validitas ... 63
2. Uji Reliabilitas ... 65
3. Uji Tingkat Kesukaran ... 66
4. Uji Daya Beda ... 67
5. Hasil Kesimpulan Uji Coba Tes Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika ... 68
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 94 B. Saran ... 95 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Daftar Nilai Akhir Semester ... 4
Tabel 3.1 Desain Penelitian ... 39
Tabel 3.2 Indikator Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika . .... 45
Tabel 3.3 Kategori Tingkat Kesukaran. ... 51
Tabel 3.4 Daya Beda ... 53
Tabel 3.5 Rangkuman Analisis Variansi ... 60
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika ... 64
Tabel 4.2 Hasil Uji Tingkat Kesukaran Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika. ... 66
Tabel 4.3 Hasil Uji Daya Beda Butir Soal. ... 67
Tabel 4.4 Kesimpulan Instrumen Soal ... 68
Tabel 4.5 Deskripsi Data Nilai Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Cerita Matematika ... 70
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika ... 72
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Bartlett ... 74
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Analisis Variansi... 75
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kisi-kisi soal kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita mtk ... 96
2. Soal kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita mtk sebelum validasi ... 98
3. Soal kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita mtk sesudah validasi ... 101
4. Daftar Nama Peserta didik uji instrument ... 105
5. Uji Validitas ... 106
6. Uji Reliabilitas ... 112
7. Uji Tingkat Kesukaran ... 119
8. Uji Daya Beda... 123
9. Data Nilai Siswa ... 129
10. Uji Normalitas Kelas Eksperimen 1... 135
11. Uji Normalitas Kelas Eksperimen 2... 138
12. Uji Normalitas Kelas Kontrol ... 141
13. Uji Homogenitas ... 144
14. Uji Hipotesis ANAVA Sel Tak Sama ... 147
15. Uji Komparasi Ganda ... 153
16. Tabel r ... 158
17. Tabel F ... 159
18. Tabel liliofers ... 160
19. Tabel chi ... 161
20. Tabel Z ... 162
21. Profil Sekolah SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung ... 166
22. Silabus ... 169
23. RPP ... 170
24. Lembar Kerja Siswa ... 213
DAFTAR BAGAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan zaman yang semakin modern membuat adanya sumber daya
manusia yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia merupakan prasyarat
untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia adalah pendidikan. Pendidikan ialah suatu usaha, pengaruh,
perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan
anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas
hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang dicipatakan
oleh orang dewasa seperti, sekolah, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan di
tunjukkan kepada orang yang belum dewasa.1 Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa, dan negara.2
1 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h.2.
Pendidikan merupakan suatu pembelajaran yang terencana dalam
mengembangkan potensi peserta didik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan
masyarakat dalam berbagai bidang diantaranya matematika tentunya untuk
menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Matematika merupakan
pengetahuan yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan
sehari-hari. Secara formal pelajaran matematika telah diberikan kepada peserta didik
semenjak tingkat sekolah dasar hingga kejenjang perguruan tinggi dengan harapan
akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Matematika merupakan
salah satu ilmu pengetahuan yang pada dasarnya dapat di pandang sebagai alat, pola
pikir, dan ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan. Matematika merupakan ilmu
yang melayani ilmu-ilmu yang lain diantaranya ilmu sosial ekonomi dan alam,
sehingga matematika harus dipelajari serta dipahami untuk kebutuhan hidup. Dengan
demikian diperlukan penguasaan matematika sejak dini untuk menguasai dan
menciptakan teknologi di masa depan, seperti yang dijelaskan dalam Q.S. Yunus ayat
5, yaitu:
Artinya:
Maksud dari ayat tersebut adalah Allah SWT menjadikan semua benda yang
disebut itu bukanlah dengan sia-sia, melainkan dengan penuh hikmah, dan Allah
SWT memberi penjelasan kepada orang-orang yang mengetahui. Banyak orang yang
memandang matematika sebagai bidang studi yang sulit meskipun demikian semua
orang harus mempelajari matematika karena matematika merupakan salah satu sarana
untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.seperti halnya Bahasa, membaca,
dan menulis, kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin jika tidak
peserta didik akan menghadapi masalah karena hampir semua bidang studi
memerlukan matematika.
Kemampuan menyelesaikan suatu masalah matematika pada proses pembelajaran
di sekolah sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan
soal-soal matematika yang berbentuk soal-soal cerita. Jika seorang peserta didik tidak memiliki
kemampuan mennyelesaikan masalah maka akan dipastikan peserta didik akan
mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika yang berdampak pada
peserta didik tersebut akan melakukan kesalahan.
Kesalahan dalam proses pembelajaran akan berlangsung pada hasil belajar
matematika. Hal ini bermakna bahwa pendidik perlu mewujudkan suasana
pembelajaran yang dapat merangsang minat peserta didik dengan suasana
pembelajaran yang menarik dan harmonis, tetapi pada kenyataannya pendidik yang
lebih menyukai menggunakan metode konvensional saja. Hal ini dikarenakan adanya
anggapan dengan menggunakan metode kovensional tidak akan menyusahkan
media pembelajaran. Hal ini yang menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan
kurang dalam memahami urutan penyusunan angka.
Berdasarkan prasurvei di SDN 2 Sumberejo dengan mewawancarai Ibu Ana
selaku pendidik di kelas IV mengatakan bahwa dalam proses belajar mengajar beliau
hanya menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah dan
penugasan, akibatnya kurang aktif dalam penyelesaian soal-soal cerita yang terlihat
dari rendahnya hasil belajar peserta didik. Rendahnya hasil belajar matematika
peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Sumberejo Tahun Ajaran 2016/2017. Nilai ujian
akhir semester masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) matematika
yaitu 65.
