TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Model Pengembangan Ekonomi Wilayah Perbatasan
Wilayah perbatasan setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan zonasi wilayah pengembangan sehingga pengembangan wilayah perbatasan lebih tepat sasaran dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Kawasan perbatasan sebagai kawasan yang unik karena kebijakan pembangunan suatu negara juga
akan berpengaruh terhadap negara lain yang berbatasan terutama negara-negara yang memiliki perbatasan darat. Pengembangan kawasan perbatasan selain mempertimbangkan aspek hukum, politik, keamanan juga selayaknya memperhatikan aspek sosial, budaya dan ekonomi kawasan perbatasan. Kompleksitas permasalahan wilayah perbatasan tersebut membutuhkan perencanaan pengembangan wilayah perbatasan yang komprehensif. Sebagaimana dikatakan Rustiadi et al. (2007) bahwa perencanaan pengembangan wilayah tidak hanya bersifat administratif tetapi juga memperhatikan tipologi wilayah yang lainnya misalnya aspek homogenitas dan heterogenitas, aspek keterkaitan antar wilayah, sistem ekonomi, wilayah sistem sosial. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Berbagai konsep wilayah beserta tujuan dan contoh penggunaan
No Wilayah Tujuan Contoh
1 Homogen Penyederhanaan dan pendeskripsian wilayah, zonasi kawasan fungsional
Pola penggunaan lahan, pewilayahan komoditas 2 Nodal Deskripsi hubungan nodalitas, identifikasi
daerah pelayanan, penyusunan hierarki pelayanan
Keterkaitan CBD dan daerah pelayanannya, central place dan periphery, sistem/ordo 3 Sistem ekologi Pengelolaan wilayah sumber daya
berkelanjutan, identifikasi carrying capacity kawasan, siklus alam aliran sumber daya, biomasa energi, limbah,dll
Pengelolaan DAS, cagar alam, ekosistem
mangrove 4 Sistem ekonomi Percepatan pertumbuhan wilayah,
produktifitas dan mobilisasi sumber daya, efisiensi Wilayah pembangunan, kawasan andalan, KAPET, kawasan agropolitan, kawasan cepat tumbuh 5 Sistem sosial Pewilayahan menurut sistem budaya,
optimalisasi interaksi sosial, community development, keberimbangan, pemerataan dan keadilan, distribusi penguasaan sumber daya, pengelolaan konflik
Kawasan adat,
perlindungan / pelestarian budaya, pengelolaan kawasan publik kota 6 Politik Menjaga keutuhan dan integritas wilayah
teritorial, menjaga pengaruh / kekuasaan teritorial, menjaga pemerataan(equity) antar sub wilayah
negara, provinsi, kabupaten, desa
7 Administratif Optimalisasi fungsi-fungsi administrasi dan pelayanan publik pemerintahan
negara, provinsi, kabupaten, desa
Oleh karena itu, Hamid dan Alkadri (2003) menawarkan beberapa model pengembangan ekonomi wilayah perbatasan, tentunya dengan penekanan yang berbeda pada aspek tertentu dari setiap wilayah perbatasan. Model-model pengembangan ekonomi wilayah perbatasan tersebut adalah sebagai berikut:
1). Kawasan Cepat Tumbuh
Kawasan cepat tumbuh merupakan salah satu bentuk kawasan tertentu sebagaimana tertuang dalam RTRWN. Suatu wilayah dikatakan sebagai kawasan cepat tumbuh karena wilayah tersebut merupakan kawasan budidaya yang di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan produksi, jasa, dan permukiman yang keberadaannya memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ekonomi nasional dan daerah. Selanjutnya dikatakan bahwa kawasan cepat tumbuh memiliki ciri: (a) sebagai kawasan dimana terjadi kegiatan ekonomi yang cukup tinggi sehingga menjadi motor penggerak bagi kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya, misalnya kawasan industri dan kawasan perdagangan bebas; (b) perekonomian wilayah menunjukkan prospek yang baik; (c) kapasitas sumberdaya alam mencukupi; (d) tersedianya ruang, infrastruktur dan daya dukung lingkungan; (e) kapasitas sumberdaya manusia mencukupi; (f) kapasitas kelembagaan dan regulasi cukup kondusif.
Keterbatasan sumberdaya wilayah perbatasan Kabupaten TTU dengan district enclave Oekusi bukanlah merupakan penghalang untuk dijadikan sebagai kawasan cepat tumbuh karena memiliki ruang cukup luas yang belum dimanfaatkan sehingga penataan wilayah perbatasan dengan model kawasan cepat tumbuh dapat dilakukan dengan baik. Kelembagaan dan regulasi juga dapat disesuaikan sehingga dapat menarik minat investor untuk melakukan investasi di wilayah perbatasan dengan memperhatikan posisi strategis wilayah perbatasan Kabupaten TTU dengan district enclave Oekusi yang berada tepat di pusat Pulau Timor dan berada di seberang Kabupaten Alor, Lembata dan Flores, Wetar (Maluku) sehingga memudahkan akses terhadap sumberdaya lainnya maupun akses terhadap pasar.
2). Kawasan Agropolitan
Kawasan agropolitan secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kawasan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada sektor pertanian, baik tanaman pangan, palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan maupun kehutanan. Agropolitan sendiri
pertama kali diperkenalkan oleh Mc Douglass dan Friedman pada tahun 1974 (Rustiadi dan Pribadi, 2007) sebagai upaya pengembangan terhadap kawasan perdesaan. Konsep agropolitan tersebut dilengkapi oleh Soenarso dalam Rustiadi et al.(2006) bahwa sistem fungsional desa-desa dengan hierarki keruangan desa yakni adanya pusat pertumbuhan agropolitan dan desa-desa di sekitarnya dengan ciri berjalannya sistem dan usaha agropolitan yang melayani dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian agribisnis di sekitarnya. Strategi pengembangan agropolitan dilakukan dengan (a) menetapkan dan mengembangkan kawasan agropolitan sebagai pusat pertumbuhan agroindustri; (b) melakukan zonasi komoditas dan menetapkan wilayah pengembangan lain yang berfungsi sebagai pusat-pusat pertumbuhan satelit atau pusat pertumbuhan agribisnis; (c) mengembangkan infrastruktur pendukung seperti transportasi, komunikasi, air bersih dan energi bagi pengembangan kawasan agropolitan maupun pengembangan agribisnis di wilayah hinterland. Selanjutnya dikatakan bahwa model pengembangan agropolitan dapat dikembangkan melalui kawasan sentra produksi dan kawasan agribisnis. Kawasan sentra produksi sebagai kawasan budidaya yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebaran pengembangan kegiatan produksi pertanian. Sedangkan kawasan agribisnis meliputi seluruh kegiatan yang termasuk dalam manufaktur dan distribusi input produksi, proses produksi pertanian, pengolahan dan pemasaran komoditas pertanian dan jasa-jasa penunjang lainnya yang terkait.
Kawasan perbatasan Kabupaten TTU dengan district enclave Oekusi umumnya adalah wilayah perdesaan dengan aktivitas utama masyarakatnya pada sektor pertanian, walaupun demikian terdapat lahan tidur seluas 37.344,5 ha yang belum diolah. Pemanfaatan lahan-lahan tidur tersebut menjadi lahan produktif yang ditunjang dengan pengolahan hasil-hasil pertanian akan meningkatkan nilai tambah produk bagi masyarakat perdesaan di wilayah perbatasan. Selain itu, penguatan lembaga keuangan mikro perdesaan yang ditunjang dengan pembangunan infrastruktur akan memacu perekonomian perdesaan di wilayah perbatasan untuk berkembang.
3) Kawasan Transito
Kawasan transito diartikan sebagai suatu kawasan yang memiliki fungsi menetap sementara karena kawasan tersebut merupakan wilayah yang menghubungkan suatu wilayah tertentu dengan wilayah lainnya. Pengembangan wilayah Kabupaten TTU
sebagai kawasan transito sangat dimungkinkan karena Kabupaten TTU merupakan wilayah yang dilintasi oleh diplomat asing maupun masyarakat TL yang ingin bepergian ke wilayah district Oekusi yang enclave atau sebaliknya. Pengembangan kawasan transito dilakukan dengan meningkatkan sumberdaya manusia, menyiapkan infrastruktur transito seperti perhotelan dan restoran baik internasional maupun lokal yang menyediakan komoditas-komoditas unggulan lokal yang dapat diandalkan serta kawasan tertentu untuk dijadikan tempat wisata.
4) Kawasan Wisata
Kebijakan pariwisata di Indonesia adalah menjaga Indonesia sebagai tujuan wisata domestik dan mancanegara untuk berbagai tujuan. Pembangunan wisata dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pembangunan dan memperkaya keragaman budaya nasional. Pengembangan pariwisata diharapkan dapat membangun wilayah- wilayah yang unik dan indah di Indonesia yang tidak memiliki sumberdaya lainnya. Model pengembangan wisata dimaksudkan untuk (a) mengintegrasikan wisata dengan konservasi; (b) model untuk menekan biaya pembangunan; (c) sarana pendidikan bagi masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan dan budaya; (d) pembangunan berkelanjutan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat.
Kabupaten TTU memiliki beberapa potensi ekowisata seperti kawasan wisata Tunbaba raya (Miomafo Timur), Mutis-Timau (Miomafo Barat), kawasan wisata bahari seperti Tanjung Bastian (Insana Utara), dan kawasan wisata budaya seperti rumah adat Nilulat (Miomafo Timur) dan Mumi Tola (Miomafo Barat) serta kawasan wisata lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten TTU sejumlah 22 daerah tujuan wisata. Kawasan-kawasan wisata tersebut bila diberi sentuhan teknis dan manajemen yang profesional akan menjadikan Kabupaten TTU sebagai daerah tujuan wisata yang cukup menjanjikan dan akan menarik serta mendorong usaha-usaha ekonomi produktif lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan PAD.
2.9. Agropolitan
Rustiadi dan Pranoto (2007) mengatakan bahwa suatu kawasan agropolitan dicirikan oleh kegiatan masyarakat di suatu kawasan yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan atau agribisnis dalam suatu kesisteman yang utuh dan terintegrasi.
Penerapan konsep agropolitan harus didahului dengan mempersiapkan hal-hal berikut: (1) identifikasi potensi sumberdaya yang dimiliki suatu wilayah, (2) kemudahan transportasi sehingga hubungan (interaksi) dengan luar dapat berjalan dengan baik, (3) memfungsikan wilayah sebagai pusat perdagangan maupun transit bagi pihak-pihak yang melakukan perdagangan.
Pada intinya, pusat-pusat wilayah perdesaan harus mampu menciptakan suatu program/proyek/sumber produksi/investasi/sabuk ekonomi yang mampu menghidupi masyarakat wilayahnya. Kapital yang ditanam di sana, diputar, dan memberikan
multiplier secara lokal. Untuk menghindari kebocoran wilayah (regional leakages) diperlukan adanya kemampuan kelembagaan lokal dengan difasilitasi oleh pemerintah yang mengarah kepada pembentukan struktur insentif dan disinsentif yang dapat mendukung penanaman dan terjadinya akumulasi modal di tingkat daerah atau lokal. Rustiadi dan Dardak (2008) mengatakan bahwa berdasarkan skala nilai strategisnya, agropolitan dapat diklasifikasikan menjadi 3 yakni: (a) agropolitan kabupaten, (b) agropolitan provinsi, (c) agropolitan nasional yang memiliki nilai strategis secara nasional karena berada pada kawasan perbatasan dan kawasan tertinggal nasional.
