BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik
1. Model Pembelajaran
dilakukan oleh guru di Sekolah Dasar.
C. Batasan Masalah
Pada identifikasi masalah yang ditemukan, penulis membatasi masalah pada kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar se-Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan evaluasi proses pembelajaran.
D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah di atas, maka peneliti rumusan masalah dari penelitian ini adalah: Bagaimana kualitas proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar se-DIY?
E. Tujuan Penulisan
Tujuan yang akan dicapai melalui rumusan masalah yang ditemukan adalah mengetahui kualitas proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar se-DIY.
F. Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan dalam penelitian ini, maka manfaat penelitian, yaitu: 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan, dapat berguna sebagai sumbangan gagasan dan hasil analisis evaluasi aspek dalam proses pembelajaran yang efektif.
2. Manfaat Praksis
Penelitian ini memberi sumbangan pemikiran bagi kualitas proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik yang berkaitan pada aspek guru, siswa, model pembelajaran, dan sarana pembelajaran.
G. Metode Penulisan
Penulisan ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan mengumpulkan data hasil penyebaran instrumen, wawancara dan pembahasan
terhadap hasil yang telah diperoleh berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian, dilakukan pula analisis deskriptif frekuentif, statistik dan patokan acuan norma terhadap permasalahan yang terjadi.
H. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, penulis menyampaikan pokok-pokok uraian sebagai berikut:
Bab I memaparkan pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II berisi tentang landasan teori yang akan mendasari pembahasan-pembahasan selanjutnya. Bab II ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama berisi kajian pustaka meliputi: Pendidikan Agama Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik di sekolah serta subjek yang disasar dalam penelitian ini yaitu siswa. Bagian kedua yaitu: pengolahan proses pembelajaran PAK, sedangkan bagian ketiga adalah evaluasi pembelajaran. Bagian keempat adalah membahas penelitian yang relevan.
Bab III berisi uraian tentang jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, pengembangan instrumen, dan teknik analisis data.
Bab IV berisi hasil penelitian dan analisis data hasil penelitian evaluasi proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik yang meliputi latar belakang
responden, deskripsi hasil penelitian, pembahasan dan diakhiri keterbatasan penelitian.
Bab V berisi penutup yang mencakup dua bagian. Bagian pertama menyampaikan kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah, tujuan penulisan serta didukung oleh data hasil penelitian. Bagian kedua berisi saran guna pengembangan media Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada variabel dalam judul Evaluasi Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dasar Se-Daerah Istimewa Yogyakarta pada bagian ini akan dijelaskan PAK, proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.
A. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik
1. Hakikat Pendidikan Agama Katolik
Groome dalam Heryatno (2008:3) pendidikan adalah menanggapi dan mewartakan Kerajaan Allah yang mengambil bagian pada karya keselamatan Allah dan nilai-nilai kerajaanNya. Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 angka 1 “Pendidikan adalah usaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualitas keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan.” Pendidikan Agama Katolik hendaknya melibatkan setiap pribadi untuk menyadari kehidupan rohani yang dialami dalam hidupnya. Kedalaman dan nilai hidup akan mempermudah siswa untuk memperkembangkan imannya akan Yesus Kristus.
Hakikat dasar PAK sebagai komunikasi iman, perlu menekankan sifatnya yang praktis, artinya bermula dari pengalaman penghayatan iman, melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman baru yang lebih baik. Untuk sampai pada komunikasi iman, seseorang membutuhkan kemampuan berefleksi
dan keterampilan untuk memaknai kenyataan hidup sehari-hari yang didasarkan pada iman (Heryatno 2018:9)
Pendidikan Agama Katolik merupakan salah satu bentuk dari katekese menurut pandangan Gereja Katolik. Maka, membicarakan PAK tidak lepas dari katekese (Dapiyanta, 2011:1). Menurut Adisusanto dalam Dapiyanta (2011:1) katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda dengan fungsi pendidikan iman. Pelayanan Sabda berarti mewartakan Injil kepada semua umat manusia, seperti pelayanan sabda yang memberikan pendidikan iman.
