• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MULTIMEDIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MULTIMEDIA"

Copied!
207
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MULTIMEDIA

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Sebagaian Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Nama : AAN MUTMAINNAH NIM : 2013827001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2018

(2)

i

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR Skripsi Juli 2018

Aan Mutmainnah (2013827001)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MULTIMEDIA Xvii + 102 hal, 23 tabel, 13 gambar, 16 Lampiran.

ABSTRAK

Penelitian skripsi ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa kelas V SDN Karet Tengsin 01 dikarenakan pembelajaran yang bersifat monoton, karena dalam kegiatan pembelajaran IPA guru hanya menggunakan metode ceramah. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama 2 siklus. Adapun waktu penelitian adalah bulan Desember sampai bulan Juni. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan multimedia untuk meningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Karet Tengin 01. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart. Subyek penelitian adalah siswa kelas V berjumlah 26 anak. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan multimedia dapat meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa. Tahap pra tindakan, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPA tergolong rendah. Nilai rata-rata kelas mencapai 56 sedangkan ketuntasan belajar sebesar 12%. Pada siklus I, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 53% (kondisi awal 12% meningkat menjadi 65%). Pada siklus II, dengan adanya perbaikan dan modifikasi multimedia pembelajaran, disertai manajemen pembentukan kelompok dan pemberian reward, hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 16% (kondisi siklus I 65% meningkat menjadi 81%). Hasil belajar pada siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan karena dari ≤ 75% siswa sudah mencapai KKM.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Pembelajaran IPA, Multimedia. Daftar Pustaka 25 (2006-2016)

(3)

ii Pembimbing.

Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd. Tanggal: 19 Juli 2018

MENGETAHUI

KETUA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR Kaprodi,

Azmi Al Bahij, M.Si Tanggal: 19 Juli 2018

Nama : Aan Mutmainnah

Nomor Registrasi : 2013827001

Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Multimedia

Angkatan : 2013 / 2014

(4)

iii

Dengan mengucap rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT dan juga mengharap ridha-Nya, karya ini peneliti persembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu tercinta yang senantiasa memberikan doa, semangat dan kasih sayang yang tiada henti diberikan selama ini.

2. Suami yang selalu mendukung dan memberikan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

3. Keluarga besar saya yang selalu mendo’akan dan memberikan motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Tidak lupa juga para sahabat saya yang telah menyemangati saya selama proses penulisan skripsi ini, yaitu Aulia Abdi Rohman, Ikit Permatasari.

5. Serta teman-teman seperjuangan kelas BSD angkatan 2013 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta..

(5)
(6)
(7)

vi

(8)
(9)

viii

MOTTO

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,

sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahim.

Puji dan syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, pencipta alam semesta. Dialah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan proposal penelitian ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Proposal penelitian yang berjudul: “PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MULTIMEDIA” ini disusun untuk memenuhi syarat Praktikum Penelitian program Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Atas selesainya proposal penelitian ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bpk. Dr. Iswan, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah memberikan arahan berharga.

2. Bpk. Azmi Al Bahij, S.Pd, M.Si selaku ketua kaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah membimbing dan memberikan ilmu bermanfaat kepada peneliti.

3. Bpk. Dr. Dirgantara Wicaksono CH, Cht, S.Pd, M.Pd, MM, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk memberikan bimbingan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi.

4. Segenap dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan bimbingan bagi peneliti.

(11)

x

5. Staf karyawan perpustakaan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan keleluasaan kepada peneliti dan memberikan pinjaman buku-buku yang dibutuhkan.

6. Kepala SD Negeri Karet Tengsin 01 Tanah Abang, Ibu Dra. Eti Herawati, M.Pd yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

7. Rekan-rekan guru dan Staf SD Negeri Karet Tengsin 01 yang telah banyak membantu sehingga proses penelitian berjalan dengan lancar. 8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang

telah memberikan bantuan serta dorongan untuk dapat dalam menyelesaikan peyusunan skripsi ini.

Hanya harapan dan doa semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah berjasa dalam membantu peneliti menyelesaikan proposal ini.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT peneliti serahkan segalanya dalam mengharapkan keridhaan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi peneliti khususnya, dan pembaca pada umumnya. Aamiin.

Jakarta, 19 Juli 2018 Peneliti

(12)

xi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PERSETUJUAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

PAKTA INTEGRITAS ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

MOTTO ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah ... 4

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar ... 8

2. Pengertian Media dan Mutltimedia ... 9

3. Model Tindakan ... 38

B. Hipotesis Tindakan ... 46 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

(13)

xii A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian ... 47

2. Waktu Penelitian ... 47

B. Metode Penelitian ... 48

C. Rancangan Penelitian ... 53

D. Desain dan Prosedur Penelitian 1. Desain Tindakan ... 55

2. Prosedur Tindakan ... 55

E. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 55

F. Sumber Data ... 56

G. Teknik Pengambilan Data 1. Definisi Konseptual ... 56

2. Kisi-kisi Instrumen ... 57

3. Jenis Instrumen ... 61

H. Teknik Analisis Data ... 61

BAB IV. PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 62

2. Data Pra Siklus ... 65

3. Data Siklus I ... 67

4. Data Siklus II ... 79 B. Pembahasan

(14)

xiii

1. Analisis Data ... 89

a. Analisis Data Pra Siklus ... 89

b. Analisis Data Siklus I ... 89

c. Analisis Data Siklus II ... 92

2. Interprestasi Data ... 94 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 98 B. Saran ... 99 DAFTAR PUSTAKA ... 101 LAMPIRAN ... 103 RIWAYAT HIDUP ... 175

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 SK dan KD materi IPA Kelas V ... 33

Tabel 2.2 SK dan KD yang digunakan dalam penelitian ... 34

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian ... 48

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Pra Siklus ... 57

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Siklus I ... 58

Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen Siklus II ... 59

Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Lembar Observasi Siswa ... 59

Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Guru .... 60

Tabel 4.1 Tenaga Pendidik - Kependidikan SDN Karet Tengsin 01 63 Tabel 4.2 Prestasi Belajar Siswa Pra Siklus ... 66

Tabel 4.3 Hasil Observasi Aktivitas Siswa ... 73

Tabel 4.4 Hasil Observasi Aktivitas Guru ... 74

Tabel 4.5 Prestasi Belajar Siswa Siklus I ... 75

Tabel 4.6 Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Pra Siklus dan Siklus I ... 76

Tabel 4.7 Hasil Refleksi Siklus I ... 78

Tabel 4.8 Hasil Observasi Aktivitas Siswa ... 84

Tabel 4.9 Hasil Observasi Aktivitas Guru ... 85

(16)

xv

Tabel 4.11 Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Siklus I dan

Siklus II ... 87 Tabel 4.12 Hasil Refleksi Siklus II ... 88 Tabel 4.13 Analisis Perbandingan Hasil Pra Siklus, Siklus I, dan

Siklus II ... 93 Tabel 4.14 Perbedaan Power point Pembelajaran IPA Siklus I dan

Siklus II ... 96 Tabel 4.15 Data Kegiatan Tiap Siklus ... 97

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Daya Serap Pancaindera ... 10