Tabel 1.1
Daftar Nilai Ujian Akhir Semester
Peserta Didik Kelas IV SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung
No Kelas Nilai Peserta didik Jumlah peserta didik
Sumber : Daftar nilai ujian akhir semester tahun pelajaran 2016/2017 bidang studi matematika kelas IV SD N 2 Sumberejo. Tabel 1.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 113 peserta didik yang mendapat
nilai ≥ 65 berjumlah 47 dengan persentasi 41,59% dan mendapat nilai < 65 berjumlah
72 dengan persentasi 63,71% dari seluruh peserta didik kelas IV SD N 2 Sumberejo.
Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan belum sesuai harapan. Hal ini
disebabkan oleh rendahnya hasil belajar peserta didik.
Rendahnya hasil belajar peserta didik dikarenakan pembelajaran yang dipakai
dalam kelas belum pernah menggunakan model pembelajaran selain model
konvensional. Penggunaan model pembelajaran yang tepat disertai dengan
penggunaan metode saat menyampaikan materi membuat peserta didik dapat berpikir
dan aktif dalam pembelajaran, serta mencapai pemahaman terhadap materi yang
disampaikan oleh pendidik. Model pembelajaran yang diperkirakan dapat di terapkan
dengan tepat, menarik, inovatif dan efisien dalam pembelajaran matematika dan dapat
mengembangkan kemampuan penyelesaian soal-soal cerita matematika peserta didik
dalam kegiatan belajar mengajar matematika yang berlangsung di kelas IV.
Peserta didik dilatih untuk mengembangkan kreativitasnya dalam mengerjakan
soal cerita yang dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menumbuhkan
pemahaman terhadap materi. Salah satunya model pembelajaran yaitu model
pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah suatu
model pembelajaran pengelompokan kecil baik homogen atau heterogen dengan
intruksi pendidik tentang keterampilan membaca dan menulis, kemudian praktik, lalu
penilaian, dan kuis.3 Menurut Wawan Suarjana, dkk model Cooperative Reading and
Composition adalah salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kritis dan bekerja sama
dalam kelompoknya sehingga mendapat kemudahan dengan serius dalam
menyelesaikan soal cerita melalui keterpaduan membaca dengan menulis.4 Model
pembelajaran CIRC ini khusus dalam pembelajaran matematika untuk mengerjakan
soal cerita dalam kehidupan sehari-hari dan dibantu dengan metode garis agar dapat
memudahkan peserta didik dalam memahami permasalahan perkalian dan dapat
memudahkan peserta didik yang kesulitan dalam belajar matematika.
Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik kelas IV di SD Negeri 2
Sumberejo Bandar Lampug bahwa peserta didik mengalami kesulitan belajar
matematika khususnya dalam materi perkalian dalam cerita. Rendahnya kemampuan
peserta didik dalam penyelesaian soal-soal cerita matematika terlihat dari
kesalahan-kesalahan dalam penyelesaian soal, seperti tidak dapat mengubah informasi yang
diberikan kedalam ungkapan matematika. Hal ini merupakan kurangnya peserta didik
dalam memahami maksud soal sehigga kebingungan dalam mengambil langkah
penyelesaian dan kesalahan konsep pada diri peserta didik dalam menyusun perkalian
terhadap penempatan angka antara ribuan, ratusan, puluhan, serta satuannya.
Penggunaan metode garis saat pembelajaran sangat berperan penting dalam
pemahaman materi perkalian sehingga peserta didik dapat menyelesaikan soal-soal
cerita matematika dan dapat membantu peserta didik memahami materi yang
dipelajari dengan baik. Metode garis adalah suatu metode yang terdiri dari dua garis
yaitu garis horizontal dan vertikal. Metode garis datar (Horizontal) dan garis tegak
(Vertikal) juga dapat disebut dengan metode garis. Metode garis adalah perkalian
yang memisahkan bilangan yang akan di kalikan dengan garis. Metode garis ini
sangatlah mudah sebab peserta didik tidak perlu menghapal perkalian dasar, metode
ini menggunakan cara visual yang mudah di pahami dan di lihat, metode ini
mengharuskan anak-anak untuk berhitung saja.
Langkah- langkah dalam metode garis ini sangat mudah, dengan membentuk
garis-garis saja tanpa harus hapal tabel perkalian. Langkah 1) Buat garis horizontal
(mendatar) sebanyak angka yang diminta. 2) Buat garis vertikal sebanyak angka yang
akan dikalikan dengan angka yang pertama. 3) langkah 1 dan 2 akan membentuk
suatu perpotongan garis, pada perpotongn tersebut berikan tanda titik. 4) dari titik-titik
tersebut dipisahkan menjadi beberapa bagian seperti puluh ribuan, ribuan, ratusan,
puluhan, satuan. Metode garis bisa menjadi salah satu cara meningkatkan kemampuan
peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal cerita, sehingga peserta didik yang masih
sulit dalam menggunakan metode bersusun dalam perkalian saat menyusun
angka-angka dapat teratasi. Metode ini sangat membantu bagi anak-anak yang mengalami
kesulitan dalam menghapal tabel perkalian dan penyusunan angka dalam metode
bersusun.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa
peneliti terdahulu, salah satunya adalah peneltian yang dilakukan oleh Siti Nur
Azizah dkk Hasil dari penelitian Siti Nur Azizah dkk menunjukkan bahwasanya
model Cooperative Reading and Composition (CIRC) dapat membantu peserta didik
yang digunakan peserta didik adalah 1) langkah orientasi, yang terdiri dari
penyampaian tujuan dan apersepsi; 2) langkah organisasi, terdiri dari penjelasan
materi, pembagian kelompok, permainan ular tangga, pembagian bahan bacaan; 3)
langkah pengenalan konsep, yaitu diskusi kelompok; 4) langkah publikasi,
penyampaian hasil diskusi. 5) langkah penguatan dan refleksi.5
Penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh Elisa Arisandi, menyimpulkan bahwa
metode garismatika yaitu metode dengan menghitung titik persilangan pada garis,
seperti meggambar garis mendatar dan garis tegak yang nantinya disilangkan, lalu
berikan tanda titik pada persilangan garis tersebut lalu hitung banyak titik sebagai
hasil perkaliannya. Perkalian dengan metode garismatika sangat efektif untuk
mengenalkan operasi perkalian pada anak-anak, karena ada unsur menggambar garis
dan titik dengan warna-warni yang nantinya akan membuat anak menarik belajar.6
Penelitian yang dilakukan oleh Siti Mahmudah, bahwa pentingnya keterampilan
dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika dengan menggunakan media kartu
kerja pada peserta didik kelas II SD N Purworejo Kecamatan Kandat Kabupaten
Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan
masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model
matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap
kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan
5 Siti Nur Azizah, imam Suyanto, tri saptuti susanti, Penerapan Model CIRC dengan Media Ular Tangga dalam Peningkaan Penyelesaian Soal Cerita pada Peserta Didik Kelas V SDN 2 Kutosari tahun ajaran 2015/2016, (Jurnal Kalam Cendekia, Volume 4, Nomor 4.1, h. 470.