Arah dasar Pendidikan Kristiani menurut Konsili Vatikan II dalam Deklarasi tentang Pendidikan Kristiani Gravissimum Educationis menyatakan bahwa: Pendidikan Kristiani tidak hanya bertujuan untuk pendewasaan peribadi manusia, melainkan hendak mencapai, supaya mereka yang dibaptis langkah demi langkah makin mendalami misteri keselamatan dan dari hari ke hari makin menyadari karunia iman yang telah mereka terima, sehingga mereka belajar bersujud kepada Allah Bapa dalam Roh kebenaran, terutama dalam perayaan Liturgi, supaya mereka juga dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati; supaya mencapai kedewasaan penuh serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh mistik (GE. 2).
Deklarasi tentang pendidikan Kristiani di atas menyatakan bahwa tujuan pendidikan Kristiani adalah pendalaman misteri keselamatan dari Yesus Kristus, iman kepada Yesus Kristus, makna kekudusan dan mengusahakan diri secara penuh dengan ketaqqwaan kepada Yesus Kristus.
Groome juga menyebutkan pentingnya katekese dalam Pendidikan Kristen, sebagai bentuk kegiatan yang bersifat pengajaran dalam agama Kristen secara lebih luas. Ia juga menegaskan di dalam Silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar yang diterbitkan oleh Komkat KWI Pendidikan Agama Katolik di sekolah diartikan sebagai usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan persatuan nasional (Komkat KWI, 2007: 9).
Hal yang ditunjukan di atas yang mencakup unsur pokok yang menunjukkan hakikat Pendidikan Agama Katolik. Pertama, Pendidikan Agama Katolik ditempatkan dalam suatu konteks pemahaman pendidikan secara umum. Pendidikan merupakan tindakan yang khas manusiawi karena kesadaran akal budi yang dimilikinya. Kegiatan pendidikan dilakukan secara sadar dan terencana untuk membantu siswa mengembangkan dirinya secara utuh. Kedua, Pendidikan Agama Katolik berpusat pada pribadi Yesus Kristus dan keprihatinan tunggal-Nya yaitu Kerajaan Allah.
Namun Pendidikan Agama Katolik harus dapat membebaskan diri dari spiritualitas yang bersifat pribadi. Pendidikan Agama Katolik harus membantu naradidik untuk mengembangkan spiritualitas yang bersifat politis, yang memperoleh perwujudannya dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, tak dapat dipungkiri bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah sebagai di sekolah
kegiatan pengajaran dalam pengajaran agama Kristen secara lebih luas (katekese). Ketiga, Pendidikan Agama Katolik di sekolah sebagai salah satu bentuk komunikasi dan interaksi iman mengandung unsur pengetahuan iman (kognitif), pergumulan iman (afektif) , dan unsur penghayatan iman dalam berbagai bentuk (aspek operatif). Dan keempat, dalam konteks bangsa Indonesia yang ditandai kemajemukan hidup keagamaan, upaya mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu harus tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan persatuan nasional.
2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik
Menurut Komisi Kateketik Konferensi Wali Gereja Indonesia [Komkat KWI] (2017:9), tujuan dari Pendidikan Agama Katolik merupakan rangkaian usaha yang dilakukan secara tentram dan berkesinambungan dalam mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran iman Katolik. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan penghormatan terhadap agama lain demi terciptanya kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Menurut Malino (1981:20) Pendidikan Agama Katolik bertujuan agar siswa mampu menggumuli hidup dari berbagai segi pandangan-pandangan Kristiani dan memudahkan siswa untuk terus berkembang dalam imannya, sehingga menjadi pribadi yang beriman.
Pendidikan Agama Katolik juga bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap membangun hidup yang semakin beriman. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas-aktivitas yang terkait, seperti mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi. Keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui aktivitas lainya, seperti mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyajikan dan menciptakan. Sikap tersebut dibentuk melalui pembiasaan: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Menurut Yaumi (2013:150) tujuan pembelajaran adalah untuk memperoleh pengetahuan secara umum maupun khusus, keterampilan dalam belajar, sikap yang harus siswa tunjukan dalam mengikuti pembelajaran.
3. Jenis-Jenis Belajar
Menurut Malino (1981:19) dalam pola PAK, proses belajar mengajar, lebih tepat disebut proses belajar dan membentuk yang berlangsung secara garis besar sebagai berikut:
a. Menampilkan pengalaman manusia dan fakta yang membuka pemikiran. b. Membawa ke pengolahan sehingga mendorong siswa untuk mengetahui dan
memahami secara mendalam dan lebih luas.
c. Menggumulinya sehingga siswa mempunyai kemampuan menerapkan dalam hidupnya.
