SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti ujian skripsi pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universutas Muhammadiyah Makassar
OLEH SURIANI 10538 02246 11
JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan,
tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran.
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada tuhan yang maha YME atas segala rahmat dan hidayahnya yang telah memberikan kekuatan, kesehatan dan kesabaran
untukku dalam mengerjakan skripsi ini.
“ aku persembahkan cinta dan sayangku kepada kedua orang tua ku adik- adikku yang telah menjadi motivasi dan inspirasi dan tiada henti memberikan
dukungan do’anya buat aku.
Terimah kasih yang tak terhingga buat dosen-dosen ku, terutama dosen pembimbingku yang tak pernah lelah dan sabar memberikan bimbingan dan
arahan kepadaku.
“terimah kasih juga kupersembahkan kepada sahabatku
Yang senantiasa menjadi penyemangat dan menemani setiap hariku. “sahabat merupakan salah satu sumber kebahagiaan dikala kita merasa tidak
bahagia.”
Teruntuk teman-teman angkatanku yang selalu membantu, berbagi keceriaan dan melewati setiap suka dan duka selama kuliah, terimahNkasih banyak.
“tiada hari yang indah tanpa kalian semua”
ix
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt pemilik kehidupan.
Penulisan Skripsi ini bukti bahwa betapa Maha Cinta-Nya Engkau Ya Allah.
Terimakasih untuk segala kesehatan dan kesempatan yang Engkau anugerahkan dalam hidupku sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan dengan judul “ Pelaku Atau Pekerja Seks Komersial (Studi Kasus PSK Kota Makassar).” ini dapat diselesaikan sesuai yang diharapkan, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Hal yang tidak dapat dilupakan bahwa dalam penulisan skripsi ini diselesaikan berkat bantuan berbagai pihak yang turut membantu terhadap proses penyusunan, diantaranya :
Ayahanda Hatta dan Ibunda Hasna, orang tua saya serta saudaraku yang telah memberikan dorongan dan semangat dalam penyusunan skripsi ini, terimah kasih atas kasih sayang yang kalian berikan selama ini.
Dr. H. Irwan Akib, M.Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dr. H. Nursalam, M.Si., Ketua Jurusan dan bapak Muhammad Akhir, S.Pd M.Pd Sekertaris Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP UNISMUH Makassar.
Dr. H. Nursalam, M.Si., penasihat akademik selama empat tahun di Jurusan Pendidikan Sosiologi, FKIP UNISMUH Makassar. Dra. Hj. Syaribulan, M.Si dan Tasrif Akib S.Pd., M.Pd., pembimbing I dan pembimbing II, yang telah dan senantiasa memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini serta Para dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi, FKIP UNISMUH Makassar.
Sahabat - sahabatku seperjuangan di Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Unismu Makassar terkhusus angkatan 11, Terima kasih atas kebersamaan dan kekompakan kita selama ini yang penuh keceriaan dan saling membantu.
Buat semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu-persatu terima kasih atas bantuannya.
Kiranya Allah Swt, yang akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada kami.
Dan dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan, oleh karena itu kritikan dan saran yang membangun masih penulis harapkan guna kesempurnaan pada penulisan selanjutnya.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.
Makassar ...September 2015
Suriani
K, dan Tasrif Akib.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaku atau pekerja seks komersial di Kota Makassar yang meliputi beberapa faktor yakni, pendorong menjadi pekerja seks komersial, gaya hidup dan dampak yang ditimbulkan. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah 5 orang pekerja seks komersial yang bertempat tinggal di Kota Makassar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif Deskriptif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati selama melakukan penelitian ini. Dasar penelitian yang digunakan adalah studi kasus, dimana penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap objek penelitan guna menjawab permasalahan dari peneliti. Sedangkan tipe penelitian adalah tipe penelitian, snowball sampling. prosedur pemilihan bola salju ini dilakukan secara bertahap. Pertama-tama, diidentifikasi orang yang dianggap dapat memberi informasi untuk diwawancara. Kemudian orang ini dijadikan sebagai informan untuk mengidentifikasikan orang lain sebagai sampel yang dapat memberi informasi yang dibutuhkan tentang pekerja seks komersial di kota Makassar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bekerja sebagai pekerja seks komersial karena beberapa faktor. pertama, faktor ekonomi. Ekonomi yang dimaksud adalah tidak tercukupinya kebutuhan sehari-hari sehinngga mereka rela menjual diri demi kebutuhan hidup. Kedua, faktor pergaulan,pergaulan bebas yang merupakan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada seperti melakukan hal-hal yang mengarah pada hal negatif, khususnya pada saat mengalami permasalah hidup, maka informan minum minuman keras, merokok dan mengkomsumsi narkotika jenis ringan. Faktor bercerai atau kehilangan keperawanan, karena bercerai 2 orang imforman mengambil keputusan untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial karena selama pernikahan kurang mendapatka perhatian dari suami dan akhirnya bercerai. Kegiatan-kegiatan diatas, menjadi salah satu faktor dari pekerja seks komersial di Kota Makassar.
Kata Kunci : Pekerja seks komersial, perilaku menyimpang
xii
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
KARTU KONTROL PEMBIMBING I ... vi
KARTU KONTROL PEMBIMBING II ... vii
MOTTO ... viii
PERSEMBAHAN ... ix
ABSTRAK ... x
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 6
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
xiii
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 9
A. Tinjauan Mengenai Prilaku Menyimpang ... 9
a. Ciri- ciri Perilaku Menyimpang ... 12
b. Jenis- jenis Perilaku Menyimpang ... 14
c. Berdasarkan Jumlah Pelakunya ... 14
d. Sifat- sifat Perilaku Menyimpang ... 15
e. Masalah Perilaku Seksual ... 16
f. Bentuk – bentuk Perilaku Menyimpang ... 18
g. Dampak Perilaku Menyimpang ... 18
h. Tips untuk Mengatasi dan Mencegah Perilaku Menyimpang Remaja ... 19
B. Definisi Gaya Hidup ... 20
C. Prostitusi ... 22
1. Pengertian Prostitusi ... 22
2. Kategori Prostitusi ... 26
3. Faktor Pendorong Timbulnya Prostitusi ... 27
4. Dampak Prostitusi ... 29
D. Landasan Teori ... 30
E. Kerangka Konseptual ... 32
BAB III METODE PENELITIAN... 35
A. Jenis Penelitian dan Tipe Penelitian ... 35
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35
C. Jenis dan Sumber Data ... 36
xiv
D. Teknik Analisis Data ... 38
E. Informan Penelitian ... 37
F. Teknik Analisis Data ... 38
G. Teknik Pengabsahan Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 40
A. Hasil Penelitian ... 40
1. Letak Geografis dan Batas Wilayah ... 40
2. Luas Wilayah ... 40
3. Jumlah Penduduk ... 41
4. Karakteristik Responden ... 42
5. Sumber Informasi ... 44
B. Pembahasan ... 48
1. Penelitian Relevan ... 51
2. Faktor-Faktor Penyebab Pelacuran ... 51
3. Motif-Motif yang Melatarbelakangi Pelacuran ... 53
BAB V PENUTUP ... 57
A. Kesimpulan ... 57
B. Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang hidup bersama-sama di masyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena kepentingan yang sama. Oleh karena itu, pergaulan antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat merupakan suatu yang tidak dapat di hindari.Ini merupakan sebuah realitas dan tidak dapat pula di pungkiri bahwa ketika terjadi interaksi, sering kali muncul rasa suka atau senang satu sama lain. Namun naluri ini sering disalahgunakan, dengan mengatasnamakan kebebasan, hubungan laki- laki dan perempuan yang semula merupakan hubungan tolong-menolong dan kerja sama antara sesama manusia berubah menjadi hubungan “jinsiyah” atau hubungan kejantanan dan kebetinaan.
