HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Model Support group therapy
Berdasarkan hasil penelitian tahun pertama, dapat dirumuskan model
support group therapy untuk meningkatkan konsep diri dan resiliensi siswa dari
keluarga single parent yang terdiri dari tiga sesi di luar pre dan post test. Adapun sesi-sesi tersebut adalah :
Tabel. 6. Model Support Group Therapy
SESI TUJUAN METODE ALAT
1 1. Pembukaan
2. Mengenali kekuatan diri (I am)
1. Perkenalan
2. Sharing tujuan program 3. Ice breaking : hunting friends 4. Johary Windows
5. Diskusi : Kekuatanku (kepribadian, minat, bakat)
1. Lembar hunting friens 2. Lembar Johary Windows 2 1. Mengenali Kekuatan Lingkungan (I Have)
1. Ice breaking : Alam Rimba atau Pemburu Gila(dapat diganti) 2. Kartu Sahabat
3. Diskusi : Cinta dan dukungan dari lingkunganku 1. Lembar Kartu Sahabat 3 1. Perencanaan Masa Depan (I Can) 2. Penutup
1. Ice breaking : Titanic
2. My Dreams
3. Diskusi: rencana pengembangan diri untuk masa depan
1. Lembar Impianku 2. Beberapa lembar
2. Konsep Diri
a. Hasil Pre Test dan Post Test Para Subyek Pada Setiap Sekolah
Deskripsi data diperoleh dari hasil pengukuran skala konsep diri dan wawancara serta self report resiliensi yang ditunjukkan masing-masing subyek, yaitu pada saat pre-test, post test, dan follow up. Pretest dilakukan sebelum terapi, post test dilakukan setelah terapi dilakukan, dan pengukuran follow up dilakukan satu bulan setelah post test untuk mengetahui seberapa kuat dampak positif terapi melekat pada subyek penelitian. Analisis skala konsep diri didasarkan total skor yang diperoleh dari skala yang memiliki aspek : pengetahuan diri, penerimaan diri, dan penghargaan diri. Sedangkan analisis resiliensi diperoleh dari wawancara dan self report yang menemukenali aspek I am (hal positif dari diri/internal), I have (hal positif dari diri eksternal), serta I can (rencana ke depan untuk pengembangan diri). Berikut adalah data dari setiap sekolah :
a.1. SMK Negeri 4 Malang
Berdasarkan hasil perhitungan pada skala konsep diri diperoleh total skor masing-masing subyek pada saat pretest dan posttest sebagai berikut:
Tabel 7. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Kelompok Subyek SMK Negeri 4 Malang
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
HA 105 Sangat Tinggi 115 Sangat Tinggi
AL 84 Sedang 110 Sangat Tinggi
SUR 79 Sedang 96 Sedang
AIS 110 Sangat Tinggi 111 Sangat Tinggi
AR 69 Sedang 105 Sangat Tinggi
ST 91 Tinggi 101 Tinggi
Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa semua subyek mengalami peningkatan pada saat post test, jika dibandingkan dengan hasil pretest. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan konsep diri pada kelompok subyek SMK Negeri 4 Malang.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut:
Tabel 8. Perbedaan Skor Pre test dan Post Test SMK Negeri 4 Malang
Untuk mengetahui efektivitas support group therapy pada pretest, post test, dan follow up pada kelompok subyek SMK Negeri 4 Malang digunakan uji statistik non parametrik diperoleh hasil sebagai berikut :
Hasil uji pretest dan post test pada subyek SMK Negeri 4 Malang diperoleh nilai Z score -2,207 dengan tingkat signifikansi 0,027 yang berarti tingkat signifikansi kurang dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H0 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok terapi SMK Negeri 4 Malang. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif dalam meningkatkan konsep diri remaja single parent pada siswa SMK Negeri 4 Malang.
