BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Proses Pembelajaran Kelompok Eksperimen dan Kelompok
Pada awal pembelajaran pada kelas eksperimen, siswa diberikan contoh metafora oleh peneliti mengenai materi yang akan diajarkan. Kemudian siswa diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) secara individu yang berisi
pertanyaan-pertanyaan matematis yang sesuai untuk melatih kemampuan komunikasi matematis siswa. Siswa dituntut mengerjakan secara mandiri beberapa permasalahan yang diajukan dalam LKS. Siswa dapat mengungkapkan ide/ gagasannya melalui LKS tersebut. Hasil dari pekerjaan masing-masing individu tersebut selanjutnya didiskusikan dengan kelompok masing-masing yang telah ditentukan oleh peneliti. Kelompok ini disusun oleh peneliti secara heterogen berdasarkan nilai ulangan siswa sebelumnya yang diberikan oleh guru mata pelajaran matematika yang bersangkutan.
Pada pertemuan pertama, siswa masih harus beradaptasi dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Metaphorical Thinking dan belajar secara berkelompok karena siswa merasa pembelajaran dengan menggunakan Metaphorical Thinking adalah sebagai hal baru bagi siswa. Pada pertemuan pertama proses diskusi kurang berjalan maksimal karena beberapa siswa masih belum terbiasa diskusi kelompok dan kurang aktifnya beberapa siswa dalam mengutarakan gagasan yang dimiliki. Siswa juga tidak terbiasa belajar menggunakan Lembar Kerja yang menuntut siswa untuk memecahkan permasalahan di dalam lembar kerja tersebut tanpa bantuan dari guru. Oleh karena itu pada hari pertama peneliti terlebih dahulu menjelaskan bagian-bagian lembar kerja yang harus dikerjakan secara individu dan menjelaskan maksud dari setiap pertanyaan yang terdapat pada lembar kerja. Setelah semua dirasa paham dan tidak ada siswa yang bertanya, kemudian siswa mulai mengerjakan LKS tersebut. Namun dalam proses pengerjaan LKS tersebut sebagian siswa merasa kebingungan dalam mengerjakan LKS. Hal ini dikarenakan desain yang ada pada LKS kurang memberikan arahan-arahan yang mendetail dan kurang mendalamnya LKS yang telah dibuat oleh peneliti. Selanjutnya beberapa siswa paham dengan maksud dari pertanyaan yang diajukan peneliti di dalam lembar kerja namun ada juga beberapa siswa yang kebingungan dan merasa kesulitan untuk menuangkan ide yang diperolehnya ke dalam lembar kerja. Adapun kendala lain yang dihadapi oleh peneliti pada pertemuan pertama yaitu kurang baiknya peneliti dalam menejemen kelas, kurangnya rasa bertanggungjawab siswa terhadap tugas yang diberikan, kurangnya waktu bagi siswa dalam mengerjakan LKS, dan kurang
fokusnya siswa dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran pada pertemuan pertama dengan menggunakan model pembelajaran Metaphorical Thinking kurang berjalan sesuai dengan harapan peneliti. Dengan beberapa kendala yang terjadi pada pelaksanaan penelitian di hari pertama tersebut menjadi sebuah pelajaran bagi peneliti untuk melaksanakan pembelajaran pada pertemuan kedua, ketiga, dan selanjutnya agar. Pada pertemuan selanjutnya peneliti memperbaiki dalam menejemen kelas dan juga mengatur agar pembelajaran menjadi efektif. Berikut adalah contoh hasil kerja siswa pada Lembar Kerja siswa 4.