Gambar 2.2 Model PTK Kurt Lewin ... 38

Gambar 2.3 Model PTK Kemmis Mc Taggart ... 39

Gambar 2.4 Model PTK John Elliot ... 41

Gambar 2.5 Model PTK Dave Ebbut ... 43

Gambar 2.6 Model PTK Hopkins ... 44

Gambar 2.7 Gambar Alur dalam Penelitian ... 46

Gambar 3.1 Tahap Pelaksanaan PTK Model Kemmis dan Taggart ... 52

Gambar 4.1 Diagram batang nilai Rata-rata Siswa Pra Siklus dan Siklus I ... 77

Gambar 4.2 Digram Batang Peningkatan Ketuntasan Belajar Pra Tiindakan dan Siklus I ... 77

Gambar 4.3 Diagram batang nilai Rata-rata Siswa Siklus I dan Siklus II ... 87

Gambar 4.4 Digram Batang Peningkatan Ketuntasan Belajar Siklus I Dan Siklus II ... 88

Gambar 4.5 Diagram Batang Perbedaan Persentase Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II ... 94

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pra Siklus 103

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I .. 111

Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II . 122 Lampiran 4. Lembar Tes Pra Siklus ... 132

Lampiran 5. Lembar Tes Siklus I ... 137

Lampiran 6. Lembar Tes Siklus II ... 144

Lampiran 7. Lembar Observasi Guru Menggunakan Multimedia ... 152

Lampiran 8. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 153

Lampiran 9. Catatan Lapangan Siklus I ... 154

Lampiran 10. Catatan Lapangan Siklus I ... 155

Lampiran 11. Catatan Lapangan Siklus II ... 157

Lampiran 12. Media yang digunakan pada Pra Siklus ... 159

Lampiran 13. Multimedia yang digunakan pada Siklus I ... 160

Lampiran 14. Multimedia yang digunakan pada Siklus II ... 164

Lampiran 15. Dokumentasi ... 168

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pembelajaran yang harus ditempuh siswa Sekolah Dasar, bahkan mata pelajaran ini dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran kunci untuk masuk ke jenjang selanjutnya melalui mekanisme Ujian Sekolah/Madrasah Berstandar Daerah atau yang dikenal dengan istilah US/M BD, hal ini sebagaimana termaktub dalam Peraturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor.001/H/HK/2014 IPA termasuk ke dalam mata pelajaran yang diikutsertakan dalam Ujian Sekolah Berstandar Daerah.

Dengan dijadikannya pelajaran IPA sebagai salah satu kunci untuk masuk ke jenjang selanjutnya, sudah barang tentu pembelajaran IPA haruslah mendapat perhatian khusus pula di antara pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia dan Matematika.

Namun bukanlah hal mudah untuk menerapkan pembelajaran IPA dan mentransferkannya kepada siswa. Banyak kendala yang dapat membuat pembelajaran IPA terasa sulit dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Slameto (2013: 54) ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran, yaitu faktor jasmani, faktor keluarga, faktor sekolah dan guru.

(20)

2

Faktor guru salah satu faktor yang memberikan pengaruh dan berperan penting dalam proses pembelajaran, sebagaimana dalam pembelajaran IPA di SD, menurut Gagne dalam Anitah, dkk (2014: 2.17) menyampaikan delapan langkah mengajar yang baik yang sering disebut kejadian–kejadian instruksional (instruksional events) meliputi mengaktifkan siswa, memberitahu pelajar tentang tujuan-tujuan belajar, mengarahkan perhatian, merangsang ingatan, menyediakan bimbingan belajar, meningkatkan retensi, membantu transfer belajar, mengeluarkan pendapat, memberi umpan balik. Dengan langkah– langkah tersebut diharapkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar lebih meningkat.

Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di kelas V SDN Karet Tengsin 01 Tanah Abang ditemukan masalah, bahwa hasil belajar terutama pada pembelajaran IPA kuranglah memuaskan terhadap materi yang diserap. Hal ini berkaitan erat dengan media pembelajaran yang terbatas pada buku teks yang penyajian materinya padat dan tampilannya yang kurang menarik. Ketika guru meminta siswa untuk menyimak buku, banyak siswa yang kurang perhatian terlihat dari reaksi ketika diminta untuk menjawab pertanyaan, siswa sedikit yang merespon. Dalam kelas juga terdapat banyak siswa dengan beragam gaya belajar, minat, dan kemampuan menyerap materi yang tidak semuanya dapat belajar dengan cara yang sama.

(21)

3

Sehingga pada kenyataan itu dalam mengajar IPA kelas V di SD Negeri Karet Tengsin 01 Tanah Abang, banyak menjumpai peserta didik yang tidak mampu menjawab soal-soal yang diberikan secara benar terutama untuk materi alat peredaran darah pada manusia. Dikarenakan selama ini pembelajaran IPA masih terpaku pada materi yang terdapat pada buku, penyampaian hanya metode ceramah saja dan minim penggunaan media, hal ini membuat pembelajaran tidak efektif. Peserta didik kurang memahami konsep-konsep materi pembelajaran, pembelajaran tidak bersifat konteksual, sehingga cenderung kurang berminat dalam mempelajari materi tersebut dan mudah bosan, dan hal itu menyebabkan hasil evaluasi masih kurang memuaskan.

Dilihat dari hasil rata-rata tes kemampuan awal yang dilakukan ternyata hasilnya masih dibawah KKM sebesar 75,00. Persentase peserta didik yang tuntas hanya 12% dari 26 peserta didik dengan kata lain hanya 3 anak yang tuntas atau mencapai KKM, sedangkan selebihnya sebanyak 23 siswa (88%) tidak tuntas atau di bawah KKM. Padahal materi ini sangat penting untuk dipelajari peserta didik karena sesuai dengan keputusan Kemdiknas untuk IPA siswa harus bisa mencapai SKL yang sudah ditentukan. Untuk sekolah tempat peneliti mengajar SKL untuk IPA tahun ini adalah 60. Selain dari itu peneliti berharap setelah penelitian tindakan kelas ini dalam pembelajaran IPA peserta didik mempunyai pengalaman belajar yang menarik sehingga mendapat hasil yang kita targetkan, sebab teknologi multimedia telah mengubah cara mengajar pendidik dan cara belajar peserta didik.

(22)

4

Melihat kenyataan tersebut peneliti berusaha untuk memperbaikinya. Caranya adalah mengubah sistem pembelajaran yang lama dengan menggunakan metode pembelajaran yang lebih baik. yang diwujudkan dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan diberi judul Peningkatan Hasil Belajar melalui Multimedia.

Peneliti berharap dengan penggunaan multimedia yang merupakan penggabungan teks, gambar, suara, video dan animasi untuk menyampaikan maksud tertentu akan mendapatkan suatu pembelajaran yang menarik sehingga mendapat hasil yang kita targetkan, sebab teknologi multimedia telah mengubah cara mengajar pendidik dan cara belajar peserta didik. Dengan multimedia cara penyampaian komunikasi informasi dapat dilakukan lebih efektif.

B. Fokus Masalah

Dari data pada latar belakang masalah di atas, peneliti mengidentifikasi masalah yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yaitu:

1. Belum digunakannya media yang inovatif dan kreatif untuk mendukung dan memperjelas penyampaian materi pembelajaran secara maksimal.

2. Rendahnya tingkat pemahaman konsep, sehingga minat dan hasil belajar siswa kelas V pada materi sistem peredaran darah masih kurang maksimal.

