Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dilihat dari sikap tanggung jawab dan prestasi belajar siswa pada bilangan pecahan kelas Vii B SMP Bentara Wacana Muntilan tahun ajaran 2015/2016
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ii.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. iii.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (Amsal 1:7). Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan. segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu. yang. ajaib;. aku. mau. bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, yang Mahatinggi. (Mazmur 9:1-2). Karya ini ku persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang senantiasa membimbing hidupku Kedua orang tuaku, Bapak Antonius Sugiarta dan Ibu Cicilia Pipin Susanti Adikku, Leonardo David Setiawan Almarhumah Nenekku Elisabeth Harjo Winarno Sahabatku, Novita Rizki Anggraini dan Dionesia Desi Wirratna Santi Serta almamaterku Universitas Sanata Dharma. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK Rosalina Lily Setiawati. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dilihat dari Sikap Tanggung Jawab dan Prestasi Belajar Siswa pada Bilangan Pecahan Kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan karakter di sekolah dapat dikembangkan melalui pembelajaran. Matematika dapat mengembangkan dan menyampaikan pendidikan karakter bagi siswa. Maka, untuk mengembangkan dan menumbuhkan karakter pada diri siswa harus ada niat dan usaha dari tiap bagian di SMP Bentara Wacana Muntilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap tanggung jawab siswa dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada materi bilangan pecahan kelas VII B SMP. Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 25 siswa. Data sikap tanggung jawab siswa didapat dari kuesioner sikap tanggung jawab siswa sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Data tersebut dianalisis dengan menentukan nilai kuesioner dan mengkategorikan nilai tersebut. Prestasi belajar siswa didapat dari nilai kuis, dan tes akhir kemudian dianalisis dengan menentukan nilai prestasi belajar, menentukan rata-rata, mengkategorikan nilai prestasi belajar, dan menentukan persentase kelulusan pada tes akhir. Hasil penelitian pada pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menunjukkan bahwa (1) Sikap tanggung jawab siswa mengalami tidak mengalami peningkatan signifikan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari kuesioner sebelum menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD rata-rata nilai sikap tanggung jawab siswa adalah 77.70, sementara dari kuesioner sesudah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD rata-rata nilai sikap tanggung jawab siswa adalah 77.83. Berdasarkan kategori sikap tanggung jawab siswa, kedua rata-rata tersebut termasuk kategori tinggi. (2) Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari tes awal didapat nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 52.24, dan dari tes akhir didapat nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77.44. Dengan menggunakan kategori prestasi belajar, nilai rata-rata prestasi belajar awal siswa kategori rendah, dan nilai rata-rata prestasi belajar akhir siswa kategori sangat tinggi. Persentase ketuntasan prestasi belajar siswa 68%. Dari prestasi belajar siswa yang didapat maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menjadi alternatif model pembelajaran yang diberikan untuk siswa. Kata kunci: sikap tanggung jawab, prestasi belajar, model pembelajaran kooperatif tipe STAD.. vii.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT Rosalina Lily Setiawati. 2016. The Implementation of Cooperative Learning Model of STAD type Viewed from Responsibility and Student Learning Achievement in Fraction Numeral at VII B in Bentara Wacana Junior High School Muntilan in Academic Year 2015/2016. Thesis of Mathematics Education Study Program Departement of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University, Yogyakarta. The characters of an education at school can developing by learning achievement. Mathematic can be one of ways to develop and share, that the characters of an education for our students. So, to develop and to grow, exactly about to blow up that characters, to every students should be have motivates and efforts from each the part of Bentara Wacana Junior High School Muntilan. The research was aimed at determining the responsibility and learning achievement of the students in learning mathematic on fraction numeral. The research was categorized as a descriptive research type quantitative and qualitative. The subjects of this research were the students of grade VII B Bentara Wacana Junior High School Muntilan in academic year 2015/2016 which were 25 students. Data of responsibility of the student were obtained from questionnaire responsibility of the student before and after in learning by using cooperative learning model type STAD. Data were analyzed to determine the responsibility of students questionnaire and determine the category for students responsibility. Student learning achievement outcomes were derived from the scores of pre test, quizzes and post test and then analyzed by the scores, determine mean, determine the category of the scores, and percentage of post test accomplishment. The results of the research in learning to implement cooperative learning model type STAD show that : (1) The responsibility of students increases constant after implementing cooperative learning model type STAD. Before implementing cooperative learning model type STAD the average of responsibility the students is 77.70, and after implementing cooperative learning model type STAD the average of responsibility the students is 77.83. Based on the category of students responsibility, both averages belong to high category. (2) Students achievement increases significantly by implementing cooperative learning of STAD model. In the pre test the average shows 52.24 and in the post test the average reaches 77.44. By implementing learning achievement category, the average in the pre test is low while the average score in the post test is very high. The percentage of the number of students obtain score ≥ 75 is 68%. From, students achievement and students responsibility students have, the model of cooperative learning type STAD can be an alternative learning model implemented in students learning. Keywords: Responsibility, Learning Achievement, Cooperative Learning Model of STAD type.. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan ini dengan baik dan lancar guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini atas doa, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung, diantaranya: 1. Bapak Rohandi, Ph.D, selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; 2. Bapak Dr. M. Andy Rudhito, S.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 3. Bapak Dr. Hongki Julie, M.Si, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika; 4. Bapak Dominikus Arif Budi Prasetyo, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik untuk Program Studi Pendidikan Matematika yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama pembuatan skripsi ini;. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 5. Bapak Beni Utomo, M. Sc, dan Ibu C. Novella Krisnamurti, M. Sc, selaku dosen penguji yang telah berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penyusunan skripsi ini; 6. Ibu Elisabeth Juni, S.Si, selaku kepala sekolah di SMP Bentara Wacana Muntilan yang telah memberikan ijin penelitian; 7. Ibu Aprilia Dwi Gloriani, S.Pd. Si, selaku guru mata pelajaran matematika SMP. Bentara. Wacana. Muntilan. yang. telah. membimbing. dan. mendampingi dalam pelaksanaan penelitian; 8. Siswa-siswi SMP Bentara Wacana Muntilan kelas VII B dan VII C, terima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya dalam membantu pelaksanaan penelitian; 9. Bapak Antonius Sugiarta, Ibu Cicilia Pipin Susanti, dan adik Leonardo David Setiawan, terima kasih atas doa dan dukungan dari orang tua dan kakak yang terkasih; 10. Kedua sahabatku, Novita Rizki Anggraini dan Dionesia Desi Wirratna Santi yang telah berjuang bersama dan membantu dalam pelaksanaan penelitian; 11. Teman-teman satu dosen pembimbing, Neri, Sunny, Deni, Vonti, Cicil, Tari, Danik, Susi, Lilik terima kasih telah membantu dalam penyusunan skripsi ini dan untuk teman-teman seperjuangan di Program Studi Pendidikan Matematika angkatan 2011 yang telah berjuang bersama; 12. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan doa secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Penulis berharap semoga. skripsi. ini dapat bermanfaat bagi penulis. sebagai pribadi untuk terus meningkatkan kemampuan sebagai calon pendidik (guru) dan juga semua pihak yang membutuhkannya.. Penulis. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................. i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii. HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv. HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................ v. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................... vi. ABSTRAK .................................................................................................. vii. ABSTRACT ................................................................................................ viii. KATA PENGANTAR ................................................................................ ix. DAFTAR ISI ............................................................................................... xii. DAFTAR TABEL ....................................................................................... xvii. DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xxi. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xxii. BAB I.. PENDAHULUAN ................................................................... 1. A. Latar Belakang ................................................................. 1. B. Identifikasi Masalah ......................................................... 8. C. Pembatasan Masalah ........................................................ 8. D. Rumusan Masalah ............................................................ 8. E. Tujuan Penelitian .............................................................. 9. F. Batasan Istilah .................................................................. 9. G. Manfaat Penelitian ............................................................ 10. H. Sistematika Penulisan …………………………………... 11. xii.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II.. BAB III.. KAJIAN PUSTAKA ............................................................... 13. A. Deskripsi Teori ................................................................. 13. 1. Definisi Belajar ........................................................ 13. 2. Definisi Matematika …............................................. 14. 3. Pembelajaran yang Efektif ……………………….... 16. 4. Pembelajaran Matematika …………………………. 17. 5. Prestasi Belajar .......………………………………... 18. 6. Sikap ...……………………………………………... 20. 7. Sikap Tanggung Jawab ……………………………. 23. B. Model Pembelajaran Kooperatif………………………... 26. 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif………….......... 26. 2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif ..................... 29. 3. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif .................. 30. 4. Prosedur Pembelajaran Kooperatif ........................... 31. C. Model Pembelajaran STAD ………………………......... 32. 1. Komponen Pelaksanaan Model Pembelajaran STAD ……………………………………………... 2. Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran STAD ... 33. D. Materi Pembelajaran ........................................................ 41. 1. Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan …. 42. 2. Perkalian dan Pembagian Bilangan Pecahan ………. 46. E. Kerangka Berpikir ............................................................ 51. METODOLOGI PENELITIAN .............................................. 55. A. Jenis Penelitian ................................................................. 55. xiii. 35.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. B. Tempat dan Waktu Pengambilan Data………………….. 56. C. Subyek Penelitian ………………………………………. 56. D. Obyek Penelitian ……………………………………….. 56. E. Rancangan Penelitian ………………………………….. 57. F. Variabel Penelitian ........................................................... 59. 1. Variabel Bebas .......................................................... 59. 2. Variabel Terikat ........................................................ 59. G. Bentuk Data …………………………………………….. 59. 1. Data Sikap Tanggung Jawab Siswa ……………….. 59. 2. Data Prestasi Belajar Siswa ………………………... 60. H. Teknik Pengumpulan Data ……………………………... 60. 1. Pengamatan / Observasi ………………………….... 60. 2. Kuesioner ………………………………………….. 61. 3. Wawancara ……………………………………….... 62. 4. Tes …………………………………………………. 62. I. Instrumen Penelitian ……………………………………. 62. 1. Perangkat Pembelajaran ………………………….... 63. 2. Sikap Tanggung Jawab Siswa ……………………... 66. 3. Prestasi Belajar Siswa …………………………….. 69. J. Teknik Uji Coba Instrumen ............................................. 71. 1. Validitas Instrumen ……………………………….... 71. 2. Reliabilitas ………………………………………….. 74. 3. Tingkat Kesulitan …………………………………... 75. xiv.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. K. Uji Coba Instrumen …...................................................... 75. 1. Validitas Butir Soal ………………………………... 76. 2. Reliabilitas …………………………………………. 76. 3. Tingkat Kesulitan ………………………………….. 77. L. Teknik Analisis Data. BAB IV.. 77. 1. Kelayakan Analisis ……………………………….... 77. 2. Keterlaksanaan Model Pembelajaran STAD……….. 78. 3. Pengamatan Sikap Tanggung Jawab Siswa ………... 78. 4. Sikap Tanggung Jawab Siswa ……………………... 79. 5. Prestasi Belajar Siswa …………………………….... 83. 6. Pendalaman Hasil Penelitian ……………………….. 85. PELAKSANAAN PENELITIAN, KELAYAKAN ANALISIS, DESKRIPSI DATA, DAN PEMBEHASAN .. A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ………………………. 86. 1. Observasi ………………………………………….... 