(a)
(b) Gambar 4.2
Contoh Hasil Pekerjaan Lembar Kerja Siswa 4 Pada Tahap Memberikan Masalah Kontekstual
Dari hasil lembar kerja siswa 4 pada gambar 4.2 di atas siswa diberikan masalah kontekstual mengenai kado yang akan dibungkus menggunakan kertas kado. Pada gambar (a) pertanyaan pertama siswa hanya diminta untuk menyebutkan banyaknya permukaan bidang kado serta bagiannya yang tertutup kertas kado. Dan dari gambar tersebut diketahui bahwa siswa sudah paham dengan pertanyaan yang dimaksud sehingga siswa mampu menjawabnya dengan tepat. Dari jawaban siswa pada pertanyaan pertama diatas siswa dapat menjawab banyaknya bidang yang tertutup kertas kado dan mampu menyebutkan bagian-bagiannya Pada gambar (b) pertanyaan kedua siswa diberikan masalah yang berkaitan dengan pertanyaan pertama. Pada pertanyaan kedua, siswa diminta menyebutkan banyaknya bidang yang tertutup kado jika terdapat 3 kado yang sama ditumpunk, kemudian siswa diminta untuk menjelaskan alasannya. Pada pertanyaan kedua, ketika kertas kado ditumpuk, siswa pun mampu menyebutkan banyaknya bidang yang harus tertutup kado serta mampu menjawab dan menjelaskan bahwa kertas kado tersebut tidak cukup untuk membungkus seluruh permukaan kado, walaupun jumlah bidang yang harus tertutup kertas kado adalah sama. Dengan demikian, pada tahap memberikan masalah kontekstual ini siswa mampu memahami masalah kontekstual yang diberikan.
Gambar 4.3
Contoh Hasil Pekerjaan Lembar Kerja Siswa 4 Pada Tahap Memilih dan Menggunakan Metafora
Pada gambar di atas, siswa diminta untuk membuat suatu perumpamaan lain mengenai luas permukaan suatu bangun ruang. Setelah masalah kontekstual dipahami oleh siswa, kemudian siswa menggali informasi mengenai permukaan bangun ruang kemudian siswa diminta untuk membuat perumpamaan lain mengenai luas permukaan suatu bangun ruang yang diperoleh siswa dari pengalaman/ pengetahuan sehari-hari yang dimiliki oleh siswa. Dari gambar tersebut diketahui bahwa siswa mampu memberikan perumpamaan yang dimaksud, berdasarkan benda-benda disekitarnya. Pada awal pembelajaran menggunakan model pembelajaran Metaphorical Thinking, siswa mampu memberikan contoh perumpamaan yang dimaksudkan, namun beberapa siswa kebingungan untuk mengungkapkan contoh perumpamaan yang telah dipilih ke dalam LKS yang telah disediakan. Namun setelah diberikan pengarahan lagi, akhirnya siswa mampu mengisi kolom pada gambar 4.3 tersebut. Dari gambar tersebut siswa memilih dan menggunakan metafora/ contoh lain mengenai luas permukaan bangun ruang sesuai dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Siswa juga paham untuk menjelaskan luas permukaan benda yang dipilihnya. Dengan demikian siswa mampu untuk memilih dan menggunakan metafora.
Metafora yang digunakan oleh siswa yaitu berdasarkan peristiwa, pengalaman, atau benda yang ada disekitar siswa. Pada langkah ini terdapat beberapa metafora siswa yang muncul pada setiap LKS yang diberikan.
Pada LKS 1 siswa diminta untuk memberikan contoh (metafora) terkait bidang, rusuk, dan titik sudut pada bangun ruang. Metafora yang muncul dari siswa terkait bidang pada bangun ruang yaitu tembok, lantai, beserta atap ruang kelas, plastik bungkus es, kayu-kayu lemari, kulit bola basket, toples dan tutupnya, tempat makan, kotak pensil, botol minuman, bahan kain tas, tumpukan kardus tetapi hanya yang terlihat dari luar, bungkus taro (jajanan snack ringan), kardus teh gelas.