a.2. SMK Muhammadiyah 3 Singosari
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total skor masing-masing subyek pada saat pretest dan posttest untuk kelompok subyek SMK Muhammadiyah 3 Singosari adalah sebagai berikut :
Test Statisticsb
-2.207a .027 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Tabel 9. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Pada Kelompok Subyek SMK Muhammadiyah 3 Singosari
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
END 81 Sedang 110 Sangat Tinggi
RIN 75 Sedang 100 Tinggi
AM 88 Tinggi 107 Sangat Tinggi
RN 90 Tinggi 108 Sangat Tinggi
FAQ 89 Tinggi 101 Tinggi
NUR 90 Tinggi 105 Sangat Tinggi
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua subyek mengalami peningkatan skor konsep diri sehingga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan skor konsep diri setelah diberikan perlakuan berupa support group therapy.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut :
Tabel 10. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test Kelompok Subyek SMK Muhammadiyah 3 Singosari
Hasil uji pretest antara kelompok pretest dan post test diperoleh nilai Z score -2,301 dengan tingkat signifikansi 0,028 yang berarti tingkat signifikansi lebih rendah dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek SMK Muhammadiyah 3 Singosari.
Test Statisticsb
-2.201a .028 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif diterapkan pada subyek dengan latar belakang SMK Muhammadiyah 3 Singosari.
a.3. SMAN 9 Malang
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total skor masing-masing subyek pada saat pretest dan posttest untuk kelompok subyek SMAN 9 Malang adalah sebagai berikut :
Tabel 11. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Pada Kelompok Subyek SMAN 9 Malang
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
REN 82 Sedang 88 Tinggi
BRY 85 Sedang 95 Tinggi
RYN 89 Tinggi 89 Tinggi
BAG 83 Sedang 88 Tinggi
DIL 84 Sedang 100 Tinggi
ZN 87 Tinggi 94 Tinggi
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua subyek mengalami peningkatan skor konsep diri sehingga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan skor konsep diri setelah diberikan perlakuan berupa support group therapy.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut :
Tabel 12. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test Kelompok Subyek SMAN 9 Malang
Hasil uji pretest antara kelompok pretest dan post test diperoleh nilai Z score -2,023 dengan tingkat signifikansi 0,043 yang berarti tingkat signifikansi lebih rendah dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan (H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek SMAN 9 Malang.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek SMAN 9 Malang. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif diterapkan pada subyek dengan latar belakang SMAN 9 Malang.
a.4. SMK Salahuddin Malang
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total skor masing-masing subyek di SMK Salahuddin pada saat pretest dan posttest sebagai berikut :
Tabel 13. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Pada Kelompok Subyek SMK Salahuddin Malang
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
RND 78 Sedang 94 Sedang
RDY 91 Sedang 93 Sedang
RON 81 Rendah 94 Sedang
AGN 88 Rendah 96 Sedang
DYC 114 Sangat Tinggi 94 Sedang
Test Statisticsb
-2.023a .043 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua subyek mengalami peningkatan skor konsep diri sehingga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan skor konsep diri setelah diberikan perlakuan berupa support group therapy.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut :
Tabel 14. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test Kelompok Subyek SMK Salahuddin Malang
Hasil uji pretest antara kelompok pretest dan post test diperoleh nilai Z score -2,023 dengan tingkat signifikansi 0,043 yang berarti tingkat signifikansi lebih rendah dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek SMK Salahuddin Malang.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek SMK Salahuddin Malang. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif diterapkan pada subyek dengan latar belakang SMK Salahuddin Malang.
a.5. SMK Muhammadiyah Galunggung Malang
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total skor masing-masing subyek pada saat pretest dan posttest untuk kelompok subyek SMK Muhammadiyah Galunggung Malang adalah sebagai berikut :
Test Statisticsb
-2.023a .043 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Tabel 15. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Pada Kelompok Subyek SMK Muhammadiyah Galunggung Malang
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
SUN 29 Sangat Rendah 116 Sangat Tinggi
AN 30 Sangat Rendah 115 Sangat Tinggi
CIN 31 Sangat Rendah 115 Sangat Tinggi
FH 30 Sangat Rendah 115 Sangat Tinggi
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua subyek mengalami peningkatan skor konsep diri sehingga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan skor konsep diri setelah diberikan perlakuan berupa support group therapy.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut :
Tabel 16. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test
Kelompok Subyek SMK Muhammadiyah Galunggung Malang
Hasil uji pretest antara kelompok pretest dan post test diperoleh nilai Z score -2,000 dengan tingkat signifikansi 0,046 yang berarti tingkat signifikansi lebih rendah dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek SMK Muhammadiyah Galunggung Malang.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek SMK
Test Statisticsb
-2.000a .046 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Muhammadiyah Galunggung Malang. Hal ini juga bermakna support group
therapy efektif diterapkan pada subyek dengan latar belakang SMK
Muhammadiyah Galunggung Malang.
a.6. MAN 1 Malang
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total skor masing-masing subyek pada saat pretest dan posttest di MAN 1 Malang adalah sebagai berikut :
Tabel 17. Hasil Pre test dan Post test Konsep Diri Pada Kelompok Subyek MAN 1 Malang
Nama Subyek
Pretest Post Test
Total Skor Kategori Total Skor Kategori
KHOD 84 Sedang 96 Tinggi
DW 81 Sedang 95 Tinggi
RIZ 88 Tinggi 95 Tinggi
HAB 103 Tinggi 111 Sangat Tinggi
FEN 79 Sedang 92 Tinggi
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa semua subyek mengalami peningkatan skor konsep diri sehingga dapat dikatakan bahwa ada peningkatan skor konsep diri setelah diberikan perlakuan berupa support group therapy.
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa efektif terapi yang diberikan, dilakukan uji statistik non parametrik yaitu two related sample test. Sehingga dihasilkan data sebagai berikut :
Tabel 18. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test Kelompok Subyek MAN 1 Malang
Test Statisticsb
-2.023a .043 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
Hasil uji pretest antara kelompok pretest dan post test diperoleh nilai Z score -2,023 dengan tingkat signifikansi 0,043 yang berarti tingkat signifikansi lebih rendah dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test pada kelompok subyek MAN 1 Malang.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek MAN 1 Malang. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif diterapkan pada subyek dengan latar belakang MAN 1 Malang.
b. Analisa Keseluruhan Subyek
Untuk mengetahui efektivitas support group therapy pada pretest, post test, dan follow up pada kelompok subyek digunakan uji statistik non parametrik diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 19. Perbedaan Skor Pretest dan Post Test Seluruh Subyek
Hasil uji antara pretest dan post test diperoleh nilai Z score -4,410 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test konsep diri pada kelompok subyek yang diberi support
group therapy.
Berdasarkan hasil pengujian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan antara hasil pre-test dan post test pada kelompok subyek yang diberi
Test Statisticsb
-4.410a .000 Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)
posttest -pretest
Based on negat iv e ranks. a.
Wilcoxon Signed Ranks Test b.
support group therapy. Hal ini juga bermakna support group therapy efektif
diterapkan pada para subyek.
2. Resiliensi
Hasil analisis data pada saat post test menemukan adanya perubahan yang cukup signifikan pada para subyek. Berdasarkan hasil wawancara dan self report saat pre test dapat diketahui bahwa hampir semua subyek merasakan tidak bahagia dengan diri dan keluarganya. Pada saat pre test ada subyek yang merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya, ada yang orang tuanya otoriter dalam memperlakukan dirinya, ada yang orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga anaknya dititipkan pada orang lain, ada orang tua yang melakukan kekerasan fisik pada keluarganya karena ayahnya sedang stres, ada yang merasa ada perubahan secara materi sehingga membuat subyek perlu waktu lama untuk bisa menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Beberapa diantaranya bahkan mengalami trauma masa lalu yang menyedihkan, terutama konflik dan kekerasan dalam keluarga dan perceraian, yang hingga saat pengambilan data para subyek mengaku masih sangat sulit untuk memaafkan. Semua trauma tersebut ditambah dengan pengabaian orang tua yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ataupun sebab lain semisal sibuk dengan “pacar” barunya membuat banyak dari para subyek merasa dirinya tidak cukup berharga sebagai seorang anak yang berasal dari keluarga single parent. Hal ini membuat mereka membangun konsep diri yang cenderung negatif, merasa tidak cukup memiliki potensi ataupun kekuatan positif, menjadi pribadi yang tertutup, dan cenderung tidak percaya diri di lingkungan sosial. Namun pada saat post test para subyek mulai memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan tidak perlu ada yang disalahkan. Para subyek berusaha melihat peristiwa yang terjadi sebagai pengalaman pahit yang bukan untuk disesali, bukan untuk diratapi, bukan harus dipikirkan terus menerus, bukan sesuatu yang memalukan namun harus diterima dengan ikhlas, diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran yang berharga dimasa mendatang.
