SEKTOR UNGGULAN DAN LEADING SECTOR DI KABUPATEN TTU
6.2. Leading Sector
6.2.1. Struktur Perekonomian Kabupaten TTU
Table I-O terdiri dari 4 kuadran dimana kuadran I berisi transaksi antar berbagai sektor ekonomi di Kabupaten TTU atau biasa dikenal juga dengan input antara karena output dari suatu sektor ekonomi di Kabupaten TTU digunakan sebagai input oleh sektor lainnya di Kabupaten TTU; kuadran II berisi permintaan akhir dari rumahtangga (C), pemerintah (G), pembentukan modal dan perubahan stok yang digunakan untuk konsumsi akhir. Permintaan akhir tersebut dapat dipenuhi dari output seluruh sektor ekonomi di Kabupaten TTU ataupun berasal dari impor. Kuadran III merupakan balas jasa terhadap input primer yang digunakan untuk aktifitas setiap sektor ekonomi. Input tenaga kerja memperoleh upah dan gaji, input modal memperoleh surplus usaha, input lahan memperoleh sewa lahan dan input primer lainnya. Sedangkan kuadran IV biasanya diabaikan (tidak dianalisa) dalam Tabel I-O karena datanya kurang tersedia, tetapi dapat diupayakan bila ingin melakukan analisa dengan menggunakan SAM (Sosial Accounting Matrix).
a. Struktur Permintaan Kabupaten TTU
Komponen permintaan terdiri atas permintaan antara dan permintaan akhir. Komponen permintaan masih didominasi oleh permintaan akhir sebesar 67,22% dibanding permintaan antara sebanyak 32,78%. Kondisi ini menunjukkan bahwa output sektor-sektor ekonomi di Kabupaten TTU belum banyak digunakan untuk memperoleh nilai tambah melalui aktivitas ekonomi sektor lainnya di Kabupaten TTU, tetapi langsung dikonsumsi.
Komponen permintaan akhir suatu wilayah dengan perekonomian terbuka terdiri atas permintaan untuk konsumsi rumahtangga (C), pemerintah(G), investasi (I) dan ekspor (X). Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:
Y = C + G + I + X
581.786,12 = 363.278,14 + 74.830,50 + 67.904,65 + 73.893,51
Selanjutnya bila ingin mengetahui net ekspor di Kabupaten TTU maka dapat dilakukan pengurangan antara ekspor dan impor di Kabupaten TTU yakni 73.893,51 –18.950,05 = 54.943,46 yang berarti terjadi net ekspor di Kabupaten TTU. Meskipun demikian, permintaan akhir tertinggi masih didominasi oleh rumahtangga (41,97%) karena umumnya kegiatan-kegiatan sektor ekonomi di Kabupaten TTU masih dalam skala kecil sehingga output yang dihasilkan hanya cukup untuk dikonsumsi dalam skala rumahtangga.
Dengan demikian, perhatian dalam peningkatan produksi menjadi prioritas baik melalui peningkatan skala usaha maupun melalui penerapan teknologi yang lebih memadai. Selanjutnya kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan output produk tersebut untuk digunakan sebagai input bagi sektor lainnya di Kabupaten TTU sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bruto di Kabupaten TTU. Untuk itu, diperlukan perincian permintaan akhir per sektor untuk mengetahui kontribusi per sektor ekonomi sehingga memudahkan dalam pengambilan kebijakan. Adapun perincian kontribusi masing-masing komponen penyusun struktur permintaan di Kabupaten TTU dapat dilihat pada Tabel 46. berikut ini.
