• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture

Menurut Suprijono (2009) Picture and Picture adalah salah satu metode pembelajaran yang menggunakan gambar dalam bentuk potongan – potongan untuk kemudian dipasangkan serta diurutkan menjadi gambar yang utuh. Pemasangan dan pengurutan gambar dapat dilakukan secara perorangan maupun dengan kelompok. Pemasangan dan pengurutan gambar dilakukan secara

kelompok akan meningkatkan interaksi sosial siswa. Dalam kelompok, siswa akan saling membantu dan berdiskusi satu sama lain. Gambar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambar yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Langkah – langkah pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture : 1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai

Pada langkah ini guru diharapkan menyampaikan apakah yang menjadi tujuan dalam pembelajaran.

2) Menyajikan materi sebagai pengantar

Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini, karena guru dapat memberikan motivasi menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap

3) Mengorganisasikan siswa duduk dengan kelompok-kelompok belajar

 Memberikan informasi kepada siswa tentang prosedur pelaksanaan pembelajaran Picture and Picture

 Membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari 5 orang

4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar

 Membagikan LKS serta gambar pada masing-masing kelompok

 Menjelaskan cara kerja pada LKS mengenai cara mengurutkan

maupun mencocokkan gambar

 Meminta setiap kelompok menuliskan jawaban hasil diskusi pada LKS

5) Melakukan evaluasi

Guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya 6) Memberi penilaian/ penghargaan

Guru memberikan penilaian terhadap hasil diskusi kelompok.

Pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan metode Picture and

Picture :

Kelebihan metode Picture and Picture (Huda, 2013) :

1) Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa

2) Siswa dilatih berpikir logis dan sistematis

3) Siswa dibantu belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subyek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir

4) Memotivasi siswa untuk blajar semakin berkembang

5) Siswa lebih cepat menangkap materi yang diajarkan karena guru

menunjukkan gambar-gambar sesuai dengan materi yang dipelajari Kekurangan metode Picture and Picure (Jamal, 2011) :

1) Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkualitas serta sesuai dengan materi yang dipelajari

2) Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki

3) Tidak tersediannya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan

4.. Motivasi Belajar 1. Pengertian Motivasi

Motivasi menurut Sardiman (2004) menyatakan bahwa motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang tersebut mau dan ingin melakukan sesuatu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang mengaktifkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. Jenis Motivasi

a. Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar ( Sardiman,2004).

b. Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

c. Faktor – faktor yang mempengaruhi

Dalam buku belajar dan pembelajaran, menurut Ali Imron dalam Siregar dan Nara (2010) mengemukakan enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran yang meliputi :

1. Cita – cita / aspirasi pembelajaran.

Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi ketika sebelumnya sudah memiliki cita – cita untuk masa depan.

2. Kemampuan siswa

Siswa yang mengetahui kemampuannya pada bidang tertentu akan

termotivasi dengan kuat untuk terus menguasai dan

mengembangkan kemampuannya dalam bidang tertentu. 3. Kondisi siswa

Kondisi fisik dan dan kondisi psikis siswa akan mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi siswa untuk belajar.

4. Kondisi lingkungan siswa

Kondisi lingkungan siswa dapat diamati dari lingkungan fisik dan sosial siswa. Faktor lingkungan fisik mempengaruhi kenyamannan siswa saat belajar, sedangkan faktor lingkungan sosial seperti teman sepermainan, keluarga, dan teman kelas yang tidak menunjukkan kebiasaan belajar akan berpengaruh terhadap motivasi terhadap rendahnya motivasi belajar siswa.

5. Unsur – unsur dinamis belajar/pembelajaran

Dilihat dari upaya memotivasi tersebut dilakukan. Bahan pelajaran, alat bantu belajar, dan suasana belajar dapat mendinamisasikan proses pembelajaran.

Guru mengubah kebiasaan dari yang semula menganggap siswa sebagai obyek menjadi menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran.

Djamarah (2006) menyatakan ada beberapa cara menumbuhkan motivasi dalam belajar dikelas, antara lain:

1. Memberi angka

Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan motivasi mereka dimasa mendatang.

2. Hadiah

Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang – kenangan. Hadiah yang diberikan kepada orang lain berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi atau bisa juga sesuai dengan prestasi yang dicapai seseorang.

3. Saingan/ kompetisi

Kompetensi adalah saingan, yang dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah dalam belajar. Persaingan baik dalam individu atau kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif.

4. Ego – involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga diri.

5. Memberi ulangan

Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mepersiapkan diri dengan belajar jauh – jauh hari untuk menghadapi ulangan. Oleh karena itu, ulangan merupakan strategi yang cukup untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar.

6. Mengetahui hasil

Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik didorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mengalami kemajuan, anak didik berusaha ntuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan itensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari.

7. Pujian

Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan alat motivasi. Pujian adalah bentuk Reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan disekolah.

Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat – buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik.

8. Hukuman

Meski hukuman sebagai Reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi yang baik bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, karena bukan balas dendam.

9. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih daripada anak didik yang berhasrat untuk belajar.

10.Minat

Minat adalah kencenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang.

Motivasi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah dimana siswa diharapkan memiliki minat, ketekunan, sikap, dan motivasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri tanpa adanya dorongan dari pihak lain (motivasi intrinsik). Ini bisa diwujudkan dengan memberikan kebiasaan belajar bagi siswa seperti sering memberikan tugas dan Test. Untuk menjadi siswa yang termotivasi belajar atas keinginannya sendiri, pertamnanya memang perlu dorongan dari pihak lain terlebih dahulu (motivasi ekstrinsik).

Dokumen terkait