Adapun metafora yang muncul dari siswa terkait rusuk pada bangun ruang yaitu pertemuan antara tembok dengan tembok, pertemuan antara tembok dengan atap, pertemuan antara tembok dengan lantai, kayu pada tengah-tengah atap rumah, resleting tempat makan Tupperware, pita yang mengelilingi kotak tempat
tisu, kabel kelas yang dililitkan di pinggir ruangan, pinggiran kardus, kaki meja, bagian yang terkena lem ketika 2 bidang disatukan (di lem) pada pinggirnya, klips antara tempat makan dan tutupnya, hiasan pita di pinggir lemari. Sedangkan metafora yang muncul dari siswa terkait titik sudut pada bangun ruang yaitu buah cherry yang diletakkan di setiap pojok kue ulang tahun, CCTV di pojok ruangan, lampu tembak yang dipasang di pojok panggung, tempat sampah di pojok kelas, ikatan pionering pada tongkat, meja sudut pada kursi sudut, paku yang digunakan untuk memaku setiap pojok meja, paku yang digunakan untuk memaku pojok kursi, vas bunga pada pojok ruangan, dan pojok kardus.
Pada LKS 2 siswa diminta untuk memberikan contoh (metafora) terkait diagonal bidang dan diagonal ruang pada bangun ruang. Adapun metafora yang muncul dari siswa terkait diagonal bidang pada bangun ruang yaitu bekas lipatan kertas origami dari pojok ke pojok sehingga jika dilipat mementuk segitiga, foto-foto yang ditempel pada didinding rumah dari pojok kanan atas hingga pojok kiri bawah, escalator di mall, tangga yang disandarkan miring pada tembok, hiasan atap dengan kertas warna-warni yang dibentuk menyilang (terdapat pada atap kelas), batas warna merah dan kuning pada bendera semaphore, pita yang ditempelkan menyilang pada kardus, pita untuk hiasan sisi pada kotak kado yang ditempel miring dari pojok ke pojok yang tidak berdekatan, dan tempat tisu yang dihias menggunakan manik-manik secara berderet dari pojok ke pojok yang tidak berdekatan. Sedangkan metafora yang muncul dari siswa terkait diagonal ruang pada bangun ruang yaitu jarak antara vas bunga di pojok ruangan dengan CCTV yang berada di pojok yang lain, cahaya lampu laser yang ditembakkan dari pojok ruangan ke pojok ruangan lain yang berhadapan, tali yang diikat dari pojok ke pojok yang berhadapan dalam 1 ruangan, tongkat yang diletakkan pada pojok ruangan ke pojok ruangan lain sehingga melewati tengah ruangan, jarak CCTV yang terdapat pada pojok kelas dengan siswa yang duduk di pojok ruang kelas secara berhadapan, jarak pandangan kucing yang masuk di pintu (pojok) ke tikus yang berada di pojok atas ruangan yang berhadapan, tali yang dipasang pada kardus secara menyilang dari pojok ke pojok yang berhadapan, jarak antara CCTV ke tempat sampah yang ada di pojok ruangan, papan miring pada mainan
prosotan, bambu penyangga pada rumah yang sedang dibangun, penyangga pada figura duduk, dan ganggang sapu yang disandarkan pada tembok.
Pada LKS 3 siswa diminta untuk memberikan contoh (metafora) terkait jaring pada bangun ruang. Adapun metafora yang muncul terkait jaring-jaring pada bangun ruang yaitu kardus snack sebelum di sterples, pola baju yang belum di jahit, kardus TV yang dibongkar, kardus mie yang dibongkar, puzzle, kardus hello panda yang dibongkar, kardus silverqueen yang dibongkar, dan kardus the gelas yang dibongkar
Pada LKS 4 siswa diminta untuk memberikan contoh (metafora) terkait luas permukaan pada bangun ruang. Adapun metafora yang muncul terkait luas permukaan pada bangun ruang yaitu kotak pensil yang mempunyai 6 permukaan, luas permukaannya adalah luas seluruh kotak dan tutupnya, luas sprei yang digunakan untuk menutup kasur, luas kayu yang digunakan untuk membuat peti, seluruh bagian yang tongkat pramuka yang dicat , luas kain pada kasur yang membungkus kapas di dalamnya, luas bagian kayu pada lemari kelas, luas sampul buku paket, luas kayu pada loker di kelas yang terbuat, luas tembok kelas beserta atap dan lantainya, luas seluruh bagian kardus pada kardus mie, yaitu pada seluruh bidangnya, luas seluruh bagian kardus pada kardus TV, tempat yang digunakan dalam menyimpan buku absensi kelas (tanpa tutup) maka luas permukaannya adalah yang seluruh bagian yang menutupinya yaitu luas 5 bidangnya, luas kayu yang dibutuhkan untuk membuat kotak amal, luas seluruh kain yang digunakan untuk sarung bantal, luas kotak makan beserta tutupnya, dan luas seluruh keramik yang terdapat pada dinding kolam renang.
