• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. MODEL TINDAKAN

Kusumah dan Dwitagama (2012: 20) mengatakan bahwa terdapat beberapa model PTK yang dapat dikembangkan sesuai masalah yang dihadapi oleh setiap guru. Model-model PTK yang dimaksud diantaranya adalah :

1. Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin merupakan model yang menjadi acuan daripada semua model PTK yang dikembangkan, lantaran Kurt Lewin adalah orang pertama kali yang memperkenalkan Classrom Actions Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas. Model Kurt Lewin menetapkan empat langkah dalam PTK, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting).

Gambar 2.2

Penelelitian Tindakan Kelas Model Kurt Lewin

Sumber Gambar : Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Menurut peneliti model dari Kurt Lewin ini kelebihannya adalah begitu mudah hanya satu putaran saja. Akan tetapi kekurangannya adalah antara acting dan observing tidak dijadikan dalam satu proses dan lagi pada kenyataannya belum tentu dengan satu tahapan itu sudah mendapatkan hasil.

47 2. Model Kemmis Mc Targgart

Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara penerapan acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu, ketika tindakan dilaksakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan.

Gambar 2.3

Penelelitian Tindakan Kelas Model Kemmis Mc Taggart

Sumber Gambar: Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Menurut peneliti model dari Kemmis dan Targgart ini kelebihannya adalah begitu mudah dipahami, pada saat kita

SIKLUS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PELAKSANAAN PELAKSANAAN PENGAMATAN PENGAMATAN PERENCANAAN PERENCANAAN SIKLUS I SIKLUS II ? REFLEKSI REFLEKSI

47

melaksanakan tindakan memang harus juga melakukan observasi, hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari tindakan itu sendiri. Akan tetapi kekurangannya adalah bila guru sekaligus merupakan peneliti harus lebih teliti karena proses antara tindakan dan observasi disatukan.

3. Model John Elliott

Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa tahap itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya.

47

Gambar 2.4

Penelelitian Tindakan Kelas Model John Elliot

Sumber Gambar: Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK Ide Awal

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1, 2, 3

Temuan dan Analisis

Perencanaan Umum Langkah Tindakan 1, 2,3

Monitoring Implementasi & Efeknya

Penjelasan Kegagalan tentang Implementasi Implementasi Langkah Tindakan Revisi Perencanaan Umum

Revisi Ide Umum

Implementasi Langkah Berikutnya Monitoring

Implementasi & Efeknya Penjelasan Kegagalan & Efek

Monitoring Implementasi & Efeknya

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1, 2,3

Implementasi Langkah Berikutnya

47

Menurut peneliti model dari John Elliot ini kelebihannya adalah agar terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama. Model John Elliot hanya cocok digunakan pada materi yang memiliki banyak subpokok bahasan.

4. Model Dave Ebbutt

Menurut Wiriaatmadja (2014: 67) Model PTK yang digambarkan oleh Ebbutt menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian. Dimulai dengan pemikiran awal penelitian yang berupa pemikiran tentang masalah yang dihadapi di dalam kelas, penentuan fokus permasalahan berada pada bagian ini. Dari pemikiran awal dilanjutkan dengan pemantauan (reconnaissance), pada bagian pemantauan ini Ebbutt berpendapat berbeda dengan penafsiran Elliot mengenai pemantauannya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja (fact finding only). Padahal, menurut Ebbutt pemantauan mencakup kegiatan-kegiatan diskusi, negosiasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala atau mencakup secara keseluruhan analisis yang dilakukan.

Berdasarkan pemikiran awal dan pemantauan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perencanaan dan berturut-turut dengan kegiatan pelaksanaan tindakan yang pertama, pengawasan dan pelaksanaan pemantauan, dan melanjutkan pelaksanaan tindakan kedua.

47 Pelaksanaan Tindakan 1 Pelaksanaan Tindakan 2 Pemikiran Awal Reconnaissance Rencana Keseluruhan Pengawasan dan Reconnaissance Revisi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan 2, Dst Perubahan Pemikiran Reconnaissance Rencana Baru Pelaksanaan Tindakan 2 Dst Atau Atau Atau Revisi Perencanaan Perubahan Pemikiran

Pada siklus yang digambarkan oleh Ebbutt, dia memberikan pemikiran bahwa jika dalam pelaksanaan dan pemantauan setelah tindakan ada masalah mendasar yang dialami, maka perlu perubahan perencanaan dan kembali melaksanakan bagian siklus tertentu yang telah dijalani.

Gambar 2.5

Penelelitian Tindakan Kelas Model Dave Ebbutt

Sumber : Rochiati Wiriaatmadja, 2005

47

Serupa dengan model John Elliot menurut peneliti kelebihannya adalah agar kita dapat mempunyai gambaran untuk sebuah tindakan, bahwa tindakan yang kita berikan akankah memberikan dampak pada hal yang lain. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama.

5. Model Hopkins

Desain ini berpijak pada desain modell PTK pendahulunya. Selanjutnya Hopkins (2011) menyusun desain tersendiri sebagai berikut: mengambil start - audit - perencanaan - konstruk - perencanaan tindakan (target, tugas, kriteria keberhasilan) - implementasi dan evaluasi: implementasi (menopang komitmen: cek kemajuan; mengatasi problem) - cek hasil - pengambilan stok - audit dan pelaporan.

Gambar 2.6

Penelelitian Tindakan Kelas Model Hopkins

Sumber Gambar : Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Perencanaan Tindakan Target, Tugas, Kriteria, Keberhasilan

Evaluasi Implementasi Menopang Komitmen Cek Kemajuan Mengatasi Problem Perencanaan

Konstruksi Cek Hasil

Pengambilan Stok

Audit

Ambil Start

47

Menurut peneliti model dari Hopkins ini kelebihannya adalah terdapat beberapa tahapan untuk mendapat hasil penelitian yang baik. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama, sebab mulai dari star saja untuk menuju ke implementasi harus melalui beberapa tahapan.

Dari beberapa model penelitian tindakan kelas di atas peneliti memilih model Kemmis dan Taggart untuk metode penelitian. Alasan peneliti memilih model Kemmis dan Mc Taggart ini adalah peneliti menganggap model ini yang sesuai dan bisa membantu peneliti dalam melakukan penelitian.

Dokumen terkait