BAB II LANDASAN TEORI
B. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
B. 3. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Rusman (2010: 202), Pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning (Abdulhak dalam Rusman, 2010: 203). Menurut Hamdani (2011: 30) model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian belajar siswa dalam kelompok belajar tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran
Empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif (Rusman, 2010: 204): 1) adanya peserta didik dalam kelompok, 2) adanya aturan (role) dalam kelompok, 3) adanya upaya belajar dalam kelompok, dan 4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok
Pengelompokkan siswa dapat ditentukan berdasarkan: 1) Minat dan bakat siswa, 2) Latar belakang kemampuan siswa, 3) Perpaduan antara minat dan bakat siswa dan latar kemampuan siswa
Nurulhayati, (Rusman, 2010 : 204), mengemukakan lima unsur dasar cooperative learning, yaitu:
1. Ketergantungan yang positif
Ketergantungan yang positif adalah suatu bentuk kerja samayang sangat erat kaitan antara anggota kelompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti
bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan
anggotanya.
2. Pertanggungjawaban individual
Pertanggungjawaban individual adalah kelompok tergantung pada cara belajar perseorangan seluruh anggota kelompok. Pertanggungjawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang dan memastikan bahwa setiap
orang dalam kelompok siap menghadap aktivitas lain di mana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok.
3. Kemampuan bersosialisasi
Kemampuan bersosialisasi adalah sebuah kemampuan
bekerja sama yang biasa digunakan dalam aktivitas kelompok. Kelompok tidak berfungsi secara efektif jika siswa tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan.
4. Tatap muka
Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan member siswa bentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.
5. Evaluasi proses kelompok
Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif.
Berdasarkan penelitian Slavin (Rusman, 2010: 205), Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berfikir kritis,
memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
Dua komponen pembelajaran kooperatif (Rusman, 2010: 206):
1. Cooperative task(tugas kerja sama)
Tugas kerja sama berkenaan dengan suatu hal yang menyebabkan anggota kelompok kerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan.
2. Cooperative incentive structure(struktur insentif kerja sama)
Struktur insentif kerja sama merupakan sesuatu hal yang membangkitkan motivasi siswa untuk melakukan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan kelompok tersebut.
Beberapa karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif, diantaranya:
1. Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan ssecara tim. Tim adalah tempat untuk mencapai tujuan dan harus mampu membuat seiap siswa belajar. semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan
2. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif
a. fungsi manajemen sebagai pelaksanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan.
b. Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif.
c. Fungsi menejemen sebagai control, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun nontes.
3. Kemauan untuk Bekerja Sama
Prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif karena keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan kelompok.
4. Keterampilan Bekerja Sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktekkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif (Rusman, 2010: 208) :
a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya
c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama
d. Siswa haruslah membagi tugas dan bertanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau dikenakan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya
g. Siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif
Berdasarkan unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif di atas, disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah untuk
mencapai hasil belajar kompetensi akademik, mengembangkan
kompetensi sosial siswa, membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit, dan mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
Tiga bentuk keterampilan kooperatif oleh Lundgren (Rusman, 2010: 210):
1. Keterampilan kooperatif tingkat awal
Meliputi: (a) menggunakan kesepakatan; (b) menghargai kontribusi; (c) mengambil giliran dan berbagi tugas; (d) berada dalam kelompok; (e) berada dalam tugas; (f) mendoromg partisipasi; (g) mengundang orang lain untuk bicara; (h) menyelesaikan tugas pada waktunya; dan (i) menghormati perbedaan individu.
2. Keterampilan kooperatif tingkat menengah
Meliputi: (a) menunjukkan penghargaan dan simpati; (b) mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima; (c) mendengarkan dengan aktif; (d) bertanya; (e) membuat ringkasan; (f) menafsirkan; (g) mengatur dan mengorganisir; (h) menerima, tanggung jawab; dan (i) mengurangi ketegangan.
3. Keterampilan kooperatif tingkat mahir
Meliputi: (a) mengelaborasi; (b) memeriksa dengan cermat; (c) menanyakan kebenaran; (d) menetapkan tujuan; dan (e) berkompromi.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif menurut Roger dan David Johnson (Lie dalam Rusman, 2010: 212):
1. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok . oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan.
2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
3. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas pada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling member dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
4. Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.