• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motif Batik Banyumasan

Dalam dokumen KAJIAN MOTIF BATIK BANYUMASAN (Halaman 76-108)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Analisis Estetika

1. Motif Batik Banyumasan

Gambar 26. Motif Jonas Ukel

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

a. Bagian-bagian/ isen-isen yang membentuk Motif Jonas

Motif Burung Gambar 27. Pecah pola yang membentuk motif burung

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

Membentuk motif belah ketupat Isen-isen bentuk ukel

Gambar 27. Pecah pola yang membentuk motif belah ketupat Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

Warna merah sebagai warna khas pada pinggiran motif Batik Banyumasan

Gambar 28. pecah pola yang membentuk motif pinggiran khas batik Banyumasan Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

Membentuk motif bunga Gambar 29. Pecah pola yang membentuk motif bunga

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

1. Analisis motif Jonas Ukel

Kebudayaan dan kesenian daerah Banyumas dapat dikatakan dekat dengan Daerah Solo dan Jogja termasuk seni batiknya. Khususnya pada seni batik, terlihat selera dan gayanya baik dalam warnanya maupun ragam hias condong ke Batik Solo. Konon menurut cerita orang dulu, asal mulanya batik Banyumas dibawa pengungsi-pengungsi dari daerah Solo ketika di Kerajaan Mataram terjadi perang saudara sebagai akibat siasat pemecah belahan Belanda. Sekitar tahun 1680, Pangeran Puger yang terdesak oleh Amangkurat II dan VOC Belanda melarikan diri ke arah Barat di daerah sekitar Banyumas sehingga terdapat persamaan antara batik Banyumas dengan batik Solo.

Berdasarkan keterangan Bapak Iskandar Tirtabrata selaku ketua koperasi batik Indonesia PERBAIN yaitu bahwasannya batik asli disebut batik Jonas. Nama ”Jonas”

sebenarnya merupakan adaptasi dari batik ”Yonasan” hasil karya pembatik asing bernama Yonas yang bermukim di Solo semasa penjajahan Belanda.

Ciri khas batik Yonasan adalah pada warna sogannya yaitu agak merah kekuningan, mirip sogan hasil karya Hardjonegoro di masa kini sedangkan komposisi warna pada batik Jonas ini yaitu dengan menggunakan warna putih, hitam/ biru pekat,

cokelat/ sogan serta warna merah yang berada di pinggiran kain yang kemudian menjadi ciri khas dari Batik Banyumasan. Warna-warna di dalam motif batik tradisional itu diantaranya warna biru tua pada batik tradisional diartikan sama dengan warna hitam, warna coklat soga diartikan sebagai warna merah, warna hijau digambarkan di dalam motif batik berbentuk garuda serta warna kuning dan putih.

Komposisi bentuk motif Jonas terdiri dari motif flora dan fauna sebagai ornamen tambahan serta terdapat motif bentuk belah ketupat sebagai ornamen utama yang di dalamnya diisi dengan isen-isen ukel sehingga disebut dengan Motif Jonas Ukel. Motif utama terdiri dari bentuk-bentuk belah ketupat. Bentuk belah ketupat yang dipadukan dengan isen-isen bentuk ukel ini menjadi satu kesatuan (unity). Berdasarkan analisis motif utama di atas unsur-unsur desain dapat menciptakan unity, balance dan

harmony. Balance terlihat pada perpaduan warna yang seimbang antara warna sogan/ coklat kekuningan khas Batik Banyumasan dengan warna coklat tua tetapi dengan sentuhan sedikit warna merah pada pinggiran motif sedangkan harmony terlihat pada perpaduan bentuk geometris pada belah ketupat yang cenderung mengesankan tegas, maskulin tetapi terdapat sentuhan motif flora dan fauna yang mengesankan kelembutan dan feminim sehingga menciptakan keselarasan. Maka estetika dari Batik motif Jonas ini dapat dilihat secara visual dari unsur unity antara bentuk belah ketupat yang diisi dengan

isen-isen bentuk ukel, harmony terlihat dari warna serta keselarasan yang terlihat dari keseluruhan bentuk-bentuk dalam motif Batik Jonas tersebut.

Motif Jonas Ukel ini memiliki ciri yaitu terdapat seret merah di bagian pinggirannya dan bisa terbentuk motif tersebut karena secara turun-temurun telah berlaku di kalangan para pembatik.

Kajian estetis pada Motif Batik Jonas Ukel ini terdiri dari beberapa unsur yaitu titik, garis, goresan, bidang, ukuran, warna dan lain sebagainya. Beberapa unsur tersebut merupakan bagian dari bentuk yang dapat dilihat secara visual. Titik yang tersusun membentuk garis-garis dan garis yang terhubung akan membentuk suatu bidang yaitu bidang belah ketupat. Garis yang terdapat pada motif ini tidak hanya berupa bidang tetapi juga diwujudkan dalam isen-isen yaitu bentuk ukel, ukuran masing-masing bentuk motif juga sangat tepat antara besar kecilnya ukuran burung, bunga dan ukuran belah ketupat sedangkan pada goresan berkaitan dengan bagaimana cara seorang pembatik dalam mengekspresikan dirinya pada motif tersebut. Hal ini dapat dilihat dari proses pembuatan pola serta pada proses mencanting kain, jadi tiap motif mempunyai karakter goresan yang berbeda tergantung pada tangan masing-masing pembatik. Dalam motif Jonas Ukel ini, goresan terlihat pada bentuk motif burung dan bentuk motif bunga. Walaupun pada proses pembuatan pola telah terdapat gambar-gambar motif yang akan dibuat dan seorang pembatik hanya memindah gambar motif ke atas kain tetapi jika seorang pembatik tidak mempunyai cita rasa seni yang tinggi maka goresan yang dihasilkan akan berbeda dan berkesan tidak bernilai estetis atau secara visual tidak ada sesuatu yang menarik dari kain batik tersebut.

Komposisi yang tepat antara titik, garis, bidang, goresan dan warna yang baik akan menciptakan suatu nilai estetis yang dapat dilihat secara visual dengan komposisi warna yang menggunakan warna coklat sogan kekuningan khas Banyumasan yang berpadu dengan warna merah pada pinggiran motif tersebut.

Pada bagian tengah motif belah ketupat terdapat isen-isen bentuk ukel serta terdapat beberapa isen-isen bunga kecil. Bunga memiliki makna filosofi yang baik.

Makna bunga adalah indah dan dapat pula diartikan sebagai bagian dari pohon yang dapat menghasilkan biji, buah maupun tanaman yang baru. Berdasarkan pertimbangan makna di atas maka diharapkan Batik Banyumasan yang merupakan salah satu warisan budaya dapat semakin bertambah dan berkembang sehingga kebudayaan khususnya di Banyumas tidak mudah hilang.

Terdapat motif burung Merak pada batik Jonas Ukel ini. Jenis burung Merak bentuknya hampir menyerupai burung Phoenik. Perbedaan yang tampak pada burung

Phoenix yaitu mempunyai ekor yang panjang dan bergelombang. Oleh karena kemiripan dengan burung Merak tersebut maka kesulitan untuk membedakan dengan burung Merak. Burung merak pada zaman Hindu merupakan lambang kendaraan dewa perang Skanda Putera Syiwa dan Prawati. Burung tersebut juga banyak hidup di Kawasan hutan di pesisir. Burung merak tersebut sering muncul dalam seni yang berkembang di Cina dan burung merak tersebut dianggap sebagai lambang kebahagiaan.