86. 2. Pelaksanaan Penelitian ……………………………. 87. 3. Pelaksanaan Pembelajaran …………………………. 88. B. Kelayakan Analisis …………………………………….. 96. C. Deskrispi Data .................................................................. 97. 86. 1. Keterlaksanaan Model Pembelajaran STAD …….... 97. 2. Pengamatan Sikap Tanggung Jawab Siswa ……….. 99. 3. Sikap Tanggung Jawab Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD………………………… 4. Sikap Tanggung Jawab Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD………………………………………. 5. Prestasi Belajar Sebelum Penggunaaan Model STAD …………………………………………….... 101. xv. 103 106.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6. Prestasi Belajar Kuis 1 Saat Penggunaan Model STAD ……………………………………………... 7. Prestasi Belajar Kuis 2 Saat Penggunaan Model STAD ……………………………………………... 8. Prestasi Belajar Sesudah Penggunaaan Model STAD ……………………………………………... D. Pembahasan …………………………………………….. 108. 1. Sikap Tanggung Jawab Siswa ……………………... 116. 2. Prestasi Belajar Siswa ……………………………... 118. E. Pendalaman Hasil Penelitian ............................................ 120. F. Keterbatasan Penelitian .................................................... 136. PENUTUP ............................................................................... 137. A. Kesimpulan ....................................................................... 137. B. Saran ................................................................................. 138. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 139. LAMPIRAN ................................................................................................ 142. BAB V.. xvi. 110 113 116.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Kriteria Poin Kemajuan Siswa ………………………………. 39. Tabel 2.2. Kriteria Penghargaan Tim ………………………………….... 39. Tabel 3.1. Kisi-kisi Lembar Aktifitas Siswa 1 ………………………….. 64. Tabel 3.2. Kisi-kisi Lembar Aktifitas Siswa 2 ………………………….. 65. Tabel 3.3. Kisi-kisi Lembar Keterlaksanaan RPP………………………. 65. Tabel 3.4. Kisi-kisi Lembar Pengamatan Sikap Siswa ………………..... 67. Tabel 3.5. Kisi-kisi Kuesioner Siswa 1 …………………………………. 68. Tabel 3.6. Kisi-kisi Kuesioner Siswa 2 …………………………………. 68. Tabel 3.7. Kisi-kisi Wawancara ……………………………………….... 69. Tabel 3.8. Kisi-kisi Kuis 1 …………………………………………........ Tabel 3.9. Kisi-kisi Kuis 2 …………………………………………….... 70. Tabel 3.10. Tes Akhir Prestasi Belajar Matematika ……………………... 70. Tabel 3.11. Kategori Koefisien Korelasi ……………………………….... 73. Tabel 3.12. Kategori Reliabilitas ……………………………………….... 74. Tabel 3.13. Kategori Tingkat Kesulitan …………………………………. 75. Tabel 3.14. Validitas Tes Akhir Prestasi Belajar Matematika ………….... 76. Tabel 3.15. Tingkat Kesulitan Tes Akhir Prestasi Belajar Matematika ….. 77. Tabel 3.16. Kriteria Penilaian Sikap Tanggung Jawab Siswa ………….... 80. Tabel 3.17. Kategori Sikap Tanggung Jawab Siswa ……………………... 81. Tabel 3.18. Kategori Sikap Tanggung Jawab Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………………………………... Distribusi Frekuensi Kuesioner sikap Tanggung Jawab Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD …………………. 81. Tabel 3.19. xvii. 70. 82.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Tabel 3.20. Kategori Sikap Tanggung Jawab Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………………………………... Distribusi Frekuensi Kuesioner sikap Tanggung Jawab Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………… Kategori Prestasi Belajar Siswa ……………………………... 82. 85. Tabel 4.1. Kategori Sikap Tanggung Jawab Sebelum dan Sesudah Penggunaan Model STAD …………………………………... Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………... Kegiatan Selama Pengambilan Data ……………………….. Tabel 4.2. Daftar Pembagian Kelompok ………………………………... 90. Tabel 4.3. Keterlaksanaan RPP …………………………………………. 98. Tabel 4.4. Persentase Keterlaksanaan RPP ……………………………... 98. Tabel 4.5. Rincian Siswa yang Diamati Observer …………………........ 99. Tabel 4.6. Data Skor Pengamatan Sikap Tanggung Jawab Siswa …….... 100. Tabel 4.7. Persentase Pengamatan Sikap Tanggung Jawab Siswa ……... 101. Tabel 4.8. Data Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………………….. Statistik Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………………….. Distribusi Frekuensi Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………… Data Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………………….. Statistik Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………………….. Distribusi Frekuensi Kuesioner Sikap Tanggung Jawab Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………… Data Prestasi Belajar Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Statistik Prestasi Belajar Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD………………………………….. Data Prestasi Belajar Siswa Kuis 1 Saat Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Statistik Prestasi Belajar Siswa Kuis 1 Saat Penggunaan Model STAD ……………………………………………….. 101. Tabel 3.21 Tabel 3.22 Tabel 3.23 Tabel 3.24. Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13 Tabel 4.14 Tabel 4.15 Tabel 4.16 Tabel 4.17 Tabel 4.18. xviii. 83 84. 85 88. 102 102 104 104 105 106 106 107 108 109.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Tabel 4.19. 109. Tabel 4.26. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Kuis 1 Saat Penggunaan Model STAD………………………………….. Data Prestasi Belajar Siswa Kuis 2 Saat Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Statistik Prestasi Belajar Siswa Kuis 2 Saat Penggunaan Model STAD ………………………………………………. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Kuis 2 Saat Penggunaan Model STAD………………………………….. Data Prestasi Belajar Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Statistik Prestasi Belajar Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………………………………………. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD………………………………….. Ketuntasan Prestasi Belajar Siswa pada Tes Akhir …………. Tabel 4.27. Penghargaan Kelompok ……………………………………... 120. Tabel 4.28. 120. Tabel 4.29. Pengelompokkan Sikap Tanggung Jawab dan Prestasi Belajar Siswa ……………………………………………….. Jawaban Responden Pertanyaan 1 …………………………... Tabel 4.30. Jawaban Responden Pertanyaan 2 …………………………... 122. Tabel 4.31. Jawaban Responden Pertanyaan 3 …………………………... 123. Tabel 4.32. Jawaban Responden Pertanyaan 4 …………………………... 124. Tabel 4.33. Jawaban Responden Pertanyaan 5 …………………………... 125. Tabel 4.34. Jawaban Responden Pertanyaan 6 …………………………... 125. Tabel 4.35. Jawaban Responden Pertanyaan 7 …………………………... 126. Tabel 4.36. Jawaban Responden Pertanyaan 8 …………………………... 127. Tabel 4.37. Jawaban Responden Pertanyaan 9 …………………………... 128. Tabel 4.38. Jawaban Responden Pertanyaan 10 …………………………. 129. Tabel 4.39. Jawaban Responden Pertanyaan 11 …………………………. 129. Tabel 4.40. Jawaban Responden Pertanyaan 12 …..……………………... 130. Tabel 4.41. Jawaban Responden Pertanyaan 13 ..………………………... 131. Tabel 4.20 Tabel 4.21 Tabel 4.22 Tabel 4.23 Tabel 4.24 Tabel 4.25. xix. 111 111 112 113 114 114 115. 121.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Tabel 4.42. Jawaban Responden Pertanyaan 14 ..………………………... 132. Tabel 4.43. Jawaban Responden Pertanyaan 15 ..