BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Motif-Motif yang Melatarbelakangi Pelacuran
Isi pelacuran, atau motif-motif yang melatar belakangi tumbuhnya pelacuran pada wanita itu beraneka ragam. Dibawah ini disebutkan beberapa motif, antara lain ialah :
a. Adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran.
b. Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks. Hysteris dan hyperseks, sehingga tidak merasa puas mengadakan relasi seks dengan satu pria/suami.
c. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan, dan pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik.
d. Aspirasi materiil yang tinggi pada diri wanita dan kesenangan ketamakan terhadap pakaian-pakaian indah dan perhiasan mewah. Ingin hidup bermewah-mewah, namun malas bekerja.
e. Kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferior. Jadi ada adjustment yang negative, terutama sekali tarjadi pada masa puber dan adolesens.
Ada keinginan untuk melebihi kakak, ibu sendiri, teman putri, tante-tante atau wanita-wanita mondain lainnya.
f. Rasa ingin tahu gadis-gadis cilik dan anak-anak puber pada masalah seks, yang kemudian tercebur dalam dunia pelacuran oleh bujukan banditbandit seks.
g. Anak-anak gadis memberontak terhadap otoritas orang tua yang menekankan banyak tabu dan peraturan seks. Juga memberontak terhadap masyarakat dan norma-norma susila yang dianggap terlalu mengekang diri anak-anak remaja , mereka lebih menyukai pola seks bebas.
h. Pada masa kanak-kanak pernah malakukan relasi seks atau suka melakukan hubungan seks sebelum perkawinan (ada premarital sexrelation) untuk sekedar iseng atau untuk menikmati “masa indah” di kala muda.
i. Gadis-gadis dari daerah slum (perkampungan-perkampungan melarat dan kotor dengan lingkungan yang immoral yang sejak kecilnya selalu melihat persenggamaan orang-orang dewasa secara kasar dan terbuka, sehingga terkondisikan mentalnya dengan tindak-tindak asusila). Lalu menggunakan mekanisme pelacuran untuk mempertahankan hidupnya.
j. Bujuk rayu kaum laki-laki dan para calo, terutama yang menjajikan pekerjaan-pekerjaan terhormat dengan gaji tinggi.
k. Banyaknya stimulasi seksual dalam bentuk : film-film biru, gambar-gambar porno, bacaan cabul, geng-geng anak muda yang mempraktikkan seks dan lain-lain.
l. Gadis-gadis pelayan toko dan pembantu rumah tangga tunduk dan patuh melayani kebutuhan-kebutuhan seks dari majikannya untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.
m. Penundaan perkawinan, jauh sesudah kematangan biologis, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan standar hidup yang tinggi. Lebih suka melacurkan diri daripada kawin.
n. Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga, broken home, ayah dan ibu lari, kawin lagi atau hidup bersama dengan partner lain.
Sehingga anak gadis merasa sangat sengsara batinnya, tidak bahagia, memberontak, lalu menghibur diri terjun dalam dunia pelacuran.
o. Mobilitas dari jabatan atau pekerjaan kaum laki-laki dan tidak sempat membawa keluarganya.
p. Adanya ambisi-ambisi besar pada diri wanita untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, dengan jalan yang mudah tanpa kerja berat, tanpa suatu skill atau ketrampilan khusus.
q. Adanya anggapan bahwa wanita memang dibutuhkan dalam bermacammacam permainan cinta, baik sebagai iseng belaka maupun sebagai tujuan-tujuan dagang.
r. Pekerjaan sebagai lacur tidak membutuhkan keterampilan/skill, tidak memerlukan inteligensi tinggi, mudah dikerjakan asal orang yang bersangkutan memiliki kacantikan, kemudaan dan keberanian.
s. Anak-anak gadis dan wanita-wanita muda yang kecanduan obat bius (hash-hish, ganja, morfin, heroin, candu, likeur/minuman dengan kadar
alkohol tinggi, dan lain-lain) banyak menjadi pelacur untuk mendapatkan uang pembeli obat-obatan tersebut.
t. Oleh pengalaman-pengalaman traumatis (luka jiwa) dan shock mental misalnya gagal dalam bercinta atau perkawinan dimadu, ditipu, sehingga muncul kematangan seks yang terlalu dini dan abnormalitas seks.
u. Ajakan teman-teman sekampung/sekota yang sudah terjun terlebih dahulu dalam dunia pelacuran.
v. Ada kebutuhan seks yang normal, akan tetapi tidak dipuaskan oleh pihak suami.
Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang melatarbelakangi seseorang memasuki dunia pelacuran dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa rendahnya standar moral dan nafsu seksual yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan faktor eksternal berupa kesulitan ekonomi, korban penipuan, korban kekerasan seksual dan keinginan untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi.
PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan berupa hasil dari pembahasan data dan informasi yang telah di peroleh di lokasi penelitian, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. PSK berasal dari keluarga menengah kebawah dan kehidupan keluarganya tidak harmonis. Hasil penelitian menunjukka bahwa, faktor ekonomi yang memaksa mereka untuk bekerja sebagai PSK dan juga akibat dari pergaulan bebas karena kurang mendapatkan perhatian mengakibatkan mereka melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri. Komunikasi yang kurang lancar, menjadi hal yang membuat hubungan orang tua dan anak menjadi renggang, dan anak lebih senang menghabiskan waktu diluar, dari pada berada dirumah.
2. Pelaku atau pekerja seks komersial berjumlah 5 0rang yang berumur 20 – 22 tahun. Cara berpakaian dan cara bergaul seperti merokok,minum minuman keras bahkan ada yang mengkomsumsi narkotika jenis ringan menunjukkan bahwa mereka adalah pekerja seks komersial yang setiap malam hari menghabiskan waktu dengan mangkal di sepanjang jalan nusantara untuk menunggu laki-laki hidung belang yang ingin memakai jasanya.
3. Bekerja sebagi pekerja seks komersial memang tidak mudah karena merupakan pekerjaan yang bersifat menyimpang yang menimbulkan dampak negatif seperti menyebarkan penyakit kulit seperti HIV/ AIDS, dapat merusak
57
sendi-sendi kehidupan dan keberadaannya kurang diterimah oleh masyarakat sekitar.
B. Saran
Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian maka dibawah ini peneliti memberikan saran pada semua PSK khususnya yang berada di Kota Makassar, serta orang-orang diluar dari mereka, misalnya kawan-kawan Mahasiswa dan Mahasiswi, dalam menyikapi keberadaan PSK serta dalam menyikapi kegiatan dalam hal ini gaya hidup PSK di Kota Makassar, sebagai berikut:
1. Diharapkan orang tua juga mengambil peranan yang penting dalam proses pergaulan anaknya dalam hal ini mereka yang PSK. Sebab rata-rata dari mereka kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tua mereka, sehingga saat mengalami permasalah, seringkali melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri.
2. Diharapkan pemerintah khususnya dinas kesehatan melakukan penyuluhan mengenai dampak mengkomsumsi minuman keras dan narkoba jenis ringan, serta pengelola tempat pelaku menghabiskan waktu, harus lebih memperhatikan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Dengan membatasi kegiatan tersebut diharapkan dapat mengurangi kegiatan yang mengarah pada hal-hal yang negatif.
George Ritzer, 2011. Sosiologi Ilmu Berpengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: Rajawali Pers.
George Ritzer.2010. Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam. Jakarta: Kencana Henslin, M James, 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Hidayatullah, Syarif, 2010. Teologi Feminisme Islam, Yongyakarta : Pustaka Pelajar.
Ibrahim Subandi Idi, 1997. Ecstasy Gaya Hidup, Bandung : Penerbit Mizan Anggota IKAPI.
Idrus Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Penerbit Erlangga.
James.M.Henslin. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Edisi 6 Jilid 2.
Erlangga
James.M.Henslin. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Edisi 6 Jilid 1.
Erlangga
Kartono, Kartini, 2006. Psikologi Wanita 1 Mengenal Gadis Remaja & Wanita Dewasa, Bandung : Mandar Maju.
Narwoko J. Dwi, Suyanto Bagong. 2011 Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Kencana.
Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rawali Press
Ulber Silalahi. 2012. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama Usman Husaini, 2011. Metodologi Penelitian Sosial, Edisi Kedua Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
59
a
m
p
i
r
a
n
PEDOMAN WAWANCARA Identitas Informan
1. Nama :
2. Umur :
3. Jenis kelamin :
4. Status :’
5. Pendidikan terakhir :
Pedoman wawancara
1. Apakah yang menyebabkan sehingga anda menjadi pekerja seks komersial ? 2. Sudah berapa lama anda bekerja sebagai PSK?
3. Apakah anda sudah berkeluarga?
4. Apakah anda merasa nyaman dengan pekerjaan anda sebagai PSK sekarang?
5. Apakah anda tidak ingin berhenti dan mencari pekerjaan lain?
memiliki tiga orang saudara kandung yakni; Sarinah H..
dan Sariah.