Pada LKS 6 siswa diminta untuk memberikan contoh (metafora) terkait Volume bangun ruang. Adapun metafora yang muncul terkait volume bangun ruang yaitu banyaknya air minum yang terdapat pada botol minuman secara penuh, banyaknya nasi yang dimasukkan ke dalam tempat makanan, banyaknya udara yang masuk ke dalam balon ketika ditiup, udara yang terdapat pada ruangan, banyaknya air yang dimasukkan ke dalam plastik. Jika ukuran plastic lebih besar maka banyaknya air/ volumnya lebih banyak pula, es batu pada plastic, banyaknya pasir yang dapat dituangkan ke dalam truk hingga penuh, slime
yang dimasukkan ke dalam tempatnya, banyaknya kopi yang dituangkan ke dalam cangkir, buah jeruk tanpa kulit, air yang dapat ditampung pada bak mandi, banyak air pada gallon, air yang ditampung di ember, dan susu yang ada di dalam kotak.
Gambar 4.4
Contoh Hasil Pekerjaan Lembar Kerja Siswa 4 Pada Tahap Diskusi Kelompok
Contoh metafora/ perumpamaan yang diberikan oleh masing-masing siswa tentu berbeda-beda. Oleh karena itu siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan metafora tersebut ke dalam LKS yang disediakan. Siswa diminta untuk membandingkan dan mendiskusikan contoh-contoh yang dibuat masing-masing siswa pada kelompok yang telah ditentukan. Pada tahap ini diharapkan siswa dapat membandingkan dan mengambil kesamaan dari contoh- contoh yang telah dibuat oleh teman-teman satu kelompoknya. Dengan demikian siswa dapat menuangkan ilustrasi-ilustrasi yang ada ke dalam konsep yang sedang dipeelajari.
Dengan membandingkan contoh yang dibuat oleh masing-masing siswa tersebut, maka setiap kelompok diminta untuk memberikan kesimpulan terkait luas permukaan bangun ruang. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu untuk membangun pemahaman mengenai luas permukaan suatu bangun ruang. Dari
gambar 4.4 di atas siswa memberikan hasil diskusi dari teman-teman kelompoknya menggunakan bahasa sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa telah mampu memahami kosep luas permukaan suatu bangun ruang sesuai yang diharapkan.
Dari kesimpulan yang dikemukakan oleh masing-masing kelompok dan ditanggapi oleh kelompok lain sehingga pada akhir pembelajaran ini siswa mempunyai kesimpulan secara umum mengenai luas permukaan suatu bangun ruang. Dalam hal ini, guru hanya memfasilitasi siswa dan memberikan tambahan apabila diperlukan.
Adapun pembelajaran yang dilakukan di kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru matematika MTs N 5 Tangerang. Pembelajaran yang dilakukan adalah guru memberikan penjelasan dan memberikan catatan materi yang diajarkan, kemudian siswa mencatat penjelasan dan catatan yang ada di papan tulis. Setelah materi telah disampaikan oleh guru, kemudian guru memberikan contoh soal beserta penyelesaiannya, melakukan tanya jawab antara siswa dengan guru terkait materi yang dipelajari, dan siswa diberikan latihan soal yang dikerjakan secara individu. Setelah seluruh siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan, kemudian guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan jawabannya dipanpan tulis yang selanjutnya dibahas bersama oleh guru.