Muncul pengertian bahwa hubungan pria dan wanita hanyalah sebatas hubungan atas dasar kecintaan yang sebenarnya untuk memuaskan hawa nafsu (seksualitas) semata. Untuk mewujudkan itu, maka diciptakanlah sarana-sarana yang dapat membangkitkan naluri seksual, melalui media masa (media cetak maupun media elektronik) yang berpengaruh terhadap munculnya naluri tersebut.
Bisa dilihat bagaimana tayangan iklan, mode busana, film dan sinetron yang semuanya menggambarkan perilaku pergaulan bebas muda-mudi dan secara jelas menjurus ke arah pornografi dan pornoaksi. Sementara di masyarakat, pacaran dan segala bentuk aktivitas (seperti duduk berduaan berbicara sambil berpegangan
1
tangan, jalan berdua, berciuman dan seterusnya) di anggap merupakan hal yang biasa dan sesuai dengan trend masa kini.
Sebaliknya orang yang membatasi diri dalam bergaul dianggap kuper, kuno, tidak normal dan seterusnya. Akibatnya, terjadi kerusakan akhlak dan penurunan moral yang cukup parah dan sangat memprihatinkan terjadi di dalam masyarakat. Fenomena kumpul kebo dan pelacuran juga sampai pada dunia pendidikan (munculnya istilah ayam kampus, ayam abu-abu dan ABG pelajar SLTP) hingga pada perilaku seks menyimpang (lesbian dan homo) yang merupakan gejala patologi sosial yang ada di masyarakat, menggerogoti dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. Kasus hamil diluar nikah, pelecehan seksual, aborsi, penyakit kelamin dan yang paling parah penyakit HIV/AIDS, merupakan bukti yang menunjukan bahayanya masalah ini bagi tatanan sosial dalam masyarakat.
Pada masa lalu eksploitasi terhadap wanita di kenal sebagai sebuah fenomena. Seiring perkembangan pengetahuan, diketahui bahwa ada bentuk- bentuk pekerja wanita yang bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang mudah dicari dan banyak menghasilkan keuntungan yang sekaligus sebagai pekerjaan yang tercela bagi seorang wanita. Satu bentuk pekerjaan tersebut yaitu pekerjaan yang terjun dalam dunia pelacuran. Tidak bisa ditolerir tindakan yang melibatkan wanita-wanita dalam pekerjaan yang tercela ini. Mereka melakukan pekerjaan tercela ini atau terjerumus ke dunia pelacuran ini karena adanya faktor ketidak mampuan keluarga dan ketidakmampuan masyarakat melindungi mereka dan lain- lain. Faktor budaya dan pemahaman agama yang sempit yang menempatkan
wanita dalam posisi inferior dan pria pada posisi superior merupakan juga salah satu penyebabnya. Sayangnya persoalan ini jarang sekali diangkat sebagai suatu prioritas utama. Hal yang sama, juga terjadi dalam hal peningkatan kesehatan terhadap wanita, maupun pekerjaan wanita.
Pelacuran atau yang juga sering disebut prostitusi (berasal dari bahasa Latin pro-stituere) secara sederhana dapat diartikan “membiarkan diri melakukan persundalan, perzinaan, percabulan, dan pergendakan”. Pelacuran adalah penyerahan diri secara badaniah seorang wanita untuk pemuasan laki-laki siapapun yang menginginkannya dengan pembayaran. Pekerja seks komersial dan pelacuran pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, hal tersebut dapat dilihat dari pengertian pelacuran yang dikemukakan oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar (1984:10-11) bahwa:
“Prostitusi atau pelacuran adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya, yang dilakukan untuk memperoleh bayaran dari laki-laki yang datang dan wanita tersebut tidak ada pencaharian yang lain kecuali yang diperolehnya dari perhubungan sebentar-sebentar dengan banyak orang”.
Pelacuran adalah pekerjaan paling tua di dunia dan fungsional dalam sistem sosial masyarakat selama berabad-abad. Sebenarnya, pelacuran dan pornografi merupakan eksploitasi seksual dan komersial atas kaum perempuan, merendahkan harkat dan martabat perempuan. Ini sebenarnya justru menjadi pelanggaran hak azasi manusia (HAM). Di beberapa negara, undang-undang anti
pelacuran telah ditetapkan, karena dianggap sebagai salah satu eksploitasi seksual dan komersial atas perempuan.
Exploitation de’l homme par l’homme adalah satu kata yang dibenci oleh setiap orang yang cinta akan kemerdekaan, namun, tanpa disadari eksploitasi manusia atas manusia itu dilaksanakan secara bersama-sama. Laki-laki mengeksploitasi perempuan, dan perempuan mengeksploitasi rekan sejawatnya.
Mengapa perempuan paling banyak dieksploitasi? Ada suatu budaya yang sengaja dihembuskan sehingga perempuan adalah merupakan sesuatu obyek yang menarik. Budaya salah kaprah dengan dibungkus modernisasi itulah yang berhembus sehingga membuat perempuan ikut mengeksploitasi rekan sejenisnya.
Memang hanya laki-laki yang tidak bertanggungjawab yang melakukan ekploitasi ini, akan tetapi selanjutnya perempuanlah yang asyik mengeksploitasi dirinya sendiri.
Bergantung kepada "kelas"-nya, maka para pelacur punya "daerah operasi" yang berbeda. Di antara mereka ada yang beroperasi di jalan-jalan ramai (itulah: "lubang jalan-jalan"), ada yang di kompleks lokalisasi. Ada yang menunggu panggilan di rumah tertentu (karena dipanggil itulah, maka ada istilah
“call girl” --wanita panggilan, atau bisa juga disebut “taxi girl”, karena datangnya dengan berkendaraan taksi). Dan mereka melakukan itu tentu memiliki sebab atau alasan kuat yang mendorong mereka untuk tetap berkerja pada pekerjaan yang menurut sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak baik atau benar baik secara moralitas dipandang dari norma masyarakat yang berlaku dan norma agama.
