• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

H. Teknik Pengumpulan Data

I. Instrumen Penelitian

3. Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar adalah penguasaan siswa terhadap materi pelajaran

tertentu. Untuk mengetahui prestasi belajar dapat menggunakan

evaluasi belajar dalam bentuk tes.

4. Bilangan Pecahan

Definisi:

Suatu bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai

dengan adalah bilangan bulat dan . Bilangan disebut pembilang dan bilangan disebut penyebut (Dewi Nuharini, 2008:41). G. Manfaat Penelitian

1. Bagi Guru

Memberikan gambaran kepada guru mengenai penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division

(STAD). Membentu dalam memilih dan menentukan alternatif metode

pembelajaran agar sasaran pencapaian meningkatnya sikap tanggung

jawab siswa dalam pembelajaran matematika benar-benar tepat dan

efektif.

2. Bagi Siswa

Membantu siswa-siswi kelas VII B SMP Bentara Wacana Muntilan

dalam mengetahui perbedaan sikap tanggung jawab dalam

pembelajaran matematika. Membantu dan melatih siswa agar

membiasakan diri dalam kerja kelompok, dengan berdiskusi siswa

dapat berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat dan

menyumbangkan pikirannya untuk memecahkan masalah bersama.

3. Bagi Sekolah

Memberikan masukan dan dasar pemikiran untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran di sekolah dengan menggunakan model

pembelajaran yang tepat.

4. Bagi peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam meneliti serta

meningkatkan wawasan tentang alternatif model pembelajaran sebagai

calon guru di masa yang akan datang.

H. Sistematika Penulisan

1. Bagian Pendahuluan Skripsi

Pada bagian ini memuat beberapa hal yang terdiri dari judul skripsi,

abstrak, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar

2. Bagian Isi Skripsi

Pada bagian ini memuat lima bab yang terdiri:

BAB I : Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, pembatasan istilah, manfaat penelitian, dan

memuat sistematika penulisan skripsi.

BAB II : Kajian Pustaka meliputi deskripsi teori,

modelpembelajaran kooperatif, model pembelajaran

STAD, materi pembelajaran, dan kerangka berpikir.

BAB III : Metodologi penelitian meliputi jenis penelitian, tempat

dan waktu pengambilan data, subyek penelitian, obyek

penelitian, rancangan penelitian, variabel penelitian,

bentuk data, teknik pengumpulan data, instrumen

penelitian, teknik uji coba instrumen, uji coba instrumen,

dan teknik analisis data.

BAB IV : Pelaksanaan penelitian meliputi deskripsi pelaksanaan

penelitian, kelayakan analisis, deskripsi data, pembahasan,

dan pendalaman hasil penelitian.

BAB V : Penutup meliputi kesimpulan, kelemahan, dan saran.

3. Bagian Akhir Skripsi

Bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori 1. Definisi Belajar

Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada

semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi hingga liang

lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah

adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan sikap seseorang

menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan

ketrampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap

(afektif) (Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 3).

Dalam The Guidance of Learning Activities W.H. Burton (dalam

Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 4) mengemukakan bahwa belajar

adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya

interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan

lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan

lingkungannya. Sementara menurut Gagne belajar adalah suatu perubahan

perilaku yang relatif menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu

Belajar adalah proses yang kompleks yang di dalamnya terkandung

beberapa aspek.Aspek-aspek tersebut adalah (Eveline Siregar & Hartini

Nara, 2010: 4).

a. Bertambahnya jumlah pengetahuan,

b. Adanya kemampuan mengingat dan memproduksi,

c. Adanya penerapan pengetahuan,

d. Menyimpulkan makna,

e. Menafsirkan dan mengitkannya dengan realitas,

f. Adanya perubahan sebagai pribadi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan

telah belajar kalau sudah terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya.

Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari interaksi dengan

lingkungannya, tidak karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak

karena kelelahan, penyakit atau pengaru obat-obatan. Kecuali itu,

perubahan tersebut haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama dan

menetap, tidak berlangsung sesaat saja (Eveline Siregar & Hartini Nara,

2010: 5).