Pendidikan yang pernah ditempuh adalah Sekolah MI No.33 Talaga (2005), SMP Negeri 3 Lappariaja (2008), SMA Negeri 1 Lappariaja (2011). Dan pada tahun 2011 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar melalui jalur SPMB mengambil jurusan Pendidikan Sosiologi dan selesai pada tahun 2015 dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).
105380224611
Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaku atau pekerja seks komersial di Kota Makassar yang meliputi beberapa faktor yakni, pendorong menjadi pekerja seks komersial, gaya hidup dan dampak yang ditimbulkan.
Adapun subjek dalam penelitian ini adalah 5 orang pekerja seks komersial yang bertempat tinggal di Kota Makassar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif Deskriptif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati selama melakukan penelitian ini. Dasar penelitian yang digunakan adalah studi kasus, dimana penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap objek penelitan guna menjawab permasalahan dari peneliti.
Sedangkan tipe penelitian adalah tipe penelitian, snowball sampling. prosedur pemilihan bola salju ini dilakukan secara bertahap. Pertama-tama, diidentifikasi orang yang dianggap dapat memberi informasi untuk diwawancara. Kemudian orang ini dijadikan sebagai informan untuk mengidentifikasikan orang lain sebagai sampel yang dapat memberi informasi yang dibutuhkan tentang pekerja seks komersial di kota Makassar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bekerja sebagai pekerja seks komersial karena beberapa faktor. pertama, faktor ekonomi. Ekonomi yang dimaksud adalah tidak tercukupinya kebutuhan sehari-hari sehinngga mereka rela menjual diri demi kebutuhan hidup. Kedua, faktor pergaulan,pergaulan bebas yang merupakan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada seperti melakukan hal-hal yang mengarah pada hal negatif, khususnya
mendapatka perhatian dari suami dan akhirnya bercerai. Kegiatan-kegiatan diatas, menjadi salah satu faktor dari pekerja seks komersial di Kota Makassar.
Kata Kunci : Pekerja seks komersial, perilaku menyimpang
Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang hidup bersama-sama di masyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena kepentingan yang sama. Oleh karena itu, pergaulan antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat merupakan suatu yang tidak dapat di hindari.Ini merupakan sebuah realitas dan tidak dapat pula di pungkiri bahwa ketika terjadi interaksi, sering kali muncul rasa suka atau senang satu sama lain. Namun naluri ini sering disalahgunakan, dengan mengatasnamakan kebebasan, hubungan laki-laki dan perempuan yang semula merupakan hubungan tolong-menolong dan kerja sama antara sesama manusia berubah menjadi hubungan “jinsiyah” atau hubungan kejantanan dan kebetinaan.
Muncul pengertian bahwa hubungan pria dan wanita hanyalah sebatas hubungan atas dasar kecintaan yang sebenarnya untuk memuaskan hawa nafsu (seksualitas) semata. Untuk mewujudkan itu, maka diciptakanlah sarana-sarana yang dapat membangkitkan naluri seksual, melalui media masa (media cetak maupun media elektronik) yang berpengaruh terhadap munculnya naluri tersebut.
Bisa dilihat bagaimana tayangan iklan, mode busana, film dan sinetron yang semuanya menggambarkan perilaku pergaulan bebas muda-mudi dan secara jelas menjurus ke arah pornografi dan pornoaksi. Sementara di masyarakat, pacaran dan segala bentuk aktivitas (seperti duduk berduaan berbicara sambil berpegangan tangan, jalan berdua, berciuman dan seterusnya) di anggap merupakan hal yang biasa dan sesuai dengan trend masa kini.
Sebaliknya orang yang membatasi diri dalam bergaul dianggap kuper, kuno, tidak normal dan seterusnya. Akibatnya, terjadi kerusakan akhlak dan
merupakan gejala patologi sosial yang ada di masyarakat, menggerogoti dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. Kasus hamil diluar nikah, pelecehan seksual, aborsi, penyakit kelamin dan yang paling parah penyakit HIV/AIDS, merupakan bukti yang menunjukan bahayanya masalah ini bagi tatanan sosial dalam masyarakat.