………………………... 133. xx.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Bilangan Pecahan ………………………….......................... 47. Gambar 4.1. Histogram Distribusi Frekuensi Kuesioner Sikap Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………. Histogram Distribusi Frekuensi Kuesioner Sikap Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ………………………. Histogram Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Sebelum Penggunaan Model STAD ………………………. Histogram Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Kuis 1 Saat Penggunaan Model STAD …………………………. Histogram Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Kuis 2 Saat Penggunaan Model STAD …………………………. Histogram Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Siswa Sesudah Penggunaan Model STAD ……………………….. 102. Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6. xxi. 105 107 109 111 113.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN A A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ………………………….... 142. A.2 Lembar Aktifitas Siswa ………………………………………... 158. A.3 Kuis Siswa ……………………………………………………... 160. A.4 Tes Akhir Siswa ……………………………………………….. 162. A.5 Kunci Jawaban dan Pedoman Skor ……………………………. 164. A.6 Kuesioner Siswa ……………………………………………….. 174. A.7 Lembar Keterlaksanaan RPP …………………………………... 179. A.8 Lembar Pengamatan Sikap Siswa …………………………….... 181. A.9 Lembar Wawancara ……………………………………………. 183. LAMPIRAN B B.1 Uji Coba Instrumen …………………………………………….. 184. LAMPIRAN C C.1 Contoh Hasil Lembar Aktifitas Siswa …………………………. 190. C.2 Contoh Hasil Kuis Siswa ………………………………………. 192. C.3 Contoh Hasil Tes Akhir Siswa …………………………………. 194. C.4 Contoh Hasil Kuesioner Siswa ……………………………….... 196. C.5 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan RPP ………………………... 201. C.6 Hasil Pengamatan Sikap Siswa ……………………………….... 213. C.7 Penghargaan Kelompok Siswa …………………………………. 225. C.8 Dokumentasi ………………………………………………….... 227. xxii.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. LAMPIRAN D D.1 Surat Ijin Penelitian ..................................................................... xxiii. 231.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa. ini,. pendidikan. di. Indonesia. mengalami. banyak. perubahan. Sebagai warga Indonesia, dapat diketahui dalam UUD 1945 bahwa cita-cita luhur bangsa Indonesia yang juga merupakan tujuan didirikannya bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bentuk nyata untuk mencapai tujuan ini adalah dengan adanya pendidikan. Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu bertumbuh sebagai pribadi yang utuh. (Herman Hudojo, 1988:1) Karakter setiap warga negara menjadi salah satu kekuatan suatu bangsa. Jika setiap warga memiliki karakter yang kuat, maka bangsa tersebut memiliki martabat dan disegani bangsa lain. Dewasa ini, budi pekerti luhur, kesantunan, religiusitas yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya bangsa Indonesia selama ini seakan-akan menjadi terasa asing dan jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan karakter merupakan jawaban untuk permasalahan karakter yang terjadi di masyarakat. Menurut Ratna Megawangi (dalam Dharma Kesuma dkk, 2011:5) pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anakanak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan. 1.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Pendidikan karakter di sekolah dapat. dikembangkan. dan. dioptimalkan melalui pembelajaran. Namun, masih ada masalah ketidaktepatan mengenai makna pendidikan karakter yang beredar di masyarakat. Masyarakat masih mendefinisikan pendidikan karakter itu hanya mata pelajaran agama dan kewarganegaraan, pendidikan karakter itu pelajaran budi pekerti, pendidikan karakter adalah pelajaran baru, dan masih banyak definisi yang salah mengenai pendidikan karakter (Dharma Kesuma dkk, 2011:5), padahal semua mata pelajaran yang terdapat di sekolah dapat dikembangkan untuk menyampaikan pendidikan karakter. Tidak terkecuali pelajaran yang dapat dikembangkan adalah matematika. Matematika adalah konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Herman Hudojo, 1988:5 ). Pembelajaran matematika ikut berperan dalam perkembangan pendidikan karakter pada siswa. Upaya ini dilakukan agar matematika tidak hanya pada penguasaan materi.. Karakteristik. dalam. matematika. secara. tidak. langsung. mengajarkan cara berpikir cerdas, bertanggung jawab, terbuka, kreatif, inovatif, produktif, berpikir secara umum, dan konsisten. Menurut Dharma Kesuma (2011:10), penguasaan akademik diposisikan sebagai media atau sarana untuk mencapai tujuan pengembangan karakter. Maka, untuk mengembangkan dan menumbuhkan karakter pada diri siswa harus ada.
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. niat dan usaha dari tiap bagian di sekolah demikian pula dengan SMP Bentara Wacana Muntilan. SMP Bentara Wacana Muntilan merupakan salah satu sekolah swasta kristen di Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Dari hasil Ujian Nasional (UN) 2015, sekolah berhasil mendapatkan peringkat 9 tingkat SMP Negeri dan swasta se-kabupaten Magelang. Siswa yang diterima menjadi siswa di SMP Bentara Wacana berasal dari berbagai latar belakang sekolah asal. Siswa tidak harus memiliki kemampuan yang tinggi untuk dapat bersekolah di SMP Bentara Wacana Muntilan, karena sekolah ini menerima berbagai kemampuan murid yang mendaftar, tanpa adanya seleksi khusus. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di kelas VII SMP Bentara Wacana Muntilan pada bulan Agustus 2015 menunjukkan bahwa sekolah sudah menanamkan karakter. Karakter merupakan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seseorang. Seperti, kegiatan pembelajaran yang dimulai pada pukul 07.00 pagi, tetapi 10 menit sebelum bel masuk siswa diwajibkan sudah berada di lingkungan sekolah, jika siswa terlambat maka harus melapor ke guru piket dan mendapat poin hukuman. Aturan tersebut menanamkan nilai karakter yaitu disiplin waktu. Dan, waktu 10 menit sebelum pembelajaran digunakan untuk renungan pagi. Kegiatan yang dilakukan sebelum pembelajaran menanamkan nilai karakter yaitu religiusitas. Setiap kelas VII memiliki organisasi kelas. Organisasi kelas terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara. Dengan adanya organisasi diharapkan siswa yang memiliki jabatan dapat bertanggung.