• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivasi Belajar

Dalam dokumen TESIS S540907019 SARWOKO (Halaman 31-37)

TINJAUAN PUSTAKA KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1. Role Play

3. Motivasi Belajar

Dalam motivasi belajar ini secara berturut-turut akan dijelaskan: pengertian motivasi belajar, jenis-jenis motivasi belajar dan pentingnya motivasi dalam belajar serta indikator motivasi belajar.

a. Pengertian Motivasi Belajar

Banyak ahli pendidikan yang memberikan batasan tentang motivasi. Menurut Weiner dalam Reigeluth (1983:389), motivasi diartikan sebagai kerseriusan dan pengarahan tingkah laku. Dengan kata lain berarti

pilihan seseorang atau pengalaman/tujuan yang ingin dicapai serta derajat usaha yang dilakukan dalam respek tersebut.

Menurut Houston (1985:5), motives usually involve statements

such as, “something that causes a person to act”. Motif biasanya meliputi

pernyataan sebagai sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan.

Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang (Wahjosumidjo, 1994:174). Motivasi sebagai proses psikologis timbul karena faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut faktor intrinsik atau faktor di luar diri yang disebut faktor ekstrinsik.

Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2004:73-74) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting 1) Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem neurofisiologi yang ada pada organisme manusia, karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia. 2) Motivasi ditandai dengan munculnya rasa, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan

xxxiii

persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. 3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena tersangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Motivasi dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh dalam diri seseorang. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang dapat menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar.

Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Mahasiswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.

Seseorang tidak memiliki motivasi, kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang mahasiswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat.. Jadi tugas dosen adalah bagaimana mendorong para mahasiswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman, 2004:75-76).

b. Arti Penting Motivasi dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah motivasi merupakan hal yang penting. Motivasi merupakan suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah laku (Handoko, 1992:9). Pernyataan ini menunjukkan bahwa faktor motivasi inilah yang mendorong mengapa seseorang itu melakukan suatu perbuatan.

Motivasi dapat mempengaruhi adanya kegiatan yang dilakukan, sehubungan dengan hal itu motivasi dapat berfungsi sebagai 1) Mendorong manusia berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan tenaga. 2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. 3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuata apa yang harus dikerjakan yang secara guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat (Sardiman, 2004:85).

Menurut Worell & Stilwell dalam Teoti Soekamto dan Udin Saripudin Winataputra (1996:39), bahwa adanya motivasi dapat

xxxv

disimpulkan dari observasi tingkah laku. Apabila siswa mempunyai motivasi positif mana ia akan 1) memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin ikut serta, 2) bekerja keras, serta memberikan waktu kepada usaha tersebut, dan 3) terus bekerja sampai tugas terselesaikan.

Di samping itu yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa belajar itu perlu adanya aktivitas. Tidak ada belajar kaau tidak ada aktivitas. Frobel mengatakan bahwa “manusia sebagai pencipta”. Dalam ajaran agamapun diakui manusia adalah sebagai pencipta kedua (setelah Tuhan). Secara alami anak didik memang ada dorongan untuk mencipta. Anak adalah suatu organisme yang berkembang dari dalam. Prinsip utama yang dikemukakan Frobel bahwa anak itu harus bekerja sendiri. Untuk memberikan motivasi, maka dipopulerkan suatu semboyan “berpikir dan berbuat”. Dalam dinamika kehidupan manusia, berpikir dan berbuat sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga dalam belajar sudah barang tentu tidak mungkin meninggalkan dua kegiatan itu, berpikir dan berbuat. Seseorang yang telah berhenti dalam berbuat perlu diragukan eksistensi kemanusiaannya. Hal ini sekaligus juga merupakan hambatan bagi proses pendidikan yang bertujuan ingin memanusiakan manusia. Ilustrasi ini menunjukkan penegasan bahwa dalam belajar sangat memerlukan kegiatan berpikir dan berbuat (Sardiman, 2004:96).

c. Indikator Motivasi Belajar

Peningkatan motivasi belajar dapat meningkatkan prestasi belajar. Untuk itu, dosen harus mampu mengelola pembelajaran dengan lebih baik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa disamping untuk menghilangkan kebosanan dalam belajar dari mahasiswa. Pemahaman ini akan mengantarkan mahasiswa pada tingkat kepuasan, karena apa yang dipelajari akan menemukan relevansinya dalam realitas hidup.

Keinginan, berprestasi yang tinggi, menurut Mc. Clelaland dalam Wahjosumidjo (1994 : 191 – 1992) berarti adanya n-ach (need of

achiefment. Keinginan berprestasi yang tinggi ini kemudian akan berfungsi

sebagai energi besar dalam memperoleh prestasi seperti yang diharapkan. Faktor usaha dan kemampuan akhirnya sangat mendominasi dalam pencapaian prestasi ini. Dalam pandangan Weiner, akhirnya segala prestasi yang diperoleh bukan karena faktor nasib maupun kemudahan tugas. Prestasi yang diperoleh karena faktor usaha belajar yang ditekuni, yang dengan belajar itu seseorang memperoleh kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya.

Oleh karena itu, dalam pembelajaran dosen harus dapat memberikan keyakinan pada mahasiswa akan arti penting materi yang diajarkan. Dengan keyakinan tersebut dapat menyebabkan peningkatan motivasi yang tinggi pada mahasiswa.

Motivasi belajar mahasiswa dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu 1) Adanya needs achievment; 2) Kemampuan (ability); 3) Usaha

xxxvii

(effort); 4) Kesulitan tugas belajar yang dibebankan (task difficulty); 5) Nasib (luck); 6) Kebutuhan kekurangan (deficiency needs); 7) Kebutuhan pengayaan (growth needs); 8) Perhatian penuh (attention); 9) Relevansi (relevance); 10) Kepercayaan diri (confidence); 11) Kepuasan (satisfaction).

4. Tinjauan Mata Kuliah Asuhan Kebidanan I

Dalam dokumen TESIS S540907019 SARWOKO (Halaman 31-37)