BAB II KAJIAN PUSTAKA
E. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran
kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran
kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar sesama
untuk mencapai tujuan bersama (Wena, 2009). Menurut Nurhadi dan Senduk
dalam Wena (2009) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara
sadar menciptakan interaksi antarsiswa. Dalam hal ini, sumber belajar bagi siswa
tidak hanya guru dan buku ajar, tetapi juga sesama siswa.
Menurut Lie dalam Wena (2009) pembelajaran kooperatif adalah sistem
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama
dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur dan dalam sistem ini guru
bertindak sebagai fasilitator. Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori
konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih
mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2009). Berdasarkan beberapa pengertian
sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (teman lain)
sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar lain (Wena, 2009).
2. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, dkk., (2000), model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting
yang dirangkum sebagai berikut.
a. Hasil Belajar Akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga
memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa
ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukan bahwa model
struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar
akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di
samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran
kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun
kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akedemik.
b. Penerimaan Terhadap Perubahan Individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas
dari orang-orang yang beda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidak
mampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagi
latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada
tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling
c. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan
kepada siswa keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi.
Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini masih kurang
dalam keterampilan sosial.
3. Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat
elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Lie dalam Sugiyanto (2009) ada
beberapa elemen yang merupakan ketentuan pokok dalam pembelajaran
kooperatif, yaitu sebagai berikut.
a. Saling Ketergantungan Positif
Dalam sistem pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu
menciptakan suasana belajar yang mendorong agar siswa merasa saling
membutuhkan. Siswa yang satu membutuhkan siswa yang lain, demikian pula
sebaliknya. Dalam hal ini, kebutuhan antar siswa tentu terkait dengan
pembelajaran. Hubungan yang saling membutuhkan antar siswa inilah disebut
dengan saling keterkaitan positif.
b. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok saling bertatap
muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru tetapi
juga dengan sesama siswa. Dalam hal ini, antar anggota kelompok melaksanakan
aktivitas-aktivitas dasar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, menunggu
dengan sabar teman yang sedang memberikan penjelasan, berkata sopan, meminta
para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih
variasi.
c. Akuntabilitas Individu
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dalam bentuk kelompok,
maka setiap anggota harus belajar dan menyumbangkan pikiran demi keberhasilan
pekerjaan kelompok. Untuk mencapai tujuan kelompok (hasil belajar kelompok),
setiap siswa harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi. Kondisi
belajar ini akan mampu menumbuhkan tanggung jawab (akuntabilitas) pada
masing-masing individu.
d. Keterampilan untuk Menjalin Hubungan Antarpribadi
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,
mengkeritik ide bukan teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak
mendominasi orang lain, mandiri, dan sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin
hubungan antar pribaditidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.
Siswa yang tidak menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari
guru juga sesama siswa.
4. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sanjaya (2006), keunggulan dari pembelajaran kooperatif antara lain:
a. melalui pembelajaran koopertaif, siswa tidak terlalu bergantung pada guru,
akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri,
menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa lain;
b. pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan
ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya
c. dapat membantu anak untuk respek terhadap orang lain dan menyadari segala
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan;
d. dapat membantu anak untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar;
e. dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan
pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpikir
memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang
dibuat adalah tanggung jawab kelompok;
f. dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan
kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
5. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Sanjaya (2006), kelemahan dari pembelajaran kooperatif adalah:
a. ciri utama pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling membelajarkan.
Oleh karena itu, jika tanpa belajar kelompok yang efektif, maka dibandingkan
pembelajaran langsung dari guru, dapat menyebabkan apa yang seharusnya
dipelajari dan dipahami tidak dicapai oleh siswa;
b. keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran
kelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, sehingga tidak
mungkin dapat dicapai dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan
pembelajaran ini.