masalah yang sesuai dengan situasi (Contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika dan untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti computer, alat peraga, atau media lain.7
Hal yang sama juga dilakukan oleh Menurut Hudojono (dalam wartini) langkah-langkah yang harus dilakukan agar peserta didik terampil menyelesaikan soal cerita adalah:
a) Sedapat mungkin peserta didik membaca soal cerita itu sendiri;
b) Tanyakan kepada peserta didik beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah soal cerita itu sudah benar-benar dimengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya (1) Apa yang kamu ketahui dari soal itu?
(2) Apa saja dari soal itu yang kamu peroleh? (3) Apa yang hendak kamu cari?
(4) Bagaimana kamu akan menyelesaikan soal itu?
c) Meminta kepada peserta didik untuk memilih operasi dan jelaskan metode penyelesaian soal yang di maksud dapat dipergunakan
d) Menyelesaikan soal cerita
e) Diskusikan jawab yang di peroleh dan interprestasikan hasil tersebut.8
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan Metode Garis terhadap Kemampuan Menyelesaikan
Soal-Soal Cerita Matematika bagi Peserta Didik Kelas IV SD N 2 Sumberejo Kemiling Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil prapenelitian, maka identifikasi masalah yang dapat diketahui sebagai berikut:
1. Peserta didik kurang tertarik terhadap pelajaran matematika di SD Negeri 2 Sumberejo Kemiling Bandar Lampung.
2. Pendidik masih menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga peserta didik menjadi pasif dan kurang dalam memahami urutan penyusunan 3. Nilai peserta didik kelas IV SD N 2 Sumberejo Kemiling Bandar Lampung masih
di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).
4. Kemampuan penyelesaian soal-soal cerita matematika peserta didik masih rendah.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti
membatasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model
pembelajaran CIRC berbantuan dengan metode garis Horizontal dan Vertikal
dalam batasan pemahaman perkalian matematika.
2. Kemampuan penyelesaian soal-soal cerita perkalian matematika peserta didik.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah maka rumusan masalah
penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Cooperative Integreted Reading and Composition (CIRC), model pembelajaran Cooperative Integreted Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis, dan model konvensional terhadap kemampuan menyelesaian soal-soal cerita matematika peserta didik?
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Pihak Sekolah
Memberikan pengetahuan baru dalam penggunaan model pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik dapat aktif dalam proses pembelajaran.
2. Bagi Pendidik
Membantu pendidik dalam memilih model belajar yang lebih alternatif agar peserta didik dapat mengatasi kesulitan belajar pada semua materi yang diajarkan sehingga kemampuan peserta didik dalam memahami konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dapat berkembang secara optimal.
3. Bagi Peserta Didik
a. Memberi pengalaman belajar yang berbeda dari proses pembelajaran yang biasa dilakukan, sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan bosan ketika belajar matematika.
G. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk membatasi masalah agar tidak mengaburkan pengertian yang dimaksud dan dengan memperhatikan judul di atas, maka ruang lingkup dari penelitian ini adalah:
1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini menitikberatkan pada kemampuan peserta didik terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika dalam perkalian menggunakaan model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis (garis horizontal dan garis vertikal ).
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung.
3. Wilayah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD N 2 Sumberejo Bandar Lampung. 4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017. H. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan sebuah model pembelajaran kooperatif yang menekankan unsur
membaca dan menulis untuk menyelesaikan soal-soal cerita. Penerapan model ini: a) langkah orientasi, yang terdiri dari penyampaian tujuan dan apersepsi;
b) langkah organisasi, terdiri dari penjelasan materi, pembagian kelompok, penggunaan metode garis, pembagian bahan bacaan;
c) langkah pengenalan konsep, yaitu diskusi kelompok;
d) langkah publikasi, penyampaian hasil diskusi.
e) langkah penguatan dan refleksi yaitu peserta didik dan pendidik membuat
kesimpulan bersama. Penutup. Terakhir pembelajaran pendidik memberikan kuis.
2. Metode garis adalah perpotongan garis datar dan garis tegak yang menghasilkan
titik potong antara garis vertikal dan horizontal. Metode ini dapat membantu peserta didik yang kesulitan dalam menghapal tabel perkalian serta menyusun
angka ke bawah dengan menggunakan metode bersusun.
3. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis adalah suatu model pembelajaran ini sama halnya
dengan langkah-langkah dalam model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) namun, di khususkan saat peserta didik
mengerjakan wacana (lembar kerja) dengan berbantuan metode garis saat mengerjakan soal-soal cerita.
Suatu bagian yang sangat penting dalam pembelajaran matematika dimana peserta didik dimungkinkan mendapatkan suatu pengalaman yang di dapat dari
pengetahuan serta keterampilan untuk diterapkan pada menyelesaikan soal-soal cerita. Menurut Hudojono (dalam wartini) langkah-langkah yang harus dilakukan
agar peserta didik terampil menyelesaikan soal cerita adalah: a) Sedapat mungkin peserta didik membaca soal cerita itu sendiri
b) Tanyakan kepada peserta didik beberapa pertanyaan untuk mengetahui
apakah soal cerita itu sudah benar-benar dimengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya:
(1) “Apa yang kamu ketahui dari soal itu?” (2) “Apa saja dari soal itu yang kamu peroleh?” (3) “Apa yang hendak kamu cari?”