Pelacuran diciptakan oleh struktur masyarakat, yang mendesak kaum perempuan maupun lelaki, untuk memilih pekerjaan ini sebagai jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Selain itu pelacuran disebabkan oleh rendahnya pendidikan dan peluang kerja. Kemiskinan juga membuka peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik secara fisik, psikis maupun seksual yang menyebabkan terjadinya cedera, perceraian, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang pada gilirannya membuat perempuan terjerumus dalam prostitusi. Belum lagi dengan merebaknya pornografi dan gaya hidup bebas yang membuat semakin banyak saja terjadi kasus kehamilan di luar nikah, dengan minimnya tingkat pendidikan sementara ia punya tanggung jawab untuk mengasuh anaknya maka menjadi PSK adalah solusi yang termudah.
Pelacuran menyimpan kompleksitas yang tidak mudah diurai dan memendam persoalan dilematis yang gawat. Tidak ada orang yang benar-benar bercita-cita dan memilih menjadi pelacur, meski juga tidak jarang yang gampang menjalani pekerjaan sebagai PSK secara sadar dan profesional karena desakan hidup yang tidak terhindarkan. Tetapi tidak gampang menemukan jawaban yang sebenarnya mengapa seseorang menjadi PSK.
Menghapuskan sama sekali kegiatan para PSK seperti rencana penutupan lokalisasi atau operasi penertiban tampaknya tidak mungkin. Justru ini akan menimbulkan dampak lain dan tidak menyelesaikan masalah. Barangkali yang paling mungkin adalah tindakan agar dampak negatif yang ditimbulkannya tidak meluas ke masyarakat, misalnya dampak kesehatan yaitu munculnya PMS termasuk HIV-AIDS. Untuk itu perlu dipahami latar belakang dan motivasi
mereka menjadi PSK; apakah oleh faktor ekonomis, faktor psikologis, biologis, bahkan mungkin politis.
Penulis mencoba meneliti permasalahan mengenai pelacuran dari sudut pandang ilmu sosial dengan lebih memfokuskan pada masalah kehidupan seorang wanita yang menggeluti pekerjaan menjadi pekerja seks komersial dan mencoba mengambil judul penelitian mengenai:
“Pelaku Atau Pekerja Seks Komersial (Studi Kasus PSK Kota Makassar)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas maka penelitian ini dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
1. Apakah faktor yang mendorong munculnya praktik prostitusi yang dilakukan oleh perempuan pekerja seks komersial di makassar?
2. Bagaimana gaya hidup perempuan pekerja seks komersial di makassar?
3. Apakah dampak yang ditimbulkan prostitusi terhadap perempuan pekerja seks komersial di makassar?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini dilakukan untuk memberi informasi mengenai pekerja seks komersial, dan secara khusus tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Mendeskripsikan faktor yang mendorong munculnya praktik prostitusi yang dilakukan oleh perempuan pekerja seks komersial di makassar.
2. Mendeskripsikan gaya hidup perempuan pekerja seks komersial di makassar.
3. Mendeskripsikan dampak yang ditimbulkan prostitusi terhadap perempuan pekerja seks komersial di makassar.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap ilmu pengetahuan khususnya sosiologi dalam menghadapi permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.
b. Penelitian ini juga dapat dijadikan literatur sebagai rujukan bagi penelitian yang akan datang.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti:
1) Menambah wawasan dalam hal penelitian.
2) Memahami sebuah permasalahan sosial yang ditinjau dari ilmu pengetahuan.
3) Menumbuhkembangkan rasa peduli terhadap para perilaku menyimpang khususnya para pekerja seks komersial.
b. Bagi pekerja seks komersial:
Penelitian ini diharapkan dapat menemukan akar permasalahan yang terjadi pada pekerja seks komersial sehingga mereka dapat kembali di tengah-tengah masyarakat dengan peran sebagaimana mestinya.
c. Pemerintah yang bersangkutan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk memecahkan penyakit masyarakat dalam bidang prostitusi tanpa mengorbankan hak-hak dasar pekerja seks komersial. Penelitian ini diharapkan dapat mengupas permasalahan prostitusi di dunia maya serta diharapkan dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengurangi prostitusi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Tinjauan Mengenai Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma- norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang dapat terjadi pada manusia muda, dewasa, atau tua baik laki-laki maupun perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal pangkat atau jabatan dan tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat. Penyimpangan bisa terjadi dalam skala kecil maupun skala besar. Menurut Bruce J Cohen (dalam buku terjemahan Sahat Simamora), Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma- norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Suatu tindakan yang mungkin pantas dan dapat diterima di satu tempat mungkin tidak pantas dilakukan di tempat yang lain. Menurut Robert M.Z Lawang, perilaku menyimpang adalah suatu tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu system social.
Perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang di anggap tidak sesuai dengan kebiasaan , tata aturan atau norma sosial yang berlaku.
secara sederhana kita memang dapat mengatakan bahwa seseorang dapat berprilaku menyimpang apabila menurut anggapan sebagian besar masyarakat (minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan
9
tersebut di luar kebiasaan, adat istiadat, aturan, nilai-nilai, atau norma sosial yang berlaku.
Secara umum, yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang, antara lain:
a. Tindakan yang noncomform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai- nilai atau norma-norma yang ada.
b. Tindakan yang antisosial atau asosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum.
c. Tindakan-tindakan kriminal, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hukum tertulis dan mengacam jiwa atau kesalamatan orang lain.
Definisi perilaku menyimpang yang di kemukakan oleh Clinard & meier dalam J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (2011:103-105) didefinisakan secara berbeda berdasarka empat sudut pandang. Pertama Definisi secara statistikal adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan. Pendekatan ini berasumsi, bahwa sebagian besar masyarakat di anggap melakukan cara-cara dan tindakan yang benar.
Kedua, Secara absolut atau mutlak. Definisi perilaku menyimpang yang berasal dari kaum absolutis ini berangkat dari aturan-aturan sosial yang dianggap sebagai sesuatu yang “mutlak” atau jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu,serta berlaku tanpa terkecuali, untuk semua warga masyarakat.kelompok absolutis berasumsi, bahwa aturan-aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan
anggota-anggotanya harus menyetujui tentang apa yang disebut sebagai menyimpang dan bukan.
Ketiga, secara reaksi. Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis bila berkenaan dengan reaksi masyarakat atau agen kontrol sosial terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Artinya, apabila ada reaksi dari masyarakat atau agen kontrol sosial dan kemudian mereka memberi capatau tanda (lebeling) terhadap si pelaku, maka perilaku itu telah di cap menyimpang, demikian pula si pelaku juga dikatakan menyimpang. Menurut becker dalam j. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (2011:104), penyimpanga adalah suatu akibat yang kepada siapa cap itu telah berhasil diterapakan; perilaku menyimpang adalah perilaku yang dicapkan kepadanya atau orang lain telah memberi cap kepadanya. Keempat, secara normatif. Sudut pandang ini didasarkan atas asumsi , bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku manusia yang bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Masa remaja merupakan masa transmisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Remaja dalam gambaran yang umum merupakan suatu periode yang dimulai dengan perkembangan masa pubertas dan menyelesaikan pendidikan untuk tingkat menengah, dimana perubahan biologis yang membawanya pada usia belasan (teenagers) seringkali mempengaruhi perilaku masa remaja. Para remaja tersebut sangat peka terhadap gagasan bahwa mereka harus seperti orang dewasa atau kanak-kanak, sehingga mereka segera mengganti mode pakaiannya. Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada
masyarakat dikalangan atas maupun dikalangan bawah contohnya saja di kota- kota besar. Dikota Banjarnegara Banyak kasus pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas.
Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah.
Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
a. Ciri ciri perilaku menyimpang
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformationsebab- sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1) Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
2) Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu
1) Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak(broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.
2) Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
3) Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
4) Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang.
Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang)Hal inilah yang dikatakan sebagai prosesbelajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang,
b. Jenis jenis perilaku menyimpang
Berdasarkan kekerapan atau berat-ringannya penyimpangan 1) Penyimpangan Primer (Primary Deviation)
Ciri-cirinya :
a) Bersifat sementara / temporer
b) Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang c) Masyarakat masih mentolerir / menerima
Contoh: pegawai negeri yang membolos kerja, banyak minum alkohol pada waktu pesta, siswa yang membolos atau menyontek saat ujian dan pelanggaran lalu lintas.
2) Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviation) Ciri-cirinya :
a) Bersifat permanen / tetap
b) Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang
c) Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang tersebut.
Contoh: pembunuhan, perjudian, perampokan dan pemerkosaan.
c. Berdasarkan jumlah pelakunya 1) Penyimpangan Individu
Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang individu dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Contohnya pencurian yang dilakukan sendiri.
2) Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan secara berkelompok dengan melakukan tindakan-tindakan menyimpang dari norma-norma masyarakat yang berlaku. Pada umumnya penyimpangan kelompok terjadi dalam sub kebudayaan yang menyimpang yang ada dalam masyarakat. Contohnya gank kejahatan atau mafia.
3) Penyimpangan Institusi
Penyimpangan institusi dilakukan oleh organisasi yang melibatkan organisasi lainnya yang dilakukan rapih. Sebagai contohnya tidakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara.
d. Sifat-sifat perilaku menyimpang
Secara umum, terdapat dua sifat penyimpangan, yaitu:
1) Penyimpangan yang bersifat positif
Penyimpangan yang bersifat positif adalah penyimpangan yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur inovatif, kreatif dan memperkaya alternatif. Umumnya, penyimpang ini dapat diterima masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman.
Contoh, emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak wanita karier.
2) Penyimpangan yang bersifat negatif
Dalam penyimpangan yang bersifat negatif, pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial. Tindakan dan pelakunya akan dicela dan tidak diterima masyarakat. Bobot penyimpangan dapat diukur menurut kaidah sosial yang dilanggar. Contoh, seorang koruptor selain harus mengembalikan kekayaan yang dimilikinya kepada negara, juga tetap dikenakan hukuman penjara.
e. Masalah Perilaku Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan seks yang diakuinya.
Pada masa remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis yang didikuti oleh keinginnan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis, sebagai akibatnya remaja mempunyai minat tinggi pada seks. Remaja lebih banyak mencari informasi tentang seks dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya dari teman sebaya yang sama-sama kurang memahami arti pentingnya seks, internet, media elektronik yang semakin canggih, dan media cetak yang kadang-kadang lebih mengarah pada pornografi.
Sebagai akibat dari informasi yang salah dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak
untuk dilakukan misalnya berciuman, bercumbu, mesturbasi, dan bersenggama. Pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu.
Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan. Kita tahu tidak mungkin mengajarkan agama hanya dalam tempo satu hari saja dan lantas berharap anak akan mampu menjalankan ibadahannya, maka demikian juga untuk seks.
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri.
Dengan cara “Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajarkan anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.
f. Bentuk-bentuk perilaku menyimpang 1) Perilaku Seks di Luar Nikah
Perilaku seks di luar nikah selain ditentang oleh norma-norma sosial, juga secara tegas dilarang oleh agama. Perilaku menyimpang ini dapat dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan yang belum atau bahkan tidak memiliki ikatan resmi. Dampak negatif dari perilaku seks di luar nikah, antara
lain, lahirnya anak di luar nikah, terjangkit PMS (penyakit menular seksual), bahkan HIV/AIDS, dan turunnya moral para pelaku.
g. Dampak perilaku menyimpang
1) Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat akan membawa dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.
a) Memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan.
b) Dapat menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan.
c) Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa.
d) Perbuatan yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
2) Dampak Bagi Orang Lain/Kehidupan Masyarakat
Perilaku penyimpangan juga membawa dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini :
a) Dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
b) Merusak tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat.
c) Menimbulkan beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku.
d) Merusak unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan masyarakat.
Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif. Demikian pula, menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan masyarakat.
h. Tips untuk mengatasi dan mencegah perilaku menyimpang remaja Beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
1) Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
2) Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya:
kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
3) Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
4) Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
5) Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
6) Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
7) Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
8) sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
B. Definisi Gaya Hidup
Gaya hidup menurut (Kotler, 2002:192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup juga menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu dalam kehidupannya, juga dapat dilihat dari aktivitas sehari-harinya dan minat apa yang menjadi kebutuhan dalam hidupnya. Merujuk pada permasalahan dalam penelitian, Giddens mengidentifikasikan tiga bentuk gaya hidup. Yang pertama, hidup bersama diluar nikah (cohabitation), Yang kedua, keluarga orang tua
homoseks (gay parent families) dan yang ketiga, hidup membujang. Gaya hidup menyimpang tersebut, dengan sendirinya masih sering menghadapi tentangan dari masyarakat dan orang tua, khususnya.
1. Gaya Hidup Menyimpang
Dalam pembahasan mengenai gaya hidup menyimpang dalam kehidupan masyarakat, memang bukanlah fenomena yang sangat baru dibicarakan. Bahkan perilaku tersebut sudah ada sejak dulu kala. Yang menjadi hal yang patut dipertanyakan yaitu, mengapa dalam kehidupan manusia perilaku dengan gaya hidup menyimpang sebagai dasarnya masih saja terus ada, walaupun dalam kehidupan masyarakat terdapat tatanan nilai dan norma yang mengatur kehidupan perilaku bagi setiap manusia.
Sebenarnya, titik permasalahan yang mendasari terjadinya perilaku menyimpang adalah cara manusia dalam mencapai tujuan dan kehendak dalam proses pencapaian pemuasan dirinya. Sebab semua orang pastilah mempunyai tujuan dan ingin memuaskan diri sendiri, dan dalam prosesnya sering kali tidak didasari dengan tatanan nilai serta norma dalam pemenuhan kebutuhannya tersebut. Sebagian kelompok dalam masyarakat menganggap bahwa tatanan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat merupakan pengekangan dan membatasi mereka dalam mencapai kebebasan dalam mencapai tujuan hidup. Hal ini yang kemudian menjadi faktor yang mendorong mereka melakukan penyimpangan dalam proses pemusan kebutuhan hidup dan pencapaian tujuan dalam kehidupan mereka.
