• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

B. Model Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Koperatif

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang

melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling

berinteraksi. (Nurulhayati dalam Rusman, 2012: 201). Teori yang

melandasi pembelajaran kooperatif ini adalah teori konstruktivisme. Pada

dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu

pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan

mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi

dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam

Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode

pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil

untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi

pelajaran. Dalam kelas kooperatif para siswa diharapkan dapat saling

membantu, saling mendiskusikan dan beragumentasi, untuk mengasah

pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam

pemahaman masing-masing.

Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia

pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya

digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti

tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu. Namun demikian, penelitian selama

dua puluh tahun terakhir ini telah mengidentifikasikan metode

pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan secara efektif pada setiap

tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagau macam mata pelajaran.

(Robert E. Slavin, 2005: 4).

Konsep dalam pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar

belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang

membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan.

Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan

benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.

Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar

dari guru kepada siswa. Namun, siswa dapat saling membelajarkan sesama

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran

yang lain. Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah (1)

pembelajaran secara tim (2) didasarkan pada manajemen kooperatif (3)

kemauan untuk bekerja sama dan (4) keterampilan bekerja sama.

(Rusman, 2012: 207). Prinsip pembelajaran kooperatif menurut Roger dan

David Johnson ada lima unsur dasar yaitu (1) prinsip ketergantungan

positif (2) tanggung jawab perseorangan (3) interaksi tatap muka (4)

partisipasi dan komunikasi dan (5) evaluasi proses kelompok.

Prosedur atau langkah dalam pembelajaran kooperatif pada

prinsipnya terdiri atas empat tahapan (Rusman, 212) yaitu (1) penjelasan

materi (2) belajar kelompok (3) penilaian dan (4) pengakuan tim. Teknik

pembelajaran yang dipelajari oleh John Hopkins University adalah metode

Student Team Learning (Pembelajaran Tim Siswa). Tiga konsep penting

bagi metode ini adalah (1) penghargaan bagi tim (2) tanggung jawab

individu dan (3) kesempatan sukses yang sama. (Robert E. Slavin, 2005:

10).

Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa

perspektif yaitu : 1) Perspektif motivasi artinya penghargaan yang

diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu

untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok. 2) Perspektif sosial

artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam

belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok

dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan

prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. (Sanjaya

dalam Rusman, 2012:206)

2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Adapun karakteristik atau ciri pembelajaran kooperatif dapat

dijelaskan sebagai berikut. (Rusman, 2012: 207)

a. Pembelajaran Secara Tim

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan dalam tim.

Tim harus mampu membuat setiap anggota tim belajar. Setiap anggota

tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

Manajemen seperti yang telah kita pelajari pada bab sebelumnya

memiliki tiga fungsi, yaitu: (a) Fungsi manajemen sebagai

perencanaan pelakasanaan menunjukkan bahwa pembelajaran

kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan

langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan apa

yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus

digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya. (b) Fungsi

manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran

kooperatif memerlukan perencanaan yang matang aagar proses

pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar

sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif

perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes.

c. Kemampuan untuk Bekerja Sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan

kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu

ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang

baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

d. Keterampilan Bekerja Sama

Kemauan bekerja sama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam

kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa

perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi

dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang

telah ditetapkan.

3. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif

Menurut Roger dan David Johnson (Lie dalam Rusman, 2012:

212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai

berikut.

a. Prinsip ketergantungan positif (positive interdepence), yaitu dalam

pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas

tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok

masing-masing anggota kelompok. Maka, semua anggota dalam kelompok

akan merasakan saling ketergantungan.

b. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu

keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota

kelompoknya. Maka, setiap anggota kelompok memiliki tugas dan

tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.

c. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu

memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok

untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling

memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.

d. Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu

melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi

dalam kegiatan pembelajaran.

e. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi

kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja

sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

4. Prosedur Pembelajaran Kooperatif

Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada

prinsipnya terdiri dari empat tahapan yaitu sebagai berikut. (Rusman,

a. Penjelasan Materi

Tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi

pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama

tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.

b. Belajar Kelompok

Tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi,

siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.

c. Penilaian

Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui

tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes

individu akan memberikan penilaian kemampuan individu, sedangkan

kelompok akan memberikan penilaian kemampuan kelompoknya,

seperti dijelaskan Sanjaya (Rusman, 2012: 213). “Hasil akhir setiap

siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap

kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini

disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersamadalam kelompoknya

yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompoknya.” d. Pengakuan Tim

Pengakuan Tim adalah penerapan tim yang dianggap paling

menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan

penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk

Dokumen terkait