BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Jenis, Proses dan Bahan Batik di Banyumas
2. Proses
Proses pembuatan Batik Banyumasan dengan metode batik tulis :
a. Proses pertama yang dilakukan yaitu dengan memotong mori sesuai ukuran yang diinginkan yaitu apakah akan digunakan sebagai batik jenis jarik ataukah akan dibuat baju. Kain batik atau mori yang masih berbentuk piece (geblokan) dipotong-potong menurut panjang kain yang akan dibuat. Untuk membuat kain panjang untuk wanita (kain tapih, jarit), mori kwalita primissima dengan panjang 17,5 yard dan lebar kurang lebih 105 cm (12 inchs) dibagi menjadi 6 potong kain, demikian pula untuk mori kwalita prima, karena ukuran piece-prima sama dengan ukuran piece-primissima. Untuk mori kwalita biru atau medium mempunyai ukuran tiap piece dengan panjang 48 yard (43 m) dan lebar kurang lebih 105 cm
biasanya dipotong menjadi 19 (ukuran batik normal) atau menjadi 20 (ukuran batik sandang). Ukuran yang lain adalah sebagai batik slendang, ikat kepala, sarung, hiasan dinding dan sebagainya. Selesai dipotong-potong kemudian kain tersebut dijahit ujung-ujungnya (diplipit) supaya benang yang paling tepi dengan potongan tidak lepas.
Gambar 1. Proses Penyiapan kain mori
Sumber: http://www.banyumaskab.go.id/seputarbms/batik2.php
b. Setelah itu kain mori dicuci yang biasa disebut dengan istilah nggirah dengan tujuan untuk menghilangkan kanji. Biasanya mori batik diperdagangkan dengan diberi kanji berlebihan agar kain tampak tebal dan berat. Karena kanji tersebut dianggap tidak baik untuk kain yang akan dibatik maka perlu dihilangkan kemudian diganti dengan kanji ringan.
Cara menghilangkan kanji tersebut yaitu dengan cara merendam kain selama semalam dalam air bersih kemudian pada pagi harinya “dikeprok” lalu dibilas dengan air sampai bersih.
Bila mori tersebut akan dibuat mori batik yang halus (kwalita prima atau
primissima) maka mori itu tidak cukup hanya dicuci saja tetapi diketel atau
diloyor. Yang dipakai untuk mengetel pada dasarnya adalah campuran minyak nabati (minyak kacang, minyak klenteng, minyak nyamplung) dan bahan-bahan pembuat alkali (kostik soda, soda abu, air abu atau londo).
Kain dikerjakan dengan campuran tersebut berulang-uleng dengan setiap kali pengerjaan kain dikeringkan atau dijemur.
Pekerjaan ngetel mori ini tidak hanya menghilangkan kanji, melainkan kain mempunyai daya penyerapan lebih tinggi dan menjadi supel tetapi kekuatan kain menjadi berkurang. Proses ini menyerupai proses merser (mercerize) dimana kain dikerjakan dalam larutan alkali dingin.
Gambar 2. Proses pencucian kain Mori yang biasa disebut dengan istilah nggirah
Sumber: http://www.gudangukm.com
c. Tahap berikutnya yaitu pembuatan pola di atas kain. Pola ialah suatu motif batik dalam mori ukuran tertentu sebagai contoh motif batik yang akan dibuat Pembuatan pola terutama dilakukan untuk pengerjaan batik tulis sedangkan untuk
batik cap tidak memerlukan pola . Pembuatan pola dilakukan dengan menggunakan pensil agar pola tidak membekas pada kain. Caranya yang dilakukan yaitu dengan meletakkan motif batik yang telah dibuat di atas kertas tembus pandang dan diletakkan di atas meja kaca yang di bawahnya telah diberi lampu. Selanjutnya, kain mori diletakkan di atas kertas yang telah berpola itu dan motif batik digambar sesuai dengan pola batik di bawahnya dengan pensil.
Ukuran pola ada dua macam. Pola A ialah pola yang panjangnya selebar mori. Pola B ialah pola yang panjangnya sepertiga mori, atau sepertiga panjang pola A. jika pola A 1/4 kacu, pola B 1/12 kacu maka Pola A 1/2 kacu dan pola B 1/6 kacu.