Pada masa lalu eksploitasi terhadap wanita di kenal sebagai sebuah fenomena. Seiring perkembangan pengetahuan, diketahui bahwa ada bentuk-bentuk pekerja wanita yang bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang mudah dicari dan banyak menghasilkan keuntungan yang sekaligus sebagai pekerjaan yang tercela bagi seorang wanita. Satu bentuk pekerjaan tersebut yaitu pekerjaan yang terjun dalam dunia pelacuran. Tidak bisa ditolerir tindakan yang melibatkan wanita-wanita dalam pekerjaan yang tercela ini. Mereka melakukan pekerjaan tercela ini atau terjerumus ke dunia pelacuran ini karena adanya faktor ketidak mampuan keluarga dan ketidakmampuan masyarakat melindungi mereka dan lain-lain. Faktor budaya dan pemahaman agama yang sempit yang menempatkan wanita dalam posisi inferior dan pria pada posisi superior merupakan juga salah satu penyebabnya. Sayangnya persoalan ini jarang sekali diangkat sebagai suatu prioritas utama. Hal yang sama, juga terjadi dalam hal peningkatan kesehatan terhadap wanita, maupun pekerjaan wanita.
Pelacuran atau yang juga sering disebut prostitusi (berasal dari bahasa Latin pro-stituere) secara sederhana dapat diartikan “membiarkan diri melakukan persundalan, perzinaan, percabulan, dan pergendakan”. Pelacuran adalah penyerahan diri secara badaniah seorang wanita untuk pemuasan laki-laki siapapun yang menginginkannya dengan pembayaran. Pekerja seks komersial dan pelacuran pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, hal tersebut dapat dilihat dari pengertian pelacuran yang dikemukakan oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar (1984:10-11) bahwa:
sebentar-sebentar dengan banyak orang”.
Pelacuran adalah pekerjaan paling tua di dunia dan fungsional dalam sistem sosial masyarakat selama berabad-abad. Sebenarnya, pelacuran dan pornografi merupakan eksploitasi seksual dan komersial atas kaum perempuan, merendahkan harkat dan martabat perempuan. Ini sebenarnya justru menjadi pelanggaran hak azasi manusia (HAM). Di beberapa negara, undang-undang anti pelacuran telah ditetapkan, karena dianggap sebagai salah satu eksploitasi seksual dan komersial atas perempuan.
Exploitation de’l homme par l’homme adalah satu kata yang dibenci oleh setiap orang yang cinta akan kemerdekaan, namun, tanpa disadari eksploitasi manusia atas manusia itu dilaksanakan secara bersama-sama. Laki-laki mengeksploitasi perempuan, dan perempuan mengeksploitasi rekan sejawatnya.
Mengapa perempuan paling banyak dieksploitasi? Ada suatu budaya yang sengaja dihembuskan sehingga perempuan adalah merupakan sesuatu obyek yang menarik. Budaya salah kaprah dengan dibungkus modernisasi itulah yang berhembus sehingga membuat perempuan ikut mengeksploitasi rekan sejenisnya.
Memang hanya laki-laki yang tidak bertanggungjawab yang melakukan ekploitasi ini, akan tetapi selanjutnya perempuanlah yang asyik mengeksploitasi dirinya sendiri.
Bergantung kepada "kelas"-nya, maka para pelacur punya "daerah operasi" yang berbeda. Di antara mereka ada yang beroperasi di jalan-jalan ramai (itulah: "lubang jalan-jalan"), ada yang di kompleks lokalisasi. Ada yang menunggu panggilan di rumah tertentu (karena dipanggil itulah, maka ada istilah
“call girl” --wanita panggilan, atau bisa juga disebut “taxi girl”, karena datangnya dengan berkendaraan taksi). Dan mereka melakukan itu tentu memiliki sebab atau alasan kuat yang mendorong mereka untuk tetap berkerja pada pekerjaan yang menurut sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak baik atau
kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Selain itu pelacuran disebabkan oleh rendahnya pendidikan dan peluang kerja. Kemiskinan juga membuka peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik secara fisik, psikis maupun seksual yang menyebabkan terjadinya cedera, perceraian, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang pada gilirannya membuat perempuan terjerumus dalam prostitusi. Belum lagi dengan merebaknya pornografi dan gaya hidup bebas yang membuat semakin banyak saja terjadi kasus kehamilan di luar nikah, dengan minimnya tingkat pendidikan sementara ia punya tanggung jawab untuk mengasuh anaknya maka menjadi PSK adalah solusi yang termudah.
Pelacuran menyimpan kompleksitas yang tidak mudah diurai dan memendam persoalan dilematis yang gawat. Tidak ada orang yang benar-benar bercita-cita dan memilih menjadi pelacur, meski juga tidak jarang yang gampang menjalani pekerjaan sebagai PSK secara sadar dan profesional karena desakan hidup yang tidak terhindarkan. Tetapi tidak gampang menemukan jawaban yang sebenarnya mengapa seseorang menjadi PSK.