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. jawab dengan tugasnya. Siswa juga dilatih bertanggung jawab dengan adanya jadwal piket. Apabila siswa tidak melaksanakan piket, maka siswa tersebut mendapatkan poin hukuman. Berdasarkan pengamatan peneliti,menunjukkan bahwa proses pembelajaran matematika berjalan dengan cukup baik. Guru matematika pada kelas VII masih menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Guru menyadari kelemahan dari metode tersebut, sehingga pembelajaran terkadang siswa cepat jenuh dan bosan saat pembelajaran matematika berlangsung. Saat siswa diberikan kesempatan oleh guru menanyakan hal yang belum dimengerti, hanya beberapa siswa yang bertanya pada guru. Jika tidak ada siswa yang bertanya, guru tetap melanjutkan materi lanjutan tanpa menunjuk siswa untuk bertanya atau melanjutkan dengan latihan soal. Masih banyak siswa yang belum memahami materi yang dijelaskan, namun tidak mau bertanya. Dan masih ada siswa yang tidak mau menjelaskan ke teman yang belum paham. Sehingga, keaktifan kelas belum terbentuk saat pembelajaran matematika dan belum terlihat kerja sama antar siswa. Ketika guru meminta mengerjakan latihan soal banyak siswa yang masih kebingungan dan malah menjadikan siswa tidak mau mengerjakan latihan soal. . Siswa yang sudah paham materi yandijelaskan dapat mengerjakan latihan soal yang diberikan guru dengan baik. Namun, masih banyak siswa yang belum memahami penjelasan guru kebingungan saat mengerjakan soal yang diberikan guru. Ketika ada siswa lain yang bertanya pada saat.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. guru berkeliling dalam kelas, Siswa yang tidak dapat mengerjakan soal tersebut punya kesempatan untuk mencontek hasil pekerjaan teman yang dapat menyelesaikan soal yang diberikan guru. Siswa yang hanya mencontek tidak peduli dengan penyelesaian soal tersebut. Siswa hanya menyalin pekerjaan milik teman tanpa pemahaman bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut. Hal ini terlihat ketika pengerjaan soal di dalam kelas. Kondisi ini menunjukkan kurangnya tanggung jawab siswa untuk memahami materi yang diajarkan dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru saat pembelajaran di sekolah. Peneliti juga melihat masih banyak siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah ketika guru memberikan tugas rumah untuk siswa. Tidak sedikit siswa yang hanya menyalin pekerjaan rumah milik teman lain yang sudah mengerjakan. Kemudian, peneliti berusaha mencari keterangan dari siswa yang menyalin pekerjaan teman melalui wawancara. Siswa mengungkapkan alasan siswa menyalin pekerjaan milik teman lain, karena siswa tersebut tidak menemukan penyelesaian dan takut dimarahi guru jika mencontek tugas di sekolah dan pekerjaan rumah. Keadaan seperti ini menunjukkan kurangnya tanggung jawab siswa untuk mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru. Dan saat diadakan kuis ataupun ulangan sebagai prestasi belajar, banyak siswa yang mendapatkan nilai jelek. Sehingga, prestasi belajar yang didapat siswa kurang maksimal. Peneliti juga melakukan wawancara dengan guru matematika di kelas VII. Sebenarnya sekolah sudah memiliki model pembelajaran.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. kelompok dengan jam di luar jam pembelajaran. Jam tersebut dinamakan jam tutor. Jam tutor tersebut dapat digunakan semua pelajaran, dan jam tutor tersebut dikoordinasi dengan jadwal tutor yang sudah diatur. Jam tutor adalah jam belajar kelompok siswa dengan anggota kelompok yang memiliki kemampuan heterogen dengan menunjuk salah satu siswa sebagai ketua atau yang membimbing anggota dalam kelompok yang belum memahami materi tanpa adanya aturan dalam pembelajaran kelompok. Tetapi pada kenyataannya saat jam tutor siswa malah terlihat mengobrol hal yang tidak berkaitan dengan materi dengan teman sekelompoknya. Dan saat pembelajaran biasa, masih jarang guru di sekolah ini yang menggunakan model pembelajaran berkelompok. Kondisi ini yang mengharuskan guru untuk memikirkan cara atau metode yang tepat dalam memfasilitasi siswa agar siswa dapat lebih memahami materi matematika dengan baik dan dapat mengembangkan karakter dalam diri siswa tersebut. Guru harus bisa membuat pembelajaran menarik dan menyenangkan. Alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif diharapkan kelas menjadi aktif dan dapat memfasilitasi siswa untuk memahami materi serta menyampaikan pendidikan karakter di dalamnya. Melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar pendapat, saling bekerja sama jika ada teman dalam kelompoknya yang mengalami kesulitan (Rusman, 2012:203).
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Dari penelitian sejenis yang dilakukan oleh Agathon Charis Irawan,(2012) dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD di SMP Pangudi Luhur Gantiwarno dapat meningkatkan sikap siswa dan hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok. Dengan model pembelajaran kooperatif ini, siswa dapat memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar (Rusman, 2012: 203). Melihat penguasaan siswa terhadap materi matematika khususnya pokok bahasan bilangan pecahan, maka dalam penelitian ini model pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division), karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dan terjadinya kerja sama dalam kelompok. Pada model pembelajaran kooperatif STAD memiliki aturan dalam pembelajarannya. Dengan pemilihan model ini, diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan mengembangkan karakter setiap siswa. Sehingga, masalah utama yang akan menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah penerapan model STAD (Student Teams Achievement Division) dalam mengetahui perbedaan sikap tanggung jawab siswa dan prestasi belajar dalam pembelajaran matematika pada materi bilangan pecahan pada siswa kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan..
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : 1. Pembelajaran matematika di kelas VII B masih berpusat pada guru. 2. Kondisi kelas belum aktif saat proses pembelajaran matematika berlangsung. 3. Kemampuan interaksi antar siswa dan guru masih kurang dalam proses pembelajaran. 4. Sikap tanggung jawab yang dimiliki siswa masih kurang dalam proses pembelajaran matematika. 5. Prestasi belajar siswa yang didapat belum maksimal. 6. Kemampuan kerja sama antar siswa belum terlihat. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini dibatasi pada sebuah tindakan untuk mengetahui perubahan sikap tanggung jawab dan prestasi belajar siswa pada bilangan pecahan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) di kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat mengemukakan rumusan masalah dalam peneletian ini sebagai berikut : “Apakah penerapan model.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dapat mengetahui perubahan sikap tanggung jawab dan prestasi belajar siswa pada bilangan pecahan di kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan?” E. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : “Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) sebagai upaya untuk mengetahui perubahan sikap tanggung jawab dan prestasi belajar siswa pada bilangan pecahan kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan” F. Batasan Istilah 1. Model Pembelajaran Kooperatif STAD Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Robert E. Slavin, 2005:11). Siswa dibentuk dalam kelompok belajar. Kelompok belajar terdiri dari empat orang atau lebih dengan kemampuan yang heterogen dan dibentuk tanpa memperhatikan jenis kelamin, dan suku. Guru mempresentasikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim. Setiap anggota tim harus menguasai materi agar saat kuis di akhir pembelajaran dapat mengerjakan soal yang diberikan secara individu tanpa adanya bantuan dari teman..
