BAB II LANDASAN TEORI
B. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak tuna laras
2. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang cocok untuk
Model pembelajaran adalah suatu rancangan atau pola yang di desain oleh pendidik dalam mengajar utuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan adanya model pembelajaran, pendidik dapat melakukan pembelajaran yang ingin dilakukan untuk membuat peserta didik nyaman dalam belajar dan faham dengan apa yang diajarkan sehingga tercapailah tujuan pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku untuk mengunakan satu model pembelajaran saja, agar kegiatan belajar mengajar tidak membosankan dan bisa menarik perhatian peserta didik sebaiknya guru menggunakan model pembelajaran yang bervariasi dalam proses belajar mengajar.
Model pembelajaran pendidikan agama islam bagi anak tuna laras di SMP Muhammadiyah Salatiga tidak ada bedanya dengan anak normal lainnya, pembelajaran berlangsung seperti pada sekolah umumnya. Hal ini sesuai paparan dari hasil wawancara dengan bapak H. Yudi Haryono, S.Pd yang menyatakan sebagai berikut :
“ Di dalam pembelajaran kami menggunakan Rencana Kegiatan
Harian ( RKH ). Jadi, kami melihat karakteristik anak terlebih dahulu, apa didalam kelas tersebut terdapat anak tuna laras atau tidak. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu model pembelajaran yang cocok untuk kami terapkan. Karena dalam hal ini tidak ada perbedaan model pembelajaran antara anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Sebab jika kami bedakan nanti jadinya malah kelas berkebutuhan khusus di sekolah umum. Hanya saja dalam proses pembelajaran ini terbagi menjadi dua yaitu pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas.”
Hal ini juga sesuai dengan paparan dari hasil wawancara dengan ibu Safitri Dewi, sebagai berikut:
“ Masalah model pembelajaran yang kita gunakan itu semuanya
sama mbak, tidak ada yang kami bedakan antara anak normal dan anak tuna laras. Kami menggunakan pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas. Kalau di dalam kelas biasanya kami melibatkan peserta didik, sebab kadang anak itu ketika guru yang menjelaskan anak kurang faham tetapi begitu dijelaskan dengan temannya anak langsung bisa memahaminya, kalau pembelajaran di luar kelas
kami sesuaikan dengan kondisi anak tuna laras tersebut.”
Dengan demikian, anak tuna laras di SMP Muhammadiyah Salatiga tidak memiliki model pembelajaran secara khusus, hanya saja pembelajaran di SMP Muhammadiyah Salatiga memiliki dua jenis pembelajaran yaitu pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas. Selanjutnya, peneliti akan menjabarkan beberapa jenis pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas yang telah diterapkan di SMP Muhammadiyah Salatiga. Berkaitan dengan hal tersebut, SMP Muhammadiyah Salatiga memiliki jenis pembelajaran sebagai berikut:
a. Didalam kelas
Dalam hal ini guru di SMP Muhammadiyah Salatiaga tidak hanya terpaku pada satu model pembelajaran saja dalam menerapkan berbagai macam mata pelajaran namun berbagai model pembelajaran telah guru berikan kepada peserta didik dengan tujuan supaya pembelajaran dapat menyenangkan bagi peserta didik sehingga hasil yang akan dicapai oleh peserta didik pun akan maksimal.
Dibawah ini beberapa model pembelajaran yang diterapkan oleh guru khususnya guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
1) Model pembelajaran Jigsaw
Dalam model pembelajaran ini tanggung jawab belajar terletak pada peserta didik. olek karena itu, peserta didik harus dapat membangun pengetahuannya, tidak hanya menerima materi dari guru saja melainkan dari temannya, karena kadang peserta didik lebih paham ketika dijelaskan oleh temannaya sendiri. Dalam hal ini guru memberi instruksi kepada peserta didik dengan cara :
a) Membagi beberapa kelompok dalam kelas yang setiap kelompok terdiri dari 4 anak.
b) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda.
c) Anggota dari tim yang berbeda dengan tugas yang sama membentuk kelompok yang baru.
d) Setelah diskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang sub bab yang mereka kuasai.
e) Perwakilan dari kelompok mempresentasikan hasil diskusi. f) Pembahasan.
g) Penutup.
Model Pembelajaran Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning ) suatu pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi menciptakan bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki anak khususnya pada anak tuna laras senantiasa terkait dengan permasalahan – permasalahan aktual yang terjadi di lingkungan. Jadi dalam pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning) selalu ada keterkaitan anatara materi atau topic pembelajaran dengan kehidupan nyata. Hal ini biasanya diterapkan pada materi akhlaq dan fiqh.
3) Model Pembelajaran Quantum
Model pembelajaran ini menurut guru mampu untuk meningkatkan minat belajar siswa sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya. Dalam model pembelajaran quantum ini, biasanya pendidik akan membiasakan siswa dalam mencatat, membaca secara bergilir hal ini ditujukan supaya peserta didik lancar dalam membaca dan menulis. Sebab kaitannya dengan hal tersebut masih ada beberapa anak di SMP Muhammadiyah Salatiga yang masih belum lancar dalam membaca dan menulis khususnya dalam materi Al –Qur‟an.
b. Diluar kelas.
Dalam hal ini untuk mengkondisikan anak tuna laras pihak sekolah memberikan pelajaran diluar kelas yang mana sering disebut dengan pelajaran ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler di SMP Muhammadiyah ini
sangat banyak salah satunya ekstrakulikuler bagi peserta didik yang termasuk dalam kategori tuna laras ini.
Anak tuna laras berbeda dengan anak yang pada umumnya. Maka dari itu anak tuna laras diberi tambahan ekstrakulikuler yang sesuai dengan kekurangannya. misalnya : anak yang belum lancar membaca disatukan untuk lebih diperhatikan dalam segi menbaca supaya mereka menjadi lancar membaca, anak yang tingkat emosinya labil dikhususkan sendiri dengan cara pendampingan diberi masukan supaya mereka dapat lebih menjaga tingkat emosinya, bahkan anak yang kurang perhatian dari keluargapun juga disendirikan dan diberi masukan – masukan supaya mereka lebih memahami dirinya.
Segala upaya telah dilakukan pihak sekolah dengan cara bekerja sama dengan orang tua peserta didik, wali kelas, guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling untuk membentuk pribadi yang lebih baik khususnya bagi anak tuna laras.
3. Masalah yang di hadapi guru dalam proses pembelajaran pendidikan