Menghapuskan sama sekali kegiatan para PSK seperti rencana penutupan lokalisasi atau operasi penertiban tampaknya tidak mungkin. Justru ini akan menimbulkan dampak lain dan tidak menyelesaikan masalah. Barangkali yang paling mungkin adalah tindakan agar dampak negatif yang ditimbulkannya tidak meluas ke masyarakat, misalnya dampak kesehatan yaitu munculnya PMS termasuk HIV-AIDS. Untuk itu perlu dipahami latar belakang dan motivasi mereka menjadi PSK; apakah oleh faktor ekonomis, faktor psikologis, biologis, bahkan mungkin politis.
Kajian Pustaka
Menurut Bruce J Cohen (dalam buku terjemahan Sahat Simamora), Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma atau
Definisi perilaku menyimpang yang di kemukakan oleh Clinard & meier dalam J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (2011:103-105) didefinisakan secara berbeda berdasarka empat sudut pandang. Pertama Definisi secara statistikal adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan. Pendekatan ini berasumsi, bahwa sebagian besar masyarakat di anggap melakukan cara-cara dan tindakan yang benar.
Kedua, Secara absolut atau mutlak. Definisi perilaku menyimpang yang berasal dari kaum absolutis ini berangkat dari aturan-aturan sosial yang dianggap sebagai sesuatu yang “mutlak” atau jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu,serta berlaku tanpa terkecuali, untuk semua warga masyarakat.kelompok absolutis berasumsi, bahwa aturan-aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan anggota-anggotanya harus menyetujui tentang apa yang disebut sebagai menyimpang dan bukan.
Ketiga, secara reaksi. Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis bila berkenaan dengan reaksi masyarakat atau agen kontrol sosial terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Artinya, apabila ada reaksi dari masyarakat atau agen kontrol sosial dan kemudian mereka memberi capatau tanda (lebeling) terhadap si pelaku, maka perilaku itu telah di cap menyimpang, demikian pula si pelaku juga dikatakan menyimpang. Menurut becker dalam j. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (2011:104), penyimpanga adalah suatu akibat yang kepada siapa cap itu telah berhasil diterapakan; perilaku menyimpang adalah perilaku yang dicapkan kepadanya atau orang lain telah memberi cap kepadanya. Keempat, secara normatif. Sudut pandang ini didasarkan atas asumsi , bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial.
Seorang Profesor Sosiologi di Universitas Durham yaitu David Chaney mengkaji persoalan gaya hidup secara lebih komprehensif dan didasarkan dari berbagai perspektif. Menurut Gaya Hidup haruslah dilihat sebagai suatu usaha
atau simbolik; tapi ini juga berarti bahwa gaya hidup adalah cara bermain dengan identitas. ”Atau dengan kata lain : “Gaya hidup adalah suatu cara terpola dalam pergaulan, pemahaman, atau penghargaan artefak-artefak budaya material untuk mengasosiasikan permainan kriteria status dalam konteks yang tidak diketahui namanya”.
Noeleen Heyzer dalam bukunya Dr. Bagong Suyanto (1986: 160 ) membedakan tiga macam tipe pelacur menurut hubungannya dengan pengelola bisnis pelacuran.
a. pelacur yang bekerja sendiri tanpa calo atau majikan. Mereka sering beroperasi di pinggir jalan atau masuk satu bar ke bar yang lain.
b. pelacur yang memiliki calo atau beberapa calo yang saling terkait secara hierarkis. Biasanya, si pelacur hanya memperoleh sebagian kecil dari uang yang dibayarkan kliennya.
c. pelacur yang berada di bawah naungan sebuah lembaga atau organisasi mapan. Contohnya, panti pijat, lokalisasi, dan hotel-hotel.
Menurut Commemge dalam Tjahjo Purnomo (1985:10) prostitusi atau pelacuran adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya, yang dilakukan untuk memperoleh bayaran dari laki-laki yang datang kepada wanita tersebut. Kartini kartono (1992:207) medefinisikan prostitusi atau pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran
Soerjono Soekanto (1990:374) mengatakan prostitusi atau pelacuran merupakan suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Kartini Kartono (1992 : 207) mendefinisikan prostitusi atau pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran.
pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran
Soerjono Soekanto (1990:374) mengatakan prostitusi atau pelacuran merupakan suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Kartini Kartono (1992 : 207) mendefinisikan prostitusi atau pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan pendekatan Kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif
Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan pendekatan Kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif