• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik Pengabsahan Data

Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Maleong, 2006:330).

Keabsahan data dimaksud untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan dan memperjelas data dengan fakta-fakta aktual di lapangan. Dalam penelitian kualitatif keabsahan data lebih bersifat sejalan seiring dengan proses penelitian itu berlangsung. Keabsahan data kualitatif harus dilakukan sejak awal pengambilan data, yaitu sejak melakukan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas infomasi yang diperoleh dari pekerja seks komersial. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasi wawancara. Membandingkan apa yang

dikatakan informan pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Apakah hasilnya berbeda atau sama.

2. Tringulasi teknik

Tringulasi teknik adalah untuk menguji kredidibilitas informasi yang diperoleh dari sumber yang sama dengan teknik yang berbeda yaitu data yang diperoleh dengan wawancara lalu dicek dengan observasi. Bila kedua teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan

3. Tringulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpullkn dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, sehingga akan memberikan data yang lebih valid. Selanjutnya dilakukan wawancara pada siang hari dengan narasumber yang sama dan data yang diperoleh berbeda pada saat pagi hari mungkin karena narasumber ada masalah.`pengecekan pada sore hari apakah data yang diperoleh hasilnya sama pada siang hari atau pagi hari. Bila hasil uji pada pagi hari, siang hari dan sore hari, menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada Bab IV ini, membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi kondisi obyektif tentang lokasi penelitian, profil keluarga di Kecamatan wajo Kota Makassar, tentang pelaku atau pekerja seks komersial (PSK) di Kecamatan Wajo Kota Makassar.

1. Letak Geografis dan Batas Wilayah

Kecamatan wajo adalah satu kecamatan dari 14 kecamatan yang ada di wilayah kota makassar dan rerletak di pusat ibukota propinsi sulawesi selatan.

a. Sebelah utara : Berbatasan dengan Kecamatan Ujung Tanah b. Sebelah timur : Berbatasan dengan Kecamatan Bontoala c. Sebelah selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Ujung Pandang d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Makassar

Wilayah kecamatan wajo dengan luas 1,99 terbagi dalam 8 kelurahan kondisi tofografi kecematan wajo terdiri dari 100% daerah datar, dengan rata-rata ketinggian wilayah 500 meter dari permukaan laut.

2. Luas Wilayah

Dengan luas wilayah yang relative sempit dibandingkan dengan kecematan lainnya yaitu 1, 99 maka jarak kelurahan ke ibukota maupun ke pusat kota makassar relative dekat berkisar 1-2 Km.

40

3. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk kecamatan wajo tahun 2015 adalah 34.137 orang terdiri dari 16.756 laki-laki dan 17.381 perempuan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk dalam kurung waktu 2010-2015 mengalami peningkatan sekitar 0,01 5 Dimana pada tahun 2010 menurut data sensus penduduk jumlahnya sekitar 34.114 jiwa.

Tabel 1. Jumlah penduduk menurut kelurahan dan jenis kelamin serta sex ratio Desa/kelurahan Laki-Laki perempuan jumlah Sex ratio

(1) (2) (3) (4) (5)

Tabel 2. Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin

Pada bagian ini dipaparkan mengenai karakteristik dari responden, dimana jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 orang

Pelaku, berusia 20 tahun hingga 22 tahun di Kecamatan Wajo Kota Makassar. Oleh karena itu, sebelum memasuki permasalahan yang telah dirumuskan, maka terlebih dahulu dikemukakan karakteristik informan itu sendiri sebagai bahan pertimbangan terhadap pelaku atau pekerja seks komersial Kota makassar. Karakteristik yang dimaksud antara lain:

a) Kelompok umur

Umur juga merupakan salah satu karakteristik yang akan menjadi responden.

Table 3. Distribusi responden menurut kelompok umur di Kecamatan wajo.