Yang dimaksud pola 1/4, 1/2 atau 1/3 kacu ialah lebar pola 1/4, 1/2, atau 1/3 ukuran sebuah sisi sekacu mori. “Kacu” merupakan istilah dalam ukuran tradisionil. Kacu ialah sapu tangan, yang biasanya berbentuk bujur sangkar. Maka yang disebut “sekacu” ialah ukuran perseginya mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Jadi panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain. Tetapi pada kenyataannya bahwa ukuran pola A dan B sering tidak seperti yang dikatakan di atas, karena masing-masing tidak digunakan dalam selembar mori, atau karena ukuran lebar mori tidak selalu sama.
Gambar 3. Kain yang telah dipola Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
d. Setelah selesai dipola/ digambari kemudian dibatik dengan malam/ lilin menggunakan canting yang biasa disebut dengan istilah dikandangi/ dicantangi
dengan mengikuti pola tersebut serta menyesuaikan kondisi malam dengan tebal/ tipisnya kain dan panas yang cukup. Pelekatan lilin pertama yang akan membentuk kerangka motif batik ini disebut dengan istilah Nglowong atau
mencap klowong. Pelekatan lilin batik pada kain bertujuan untuk membuat motif batik yang dikehendaki. Fungsi dari lilin batik adalah untuk menolak warna yang diberikan ke atas kain pada pengerjaan berikutnya.
Gambar 4. Proses Nglowong/ dibatik garis luarnya menggunakan Canting
Sumber: Arsip tempat usaha Batik Banyumasan di Desa Pakunden
e. Proses selanjutnya adalah proses Nerusi. Seperti yang telah disebutkan bahwa Batik Banyumasan mempunyai ciri yaitu dilakukan proses pencantingan
sebanyak 2 kali atau bahkan 3 kali yang mengakibatkan proses pembuatan memakan waktu yang lama. Nerusi yaitu membatik tembusan malam dengan cara membalik kain yang telah dibatik pertama. Proses nerusi ini berfungsi agar pada saat proses pencelupan warna, kain batik yang diberi malam tidak kemasukan warna.
Gambar 5. Proses Nerusi/ dibatik persis dengan tembusannya Sumber : Arsip tempat usaha Batik Banyumasan di Desa Pakunden
f. Langkah berikutnya adalah memberi isen atau isi dengan motif tambahan berupa
cecek atau titik-titik serta menambah motif dalam sketsa dengan ornamen atau
ragam hias yang dapat menghidupkan pola. Dalam proses ini dapat terjadi beberapa kegiatan tergantung motif atau ragam hias yang diinginkan. Selain terdapat beberapa kegiatan dalam membatik, canting yang dipergunakan juga beraneka ragam sesuai dengan ragam hias. Beberapa kegiatan tersebut dilakukan satu persatu dan setiap bagian harus selesai terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap yang lain.
Terdapat beberapa kegiatan dalam tahapan ini yang antara lain :
1. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik yang disebut dengan istilah nyeceki.
2. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik berjumlah tiga dengan
Canting Telon yang disebut dengan istilah Neloni.
3. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik berjumlah empat dengan Canting Prapatan yang disebut dengan istilah Mrapati.
4. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik berjumlah lima dengan Canting Liman disebut Ngliman.
5. Pekerjaan membatik yang membuat motif titik-titik berjumlah genap empat atau paling banyak enam dengan menggunakan Canting Galaran
Gambar 6. Proses memberi isen-isen
Sumber: Arsip tempat usaha Batik Banyumasan di Desa Pakunden
g. Jika menginginkan warna blok putih (putihnya kain) maka kain ditutup dengan
malam tembok bolak-balik yang biasa disebut dengan nemboki. Nemboki
merupakan proses menutup bidang yang mempunyai ukuran besar atau bidang rata berupa blok-blok. Cara yang dilakukan yaitu dengan menutup bagian kain dengan mempergunakan canting cucuk besar atau mempergunakan kuas.
