• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

a. Model Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Menurut Corey dalam Syaiful Sagala (2007:61) pembelajaran diartikan sebagai

“Suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola agar ia ikut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”. Ia juga menambahkan pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.

Knirk dan Gustatson dalam Syaiful Sagala (2007:64) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Artinya, pembelajaran tidak terjadi seketika melainkan sudah melalui tahap perancangan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran merupakan kegiatan yang direncanakan oleh guru untuk membantu peserta didik mempelajari suatu kemampuan dalam proses yang sistematis dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, seorang guru haruslah menentukan model pembelajaran, strategi, metode dan teknik mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Guru hendaknya menguasai beberapa model pembelajaran agar proses belajar mengajar di kelas lebih bervariasi. Apabila guru menguasai beberapa model pembelajaran maka mereka akan merasakan kemudahan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai yang diharapkan (Trianto, 2007: 10).

commit to user

Menurut Joyce dalam Triyanto (2007: 5) model pembelajaran diartikan sebagai suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan pembelajaran di kelas dan untuk menentukan perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Joyce juga menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Adapun Soekamto dalam Nurulwati dalam Trianto (2007: 5) mengemukakan pengertian model pembelajaran sebagai berikut: “Kerangka konseptual yang melakukan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam

merencanakan aktifitas belajar mengajar”. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.

Model pembelajaran memiliki empat ciri khusus yang tidak dipunyai strategi atau metode tertentu yaitu:

1) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya. 2) Tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar metode tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan

4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

(Depdiknas, 2005: 5) Menurut Arends dalam Trianto (2007: 9) model mengajar yang praktis dan sering digunakan guru dalam mengajar yaitu presentasi, pembelajaran langsung, pengajaran konsep, pengajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah dan diskusi kelas. Ia menambahkan bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling baik diantara yang lainnya karena masing-masing model pembelajaran dapat dirasakan apabila telah diujicobakan untuk mengajar materi pelajaran tertentu (Arends dalam Trianto, 2007: 9). Oleh karena itu beberapa model pembelajaran perlu diseleksi, model pembelajaran manakah yang paling baik untuk mengajarkan suatu materi tertentu. Akibatnya, dalam mengajarkan suatu topik

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

tertentu dalam matematika haruslah dipilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Pertimbangan mengenai materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif, siswa dan sarana yang tersedia sangatlah penting dalam pemilihan model pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.

b. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dilandasi oleh teori konstruktivis. Pembelajaran kooperatif muncul dari ide bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Menurut Wina Sanjaya (2006: 240) Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen). Adapun tujuan dibentuknya kelompok adalah memberi kesempatan kepada semua siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.

Dalam pembelajaran kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, berdiskusi, memberi penjelasan kepada teman sekelompok dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selanjutnya setiap anggota kelompok bekerja sama dan membantu memahami suatu materi, memeriksa dan memperbaiki pekerjaan teman untuk mencapai tujuan hasil belajar yang tinggi. Guru perlu menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa tugas belum selesai apabila salah satu anggota kelompok belum menguasai dan memahami materi pelajaran.

Pembelajaran kooperatif akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Menurut Slavin dalam Wina Sanjaya

commit to user

(2007: 240) hal ini berkaitan dengan dua alasan yaitu banyak penelitian membuktikan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar sekaligus meningkatkan kemampuan hubungan sosial dan harga diri. Selain itu pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan.

Hal yang sama juga disampaikan Johnson and Johnson dalam Zakaria (2010:273) sebagai berikut ”To achieve success in learning mathematics students should be given the opportunity to communicate mathematically, reasoning mathematically, develop self confidence to solve mathematics problem. One of the ways this can be done is through cooperative learning”. Ia juga menambahkan

“In cooperative learning, students study in small groups to achieve the same goals using social skills. Many studies show that cooperative learning can improve performance, long term memory and positive attitudes towards mathematics, self

concept and social skills”. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif dapat

menjadi alternatif upaya memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan di sekolah-sekolah terutama dalam pembelajaran matematika.

Pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok, karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang efektif di antara anggota kelompok(Sanjaya, Wina, 2007:241). Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok, sedangkan struktur dorongan kooperatif merupakan sesuatu yang membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Melalui struktur dorongan yang bersifat kooperatif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran sehingga mencapai tujuan kelompok.