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. 2. Sikap Tanggung Jawab Tanggung. jawab. adalah. kemampuan. seorang. individu. yang. mengusahakan perubahan yang positif dan melaksanakan tugas-tugas dengan seluruh daya yang dimiliki terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan dalam bentuk interaksi sosial yang baik dan intensif. (Lickona, 2012) 3. Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tertentu. Untuk mengetahui prestasi belajar dapat menggunakan evaluasi belajar dalam bentuk tes. 4. Bilangan Pecahan Definisi: Suatu bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai dengan. adalah bilangan bulat dan. pembilang dan bilangan. . Bilangan. disebut. disebut penyebut (Dewi Nuharini, 2008:41).. G. Manfaat Penelitian 1. Bagi Guru Memberikan gambaran kepada guru mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Membentu dalam memilih dan menentukan alternatif metode pembelajaran. apa. yang. sebaiknya. digunakan. dalam. proses.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. pembelajaran agar sasaran pencapaian meningkatnya sikap tanggung jawab siswa dalam pembelajaran matematika benar-benar tepat dan efektif. 2. Bagi Siswa Membantu siswa-siswi kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan dalam. mengetahui. perbedaan. sikap. tanggung. jawab. dalam. pembelajaran matematika. Membantu dan melatih siswa agar membiasakan diri dalam kerja kelompok, dengan berdiskusi siswa dapat. berpikir. kritis,. saling. menyampaikan. pendapat. dan. menyumbangkan pikirannya untuk memecahkan masalah bersama. 3. Bagi Sekolah Memberikan masukan dan dasar pemikiran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. 4. Bagi peneliti Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam meneliti serta meningkatkan wawasan tentang alternatif model pembelajaran sebagai calon guru di masa yang akan datang. H. Sistematika Penulisan 1. Bagian Pendahuluan Skripsi Pada bagian ini memuat beberapa hal yang terdiri dari judul skripsi, abstrak, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, dan daftar lampiran..
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. 2. Bagian Isi Skripsi Pada bagian ini memuat lima bab yang terdiri: BAB I. :. Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, pembatasan istilah, manfaat penelitian, dan memuat sistematika penulisan skripsi.. BAB II : Kajian. Pustaka. meliputi. modelpembelajaran. kooperatif,. deskripsi model. teori,. pembelajaran. STAD, materi pembelajaran, dan kerangka berpikir. BAB III :. Metodologi penelitian meliputi jenis penelitian, tempat dan waktu pengambilan data, subyek penelitian, obyek penelitian, rancangan penelitian, variabel penelitian, bentuk. data,. teknik. pengumpulan. data,. instrumen. penelitian, teknik uji coba instrumen, uji coba instrumen, dan teknik analisis data. BAB IV :. Pelaksanaan penelitian meliputi deskripsi pelaksanaan penelitian, kelayakan analisis, deskripsi data, pembahasan, dan pendalaman hasil penelitian.. BAB V :. Penutup meliputi kesimpulan, kelemahan, dan saran.. 3. Bagian Akhir Skripsi Bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiranlampiran..
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Definisi Belajar Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan sikap seseorang menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan ketrampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 3). Dalam The Guidance of Learning Activities W.H. Burton (dalam Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 4) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara menurut Gagne belajar adalah suatu perubahan perilaku yang relatif menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan atau direncanakan.. 13.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Belajar adalah proses yang kompleks yang di dalamnya terkandung beberapa aspek.Aspek-aspek tersebut adalah (Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 4). a. Bertambahnya jumlah pengetahuan, b. Adanya kemampuan mengingat dan memproduksi, c. Adanya penerapan pengetahuan, d. Menyimpulkan makna, e. Menafsirkan dan mengitkannya dengan realitas, f. Adanya perubahan sebagai pribadi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan telah belajar kalau sudah terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungannya, tidak karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaru obat-obatan. Kecuali itu, perubahan tersebut haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja (Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 5). 2. Definisi Matematika Matematika dapat didefinisikan sebagai penelaahan tentang struktur-struktur. Penelaahan terhadap struktur inilah yang merupakan ciri matematika yang berkembang sampai saat ini. Dari uraian di atas, sasaran matematika lebih dititik beratkan ke struktur sebab sasaran terhadap.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. bilangan dan ruang tidak banyak artinya lagi dalam matematika. Kenyataan yang lebih utama ialah hubungan-hubungan antara sasaran antara sasaran-sasaran itu dan aturan-aturan yang menetapkan langkahlangkah operasinya. Ini mengandung arti bahwa matematika sebagai ilmu mengenai struktur akan mencakup tentang hubungan, pola, maupu bentuk seperti yang telah dikemukakan di atas (Herman Hudojo, 1988: 2). Struktur yang ditelaah adalah struktur dari sistem-sistem matematika. Dapat dikatakan pula, matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsepkonsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logik dengan menggunakan pembuktian deduktif. Matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungannya, symbolsimbol. diperlukan.. Simbol-simbol. itu. penting. untuk. membantu. memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbolisasi menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk membentuk suatu konsep baru. Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara hirarkis. Simbolisasi itu barulah berarti bila suatu symbol itu dilandasi suatu ide. Jika kita harus memahami ide yang terkandung dalam symbol tersebut. Ide harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut disimbolkan. Secara singkat dikatakan bahwa matematika berkenaan.
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. dengan ide-ide, konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif (Herman Hudjojo 1988: 3). 3. Pembelajaran yang Efektif Menurut Winkel (dalam Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 12) pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa dengan memperhitungkan kejadiankejadian ekstrim yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa. Sedangkan menurut Gagne, pembelajaran adalah pengaturan peristiwa secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna. Pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar (Eveline Siregar & Hartini Nara 2010: 12). Dari beberapa pengertian pembelajaran, maka dapat disimpulkan ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut (Eveline Siregar & Hartini Nara 2010: 12) : a. Merupakan upaya sadar dan disengaja. b. Pembelajaran harus membuat siswa belajar. c. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan. d. Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses, maupun hasilnya..
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. Dalam melaksanakan pembelajaran, perlu diperhatikan pula prinsp-prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran bila diterapkan dalam proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran akan diperoleh hasil yang lebih optimal. Selain itu akan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memberikan dasar-dasar teori untuk membangun sistem intruksional yang berkualitas tinggi. 4. Pembelajaran Matematika Pola tingkah laku manusia yang tersusun menjadi suatu model sebagai prinsip-prinsipbelajar yang diaplikasikan ke dalam matematika. Prinsip belajar ini haruslah dipilih sehingga cocok untuk mempelajari matematika. Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, jelas belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Mempelajari konsep B yang mendasarkan kepada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti, mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol, maka konsep-konsep matematika harus dipahami lebih dulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu..
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. Belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses pembeajaran matematika. Ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinyu. Di dalam proses belajar matematika, terjadi juga proses berpikir, sebab sesorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental dan orang yang belajar matematika mesti melakukan kegiatan mental. Dalam berpikir itu orang itu menyusun hubungan-hubungan anatar bagian-bagian informasi yang telah direkam di dalam pikiran orang itu sebagai pengertian-pengertian. Dari pengertian tersebut terbentuklah pendapat yang pada akhirnya ditariklah kesimpulan. Tentunya kemampuan berpikir seseorang itu dipengaruhi oleh intelegensinya. Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara intelegensi dengan proses belajar matematika (Herman Hudojo, 1988: 3) 5. Prestasi Belajar Menurut KBBI prestasi adalah hasil yang dicapai seseorang. Sangatlah wajar apabila dari mereka yang memiliki intelegensi tinggi diharapkan akan dapat diperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Prestasi belajar menurut Gronlund (dalam Nyanyu Khodijah, 2014: 89) adalah hasil yang diharapkan dari pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rumusan perilaku tertentu. Untuk mengetahui prestasi belajar, yang telah dicapai diperlukan evaluasi. Salah satu bentuk evaluasi adalah dengan tes..
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Tes yang mengukur prestasi (achievement test). Tes prestasi dimaksudkan alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai prestasi belajar (Saifuddin Azwar, 1987: 7). Bila dilihat dari tujuan dari pengukuran prestasi belajar, maka suatu tes dapat melakukan fungsi penempatan, fungsi formatif, fungsi diagnostik, dan fungsi sumatif. Fungsi penempatan adalah penggunaan tes prestasi guna melakukan klasifikasi individu ke dalam bidang atau jurusan yang cocok. Fungsi formatif adalah penggunaan tes prestasi guna melihat sejauh mana kemajuan belajar yang telah dapat dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran. Dalam hal ini maka hasil tes prestasi merupakan umpan balik kemajuan belajar, dan karena itu biasanya dilakukan di tengah suatu program yang sedang berjalan. Hasil tes prestasi formatif dapat menyebabkan perubahan kebijaksanaan mengajar atau belajar, apabila perlu. Fungsi diagnostik ditentukan oleh tes prestasi apabila hasil tes yang didapat digunakan untuk melihat kesukaran-kesukaran dalam belajar, mencari kelemahan-kelemahan siswa yang dapat diperbaiki. Sedangkan fungsi sumatif adalah penggunaan tes prestasi guna menghasilkan informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Karena itu tes prestasi sumatif merupakan pengukuran akhir dalam sustu periode pengajaran. Hasil tes prestasi sumatif biasanya dipakai untuk menentukan apakah seorang siswa dapat dinyatakan lulus program tersebut, apakah siswa dapat dinyatakan.
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. dapat melanjutkan ke program pengajaran yang lebih tinggi. Suatu tes prestasi sumatif pada program tertentu dapat dipandang sebagai tes prestasi formatif bagi suatu proses pengajaran yang lebih luas yang merupakan rangkaian program-program pengajaran bertahap (Saifuddin Azwar, 1987: 7). 6. Sikap Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari, dan sikap menentukan bagaimana individu bereakai terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam kehidupan (Slameto 2013: 188). Sikap terbentuk melalui bermacam-macam cara, antara lain : a. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam. b. Melalui imitasi Peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja. Dalam hal terakhir individu harus mempunyai minat dan rasa kagum terhadap mode, di samping itu diperlukan pula pemahaman dan kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru; peniruan akan terjadi lebih lancar bila dilakukan secara kolektif daripada perorangan. c. Melalui sugesti Di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap obyek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena.
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. pengaruh yang dating dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya. d. Melalui identifikasi Di sini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi atau badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamar, identifikasi seperti ini sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan pemimpin, siswa dengan guru, antara anggota suatu kelompok dengan anggota lainnya dalam kelompok tersebut yang dianggap paling mewakili kelompok yang bersangkutan. Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Heri Purwanto dalam A. Wawan & Dwi M, 2010: 34) : a. Sikap positif kecendurungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu b. Sikap negatif terdapat kecendurungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu. Ciri-ciri sikap adalah (Heri Purwanto dalam A. Wawan & Dwi M, 2010: 34) : a. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat..
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat teretntu yang mempermudah sikap pada orang itu. c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu obyek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas. d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan-kumpulan dari hal-hal tersebut e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (Heri Purwanto dalam A. Wawan & Dwi M, 2010: 34) : a. Pengalaman pribadi b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting c. Pengaruh kebudayaan d. Media massa e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama f. Faktor emosional.
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. 7. Sikap Tanggung Jawab Tanggung jawab secara literal berarti “kemampuan untuk merespons atau menjawab”. Itu artinya tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian, dan secara aktif memberikan respons terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab menekankan pada kewajiban positif untuk saling melindungi satu sama lain. Sebuah tanggung jawab moral tidak secara langsung meminta kita untuk „mengorbankan‟ sesuatu. Akan tetapi, tanggung jawab lebih bersifat meminta kita untuk mencoba, melalui cara apapun yang kita dapat, dari sekadar tahu sampai dengan mendukung satu sama lain, meringankan beban sesama, dan membuat dunia ini sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang. Tanggung jawab merupakan sikap saling membutuhkan, tidak mengabaikan orang lain yang sedang dalam keadaan sulit. Kita menolong orang dengan komitmen yang telah kita buat, dan apabila kita tidak menolong mereka, artinya kita membuat sebuah kesulitan baru bagi mereka. Pada akhirnya, sikap tanggung jawab ditekankan pada mengutamakan hal-hal yang hari ini dianggap penting sebagai suatu perbaikan di masa yang akan datang dengan didasari‟hak-hak‟ (Thomas Lickona, 2012: 73). Menurut Mohamad Mustari bertanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan. Dengan tertibnya penggunaan hak dan kewajiban timbulah rasa tanggung jawab. Tanggung jawab yang baik berada pada perimbangan yang serasi antara perolehan hak dan penunaian kewajiban. Untuk itu perlu ada perumusan konsep tanggung jawab manusia secara lengkap. Orang yang bertanggung jawab kepada dirinya adalah orang yang bisa melakukan kontrol internal sekaligus eksternal. Kontol internal adalah satu keyakinan bahwa ia boleh mengontrol dirinya, dan yakin bahwa kesuksesan yang dicapainya adalah hasil dari usahanya sendiri. Orangorang dari kategori ini merasa bahwa nasib mereka tidak ditentukan oleh kekuatan luar. Manusia memang tidak sewajarnya bersifat terlalu angkuh dengan kekuatan dirinya yang tidak seberapa. Di samping itu, mereka juga perlu yakin terhadap faktor takdir, terutama di dalam memastikan kesuksesannya adalah faktor yang mutlak (Mohamad Mustari, 2014: 19). Menurut. Sukanto. (dalam. Mohamad. Mustari,. 2014:. 20). menyatakan bahwa di antara tanggung jawab yang mesti ada pada manusia adalah: a. Tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan dengan cara takut kepada-Nya, bersyukur, dan memohon petunjuk. Semua manusia bertanggung jawab kepada Tuhan Pencipta Alam.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. Semesta. Tak ada seorang pun manusia yang lepas bebas dari tanggung jawab, kecuali orang itu gila atau anak-anak. b. Tanggung jawab untuk membela didri dari ancaman, siksaan, penindasan, dan perlakuan kejam dari mana pun datangnya. c. Tanggung jawab diri dari kerakusan ekonomi yang berlebihan dalam mencari nafkah, ataupun sebaliknya, dari bersifat kekurangan ekonomi. d. Tanggung jawab terhadap anak, suami/istri, dan keluarga. e. Tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar. f. Tanggung jawab berpikir, tidak perlu mesti meniru orang lain dan menyetujui pendapat umum atau patuh secara membuta terhadap nilainilai tradisi, menyaring segala informasi untuk dipilih, mana yang berguna dan mana yang merugikan kita. Dalam kebebasan berpikir perlu ada pemupukan kreasi yang berarti mampu mencari pemecahan masalah-masalah hidup yang kian rumit kita hadapi, dan menciptakan alternatif baru yang berguna bagi masyarakat. g. Tanggung jawab dalam memelihara hidup dan kehidupan, termasuk kelestarian lingkungan hidup dari berbagai bentuk pencemaran. Bertanggung jawab berarti melaksanakan tugas secara sungguhsungguh, berani menanggung konsekuensi dari sikap, perkataan, dan tingkah lakunya. Orang yang bertanggung jawab kepada dirinya adalah orang yang bisa melakukan kontrol internal sekaligus eksternal. Kontrol.
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. internal adalah satu keyakinan bahwa ia boleh mengotrol dirinya dan yakin bahwa kesuksesan yang dicapainya adalah hasil dari usahanya sendiri. Manusia harus bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Maka kita sebagai manusia harus belajar untuk menerima tanggung jawab total terhadap diri sendiri. Jika kita tidak dapat mengatur diri kita sendiri maka berarti kita memberikan pada orang lain untuk mengontrol diri kita. Kebiasaan itu lebih kuat daripada kesadaran. Kita kadang ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keadaan, tetapi pas waktunya kita malah melakukan hal yang lain. Oleh karena itu, untuk tanggung jawab ini kita harus membiasakan diri menjadi orang yang bertanggung jawab (Mohamad Mustari 2014: 25). B. Model Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Pembelajaran Koperatif Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. (Nurulhayati dalam Rusman, 2012: 201). Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif ini adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Rusman, 20012: 201)..
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan beragumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tugastugas atau laporan kelompok tertentu. Namun demikian, penelitian selama dua puluh tahun terakhir ini telah mengidentifikasikan metode pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan secara efektif pada setiap tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagau macam mata pelajaran. (Robert E. Slavin, 2005: 4). Konsep dalam pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Namun, siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. (Rusman, 2012: 203).
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah (1) pembelajaran secara tim (2) didasarkan pada manajemen kooperatif (3) kemauan untuk bekerja sama dan (4) keterampilan bekerja sama. (Rusman, 2012: 207). Prinsip pembelajaran kooperatif menurut Roger dan David Johnson ada lima unsur dasar yaitu (1) prinsip ketergantungan positif (2) tanggung jawab perseorangan (3) interaksi tatap muka (4) partisipasi dan komunikasi dan (5) evaluasi proses kelompok. Prosedur atau langkah dalam pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahapan (Rusman, 212) yaitu (1) penjelasan materi (2) belajar kelompok (3) penilaian dan (4) pengakuan tim. Teknik pembelajaran yang dipelajari oleh John Hopkins University adalah metode Student Team Learning (Pembelajaran Tim Siswa). Tiga konsep penting bagi metode ini adalah (1) penghargaan bagi tim (2) tanggung jawab individu dan (3) kesempatan sukses yang sama. (Robert E. Slavin, 2005: 10). Pembelajaran. kooperatif. dapat. dijelaskan. dalam. beberapa. perspektif yaitu : 1) Perspektif motivasi artinya penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok. 2) Perspektif sosial artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar. karena. mereka. menginginkan. semua. anggota. kelompok. memperoleh keberhasilan. 3) Perspektif perkembangan kognitif artinya.
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. (Sanjaya dalam Rusman, 2012:206) 2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif Adapun karakteristik atau ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut. (Rusman, 2012: 207) a. Pembelajaran Secara Tim Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan dalam tim. Tim harus mampu membuat setiap anggota tim belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif Manajemen seperti yang telah kita pelajari pada bab sebelumnya memiliki tiga perencanaan. fungsi,. yaitu: (a). pelakasanaan. Fungsi. menunjukkan. manajemen sebagai bahwa. pembelajaran. kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkahlangkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya. (b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang aagar proses pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif. (c) Fungsi manajemen.
Gambar
Dokumen terkait
DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang Masalah ... Identifikasi Masalah ... Pembatasan Masalah ... Rumusan Masalah ... Tujuan Penelitian ... Manfaat Penelitian ... Kajian Pustaka
DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang Masalah ... Identifikasi Masalah ... Pembatasan Masalah ... Tinjauan Pustaka .... Prestasi Belajar Matematika ... Pembelajaran kooperatif
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka pembatasan masalah pada penelitian ini adalah: guru sudah menggunakan alat peraga namun dalam mengajarkan
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini dibatasi pada usaha perbaikan atau sebuah usaha tindakan untuk meningkatkan pemahaman
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan rnasalah yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah yang diambil adalah bagaimana eksistensi citizen
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah pokok dari penelitian ini adalah “Bagaimanakah pengaruh pendidikan nilai dalam keluarga terhadap
1.4 Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada variabel Leverage,