Sifat cara manusia untuk mencapai titik tujuan (kepuasan) tersebut digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
a. Tindakan yang sesuai dengan norma-norma yang diterima oleh masyarakat banyak atas norma umum. Tindakan ini disebut konformis.
b. Tindakan yang berlawanan dengan norma- norma yang berlaku dalam masyarakat. Tindakan yang pertama dianggap sebagai tindakan yang
benar (konformitas), sedangakan yang kedua disebut tindakan yang menyimpang dari pola-pola aturan atau perilaku menyimpang atau penyimpangan (delinqueen) (M. Elly dan Usman. 2011:237-238).
Defenisi tentang perilaku yang menyimpang, bersifat sangat relatif karena tergantung dari masyarakat dalam mendefinisikan perilaku menyimpang itu sendiri. Nilai-nilai budaya, zaman atau kurun waktu yang tertentu yang ada dalam masyarakat juga dapat menjadi tolak ukur dalam memakna penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
C. Prostitusi
1. Pengertian Prostitusi
Pelacuran secara umum merupakan praktik hubungan seksual sesaat, yang kurang lebih dilakukan dengan siapa saja, untuk imbalan berupa uang.
Tiga unsur utama dalam praktik pelacuran, menurut Truong dalam bukunya Dr.
Bagong Suyanto (1992: 159), adalah: pembayaran, promiskuitas, dan ketidak hancuhan emosional.
Secara sederhana, prostitusi adalah perilaku atau tindakan yang mengaitkan kegiatan seksual dengan uang. Prostitusi merupakan pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan, banyak menyerap tenaga kerja, melibatkan perempuan, dan berbayaran tinggi. Bahkan, di kalangan perempuan pekerja seks komersial (PSK) di jalanan sekali pun, bayaran mereka relatif lebih tinggi daripada pekerjaan lain yang berkeahlian di wilayah yang sama. Para perempuan yang bekerja di bisnis prostitusi biasanya memperoleh penghasilan yang jauh lebih tinggi.
Di kalangan pelaku di industri seks komersial, memang banyak jalan yang bisa dipilih untuk tetap mengembangkan bisnis yang secara ekonomi sangat menguntungkan tersebut. Noeleen Heyzer dalam bukunya Dr. Bagong Suyanto (1986: 160 ) membedakan tiga macam tipe pelacur menurut hubungannya dengan pengelola bisnis pelacuran.
a. pelacur yang bekerja sendiri tanpa calo atau majikan. Mereka sering beroperasi di pinggir jalan atau masuk satu bar ke bar yang lain.
b. pelacur yang memiliki calo atau beberapa calo yang saling terkait secara hierarkis. Biasanya, si pelacur hanya memperoleh sebagian kecil dari uang yang dibayarkan kliennya.
c. pelacur yang berada di bawah naungan sebuah lembaga atau organisasi mapan. Contohnya, panti pijat, lokalisasi, dan hotel-hotel.
Perempuan yang terlibat dalam prostitusi bisa dalam bentuk pelacur jalanan, pelacur di rumah bordil, bar atau klub malam, atau gadis panggilan.
Pelacur yang termasuk kelas tinggi memiliki penampilan yang lebih baik, lebih
muda, dan lebih sehat menghasilkan tarif yang lebih tinggi pada setiap pelanggannya. Perempuan yang terjerumus dalam bisnis prostitusi umumnya terjebak antara perbudakan ekonomi dan emosi serta bekerja di bawah kondisi yang sama dengan seorang budak. Tetapi, karena keuntungan dan penghasilan yang ditawarkan bisnis seksual itu sangat menguntungkan, bisa dipahami jika praktik pelacuran seolah tidak pernah bisa diberantas hingga tuntas.
Pelacur biasanya bisa memperoleh penghasilan tertinggi ketika mereka masih muda dan sedang populer. Seorang perempuan muda yang menjadi primadona biasanya menjadi anak kesayangan mucikari karena mampu menarik pelanggan yang lebih banyak. Menurut Commemge dalam Tjahjo Purnomo (1985:10) prostitusi atau pelacuran adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya, yang dilakukan untuk memperoleh bayaran dari laki-laki yang datang kepada wanita tersebut. Kartini kartono (1992:207) medefinisikan prostitusi atau pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran
Soerjono Soekanto (1990:374) mengatakan prostitusi atau pelacuran merupakan suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Kartini Kartono (1992 : 207) mendefinisikan prostitusi atau pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian
kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks, dengan imbalan pembayaran.
Sedangkan PSK adalah para pekerja yang bertugas melayani aktivitas seksual dengan tujuan untuk mendapatkan upah atau imbalan dari yang telah memakai jasa mereka tersebut (Koentjoro, 2004:26).
Berdasarkan pendapat diatas dapat di katakan beberapa hal :
a. Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa terkendali dengan banyak orang disertai ekploitasi dan komersialisasi, imppersonal tanpa afeksi sifatnya.
b. Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada orang banyak untuk memuaskan nafsu seks dengan imbalan bayaran.
c. Pelacuran iyalah perbuatan yang dilakukan perempuan dengan meyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapat upah.
Dari beberapa pendapat diatas dapat peneliti simpulkan bahwa prostitusi/pelacuran adalah suatu perilaku menyimpang dimana wanita lah yang menjadi objek, baik wanita dewasa maupun anak-anak yang menjual tubuhnya ke kaum laki-laki untuk mendapatkan upah/bayaran.
2. Kategori Prostitusi
Menurut Kartini Kartono (1992:209) ada beberapa orang yang termasuk kategori pelacuran atau prostitusi yaitu :
a. Penggundikan yaitu pemeliharaan istri tidak resmi, istri gelap atau perempuan piaraan. Mereka hidup sebagai suami istri, namun tanpa ikatan perkawinan.
b. Tante girang yaitu wanita yang sudah menikah, namun tetap melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, untuk mengisi waktu kosong dan bersenang-senang dan mendapatkan pengalaman-pengalaman seks lain.
c. Gadis-gadis bar yaitu gadis-gadis yang bekerja sebagai pelayan-pelayan bar dan sekaligus bersedia memberikan layanan seks kepada para pengunjung.
d. Gadis-gadis bebas yaitu gadis-gadis yang masih sekolah atau putus sekolah, putus studi akademik atau fakultas, yang mempunyai pendirian yang tidak baik dan menyebarluaskan kebebasan seks untuk mendapatkan kepuasan seksual.
e. Gadis-gadis panggilan adalah gadis-gadis dan wanita-wanita yang biasa menyediakan diri untuk dipanggil dan dipekerjakan sebagai pelacur, melalui penyaluran tertentu.
f. Gadis-gadis taxi, yaitu gadis-gadis panggilan yang ditawar-tawarkan dan dibawa ketempat-tempat hiburan dengan taxi-taxi tersebut.
g. Hotstes atau pramuria yaitu wanita-wanita yang menyamarkan kehidupan malam dalam night club. Yang pada intinya profesi hostess merupakan bentuk pelacuran halus.
h. Promisikuitas inilah hubungan seks secara bebas dengan pria manapun juga atau dilakukan dengan banyak laki-laki.