(4) “Bagaimana kamu akan menyelesaikan soal itu?”
c) Meminta kepada peserta didik untuk memilih operasi dan jelaskan metode
penyelesaian soal yang di maksud dapat dipergunakan; d) Menyelesaikan soal cerita;
e) Diskusikan jawab yang di peroleh dan interprestasikan hasil tersebut.9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah sinergi yang muncul melalui kerjasama
akan meningkatkan motivasi yang jauh lebih besar dari pada melalui lingkaran kompetitif individual.10 Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar peserta didik dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan.11 Menurut H.karli dan Yulia, menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan
pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang
atau lebih.12
Menurut Nurhadi dan Sinduk pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi peserta didik bukan hanya pendidik dan buku ajar, tetapi juga sesama peserta didik.13 Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah serangkaian pembelajaran kelompok yang memiliki
10Miftahul Huda,M.Pd., Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran, Pustaka Pelajaran, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2013), h.111
11Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h.30 12Ibid, h.165
tujuan, peserta didik saling bekerja sama dan berusaha dalam kesempatan memanfaatkan sumber belajar dengan teman kelompok dari sikap, disamping itu
media buku, dan sumber belajar lainnya. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua peserta didik dapat menguasai materi pada tingkatnya.
Sehingga semua peserta didik mendapatkan pemahaman konsep dengan benar. Tujuan paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para peserta didik pengetahuan, konsep, kemampuan dan pemahaman, yang mereka
butuhkan.
2. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and
Compositon (CIRC)
a. Pengertian Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran CIRC pertama kali dikemukakan oleh Robert E. Slavin dkk.
Alasan pengembangan model ini Karena kekhawatiran mereka terhadap pengajaran membaca, menulis dan seni berbahasa oleh pendidik masih dilakukan secara
tradisional. Model Cooperative Integrated Reading and Composition termasuk salah satu model pembelajaran Cooperative Learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis.14 Model ini merupakan kooperatif terpadu atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Cooperative Integrated Reading and Composition telah berkembang bukan hanya di pakai pada pembelajaran
bahasa saja. Melainkan pada pelajaran matematika, model Cooperative Integrated Reading and Composition dikembangkan oleh Stevans dan Kolega pada akhir tahun
1980. Cooperative Integrated Reading and Composition adalah teknik pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam pelajaran membaca, menulis, dan seni bahasa.15 Di dalam model pembelajaran ini, peserta didik diminta untuk membuat kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri dari 4 atau 5 peserta didik. Sebelum membentuk kelompok, peserta didik di arahkan untuk saling bekerjasama dalam
suatu kelompok. Salah satu peserta didik membacakan soal dan dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompoknya tentang isi penyelesaian soal-soal cerita
matematika, kemudian berdiskusi kepada teman-temannya yang menciptakan suatu dorongan kepada teman yang lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain dan sebagainya. Peserta didik yang pandai, sedang, atau lemah dan
masing-masing peserta didik sebaiknya merasa cocok satu sama lain.16 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta didik tidak hanya menerima saja materi pengajaran
yang diberikan pendidik, melainkan peserta didik juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. 17
15Robert E.Slavin, Cooperative Learning: Teori Riset, dan Praktek , (Bandung: Nusa Media,2015). h.210.
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Dalam mengajukan petanyaan kepada seluruh kelas, pendidik menggunakan
beberapa fase sebagai sintaks didapatkan fase-fase berikut.18
1) Fase Pengenalan konsep.
Fase ini pendidik mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang
mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari
keterangan pendidik, buku paket, atau media lainnya.
2) Fase Eksplorasi dan aplikasi.
Fase ini memberikan peluang pada peserta didik untuk mengungkap pengetahuan
awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang
mereka alami dengan bimbingan pendidik.
3) Fase Publikasi.
Pada fase ini peserta didik mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan,
membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat
bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil
pengamatannya.
Model pembelajaran CIRC memiliki langkah-langkah sebagai berikut (dalam
Stevan):19
1) Pendidik membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5
peserta didik.
2) Pendidik menjelaskan secara singkat materi pembelajaran dan memberikan soal
permasalah berupa soal cerita
3) Peserta didik bekerja sama saling membacakan, menemukan kata kunci dari soal
cerita, memberikan jawaban dan penyelesaian soal cerita yang dituliskan pada
lembar kertas.
4) Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
5) Peserta didik memberikan penguatan (reinfoecement)
6) Pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan.
7) Penutup.
Model CIRC menurut slavin antara lain:20
1) Peserta didik dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan isi
bacaan.
2) Peserta didik harus menuliskan inti permasalahan dari bacaan dan menuliskan
prosedur penyelesaian masalahnya secara sistematis.
19Miftahul Huda,M.Pd, Op.Cit, h. 222.
3) Apabila terdapat kesulitan, peserta didik dapat membandingkan jawabannya ke
kelompok lain untuk mendapatkan hasil yang benar.
4) Semua peserta didik akan mendapatkan informasi yang sama sehingga
mempermudah dalam memahami materi belajar.
Dalam hal ini peneliti menggunakan langkah-langkah model pembelajaran CIRC
dengan (dalam Stevan) dimana antara lain:
1) Pendidik membentuk kelompok-kelompok yang masingmasing terdiri dari 4-5
peserta didik.
2) Pendidik menjelaskan secara singkat materi pembelajaran dan memberikan soal
permasalah berupa soal cerita
3) Peserta didik bekerja sama saling membacakan, menemukan kata kunci dari soal
cerita, memberikan jawaban dan penyelesaian soal cerita yang dituliskan pada
lembar kertas.
4) Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
5) Peserta didik memberikan penguatan (reinfoecement)
6) Pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan.
7) Penutup
Dapat dikatakan pertama pendidik membentuk kelompok menjadi 4-5 peserta
didik, selama proses pembelajaran peserta didik saling bekerja sama. dalam
menyelesaikan LKS (wacana), setiap peserta didik dalam kelompok siap untuk
mempertanggung jawabkan hasil diskusinya. Dalam penilaian ini peserta didik yang
sama dan dituntut untuk belajar membaca dan memahami suatu soal cerita kemudian
menuliskan penyelesaian soal cerita secara sistematis bersama kelompoknnya
masing-masing. Di saat perwakilan kelompok menjawab dengan benar maka nilai
optimal akan diberikan kepada seluruh anggota kelompok, sebaliknya saat perwakilan
kelompok kurang tepat dalam menjawab maka nilai yang akan di berikan akan
berkurang. Hal ini membuat anggota kelompoknya memahami jawaban dan
menjawab dengan benar untuk mencapai nilai optimal secara kelompok. Dan untuk
peserta didik yang mewakili kelompoknya nilai individunya di dapat saat peserta
didik memberikan penguatan dan tes. Penguatan yang dimaksud adalah peserta didik
membuat kesimpulan bersama peneliti tentang apa yang telah di bahas. Peneliti
memberikan evaluasi atas hasil diskusi dalam pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik.
c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Secara khusus, Slavin dalam Suyitno menyebutkan kelebihan model pembelajaran
CIRC sebagai berikut:
1) CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dalam
menyelesaikan soal pemecahan masalah.
2) Dominasi pendidik dalam pembelajaran berkurang.
3) Peserta didik termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.
4) Para peserta didik dapat memahami makna soal dan saling mengecek
pekerjaannya.
Kekurangan model CIRC adalah:
1) Pada saat persentasi hanya peserta didik yang aktif tampil.
2) Tidak semua peserta didik bisa mengerjakan soal dengan teliti.
3. Metode Garis dalam Perkalian
a) Pengertian Perkalian
Menurut Ina Kurniawati (dalam Halfi arahmi) perkalian adalah suatu cara pendek
dan mudah untuk menulis dan melakukan suatu penjumlahan. Perkalian suatu
penjumlahan yang ditulis secara singkat. Contoh, 3 kali tujuh berarti 7 ditambah 7
ditambah 7 atau tiga buah angka tujuh dijumlahkan secara bersama. Tujuh dikali
delapan berarti 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah 8 ditambah
8 atau tujuh buah angka delapan dijumlahkan secara bersama-sama. Konsep ini harus
dipahami oleh anak. 21
Menurut Darmin (dalam Halfi Rahmi) Perkalian adalah operasi penjumlahan
yang dilakukan secara berulang. Oleh karena itu untuk memahami konsep perkalian,
maka harus menguasai konsep penjumlahan. Lambang yang dipergunakan dalam
perkalian adalah tanda silang (x).22 Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa perkalian adalah suatu operasi penjumlahan yang ditulis secara berulang
sebanyak lawan bilangan yang dikalikan. Peralian bisanya di bentuk dengan tanda
(x).
21Halfi Rahmi, Meningkatkan Kemampuan Pengoperasian Perkalian Melalui Metode Horizontal Bagi Anak Tunarungu, (E-Jurnal Pendidikan Khusus,Volume 1 Nomor 2, Mei 2012), h. 117.
b) Pengertian Metode Garis
Menurut Auliya (dalam Elisa Arisandi) menyatakan bahwa metode garismatika
yaitu metode dengan menghitung titik persilang pada garis, seperti menggambar garis
mendatar dan garis tegak yang nantinya disilangkan, lalu berikan tanda titik pada
persilangan garis tersebut lalu hitung banyak titik sebagai hasil perkaliannya. Hasil
perkaliannya didapatkan hanya dengan menjumlahkan banyaknya titik potong
persilangan garisnya. Operasi perkalian ini bersifat komutatif maka dapat bebas
menentukan garis tegak dan mendatar untuk angka yang akan dikalikan.23
Metode horizontal di singkat metris dikembangkan oleh Stephanus Ivan
Goenawan. Sekarang beliau adalah seorang dosen fisika di Universitas Katolik Atma
Jaya. Konsep metris berawal dari pemikiran bahwa suatu bilangan dapat
dipecah-pecah menjadi elemen-elemen satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. 24
Sig, Aa (dalam Halfi Ramadhani) menyatakan bahwa “metode horizontal adalah
ilmu hitung dasar baru yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari metode
tradisional/vertikal dan sempoa”. Metode horizontal merupakan metode dasar
perhitungan aritmatika bentuk deduktif dari metode sempoa, metode ini bukan
sekedar rumus atau formula untuk mempercepat perhitungan tetapi merupakan cara
berfikir (The way of thinking).25 Menurut penjelasan di atas disimpulkan bahwa
metode garis vertikal dan horizontal adalah suatu metode dengan menghitung
23Elisa Arisandi, Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Untuk Anak Diskalkulia Melalui Metode Garismatika, (E - Jurnal Pendidikan Khusus, Volume 3 Nomor 3, September 2014), h. 480.
persilangan antara garis tegak (vertikal) dan garis datar (horizontal) yang kemudian
diberikan tanda titik pada persilangan garis tersebut lalu hitung banyak titiknya.
