• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Manfaat Penelitian

2. Model Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi dan memberikan petunjuk kepada guru di kelas.

Beberapa macam model pembelajaran menurut Arends diantaranya adalah Model Pembelajaran Langsung, Model Pembelajaran Kooperatif, Model Pembelajaran Kooperatif.16

1) Model Pembelajaran Langsung

13

Ahmad Sofyan, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta:UIN Jakarta Press, 2006), hal .04

14

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), cet II, hal. 190.

14

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2009), cet ke-14, hal. 22.

16

Mohammad Asikin, Model-model Pembelajaran Matematika, (Semarang:UNNESA Press, 2001), hal. 03

Model ini secara khusus dilakukan untuk menunjang proses belajar siswa dengan guru secara langsung yang berkaitan dengan pengetahuan guru mentransfer ilmu dengan cara prosedur dan terstruktur. Model pembelajaran ini yang paling dominan dikelas adalah guru.

2) Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini memiliki ciri pokok yaitu siswa belajar dalam kelompok secara bersama-sama yang dibentuk dari siswa-siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu, penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan. Tujuan dari pembelajaran ini adalah hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

3) Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Pembelajaran ini menekankan pada materi yang mengandung persoalan-persoalan untuk dipecahkan dan persoalan tersebut lebih disukai dengan berbagai altematif cara pemecahannya. Tujuannya untuk membantu siswa mengembangkan pemecahan masalah, belajar bekerja sama dan menjadi pelajar yang mandiri.

4) Model Pembelajaran Diskusi

Diskusi adalah suatu model pembelajaran melalui interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dengan tujuan untuk memecahakan masalah, bertukar pikiran, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar

kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdependensi efektif diantara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan diri secara individu dan sumbangan dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok.

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil.17Senada dengan Sanjaya dalam Rusman berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan secara berkelompok.18

Riyanto menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik

(Academic Skill), sekaligus ketrampilan sosial (social skill) termasuk IQ interpersonal skill.19

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:20

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajamya.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

3) Anggota kelompok berasal dari ras, budaya, agama, etnis dan jenis kelamin yang berbeda-beda.

4) Pembelajaran lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

17

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), cet. I, hal. 194

18

Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesional Guru, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hal. 203

19

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 27 20

Ibrohim,dkk, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya:Universitas Negeri Surabaya, 2001), hal. 06

Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif sehingga untuk mencapai hasil yang maksimal perlu diterapkan lima unsur model pembelajaran kooperatif,yaitu:

1) Saling ketergantungan positif, artinya keberhasilan kelompok sangat dipengaruhi oleh usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu mcnyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2) Tanggung jawab perseorangan, artinya setiap anggota kelompok harus melaksanakan tugasnya dengan baik untuk keberhasilan kelompok 3) Tatap muka, artinya setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk

bertemu dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan mendorong siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota kelompoknya. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, di mengisi kekurangan masing-masing. 4) Komunikasi antar anggota, unsur ini menghenaaki agar siswa dibekali

dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi, karena keberhasilan kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5) Evaluasi proses kelompok, guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama secara efektif.21 b. Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif banyak sekali metode yang dikenalkan antara tipe pembelajaran yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan, baik pada keunggulan, cara pembelajaran maupun kekurangannya. Tipe pembelajaran kooperatif yang sudah diterapkan yaitu: STAD (Student Teams Achievement Division), TAI (team Assisted

21

Anita lie, Cooperatif: Mempraktikan Cooperative Learning di ruang-ruang kelas, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal 31

Individualization), TGT (Teams Games Tournament), Jigsaw, penelitian kelompok (Group Investigation);22

1) STAD (Student Teams Achievement Division).

Dalam STAD siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan beranggotakan 4-5 siswa, dalam kelompok tersebut harus berbagai macam siswa, seperti tingkatan dalam prestasi, jenis kelamin, rasa atau suku dan agama. Selanjutnya guru memberikan materi kepada tiap kelompok, setiap siswa dalam kelompok tersebut harus mengerjakan tugas secara sendiri-sendiri. Dalam penilaiannya guru memeberikan skor kepada masing- masing siswa sesuai kesepakatan bersama.

2) TAI (Team Assisted Individualization)

TAI atau pembelajaran individual dibantu tim pada dasamya hampir sama dengan STAD, dalam penggunaan tim belajar empat anggota berkemampuan campur dan penghargaan untuk tim berkinerja tinggi, bedanya bila STAD menggunakan satu langkah pengajaran di kelas, TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individu.

3) TGT (Teams Games Tournament)

TGT atau pertandingan-pertandingan tim merupakan pengembangan dari STAD. Setelah siswa belajar dalam kelompoknya, masing-masing anggota kelompok akan mengadakan lomba dengan anggota kelompok lain, sesuai dengan tingkat kemampuannya. Penilaian kelompok didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh dari masing masing anggota kelompok.

4) Jigsaw

Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi dalam kelompok- kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri atas empat sampai lima orang

22

Robert E. Slavina, Cooperatif Learningteori: riset dan praktek, (Bandung: Nusa Media, hal 11-16

yang berbeda tingkat kemampuan, ras, atau jenis kelaminnya. Masing-masing anggota kelompokdiberikan tugas untuk mempelajari topik tertentu dari materi yang diajarkan. Mereka bertugas menjadi ahli pada topik yang menjadi bagiannya. Setiap siswa dipertemukan dengan siswa dari kelompok lain yang menjadi ahli pada topik yangsama, Mereka mendiskusikan topik yang menjadi bagiannya. Pada tahap ini setiap siswa diperbolehkan bertanya, mengungkapkan pendapat, berdiskusi untuk menguasai bahan pelajaran. Pada akhir kegiatan setiap anggota mengerjakan tes untuk semua sub topik dan topik yang dipelajari. Skor hasil tes tiap kelompok dihitung dan diumumkan secara terbuka.

5) GI (Group Investigation)

Group Investigation adalah strategi pembelajaran yang dirancang agar siswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah dan mengembangkan keterampilan meneliti. Didalam teknik ini siswa bekerja dalam kelompok- kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif, diskusi kelompok dan perencanaan serta proyek kooperatif. Tiap kelompok diberi tanggung jawab untuk memilih topik yang diminati, membagi tugas-tugas menjadi sub-sub topiknya tersebut. Mereka juga mengintegrasikan materi sub-sub topiknya untuk menyusun laporan kelompok. Laporan hasil kerja kelompok dilaporkan kesemua anggota kelompok.

c. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Linda Lungren dalam Ibrahim, ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi belajar yang rendah, yaitu:

1) Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. 2) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi.

3) Memperbaiki sikap terhadap IPS dan sekolah. 4) Memperbaiki kehadiran.

6) Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar. 7) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil.

8) Konflik antar pribadi berkurang. 9) Sikap apatis berkurang.

10)Pemahaman yang lebih mendalam. 11)Motivasi lebih besar.

12)Hasil belajar lebih tinggi. 13)Retensi lebih lama.

14)Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.23

Sedangkan kelemahan pembalajaran kooperatif diantaranya adalah: 1) Pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup lama. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa akan mengerti dan memahami pembelajaran kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, mereka akan merasa terhambat oleh siswa ini dapat mengganggu iklim kerjasama dalam kelompok.

2) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.

3) Keberhasilan kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali penerapan strategi ini.

3. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

Dokumen terkait