Dari tinjauan berdasarkan kategori prostitusi diatas, maka prostitusi yang terjadi di kalangan putih abu-abu ini termasuk kategori gadis-gadis bebas.
Alasan prostitusi ini termasuk prostitusi gadis-gadis bebas adalah dimana para wanita atau gadis-gadis ini masih berstatus duduk di bangku sekolah menengah atas, dimana mereka akan melakukan seks dengan para pria manapun yang mereka kehendaki untuk memuaskan nafsu para lelaki hidung belang yang bisanya sudah beristri.
3. Faktor Pendorong Timbulnya Prostitusi
Faktor yang menyebabkan prostitusi semakin marak terjadi dan terus berkembang dari waktu ke waktu, 5 faktor penyebab terjadinya pelacuran, yakni:
a. Lemahnya tingkat keimanan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa,pada dasarnya, keimanan adalah landasan sseorang dalam menjalani kehidupan ini. Tiap-tiap agama mempunyai aturan sendiri-sendiri mengenai perintah dan larangan Tuhan Y.M.E. Tidak ada satu pun agama yang memperbolehkan pelacuran terjadi. Dalam hidupnya, seseorang harus selalu berada pada jalur yang benar yakni jalur yang sudah diatur dalam kitab suci agama. Dengan dilandasi keimanan yang baik, diharapkan orang tersebut akan kuat menjalani arus tajam dalam kehidupan ini.
b. Kemiskinan, kemiskinan telah memaksa banyak keluarga untuk merencanakan strategi penopang kehidupan mereka termasuk menjual
moral untuk bekerja dan bekerja karena jeratan hutang, yaitu pekerjaan yang dilakukan seseorang guna membayar hutang atau pinjaman;Pada dasarnya, penyebab utama terjadinya pelacuran ialah faktor ekonomi.
c. Keinginan cepat kaya (materialistic), keinginan untuk memiliki materi dan standar hidup yang lebih tinggi-memicu terjadinya pelacuran. Aktivitas haram ini sudah menjamah lingkungan pendidikan. Pelajar SMP, SMA, Mahasiswa banyak pula yang terjun dalam dunia ini. Motifnya, selain faktor kemiskinan juga adanya keinginan untuk dapat segera memenuhi kebutuhan gaya hidup yang mewah.
Lena Edlund dan Evelyn Korn (2002) mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi keterlibatan perempuan dalam sektor prostitusi.
1. Jumlah perempuan dan rasio perempuan dibandingkan laki-laki. Dengan makin banyaknya jumlah laki-laki daripada perempuan, makin besar peluang pelacur perempuan untuk memperoleh penghasilan yang tinggi.
2. Kemiskinan. Dalam struktur pasar kerja di mana hanya sedikit peluang bagi perempuan untuk bisa memperoleh pekerjaan yang layak, hal itu akan menjadi alasan penting kenapa perempuan terpaksa memilih bekerja di sektor prostitusi.
3. Reputasi dan stigma yang mesti ditanggung perempuan yang bekerja sebagai pelacur. Berbeda dengan istri yang disimpan dan diperlakukan dengan sopan, pelacur memiliki nilai lebih karena bersedia menawarkan jasa layanan seksual yang beraneka ragam gaya yang mungkin memalukan bagi perempuan yang berstatus istri.
4. Adanya paksaan yang membuat perempuan masuk ke dalam bisnis prostitusi. Ada ikatan utang kepada mucikari atau calo atau faktor yang membuat perempuan terpaksa terlibat dan bertahan bekerja sebagai pelacur hingga utang mereka lunas.
5. Perceraian dan kehilangan keperawanan, meski tidak selalu terjadi, sering menjadi faktor yang mendorong perempuan masuk ke dalam bisnis prostitusi.
Munculnya fenomena prostitusi bukan sekadar imbas penutupan lokalisasi dan bukan sekadar mengejar penghasilan yang lebih besar. Lebih dari itu, masalah tersebut adalah fenomena sosial yang berkaitan dengan persoalan ekonomi-politik, kultural, gaya hidup, dan sebagainya. Ibarat mengurai benang ruwet, dalam upaya penanganan praktik pelacuran, banyak tali-temali persoalan yang mesti diurai satu per satu secara sabar dan empatif.
Sepanjang upaya penanganan pelacuran belum ditempatkan dalam konteks pemberdayaan dan perlindungan kaum perempuan dari pengaruh ideologi patriarki dan tekanan struktural kemiskinan, sepanjang itu pula praktik pelacuran akan tetap muncul dalam berbagai bentuk, baik yang terang- terangan maupun yang terselubung.
4. Dampak prostitusi
Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh pelacuran ialah :
a. Menimbulkan dan menyebar luaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak terdapat ialah syplis dan gonorrhoe (kencing nanah).
b. Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga. Suami yang tergoda oleh pelacur biasanya melupakan fungsinya sebagai pala keluarga, sehingga keluarga menjadi berantakan.
c. Mendemoralisir atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan, khususnya anak-anak mudaremaja pada masa puber dan adolesensi.
d. Berkolerasi dengan kriminalitas dan kecanduan bahan-bahan narkotika (ganja, morpin, heroin dan lain-lain)
e. Merusak sendi-sendi moral, susila, hukum dan agama.
f. Bisa menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, misalnya impotensi, anorgasme, nymfomania, satirialis, ejakulasi prematur yaitu pembuangan seperma sebelum zakar melakukan penetrasi dalam vagina atau liang sanggama, dan lain-lain.
D. Landasan Teori
Teori Anomie berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpangan. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Robert Merton dalam J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (2011:110)
Munculnya keadaan Anomie, oleh Merton dalam J. Dwi Narwoko &
Bagong Suyanto (2011:111) diilustrasikan sebagai berikut :
a. Masyarakat industri modern, seperti Amerika Serikat, lebih mementingkan pencapaian kesuksesan materi yang diwujudkan dalam bentuk kemakmuran atau kekayaan dan pendidikan yang tingggi.
b. Apabila hal tersebut tercapai maka mereka dianggap sebagai orang yang telah mencapai tujuan-tujuan status atau kultural (Cultural Goals) yang dicita- citakan oleh masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, ternyata harus melalui akses atau cara kelembagaan yang sah (institutionalized means), misalnya : sekolah, pekerjaan formal, kedudukan politik, dan sebagainya.
c. Namun ternyata akses kelembagaan yang sah jumlahnya tidak dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, teutama lapisan masyarakat bahwa dalam hal ini orang-orang miskin atau orang-orang dari kelompok ras dan etnis tertentu yang sering mengalami diskriminasi di lingkungannya.
d. Akibat dari keterbatasan askes tersebut, maka muncul situasi anomie yaitu suatu situasi dimana tidak ada titik temu antara tujuan-tujuan status/kultural dan cara-cara yang sah yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut.
e. Dengan demikian Anomie adalah suatu keadaan atau nama dari situasi dimana kondisi sosial/situasi masyarakat lebih menekankan pentingnya tujuan-tujuan status, tetapi cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut.