(23)

5 C. Perumusan Masalah

Berdasarkan beberapa alasan atau kondisi yang dikemukakan di atas, maka peneliti secara sigap menyikapi untuk memberikan alternatif tindakan perbaikan. Adapun masalah yang menjadi fokus perbaikan adalah “Apakah penggunaan multimedia dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi organ peredaran darah manusia pada siswa kelas V semester 1 di SDN Karet Tengsin 01 Kecamatan Tanah Abang tahun pelajaran 2017/2018”.

D. Tujuan

Dengan pemberian alternatif tindakan perbaikan di atas, diharapkan akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA, khususnya dalam menuntaskan materi “Mengidentifikasi organ peredaran darah manusia melalui multimedia”.

E. Manfaat

1. Manfaat teoritis

Hasil Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan konsep tentang peredaran darah pada manusia.

(24)

6 2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa

1) Meningkatkan minat, antusias, dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.

2) Meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep peredaran darah pada manusia.

3) Memberikan pengalaman langsung melalui media audio visual, sehingga pemahan yang diterima siswa dapat bertahan lama.

4) Menjadikan pembelajaran lebih bermakna. 5) Memperoleh hasil pembelajaran yang optimal. b. Bagi Guru

1) Pembelajaran yang diberikan oleh guru lebih hidup.

2) Menjadikan referensi bagi guru yang akan melaksanakan pembelajaran tentang konsep peredaran darah pada manusia.

3) Memberikan stimulus agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan model-model pembelajaran lainnya.

4) Memperoleh wawasan dan pengalaman dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dalam memahami peredaran darah pada manusia.

(25)

7 c. Bagi Sekolah :

1) Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

2) Meningkatkan prestasi belajar pada tingkat sekolah. 3) Target standar ketuntasan minimal dapat tercapai.

4) Sebagai masukan bagi sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru khususnya dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam.

(26)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI

1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan sebuah proses yang teramat penting bagi manusia sebagai makhluk yang berpikir. Karena belajar memerlukan proses berpikir, hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Sanjaya (2006: 107) bahwa belajar adalah proses berpikir yang menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Teori lain yang menjadi acuan atau batasan tentang belajar juga diungkapkan oleh para ahli lainnya, di antaranya adalah Slameto (2013: 2), yang membuat batasan belajar sebagai proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Ditambahkan oleh Siregar dan

(27)

47

Nara (2015: 5) bahwa belajar suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi yang bersifat relatif konstan.

Sedangkan Skinner (Dimjati dan Mujiono, 2006: 9) berpendapat bahwa belajar ialah suatu perilaku, dalam arti pada belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebailknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

b. Pengertian Hasil Belajar

Sudjana (2009:3) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Anitah W., dkk. (2014: 2.19) menyatakan bahwa untuk melihat hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah pada siswa sekolah dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan:

1) Kemampuan membaca, mengamati, dan atau menyimak apa yang dijelaskan atau diinformasikan.

2) Kemampuan mengidentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub) pertanyaan berdasarkan substansi yang dibaca.

3) Kemampuan mengorganisasi hasil-hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut persamaan dan perbedaan.

(28)

47

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagaimana diungkapkan oleh Anitah, dkk. (2014: 2.7) 1) Faktor dari dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap hasil

belajar, di antaranya adalah kecakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan, kesehatan, serta kebiasaan siswa.

2) Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar di antaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar), lingkungan sosial budaya, keluarga, program sekolah, guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah.

Selain hal tersebut di atas, adapun Daryanto (2016: 14) juga menggambarkan presentase kemampuan daya serap panca indra terhadap sebuah pembelajaran, yaitu:

1% 2% 4%

11%

82%

Kemampuan Daya Serap Panca Indera

Penciuman Pengecapan Perabaan Pendengaran Pengelihatan Gambar 2.1

Diagram daya serap panca indera

Sumber gambar: Daryanto.2016

(29)

47 2. Media dan Multimedia

a. Hakikat Media Pembelajaran

Menurut Arief S. Sadiman (2006:7) menjelaskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Media sendiri adalah bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima, sedangkan media secara bahasa berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Kata pembelajaran merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu “instruction”, di mana instruction diartikan sebagai proses interaktif antara guru dan siswa yang berlangsung dalam proses belajar. Menurut Susilana dan Cepi (2009:7) ”Media Pembelajaran memiliki tiga hal utama, 1) media adalah wadah dari pesan, 2) media berisi materi yang disampaikan adalah pesan pembelajaran, 3) tujuan media yang ingin dicapai ialah proses pembelajaran”.

Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Menurut Sanjaya (2006: 162) bahwa dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok. Yaitu

(30)

47

komponen pengirim pesan (guru), komponen penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Proses pembelajaran tidak selamanya berjalan sesuai rencana dan target, kadang-kadang terjadi kegagalan yang disebabkan kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa secara optimal, lebih parah lagi jika siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari itu semua, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.

Menurut Daryanto (2016:4) “Media pembelajaran didefinisikan sebagai sarana peralatan yang digunakan dalam proses pembelajaran”. Menurut Asyhar (2011:5) bahwa “Media dikatakan sarana atau perangkat yang berfungsi sebagai perantara atau saluran dalam suatu proses komunikasi antara komunikator dan komunikan”. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa media merupakan jembatan dalam kegiatan pembelajaran sebagai sarana komunikasi dari guru sebagai komunikator kepada siswa sebagai komunikan dalm proses pembelajaran yang berisi pesan pembelajaran.

(31)

47

b. Pentingnya Media Pembelajaran

Sanjaya (2006: 164) mengatakan bahwa proses belajar yang dilakukan siswa tidaklah akan berhasil dengan optimal tanpa adanya dukungan penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, terlebih lagi dalam menyampaikan materi yang tidak dapat diberikan dengan metode pengalaman langsung, seperti melihat kehidupan bawah laut, mempelajari organ tubuh manusia, atau alat pencernaan dan pernapasan pada manusia. Maka di sinilah diperlukan media pembelajaran sebagai alat komunikasi yang dapat menyampaikan maksud atau isi dari materi yang disampaikan oleh guru kepada siswa. c. Prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Menurut Sanjaya, dkk. (2006: 173) mengemukakan bahwa ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, yaitu :

1) Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2) Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.

3) Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa.

4) Media yang akan digunakan harus memerhatikan efektivitas dan efisien.

(32)

47

5) Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.

d. Jenis Media Pembelajaran

Menurut Sanjaya (2006: 172) mengklasifikasikan media menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya, jika dilihat dari sifatnya, maka terbagi menjadi:

a) Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar. Contohnya radio dan rekaman suara.

b) Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat. Contohnya film, slide, foto, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan lain sebagainya.

c) Media audio visual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara dan juga mengandung unsur gambar yang bias didengar. Contohnya rekaman video, film, slide suara, dll.

Adapun prinsip penggunaan media pembelajaran dan pengembangan media pendidikan dapat digolongkan berdasarkan taksonomi Lesin dalam Arsyad (2011: 81) adalah: 1) Media pembelajaran berbasis manusia.

Merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan atau mengkomunikasikan pesan atau informasi. Contoh: guru, instruktur, tutor, kegiatan kelompok dan permainan peran.

(33)

47

2) Media pembelajaran berbasis cetak

Media ini adalah media yang paling umum digunakan pada dunia pendidikan yaitu: buku, jurnal dan majalah.

3) Media berbasis visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Media ini dapat berupa: gambar representasi, diagram, peta dan grafik.

4) Media belajar berbasis audio visual

Adalah media yang menggabungkan penggunaan media suara pada media visual, contoh: teater dan drama.