Kemudian dari setiap bilangan yang di bentuk garis datar dan tegak tersebut di bagi
menjadi beberapa elemen-elemen satuan, puluhan, ratusan dan seterusnya. Hasil dari
perkalian terhadap bilangan yang telah dibagi menjadi elemen-elemen tersebut
dijumlahkan.
c) Langkah langkah Metode Garis
Metode perkalian garis ini “mewakilkan” bilangan atau angka yang akan
dikalikan dengan satu garis, satu satuan dengan garis. Misal angka 2 akan diwakili 2
garis, angka berikutnya 5 diwakili dengan 5 garis, dan seterusnya. Kemudian garis
yang mewakili disusun mendatar (horizontal) secara terpisah untuk angka perkalian
pertama dan garis tegak (vetikal) terpisah untuk angka perkalian kedua. Hasil dari
perkalian tersebut didapat dengan cara memberikan tanda titik pada persilangan garis
tegak (vertikal) dan garis datar (horizontal) pada setiap pojok-pojoknya. Jumlah
persilangan garis di bagian pojok kanan bawah mewakili angka terendah yaitu satuan.
Selanjutkan kearah kiri atas adalah angka yang lebih tinggi.
Contoh Soal:
Dalam acara wisata sekolah dibutuhkan 25 unit mobil. Jika setiap mobil berisikan 15
orang maka berapa jumlah siswa semuanya?
Penyelesaian:
Diketahui: Banyaknya mobil = 25 dan isi mobil = 15
Jawab:
25 x 15 = …
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Buatlah angka 2 dengan mewakili 2 garis dan angka 5 mewakili 5 garis secara
tegak. Antara garis pada angka 2 dan 5 diberi jarak terpisah.
2. Buatlah angka 1 dengan mewakili 1 garis dan angka 5 mewakili 5 garis secara
mendatar. Antara garis pada angka 1 dan 5 diberi jarak terpisah.
3. Beri tanda titik pada persilangan dan garis tegak dan datar (gunakan warna agar
terlihat)
4. Beri tanda “)” dan “(“untuk memisahkan bagian pojok atas yang paling tinggi
elemennya dan pada pojok bawah bagian terendah yaitu disebut satuan, lalu di
bagian tengah adalah puluhan pojok atas dijumlahkan dengan pojok bawah bagian
kiri.
Jadi 25 x 15
Penyelesaian metode Horizontal p= Ratuan | Puluhan | Satuan = 2 x 1| 2 x 5 + 5 x 1 | 5 x 5
d) Tujuan Metode Garis
Metode garis bertujuan untuk membantu peserta didik yang bermasalah dalam
menghapal tabel perkalian dasar 1-10 terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal
cerita matematika. Dimana peserta didik tidak dibuat rumit hanya dengan membuat
unsur garis tegak dan datar yang saling bersilangan dengan memberikan tanda titik
pada persilangan tersebut dan menghitungnya.
e) Kelebihan dan Kekurangan Metode Garis
(1) Kelebihan Metode Garis sebagai suatu pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan pemikiran kritis dan ketrampilan kreatif peserta didik
b. Dapat digunakan kapan saja, dimana saja, dan untuk siapa saja
c. Metode ini dapat menarik minat anak dalam belajar matematika karena
penggunaannya ada unsur menggambar garis titik dengan warna warni,
d. Dapat digunakan meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan pemecahan
masalah peserta didik
(2) Kekurangan Metode Garis sebagai suatu pembelajaran adalah sebagai
a. Membutuhkan bayak waktu
b. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.
c. Tidak bisa digunakan bagi anak yang belum bisa berhitung dengan baik, 26
4. Model Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang mengutamakan hasil yang
terukur dan pendidik berperan aktif dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk
menghapal materi yang di sampaikan oleh pendidik dan materi pembelajaran lebih didominasi
tentang konsep, fakta, dan perinsip.27 Dengan demikian, model konvensional merupakan
suatu pembelajaran yang terpusat pada pendidik yang berdampak terhadap pembelajaran yang
kurang optimal karena pendidik membuat peserta didik pasif dalam kegiatan. Model
konvensional yang biasa di gunakan pendidik dalam materi pembelajaran perkalian ini dengan
metode perkalian bersusun yang berdasarkan tabel perkalian dasar 1 sampai dengan perkalian
10. Dalam proses pembelajarannya peserta didik diharuskan menghapal semua yang
terdapat dalam tabel perkalian dasar 1 sampai dengan perkalian 10. Metode ini bisa
dinamakan metode konvensional dimana peserta didik hanya dikhususkan menghafal
saja tanpa mengetahui konsepnya secara sistematis. Dalam proses nya pendidik tidak
mengembangkan aspek kemampuan peserta didik sehingga banyak yang mengalami
kesulitan dalam penyelesaian soal perkalian, karena pendidi berpikir bahwa peserta
didik telah menghafal dan menguasai perkalian dasar.
26Elisa Arisandi, Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Untuk Anak Diskalkulia Melalui Metode Garismatika, (E – Jurnal Pendidikan Khusus, Volume 3 Nomor 3, September 2014), h. 480.
5. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Berbantuan Metode Garis dalam Perkalian
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah model pembelajaran membaca soal dan menulisnya kedalam suatu konsep sehingga membentuk pemahaman dalam menyelesaikan soal-soal cerita
matematika. Model pembelajaran ini dengan membentuk kelompok heterogen, setiap
kelompok beranggotakan 4 -5 peserta didik, yang setiap anggota memiliki tugas
pokok masing- masing. Sedangkan motode garis adalah motode pembelajaran yang
didasarkan pada penyelesaian masalah materi perkalian yang membutuhkan
penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian
berdasarkan konsep dari permasalahan yang kongkrit.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) berbantuan Metode Garis dalam perkalian adalah model pembelajaran berkelompok yang didasarkan membaca
dan menulis pada penyelesaian masalah dibantu dengan metode penyelesaian materi
perkalian. Langkah langkah model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) berbantuan metode garis dalam perkalian adalah sebagai berikut:
1) Pendidik membentuk kelompok-kelompok yang masingmasing terdiri dari 4-5
peserta didik.
2) Pendidik menjelaskan secara singkat materi pembelajaran dan memberikan soal
3) Peserta didik bekerja sama saling membacakan, menemukan kata kunci dari soal
cerita, memberikan jawaban dan penyelesaian soal cerita yang dituliskan pada
lembar kertas.
4) Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.
5) Peserta didik memberikan penguatan (reinfoecement)
6) Pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan.