Model pembelajaran kooperatif menuntut guru agar berperan sebagai motivator, fasilitator dan moderator. Guru hendaknya mengurangi perannya sebagai sumber informasi. Kemampuan mengelola kelas sangat dibutuhkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Ketika siswa sedang belajar dan bekerja

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

dalam kelompok, guru berkeliling diantara kelompok, memberikan pujian bagi kelompok yang sedang bekerja dengan baik serta mengamati kerja masing-masing.

Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagi berikut:

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif dalam menuntaskan materi belajar.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

3) Bila memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, suku, jenis kelamin yang beragam.

4) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu. (Arends dalam Trianto, 2007: 47) Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran ini tergantung dari keberhasilan masing-masing individu dalam kelompok dimana keberhasilan tersebut sangat berarti untuk mencapai suatu tujuan positif dalam belajar kelompok.

c. Teori yang mendasari pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif termasuk model pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme. Dalam teori konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuannya kepada siswa. Agar pengetahuan siswa bermakna, maka siswa harus memproses sendiri informasi yang diperolehnya, menstrukturnya kembali dan mengintegrasikan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan pengetahuan tersebut.

Prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivisme dikemukakan oleh Suparno (1997: 49) adalah sebagai berikut:

1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun secara sosial.

2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

3) Murid aktif mengkonstruksi terus menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap serta sesuai dengan konsep ilmiah.

4) Guru hanya sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.

commit to user

Prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam bidang matematika. Suparno (1997: 73) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip yang sering digunakan adalah (1) pengetahuan dibangun siswa secara aktif, (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, (3) mengajar adalah membantu siswa, (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses belajar bukan pada hasil akhir, (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan (6) guru adalah fasilitator.

Teori–teori yang mendasari konstruktivisme dan mendukung pembelajaran kooperatif antara lain:

1)Teori Vigotsky

Kontribusi yang paling penting dari teori Vigotsky adalah penekanan pada kerjasama, saling tukar pendapat antarsesama siswa dalam pembelajaran. Menurut teori ini siswa belajar konsep paling baik apabila konsep tersebut berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini.

Ide lain dari teori Vigotsky adalah scaffolding, yaitu pemberian bantuan dan keleluasaan kepada siswa pada tahap awal belajar kemudian mengurangi bantuan tersebut serta memberikan kesempatan kepada siswa mengambil tanggung jawab sendiri ketika mereka siap. Implikasi teori Vigotsky adalah adanya setting pembelajaran yang menekankan hakikat sosial dalam belajar dan penggunaan kelompok sejawat untuk memodelkan cara berfikir yang sesuai dan saling mengemukakan dan menantang miskonsepsi-miskonsepsi di antara mereka (Pontecorvo dalam Nur, 1999: 7).

2)Teori Piaget

Pembentukan pengetahuan menurut Piaget adalah suatu proses asimilasi dan akomodasi informasi ke dalam struktur mental anak. Asimilasi artinya adalah penyerapan pengalaman dan informasi baru, sedangkan akomodasi adalah hasil penyusunan kembali dari pikiran sebagai akibat masuknya pengalaman dan informasi baru. Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dan lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan. Sementara itu interaksi sosial dengan teman sebaya khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

pemikiran itu menjadi lebih logis. Berikut ini adalah implikasi penting dalam model pembelajaran dari teori Piaget (Trianto, 2007: 16).

(a) Memusatkan perhatian kepada berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.

(b) Memperhatikan perencanaan pelik dari inisiatif anak sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa didorong untuk menemukan sendiri pengetahuan melalui interaksi spontan dengan lingkungannya. Oleh karena itu guru dituntut untuk mempersiapkan beraneka ragam kegiatan yang memungkinkan anak melakukan kegiatan secara langsung dengan dunia fisik

(c) Memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Oleh karena itu, guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk individu-individu dan kelompok kecil siswa dari pada bentuk klasikal.

d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif memiliki tiga tujuan penting (Depdiknas, 2005: 15) yaitu:

1) Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model kooperatif lebih baik dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.

2) Penerimaan terhadap keragaman

Model kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima keragaman yang ada berupa perbedaan ras, budaya, tingkat sosial, dan kemampuan akademik.

