LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dengan Pendekatan Saintifik (NHT-PS)
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) ini dikembangkan oleh Spenser Kagan. Model pembelajaran ini melibatkan banyak aktivitas siswa dalam pembelajaran terutama dalam mereview, saling bertukar ide dan mendiskusikan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru. Selain itu model pembelajaran ini juga dapat mendorong semangat siswa untuk meningkatkan kerja sama dalam kelompok. Model pembelajaran ini dapat digunakan pada semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia anak didik.
Pada dasarnya, model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan variasi dari diskusi kelompok. Teknis pelaksanaanya hampir sama dengan diskusi kelompok. Pertama-tama, guru meminta siswa untuk berkelompok. Masing-masing anggota kelompok diberi nomor. Setelah selesai berdiskusi, guru memanggil nomor tertentu untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Guru tidak memberitahukan nomor berapa yang akan menyampaikan hasil diskusi selanjutnya. Pemangggilan secara acak ini akan memastikan semua siswa benar-benar terlibat dalam diskusi serta fokus pada pembelajaran. Selain itu juga menumbuhkan sikap tanggung jawab pada diri siswa.
Menurut Trianto (2007:62) dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks model pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai berikut.
a) Fase 1 : penomoran (numbering)
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5.
Guru mengajukan pertanyaan kepada kelompok melalui LKS dan kepada setiap kelompok mendiskusikan jawabannya.
c) Fase 3 : berfikir bersama (heads together)
Siswa menyatakan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
d) Fase 4 : menjawab pertanyaan (answering)
Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan hasil kerjasama mereka.
Menurut Miftahul A’la (2010:101) pembelajaran kooperatif tipe NHT memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah sebagai berikut.
a) Siswa menjadi siap dalam pembelajaran. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjawab pertanyaan.
b) Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
c) Siswa yang kurang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah sebagai berikut.
a) Kemungkinan nomor yang sudah dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru. b) Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
c) Tidak semua anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, guru dapat membuat catatan kecil terkait dengan nomor-nomor yang sudah dipanggil dalam setiap pertemuan. Untuk nomor yang belum dipanggil, dapat dipanggil pada pertemuan berikutnya.
Menyikapi implementasi kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik, maka dalam penelitian ini digunakan pula model pembelajaran yang dikombinasikan dengan pendekatan saintifik, sehingga sintaks model pembelajaran NHT tersebut dimodifikasi sebagai berikut.
a) Siswa membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5 orang secara heterogen. Masing-masing anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda satu sama lain (fase numbering).
b) Masing-masing kelompok mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru melalui pengamatan dengan tujuan siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan pemahamannya (fase questioning). Misalkan siswa diminta untuk mengamati peristiwa yang berhubungan dengan materi fungsi misalnya antara siswa dengan dengan jenis menu makanan yang disukai di kantin sekolah atau siswa dengan mata pelajaran yang disukainya. Hubungan tersebut kemudian disajikan dalam tabel. Dari tabel tersebut siswa akan menemukan sebuat permasalahan tentang fungsi. (mengamati).
c) Melalui kegiatan mengamati, akan muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa, misal: apa yang dimaksud dengan relasi, fungsi, bagaimana cara pernyajian fungsi dan lain sebagainya (menanya).
d) Masing-masing kelompok berdiskusi untuk menemukan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengerti jawaban tersebut (fase heads together). Dalam tahap ini guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk menemukan sendiri penyelesaian masalah tersebut. Selama kegiatan diskusi berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator. (mencoba)
e) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil mengungkapkan apa yang didapat dari hasil diskusi kelas untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dengan menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari (fase answering dan mengasosiasi)
f) Siswa dari kelompok lain yang masih belum paham atau berbeda pendapat boleh menampilkan dan mempresentasikan jawabannya kepada seluruh anggota kelas dan siswa lain diminta untuk memberikan tanggapan. (mengkomunikasikan) g) Guru memberikan evaluasi.
b. Model Pembelajaran Klasikal dengan Pendekatan Saintifik (klasikal-PS) Pembelajaran klasikal adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu secara umum. Dimyati dan Mudjiono (2009:162) menyatakan ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran klasikal dapat ditinjau dari segi-segi berikut ini.