Tindakan yang menyimpang atau bahan kriminal, misalnya : menjadi pelacur, pengguna obat-obatan, alkoholisme, kekacauan mental, perampok, dan
lainnya adalah akibat dari situasi Anomie tersebut. Jadi dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu perilaku dikatakan menyimpang apabila melanggar nilai dan norma yang berlaku, tidak sesuai perilaku umum yang telah ditetapkan.
E. Kerangka Konseptual
Pada kalangan pekerja seks komersial, dorongan utama dalam memilih pekerjaan karena faktor lemahnya tingkat keimanan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pada dasarnya, keimanan adalah landasan sseorang dalam menjalani kehidupan ini. Tidak ada satu pun agama yang memperbolehkan pelacuran terjadi. Kemiskinan juga telah memaksa banyak keluarga untuk merencanakan strategi penopang kehidupan mereka termasuk menjual moral.
Penyebab utama terjadinya pelacuran ialah keterpurukan kondisi ekonomi.
Keinginan cepat kaya (materialistic), keinginan untuk memiliki materi dan standar hidup yang lebih tinggi.Reputasi dan stigma yang mesti ditanggung perempuan yang bekerja sebagai pelacur, Adanya paksaan yang membuat perempuan masuk ke dalam bisnis prostitusi, Perceraian dan kehilangan keperawanan, meski tidak selalu terjadi, sering menjadi faktor yang mendorong perempuan masuk ke dalam bisnis prostitusi.
Dalam pembahasan mengenai gaya hidup menyimpang dalam kehidupan masyarakat, memang bukanlah fenomena yang sangat baru dibicarakan. Bahkan perilaku tersebut sudah ada sejak dulu kala. Yang menjadi hal yang patut dipertanyakan yaitu, mengapa dalam kehidupan manusia perilaku dengan gaya
hidup menyimpang sebagai dasarnya masih saja terus ada, walaupun dalam kehidupan masyarakat terdapat tatanan nilai dan norma yang mengatur kehidupan perilaku bagi setiap manusia. Sebenarnya, titik permasalahan yang mendasari terjadinya perilaku menyimpang adalah cara manusia dalam mencapai tujuan dan kehendak dalam proses pencapaian pemuasan dirinya. Sebab semua orang pastilah mempunyai tujuan dan ingin memuaskan diri sendiri, dan dalam prosesnya sering kali tidak didasari dengan tatanan nilai serta norma dalam pemenuhan kebutuhannya tersebut. Sebagian kelompok dalam masyarakat menganggap bahwa tatanan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat merupakan pengekangan dan membatasi mereka dalam mencapai kebebasan dalam mencapai tujuan hidup. Hal ini yang kemudian menjadi faktor yang mendorong mereka melakukan penyimpangan dalam proses pemusan kebutuhan hidup dan pencapaian tujuan dalam kehidupan mereka. Adapun dampak yang ditimbulkan prostitusi terhadap PSK Menimbulkan dan menyebar luaskan penyakit kelamin dan kulit, Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga, Berkolerasi dengan kriminalitas dan kecanduan bahan-bahan narkotika (ganja, morpin, heroin dan lain-lain), Merusak sendi-sendi moral, susila, hukum dan agama.
Faktor yang mendorong munculnya fenomena prostitusi mekanisme gaya hidup pekerja seks komersial dan dampak yang ditimbulkan prostitusi terhadap pekerja seks komersial tersebut akan menjadi fokus dalam penelitian ini.
Kerangka pikir yang telah dijelaskan jika diuraikan dalam bentuk bagan dapat dilihat sebagai berikut:
Skema kerangka konseptual
Pekerja Seks Komersial
Prilaku Menyimpang Faktor
Pendorong Munculnya Prostitusi di
makassar
Gaya hidup perempuan pekerja seks komersial di makassar.
Dampak Yang Ditimbulkan
Prostitusi Terhadap Perempuan Psk
Di Makassar.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian dan Tipe Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan pendekatan Kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.
Dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Adapun tipe penelitian, snowball sampling.prosedur pemilihan bola salju ini dilakukan secara bertahap. Pertama-tama, diidentifikasi orang yang dianggap dapat memberi informasi untuk diwawancara. Kemudian orang ini dijadikan sebagai informan untuk mengidentifikasikan orang lain sebagai sampel yang dapat memberi informasi. Demikian proses ini berlangsung hingga terpenuhi jumlah anggota sampel yang dikehendaki.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun lokasi penelitian adalah di kecamatan Wajo tepatnya di Jln.
Nusantara kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan yakni bulan juni sampai dengan Agustus 2015 di kota Makassar.
35
C. Sumber Data
a. Sumber data primer
Sumber data yang diambil dari narasumber langsung. Data primer dalam penelitian adalah para pekerja seks komersial yang menjalankan praktek prostitusi. Sampel diambil dari tiga orang yang dianggap dapat memberikan informasi.
b. Data sekunder
Data yang diperoleh dengan mengadakan penelusuran terhadap beberapa bahan pustaka dan literatur yang relevan dengan masalah yang akan diteliti (teori-teori, konsep, majalah, film, dll).
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data-data menggunakan cara sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi yaitu pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap subyek yang akan diteliti dan informasi dari teman dekat subyek yang akan diteliti. Subjek penilitiannya adalah pekerja seks komersial dan teman dekat pekerja seks komersial itu sendiri yang dianggap dapat memberikan informasi.
2. Wawancara atau Interview
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan
berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti. Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi (Mardalis, 2007:64). Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan para pekerja seks komersial dan teman dekat pekerja seks komersial yang dianggap dapat memberikan informasi atau data yang jelas sesuai dengan permasalahan pada penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yang dimaksud adalah berupa photo-photo pada saat observasi dan wawancara berlangsung dilapangan bersama para pekerja seks komersial.
E. Informan Penelitian
Untuk mengumpulkan data penelitian ditentukan beberapa informan, dalam penelitian ini peneliti menetapkan 5 informan yang dapat memberikan informasi mengenai riwayat mereka dan aktifitas pergaulan informan-informan yang dilingkungan keluarga, masyarkat, dimana dari penuturan 5 informan dipastikan dapat mewakili para pekerja seks komersial dengan masalah yang sama. Penentuan informan ini dilakukan secara snow ball samping dimana peneliti mendapatkan informasi tentang sampel yang akan menjadi informan berikutnya dari informan pertama, informan yang ditentukan pada beberapa orang yang terdeteksi atau teridentifikasi sebagai seorang pekerja seks komersial dari pengakuan langsung maupun pengamatan peneliti jauh sebelum rencana peneliti ini dibuat.