No Tingkat Umur (Tahun) Frekuensi Persen (%)

1 11 – 20 1 20 %

2 21 – 30 4 80 %

3 31 – 40 - -

4 41 – 50 - -

5 51 ke atas - -

Jumlah 5 100 %

Sumber : BPS Kota Makassar

b). Tingkat Pendidikan

Pendidikan biasanya dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang digelutinya, pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang pernah mengecap tingkat pendidikan tertentu akan sangat berbeda cara berpikirnya dengan orang yang tidak pernah mengenyam

pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Tabel dibawah ini akan diuraikan jumlah responden menurut tingkat pendidikan.

Tabel 8. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan di kecamatan wajo

No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persen (%)

1 Tidak tamat SD - -

2 SD - -

3 SMP 1 20 %

4 SMA 4 80 %

5 Perguruan Tinggi - -

Jumlah 5 100 %

Sumber : BPS Kota Makassar 5. Sumber Informasi

Untuk mengumpulkan data penelitian ditentukan beberapa informan, dalam penelitian ini peneliti menetapkan 5 informan yang dapat memberikan informasi mengenai riwayat mereka dan aktifitas pergaulan informan-informan yang dilingkungan keluarga, masyarkat, dimana dari penuturan 5 informan dipastikan dapat mewakili para PSK dengan masalah yang sama.

Penentuan informan ini dilakukan secara snow ball samping dimana peneliti mendapatkan informasi tentang sampel yang akan menjadi informan berikutnya dari informan pertama, informan yang ditentukan pada beberapa orang yang terdeteksi atau teridentifikasi sebagai seorang PSK dari

pengakuan langsung maupun pengamatan peneliti jauh sebelum rencana peneliti ini dibuat.

a. Peneliti mendapatan informan tentang pelaku IDH dari seorang teman yang cukup akrab dengan IDH. Pada pertemuan pertama ini, IDH tidak lantas menceritakan kisah hidupnya. Baru pada saat pertemuan yang ke dua, IDH mau berbicara santai dan mengalirlah beberapa potongan cerita tentang kisah hidupnya menjadi seorang PSK. IDH lahir pada tanggal 19 juli 1995, menempuh pendidikan terakhir SMA.

“saya bekerja sebagai PSK karena awalnya saya cuman ikut-ikutan sama teman-teman saya yang selalu ke tempat hiburan malam minum, dugem, merokok dan karaoke akhirnya terjerumus maka juga.

Karena sudah kebiasaan pusingka kalau tidak minumka baru tidak ada uang di pake beli minuman dan akhirnya sayapun bekerja sebagai PSK tapi saya tidak sembarang orang saya pilih-pilih juga saya cuman temani orang yang saya suka . Selama saya bekerja sebagai PSK orang tua saya tidak pernah mengetahui hal ini yang mereka tau saya kerjanya di hotel” (wawancara tanggal 7 agustus 2015).

Dari hasil wawancara, penulis menyimpulkan bahwa pekerjaan menjadi PSK mulanya disebabkan faktor pergaulan yang membuat mereka selalu ingin terjun ke hal-hal yang kadang berdampak negatif pada dirinya. Namun karena faktor kebiasaan pekerjaan menjadi PSK tidak bisa untuk ditinggalkan dan orang tua mereka tidak mengetahui mereka bekerja sebagai PSK.

b. Sama dengan pelaku sebelumnya, informan bertemu dan berkenalan dengan DW di tempat yang sama dengan pertemuan dengan pelaku sebelumnya. DW adalah seorang PSK yang berumur 21 tahun,

menempuh pendidikan terakhir SMP. Berikut petikan wawancara dari DW perihal kehidupan dan pekerjaannya.

“Saya bekerja sebagai PSK karena dulunya saya mau sekali sekolah tapi karena orang tua tidak mampu biayai sekolahku jadi sampai SMP saja. Putus sekolah, ekonomi kurang membuat saya memutuskan untuk bekerja sebagai PSK. Bekerja sebagai PSK tidak membutuhkan keterampilan tidak perlu pakai ijazah dan cepat dapat uang tapi pandangannya orang sama kita kurang baik mungkin karena pekerjaanku tapi tidak saya hiraukanji terserah apa kata mereka karena bukan mereka yang hidupi saya lagian saya kerja begini terpaksa sebenarnya saya takut sekali kerja begini karena nanti ketularan penyakit klo sering gonta-ganti pasangan tapi karena kita taumi itu semakin bertambah umur semakin banyakmi juga kebutuhan hidup mau minta sama orang tua tidak ada juga jadi mending cari kerja yang tidak memerlukan keahlian dan cepat dapat uang.