Para subyek merasa bahwa masih ada nenek, kakek, om dan tante, bude, ibu, ayah dan saudara kandung, ibu panti asuhan, ibu asrama yang memberikan perhatian, memberikan materi, perlindungan, nasehat, informasi, kasih sayang, tempat mengadu, menjadi pengganti ibu atau ayah serta contoh yang patut ditiru oleh subyek. Kepedulian mereka terhadap para subyek sangat membantunya dalam proses penerimaan diri, menerima peristiwa yang terjadi dengan lapang dada, mencari sisi positif dari peristiwa yang dihadapi dan lebih mendekatkan dirinya pada Allah.
Selain itu para subyek merasa bahwa, melalui support group therapy, mereka menemukan adanya teman yang senasib atau sama dengan dirinya, sehingga ia merasa bebas mengutarakan apapun pada temannya, tidak perlu malu, tidak perlu sungkan. Hal ini membuat para subyek terlatih untuk mampu mengutarakan atau mengekspresikan keluar kemarahan-kemarahan, kekesalan-kekesalan, ketidaksukaan, kebencian-kebencian, kecemburuan, kegembiraan-kegembiraan yang sedang dialami pada temannya. Hal ini dapat membuat mereka merasa lega karena biasanya para subyek hanya memendamnya sendiri. Para subyek sekarang menjadi lebih mengerti bahwa ada teman yang dapat menerima dirinya dengan baik atau apa adanya dan ada teman yang kurang suka kalau dirinya mengeluhkan keadaannya. Para subyek menyadari bahwa tidak setiap orang dapat mendukung dirinya, namun demikian akan selalu ada orang yang perduli dengan mereka dan terpenting lagi adalah bagaimana mereka bisa bermakna untuk diri dan lingkungan mereka.
Selanjutnya, para subyek juga mulai menemukan sifat-sifat positif yang dimilikinya. Ada yang mengatakan bahwa ia lebih mandiri, lebih sabar, lebih toleran, lebih percaya diri, lebih mampu menyatakan keluar apa yang dipikirkan atau dirasakan (asertif), mudah bergaul dengan orang lain dan orang yang baru ditemuinya, memandang peristiwa hidup dari sisi positif, lebih luwes dalam penyesuaian diri dan tahan banting, mampu memotivasi diri sendiri, optimis dalam menghadapi peristiwa hidup, respect pada orang yang lebih tua, lebih bisa mengontrol emosinya. Banyak subyek baru menyadari sifat-sifat positifnya ini
ketika ia mau membuka dirinya dengan teman-temannya serta mau menerima kritik dan saran dari teman-temannya.
Melalui proses dalam support group therapy, para subyek juga sudah mulai memikirkan rencana ke depan untuk mengubah diri dan nasibnya sekarang berdasarkan kemampuan yang dimilikinya, bakatnya, minatnya atau model dari orang sekitarnya, materi yang dimiliki serta support dari orang sekitarnya. Ada yang ingin berwirausaha, meneruskan kuliah ke luar negeri, meneruskan kuliah di FISIPOL jurusan Hubungan Internasional, fakultas kedokteran, FKIP, kuliah di fakultas ekonomi, Akademi Kepolisian, Desain, Akademi Musik, teknik informatika dan mencari kerja karena tidak memiliki biaya. Rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang yang disusun terkadang masih kurang operasional atau kemungkinan kecil dapat terealisasi atau masih terlalu ideal. Meski demikian, hal ini dapat membuatnya memiliki semangat atau motivasi yang sangat tinggi untuk mencapai cita-citanya.