Tabel 46. Struktur permintaan akhir menurut komponennya di Kabupaten TTU tahun 2006
NO Komponen permintaan Nilai Kontribusi
1 Permintaan antara 283.702,36 32,78
2 Jumlah permintaan akhir 581.786,12 67,22
a. Konsumsi rumahtangga 363.278,14 41,97
b. KonsumsipPemerintah 74.830,50 8,65
c. Pembentukan modal tetap bruto 66.273,16 7,66
d. Perubahan stock 1.631,49 0,19
e. Ekspor luar negeri 1.879,31 0,22
f. Ekspor antar daerah 73.893,51 8,54
Jumlah permintaan 865.488,48 100,00
Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU Tahun 2006, Diolah
Perekonomian suatu wilayah akan mengalami perkembangan yang tinggi bila permintaan akhir didominasi oleh pembentukan modal sehingga diharapkan dapat diinvestasikan lagi di Kabupaten TTU dan selanjutnya dapat meningkatkan produksi di Kabupaten TTU baik melalui kebutuhan akan input langsung maupun keterkaitannya dengan sektor lainnya di Kabupaten TTU secara tidak langsung. Namun permintaan akhir tertinggi di Kabupaten TTU terdapat pada sektor pemerintahan yang menunjukkan ketergantungan terhadap pendanaan dari pemerintah dalam menggerakkan perekonomian di Kabupaten TTU. Sebagaimana terlihat dari total penerimaan daerah pada tahun 2006 sebesar: Rp 301.445.002.000,- umumnya (66,94%) merupakan belanja aparatur dan belanja modal daerah padahal anggaran pemerintah yang berasal dari PAD hanya sebesar 3,07% dan 90,34% merupakan dana perimbangan.
Walaupun demikian, terdapat beberapa sektor ekonomi riil yang memiliki kontribusi besar terhadap permintaan akhir seperti jagung, peternakan dan hasilnya, sayur dan buah yang menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten TTU umumnya masih berorientasi pada konsumsi untuk memenuhi kebutuhan primer. Selain itu, kebutuhan sekunder berupa bangunan juga cukup tinggi karena masyarakat TTU masih membangun perumahan. Acara-acara sosial juga masih sering dilakukan oleh masyarakat Kabupaten TTU terutama untuk ritual adat dan acara keagamaan serta untuk kepentingan mempererat kekerabatan sehingga konsumsi terhadap sektor jasa sosial kemasyarakatan juga tinggi. Adapun rincian kontribusi per sektor ekonomi terhadap permintaan akhir dapat dilihat pada Tabel 47. berikut ini.
Tabel 47. Struktur permintaan akhir per sektor Kabupaten TTU tahun 2006 No Sektor D Akhir (Rp Juta) Kontribusi (%) Ranking 1 Padi 0,00 0,00 37 2 Jagung 66.555,18 11,44 3 3 Kacang-kacangan 8.305,99 1,43 15 4 Umbi-umbian 17.662,61 3,04 11
5 Sayur dan buah-buahan 33.226,64 5,71 6
6 Tanaman bahan makan lainnya 102,42 0,02 34
7 Jambu mete 6.140,72 1,06 19
8 Kelapa 3.711,86 0,64 23
9 Kopi dan kakao 466,61 0,08 32
10 Kapuk/kapas 53,53 0,01 36
11 Kemiri 858,41 0,15 31
12 Pinang 4.079,01 0,70 21
13 Perkebunan lainnya 1.157,55 0,20 30
14 Peternakan dan hasilnya 80.664,80 13,87 2
15 Unggas dan hasil-hasilnya 24.095,27 4,14 8
16 Kayu hasil hutan 282,49 0,05 33
17 Hasil hutan lainnya 1.604,27 0,28 27
18 Perikanan 7.952,36 1,37 17
19 Pertambangan dan pengalian 62,43 0,01 35
20 Ind makanan dan minuman 15.896,46 2,73 12
21 Ind tenun ikat 1.743,02 0,30 25
22 Industri lainnya 1.249,12 0,21 29
23 Listrik dan air bersih 6.031,91 1,04 20
24 Bangunan 47.339,15 8,14 5 25 Perdagangan 20.090,19 3,45 10 26 H o t e l 1.615,83 0,28 26 27 Restoran 23.572,31 4,05 9 28 Angkutan darat 25.671,92 4,41 7 29 Angkutan laut 3.761,71 0,65 22
30 Jasa penunjang angkutan 3.363,90 0,58 24
31 Komunikasi 6.883,48 1,18 18
32 Bank dan lembaga keuangan
lainnya 8.586,88 1,48 14
33 Real estat dan jasa perusahaan 8.111,37 1,39 16
34 Pemerintahan 83.821,44 14,41 1
35 Jasa sosial kemasyarakatan 51.194,81 8,80 4
36 Jasa hiburan dan rekreasi 1.429,40 0,25 28 37 Jasa perorangan rumahtangga dan
lainnya 14.441,05 2,48 13
Total 581.786,12
b. Struktur Input Kabupaten TTU
Komponen penyusun input terdiri dari tiga kelompok yakni input antara, input primer (nilai tambah bruto), dan impor. Input antara merupakan output dari suatu sektor ekonomi di Kabupaten TTU yang digunakan oleh sektor ekonomi lain di wilayah yang sama dalam proses produksi. Input primer adalah balas jasa yang diberikan kepada faktor produksi yang berperan dalam proses produksi. Balas jasa tersebut berupa upah/gaji untuk faktor produksi tenaga kerja, surplus usaha untuk modal yang ditanamkan, dll. Sedangkan impor adalah barang dan jasa yang didatangkan dari daerah lain baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten TTU. Berdasarkan prinsip keseimbangan bahwa total input sama dengan total output dimana nilai keseimbangannya adalah Rp 865.488.240.000,-. Selanjutnya dapat dikaji lebih mendalam peranan masing-masing input primer terhadap total output wilayah dimana rinciannya dapat dilihat pada Tabel 48. berikut ini.
Tabel 48. Kontribusi penyusun input total Kabupaten TTU tahun 2006 No Komponen Input Nilai (Rp Juta) Kontribusi
1 Jumlah input antara 283.702,36 32,78 2 Input primer 562.835,83 65,03 a. Upah dan gaji 199.985,97 23,11 b. Surplus usaha 328.699,27 37,98
c. Penyusutan 26.016,84 3,01
d. Pajak tak langsung 8.133,75 0,94
3 Impor 18.950,05 2,19
Jumlah Input 865.488,24 100,00 Sumber : Tabel I-O Kabupaten TTU, diolah
Tabel di atas menunjukkan bahwa input primer masih mendominasi struktur input dari setiap sektor ekonomi di Kabupaten TTU yakni 65,03% sedangkan input antara hanya sebesar 32,78%. Meskipun 74,68% masyarakat Kabupaten TTU bekerja pada sektor pertanian, namun umumnya merupakan tenaga kerja yang tidak diupah dan tidak digaji karena mereka hanya memperoleh balas jasa berupa konsumsi pangan pada tingkat rumahtangga sehingga kontribusi input tenaga kerja yang diukur dengan upah dan gaji hanya sebesar 23,11% sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 49. yang menyajikan data kontribusi masing-masing input primer. Selain itu, minimnya kontribusi input primer tenaga kerja dikarenakan upah tenaga kerja sektor riil yang rendah. Upah tenaga kerja
tertinggi masih didominasi oleh sektor pemerintahan dan komunikasi sehingga masyarakat berlomba-lomba untuk menjadi PNS.
Tabel 49. Kontribusi sektoral terhadap komponen NTB di Kabupaten TTU tahun 2006
Nilai Tambah Bruto (%)
No Sektor
Upah Rank Surplus
usaha Rank Penyusutan Rank Pajak TL Rank
1 Padi 23,92 20 74,50 11 1,07 25 0,51 24 2 Jagung 27,28 16 71,30 15 0,98 27 0,43 25 3 Kacang-kacangan 17,81 28 79,79 6 0,44 32 1,97 9 4 Umbi-umbian 21,64 24 76,05 10 0,92 28 1,39 15 5 Sayur dan buah-buahan 22,35 23 77,05 9 0,19 35 0,42 26 6 Tanaman bahan makan lainnya 10,12 35 89,16 3 0,46 31 0,26 30 7 Jambu mete 15,27 33 84,20 4 0,34 33 0,18 31 8 Kelapa 15,21 34 78,90 7 4,06 16 1,82 11 9 Kopi dan kakao 25,79 18 73,68 14 0,47 30 0,06 34 10 Kapuk/kapas 38,80 9 60,69 24 0,34 34 0,18 32 11 Kemiri 16,15 32 82,94 5 0,62 29 0,29 29 12 Pinang 3,80 36 95,98 1 0,15 36 0,07 33 13 Perkebunan lainnya 44,34 6 53,17 28 1,69 22 0,79 22 14 Peternakan dan hasilnya 25,42 19 70,33 16 2,78 20 1,48 13 15 Unggas dan hasil-hasilnya 35,27 11 62,38 23 1,54 23 0,82 21 16 Kayu hasil hutan 3,64 37 95,89 2 0,06 37 0,41 27 17 Hasil hutan lainnya 17,31 30 73,86 13 6,97 8 1,86 10 18 Perikanan 23,14 22 74,29 12 2,54 21 0,03 35 19 Pertambangan dan pengalian 17,35 29 77,85 8 3,83 18 0,96 19 20 Ind makanan dan minuman 39,53 8 58,15 25 1,13 24 1,18 17 21 Ind tenun ikat 34,73 12 63,81 20 1,06 26 0,40 28 22 Industri lainnya 25,95 17 67,74 19 2,99 19 3,33 5