(wawancara pada tanggal 8 agustus 2015).

Merujuk pada wawancara di atas. DW mengalami masalah putus sekolah karena faktor kemiskinan, disisi lain pekerjaan menjadi PSK juga tidak membutuhkan keterampilan namun persepsi dari masyarakat yang menganggap bahwa pekerjaan itu bertentangan dengan ajaran islam yang juga kadang menimbulkan penyakit HIV/AIDS.

c. SC adalah informan yang ke tiga berusia 21 tahun, dan menempuh pendidikan terakhir SMA. SC adalah seorang PSK yang sangat cantik putih, tinggi tapi karena pergaulan SC bekerja sebagai PSK.

“saya kerja begini karena pergaulan bebas setiap malam minggu pergi di tempat hiburan malam minum, merokok, sabu-sabu tapi sabu-sabu jenis ringan dan akhirnya kecanduan. Awalnya sebelum jadi PSK saya masi minta uang sama orang tua tapi tidak cukup untuk beli minuman sama rokok mana lagi mau banyar tempat karaoke makanya karena sudah kecanduan pusing, stres mau cari uang dimana jadi saya memutuskan untuk kerja sebagai pekerja seks komersial. Hanya bekerja sebagai PSK yang bisa menghasilkan uang banyak lagian dulu banyak pacarku sudah pegang-pegangka terus pergi begitu saja tidak bertanggung jawab bikin sakit hati jadi saya

pikir lebih baik jadi PSK sama saja dipengang-pegang tapi dikasi uang banyak .(wawancara tanggal 9 agustus 2015).

Dari hasil wawancara, peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang paling menonjol adalah faktor pergaulan dan paradigma sebagian besar dari mereka yang beranggapan bahwa pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan uang.

d. TN adalah pekerja seks komersial yang berstatus single parent mantan istri dari RK. TN berumur 22 tahun, menempuh pendidikan terakhir SMA.

“kenapa saya mau bekerja sebagai PSK itu karena dulu saya perna menikah dengan pacar saya karena hamil di luar nikah. Selama dua bulan pernikahan saya tidak perna diperhatikan sampai saya melahirkan.satu bulan setelah melahirkan anak saya meninggal.

Setelah itu suami sayapun meninggalkan saya usia pernikahan kami hanya kurang lebih 2 bulan dan akhirnya cerai.setelah bercerai saya harus mencari pekerjaan untuk biaya hidup, sayapun memutuskan untuk bekerja sebagai PSK. Awalnya saya tidak nyaman dengan pekerjaan ini tapi karena faktor ekonomi saya rela melakukan pekerjaan apapun.(wawancara pada tanggal 10 agustus 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis menyimpulkan bahwa pergaulan yang tidak disertai dengan pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat mampu menjerumuskan kepergaulan yang tidak baik, dan atas dasar adanya faktor ekonomi yang mendesak untuk dipenuhi maka ia dengan mudah memutuskan untuk menjadi seorang PSK.

e. SR adalah informan terakhir sahabat dari TN. SR berstatu single parent sama dengan TN. SR berumur 22 tahun, menempuh pendidikan terakhir SMA. SR memiliki seorang anak berumur 5 tahun.

“sebenarnya sakit sekali hatiku kalau ku ingatki masa laluku karena itumi yang kasi jadi beginika. Dulu saya punya suami tapi pisah.

sebenarnya masi sama-sama suka tapi karena tidak direstui orang tua

jadi pisah tempat tinggal.adami juga anak butuh biaya untuk sekolah karena itu kerja begini. ( wawancara pada tanggal 11 agustus 2015).