Dapiyanta dalam Setyakarjana (1997:137), bahwa hidup beriman adalah menggali perubahan melalui beberapa hal, seperti: melalui perilaku seseorang, karena tahu-paham, karena mengalami suatu peristiwa, yang selanjutnya
dirasakan sebagai sesuatu yang bernilai, sehingga mampu mendorong seseorang untuk berperilaku lain dari sebelumnya. Maka berikut ini akan dijelaskan 5 jenis-jenis belajar, antara lain:
a. Belajar Mengetahui-Memahami Nilai/Sikap
Dalam kehidupan seseorang akan mengalami atau menemukan beberapa hal yang berkaitan dengan nilai dan sikap hidup. Dalam pengalaman pembelajaran PAK diartikan sebagai bagian dalam belajar mengenai konsep-konsep dan nilai atau sikap hidup Kristiani. Proses belajar mengajar tentu akan melalui proses mental dari belum tahu menjadi melaksanakan, sehingga dalam proses mengetahui dan melaksanakan seseorang akan berada dalam posisi, yakni:
1) Belum mengetahui 2) Mengetahui 3) Memahami 4) Internalisasi 5) Menghayati
b. Belajar Meneladani Kehidupan Tokoh-Tokoh Beriman
Dalam kehidupan seseorang tentu akan mengalami perjumpaan dengan seseorang dengan berbagai hal yang dapat memberikan pengaruh sehingga mampu mendorong seseorang untuk termotivasi melakukan hal yang sama, sebut saja sebagai tokoh inspiratif dalam hidup. Dari gejala tersebut seseorang akan memikirkan, menduga proses mental yang terjadi melalui hal menyaksikan, membaca, mendengar sampai adanya perubahan perilaku, yakni:
1) Penampilan tokoh
2) Karakteristik akan suatu nilai dalam diri tokoh 3) Meneladani
4) Mengetahui-memahami
c. Belajar dari Pengalaman
Dalam peristiwa hidup seseorang tentu mengalami banyak peristiwa hidup baik itu pengalaman buruk maupun pengalaman yang baik dalam hidup sehingga gejala tersebut dapat kita amati dan menduga secara global proses yang terjadi. Pengalaman dalam hidup dapat terjadi karena suatu pengkondisian dan khusus.
d. Pengalaman langsung
1) Melakukan sesuatu
2) Mendapatkan pengetahuan 3) Melakukan kagi demi mendapat
4) Tidak melakukan lagi, karena tidak mendapatkan pengaruh
e. Pengalaman Khusus
a) melakukan sesuatu b) merasakan suatu akibat
c) berefleksi mengapa akibat itu terjadi d) menemukan nilai
4. Bentuk-bentuk Pembelajaran
Dapiyanta dalam Setyakarjana (1997:141), menyebutkan ada 3 bentuk pembelajaran, yaitu:
a. Pola manilo, kegiatan pembelajaran meliputi penampilan fakta, mengolah fakta yang mendorong ke pemahaman dan penemuan nilai, serta mengolah secara pribadi.
b. Pola Naratif (menampilkan model), yaitu dengan menampilkan model secara utuh dan menarik sehingga menimbulkan perasaan senang dengan cerita, mendalami cerita agar semakin dimiliki murid dan meneladani perilaku tokoh yang menjadi model.
c. Pola perubahan dan bersikap iman dengan berbuat, mengungkapkan, mengolah, menemukan makna dan penerapan.
Mc. Keachie (Student. Centered versus Instructor-Centered Instruction, 1954 dalam Daryanto (2012:4) menjelaskan tujuh tujuan dalam melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah, yaitu:
1) Partisipasi siswa dalam menentukan tujuan pembelajaran 2) Penekanan dalam aspek afeksi dalam pembelajaran 3) Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar
4) Respon guru terhadap siswa yang menanggapi kurang relevan atau salah 5) Kerjasama guru dan siswa dalam proses belajar mengajar
6) Siswa memperoleh kesempatan untuk menanggapi dan mengambil keputusan dalam proses belajar
7) Jumlah waktu dalam menangani masalah pribadi siswa yang berhubungan atau yang tidak berhubungan dengan pembelajaran.
B. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik
1. Model Pembelajaran
Bruce & Weil dalam Looks (2013) mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran ke dalam aspek-aspek berikut:
a. Sintaks
Sintaks adalah suatu model pembelajaran memiliki sintaks atau urutan atau tahap-tahap kegiatan belajar yang diistilahkan dengan fase yang menggambarkan bagaimana model tersebut dalam praktiknya, misalnya bagaimana memulai pembelajaran.
b. Sistem sosial
Sistem sosial menggambarkan bentuk kerjasama antara guru dan siswa dalam pembelajaran atau peran-peran guru dan siswa dan hubungannya satu sama lain dan jenis-jenis aturan yang harus diterapkan. Peran kepemimpinan guru bervariasi dalam satu model ke model pembelajaran lainnya. Dalam beberapa model pembelajaran, guru bertindak sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar, namun dalam model pembelajaran yang terstruktur sedang peran guru dan siswa seimbang. Setiap model memberikan peran yang berbeda pada guru dan siswa.
c. Prinsip reaksi
Prinsip reaksi menunjukkan kepada guru bagaimana cara menghargai atau menilai siswa dan bagaimana menanggapi apa yang dilakukan oleh siswa. Sebagai contoh, dalam suatu situasi belajar, guru memberi penghargaan atas kegiatan yang dilakukan siswa atau mengambil sikap netral.
d. Sistem pendukung
Sistem Pendukung menggambarkan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk mendukung keterlaksanaan model pembelajaran, termasuk sarana dan prasarana, misalnya alat dan bahan, kesiapan guru, serta kesiapan siswa dalam belajar.
e. Dampak pembelajaran langsung
Dampak pembelajaran langsung merupakan hasil belajar yang dicapai dengan cara mengarahkan siswa pada tujuan yang diharapkan sedangkan dampak iringan adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajaran sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh pebelajar.
f. Dampak pengiring
Dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa arahan langsung dari guru.
Joyce dalam sagala (2011:176) menjelaskan bahwa model mengajar adalah suatu deskripsi lingkungan belajar yang mengembangkan kurikulum, unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui komputer. Hal ini menunjukan bahwa model-model pembelajaran menyediakan alat belajar bagi siswa.
Saat siswa mengembangkan suatu keterampilan mereka, guru harus mampu berpindah dari interaksi guru-siswa-guru-siswa menuju diskusi yang bersifat guru-siswa-siswa-siswa. Diskusi yang dilakukan oleh guru dan siswa haruslah menggunakan bahasa yang dipahami oleh guru maupun semua siswa, sehingga interaksi dapat mencapai tujuan pembelajaran yang efektif (Eggen & Kauchak, 2012:284).
Dalam proses pembelajaran guru perlu memiliki modal pemahaman dan pengetahuan untuk merencanakan proses pembelajaran efektif, salah satu caranya yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah memahami karakteristik siswa (Sagala, 2011:62). Proses pembelajaran yang efektif perlu menggunakan alat pengajaran yang merupakan sarana pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa (Raharjo, 2012:13).
HUBER dalam Setyakarjana (1997:35). Guru perlu memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat dicapai dalam pendidikan pembelajaran agama katolik di sekolah , antara lain:
a. Mampu Mengetahui dan Memahami Pola PAK
b. Peran pola Pendidikan Agama Katolik di dalam keseluruhan Pendidikan Agama
c. Tujuan pola Pendidikan Agama Katolik
d. Mampu Mengetahui dan Memahami Proses Belajar dan Mengajar
e. Usaha dalam proses pembelajaran dan bagaimana langkah-langkah pembelajaran dapat terlaksana.
f. Guru dapat menguasai bahan pembelajaran, seperti langkah-langkah pembelajaran dan penggunaan sarana pembelajaran.
g. Trampil untuk mengusahakan agar proses belajar dapat terjadi, seperti:
1) Guru mendidik siswa dengan sadar mempergunakan tindakan-tindakan yang sewajarnya dengan tujuan tercapainya tujuan pembelajaran
2) Guru mengelolah pembelajaran dengan tepat dan sesuai sehingga sesuai dengan materi dan keadaan awal siswa
3) Guru dapat memberikan informasi yang dibutuhkan siswa secara komunikatif 4) Guru dapat mempersiapkan dan merencanakan, serta mengolah proses
pembelajaran di dalam kelas yang menjamin kebebasan dan keaktifan siswa 5) Guru mampu memberikan semangat kepada para siswa sehingga mereka
dimudahkan dalam proses belajar.
6) Guru dapat mengadakan evaluasi proses belajar
Guru berperan sebagai pemimpin kelas yang mampu mengarahkan siswa untuk belajar, sehingga guru haruslah memahami penyampaian pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa melalui banyak hal yang memampukan pembelajaran dapat diikuti secara menarik.