Gambar 7. Kain yang telah ditemboki Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
h. Proses selanjutnya diwarnai (di-wedel) dengan zat warna napthol, garam hitam dan garam biru dengan cara dicelup. Cara tersebut dikenal dengan system Medel
atau Wedel. Medel adalah memberi warna biru tua pada kain setelah kain selesai ditulis atau dicap klowong dan dicap tembok. Medel adalah warna pertama yang diberikan pada kain. Pada zaman dahulu yang digunakan untuk medel adalah Nila dari daun indigofera atau daun tom, tetapi sekarang yang dipergunakan adalah zat warna napthol karena pencelupan hanya dilakukan sekali dan tidak perlu dilakukan berulang-ulang.
Gambar 8. Proses wedel dengan warna hitam. Proses ini merupakan proses pencelupan pertama
Sumber: http://ariesvisualart.blogspot.com/2009_05_01_archive.html
i. Kemudian dijemur dan dikeringkan. Proses penjemuran kain batik ini bertujuan untuk memaksimalkan warna pada kain. Oleh karena zat warna napthol sangat dipengaruhi oleh sinar matahari, maka apabila pada saat proses penjemuran tidak terdapat sinar matahari maka warna yang dihasilkan juga tidak terlalu baik, tidak cerah dan cenderung berwarna kusam.
Gambar 9. Proses Penjemuran kain yang bertujuan untuk memaksimalkan warna Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
j. Setelah itu menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara di-lorod.
Lorod atau Lorodan yaitu menghilangkan malam batik secara keseluruhan dengan cara memasukkan ke dalam air panas sehingga malam lepas dari kain. Cara penghilangan malam ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan cara
lorodan dan mengerok. Mengerok yaitu menghilangkan malam sebagian dengan cara melepaskan malam pada tempat-tempat tertentu dengan cara menggaruk.
Pengerjaan ini biasanya disebut dengan ngerok atau ngerik atau dalam istilah Banyumasan disebut dengan ngicik atau di-kicik. Untuk me-ngicikmalam tersebut digunakan alat yang menyerupai pisau terbuat dari seng. Maksud me-ngicik kain adalah untuk membuka kain yang telah dimalam dan selanjutnya diberi warna
Gambar 10. Proses Pelorodan yaitu menghilangkan malam pada kain Sumber: http://heritageofjava.com/portal/article.php?story=2009032701525060
k. Dijemur dan dikeringkan kembali. Penjemuran kain pada tahap ini bertujuan untuk mempermudah proses selanjutnya yaitu proses mbironi. Jika kain tidak dijemur dan dikeringkan maka kain masih dalam keadaan basah sehingga malam tidak akan menempel pada kain.
Gambar 11. Proses Penjemuran tahap kedua atau diangin-anginkan yang bertujuan untuk mempermudah pada proses selanjutnya yaitu proses mbironi
l. Dilakukan proses mbironi yaitu kain setelah dikerok pada bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecek/titik-titik) perlu ditutup dengan lilin menggunakan canting tulis. Hal ini dimaksudkan agar bagian tersebut tidak kemasukan soga apabila disoga tahap kedua.
Gambar 12. Proses Mbironi yaitu menutup kembali bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih dengan menggunakan malam
Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
m. Proses selanjutnya nyoga yaitu kain yang telah dibironi lalu diberi warna coklat/
disoga yang pada zaman dahulu digunakan kulit kayu tetapi pada masa sekarang sebagian besar tempat usaha batik di Banyumas mempergunakan zat warna sintetis yaitu zat warna soga ergan. Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian ditiris hingga kering. Proses ini diulang hingga mendapatkan warna coklat yang diinginkan dan biasanya proses ini dapat selesai dalam waktu satu hari.
Gambar 13. Proses Nyoga yaitu kain yang telah dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan zat warna soga ergan.
Sumber: http://www.banyumaskab.go.id/seputarbms/batik2.php
n. Menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku. Proses ini dapat dilakukan berulangkali sesuai banyaknya warna dan kompleksitas batik.
Gambar 14. Tungku yang digunakan untuk melorod kain, Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
o. Terakhir adalah dicuci dan dijemur. Proses pencucian dan penjemuran disini merupakan tahap terakhir. Proses pencucian kain dilakukan di Sungai yang mengalir agar proses penghilangan lilin atau bahkan kotoran-kotoran pada kain semakin mudah.