Berdasarkan dari hasil wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa bukan hanya remaja yang bekerja sebagai PSK, namun pekerjaan ini juga dilakukan oleh perempuan yang berstatus single parent untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan terpaksa melakukan pekerjaan sebagai PSK.

B. Pembahasan

PSK yaitu orang yang menggunakan tubuhnya untuk memuaskan nafsu-nafsu seks untuk mendapatkan imbalan (Kartono, 2003). PSK bekerja di tempat hiburan malam, jam kerja PSK pada malam hari membuat PSK melakukan kebiasaan merokok dan minum-minuman keras yang dipersepsikan dapat menghangatkan tubuh dan menambah gairah (Syaiful Rohim, 2010). PSK mempunyai kebiasaan konsumerisme, narkoba, alkohol, rokok, begadang dan seks bebas yang tidak baik dan bisa mengganggu kesehatan, terutama pada organ hati (Gips, 1995. Wahyudi, 2004).

Salah satu karya Merton dalam sumbangannya terhadap sosiologi khususnya yang berhubungan dengan fungsionalisme struktural adalah analisisnya mengenai struktur, kultur, dan anomi. Anomie (Anomi) kondisi masyarakat yang tidak memiliki seperangkat norma dan nilai yang konsisten, yang dapat dihayati, dan digunakan sebagai pedoman oleh para anggota masyarakat. Menurut Merton dalam karya Ritzer, anomie terjadi bila ada keterputusan hubungan antara norma kultural dan tujuan dengan kapasitas terstruktur secara sosial dari anggota

kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilai kultural. Pendapat Merton ini memandang anomi disebabkan adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara formal (umumnya) yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.

Setiap orang memiliki keinginan, impian, cita-cita, dan harapan yang menjadi tujuannya, namun fakta berkata lain. Struktur sosial yang ada tidak memberikan kesempatan dan akses yang sama bagi semua individu untuk mencapai tujuan hidup. Hanya individu yang menempati lapisan sosial tertentu yang dapat merealisasikan tujuan tersebut. Hal ini sangat dipahami oleh Merton.

Menurut Merton meskipun masyarakat kita mendorong semua anggotanya untuk memperoleh kekayaan dan kedudukan sosial, namun dalam kenyataannya cara yang disetujui untuk mencapainya hanyalah memungkinkan segelintir orang untuk berhasil. Mereka yang mampu mencapai tujuannya berdasarkan cara sosial yang dibenarkan disebut conformity. Keadaan yang anomi dapat berdampak negatif bagi individu yang kesulitan merealisasikan tujuan hidupnya. Akibatnya, mereka melakukan cara yang tidak sah atau menyimpang demi mencapai tujuan tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut terdapat empat jalur menyimpang, yaitu:

a. Inovator (innovator)

Inovator adalah orang yang menerima tujuan masyarakat namun menggunakan cara yang tidak sah dalam meraihnya.

b. Ritualisme (ritualism)

Ritualisme adalah orang yang putus asa dan menyerah dalam upayanya meraih tujuan budaya.

c. Pengunduran diri (retreatism)

Orang yang meolak baik tujuan budaya maupun sarana institusional untuk mencapainya.

d. Pemberontakan (rebellion)

Seperti halnya para pengundur diri yang meolak baik tujuan budaya maupun sarana institusional, namun para pemberontak berupaya menggantikan tujuan yang ada dengan yang baru.

1. Penelitian relevan

Penelitian ini menggunakan hasil penelitian terdahulu yang sudah dilakukan untuk memperdalami permasalahan yang hampir serupa. Penelitian ini tetap memiliki perbedaan objek penelitian dengan penelitian sebelumnya meskipun memiliki beberapa persamaan-persamaan.

Penelitian tahun 2010 yang dilakukan oleh Siti Munawaroh mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul Studi Kasus Pekerja Seks Komersial (PSK) di Wilayah Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitaif dengan analisis data model interaktif.

Berdasarkan penelitian tersebut menunjukan faktor-faktor yang melatarbelakangi menjadi PSK seperti, faktor ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, rendahnya tingkat pendidikan, penghasilan pekerjaan sebagai PSK yang mampu memenuhi kebutuhan hidup, dan faktor keluarga.

