• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teoritik

2. Model Pembelajaran Metaphorical Thinking

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.9 Selain itu Soekamto dkk mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.10

Berfikir menggunakan pengetahuan sehari-hari atau dengan menggunakan pengalaman yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah dipahami oleh siswa karena siswa telah akrab dengan hal-hal yang sering mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan mempelajari matematika yang masih tak jarang dianggap sesuatu yang abstrak dan sulit untuk dipahami

9

Trianto, Mendesain Model Pembelaaran Inovatif-Progresif. (Jakarta: Kencana Prenada

Group, 2009)h. 22

10

oleh siswa. Suatu keabstrakan matematika dapat dimisalkan dengan menggunakan beberapa perumpamaan atau metafora yang dianggap tidak asing bagi siswa untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Model pembelajaran Metaphorical thinking atau berpikir metaforik merupakan cara berfikir yang menggunakan perumpamaan untuk mendapatkan suatu pengetahuan baru. Sejalan dengan itu, sebuah metafora konseptual didefinisikan sebagai korespondensi antara dua konseptual domain, terdiri dari mekanisme yang memungkinkan kita untuk memahami satu domain di hal lain, biasanya lebih akrab atau lebih dekat ke pengalaman kita sehari-hari.11 Dari pemaparan mengenai metaphorical thinking tersebut sejalan dengan dengan paradigma menurut Lakoff dan Johnson yang digambarkan dalam bagan berikut:12

Gambar 2.1Metaphorical paradigm

Bagan mengenai paradigma metaphorical diatas menjelaskan bahwa penggunaan metaphorical merupakan cara mengaitkan antara berbagai

11

Susana Carreira, “Where There’s a Model, There’s a Metaphor: Metaphorical Thinking

in Students’ Understanding of a Mathematical Model”,Article mathematical Thinking and Learning, (Portugal: Departamento de Matematica Universidade Nova de Lisboa Monte da

Caparica, 2001),p. 264.

12

Devon F. N. Jensen, Metaphors as a Bridge to Understanding Educational and Social

pengetahuan/ konsep-konsep yang telah dimiliki siswa untuk mendapatkan suatu pengetahuan baru. Dapat dilihat dari bagan, bahwa topic term merupakan topik utama, yaitu konsep utama yang akan dibahas, dan vehicle term adalah pendukung, yaitu perumpamaan yang digunakan sehingga akan didapat sebuah makna yang dimaksud. Metafora memungkinkan hubungan antar informasi tentang suatu konsep yang mirip dengan konsep yang mirip lainnya, yang kemudian membawa kepada pengetahuan baru dimana proses perbandingan antara dua konsep bekerja sebagai penghasil arti yang baru. Dengan demikian, hendaknya anggapan siswa mengenai keabstrakan matematika dapat diobati dengan hal-hal yang sebenarnya telah dimiliki oleh siswa, yaitu dengan perumpamaan/ metafora.

Selain itu, ada beberapa definisi lain mengenai model pembelajaran Metaphorical Thinking yang disajikan pada tabel berikut:13

Tabel 2.1 Definisi Metaphorical Thinking Menurut Para Ahli

Sumber Definisi

Lakoff & Johnson

Metaphor was defined as an embellishment or a style of speaking in the past

Saban, Koçbeker & Saban

Metaphor is considered as the strongest device for an individual to comprehend and explain a hypothetical or an abstract, complex fact in a high level

Romanyshyn A metaphor is actually a way of understanding one reality by means of another reality

Kovecses Metaphors are usually used for the purpose of correlating something unknown or barely known with something better known Saban Metaphors give opportunities for comparing two things, drawing attention to the similarities between two things and explaining one thing in terms of another

13

Ahmet Ardogan, dkk,Mathematics Teacher Candidates’ Metaphors about the Concept

of “Mathematics”, International Journaln of Education in Mathematics Science and Technology, Vol. 2, Num. 4, 2014, p.290.

Dari beberapa pendapat diatas, makamodel pembelajaran metaphorical thinking merupakan cara menjelaskan ide-ide abstrak dengan menggunakan sebuah perumpamaan dalam kehidupan sehari-hari/ realita sehingga dapat dikemas dalam bentuk konkrit yang lebih dipahami oleh siswa. Hal tersebut diperkuat oleh Lakoff dan Núñez yang menjelaskan bahwa ide-ide abstrak dalam otak diorganisir melalui metaphorical thinking yang dikonseptualisasikan dalam bentuk konkret melalui susunan kesimpulan yang tepat dan cara bernalar yang didasari oleh sistem sensori motor yang disebut metafora konseptual. Metafora konseptual merupakan mekanisme kognitif yang fundamental yang memungkinkan pemahaman konsep-konsep abstrak dalam bentuk konsep-konsep konkret.14

Bentuk konseptual metafor meliputi:15

a. Grounding methapors: merupakan dasar untuk memahami ide-ide matematika yang dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari.

b. Linking methapors: membangun keterkaitan antara dua hal yaitu memilih, menegaskan, memberi kebebasan, dan mengorganisasikan karakteristik dari topik utama dengan didukung oleh topik tambahan dalam bentuk pernyataan-pernyataan metaforik.

c. Redefinitional methapors: Mendefinisikan kembali metafor-metafor tersebut dan memilih yang paling cocok dengan topik yang akan diajarkan.