Gambar 15. Proses Pencucian kain Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
Proses pembuatan Batik Banyumasan dengan metode batik cap :
1. Bahan (misal mori) dicap sesuai motif cap yang dikehendaki dengan cara mencelupkan alat cap tersebut ke lilin panas dan kemudian ditekan pada kain. Berdasarkan pada motif batik dan bentuk capnya maka terdapat beberapa cara menyusun cap pada permukaan kain yang disebut dengan jalannya pencapan/
Beberapa jalannya pencapan yang biasa digunakan di daerah Banyumas antara lain:
a. Sistem tubrukan merupakan jalannya pencapan yang bergeser satu langkah ke kanan dan satu langkah ke muka.
b. Sistem onda-ende merupakan jalannya pencapan yang bergeser setengah langkah ke kanan dan satu langkah ke muka atau satu langkah ke kanan dan setengah langkah ke muka.
c. Sistem parang merupakan jalannya pencapan menurut arah garis miring yang bergeser satu langkah atau setengah langkah dari sampingnya.
Gambar 16. Proses pencapan pertama pada kain Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
2. Proses pewarnaan diwarnai dengan cara dicelupkan ke dalam pewarna. Celupan
adalah pemberian warna kain yang telah dicap klowong dan dicap tembok dengan cara dicelupkan pada kolam yang berisi zat pewarna yang biasa disebut dengan
system medel atau wedel. Seperti halnya pada proses batik tulis, maka pada proses batik cap ini juga dilakukan proses wedel dan pewarna yang digunakan adalah
napthol, garam hitam dan garam biru. Pewarna napthol merupakan zat warna yang tidak dapat bereaksi sendiri ,maksudnya bahwa zat warna ini tidak akan menghasilkan warna jika tidak dibangkitkan, maka garam pada proses ini berfungsi untuk membangkitkan warna. Setelah dilakukan proses pencelupan dengan zat warna napthol selanjutnya dilakukan proses pencelupan ke dalam cairan berisi garam hitam dan garam biru.
Gambar 17. Bak untuk proses pencelupan pertama Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
3. Tahap berikutnya adalah proses penjemuran. Seperti dalam proses penjemuran pada batik tulis, maka pada proses penjemuran batik cap ini juga bertujuan untuk memaksimalkan warna karena pewarna napthol merupakan jenis pewarna yang dipengaruhi oleh ada atau tidaknya sinar matahari. Jadi semakin panas sinar maka warna batikpun juga akan semakin tajam/ cerah.
Gambar 18. Proses penjemuran yang bertujuan untuk memaksimalkan warna Sumber: http://www.banyumaskab.go.id/seputarbms/batik2.php
4. Setelah itu dilakukan cap tahap kedua. Proses pencapan tahap kedua ini bertujuan sama seperti mencanting tahap kedua pada proses batik tulis. Jadi proses pencapan ini sama halnya seperti nerusi pada proses batik tulis. Karena ciri dari batik Banyumasan memang selalu dilakukan proses pemalamam sebanyak dua kali bahkan tiga kali maka selain dilakukan pada batik tulis juga dilakukan pada batik cap.
Gambar 19. Proses cap tahap kedua Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
5. Pewarnaan tahap kedua. Proses pewarnaan tahap kedua bertujuan untuk memperkuat warna. Supaya warna yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan yang diharapkan maka dilakukan kembali proses pewarnaan tersebut.
Gambar 20. Proses Pewarnaan tahap kedua
Sumber: http://www.banyumaskab.go.id/seputarbms/batik2.php
6. Tahap selanjutnya yaitu diaci. Aci merupakan sejenis bahan semacam tepung pati yang prosesnya dicampur dengan menggunakan air mendidih yang ditambahkan air dingin dan diaduk, setelah itu kain baru dimasukkan ke dalam cairan tersebut. Aci ini digunakan dengan tujuan agar lilin tidak melekat kembali ke kain dengan perbandingan 5 kodi kain digunakan 1 kg aci.
Gambar 21. Bahan aci yang digunakan pada proses sebelum nglorod dengan tujuan agar lilin tidak melekat kembali ke kain.
Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari
7. Tahap berikutnya nglorod yaitu membersihkan seluruh lilin yang masih ada pada kain dengan cara dimasak dalam air mendidih.
Sumber: http://digilib.unnes.ac.id/gsdl
8. Terakhir adalah dicuci/dibersihkan dan dijemur.
Gambar 23. Proses menjemur kain Foto: Dokumentasi April Liana Puspitasari