Seperti yang dialami oleh salah satu informan peneliti bahwa masalah putus sekolah karena faktor kemiskinan, disisi lain pekerjaan menjadi PSK juga tidak membutuhkan keterampilan namun persepsi dari masyarakat yang

menganggap bahwa pekerjaan itu bertentangan dengan ajaran islam yang juga kadang menimbulkan penyakit HIV/AIDS.

Jurnal penelitian tahun 2010 yang dilakukan oleh Mardina Dyah Utami mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan mengusung permasalahan menajemen konflik pada wanita pekerja seks komersia yang berkeluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa wanita pekerja seks memiliki berbagai konflik dalam dirinya, baik konflik dengan keluarga maupun dengan dirinya sendiri. Penelitian ini juga mengungkap motif seseorang untuk menjadi pekerja seks komersial, yaitu permasalahan ekonomi dan adanya peluang menjadi pekerja seks. Seperti yang dialami oleh informan peneliti bahwa pergaulan yang tidak disertai dengan pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat mampu menjerumuskan kepergaulan yang tidak baik, dan atas dasar adanya faktor ekonomi yang mendesak untuk dipenuhi maka ia dengan mudah memutuskan untuk menjadi seorang PSK.

2. Faktor-faktor penyebab pelacuran

Banyak studi yang telah dilakukan oleh para ahli untuk mendapatkan jawaban mengenai faktor yang mempengaruhi perempuan menjadi pelacur.

Weisberg (Koentjoro, 2004) menemukan adanya tiga motif utama yang menyebabkan perempuan memasuki dunia pelacuran, yaitu:

a. Motif psikoanalisis menekankan aspek neurosis pelacuran, seperti bertindak sebagaimana konflik Oedipus dan kebutuhan untuk menentang standar orang tua dan sosial.

b. Motif ekonomi secara sadar menjadi faktor yang memotivasi. Motif ekonomi ini yang dimaksud adalah uang.

c. Motivasi situasional, termasuk di dalamnya penyalahgunaan kekuasaan orang tua, penyalahgunaan fisik, merendahkan dan buruknya hubungan dengan orang tua. Weisberg juga meletakkan pengalaman di awal kehidupan, seperti pengalaman seksual diri dan peristiwa traumatik sebagai bagian dari motivasi situasional. Dalam banyak kasus ditemukan bahwa perempuan menjadi pelacur karena telah kehilangan keperawanan sebelum menikah atau hamil di luar nikah.seperti yang dialami oleh satu satu informan peneliti

Berbeda dengan pendapat di atas, Greenwald (Koentjoro, 2004) mengemukakan bahwa faktor yang melatarbelakangi seseorang untuk menjadi pelacur adalah faktor kepribadian. Ketidakbahagiaan akibat pola hidup, pemenuhan kebutuhan untuk membuktikan tubuh yang menarik melalui kontak seksual dengan bermacam-macam pria, dan sejarah perkembangan cenderung mempengaruhi perempuan menjadi pelacur.

Sedangkan Supratiknya (1995) berpendapat bahwa secara umum alasan wanita menjadi pelacur adalah demi uang. Alasan lainya adalah wanita-wanita yang pada akhirnya harus menjadi pelacur bukan atas kemauannya sendiri, hal ini dapat terjadi pada wanita-wanita yang mencari

pekerjaan pada biro-biro penyalur tenaga kerja yang tidak bonafide, mereka dijanjikan untuk pekerjaan di dalam atau pun di luar negeri namun pada kenyataannya dijual dan dipaksa untuk menjadi pelacur.