Dalam penelitiannya, Heris Hendriana mendefinisikan metaphorical thinking atau berfikir metaforik sebagai suatu proses berpikir untuk memahami dan mengkomunikasikan konsep-konsep abstrak dalam matematika menjadi hal yang lebih konkrit dengan membandingkan 2 hal yang berbeda makna.16 Dalam definisi yang dipaparkan oleh Heris menyatakan bahwa konsep abstrak dikomunikasikan menjadi lebih konkrit dengan membandingkan 2 hal yang

14

Francesca Ferrara, Bridging Perception and Theory: What Role Can Metaphors and Imagery Play, European Research In Mathematics Education III, h. 2.

15

Heris Hendriana, Pembelajaran Matematika Humanis dengan Metaphorical Thinking

untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa, Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP

Siliwangi Bandung, Vol 1, No.1, 2012, h. 95-96.

16

berbeda makna. 2 hal yang berbeda makna ini sama halnya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya pada paradigma metafora maupun pada metafora konseptual bahwa keterkaitan keduanya yang dimaksudkan adalah dari topik utama dengan topik tambahan/ topik pendukung dalam bentuk pernyataan sebagai perumpamaan.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah diuraikan diatas, model pembelajaran metaphorical thinking dalam penelitian ini didefinisikan sebagai proses berfikir dengan mengkomunikasikan suatu konsep matematika menggunakan pengalaman siswa sebagai perumpamaan untuk mengilustrasikan suatu konsep.

Dalam menggunakan model pembelajaran metaphorical thinking dalam pembelajaran, diawali dengan pemberian masalah dari suatu konsep, kemudian mengilustrasikan konsep tersebut menggunakan pengalaman sehari-hari sebagai perumpamaan sehingga siswa akan memahami dan dapat mengungkapkan suatu konsep tersebut dengan bahasanya sendiri tanpa mengubah makna konsep yang diajarkan. Dari gagasan yang disampaikan oleh masing-masing siswa, akan ditarik kesimpulan mengenai konsep matematika yang sedang dipelajari.

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran menggunakan metaphorical thinking secara sistematisyaitu:17

1. Menggabungkan strategi pengajaran yang berbeda, termasuk instruksi direktif, di mana guru menyampaikan informasi untuk siswa, dan instruksi mediative, di mana guru membimbing siswa untuk mengetahui wawasan dan pemahamannya.

2. Memberikan siswa sebuah konsep tunggal, seperti pengetahuan, dan siswa memilih suatu objek yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah metafora untuk konsep tersebut.

3. Memberikan beberapa contoh kepada siswa dan biarkan mereka memilih kedua konsep dan objek yang mereka akan kerjakan. Pelajaran ini dapat ditingkatkan dengan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil.

17

Sharon L. Pugh, et. Al., Bridging to A Teacher's Guideto Metaphorical Thinking,

(Urbana: ERIC Clearinghouse on Reading and Communication SkillsIndiana University, Smith Research Center, National Council of Teachers of English), p. 5-8.

4. Mendefinisikan kembali konsep abstrak dengan menggunakan metafora yang telah dipilih.

5. Siswa menjelaskan objek sebagai konsep yang mereka pilih. Mereka membahas bagaimana masing-masing komponen dari metafora berkaitan dengan komponen lainnya. Mereka juga menjelaskan perbedaan-perbedaan. Mendorong penggunaan metafora asli dalam semua bentuk komunikasi lisan dan tertulis.

Dijelaskan bahwa langkah pembelajaran menggunakan metaphorical thinking ini diawali dengan intruksi direktif dari guru, yaitu menyampaikan informasi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari, kemudian tugas guru selanjutnya yaitu intruksi mediative atau sebagai fasilitator. Kemudian siswa memilih objek yang dapat digunakan sebagai metafora. Misalnya pada operasi aljabar, siswa memilih kehidupan binatang sebagai sebuah metafora. Variabel yang berbeda akan bertindak sebagai hewan. Sebagai contoh x adalah anjing, y adalah kucing. Maka pada operasi penjumlahan antara x dan y tidak dapat dilakukan, karena x dan y adalah 2 jenis hewan yang berbeda. Setelah masing-masing siswa menggunakan perumpamaannya, siswa dapat mendefinisikan kembali konsep awal secara bersama-sama.

Adapun menurut M. Afrilianto dalam tesisnya mengenai Pembelajaran Matematika dengan pendekatan Metaphorical Thinking untuk Meningkatkan Pemahaman konsep dan Kompetensi Strategis Matematis Siswa SMP meliputi tahap-tahap sebagai berikut:18

a. Tahap petama, Kegiatan awal

Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa dan materi yang akan dipelajari, memberi motivasi kepada siswa, melakukan apersepsi dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa.