3) Pengembangan ketrampilan sosial

Model pembelajaran kooperatif berupaya mengembangkan ketrampilan sosial siswa meliputi berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya.

commit to user e. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Terdapat lima tipe pembelajaran kooperatif yaitu Student Teams

Achievement Division(STAD), Team-Games Tournament(TGT), Jigsaw,

Cooperative Integrated Reading and Composition(CIRC), dan Team Accelerate Instruction(TAI). Kelima tipe ini melibatkan penghargaan tim, tanggung jawab individual dan kesempatan sukses yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Dalam skripsi ini pembahasan dibatasi hanya pada tipe STAD.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok empat sampai lima orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan diakhiri dengan penghargaan kelompok. Slavin (2008: 11) menyatakan bahwa dalam STAD para siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat sampai enam orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etnik. Guru menyampaikan pelajaran lalu siswa bekerja dalam tim mereka, memastikan bahwa seluruh anggota tim seluruhnya telah menguasai pelajaran. Selanjutnya seluruh siswa mengerjakan kuis di mana mereka tidak diperbolehkan saling membantu.

Para siswa bekerja sama setelah guru menyampaikan materi pelajaran. Mereka dapat bekerja sama membandingkan jawaban masing-masing, mendiskusikan setiap ketidaksesuaian dan saling membantu jika ada yang salah dalam memahami. Mereka saling menilai kekuatan dan kelemahan mereka agar berhasil dalam kuis. Meskipun demikian, mereka tidak boleh saling membantu mengerjakan kuis. Tiap siswa harus tahu materinya. Tanggung jawab individual seperti ini akan memotivasi siswa untuk memberi penjelasan dengan baik satu sama lain (Slavin, 2008: 12). Hal ini berkaitan agar semua anggota tim menguasai informasi atau kemampuan yang diajarkan.

Kuis para siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya dan tiap tim akan diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih anggotanya. Poin dari tiap anggota kelompok dijumlahkan untuk memperoleh skor tim. Tim yang memenuhi kriteria tertentu akan mendapat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

sertifikat atau penghargaan. Penghargaan inilah yang dapat memotivasi siswa supaya saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang diajarkan guru.

Sebagaimana model pembelajaran lainnya, model pembelajaran kooperatif tipe STAD memerlukan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain:

1) Perangkat pembelajaran

Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran perlu dipersiapkan Rencana Pembelajaran(RP), Lembar Kerja Siswa(LKS), beserta lembar jawabannya.

2) Membentuk kelompok kooperatif

Pembentukan kelompok diupayakan terdiri dari siswa dengan beragam kemampuan dan latar belakang serta kemampuan setiap kelompok relatif homogen. Apabila dalam kelas terdiri dari ras dan latar belakang yang relatif sama pembentukan kelompok dapat didasarkan pada prestasi akademik.

3) Menentukan skor awal

Skor awal yang digunakan adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Hasil tes dari kuis dapat jadikan skor awal pada pembelajaran selanjutnya.

4) Pengaturan tempat duduk

Tempat duduk perlu diatur dengan baik agar pembelajaran dapat berhasil serta mengurangi kekacauan yang akan menyebabkan kegagalan pembelajaran.

5) Kerja kelompok

Untuk mengurangi hambatan pembelajaran kooperatif tipe STAD terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama kelompok agar setiap individu saling mengenal lebih jauh dalam kelompok.

Menurut Slavin (2008: 143) STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individu, dan rekognisi tim. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

commit to user 1) Presentasi Kelas

Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual. Presentasi ini haruslah mencakup pembukaan, pengembangan, dan pengarahan praktis tiap komponen dari keseluruhan pelajaran.

Pembukaan berisi penyampaian tujuan pembelajaran serta upaya menumbuhkan motivasi dan rasa ingin tahu dalam diri siswa. Disamping itu perlu dapat pula diupayakan siswa bekerja dalam tim mereka untuk menemukan konsep-konsep atau membangkitkan minat mereka terhadap pelajaran. Mengulangi setiap persyaratan atau informasi secara singkat.