5) Media belajar berbasis komputer

Komputer berperan sebagai manajer dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Computer-Managed Instruction (CMI). Komputer juga berperan sebagai pembantu dalam penyajian informasi isi materi pembelajaran, latihan atau keduanya yang dikenal dengan modus Computer Assisted Instruction (CIA)

Pengembangan media pembelajaran berbasis ICT berbentuk multimedia setiap format bahan ajar multimedia memiliki karakteristik tertentu dan kriteria pembelajaran multimedia yang baik menurut Asyhar (2011:173) yaitu:

1) Tampilan harus menarik baik dari sisi bentuk gambar maupun kombinasi warna yang digunakan.

(34)

47

2) Narasi atau bahasa harus jelas dan mudah dipahami oleh siswa.

3) Materi yang disajikan secara interaktif artinya memungkinkan partisipasi dari siswa.

4) Kebutuhan untuk mengakomodasi berbagai model (syle) yang berbeda dalam belajar.

5) Karakterisitk dan budaya personal dari populasi yang akan dijadikan target.

6) Sesuai dengan karakteristik siswa, karakteristik materi, dan tujuan yang ingin dicapai.

7) Dimungkinkan untuk digunakan sebagai salah satu media pembelajaran.

8) Memungkinkan ditampilkan suatu virtual learning environment.

9) Proses pembelajaran yang utuh.

Setelah memilih dan membuat media yang diinginkan peneliti juga harus mampu melakukan review atau evaluasi terhadap media pembelajaran yang telah dibuat. Menurut Walker dan Hess dalam Sadiman dkk (2010: 219) kriteria dalam mereview perangkat lunak media pembelajaran yang berdasarkan kepada kualitas adalah:

(35)

47 1) Kualitas isi dan tujuan

a) Ketepatan b) Kepentingan c) Kelengkapan

d) Minat atau perhatian e) Keadilan

f) Kesesuaian dengan situasi siswa 2) Kualitas intstruksional

a) Memberikan kesempatan belajar b) Memberikan bantuan untuk belajar c) Kualitas motivasi

d) Fleksibilitas instruksional

e) Hubungan dengan program pembelajaran lainnya. f) Kualitas sosial interaksi instruksional

g) Kualitas tes dan penilaian

h) Dapat memberik dampak bagi siswa

i) Dapat membawa dampak bagi guru dan pembelajarannya 3) Kualitas teknis

a) Keterbacaan b) Mudah digunakan c) Kualitas tampilan

d) Kualitas penanganan jawaban e) Kualitas pengelolaan program

(36)

47 f) Kualitas pendokumentasian

Proses pemilihan media yang tepat akan didapatkan media pembelajaran yang baik dalam proses pembelajaran, serta evaluasi terhadap media pembelajaran yang telah dirancang akan membuat media pembelajaran semakin efektif dan efisien dalam membantu proses siswa dalam belajar.

e. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran

Menurut Winn, 1996 (Amalia Sapriati, 2014: 5.3) fungsi media pembelajaran adalah:

1) Menyampaikan pembelajaran, di mana media digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran tertentu.

2) Konstruksi dari lingkungan, di mana media membantu siswa menggali dan membangun pemahaman dari pengetahuan. 3) Mengembangkan keterampilan kognitif, di mana media

digunakan sebagai model kreasi atau pengembangan dari keterampilan mental.

Menurut Sapriati (2014: 5.2) tujuan penggunaan media dalam pembelajaran adalah untuk antara lain:

1) Meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran. 2) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran 3) Memberikan arahan tentang tujuan yang akan dicapai. 4) Memberikan rangsangan kepada guru untuk kreatif. 5) Membantu pebelajar yang memiliki kekhususan tertentu.

(37)

47 f. Pengertian Multimedia

Menurut Munir (2012 : 2), Multimedia berasal dari kata multi dan media. Multi berasal dari bahasa Latin, yaitu nouns yang berarti banyak atau bermacam-macam.Sedangkan kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medium yang berarti perantara atau sesuatu yang dipakai untuk menghantarkan, menyampaikan, atau membawa sesuatu.

Mudlofir dan Rusydiyah (2016: 155) mengatakan bahwa multimedia berasal dari kata multi yang berarti banyak atau berbagai dan kata media yang berarti alat untuk menyampaikan pesan. Oleh karena itu, multimedia berarti gabungan dari berbagai media seperti teks, grafik, audio, visual, dan sebagainya dalam satu alat.

g. Pemanfaatan Multimedia

Munir (2012: 2), pemanfaatan multimedia dapat dilakukan dalam berbagai bidang, antara lain :

1) Kegiatan kerja, dengan adanya teleworking, para pekerja dapat melakukan pekerjaannya tidak harus dari kantor.

2) Cara belanja, home shopping atau teleshopping yaitu belanja dilakukan dengan menggunakan internet, kemudian barang datang diantar ke rumah.

3) Jual-beli, menggunakan sistem jual beli online, atau bank menggunakan caraonline-banking.

(38)

47

4) Cara memperoleh informasi, menggunakan internet dan berbagai software untuk mencari informasi. Misalnya : membaca koran online, belajar musik dari software dan sebagainya.

5) Cara belajar, proses pembelajaran menggunakan komputer multimedia dengan adanya mengajar atau belajar online, ataupun mengunakan e-book (electronic book).

h. Peran multimedia

Munir (2012: 2), multimedia juga memiliki peran yang penting dalam berbagai bidang seperti : ekonomi, iklan, pendidikan, teknologi informasi, dan bidang lainnya.

1) Ekonomi atau bisnis

Penyajian multimedia secara visual dapat membantu menjelaskan bidang ekonomi atau bisnis yang ditawarkan seperti, profil, produk, jasa, maupun hal lain mengenai perusahaan. Penyajian bisnis bisa merupakan multimedia linier atau multimedia interaktif yang diperlukan untuk menjelaskan sesuatu lebih terperinci dan akurat.Informasi dibuat bisa dalam bentuk CD atau DVD, sehingga dapat digunakan untuk presentasi dimanapun. Informasi itu dapat dibuat dengan durasi yang terbatas bila akan digunakan untuk media tv.

(39)

47 2) Informasi dan komunikasi

Penyajian informasi dapat dikomunikasikan menggunakan alat bantu seperti hardcopy, CD/DVD, atau komputer. Pembuatan dan penyajian informasi dengan komputer berbasis multimedia dilengkapai dengan kemampuan menyajikan animasi, suara dan interaktif link, sehingga lebih komunikatif.

3) Iklan

Bidang periklanan yang efektif dan interaktif.Iklan digunakan untuk menawarkan produk kepada konsumen.Iklan bisa berbentuk teks atau audio yang dilengkapi video.Iklan tersebut dapat dilengkapi animasi seperti gambar kartun dua dimensi atau tiga dimensi dengan perangkat lunak yang tersedia. Iklan dibuat agar bisa disajikan melalui televisi atau dibuat dalam bentuk CD ROM, sehingga dapat digunakan di manapun pemasar dan konsumen berada.

4) Pendidikan

Bidang pendidikan dalam penyampaian bahan ajar secara interaktif dan dapat mempermudah pembelajaran karena didukung oleh berbagai aspek seperti suara atau audio, video, animasi teks, dan grafik. Pendidikan sangat membutuhkan teknologi multimedia. Peserta didik dapat langsung melihat dan mendengar tentang hal-hal yang

(40)

47

dipelajarinya. Dalam aplikasi pemebelajaran peserta didik dapat memilih materi atau subjek disertai gambar, suara atau gambar hidup dari subjek yang dipelajari. Perhatian peserta didik akan lebih terpusat dan rasa ingin tahunya akan lebih tinggi untuk mempelajari hal-hal lain karena merasa tertarik akan media penyajiannya.

Proses belajar mengajar biasanya hanya menggunakan alat bantu papan tulis, white board, buku-buku, diktat, dan lain-lain. Penggunaan alat bantu konvensional ini belum dapat mencapai tujuan secara optimal. Untuk meningkatkan kualiatas hasil pembelajaran, diperlukan perangkat lunak aplikasi pendidikan dengan bantuan komputer berrbasis multimedia yang lebih komunikatif dan interaktif.Hasil belajar peserta didik dapat disimpan dalam basis data dan dapat diakses setiap saat bila diperlukan.

5) Film

Film animasi dua dimensi (2D) atau tiga dimensi (3D) dapat digunakan sebagai sarana informasi, pendidikan, dokumentasi maupun hiburan. Film animasi dapat ditayangkan melalui televisi, internet, maupun hiburan di rumah. Film animasi dapat digunakan untuk presentasi, modeling, dokumenter dan lain-lain. Khusus untuk anak-anak biasanya dibuat film animasi kartun.

6) Virtual Reality

Virtual reality merupakan penggunaan multimedia untuk penjelasan secara langsung. Virtual reality dapat digunakan

(41)

47

sebagai sarana pemasaran, presentasi, pemodelan atau hiburan dan lain-lain. Dengan virtual reality pemasaran untuk memasarkan produk yang manrik perhatian dan minat konsumen. Presentsai dapat dilakukan dengan pembuatan model sehingga seolah-olah berada dalam suasana nyata sesuai dengan bahan yang disajikan.Bagian-bagian obyek dapat dilihat dengan dan dipergunakan dengan rinci, seperti spesifikasi yang ditentukan.Virtual reality dapat digunakan untuk pemodelan 3D yang dibuat secara rinci untuk setiap bagian. Misalnya model suatu bangunan yang sudah hancur atau tidak ada untuk keperluan pariwisata, pelestarian budaya dan sejarah. Model itu dibuat berdasarkan dokumentasi sejarah dari perpustakaan, museum dan lain-lain.

i. Karakteristik Multimedia untuk Keperluan Pendidikan

Penggunaan multimedia dalam pendidikan mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain. Menurut Munir (2012: 24) diantara keistimewaan itu antara lain: 1) Multimedia dalam pendidikan berbasis komputer;

2) Multimedia mengintegrasikan berbagai media (teks, gambar, suara, video dan animasi) dalam satu program secara digital;

(42)

47

3) Multimedia meneyediakan proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik;

4) Multimedia memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan materi pelajaran;

5) Multimedia memberikan kemudahan mengontrol yang sistematis dalam pembelajaran.

j. Keunggulan multimedia

Adapun keunggulan multimedia menurut Mudlofir dan Rusydiyah (2016: 155) sebagai berikut:

1) Mampu menampilkan benda yang sangat kecil yang tidak tampak mata misalnya bakteri, kuman dan lain sebagainya dengan kemampuan memperbesar gambar (zoom in).

2) Mampu menampilkan benda yang sangat besar dengan kemampuan memperkecil benda (zoom out).

3) Mampu menyajikan gambar atau peristiwa yang komplek seperti mekanisme kerja tubuh, proses kerja mesin.

4) Mampu menampilkan bentuk suara, teks, gambar animasi dalam satu frame sehingga membuat tampilan menjadi lebih menarik.

k. Kelebihan dan kekurangan multimedia

Adapun kekurangan dan kelebihan multimedia berbasis komputer dan interaktif video menurut Wati (2016: 143), yaitu: Kelebihan

(43)

47

1) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis computer dan interaktif video komputer lebih inovatif dan interaktif. 2) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer

dan interaktif video memotivasi belajar siswa.

3) Tercapainya tujuan pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video.

4) Keunggulan multimedia berbasis komputer dan interaktif video dapat menggbungkan antar teks, gambar, audio, musik animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung.

5) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video mampu memvisualisasikan materi pembelajaran yang abstrak.

6) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video memfasilitasi interaktifitas siswa dengan sumber bahan ajaran yang ada pada komputer.

7) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video merupakan media penyimpan yang relatif mudah dan fleksibel.

8) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video dapat membawa objek materi pembelajaran yang sulit didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar.

(44)

47

9) Pembelajaran menggunakan multimedia berbasis komputer dan interaktif video menampilkan objek yang terlalu besar ke dalam kelas dan menampilkan objek yang tidak dapat dilihat secara langsung.

Kekurangan

1) Biaya relatif mahal untuk tahap awal penggunaan multimedia pembelajaran.

2) Kemampuan sumber daya manusia dalam pengunaan multimedia masih perlu ditingkatkan lagi agar semakin memudahkan dalam proses penyampaian.

3) Kurangnya perhatian dari pemerintah mengenai multimedia pembelajaran.

4) Fasilitas yang mendukung multimedia belum memadai untuk daerah tertentu.

l. Proses penggunaan Multimedia dalam Pembelajaran

Proses penyampaian materi pada pembelajaran IPA di kelas V SDN Karet Tengsin menggunakan multimedia berbasis powerpoint. Multimedia berbasis powerpoint di dalamnya meliputi objek teks, gambar, video dan hyperlink yang digunakan secara terintegrasi. Penggabungan objek-objek tersebut akan menjadi satu kesatuan atau terintegrasi antara satu sama lain dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam menyajian materi IPA secara verbal menggunakan metode ceramah dan secara pictorial menggunakan proyeksi grafis

(45)

47

yang meliputi gambar dan video Richard E. Mayer (Baroto Tavip Indrowarjo: 2009: 8). Sedangkan materi yang disampaikan dalam penelitian ini tentang Peredaran darah. Berikut penjelasannya.

Multimedia berbasis powerpoint ini digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang bersifatnya teoritis dalam pembelajaran klasikal, baik untuk kelompok kecil maupun besar. Apabila guru menyampaikan materi hanya menggunakan metode caramah saja, pasti akan membuat siswa menjadi cepat bosan. Multimedia ini cukup efektif sebab menggunakan media projector (LCD/ Viewer) yang memiliki jangkauan pancar cukup besar apabila dipasang di dalam kelas. Proses pembelajaran demikian itu, dapat membuat siswa yang duduk di depan sampai paling belakang akan memperhatikan proses pembelajaran.

Pemanfaatan multimedia dalam presentasi ini menggunakan perangkat lunak yang paling tersohor yaitu powerpoint yang dikembangkan oleh Microsoft Inc. Pemanfaatan powerpoint atau perangkat lunak lainnya dalam presentasi menyebabkan kegiatan presentasi menjadi mudah, dinamis, dan sangat menarik. Dengan berbagai perkembangan pada software/perangkat lunak yang meliputi media teks, gambar, video, dan hyperlink serta sejumlah hardware/perangkat keras meliputi LCD/proyektor dan laptop

(46)

47

sebagai penunjangnya telah menyebabkan terjadinya perubahan besar pada trend metode presentasi saat ini.

(47)

47

m. Komponen Multimedia Pembelajaran

Membuat multimedia pembelajaran dapat juga menggunakan program power point. Menurut Jubilee Enterprise (2016:1) power point adalah aplikasi yang digunakan untuk membuat presentasi. Cara membuat presentasi yang baik supaya menarik perhatian siswa, dapat menggunakan beberapa komponen mutimedia. Komponen multimedia menurut Munir (2012:17) adalah sebagai berikut:

1) Teks

Teks adalah suatu kombinasi huruf yang membentuk satu kata atau kalimat yang menjelaskan suatu maksud atau materi pembelajaran yang dapat dipahami oleh orang yang membacanya.

Teks berfungsi untuk menyajikan materi menjadi lebih menarik dengan menggunakan berbagai macam font dan pilihan warna yang dapat memancing perhatian siswa untuk memperhatikan pelajaran.

2) Gambar (image atau visual diam)

Gambar merupakan penyampaian informasi dalam bentuk visual. Menurut Agnew dan Kellerman: 1996 (Munir. 2012:17) gambar adalah bentuk garis (line drawing), bulatan, kotak, bayangan, warna dan sebagainya yang dapat disajikan lebih menarik dan efektif.

(48)

47

Gambar merupakan media yang paling umum dipakai dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa lebih menyukai gambar dari pada tulisan, apalagi gambar dibuat dan disajikan sesuai persyaratan yang baik, pemilihan gambar dengan kualitas bagus akan menjadi daya tarik tersendiri dan tentunya akan menambahkan semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

3) Video (visual gerak)

Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio merangsang siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui indera pendenagaran, sedangkan unsur visual dapat menciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi.

4) Hyperlink

Hyperlink dalam softwere powerpoint diartikan sebagai media presentasi yang dapat menghubungkan sebuah file yang berbeda atau menghubungkan banyak slide-slide pada satu file powerpoint. Penggunaan hyperlink memberikan kemudahan mencari file atau slide yang kita ingin lihat. Selain itu hyperlink mampu memberikan kesempatan kepada siswa unutk mengontrol kecepatanya belajarnya sendiri (Daryanto, 2010: 53). Dalam proses pembelajaran siswa dapat memilih sendiri materi yang ingin dipelajari berdasarkan link yang telah dibuat pada powerpoint.

(49)

47

n. Langkah-langkah Penggunaan Multimedia dalam

Pembelajaran

Muletimedia ini digunakan oleh pendidik (guru) dalam pembelajaran tentunya disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik peserta didik (siswa) dan juga sistem instruksional secara keseluruhan. Berikut adalah langkah-langkahnya:

1) Siklus I

Adapun langkah-langkah proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia sebagai berikut:

a) Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi yang akan dicapai.

b) Guru memberikan pengarahan kepada siswa untuk menyaksikan presentasi yang telah disiapkan.

c) Guru memulai presentasi materi peredaran darah melalui LCD/Proyektr.

d) Guru menampilkan gambar jantung dan memegang denyut nadi lengan serta leher dan memberikan pertanyaan.

e) Guru menampilkan presentasi materi peredaran darah dalam bentuk powerpoint yang di dalamnya terdapat teks, gambar, video dan hyperlink. Video yang digunakan pada siklus I tentang “Oragan Peredaran Darah”.

(50)

47

f) Siswa memperhatikan penjelasan yang sedang diterangkan oleh guru.

g) Setelah menjelaskan materi, guru melakukan tanya jawab kepada siswa. Guru meminta pada para siswa untuk menjawab pertanyaan yang ada pada layar LCD. h) Siswa menjawab pertanyaan sesuai yang ditampilkan

pada layar LCD.

i) Menampilkan contoh cara mengerjakan LKS.

2) Siklus II

Adapun langkah-langkah proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia sebagai berikut:

a) Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi yang akan dicapai.

b) Guru memberikan pengarahan kepada siswa untuk menyaksikan presentasi yang telah disiapkan.

c) Guru memulai presentasi materi peredaran darah melalui LCD/Proyektor.

d) Guru menampilkan gambar jantung dan memegang denyut nadi lengan serta leher dan memberikan pertanyaan.

e) Guru menampilkan presentasi materi peredaran darah dalam bentuk powerpoint yang di dalamnya terdapat teks, gambar, video dan hyperlink. Video yang

(51)

47

digunakan pada siklus II tentang “Penyakit dan Cara Merawatnya”.

f) Siswa memperhatikan penjelasan yang sedang diterangkan oleh guru.

g) Setelah menjelaskan materi, guru melakukan tanya jawab kepada siswa. Guru meminta pada para siswa untuk menjawab pertanyaan yang ada pada layar LCD. h) Siswa menjawab pertanyaan sesuai yang ditampilkan

pada layar LCD.

i) Menampilkan contoh cara mengerjakan LKS. 3. Tinjauan tentang Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

a. Pengertian Pembelajaran IPA

Menurut Sukarno: 1973 (Wisudawati, Sulistyowati, 2013:23) IPA dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang sebab dan akibat kejadian-kejadian yang ada di alam ini.

Menurut Wisudawati, Sulistyowati, 2013:23 pembelajaran IPA adalah interaksi antara komponen-komponen pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang berbentuk kompetensi yang telah ditetapkan.

b. Dimensi Pembelajaran IPA c. Tujuan Pembelajaran d. Silabus Pembelajaran IPA

(52)

47

Berdasarkan silabus yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) materi pembeljaran IPA berkarakter bagi siswa kelas V SD/MI selama 2 semester yaitu:

Tabel 2.1

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Materi IPA kelas V

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR

Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan 1. Mengidentifikasi fungsi organ tubuh

manusia dan hewan 1.1 Mengidentifikasi fungsi organ pernapasan manusia

1.2 Mengidentifikasi fungsi organ pernapasan hewan misalnya ikan dan cacing tanah 1.3 Mengidentifikasi fungsi organ pencernaan

manusia dan hubungannya dengan makanan dan kesehatan

1.4 Mengidentifikasi organ peredaran darah manusia

1.5 Mengidentifikasi gangguan pada organ peredaran darah manusia

2. Memahami cara tumbuhan hijau membuat makanan

2.1 Mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan

2.2 Mendeskripsikan ketergantungan manusia dan hewan pada tumbuhan hijau sebagai sumber makanan

3. Mengidentifikasi cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan

3.1 Mengidentifikasi penyesuaian diri hewan dengan lingkungan tertentu untuk mempertahankan hidup

3.2 Mengidentifikasi penyesuaian diri tumbuhan dengan lingkungan tertentu untuk

mempertahankan hidup Benda dan Sifatnya

4. Memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses

4.1 Mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya, misalnya benang, kain, dan kertas

4.2 Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap

Kelas V (Semester 2) Energi dan Perubahannya

5. Memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi, serta fungsinya

5.1 Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet) 5.2 Menjelaskan pesawat sederhana yang dapat

membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat

6. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model

6.1 Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya 6.2 Membuat suatu karya/model, misalnya

periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat-sifat cahaya

(53)

47

Bumi dan Alam Semesta

7. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam

7.1 Mendeskripsikan proses pembentukan tanah karena pelapukan

7.2 Mengidentifikasi jenis-jenis tanah 7.3 Mendeskripsikan struktur bumi

7.4 Mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya 7.5 Mendeskripsikan perlunya penghematan air 7.6 Mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan

7.7 Mengidentifikasi beberapa kegiatan manusia yang dapat mengubah permukaan bumi (pertanian, perkotaan, dsb)

Sumber: Silabus KTSP Kelas V

Tabel 2.2

Standar kompetensi, kompetensi Dasar dan Indikator Materi IPA kelas V semester I yang digunakan dalam penelitian.

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan 1. Mengidentifikasi

fungsi organ tubuh manusia dan hewan

1.4 Mengidentifikasi organ peredaran darah manusia

1.5 Mengidentifikasi gangguan pada organ peredaran darah manusia

1. Mengidentifikasi organ peredaran darah manusia. 2. Menyebutkan bagian-bagian jantung. 3. Menjelaskan fungsi jantung. 4. Mengidentifikasi alur peredaran darah kecil 5. Mengidentifikasi alur peredaran darah besar 6. Mengidentifikasi macam-macam pembuluh darah. 7. Mengidentifikasi fungsi pembuluh darah. 8. Mengidentifikasi penyakit pada sistem peredaran darah manusia. 9. Mengidentifikasi

(54)

47

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

dampak pada sistem peredaran darah manusia. 10. Mengidentifikasi cara menjaga kesehatan organ peredaran darah.

Sumber: Silabus KTSP Kelas V

Berdasarkan tabel di ats materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tentang organ peredaran darah manusia.

4. Karakteristik Siswa Kelas V SD

Menurut Mulyani Sumantri (2008: 49) menyatakan bahwa karakteristik anak SD yaitu usia antara 6 sampai dengan 12 tahun anak bannyak mengalami perubahan fisik maupun mental hasil perpaduan faktor intern maupun pengaruh dari luar yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan yang tak kalah pentingnya adalah pergaulan dengan teman sebaya.

Salah satu karakteristik siswa SD lainnya yaitu gaya belajar siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh Wisudawati, Sulistyowati, (2013:107) ada tiga gaya belajar yaitu auditori, visual, dan kinestetik. Seorang peserta didik yang cenderung visual akan terkendala mempelajari materi yang disampaikan dengan ceramah. Peserta didik yang cenderung auditori akan lebih senang jika mendengarkan. Peserta didik yang mempunyai gaya kinestetik lebih suka melakukan atau praktik langsung dibandingkan membaca atau mendengarkan.

(55)

47

Teori pembelajaran yang sesuai tingkat perkembangan kognitif anak dikembangkan oleh Piaget (Gantina Komalasari dkk, 2011: 19-20), proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai umur dan bersifat hierakhis.

Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif terbagi menjadi empat:

1. Tahap sensorimotor (0-2 tahun)

Pertumbuhan kemampuan anak diperoleh dari mengordinasikan pengalaman indera (melihat, mendengar) dengan gerakan motoriknya (menggapai, menyentuh). Anak memperoleh pengetahuan berdasarkan apa yang dilihat atau didengar di lingkungan sekitarnya. Contoh: ketika anak melihat ayahnya menggunakan kursi untuk duduk, suatu saat anak tersebut akan menirukan hal yang sama tanpa diajarkan terlebih dahulu.

2. Tahap pra operasional (2 - 7 tahun)

Tahap pemikiran anak lebih bersifat simbolis atau berupa bahasa tanda, mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Pada usia ini, penggunaan bahasa mulai berkembang, anak sering menanyakan segala hal yang ingin diketahuinya secara rinci.

(56)

47

3. Tahap operasional konkret (7 - 11 tahun)

Pada tahap ini anak sudah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda bersifat konkret. Contoh: pada pembelajaran IPS tentang perkembangan teknologi produksi, dimana anak mengenal alat produksi pada jaman dahulu yang jarang atau belum pernah mereka lihat sebelumnya dan belajar mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan produksi berdasarkan pengamatan melalui penggunaan multimedia pembelajaran secara lebih jelas.

4. Tahap operasional formal ( 11 - 18 tahun)

Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis menggunakan pola berpikir “kemungkin untuk memecahkan masalah, menafsirkan, dan menarik kesimpulan secara sistematis.

Berdasarkan teori tersebut siswa kelas IV SD tergolong dalam tahap opersional kongret. Untuk mengetahui karakteristik siswa peneliti dapat mempertimbangkan hal apa saja yang dibutuhkan siswa supaya penyampaian materi pembelajaran dapat dengan mudah dipahami serta dicerna dengan baik. Peneliti memberikan salah satu solusi bagi guru kelas yaitu menggunakan multimedia pembelajaran untuk memperjelas materi yang sifatnya teoritis, abstrak yang susah dipahami oleh siswa. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan menjadi lebih memperjelas hal yang abstrak, mudah dipahami, dan menarik bagi siswa.

(57)

47 Acting Reflecting Observing Planning B. MODEL TINDAKAN

Kusumah dan Dwitagama (2012: 20) mengatakan bahwa terdapat beberapa model PTK yang dapat dikembangkan sesuai masalah yang dihadapi oleh setiap guru. Model-model PTK yang dimaksud diantaranya adalah :

1. Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin merupakan model yang menjadi acuan daripada semua model PTK yang dikembangkan, lantaran Kurt Lewin adalah orang pertama kali yang memperkenalkan Classrom Actions Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas. Model Kurt Lewin menetapkan empat langkah dalam PTK, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting).

Gambar 2.2

Penelelitian Tindakan Kelas Model Kurt Lewin

Sumber Gambar : Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Menurut peneliti model dari Kurt Lewin ini kelebihannya adalah begitu mudah hanya satu putaran saja. Akan tetapi kekurangannya adalah antara acting dan observing tidak dijadikan dalam satu proses dan lagi pada kenyataannya belum tentu dengan satu tahapan itu sudah mendapatkan hasil.

(58)

47 2. Model Kemmis Mc Targgart

Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara penerapan acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu, ketika tindakan dilaksakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan.

Gambar 2.3

Penelelitian Tindakan Kelas Model Kemmis Mc Taggart

Sumber Gambar: Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Menurut peneliti model dari Kemmis dan Targgart ini

kelebihannya adalah begitu mudah dipahami, pada saat kita SIKLUS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PELAKSANAAN PELAKSANAAN PENGAMATAN PENGAMATAN PERENCANAAN PERENCANAAN SIKLUS I SIKLUS II ? REFLEKSI REFLEKSI

(59)

47

melaksanakan tindakan memang harus juga melakukan observasi, hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari tindakan itu sendiri. Akan tetapi kekurangannya adalah bila guru sekaligus merupakan peneliti harus lebih teliti karena proses antara tindakan dan observasi disatukan.

3. Model John Elliott

Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa tahap itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya.

(60)

47

Gambar 2.4

Penelelitian Tindakan Kelas Model John Elliot

Sumber Gambar: Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK Ide Awal

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1, 2, 3

Temuan dan Analisis

Perencanaan Umum Langkah Tindakan 1, 2,3

Monitoring Implementasi & Efeknya

Penjelasan Kegagalan tentang Implementasi Implementasi Langkah Tindakan Revisi Perencanaan Umum

Revisi Ide Umum

Implementasi Langkah Berikutnya Monitoring

Implementasi & Efeknya Penjelasan Kegagalan & Efek

Monitoring Implementasi & Efeknya

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1, 2,3

Implementasi Langkah Berikutnya

(61)

47

Menurut peneliti model dari John Elliot ini kelebihannya adalah agar terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama. Model John Elliot hanya cocok digunakan pada materi yang memiliki banyak subpokok bahasan.