7) Penutup.
6. Soal-Soal Cerita Matematika
a. Pengertian Soal-Soal Cerita Matemtika
Menurut Depdiknas (dalam Melinda) soal cerita adalah bentuk soal mencari,
(problem to find), yaitu mencari, menentukan atau mendapatkan nilai atau soal dan memenuhi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal. Matematika yang dituangkan
ke dalam soal cerita merupakan aplikasi dari konsep matematika, sehingga dalam
menyelesaikan soal cerita dituntut pula untuk memahami persoalan pokok dari soal
cerita tersebut.28 Menurut Leni Marlina pembelajaran soal cerita adalah pembelajaran
yang mengaitkan masalah dengan kehidupan sehari-hari. Soal cerita dalam
kehidupan sehari-hari lebih ditekankan kepada penajaman intelektual anak akan
sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapi.29
28Wawan Suarjana, Ni Wayan Suniasih, Wayan darsana, Pengaruh Model Cooperative Reading and Composition (CIRC) Berbasis soal Cerita Terhadap Hasil Belajar Matematika peserta didik kelas 5SD Gugus 1 Kecamatan Gianja, (Jurnal Mimbar PGSD, Volume 2 Nomor 1,Tahun 2014).
Kesimpulan dari kedua pendapat tersebut bahwasannya Soal cerita merupakan
pembelajaran yang terjadi di kehidupan sehari-hari sehingga dalam penyelesaiannya
harus dapat memahami maksud informasi yang ada ke dalam ungkapan matematika.
Pada soal cerita berpengaruh terhadap panjang pendeknya Bahasa yang digunakan
biasanya pada tingkat kesulitan soal tersebut. Makin panjang Bahasa yang digunakan
maka makin tinggi tingkat kesulitan soal tersebut.
b. Langkah-langkah dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita
Menurut Hudojono (dalam Wartini) langkah-langkah yang harus dilakukan agar
peserta didik terampil menyelesaikan soal cerita adalah:
a) Sedapat mungkin peserta didik membaca soal cerita itu sendiri;
b) Tanyakan kepada peserta didik beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah
soal cerita itu sudah benar-benar dimengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya
(1) Apa yang kamu ketahui dari soal itu?
(2) Apa saja dari soal itu yang kamu peroleh?
(3) Apa yang hendak kamu cari?
(4) Bagaimana kamu akan menyelesaikan soal itu?
c) Meminta kepada peserta didik untuk memilih operasi dan jelaskan metode
penyelesaian soal yang di maksud dapat dipergunakan
e) Diskusikan jawab yang di peroleh dan interprestasikan hasil tersebut.30
Menurut Depdiknas (dalam Siti Fatimah dan H. Sujati) penyelesaian soal cerita
dapat dilakukan dengan langkah-langkah: (a) membaca soal dan memikirkan
hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal tersebut, (b) menulis kalimat
matematikanya yang menyatakan hubungan-hubungan itu dalam bentuk operasi
bilangan-bilangan, (c) menyelesaikan kalimat matematika tersebut, artinya mencari
bilangan-bilangan mana yang membuat kalimat itu benar, dan (d) menggunakan
penyelesaian itu untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan dalam soal.
Dapat disimpulkan bahwa dalam menyelesaikan soal cerita adalah membaca
dengan hati-hati tiap kalimat, kemudian mengingatkan pada anak tentang apa yang
diketahui, apa yang ditanyakan, dan bagaimana kalimat matematikanya.
Contohnya:
Ada 12 pohon mangga di halaman sekolah. Tiap pohon terdapat 15 buah manga yang siap di petik. Berapa banyak buah mangga yang siap di petik?
Penyelesaian:
1. Peserta didik membaca degan hati-hati setiap kalimat (memahami apa yang dimaksudkan pada soal)
1 pohonnya ada 15 buah manga. Jika ada 12 pohon manga. Ada berapa buah manga dalam 12 pohon?
1. Mengingatkan pada anak yang diketahui: 1 pohon ada 15 buah manga.
2. Apa yang ditanyakan: berapa banyaknya buah manga yang siap di petik pada 12 pohon.
3. Kalimat matematikanya 1 pohon ada 15 buah = 1 x 15
12 pohon, Ada berapa buah mangga? 12 x 15 = 180
B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan proses belajar mengajar matematika sudah berjalan baik tetapi
masih ada kekurangan. Hal ini terlihat dari proses penyampaian pembelajaran
matematika sudah berjalan dengan baik. Pendidik sudah menguasai materi
matematika yang akan diajarkan. Namun dilain faktor yaitu penggunaan model dan
metode belajar masih kurang, sehingga peserta didik merasa kesulitan dalam
memahami materi yang diberikan. Oleh karena itu perlu adanya inovasi pembelajaran
salah satunya mengenai model dan metode pembelajaran. Melalui model
pembelajaran CIRC berbantuan metode garis yang diharapkan peserta didik akan
lebih mudah dalam menguasai materi tentang operasi hitung bilangan bulat.
Tindakan yang dilakukan peneliti dalam menyelesaikan soal-soal cerita dengan
menggunakan model pembelajaran CIRC berbantuan metede garis sebagai alat bantu
untuk memahami soal-soal cerita perkalian. Model dan metode inilah yang
diharapkan dapat mempermudah peserta didik dalam mengingat perkalian dalam
proses belajar hasil akhir tindakan ini yaitu penyelesaian masalah matematika jadi
tujuan peneliti melihat kemampuan mengingat perkalian dalam menghitung soal
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir
Berdasarkan bagan 2.1 menunjukkan bahwa proses belajar matematika peserta
didik di SD Negeri 2 Sumberejo peneliti mengambil 3 (tiga) kelas dengan perlakuan
yang berbeda-beda. Perlakuan pertama menggunakan penerapan Model pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Perlakuan pada kelas
kedua dengan menggunakan Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading
and Composition (CIRC) berbantuan metode garis, selanjutnya perlakuan pada kelas
ketiga dengan Model Konvensional. Peneliti menggunakan postes kemampuan
penyelesain soal-soal cerita untuk melihat ada pengaruh atau tidaknya dari ketiga Proses Belajar Mengajar Matematika
Tes Kemampuan Menyelesaian Soal Cerita Matematika
Terdapat pengaruh model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis, model pembelajaran Cooperative Integrated
perlakuan. Hasil dari tes kemampuan penyelesaian soal-soal cerita bertujuan untuk
melihat terdapat pengaruh Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) berbantuan metode garis terhadap kemampuan menyelesaian
soal-soal cerita matematika atau tidak.