Terakhir, para subyek juga ingin membahagiakan ayah, ibu, saudara kandung dengan cara menjadi anak yang dapat dibanggakan dan dapat mengangkat derajat keluarganya. Sejak sekarang mereka akan belajar sungguh-sungguh, memiliki disiplin diri yang tinggi serta pantang menyerah bila ada halangan dalam pencapaian citacitanya. Membahagiakan keluarga akan dijadikan motivator bagi subyek bila motivasi mereka sedang turun karena mereka beranggapan bahwa orang tua atau saudara kandungnya sudah banyak menderita serta berkorban karena peristiwa di masa lalunya. Kalau memungkinkan mereka mau menyatukan kembali keluarganya yang saat ini bercerai berai dan mereka dapat hidup rukun kembali.
Hasil diatas dapat dirangkum dalam tabel berikut :
Tabel 20. Rangkuman Gambaran Resilien Para Subyek
Pre-Test Post-Test
I am Merasa tidak memiliki kemampuan ataupun hal yang positif dalam diri
Mampu menemukenali hal positif, meliputi sikap, minat, bakat, ataupun kemampuan
Tertutup dan tidak percaya diri dalam kehidupan sosial
dalam diri
Mampu memahami bahwa setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tidak perlu menjadi sombong ataupun sebaliknya rendah diri
Menjadi lebih percaya diri dan yakin akan kemampuan diri sendiri
I Have Merasa sebagai anak yang tidak berharga, terbuang, diabaikan
Merasa tidak memiliki keluarga yang mendukung dirinya
Memiliki teman namun terbatas dan tidak terlalu dekat dalam arti banyak hal yang masih disembunyikan
Bisa memahami atas masalah ataupun masa lalu yang terjadi dan memahami pentingnya untuk lebih fokus masa depan dan memaafkan masa lalu
Bisa memahami bahwa bagaimanapun juga orang tua masih menyayangi dirinya dan bersyukur masih memiliki orang tua
Bisa memahami pentingnya teman dan arti dari berbagi sehingga tidak lagi tertutup dalam pergaulan
I can Beberapa memiliki cita-cita masa depan sekalipun masih abstrak, sedang beberapa yang lain sama
Mampu merumuskan cita-cita masa depan berdasarkan atas bakat dan minat yang mereka
sekali tidak memiliki gambaran cita-cita dan bahkan cenderung pesimis
Tidak memiliki rencana bagaimana langkah yang akan ditempuh untuk mewujudkan cita-cita, mengembangkan potensi dan bakat minat, ataupun membuat suasana keluarga dan lingkungan lebih baik
miliki
Mampu menyusun dan menjaankan rencana-rencana dan langkah-langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut
Mampu melakukan perubahan perilaku yang bisa membuat keluarga dan lingkungan menjadi lebih baik dan lebih mendukung diri para subyek
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil deskripsi data dan analisa data, dapat diketahui : pertama, nilai perubahan signifikan diperoleh dari hasil pengujian pada keseluruhan subyek antara pre test – post test, pre – test – follow up, maupun post test – follow up. Hasil uji antara pretest dan post test diperoleh nilai Z score -4,410 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang berarti tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 sehingga dikatakan signifikan ( H1 diterima) yang bermakna ada perbedaan antara hasil pretest dan post test konsep diri pada kelompok subyek yang diberi support group
therapy. Hasil ini menunjukkan bahwa support group therapy efektif untuk
meningkatkan konsep diri para siswa dari keluarga single parent.
Konsep diri terdiri atas 3 komponen yaitu pengetahuan diri, penilaian diri, dan harapan diri. Remaja dari keluarga single parent yang menjadi subyek dari penelitian cenderung belum mampu mengembangkan ketiga komponen dari konsep diri tersebut. Oleh karenanya, support group therapy dirancang agar subyek mampu untuk terbuka satu sama lain, mengenali dirinya, memahami dan
menerima segenap kelebihan dan kekurangan terkait dengan status keluarga sebagai single parent, dan menggali potensi-potensi dalam diri.
Melalui support group therapy, pada sesi I, para subyek diajak untuk