BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
6. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Team Achievement
Division (STAD) dengan Pendekatan Saintifik
Model pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi (Etin, 2012). Model pembelajaran Kooperatif tipe STAD mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, dimana siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap masalah materi pelajaran yang dihadapi.
Pembelajaran Kooperatif lebih menekankan belajar sebagai dialog interatif. Menurut Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran Kooperatif. Menurut Suprijono (2007) untuk mencapai hasil yang maksimal ada lima unsur dalam penerapan model cooperative
learning, sebagai berikut:
a. Saling ketergantungan positif. b. Tanggung jawab perseorangan. c. Interaksi promotif.
d. Komunikasi antaranggota. e. Pemprosesan kelompok.
Menurut Miftahul (2011) langkah-langkah dalam pembelajaran Kooperatif tipe STAD sebagai berikut:
a. Guru membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen.
b. Guru menyajikan pembelajaran atau informasi.
c. Guru memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d. Guru memberikan kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis, tidak boleh saling membantu.
e. Guru memberikan pengakuan dan penghargaan atas usaha siswa Penelitian ini menggunakan model pembelajaran model pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik, sehingga langkah-langkah model pembelajaran model pembelajaran Kooperatif tipe STAD tersebut dimodifikasi sebagai berikut:
a. Kegiatan pendahuluan
1) Apersepsi : mengingatkan kembali materi yang berhubungan dengan materi yang dipelajari.
2) Menyampaikan cakupan materi dan kompetensi yang akan dipelajari.
3) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
4) Menginformasikan langkah-langkah pembelajaran yang digunakan.
5) Memotivasi siswa dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.
b. Kegiatan Inti 1) Mengamati
Siswa berkelompok terdiri 4 siswa (membentuk kelompok). Guru membagikan lembar aktivitas siswa. Setiap siswa mengamati apa yang disajikan guru pada pembelajaran hari ini. 2) Menanya
Setelah siswa mengamati yang disajikan guru dengan menggunakan lembar aktivitas siswa. Guru memancing siswa untuk bertanya tentang hal belum diketahui dari yang telah diamati dan yang disampaikan oleh guru.
3) Mengumpulkan informasi
Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antar siswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya sehingga siswa memperoleh informasi. Guru melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Guru mengarahkan dan memberikan penjelasan kepada siswa tentang soal yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan.
4) Mengelolah informasi
(Guru mengarahkan untuk berdiskusi dengan anggotanya). Siswa yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. 5) Mengomunikasikan
Guru mempersilahkan salah satu siswa mengomunikasikan hasil jawab permasalahan soal kepada kelompok lain. Guru memberikan (kuis/pertanyaan) kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis, tidak boleh saling membantu. Guru memberikan pengakuan dan penghargaan atas usaha siswa. Guru bersama siswa mengecek kebenaran dari penyelesaian soal tersebut.
c. Kegiatan penutup
1) Guru bersama dengan siswamenarik kesimpulan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan memberikan commit to user
pertanyaan-pertanyaan untuk mengingatkan siswa tentang materi yang telah disampaikan.
2) Guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran pada hari ini. Guru menanyakan “Apa yang kalian pelajari hari ini?”, kemudian bertanya “Bagaimana kalian mendapatkan pemahaman tentang pelajaran hari ini?”.
3) Guru memberikan umpan balik terkait kompetensi yang telah dipelajari dan menindaklanjutinya dengan memberikan PR. 4) Guru mengomunikasikan materi yang akan datang.
Menurut Miftahul (2011) keunggulam model pembelajaran Kooperatif tipe STAD sebagai berikut:
a. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur Kooperatif tipe STAD akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.
b. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran Kooperatif tipe STAD akan memiliki sikap menghargai yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar
c. Siswa menjadi lebih peduli pada teman-temannya dan di antara siswa akan terbangun rasa ketergantungn yang positif untuk proses belajar mereka nanti.
d. Pembelajaran Kooperatif tipe STAD meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-teman yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda.
Menurut Aris (2014) kekurangan model pembelajaran STAD, sebagai berikut:
a. Kontribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang.
b. Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
c. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target pembelajaran.commit to user
d. Membutuhkan kemampuan khusus dalam menciptakan pembelajaran kooperatif, sehingga tidak semua guru dapat melakukan.
e. Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya suka bekerja sama.