Gambar 30. Motif Ayam Puger

a. Bagian-bagian/ isen-isen yang membentuk Motif Ayam Puger

Warna merah sebagai warna khas Bentuk motif Ayam motif pinggiran Batik Banyumasan

Gambar 31. pecah pola yang terdiri dari motif ayam, kurungan ayam dan beberapa motif segitiga dan motif geometris lainnya

Sumber : Sumber : Batik collection Santosa Doellah

2. Analisis Motif Ayam Puger

Komposisi bentuk motif ini yaitu terdapatnya motif ayam sebagai motif utama dan motif-motif geometris yang menjadi ornamen tambahan. Puger adalah sebutan jenis ayam. Nama corak ayam puger ditafsirkan sebagai lambang kepahlawanan Pangeran Puger yang melarikan diri ke Banyumas setelah terdesak oleh Amangkurat II dan VOC Belanda pada saat di Mataram pecah perang saudara. Ragam hias berupa ayam, kurungan ayam, dan beberapa motif segitiga serta motif geometris lainnya. Motif tersebut dibuat secara simetris dan direapet (berulang) satu langkah. Motif tersebut menciptakan balance

(keseimbangan) yang terlihat pada perpaduan warna antara warna sogan kekuningan khas Batik Banyumasan dengan sentuhan warna merah pada pinggiran motif. Dari

keseimbangan tersebut yang berupa perpaduan warna dan bentuk-bentuk motif geometris menjadi satu kesatuan (unity) yang mengesankan tegas, maskulin dan berani yang sesuai dengan makna filosofis pada motif Ayam Puger berkaitan dengan kepahlawanan Pangeran Puger. Walaupun hanya terdapat unsur balance yang berupa perpaduan warna serta unity yang terlihat dari keseluruhan warna dan bentuk tetapi tetap tercipta suatu nilai estetis.

Komposisi warna terlihat pada perpaduan warna sogan kekuningan, hitam serta warna merah. Warna sogan khas Banyumas adalah coklat agak kuning kemerahan dan demikian pula warna latar dengan nuansa yang lebih muda, warna latar inilah yang diadaptasi daerah Ciamis, Tasikmalaya dan Garut dengan nuansa warna yang lebih kuning lembut karena ketiga daerah ini berdekatan letaknya.

Kajian estetis pada motif Ayam Puger ini hanya terlihat pada garis, bidang, ukuran serta warna. Garis yang terhubung membentuk motif geometris yang berupa motif kurungan ayam, motif ayam dan motif geometris lainnya. Ukuran masing-masing motif terlihat dapat menyesuaikan dengan ukuran motif flora yang terdapat pada bagian pinggir motif ini. Oleh karena motif ini merupakan motif Batik cap, jadi tidak terdapat goresan yang mencirikan motif tersebut karena motif yang dihasilkan sesuai dengan bentuk canting cap yang digunakan dan tidak terdapat sentuhan tangan pembatik. Kesemua unsur tersebut berpadu dengan komposisi warna yang tepat antara warna soga

kekuningan khas Batik Banyumasan dan komposisi bentuk antara titik, garis, bidang dan ukuran yang semakin menambah ragam hias pada batik motif ini.

Terdapat makna simbolis dalam Motif Ayam Puger ini. Dalam perlambangan Eropa, ayam jantan dihubungkan dengan matahari yaitu pada saat matahari terbit yang

merupakan tanda peralihan waktu dari malam ke siang dan saat itulah ayam jantan berkokok membangunkan orang dari tidurnya dan melakukan aktivitas kembali kehidupannya.

Di Indonesia, perlambangan ayam jantan juga dikaitkan dengan keberadaan matahari. Pada saat matahari akan terbit yang ditandai dengan kokokan ayam jantan bagi masyarakat di pedesaan dipakai sebagai tanda bagi kaum muslim untuk mengerjakan sholat subuh.

Perlambangan ayam jago selain berkaitan dengan matahari juga dikaitkan dengan lambang kekuatan dan keberanian. Hal ini tampak dari arena adu ayam yang masih berlangsung di Jawa. Pada saat pertarungan ayam jantan tersebut tampak adanya kekuatan, keberanian dan kegagahan seekor ayam jantan.

Gambar 32. Motif Ayam Puger yang telah mengalami perkembangan Sumber : http://visitbanyumas.com

Komposisi bentuk pada motif Ayam Puger ini cenderung lebih bersifat dekoratif.