18

M. Afrilianto, “Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Metaphorical Thinking

untuk meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kompetensi Strategis Matematis Siswa SMP”, Tesis

Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2012, tidak dipublikasikan, h. 22-23.

b. Tahap kedua, Kegiatan inti

Pada tahap ini, guru memberikan materi pengantar sesuai pokok bahasan yang akan diajarkan, memberikan contoh memetaforakan masalah matematika, memberi kesempatan kepada siswa dalam kelompok untuk mencari dan memikirkan metafora lain, dan membagikan LKS. Pada saat siswa berdiskusi dalam kelompoknya, guru berkeliling dan memberikan bimbingan. Selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok berupa jawaban soal latihan dan metafora yang tepat untuk menggambarkan masalah matematika yang ada.

c. Tahap ketiga : Kegiatan penutup

Pada tahap ini bersama-sama membuat rangkuman hasil diskusi. Guru memberikan evaluasi menyeluruh terhadap hasil kegiatan siswa. Selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan tentang materi yang sudah dipelajari. Penjelasan dilengkapi dengan metafora yang tepat kemudian guru bersama siswa membuat kesimpulan dan melakukan refleksi. Langkah terakhir adalah guru memberikan PR untuk dapat dikerjakan siswa.

Menurut Indira Sunito ada empat tahapan dalam proses pembelajaran menggunakan metafor, yaitu:19

1. Koneksi (connection)

Menghubungkan dua atau lebih hal yang memiliki tujuan untuk memahami sesuatu. Pada peristiwa ini digunakan berbagai macam bentuk dari perbandingan, yaitu metafora, analogi, cerita, legenda, symbol, dan hipotesis. 2. Penemuan (discovery)

Suatu penemuan melibatkan pengamatan dan pengalaman. Guru dapat menggambarkan kearah materi pelajaran terkait akan diarahkan, tujuan apa yang akan dicapai setelah koneksi dilakukan, dan ke arah mana peserta didik

19

Indira Sunito,dkk, Metaphorming: Beberapa Strategi Berfikir Kreatif, (Jakarta:

diajak untuk berfikir dan memiliki pengalaman untuk merasakan bahwa suatu pelajaran bermanfaat untuk dirinya.

3. Penciptaan (invention)

Suatu penemuan memerlukan suatu proses dari menghubungkan sesuatu dengan hal lain, dan juga memerlukan pengamatan yang dapat menghasilkan suatu produk.

4. Aplikasi (application)

Aplikasi adalah aktifitas yang mengarah pada produk yaitu hasil pikir dan dapat juga dalam bentuk nyata, yaitu suatu produk.

Dari diuraikan yang telah dipaparkan diatas, maka tahapan-tahapan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Tahap 1: Memberikan masalah kontekstual

Bentuk konseptual metafora yang digunakan adalah Grounding metaphor yaitu salah satu bentuk konseptual metafora yang merupakan dasar untuk memahami ide matematika yang dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari. Oleh karenanya, guru memberikan masalah kontekstual kepada siswa kemudian memberikan contoh metafora dalam kehidupan sehari-hari sebagai dasar agar siswa dapat memahami ide matematika yang akan disampaikan. b. Tahap 2: Memilih dan menggunakan metafora

Linking metaphor berarti membangun keterkaitan antara dua hal, yaitu memilih, menegaskan, memberi kebebasan. Pengalaman setiap orang tentunya berbeda-beda. Oleh karena itu guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih sebuah metafora yang akan digunakan. Sebuah metafora yang dipilih oleh siswa merupakan hak kebebasan sesuai dengan pengetahuan masing-masing siswa. Perumpamaan yang dipilih dan digunakan oleh siswa yaitu yang mempunyai kemiripan dengan masalah awal, sehingga hendaklah metafora tersebut menghasilkan sebuah makna dari suatu konsep awal.

c. Tahap 3: Diskusi kelompok

Kebebasan yang diberikan kepada siswa dalam memilih sebuah metafora mengakibatkan keberagaman metafora. Agar siswa menemukan suatu persamaan dan maksud dari konsep awal, maka guru memberikan

kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok heterogen. Kelompok ini sebagai wadah diskusi siswa untuk saling bertukar metafora kepada teman-teman kelompoknya dan membandingkan metafora-metafora yang digunakan oleh teman-teman kelompoknya. Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru.

d. Tahap 4: Memberikan kesimpulan

Adanya proses diskusi kelompok tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan gagasan yang berbeda pada masing-masing kelompok. Oleh karenanya hasil yang telah diperoleh masing-masing kelompok di-share/ dipresentasikan dan akan ditanggapi oleh kelompok lain. Guru hanya memberikan arahan dan tambahan jika diperlukan. Pada akhir pembelajaran, siswa dan guru membuat kesimpulan konsep utama secara bersama-sama dengan landasan pemahaman berpikir metaforis serta menganalisis alasan-alasan yang melatarbelakangi metafora yang dipilih.

Dokumen terkait