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian
telah dinyatakan dalam bentuk kalimat.31 Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang perlu
diuji kebenarannya melalui analisis. Berdasarkan kerangka berpikir yang
dikemukakan tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis
sebagai berikut:
1. Hipotesis Penelitian
H1 : paling sedikit terdapat satu rerata yang tidak sama (terdapat pengaruh
peserta didik yang memperoleh model pembelajaran Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC), Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis dalam
perkalian, dan model konvesional terhadap kemampuan peserta didik
dalam menyelesaian soal-soal cerita matematika peserta didik).
2. Hipotesis Statistik
H0 : (tidak terdapat pengaruh peserta didik yang memperoleh
model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
berbantuan metode garis, dan model konvesional terhadap kemampuan
peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika).
H1 : , paling sedikit terdapat satu rerata yang tidak sama (terdapat
pengaruh peserta didik yang memperoleh pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC), Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC) berbantuan metode garis, dan model konvesional terhadap
kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal cerita
matematika).
Dimana :
i = 1, 2, 3
µ1 : Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC).
µ2 : Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan
metode garis.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode merupakan alat bantu yang digunakan untuk mempermudah dalam
pelaksanaan penelitian. Sehingga penelitian bersifat ilmiah maka perlu menggunakan
metode, sebab dengan menggunakan metode akan dapat diperoleh pengumpulan data
yang sesuai dengan tujuan dan kegunaan yang ditetapkan.32 Menurut Suharsimi
Arikunto bahwa “metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data penelitiannya.33 Berdasarkan definisi tersebut, metode penelitian
adalah suatu alat bantu untuk mengukur kevalitan data supaya dapat ditemukan, dan
dibuktikan kesahihannya.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, karena peneliti melakukan
penelitian dengan cara menerapkan model pembelajaran Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis, yang selanjutnya
dianalisis bagaimana kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita setelah kegiatan
pembelajaran tersebut. Dalam penelitian ini jenis eksperimen yang digunakan adalah
quasi experimental design yaitu bentuk desain eksperimen yang mempunyai
kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol
32 Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alphabeta, Cetakan ke 9, 2010), h. 3.
variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanana eksperimen. Berdasarkan
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif
karena data yang diperoleh berupa angka-angka dalam proses pengolahan data dan
penguji menggunakan rumus statistik yang sesuai.
Dalam penelitian ini responden dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok
pertama adalah kelompok eksperimen pertama, yaitu peserta didik yang mendapat
perlakuan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC). Kelompok eksperimen kedua adalah peserta didik yang mendapat perlakuan
model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
berbantuan metode garis dalam perkalian dan kelompok ketiga adalah kelompok
kontrol, yaitu peserta didik yang mendapat perlakuan model pembelajaran
konvesional.
B. Variabel Penelitian
Penelitian ini mencakup dua buah variabel, yaitu variabel bebas dan variabel
terikat. Variabel bebas merupakan variabel yang memberikan pengaruh terhadap
variabel terikat, sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh
variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) berbantuan metode garis
dalam perkalian, sedangkan variabel terikatnya adalah menyelesaikan soal-soal cerita
C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Posttest-only control design. Dalam desain ini terdapat tiga kelompok yang masing-masing dipilih secara random. Kelompok pertama dan kedua diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah (O1:O2: O3). Rancangan penelitian digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.1
Y = Menyelesaikan soa-soal cerita matematika
X1Y = model pembelajaran CIRC terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika
X3Y = model pembelajaran konvesional terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal cerita matematika.
D. Populasi, Sampel dan Tehnik Sampling
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapakan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya.34 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV SD N 2 Sumberejo Kemiling Bandar Lampung.
1. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.35 Sampel merupakan bagian atau wakil populasi yang akan diteliti.
2. Tehnik Sampling
Teknik sampling adalah suatu cara pengumpulan data yang sifatnya menyeluruh atau diambil sebagian untuk mewakili populasi. Untuk melaksanakan penelitian, teknik sampling yang peneliti gunakan adalah teknik sampling jenuh dan acak. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.36 Teknik acak kelas adalah cara penggambilan sampel yang dilakukan secara acak (random), artinya semua kelas atau elemen populasi memiliki kesempatan yang sama untuk di pilih menjadi anggota sampel. Populasi
34Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 11.
35Ibid, h. 118.
ada 3 kelas dan ketiga-tiganya dijadikan sampel. Dari 3 kelas, kelas akan di acak secara random untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Langkah-langkah pengundian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.:
a. Peneliti menyiapkan kertas undian sebanyak 3 kertas undian karena populasi kelas IV yang diajarkan pendidik terdapat 3 kelas. Alasan peneliti mengambil 3 kelas yang ada, unuk dijadikan sampel secara acak dalam penelitian kertas undian tersebut di tulis kelas A, B, dan C.
b. Peneliti mengundi semua kelas, undian yang pertama akan dijadikan kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran CIRC. Peneliti mengundi kembali dari kedua kelas, undian yang keluar akan di jadikan kelas eksperimen ke 2 dengan menggunakan model CIRC berbantan metode garis dalam perkalian. Undian yang terakhir akan menjadi kelas kontrol dengan menggunakan model konvensional.
E. Tehnik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dimaksud disini adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Penggunaan teknik pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik pengumpulan data, antara lain:
1. Dokumentasi