3. Motif-Motif Yang Melatar Belakangi Pelacuran

Isi pelacuran, atau motif-motif yang melatar belakangi tumbuhnya pelacuran pada wanita itu beraneka ragam. Dibawah ini disebutkan beberapa motif, antara lain ialah :

a. Adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran.

b. Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks. Hysteris dan hyperseks, sehingga tidak merasa puas mengadakan relasi seks dengan satu pria/suami.

c. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan, dan pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik.

d. Aspirasi materiil yang tinggi pada diri wanita dan kesenangan ketamakan terhadap pakaian-pakaian indah dan perhiasan mewah. Ingin hidup bermewah-mewah, namun malas bekerja.

e. Kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferior. Jadi ada adjustment yang negative, terutama sekali tarjadi pada masa puber dan adolesens.

Ada keinginan untuk melebihi kakak, ibu sendiri, teman putri, tante-tante atau wanita-wanita mondain lainnya.

f. Rasa ingin tahu gadis-gadis cilik dan anak-anak puber pada masalah seks, yang kemudian tercebur dalam dunia pelacuran oleh bujukan banditbandit seks.

g. Anak-anak gadis memberontak terhadap otoritas orang tua yang menekankan banyak tabu dan peraturan seks. Juga memberontak terhadap masyarakat dan norma-norma susila yang dianggap terlalu mengekang diri anak-anak remaja , mereka lebih menyukai pola seks bebas.

h. Pada masa kanak-kanak pernah malakukan relasi seks atau suka melakukan hubungan seks sebelum perkawinan (ada premarital sexrelation) untuk sekedar iseng atau untuk menikmati “masa indah” di kala muda.

i. Gadis-gadis dari daerah slum (perkampungan-perkampungan melarat dan kotor dengan lingkungan yang immoral yang sejak kecilnya selalu melihat persenggamaan orang-orang dewasa secara kasar dan terbuka, sehingga terkondisikan mentalnya dengan tindak-tindak asusila). Lalu menggunakan mekanisme pelacuran untuk mempertahankan hidupnya.

j. Bujuk rayu kaum laki-laki dan para calo, terutama yang menjajikan pekerjaan-pekerjaan terhormat dengan gaji tinggi.

k. Banyaknya stimulasi seksual dalam bentuk : film-film biru, gambar-gambar porno, bacaan cabul, geng-geng anak muda yang mempraktikkan seks dan lain-lain.

l. Gadis-gadis pelayan toko dan pembantu rumah tangga tunduk dan patuh melayani kebutuhan-kebutuhan seks dari majikannya untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.

m. Penundaan perkawinan, jauh sesudah kematangan biologis, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomis dan standar hidup yang tinggi. Lebih suka melacurkan diri daripada kawin.

n. Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga, broken home, ayah dan ibu lari, kawin lagi atau hidup bersama dengan partner lain.

Sehingga anak gadis merasa sangat sengsara batinnya, tidak bahagia, memberontak, lalu menghibur diri terjun dalam dunia pelacuran.

o. Mobilitas dari jabatan atau pekerjaan kaum laki-laki dan tidak sempat membawa keluarganya.

p. Adanya ambisi-ambisi besar pada diri wanita untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, dengan jalan yang mudah tanpa kerja berat, tanpa suatu skill atau ketrampilan khusus.

q. Adanya anggapan bahwa wanita memang dibutuhkan dalam bermacammacam permainan cinta, baik sebagai iseng belaka maupun sebagai tujuan-tujuan dagang.

r. Pekerjaan sebagai lacur tidak membutuhkan keterampilan/skill, tidak memerlukan inteligensi tinggi, mudah dikerjakan asal orang yang bersangkutan memiliki kacantikan, kemudaan dan keberanian.

s. Anak-anak gadis dan wanita-wanita muda yang kecanduan obat bius (hash-hish, ganja, morfin, heroin, candu, likeur/minuman dengan kadar

alkohol tinggi, dan lain-lain) banyak menjadi pelacur untuk mendapatkan uang pembeli obat-obatan tersebut.

t. Oleh pengalaman-pengalaman traumatis (luka jiwa) dan shock mental misalnya gagal dalam bercinta atau perkawinan dimadu, ditipu, sehingga

t. Oleh pengalaman-pengalaman traumatis (luka jiwa) dan shock mental misalnya gagal dalam bercinta atau perkawinan dimadu, ditipu, sehingga

Dokumen terkait