2. Definisi Matematika

Matematika dapat didefinisikan sebagai penelaahan tentang

struktur-struktur. Penelaahan terhadap struktur inilah yang merupakan ciri

matematika yang berkembang sampai saat ini. Dari uraian di atas, sasaran

bilangan dan ruang tidak banyak artinya lagi dalam matematika.

Kenyataan yang lebih utama ialah hubungan-hubungan antara sasaran

antara sasaran-sasaran itu dan aturan-aturan yang menetapkan

langkah-langkah operasinya. Ini mengandung arti bahwa matematika sebagai ilmu

mengenai struktur akan mencakup tentang hubungan, pola, maupu bentuk

seperti yang telah dikemukakan di atas (Herman Hudojo, 1988: 2).

Struktur yang ditelaah adalah struktur dari sistem-sistem

matematika. Dapat dikatakan pula, matematika berkenaan dengan ide-ide

(gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang

diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan

konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan

atas alasan logik dengan menggunakan pembuktian deduktif. Matematika

sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungannya,

symbol-simbol diperlukan. Simbol-symbol-simbol itu penting untuk membantu

memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan. Simbolisasi

menjamin adanya komunikasi dan mampu memberikan keterangan untuk

membentuk suatu konsep baru.

Konsep baru terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep

sebelumnya sehingga matematika itu konsep-konsepnya tersusun secara

hirarkis. Simbolisasi itu barulah berarti bila suatu symbol itu dilandasi

suatu ide. Jika kita harus memahami ide yang terkandung dalam symbol

tersebut. Ide harus dipahami terlebih dahulu sebelum ide tersebut

dengan ide-ide, konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan

penalarannya deduktif (Herman Hudjojo 1988: 3).

3. Pembelajaran yang Efektif

Menurut Winkel (dalam Eveline Siregar & Hartini Nara, 2010: 12)

pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk

mendukung proses belajar siswa dengan memperhitungkan

kejadian-kejadian ekstrim yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian-kejadian-kejadian

intern yang berlangsung dialami siswa. Sedangkan menurut Gagne,

pembelajaran adalah pengaturan peristiwa secara seksama dengan maksud

agar terjadi belajar dan membuatnya berhasil guna. Pembelajaran

dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus

dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung dan

mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa

belajar (Eveline Siregar & Hartini Nara 2010: 12).

Dari beberapa pengertian pembelajaran, maka dapat disimpulkan

ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut (Eveline Siregar & Hartini Nara

2010: 12) :

a. Merupakan upaya sadar dan disengaja.

b. Pembelajaran harus membuat siswa belajar.

c. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan.

d. Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses, maupun

Dalam melaksanakan pembelajaran, perlu diperhatikan pula

prinsp-prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran bila diterapkan dalam

proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran akan

diperoleh hasil yang lebih optimal. Selain itu akan meningkatkan kualitas

pembelajaran dengan cara meningkatkan kualitas pembelajaran dengan

cara memberikan dasar-dasar teori untuk membangun sistem intruksional

yang berkualitas tinggi.

4. Pembelajaran Matematika

Pola tingkah laku manusia yang tersusun menjadi suatu model

sebagai prinsip-prinsipbelajar yang diaplikasikan ke dalam matematika.

Prinsip belajar ini haruslah dipilih sehingga cocok untuk mempelajari

matematika. Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang

diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya

deduktif, jelas belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang

tinggi.

Mempelajari konsep B yang mendasarkan kepada konsep A,

seseorang perlu memahami lebih dulu konsep A. Tanpa memahami konsep

A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti, mempelajari

matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada

pengalaman belajar yang lalu. Karena matematika merupakan ide-ide

abstrak yang diberi simbol-simbol, maka konsep-konsep matematika harus

Belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu

terjadinya proses pembeajaran matematika. Ini berarti proses belajar

matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan

secara kontinyu.

Di dalam proses belajar matematika, terjadi juga proses berpikir,

sebab sesorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan

mental dan orang yang belajar matematika mesti melakukan kegiatan

mental. Dalam berpikir itu orang itu menyusun hubungan-hubungan anatar

bagian-bagian informasi yang telah direkam di dalam pikiran orang itu

sebagai pengertian-pengertian. Dari pengertian tersebut terbentuklah

pendapat yang pada akhirnya ditariklah kesimpulan. Tentunya kemampuan

berpikir seseorang itu dipengaruhi oleh intelegensinya. Dengan demikian

terlihat adanya kaitan antara intelegensi dengan proses belajar matematika

(Herman Hudojo, 1988: 3)

5. Prestasi Belajar

Menurut KBBI prestasi adalah hasil yang dicapai seseorang.

Sangatlah wajar apabila dari mereka yang memiliki intelegensi tinggi

diharapkan akan dapat diperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Prestasi

belajar menurut Gronlund (dalam Nyanyu Khodijah, 2014: 89) adalah

hasil yang diharapkan dari pembelajaran yang telah ditetapkan dalam

rumusan perilaku tertentu. Untuk mengetahui prestasi belajar, yang telah

Tes yang mengukur prestasi (achievement test). Tes prestasi dimaksudkan

alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai prestasi belajar

(Saifuddin Azwar, 1987: 7).

Bila dilihat dari tujuan dari pengukuran prestasi belajar, maka

suatu tes dapat melakukan fungsi penempatan, fungsi formatif, fungsi

diagnostik, dan fungsi sumatif. Fungsi penempatan adalah penggunaan tes

prestasi guna melakukan klasifikasi individu ke dalam bidang atau jurusan

yang cocok. Fungsi formatif adalah penggunaan tes prestasi guna melihat

sejauh mana kemajuan belajar yang telah dapat dicapai oleh siswa dalam

suatu program pelajaran. Dalam hal ini maka hasil tes prestasi merupakan

umpan balik kemajuan belajar, dan karena itu biasanya dilakukan di

tengah suatu program yang sedang berjalan. Hasil tes prestasi formatif

dapat menyebabkan perubahan kebijaksanaan mengajar atau belajar,

apabila perlu.

Fungsi diagnostik ditentukan oleh tes prestasi apabila hasil tes

yang didapat digunakan untuk melihat kesukaran-kesukaran dalam belajar,

mencari kelemahan-kelemahan siswa yang dapat diperbaiki. Sedangkan

fungsi sumatif adalah penggunaan tes prestasi guna menghasilkan

informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan

sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Karena itu tes prestasi sumatif

merupakan pengukuran akhir dalam sustu periode pengajaran. Hasil tes

prestasi sumatif biasanya dipakai untuk menentukan apakah seorang siswa

dapat melanjutkan ke program pengajaran yang lebih tinggi. Suatu tes

prestasi sumatif pada program tertentu dapat dipandang sebagai tes

prestasi formatif bagi suatu proses pengajaran yang lebih luas yang

merupakan rangkaian program-program pengajaran bertahap (Saifuddin

Azwar, 1987: 7).

6. Sikap

Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari, dan sikap menentukan

bagaimana individu bereakai terhadap situasi serta menentukan apa yang

dicari individu dalam kehidupan(Slameto 2013: 188).

Sikap terbentuk melalui bermacam-macam cara, antara lain :

a. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui

suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam.

b. Melalui imitasi

Peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja.

Dalam hal terakhir individu harus mempunyai minat dan rasa kagum

terhadap mode, di samping itu diperlukan pula pemahaman dan

kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru;

peniruan akan terjadi lebih lancar bila dilakukan secara kolektif

daripada perorangan.

c. Melalui sugesti

Di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap obyek tanpa

pengaruh yang dating dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai

wibawa dalam pandangannya.

d. Melalui identifikasi

Di sini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi atau

badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya meniru

dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamar, identifikasi

seperti ini sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan

pemimpin, siswa dengan guru, antara anggota suatu kelompok dengan

anggota lainnya dalam kelompok tersebut yang dianggap paling

mewakili kelompok yang bersangkutan.

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif

(Heri Purwanto dalam A. Wawan & Dwi M, 2010: 34) :

a. Sikap positif kecendurungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

mengharapkan obyek tertentu

b. Sikap negatif terdapat kecendurungan untuk menjauhi, menghindari,

membenci, tidak menyukai obyek tertentu.

Ciri-ciri sikap adalah (Heri Purwanto dalam A. Wawan & Dwi M,

2010: 34) :

a. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat

ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar,

b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap

dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan

syarat-syarat teretntu yang mempermudah sikap pada orang itu.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu obyek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga

merupakan kumpulan-kumpulan dari hal-hal tersebut

e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat

alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau

pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap (Heri Purwanto dalam A.

Wawan & Dwi M, 2010: 34) :

a. Pengalaman pribadi

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

c. Pengaruh kebudayaan

d. Media massa

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

7. Sikap Tanggung Jawab

Tanggung jawab secara literal berarti “kemampuan untuk merespons atau menjawab”. Itu artinya tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian, dan secara aktif

memberikan respons terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab

menekankan pada kewajiban positif untuk saling melindungi satu sama

lain. Sebuah tanggung jawab moral tidak secara langsung meminta kita

untuk „mengorbankan‟ sesuatu. Akan tetapi, tanggung jawab lebih bersifat meminta kita untuk mencoba, melalui cara apapun yang kita dapat, dari

sekadar tahu sampai dengan mendukung satu sama lain, meringankan

beban sesama, dan membuat dunia ini sebagai tempat yang lebih baik bagi

semua orang.

Tanggung jawab merupakan sikap saling membutuhkan, tidak

mengabaikan orang lain yang sedang dalam keadaan sulit. Kita menolong

orang dengan komitmen yang telah kita buat, dan apabila kita tidak

menolong mereka, artinya kita membuat sebuah kesulitan baru bagi

mereka. Pada akhirnya, sikap tanggung jawab ditekankan pada

mengutamakan hal-hal yang hari ini dianggap penting sebagai suatu

perbaikan di masa yang akan datang dengan didasari‟hak-hak‟ (Thomas

Lickona, 2012: 73).

Menurut Mohamad Mustari bertanggung jawab adalah sikap dan

sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,

masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan.

Dengan tertibnya penggunaan hak dan kewajiban timbulah rasa tanggung

jawab. Tanggung jawab yang baik berada pada perimbangan yang serasi

antara perolehan hak dan penunaian kewajiban. Untuk itu perlu ada

perumusan konsep tanggung jawab manusia secara lengkap.

Orang yang bertanggung jawab kepada dirinya adalah orang yang

bisa melakukan kontrol internal sekaligus eksternal. Kontol internal adalah

satu keyakinan bahwa ia boleh mengontrol dirinya, dan yakin bahwa

kesuksesan yang dicapainya adalah hasil dari usahanya sendiri.

Orang-orang dari kategori ini merasa bahwa nasib mereka tidak ditentukan oleh

kekuatan luar. Manusia memang tidak sewajarnya bersifat terlalu angkuh

dengan kekuatan dirinya yang tidak seberapa. Di samping itu, mereka juga

perlu yakin terhadap faktor takdir, terutama di dalam memastikan

kesuksesannya adalah faktor yang mutlak (Mohamad Mustari, 2014: 19).

Menurut Sukanto (dalam Mohamad Mustari, 2014: 20)

menyatakan bahwa di antara tanggung jawab yang mesti ada pada manusia

adalah:

a. Tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan

dengan cara takut kepada-Nya, bersyukur, dan memohon petunjuk.

Semesta. Tak ada seorang pun manusia yang lepas bebas dari tanggung

jawab, kecuali orang itu gila atau anak-anak.

b. Tanggung jawab untuk membela didri dari ancaman, siksaan,

penindasan, dan perlakuan kejam dari mana pun datangnya.

c. Tanggung jawab diri dari kerakusan ekonomi yang berlebihan dalam

mencari nafkah, ataupun sebaliknya, dari bersifat kekurangan

ekonomi.

d. Tanggung jawab terhadap anak, suami/istri, dan keluarga.

e. Tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar.

f. Tanggung jawab berpikir, tidak perlu mesti meniru orang lain dan

menyetujui pendapat umum atau patuh secara membuta terhadap

nilai-nilai tradisi, menyaring segala informasi untuk dipilih, mana yang

berguna dan mana yang merugikan kita. Dalam kebebasan berpikir

perlu ada pemupukan kreasi yang berarti mampu mencari pemecahan

masalah-masalah hidup yang kian rumit kita hadapi, dan menciptakan

alternatif baru yang berguna bagi masyarakat.

g. Tanggung jawab dalam memelihara hidup dan kehidupan, termasuk

kelestarian lingkungan hidup dari berbagai bentuk pencemaran.

Bertanggung jawab berarti melaksanakan tugas secara

sungguh-sungguh, berani menanggung konsekuensi dari sikap, perkataan, dan

tingkah lakunya. Orang yang bertanggung jawab kepada dirinya adalah

internal adalah satu keyakinan bahwa ia boleh mengotrol dirinya dan yakin

bahwa kesuksesan yang dicapainya adalah hasil dari usahanya sendiri.

Manusia harus bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.

Maka kita sebagai manusia harus belajar untuk menerima tanggung jawab

total terhadap diri sendiri. Jika kita tidak dapat mengatur diri kita sendiri

maka berarti kita memberikan pada orang lain untuk mengontrol diri kita.

Kebiasaan itu lebih kuat daripada kesadaran. Kita kadang ingin melakukan

sesuatu sesuai dengan keadaan, tetapi pas waktunya kita malah melakukan

hal yang lain. Oleh karena itu, untuk tanggung jawab ini kita harus

membiasakan diri menjadi orang yang bertanggung jawab (Mohamad

Mustari 2014: 25).

B. Model Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Koperatif

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang

melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling

berinteraksi. (Nurulhayati dalam Rusman, 2012: 201). Teori yang

melandasi pembelajaran kooperatif ini adalah teori konstruktivisme. Pada

dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu

pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan

mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi

dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam

Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode

pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil

untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi

pelajaran. Dalam kelas kooperatif para siswa diharapkan dapat saling

membantu, saling mendiskusikan dan beragumentasi, untuk mengasah

pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam

pemahaman masing-masing.

Pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia

pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya

digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti

tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu. Namun demikian, penelitian selama

dua puluh tahun terakhir ini telah mengidentifikasikan metode

pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan secara efektif pada setiap

tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagau macam mata pelajaran.

(Robert E. Slavin, 2005: 4).

Konsep dalam pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar

belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang

membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan.

Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan

benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.

Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar

dari guru kepada siswa. Namun, siswa dapat saling membelajarkan sesama

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran

yang lain. Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah (1)

pembelajaran secara tim (2) didasarkan pada manajemen kooperatif (3)

kemauan untuk bekerja sama dan (4) keterampilan bekerja sama.

(Rusman, 2012: 207). Prinsip pembelajaran kooperatif menurut Roger dan

David Johnson ada lima unsur dasar yaitu (1) prinsip ketergantungan

positif (2) tanggung jawab perseorangan (3) interaksi tatap muka (4)

partisipasi dan komunikasi dan (5) evaluasi proses kelompok.

Prosedur atau langkah dalam pembelajaran kooperatif pada

prinsipnya terdiri atas empat tahapan (Rusman, 212) yaitu (1) penjelasan

materi (2) belajar kelompok (3) penilaian dan (4) pengakuan tim. Teknik

pembelajaran yang dipelajari oleh John Hopkins University adalah metode

Student Team Learning (Pembelajaran Tim Siswa). Tiga konsep penting

bagi metode ini adalah (1) penghargaan bagi tim (2) tanggung jawab

individu dan (3) kesempatan sukses yang sama. (Robert E. Slavin, 2005:

10).

Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa

perspektif yaitu : 1) Perspektif motivasi artinya penghargaan yang

diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu

untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok. 2) Perspektif sosial

artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam

belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok

dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan

prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. (Sanjaya

dalam Rusman, 2012:206)

2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Adapun karakteristik atau ciri pembelajaran kooperatif dapat

dijelaskan sebagai berikut. (Rusman, 2012: 207)

a. Pembelajaran Secara Tim

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan dalam tim.

Tim harus mampu membuat setiap anggota tim belajar. Setiap anggota

tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif

Manajemen seperti yang telah kita pelajari pada bab sebelumnya

memiliki tiga fungsi, yaitu: (a) Fungsi manajemen sebagai

perencanaan pelakasanaan menunjukkan bahwa pembelajaran

kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan

langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan apa

yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus

digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya. (b) Fungsi

Dokumen terkait