Selanjutnya Rustiadi dan Pranoto (2007) mengatakan bahwa penetapan suatu kawasan menjadi kawasan agropolitan didasarkan pada kriteria-kriteria berikut:
1. Memiliki komoditas dan produk olahan pertanian unggulan. Komoditas pertanian unggulan yang dimaksud seperti tanaman pangan (jagung, padi), hortikultura (sayur-mayur, bunga, buah-buahan), perkebunan, perikanan darat/laut, peternakan. 2. Memiliki daya dukung dan potensi fisik yang baik yang berarti daya dukung lahan
untuk pengembangan agropolitan harus sesuai syarat pengembangan jenis komoditi unggulan yang meliputi: kemiringan lahan, ketinggian, kesuburan lahan, dan kesesuaian lahan.
3. Luas kawasan dan jumlah penduduk yang memadai sehingga memperoleh hasil produksi yang dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan dan mencapai skala ekonomi.
4. Tersedianya dukungan sarana dan prasarana pemukiman dan produksi yang memadai untuk mendukung kelancaran usahatani dan pemasaran hasil produksi.
Prasarana dan sarana tersebut antara lain adalah jalan poros desa, pasar, irigasi, terminal, listrik dan sebagainya.
Berkaitan dengan syarat dan kriteria pengembangan suatu kawasan menjadi kawasan agropolitan maka dapat diklasifikasikan tipologi kawasan agropolitan berdasarkan agroekosistem, potensi unggulan dan pemukiman. Perincian selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.
TIPOLOGI
Agroekosistem Potensi Unggulan Permukiman 1. Pesisir/ pantai 2. Dataran rendah 3. Dataran tinggi Komoditas primer Sistem pengolahan Distribusi
dan pasar Penunjang 1.tanaman pangan 2.tanaman hortikultura 3.perkebunan 4.peternakan 5.perikanan 6.perhutani 7.wanapolitan 8.Agrowisata 1.sorting/ paking 2.industri olahan makanan 3.Industri olahan non makanan 1.pusat-pusat pengumpul distribusi skala kecil/lokal 2. pusat- pusat pengumpul skala sedang 3.Sub terminal agribisnis 1.kios/ toko saprotan 2.Lembaga keuangan 1. Monosentrik 2. Polisentrik 3. Network/ tanpa pusat Skala Agropolis 1. Desa pusat pertumbuhan 2. Pusat kegiatan lokal 3. Kota kecil/ menengah
Komoditas primer produk olahan unggulan
Gambar 3. Bagan tipologi kawasan agropolitan(Rustiadi dan Pranoto, 2007)
Penetapan tipologi kawasan agropolitan yang tepat diharapkan dapat mengikutsertakan pembangunan kapasitas lokal dan partisipasi masyarakat dalam suatu program yang menumbuhkan manfaat mutual bagi masyarakat perdesaan dan perkotaan (Douglas dalam Rustiadi dan Pribadi, 2007). Melihat kota-desa sebagai situs utama untuk fungsi-fungsi politik dan administrasi, pengembangan agropolitan di banyak negara lebih cocok dilakukan pada skala kecamatan atau dalam beberapa kecamatan. Pengembangan kawasan agropolitan dengan luasan atau skala kecamatan akan memungkinkan hal-hal sebagai berikut: (1) akses lebih mudah bagi rumahtangga atau masyarakat perdesaan untuk menjangkau kota, (2) cukup luas untuk meningkatkan atau mengembangkan wilayah pertumbuhan ekonomi dan cukup luas dalam upaya pengembangan diversifikasi produk dalam rangka mengatasi keterbatasan-keterbatasan
pemanfaatan desa sebagai unit ekonomi, (3) pengetahuan lokal mudah diinkorporasikan dalam proses perencanaan jika proses itu dekat dengan produsen perdesaan.