Single Parent melalui Support Group Therapy.
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak dalam proses perkembangannya. Menurut Ali dan Asrori (2004) ada beberapa hal yang dibutuhkan anak, yaitu: kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan sarana yang diperlukan sejauh tidak berlebihan dan tidak berada diluar kemampuan orang tua. Perasaan aman secara mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional, menjauhkan ketegangan, membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan memberikan bantuan dalam menstabilkan emosinya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa keluarga memiliki pengaruh penting dan kuat terhadap perkembangan perilaku remaja karena sebagian besar kehidupannya ada dalam keluarga. Apalagi remaja juga masih berada dalam fase krisis identitas mereka memerlukan teladan dan dukungan dari keluarga terutama orang tua. Oleh sebab itu, Jay Kesler (dalam Ali dan Asrori, 2004) menyatakan remaja sangat memerlukan keteladanan dan dukungan dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
Hal tersebut tidak didukung oleh fenomena yang ada sekarang ini dengan semakin meningkatnya angka perceraian dan kematian menjadikan ikut meningkatnya komunitas single parent. Menurut Spock (1981) menjadi orang tua tunggal merupakan suatu tanggung jawab yang berat seperti membuat keputusan penting diambil sendiri, menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah, yang terpenting adalah mengasuh dan memberikan pengawasan kepada anak dilakukan seorang diri, karena setiap anak tetap membutuhkan figur ayah dan ibu bagaimanapun keadaannya.
Ada beberapa dampak yang akan dialami remaja yang hidup bersama dengan single parent, mereka memiliki permasalahan yang lebih berat dibandingkan dengan remaja dari keluarga utuh yaitu memiliki ayah dan ibu. Pada fase ini remaja sedang mencari – cari pedoman hidup, mencari nasehat, atau
bimbingan, relatif emosi belum stabil, mereka memiliki tugas perkembangan yang sama dengan remaja lainnya. Disisi lain, kenyataannya orang tua tunggal tidak dapat memberikan pola pengasuhan yang optimal karena harus berperan ganda. Orang tua tunggal harus bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga dalam memberikan pengawasan dan pemenuhan kebutuhan kasih sayang terhadap keluarga kurang maksimal.
Dampak kehilangan ayah atau ibu tidak akan menenggelamkan anak berlarut – larut, ketika hubungan keluarga tersebut didasarkan atas penghormatan persamaan, dorongan semangat, dan kepercayaan satu sama lain. Tetapi tidak semua keluarga memahaminya, sehingga berdampak pada hubungan interpersonal remaja, dan minat sosialnya (Balson, 1993). Pola hubungan antara orang tua dengan remaja yang kurang harmonis dapat disebabkan karena kesenjangan umur, remaja yang pada masanya ingin untuk dimengerti tetapi orang tua memiliki aturan – aturan yang harus dipatuhi, sehingga remaja menganggap orang tua tidak dapat mengerti akan kebutuhannya, terlebih ketika orang tua sibuk bekerja, mereka akan merasa diabaikan (Hurlock, 1992).
Kurang optimalnya peran orang tua single parent dalam pengasuhan anak karena harus berperan ganda ini dapat berpengaruh pada perkembangan remaja. Namun hal ini juga sangat tergantung tergantung pada bagaimana remaja mempersepsikan keadaannya tersebut. Apabila remaja mampu menemukan hal-hal positif dari dirinya disamping kekurangan-kekurangannya, maka remaja akan memiliki pandangan proporsional tentang dirinya dan akan memiliki daya resiliensi yang tinggi ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Namun apabila remaja lebih terpaku pada kekurangan-kekurangan yang dimilikinya maka remaja akan memiliki konsep diri negatif dan akan berpengaruh pada hubungan interpersonal dengan orang lain. Hal ini juga akan berdampak pada perkembangan daya resiliensinya yang juga akan cenderung rendah apabila remaja dihadapkan pada persoalan-persoalan hidup.
Proses adaptasi menurut Schneiders (dalam Desmita, 2008) dipengaruhi oleh bagaimana cara individu bereaksi terhadap manusia disekitarnya termasuk keluarga, benda – benda dan hubungan yang membentuk realitas dan motivasi
yang diberikan terhadap individu. Beberapa perilaku seperti sikap bermusuhan, kenakalan, dan semaunya sendiri, semua itu sangat mengganggu hubungan antara penyesuaian diri dengan realitas, selain itu akan mempengaruhi bagaimana remaja memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal ini diakibatkan karena adanya ketidak seimbangan antara keharmonisan internal dengan ketegangan jiwa dan kepuasan dari pemenuhan kebutuhan dan motivasi (Ali dan Asrori, 2004).
Meski peran orang tua cukup besar pada perkembangan remaja, namun peran kelompok sebaya juga cukup berperan. Salah satu aspek yang berkembang pada remaja adalah perkembangan sosial, disamping perkembangan fisik dan emosi. Remaja mulai mengikatkan diri dengan kelompok dan mulai banyak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Apabila remaja mampu dan mau melakukan hubungan interpersonal yang harmonis dengan teman sebayanya, maka remaja akan merasa aman untuk bereksplorasi terhadap hal-hal atau potensi yang dimilikinya disamping penerimaan terhadap kekurangan-kekurangannya (Hurlock, 1992 ). Oleh karena itulah support group therapy dianggap cara yang dapat meningkatkan konsep diri positif dan berkembangnya daya resiliensi remaja.
Support group therapy dapat membantu remaja dalam rangka memahami
potensi yang dimiliki, remaja dibantu untuk memiliki harapan, tujuan, standar, rencana, dan strategi pencapaian tujuan hidup dimasa yang akan datang. Remaja mampu mengenali cita-cita masa depan berdasar kekuatan positif yang dimilikinya, mampu membuat rencana-rencana nyata atau konsep untuk mewujudkan impian masa depannya. Selain itu, remaja juga dibantu menemukan gambaran diri dan penghargaan diri yang positif agar memiliki optimisme dalam menghadapi masa depan. Remaja dari kelurga single parent juga dibantu untuk menemukan konsep dirinya yang real (Real Self) serta pengakuan atas kondisi nyata yang telah terjadi pada dirinya, karena pada proses support group therapy setiap anggota kelompok akan berbagi permasalahan dengan teman-temannya, menemukan solusi secara bersama – sama sehingga dapat meningkatkan self
BAB III