Pengembangan berisi penekanan bahwa guru haruslah fokus pada hal-hal yang ingin disampaikan pada siswa dengan cara memahami maknanya bukan dengan cara menghafal. Pengembangan juga berisi demonstrasi konsep atau keterampilan dengan menggunakan alat bantu. Selanjutnya guru dapat melakukan penilaian melalui pertanyaan yang dilontarkan kepada siswa. Guru lalu berpindah ke konsep berikutnya jika siswa telah menangkap gagasan utama.

Dalam pedoman pelaksanaan ini menyarankan guru untuk membuat siswa mengerjakan tiap persoalan atau contoh soal atau menyisipkan jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan. Guru dapat memanggil siswa secara acak ini akan membuat mereka mempersiapkan diri untuk menjawab. Pada saat ini guru jangan memberikan tugas kelas yang memakan waktu yang lama lalu guru memberikan umpan balik.

2) Tim

Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan siswa atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu melibatkan pembahasan masalah bersama, membandingkan jawaban dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang melakukan kesalahan. Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

bahwa semua anggota tim telah benar-benar belajar dan lebih khususnya adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. 3) Kuis

Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga tiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya.

4) Skor Kemajuan Individual

Tujuan diperhitungkannya skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dari pada sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal kepada timnya dengan sistem skor ini, tetapi tak ada siswa yang dapat melakukannnya tanpa usaha mereka yang terbaik. Tiap siswa diberi skor awal yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa sebelumnya dalam menjalankan kuis yang sama. Siswa selanjutnya akan mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor kuis mereka dibandingkan dengan skor awal mereka.

Menurut Slavin dalam Ibrahim dalam Triyanto (2007: 55) untuk memberikan skor perkembangan individu(poin kemajuan) dihitung seperti pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Perhitungan Skor Perkembangan

Skor Kuis Poin Kemajuan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 0 10 poin dibawah sampai 1 poin dibawah

skor awal 10

Skor awal sampai 10 poin di atas skor

awal 20

Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30 Nilai sempurna(tanpa memperhatikan

commit to user 5) Rekognisi Tim

Tim akan mendapat sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Skor dihitung berdasarkan rata-rata skor perkembangan yang disumbangkan anggota kelompok. Berdasarkan rata-rata perkembangan kelompok, ditetapkan tiga kategori skor kelompok (Ratumanan dalam Triyanto, 2007: 55).

Tabel 2.2 Tingkat Penghargaan Kelompok Rata-rata Tim Predikat

0 ≤ x 5 -

5 ≤ x 15 Tim Baik(Good Team)

15 ≤ x 25 Tim Hebat(Great Team)

25 ≤ x ≤ 30 Tim Super(Super Team)

Dari kelima komponen diatas apabila langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD disusun dalam tabel adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Langkah Pembelajaran Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

Langkah1 Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa agar siswa termotivasi untuk belajar misalnya dengan membuat mengajukan pertanyaan

Siswa mendengarkan dan memperhatikan guru. Siswa menjawab pertanyaan guru. Langkah 2 Menyajikan informasi Guru memberikan penjelasan kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Siswa mengikuti penjelasan guru dengan baik.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

Guru dapat pula mengadakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru tersebut.

Guru menjelaskan konsep satu per satu agar siswa mengerti gagasan utamanya.

Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

Siswa dapat bertanya apabila ada hal-hal yang kurang jelas.

Langkah 3 Tim

Guru mengorganisasikan siswa ke dalam tim. Guru menekankan bahwa setiap kesulitan harus didiskusikan dalam tim sebelum menanyakannya pada guru.

Guru memberikan lembar kegiatan siswa untuk dikerjakan dan didiskusikan bersama dalam tim.

Guru membimbing dan mengawasi setiap kelompok memastikan bahwa diskusi berjalan dengan baik.

Guru membantu kelompok yang mengalami kesulitan.

Siswa mulai bekerja dan belajar dalam kelompok.

Siswa berdiskusi memecahkan setiap persoalan dalam lembar kegiatan siswa.

Siswa saling membantu agar setiap anggota memahami materi dan dapat menyelesaikan lembar kegitan siswa. Siswa menanyakan hal-hal yang belum jelas atau mengalami kesulitan. Langkah 4

Kuis

Guru memberikan kuis sebagai bentuk evaluasi

Siswa mengerjakan kuis secara individu.

commit to user

Dokumen terkait