BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Motivasi Belajar Siswa
Menurut Frederick (2007), “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai
tujuan”. Dalam penelitian ini motivasi siswa dibagi menjadi dua yaitu motivasi awal pada saat siswa belum menerima pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan motivasi akhir siswa setelah menerima
pelajaran menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
Berdasarkan hasil analisis data motivasi awal, diperoleh 60% siswa berada
pada kategori sangat tinggi dan 40% siswa berada pada kategori tinggi.
Sedangkan pada siklus II kategori sangat tinggi mencapai 88% dan untuk kategori
tinggi yaitu sebesar 12%. Hasil tersebut sesuai dengan target pencapaian yang
diharapkan oleh peneliti yaitu adanya peningkatan pada kategori tinggi dan sangat
tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penelitian ini berhasil
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan
Gambar 4.6 Diagram Motivasi Siswa Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan diagram diatas dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan
motivasi belajar siswa pada materi biologi pencemaran dan kerusakan lingkungan
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini
membuktikan bahwa motivasi siswa meningkat setelah menggunakan metode
Jigsaw.
2. Hasil Belajar Ranah Kognitif
Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah
melakukan pembelajaran. Aspek kognitif adalah aspek yang mencakup kegiatan
atau aktivitas yang dilakukan oleh otak. Hasil belajar ranah kognitif mencakup 6
aspek yaitu aspek pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan
evaluasi. Namun aspek yang ditekankan dalam penelitian ini yaitu aspek
penerapan (C3). Hal ini sesuai dengan kompetensi dasar (KD) pada materi
pencemaran dan kerusakan lingkungan. Dalam penelitian ini hasil belajar ranah 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Awal Akhir Sangat Tinggi Tinggi
kognitif diperoleh melalui tes akhir (post test) yang dilakukan pada akhir proses
belajar siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil analisa data yang telah diperoleh,
dapat dikatakan bahwa hasil belajar ranah kognitif mengalami peningkatan dari
siklus I ke siklus II. Pada tes akhir siklus I nilai tertinggi yaitu sebesar 88
sedangkan nilai terendah adalah 31. Selain itu diperoleh skor nilai tertinggi hasil
rata-rata kelas siklus I sebesar 66,12 dengan jumlah siswa yang tuntas atau
memenuhi KKM sebanyak 10 atau 40% dan siswa yang belum tuntas sebanyak
60% atau sejumlah 15 siswa. Pada siklus II, skor terendah hasil tes akhir (post test
II) adalah 35 sedangkan skor tertinggi mengalami peningkatan hingga 100. Jumlah siswa yang belum mencapai nilai KKM sebanyak 5 siswa atau jika
dipersentasekan yaitu sebesar 20% dan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM
sebanyak 20 siswa atau sebesar 80%. Berdasarkan perhitungan skor rata-rata kelas
terjadi peningkatan dari siklus I yaitu 66,12 menjadi 83,88 pada siklus II.
Pada siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 40% sedangkan siswa
yang belum mencapai KKM sebanyak 60%. Hal ini terjadi karena siswa-siswi
kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan baru pertama kali belajar menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Sehingga proses diskusi masih mengalami
hambatan-hambatan seperti banyaknya pertanyaan dari siswa mengenai langkah
pembelajaran, suasana kelas yang ramai dan kebingungan siswa ketika berpindah
dari kelompok asal ke kelompok ahli begitupun sebaliknya. Hambatan-hambatan
tersebut yang menjadi penyebab mengapa pada siklus I siswa yang mencapai
KKM presentasenya lebih kecil dibandingkan siswa yang tidak mencapai KKM.
dari 40% pada siklus I menjadi 80% karena siswa sudah mengerti
langkah-langkah pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan
baik dan siswa dapat memahami materi yang diajarkan sehingga pada akhirnya
siswa mampu menjawab soal post test siklus II dengan baik. Hasil penelitian
tindakan kelas (PTK) dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi
pencemaran dan kerusakan lingkungan terhadap pencapaian hasil belajar kognitif
ditunjukkan pada diagram batang seperti pada gambar yang mana pada diagram
tersebut menunjukkan peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II. Hasil
belajar siklus I menunjukkan 40% siswa telah mencapai KKM. Sedangkan jumlah
siswa yang mencapai KKM pada hasil belajar siklus II adalah 80%.
Gambar 4.7 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siklus I dan Siklus II
Diagram batang di atas menunjukkan bahwa persentase jumlah siswa yang
mencapai KKM pada siklus II lebih tinggi dibandingkan pada siklus I. Hasil
tersebut memperlihatkan peningkatan persentase jumlah siswa yang mencapai 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% Siklus I Siklus II
% KKM Siswa
KKM sebesar 40%. Pada siklus II menjadi 80% siswa tuntas KKM. Hasil analisis
siklus I belum mencapai target pencapaian yang ditetapkan oleh peneliti yaitu ≥75% karena siswa belum memahami langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Jigsaw. Namun pada siklus II mengalami peningkatan
menjadi 80% sehingga memenuhi target pencapaian yang telah ditentukan oleh
peneliti yaitu 75% siswa mencapai KKM. Selain peningkatan persentase jumlah
siswa yang mencapai KKM, nilai rata-rata kelas VIIB juga mengalami
peningkatan pada siklus I dan siklus II. Berdasarkan hal tersebut, nilai rata-rata
kelas VIIB meningkat dari 66,12 pada siklus I menjadi 83,88 pada siklus II.
Peningkatan hasil belajar aspek kognitif menunjukkan bahwa kegiatan
yang dilakukan selama proses belajar-mengajar dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw telah membantu siswa kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan
Yogyakarta untuk memahami materi tentang pencemaran dan kerusakan
lingkungan. Terjadi peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa sesuai strategi
pembelajaran tipe Jigsaw yang diungkapkan oleh Ardiyanto (2013) yaitu “untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sehingga dapat
meningkatkan nilai prestasi belajar”.
Hasil belajar dalam aspek kognitif yang meningkat juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Pertama adalah penggunaan metode dan media pembelajaran
yang baik dalam hal ini dilakukan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw yang membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan karena melibatkan seluruh siswa dalam berdiskusi. Hal tersebut berdampak pada
meningkatnya hasil belajar aspek kognitif yang terjadi selama tindakan
berlangsung.
Faktor kedua adalah pemberian penghargaan berupa pujian dan hadiah.
Menurut Fahturrohman dan Sutikno (2007) yang mengatakan bahwa “pemberian pujian dan hadiah kepada siswa yang berprestasi akan memacu siswa yang tidak
berprestasi untuk mengejar atau bahkan mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi
dari pada anak yang berprestasi”. Pujian dan hadiah diberikan kepada siswa yang aktif bertanya, menanggapi hasil presentasi temannya, berani maju ke depan untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kepada siswa yang memperoleh
nilai tertinggi di kelas. Hal tersebut membawa dampak positif bagi siswa lainnya
sehingga siswa saling berlomba-lomba mendapatkan nilai terbaik dengan
meningkatkan kemampuan belajarnya.
Faktor ketiga adalah kerjasama. Hal ini terlihat melalui relasi yang terjadi
antar siswa selama berdiskusi. Pada saat melaksanakan kegiatan diskusi
komunikasi antar siswa terjalin dengan baik sehingga siswa saling membantu
dalam menjawab soal-soal yang terdapat pada kartu soal.
Faktor keempat yaitu faktor yang berasal dari dalam diri (faktor intrinsik).
Motivasi intrinsik tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah
ada dalam diri individu sendiri, atau sejalan dengan kebutuhannya. Tinggi
rendahnya kemampuan siswa dalam memahami materi yang dipelajari akan
Hubungan yang baik antara guru dan siswa juga menjadi pendukung
meningkatnya hasil belajar aspek kognitif. Hal ini sesuai dengan apa yang
diungkapkan oleh Slameto (2010) bahwa “hubungan guru dengan siswa merupakan faktor lain yang mendukung meningkatkan hasil belajar aspek
kognitif”. Dalam penelitian ini hubungan guru dan siswa terlihat akrab sehingga siswa tidak sungkan ataupun malu ketika ingin bertanya atau meminta penjelasan
dari guru untuk mengatasi kebingungan memahami pertanyaan yang terdapat pada
kartu soal selama proses pembelajaran berlangsung.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
yang dilaksanakan di kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pencemaran dan
kerusakan lingkungan berhasil meningkatkan hasil belajar ranah kognitif siswa.
Hal ini terbukti dari hasil tes akhir siklus I (post test I) yang mengalami
peningkatan pada siklus II. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari rata-rata kelas
dan dari persentase siswa yang mencapai KKM.
3. Hasil Belajar Ranah Afektif
Hasil belajar ranah afektif dalam penelitian ini diperoleh melalui lembar
observasi yang telah di persiapkan oleh peneliti. Pengambilan data hasil belajar
ranah afektif dilakukan oleh dua rekan mahasiswa yang bertindak sebagai
observer sesuai dengan skor yang telah ditentukan. Observasi dilaksanakan untuk
tahu, sikap percaya diri, serius, saling menghargai pendapat, semangat kerja sama
dan sikap tanggung jawab siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat disajikan dalam
bentuk diagram batang berikut.
Gambar 4.8 Diagram Ranah Afektif Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan gambar di atas, terlihat adanya peningkatan hasil belajar
ranah afektif siswa kelas VIIB. Pada siklus I maupun siklus II, kategori tinggi
lebih menonjol dibandingkan dengan kategori sedang maupun rendah. Persentase
kategori tinggi pada siklus I adalah 84% dan mengalami peningkatan pada siklus
II menjadi 100%. Sedangkan untuk kategori sedang pada siklus I adalah 16%
mengalami penurunan pada siklus II menjadi 0%. Kriteria peningkatan ranah
afektif dapat dilakukan berdasarkan tabel berikut : 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%
Kategori Tinggi Sedang
Siklus I Silus II
Tabel 4.5 Kriteria Hasil Persentase Observasi Aspek Afektif Siswa Terhadap Pembelajaran
Presentase yang diperoleh Keterangan
77,79 < q < 100 Tinggi
55,56< q < 77,78 Sedang
33,33< q ≤ 55,55 Rendah
Peningkatan hasil belajar ranah afektif kategori tinggi antar siklus I dan
siklus II sangat menonjol. Rendahnya kategori tinggi pada siklus I dikarenakan
model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran baru
yang diterapkan oleh peneliti pada proses pembelajaran di kelas VIIB. Penerapan
pembelajaran baru menyebabkan siswa terkejut dan belum terbiasa dengan
kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Sesuai dengan target yang diharapkan data awal belum dapat terukur tetapi
hasil yang diharapkan adanya peningkatan pada kategori tinggi mengalami
peningkatan.