Jadi motif Ayam, motif kurungan ayam, motif segitiga dan beberapa motif geometris lainnya tidak hanya berkesan mengisi bidang kain batik saja tetapi juga berfungsi untuk menghias batik dengan bentuk sedemikian rupa sehingga Motif Ayam Puger ini terlihat

begitu indah. Motif-motif ini merupakan satu kesatuan (unity) sehingga menciptakan adanya keseimbangan (balance) dan harmony pada batik.

Secara visual Motif Ayam Puger ini hanya menggunakan warna latar putih. Warna coklat tua sebagai warna motif dan sedikit warna hijau yang tidak beraturan di sekitar motif-motif tersebut tetapi dengan penggunaan warna yang sederhana justru menciptakan suatu karya seni yang mengesankan keselarasan (harmony) dan memunculkan karakteristik motif.

Kajian estetis terlihat pada titik, garis, bidang dan goresan, ukuran serta warna. Titik yang terhubung menciptakan garis yang menambah ragam hias pada motif, sedangkan garis yang terhubung membentuk bidang pada motif ayam, kurungan ayam dan motif segitiga. Selain itu terdapat goresan pada motif yang semakin menambah nilai estetis pada motif dengan ukuran yang serasi antara bentuk motif satu dan lainnya. Dapat dilihat bahwa motif ini telah mengalami perkembangan sehingga secara visual juga terlihat sangat menarik dengan komposisi warna yang walaupun sangat sederhana yaitu hanya terdapat warna coklat soga dengan warna putih sebagai warna dasar mori tetapi justru menciptakan adanya keindahan visual pada motif tersebut.

Di Eropa ragam hias ayam jago atau ayam jantan dihubungkan dengan matahari, atau sebagai lambang matahari. Ayam jantan berkokok memperdengarkan suaranya dipagi hari menandakan fajar matahari akan terbit. Ragam hias ayam jantan disebut pula keberanian, karena kebiasaan ayam jantan yang bertemu sesamanya untuk pertama kali pasti berlaga mengadu kekuatan. Di Jawa ayam jantan disebut pula ayam jago. Jago

adalah unggas yang dibanggakan dalam suatu adu kekuatan, kompetisi, lomba, dan sejenisnya. Kebiasaan mengadu ayam jantan di Bali bukan suatu perbuatan kejahatan,

karena ada hubungan dengan upacara keagamaan. Di sisi lain, ayam jantan dapat dipandang dari segi ekonomi karena memiliki nilai tinggi apabila dijual. Selain itu apabila dilihat dari sisi religi ayam jantan dapat dipergunakan sebagai kurban. Ragam hias ayam jantan dapat pula disebut lambang keindahan, karena ayam jantan memiliki bentuk tubuh yang gagah dan bulu yang indah.

Gambar 33. Motif Godong Telo

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

a. Bagian-bagian/ isen-isen yang membentuk Motif Godong Telo

Gambar 34. Pecah pola motif godong telo

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari

3. Analisis Motif Godong Telo

Komposisi bentuk Motif Godong Telo terdiri dari perpaduan motif flora sebagai ornamen utama dan motif batik remukan atau pecahan yang dijadikan sebagai motif dasar pada motif Godong Telo ini dan berfungsi sebagai ornamen tambahan. Motif remukan/ pecahan merupakan motif yang tercipta dari hasil peremasan kain yang telah diberi obat sebelumnya. Proses inilah yang akhirnya menciptakan kesan kain yang kusut atau terdapat garis-garis pada kain.

Pada motif Godong Telo ini merupakan suatu bentuk penggambaran secara

realis dari daun Godong Telo atau Daun Singkong. Daun Singkong merupakan salah satu tanaman yang banyak terdapat di daerah Banyumas dan sekitarnya selain dari tanaman

lumbu atau daun talas, dan karena keindahan batik adalah keindahan sebuah seni hasil cipta karsa dan karya manusia yang tentunya juga dipengaruhi dari beragam budaya sosial termasuk segala sesuatu yang ada di muka bumi, maka hal inilah yang menciptakan adanya motif Godong Telo. Tema alam selalu menjadi trend pada motif-motif batik sehingga bentuk-bentuk motif flora maupun fauna selalu ada pada batik-batik di Indonesia.