7. Kecerdasan Logis Matematis
Definisi kecerdasan yang didukung oleh kriteria-kriteria adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam masyarakat (Rakhmat, 2007). Teori kecerdasan Gardner bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena menawarkan model untuk bertindak sesuai dengan yang diyakini bahwa tiap siswa memiliki kelebihan.
Menurut Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan logis matematis adalah kemampuan untuk menangani relevansi/argumentasi serta mengenali pola dan urutan (Hoerr, 2007). Kecerdasan logis matematis siswa yang dapat dilihat dari kemampuan siswa yang mampu bekerja dengan angka, memecahkan masalah, menganalisis situasi, memahami cara kerja sesuatu, memperlihatkan ketepatan dalam pemecahan masalah, bekerja dalam situasi yang mengandung jawaban yang jelas.
Menurut Gardner siswa dengan kecerdasan logis matematis yang berkembangan adalah siswa yang mampu memecahkan masalah, mampu memikirkan dan menyusun solusi dangan urutan yang logis (Gunawan, 2007). Siswa suka angka, urutan logika, keteraturan dan dapat mengerti pola, hubungan serta mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif. Siswa dengan kecerdasan matematika dan logika yang terasah dengan baik akan suka sekali dalam mencari penyelesaian suatu masalah, menunjukkan minat yang besar terhadap analogi dan silogisme.
Menurut Lwin et al. (2008) kecerdasan logis matematis adalah kemampuan untuk menangani bilangan, perhitungan, pola, pemikiran dan ilmiah. Menurut Andriani & Prasetyo (2009) kecerdasan logika matematika adalah kapasitas untuk menggunakan angka, berpikir logis untuk menganalisa kasus atau permasalahan dan melakukan perhitungan matematis. Kecerdasan logis matematis berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut:
a. Meningkatkan logika dan memperkuat keterampilan berpikir Berpikir logis itu penting pada siswa karena memperoleh disiplin mental yang keras dan belajar menentukan alur pikir itu sah atau tidak sah. Kemampuan berpikir logika deduktif adalah mampu berpikir dari pernyataan umum mengarah kesimpulan khusus. Kemampuan berpikir logika induktif adalah mampu berpikir dari pernyataan khusus mengarah kesimpulan umum. b. Menemukan cara kerja pola dan hubungannya
Siswa yang cenderung suka untuk mencari dan memanipulasi pola dan hubungan abstrak di dunia. Di dunia ini terdapat suatu pola tertentu yang harus dipelajari. Pola itu bisa berupa hubungan sebab akibat, abstrak, atau urutan tertentu. c. Meningkatkan pengertian bilangan
Perkembangan pengertian bilangan bermanfaat dalam membantu siswa memahami bagaimana matematika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan berhubungan dengan orang lain.
d. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah
Siswa yang sering bertanya tentang cara kerja sesuatu atau mengapa hal-hal tertentu terjadi sebagaimana adanya cenderung memiliki keterampilan menyelesaikan masalah yang baik.
e. Memperbaiki kemampuan untuk mengklasifikasikan dan menggolongkan
Kecerdasan logis matematis dapat dipandang sebagai suatu bentuk kecerdasan yang berkaitan dengan objek. Siswa dengan menangkap konsep hubungan satu dengan satunya dan konsep hitungan dan keterampilan berpikir kritis untuk mengklasifikasikan dan mengelompokkan benda-benda.
f. Meningkatkan daya ingat
Menyelesaikan masalah matematika meliputi penggunaan rumus dan nilai numerik lain yang kadang-kadang paling baik dihafalkan. Ingatan dan daya ingat yang meningkat bermanfaat dalam mengatur kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan di atas kecerdasan logis matematis adalah kemampuan siswa untuk bekerja dengan bilangan, perhitungan, pola, dan pemikiran sehingga mampu memecahkan masalah, mampu memikirkan dan menyusun solusi dangan urutan yang logis. Indikator kecerdasan logis matematis meliputi kemampuan berpikir induktif, kemampuan berpikir deduktif, pemahaman tentang pola angka, pemahaman tentang pola gambar dan kemampuan melakukan operasi matematis. Kecerdasan logis matematis siswa mendukung dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.