F. Teknik Analisis Data
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, jadi analisis data berlangsung ketika pertama kali terjun ke lokasi penelitian Setelah semua data-data yang di dapat dari lapangan terkumpul, maka dilakukan pengolahan data dengan cara menuliskan, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi dan kemudian dilanjutkan dengan penyajian.
G. Teknik Pengabsahan Data
Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Maleong, 2006:330).
Keabsahan data dimaksud untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan dan memperjelas data dengan fakta-fakta aktual di lapangan. Dalam penelitian kualitatif keabsahan data lebih bersifat sejalan seiring dengan proses penelitian itu berlangsung. Keabsahan data kualitatif harus dilakukan sejak awal pengambilan data, yaitu sejak melakukan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas infomasi yang diperoleh dari pekerja seks komersial. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasi wawancara. Membandingkan apa yang
dikatakan informan pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Apakah hasilnya berbeda atau sama.
2. Tringulasi teknik
Tringulasi teknik adalah untuk menguji kredidibilitas informasi yang diperoleh dari sumber yang sama dengan teknik yang berbeda yaitu data yang diperoleh dengan wawancara lalu dicek dengan observasi. Bila kedua teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan
3. Tringulasi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpullkn dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, sehingga akan memberikan data yang lebih valid. Selanjutnya dilakukan wawancara pada siang hari dengan narasumber yang sama dan data yang diperoleh berbeda pada saat pagi hari mungkin karena narasumber ada masalah.`pengecekan pada sore hari apakah data yang diperoleh hasilnya sama pada siang hari atau pagi hari. Bila hasil uji pada pagi hari, siang hari dan sore hari, menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada Bab IV ini, membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi kondisi obyektif tentang lokasi penelitian, profil keluarga di Kecamatan wajo Kota Makassar, tentang pelaku atau pekerja seks komersial (PSK) di Kecamatan Wajo Kota Makassar.
1. Letak Geografis dan Batas Wilayah
Kecamatan wajo adalah satu kecamatan dari 14 kecamatan yang ada di wilayah kota makassar dan rerletak di pusat ibukota propinsi sulawesi selatan.
a. Sebelah utara : Berbatasan dengan Kecamatan Ujung Tanah b. Sebelah timur : Berbatasan dengan Kecamatan Bontoala c. Sebelah selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Ujung Pandang d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Makassar
Wilayah kecamatan wajo dengan luas 1,99 terbagi dalam 8 kelurahan kondisi tofografi kecematan wajo terdiri dari 100% daerah datar, dengan rata-rata ketinggian wilayah 500 meter dari permukaan laut.
2. Luas Wilayah
Dengan luas wilayah yang relative sempit dibandingkan dengan kecematan lainnya yaitu 1, 99 maka jarak kelurahan ke ibukota maupun ke pusat kota makassar relative dekat berkisar 1-2 Km.
40
3. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk kecamatan wajo tahun 2015 adalah 34.137 orang terdiri dari 16.756 laki-laki dan 17.381 perempuan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk dalam kurung waktu 2010-2015 mengalami peningkatan sekitar 0,01 5 Dimana pada tahun 2010 menurut data sensus penduduk jumlahnya sekitar 34.114 jiwa.
Tabel 1. Jumlah penduduk menurut kelurahan dan jenis kelamin serta sex ratio Desa/kelurahan Laki-Laki perempuan jumlah Sex ratio
(1) (2) (3) (4) (5)
Pattunuang Ende Melayu baru Melayu Butung Mampu Malimongan Malimongan Tua
1679 1759 1696 2740 1138 1878 2797 3069
2037 1931 1962 3179 1232 1898 2554 2588
3716 3690 3658 5919 2370 3776 5351 5657
82.43 91.09 86.44 86.19 92.37 98.95 109.51 118.59
Kecamatan 16756 17381 34127 96.40
Sumber : BPS Kota Makassar
Tabel 2. Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin
Kelompok umur
Jenis kelamin
Jumlah Laki-laki perempuan
(1) (2) (3) (4)
0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35- 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 +
1420 1392 1368 1744 2209 1663 1443 1201 1032 826 770 561 450 677
1306 1221 1301 1754 2253 1781 1454 1242 1114 985 836 586 528 1018
2726 2612 2669 3498 4462 3444 2897 2444 2146 1811 1606 1148 978 1696
Jumlah 16756 17381 34137
Sumber : BPS Kota Makassar 4. Karakteristik Responden
Pada bagian ini dipaparkan mengenai karakteristik dari responden, dimana jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 orang
Pelaku, berusia 20 tahun hingga 22 tahun di Kecamatan Wajo Kota Makassar. Oleh karena itu, sebelum memasuki permasalahan yang telah dirumuskan, maka terlebih dahulu dikemukakan karakteristik informan itu sendiri sebagai bahan pertimbangan terhadap pelaku atau pekerja seks komersial Kota makassar. Karakteristik yang dimaksud antara lain:
a) Kelompok umur
Umur juga merupakan salah satu karakteristik yang akan menjadi responden.
Table 3. Distribusi responden menurut kelompok umur di Kecamatan wajo.
No Tingkat Umur (Tahun) Frekuensi Persen (%)
1 11 – 20 1 20 %
2 21 – 30 4 80 %
3 31 – 40 - -
4 41 – 50 - -
5 51 ke atas - -
Jumlah 5 100 %
Sumber : BPS Kota Makassar
b). Tingkat Pendidikan
Pendidikan biasanya dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang digelutinya, pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang pernah mengecap tingkat pendidikan tertentu akan sangat berbeda cara berpikirnya dengan orang yang tidak pernah mengenyam
pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal. Tabel dibawah ini akan diuraikan jumlah responden menurut tingkat pendidikan.
Tabel 8. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan di kecamatan wajo
No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persen (%)
1 Tidak tamat SD - -
2 SD - -
3 SMP 1 20 %
4 SMA 4 80 %
5 Perguruan Tinggi - -
Jumlah 5 100 %
Sumber : BPS Kota Makassar 5. Sumber Informasi
Untuk mengumpulkan data penelitian ditentukan beberapa informan, dalam penelitian ini peneliti menetapkan 5 informan yang dapat memberikan informasi mengenai riwayat mereka dan aktifitas pergaulan informan- informan yang dilingkungan keluarga, masyarkat, dimana dari penuturan 5 informan dipastikan dapat mewakili para PSK dengan masalah yang sama.
Penentuan informan ini dilakukan secara snow ball samping dimana peneliti mendapatkan informasi tentang sampel yang akan menjadi informan berikutnya dari informan pertama, informan yang ditentukan pada beberapa orang yang terdeteksi atau teridentifikasi sebagai seorang PSK dari