Komposisi warna pada Motif Godong Telo yaitu menggunakan warna putih, hitam/ biru pekat sebagai warna daun singkong, serta warna cokelat/ sogan sebagai warna garis-garis pada kain.

Kajian estetis pada motif ini meliputi antara lain titik, garis, bidang, ukuran, goresan serta warna. Titik terlihat pada isen-isen motif bunga sedangkan garis terdapat

pada isen-isen godong telo/daun singkong. Garis-garis yang terhubung sehingga membentuk bidang pada motif godong telo atau daun singkong dan bunga sedangkan goresan tercipta karena sentuhan seorang pembatik yang juga terlihat pada bentuk motif tanaman daun singkong yang terdiri dari bentuk daun, batang serta bunga dengan ukuran yang tepat pada masing-masing motif. Beberapa unsur-unsur tersebut berpadu dengan komposisi warna yang tepat antara warna putih kekuningan khas Batik Banyumasan yang menjadi warna dasar kain serta warna ungu kehitaman pada motif daun singkong yang menambah ragam hias sehingga menambah nilai estetis pada motif tersebut.

Motif Godong Telo ini membedakan dengan motif batik dari daerah lain yaitu bahwasannya di daerah Jawa Tengah seperti Solo atau Jogja, kata ”Telo” yang berarti ubi maka di daerah Banyumas dan sekitarnya kata ”Telo” berarti singkong. Jadi ”Godong Telo” merupakan daun singkong dan bukan daun ubi karena di Daerah Banyumas ubi itu sendiri disebut dengan ”munthul”.

Gambar 35. Motif Jahe Srimpang

Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari a. Bagian-bagian/ isen-isen yang membentuk Motif Jahe Srimpang

Membentuk Motif Jahe Isen-isen bentuk cecek/titik

Gambar 36 . Pecah pola yang membentuk motif Jahe Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari 4. Analisis Motif Jahe Srimpang

Komposisi bentuk Motif Jahe Srimpang hanya menggunakan motif jahe sebagai motif utama dan motif geometris yang terdapat di bagian pinggiran motif yang berfungsi sebagai ornamen tambahan. Motif jahe yang dibuat juga cenderung sama atau monoton sehingga hanya berkesan mengisi bidang-bidang yang kosong. Terdapat isen-isen titik/

cecek di bagian tengah motif jahe tersebut serta terdapat sedikit motif pinggiran berupa motif geometris.

Visualisasi warna yaitu menggunakan warna pelataran hitam, warna merah pada motif Jahe Srimpang sebagai motif utama serta warna putih yang digunakan sebagai

kontur (garis tepi/ garis pinggir) pada motif Jahe.

Motif Jahe Srimpang ini merupakan motif yang tercipta karena suatu bentuk perubahan dari jaman kademangan hingga pada masa sekarang. Hal ini terlihat pada warna Batik Motif Jahe Srimpang dimana pada masa kerajaan mataram semua batik hanya menggunakan warna asli seperti putih, hitam dan coklat/ sogan maka pada masa sekarang kain batik cenderung menggunakan warna-warna yang cerah.

Kajian estetis hanya terlihat pada titik, garis, bidang dan ukuran. Titik terdapat pada isen-isen bentuk cecek di dalam motif jahe, garis yang terhubung membentuk

bidang yaitu pada bentuk bidang berupa motif jahe dengan ukuran yang telah disesuaikan antara bentuk motif yang satu dengan motif yang lain. Pada motif ini tidak terlihat adanya goresan karena motif ini merupakan motif batik cap yang tidak memerlukan sentuhan tangan seorang pembatik.

Makna simbolis pada motif jahe srimpang ini yaitu bahwa Jahe atau orang Banyumas biasa menyebut dengan istilah Jayan/ jahean ini merupakan tanaman apotek hidup yang bermanfaat, yang digunakan sebagai bumbu masakan tertentu dan juga sebagai bahan campuran minuman atau permen sehingga dijadikan pula sebagai motif Batik Banyumasan.