1) Tujuan pengajaran
Perilaku belajar mengajar di sekolah yang menganut sistem klasikal tampak serupa. Dalam kelas terdapat siswa yang rata-rata berjumlah empat puluhan siswa. Guru membantu siswa menghadapi kesukaran. Tujuan pembelajaran yang menonjol adalah pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri. Dalam pengajaran klasikal guru menggunakan ukuran kemampuan rata-rata kelas.
2) Siswa dalam pembelajaran
Dalam pembelajaran klasikal guru mempunyai mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membelajarkan siswa.
3) Guru sebagai pembelajar
Peran guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Peran guru tersebut adalah membantu merencanakan kegiatan belajar siswa, dengan musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai kemampuan siswa, membicarakan pelaksanaan belajar, menentukan kriteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar; berperan sebagai penasehat atau pembimbing dan membantu siswa dalam penilaian hasil belajar.
Dalam pembelajaran klasikal berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Pengelolaan pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Tekanan utama pembelajaran adalah seluruh anggota kelas.
Kelebihan model pembelajaran klasikal adalah sebagai berikut. 1) Secara ekonomis pembiayaan kelas lebih murah.
2) Mudah digunakan dalam kelas dengan jumlah siswa besar.
Kelemahan model pembelajaran klasikal adalah sebagai berikut. 1) Gangguan belajar dapat berasal dari individu maupun sekelompok individu. 2) Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masalah yang bersumber dari kondisi
tempat belajar misal ruang kelas kotor, papan tulis rusak, meja & kursi rusak yang dapat mengganggu pembelajaran.
Menyikapi implementasi kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik, maka dalam penelitian ini digunakan pula model pembelajaran yang dikombinasikan dengan pendekatan saintifik, sehingga sintaks model pembelajaran kasikal tersebut dimodifikasi sebagai berikut.
a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyampaikan kompetensi dasar yang akan dicapai tentang materi fungsi.
b) Guru memberikan apersepsi dengan cara menyebutkan dan mendeskripsikan hal-hal disekitar yang terkait dengan materi fungsi. Misalkan siswa diminta untuk mengamati peristiwa yang berhubungan dengan pokok bahasan fungsi misalnya antara siswa dengan dengan jenis menu makanan yang disukai di kantin sekolah atau siswa dengan mata pelajaran yang disukainya. Hubungan tersebut kemudian disajikan dalam tabel. Dari tabel tersebut siswa akan menemukan sebuat permasalahan tentang fungsi.
c) Siswa diberikan tugas untuk mempelajari materi pembelajaran secara individu melalui pengamatan terhadap peristiwa yang berkaitan dengan fungsi (mengamati)
d) Melalui kegiatan mengamati, akan muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa, misal: apa yang dimaksud dengan relasi, fungsi, bagaimana cara pernyajian fungsi dan lain sebagainya (menanya)
e) Siswa mencermati masalah yang ada dalam LKS dan guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk menemukan sendiri penyelesaian masalah tersebut. Dalam hal ini siswa mencatat hal-hal yang penting dalam diskusi kelas tersebut (mencoba)
f) Siswa diminta mengungkapkan apa yang didapat dari hasil diskusi kelas untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dengan menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari (mengasosiasi)
g) Beberapa siswa diminta untuk menampilkan jawabannya di depan kelas dan mempresentasikan jawabannya kepada seluruh anggota kelas dan siswa lain diminta untuk memberikan tanggapan. (mengkomunikasikan)
h) Guru menutup pembelajaran dan membimbing siswa untuk meyimpulkan materi yang telah dipelajari.