23 Listrik dan air bersih 20,70 25 43,92 34 33,98 1 1,40 14 24 Bangunan 40,70 7 52,77 30 4,15 15 2,37 7 25 Perdagangan 19,44 27 69,91 17 5,20 12 5,45 3 26 H o t e l 30,24 14 57,44 26 5,55 11 6,76 2 27 Restoran 33,56 13 52,78 29 6,16 10 7,51 1 28 Angkutan darat 20,57 26 62,84 22 15,09 3 1,49 12 29 Angkutan laut 28,94 15 47,20 31 20,81 2 3,06 6 30 Jasa penunjang angkutan 23,52 21 63,27 21 12,24 4 0,98 18 31 Komunikasi 45,21 5 47,03 32 6,47 9 1,29 16 32
Bank dan lembaga keuangan
lainnya 37,72 10 57,44 27 3,91 17 0,93 20 33 Real estat dan jasa perusahaan 17,10 31 69,41 18 8,13 6 5,37 4
34 Pemerintahan 89,33 2 3,20 37 7,47 7 0,00 36 35 Jasa sosial kemasyarakatan 61,75 3 24,21 35 11,87 5 2,17 8 36 Jasa hiburan dan rekreasi 92,02 1 3,20 36 4,78 13 0,00 36 37
Jasa perorangan rumahtangga
dan lainnya 48,24 4 46,85 33 4,15 14 0,76 23
Jumlah 35,53 58,40 4,62 1,45
Usaha-usaha di sektor pertanian, cukup menjanjikan untuk dikembangkan karena memiliki surplus usaha yang cukup tinggi terutama untuk budidaya perkebunan seperti pinang, jambu mete dan kemiri. Selain itu, tanaman kacang-kacangan juga memiliki surplus usaha yang cukup tinggi sehingga masyarakat mulai membudidayakan tanaman palawija dan perkebunan. Hal ini juga memperkuat analisis dalam RPJM Kabupaten TTU 2005-2010 yang menyatakan bahwa kemiri dan jambu mete dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan di Kabupaten TTU. Walaupun demikian, sektor-sektor tersebut umumnya enclave dan memiliki kontribusi yang kecil terhadap nilai tambah bruto Kabupaten TTU sehingga perlu kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan dengan sektor ekonomi lain.
Nilai input primer juga sekaligus menggambarkan nilai tambah bruto yang diperoleh masyarakat di Kabupaten TTU yang sekaligus menunjukkan nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten TTU. Nilai PDRB Kabupaten TTU sebesar Rp 562.835.830.000,- atau hampir sama dengan nilai PDRB yang dipublikasikan pada TTU dalam Angka tahun 2006 yakni sebesar Rp 560.180.080.000,- . Perbedaan nilai ini dapat terjadi karena perbedaan klasifikasi sektor sehingga ketepatan agregasi dapat berbeda-beda. Tabel I-O secara teknis dibangun dari komoditas-komoditas, sedangkan PDRB secara teknis dibangun dari sub-sub sektor yang merupakan agregasi dari komoditas-komoditas sehingga dapat menimbulkan perbedaan dalam pembulatan nilai. Selain itu, PDRB hanya mempertimbangkan sisi output (supply) dan tidak memperhitungkan sisi permintaan, sedangkan Tabel I-O mempertimbangkan sisi permintaan dan penawaran.
6.2.2. Struktur Output dan Nilai Tambah Bruto