Gambar 37. Motif Jahe Srimpang yang telah mengalami perubahan Sumber: http://www.banyumaskab.go.id

Komposisi bentuk terdiri motif jahe sebagai motif utama atau ornamen utama dan isen-isen sebagai ornamen tambahan. Komposisi tersebut terdiri dari unsur titik, garis, bidang, ukuran, goresan serta warna. Titik terdapat pada isen-isen bentuk cecek

bidang yaitu bidang yang berbentuk motif jahe. Terdapat goresan pada motif karena motif jahe tersebut merupakan batik tulis dengan sentuhan para pembatik sehingga menciptakan kesan yang berbeda dengan bentuk jahe tersendiri dengan ukuran yang berbeda, dengan panjang dan lebar yang tentunya berbeda antara satu motif dengan yang lain. Beberapa unsur tersebut merupakan bagian dari komposisi bentuk yang berpadu dengan komposisi warna yaitu warna merah magenta sebagai warna motif jahe, warna putih kekuningan khas Banyumasan sebagai warna kontur/ garis pada motif serta warna merah kehitaman sebagai warna dasar motif yang menambah ragam hias pada motif tersebut sehingga menciptakan nilai estetis pada batik motif tersebut.

Gambar 38. Motif Jahe Srimpang yang telah mengalami perkembangan Sumber: http://batikzakiyyah.wordpress.com/2009/11/02/batik-banyumasan/

Komposisi bentuk pada Motif Jahe Srimpang yang kedua ini terdiri dari unsur-unsur motif Jahe sebagai motif utama serta terdapat motif tanaman dan hewan lainnya sebagai ornamen tambahan. Seperti terdapat di Daerah lain, di Daerah Banyumas juga sebagian besar menggunakan motif flora dan fauna sebagai tema pada penciptaan kain

batik, bahkan motif flora fauna menjadi ciri dari batik Banyumasan. Motif flora berupa bentuk tanaman jahe dan motif fauna berupa bentuk burung dan bebek serta terdapat

isen-isen berupa cecek sembilan (sembilan titik) di bagian tengah motif jahe serta cecek-cecek yang saling berjajar sehingga membentuk garis pada pinggiran motif jahe tersebut sedangkan pada motif tanamannya terdapat isen-isen titik dan isen-isen sawut.

Komposisi warna pada motif ini terlihat dari warna merah sebagai warna dominan pada motif jahe, serta terdapat warna hitam dan putih pada motif tambahannya. Warna merah adalah simbol dari nafsu amarah, berasal dari unsur api yang disimbolkan motif lidah api. Nafsu amarah berada di dalam darah yang mengalir ke seluruh tubuh dan munculnya lewat indera telinga atau pendengaran. Kesan yang dipancarkan warna merah adalah mengurai tenaga, mempercepat pernafasan. Warna merah mempunyai dorongan ke arah kerja aktif, memenangkan pertandingan, perjuangan, persaingan, erotisme dan produktifitas. Nafsu amarah yang disimbolkan oleh warna merah mempunyai sifat mudah tersinggung, pemarah, keras kepala, pemberontak, sombong dan kejam. Apabila bisa mengendalikan nafsu amarah, maka orang akan bersifat pemberani atas kebenaran, kreatif, bersemangat, teguh dan bersifat kepahlawanan. Nafsu amarah menjadi saluran nafsu-nafsu yang lain dan akan bekerja apabila mendapat daya dan kekuatan nafsu supiyah.

Kajian estetis terlihat pada bentuk titik, garis dan bidang, ukuran serta warna. Bentuk titik terdapat pada isen-isen dalam motif jahe, tanaman jahe serta bentuk fauna sedangkan garis yang membentuk bidang-bidang juga terdapat pada semua motif yang berupa motif jahe, tanaman jahe serta bentuk fauna yang berupa bentuk bebek dengan

ukuran yang telah disesuaikan antara masing-masing motif. Dari beberapa unsur-unsur

Dalam dokumen KAJIAN MOTIF BATIK BANYUMASAN (Halaman 76-108)

Dokumen terkait