4. Model Dave Ebbutt

Menurut Wiriaatmadja (2014: 67) Model PTK yang digambarkan oleh Ebbutt menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian. Dimulai dengan pemikiran awal penelitian yang berupa pemikiran tentang masalah yang dihadapi di dalam kelas, penentuan fokus permasalahan berada pada bagian ini. Dari pemikiran awal dilanjutkan dengan pemantauan (reconnaissance), pada bagian pemantauan ini Ebbutt berpendapat berbeda dengan penafsiran Elliot mengenai pemantauannya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja (fact finding only). Padahal, menurut Ebbutt pemantauan mencakup kegiatan-kegiatan diskusi, negosiasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala atau mencakup secara keseluruhan analisis yang dilakukan.

Berdasarkan pemikiran awal dan pemantauan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perencanaan dan berturut-turut dengan kegiatan pelaksanaan tindakan yang pertama, pengawasan dan pelaksanaan pemantauan, dan melanjutkan pelaksanaan tindakan kedua.

(62)

47 Pelaksanaan Tindakan 1 Pelaksanaan Tindakan 2 Pemikiran Awal Reconnaissance Rencana Keseluruhan Pengawasan dan Reconnaissance Revisi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan 2, Dst Perubahan Pemikiran Reconnaissance Rencana Baru Pelaksanaan Tindakan 2 Dst Atau Atau Atau Revisi Perencanaan Perubahan Pemikiran

Pada siklus yang digambarkan oleh Ebbutt, dia memberikan pemikiran bahwa jika dalam pelaksanaan dan pemantauan setelah tindakan ada masalah mendasar yang dialami, maka perlu perubahan perencanaan dan kembali melaksanakan bagian siklus tertentu yang telah dijalani.

Gambar 2.5

Penelelitian Tindakan Kelas Model Dave Ebbutt

Sumber : Rochiati Wiriaatmadja, 2005

(63)

47

Serupa dengan model John Elliot menurut peneliti kelebihannya adalah agar kita dapat mempunyai gambaran untuk sebuah tindakan, bahwa tindakan yang kita berikan akankah memberikan dampak pada hal yang lain. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama.

5. Model Hopkins

Desain ini berpijak pada desain modell PTK pendahulunya. Selanjutnya Hopkins (2011) menyusun desain tersendiri sebagai berikut: mengambil start - audit - perencanaan - konstruk - perencanaan tindakan (target, tugas, kriteria keberhasilan) - implementasi dan evaluasi: implementasi (menopang komitmen: cek kemajuan; mengatasi problem) - cek hasil - pengambilan stok - audit dan pelaporan.

Gambar 2.6

Penelelitian Tindakan Kelas Model Hopkins

Sumber Gambar : Kusumah dan Dwitagama, 2012 Edisi Kedua Mengenal PTK

Perencanaan Tindakan Target, Tugas, Kriteria, Keberhasilan

Evaluasi Implementasi Menopang Komitmen Cek Kemajuan Mengatasi Problem Perencanaan

Konstruksi Cek Hasil

Pengambilan Stok

Audit

Ambil Start

(64)

47

Menurut peneliti model dari Hopkins ini kelebihannya adalah terdapat beberapa tahapan untuk mendapat hasil penelitian yang baik. Akan tetapi kekurangannya adalah prosesnya terlalu lama, sebab mulai dari star saja untuk menuju ke implementasi harus melalui beberapa tahapan.

Dari beberapa model penelitian tindakan kelas di atas peneliti memilih model Kemmis dan Taggart untuk metode penelitian. Alasan peneliti memilih model Kemmis dan Mc Taggart ini adalah peneliti menganggap model ini yang sesuai dan bisa membantu peneliti dalam melakukan penelitian.

C. KERANGKA BERFIKIR

Multimedia berbasis powerpoint yang digunakan dalam penelitian ini memiliki beberapa manfaat. Diantaranya, proses pembelajaran lebih menarik, interaktif, jumlah waktu mengajar bisa dikurangi, memotivasi belajar siswa serta multimedia sangat universal menyesuaikan gaya belajar siswa yang berbeda. Semua itu bisa dicapai dengan menggabungkan beberapa media yaitu teks, gambar, video, dan Hyperlink.

Penggunaan multimedia berbasis powerpoint dalam pembelajaran IPA disesuaikan dengan karakteristik siswa di SD. Multimedia berbasis powerpoint dapat menyesuaikan gaya belajar siswa yang berbeda-beda. Ada tiga jenis gaya belajar yakni gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Selain itu usia perkembangan kognitif siswa SD masih terikat dengan obyek kongret dan cara mereka berpikir

(65)

47

masih dalam tahap operasional kongret. Penggunaan multimedia pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar secara nyata bagi siswa kelas V SD dengan disertai teks, gambar, video, dan animasi sehingga pembelajaran jauh lebih menarik dan bermakna. Dengan menggunakan multimedia berbasis powerpoint diharapkan meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA akan meningkat. Kerangka berpikir di atas akan dipaparkan melalui bagan sebagai berikut:

Gambar 1. Diagram Alur dalam Penelitian

D. HIPOTESIS TINDAKAN

Dengan menggunakan multimedia pada mata pelajaran IPA dalam materi peredaran darah manusia maka dapat meningkatkan

Kondi si Awal Tindaka n Guru:  Belum menggunakan multimedia. Guru:  Menggunakan multimedia. Siswa:

Hasil belajar masih rendah, di bawah KKM Siklus I: Menerapkan multimedia dalam Siklus II: Menerapkan multimedia dalam Kondi si Akhir Diduga dengan menerapkan multimedia, hasil belajar siswa akan meningkat.

(66)

47

hasil belajar siswa Sekolah Dasar Negeri Karet Tengsin 01 Tanah Abang.

Gambar

Diagram daya serap panca indera
Gambar 1. Diagram Alur dalam Penelitian
Tabel 3.1  Jadwal Penelitian
gambar dan teks dalam  media gambar.
+7

Referensi

Dokumen terkait

a. Adanya Kebijakan Pembangunan Kabupaten Situbondo yang Efektif. Kebijakan yang responsif gender adalah kebijakan yang efektif, yang berorientasi pada ketepatan

Perubahan kebijakan akuntansi yang dihasilkan dari penerapan PSAK 71 diterapkan secara retrospektif, kecuali bahwa Grup menerapkan pengecualian untuk tidak menyajikan

Seiring berkembangnya zaman, dunia teknologi pun semaking berkembang, tanpa kita sadari dengan kemajuan teknologi yang sekarang kita punya, kita mampu melakukan dari hal yang

Pelaksanaan pembelajaran tajwid dilakukan di MI Miftahul Hidayah Desa Tahai Jaya Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau, Problem akademik yang ada di sekolah karena sekolah

Aplikasi sistem informasi dapat diakses pengguna dimana saja dengan dukungan koneksi jaringan ke aplikasi sistem informasi yang lancar dan tidak terputus menjadi salah satu

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan intra kukurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Hasil analisis tanah pada takaran 5 ton kompos TKKS/ha ditambah 500 kg abu boiler/ha kation- kation basa dapat dipertukar (K-dd, Ca-dd, Mg-dd dan Na-dd)cenderung

komposisi karawitan Prawiratama , mengacu pada metode penciptaan yang telah dikemukakan oleh I wayan Senen, yaitu mengawali proses penciptaan karya, melalui rangsangan