• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mulai berlakunya Perjanjian Internasional

BAB II. Tinjauan umum Perjanjian Internasional terhadap Perjanjian

B. Mulai berlakunya Perjanjian Internasional

Mulai berlakunya suatu perjanjian internasional lazimnya ditentukan sendiri oleh para pihak, kapan perjanjian tersebut mulai berlaku sacara efektif. Dalam praktek masyarakat internasional dewasa ini, mulai berlakunya suatu perjanjian telah dituangkan dalam Final Provisions (ketentuan penutup) dari perjanjian tersebut. Meskipun demikian, tentu saja juga banyak variasi waktu atau cara saat mulai berlakunya suatu perjanjian internasional, sesuai dengan bentuk dan macam perjanjian internasional itu masing-masing.

Pada hakekatnya, mengenai saat mulai berlakunya suatu perjanjian sangat tergantung pada kesepakatan dari para pihak yang mengadakan perundingan

Darwin : Pengaturan Hukum Perjanjian Non-Proliferasi ( NPT ) Dan Sanksi Atas Uji Coba Nuklir Korea Utara Dalam Perspektif Hukum Internasional, 2010.

dalam merumuskan naskah perjanjian itu sendiri. Sebab, sebagaimana perjanjian pada umumnya yang merupakan hasil kesepakatan para pihak, maka demikian pula halnya dengan perjanjian internasional, dimana tentang saat mulai berlakunya juga berdasarkan atas kesepakatan antara para pihak yang bersangkutan. Kesepakatan itu ada yang dirumuskan dan dicantumkan sebagai salah satu pasal atau ayat dari perjanjian itu, ada yang sama sekali tidak dicantumkan di dalamnya.

R.C.Hingorani dalam bukunya yang berjudul “Modern International Law” membedakan saat berlakunya perjanjian internasional berdasarkan penggolongan perjanjian internasional ke dalam dua bagian yaitu :

Bagi perjanjian bilateral, pada umumnya perjanjian mulai berlaku pada saat setelah penukaran dokumen ratifikasi. Dalam beberapa kasus negara peserta dapat menetapkan bahwa perjanjian mulai berlaku setelah perjanjian tersebut ditandatangani. Dalam beberapa hal di samping pada saat ratifikasi, perjanjian dapat berlaku pada tanggal yang ditentukan dalam perjanjian.

Pada perjanjian multilateral, perjanjian tersebut mulai berlaku pada tanggal tertentu setelah terpenuhi jumlah dari ratifikasi yang ditentukan atau yang telah didepositokan / disimpan pada negara / organisasi internasional yang ditugasi untuk menyimpannya kecuali dimaksud lain oleh para pihak agar perjanjian mulai berlakunya beberapa saat setelah ratifikasi terakhir yang diisyaratkan.

Darwin : Pengaturan Hukum Perjanjian Non-Proliferasi ( NPT ) Dan Sanksi Atas Uji Coba Nuklir Korea Utara Dalam Perspektif Hukum Internasional, 2010.

Prinsip itu juga dirumuskan secara tegas dalam Pasal 24 Ayat (1) Konvensi Wina 1969 :

”A treaty enter into force in such manner and upon such date as it may

provide or as the negotiating States may agree”.

( Suatu perjanjian mulai berlaku dengan mengikuti cara dan tanggal yang ditetapkan dalam perjanjian atau sesuai dengan persetujuan antara Negara-negara yang berunding).

Ayat (2) ditentukan, bahwa bilamana tidak ada ketentuan atau persetujuan seperti itu, suatu perjanjian internasional mulai berlaku segera setelah semua negara yang berunding setuju untuk diikat dalam perjanjian, (“Failing any such

provision or agreement, a treaty enter into force as soon as consent to be bound by the treaty has been established for all ther negotiating States”).

Selain itu, Konvensi Wina 1969 juga mengatur mengenai pemberlakuan sementara suatu perjanjian internasional, jika disepakati oleh pihak-pihak yang berunding. Konvensi Wina antara lain menyebutkan bahwa suatu perjanjian atau sebagian dari suatu perjanjian diberlakukan sementara sambil menunggu saat mulai berlakunya, jika ditentukan demikian dalam perjanjian atau negara-negara yang berunding dengan cara lain menyetujuinya (“A treaty or part of a treaty is

applied provisionally pending its entry into force if: (a) the treaty itself so provides; or (b) the negotiating States have in some other manner so agreed”).

Darwin : Pengaturan Hukum Perjanjian Non-Proliferasi ( NPT ) Dan Sanksi Atas Uji Coba Nuklir Korea Utara Dalam Perspektif Hukum Internasional, 2010.

Dalam pelaksanaannya sehari-hari, pada garis besarnya kata sepakat para pihak tersebut dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu perjanjian yang langsung dapat berlaku segera setelah penandatangan, maka dalam hal ini tidak diperlukan lagi proses pengesahan lebih lanjut, dan perjanjian yang memerlukan pengesahan sesuai dengan prosedur konstitusional yang berlaku di negara masing-masing pihak pada perjanjian tersebut. Atas dasar dua penggolongan tersebut, kita temui bermacam-macam perumusan klausula penutup mengenai mulai berlakunya suatu perjanjian dan ini dapat dibedakan antara perjanjian bilateral dan multilateral. Selain itu tergantung juga dari sifat perjanjian apakah merupakan suatu perjanjian induk atau perjanjian pelaksanaan dari suatu perjanjian induk.

Bertitik tolak pada ketentuan Pasal 24 dan pasal 25 Konvensi Wina 1969 sebagaimana telah diutarakan di atas, dapat dijelaskan bahwa secara garis besarnya saat mulai berlakunya suatu perjanjian dapat dibedakan20

1. Untuk perjanjian bilateral dan perjanjian multilateral terbatas mengenai suatu masalah yang bersifat teknis, atau hanya sebagai pelaksanaan atau realisasi dari suatu perjanjian yang mengatur masalah yang lebih besar, dan pihak-pihak yang mengadakan perundingan diberikan kewenangan penuh (full power) untuk menyatakan persetujuan untuk terikat pada perjanjian tersebut, maka perjanjian yang demikian itu mulai berlaku pada saat penandatangan perjanjian itu oleh wakil-wakil yang berkuasa penuh yang bersangkutan.

:

20

Darwin : Pengaturan Hukum Perjanjian Non-Proliferasi ( NPT ) Dan Sanksi Atas Uji Coba Nuklir Korea Utara Dalam Perspektif Hukum Internasional, 2010.

2. Untuk perjanjian-perjanjian bilateral dan multilateral terbatas yang substansinya berkaitan dengan masalah yang penting bagi para pihak. Perlu ditegaskan lebih dahulu, bahwa dalam hal ini penting atau tidaknya substansi suatu perjanjian internasional, sepenuhnya ditentukan oleh para pihak itu sendiri. Untuk perjanjian semacam ini tentu saja persetujuan untuk terikat pada suatu perjanjian tidak dinyatakan oleh wakil yang berkuasa penuh yang melakukan perundingan, melainkan oleh pihak eksekutif (aparat pemerintah) yang berwenang dari negara pengirim (sending states) masing-masing. Berdasarkan prosedur konstitusional masing-masing negara pihak, sebelum lembaga eksekutif suatu negara menyatakan persetujuannya untuk terikat pada perjanjian semacam ini, pihak eksekutif terlebih dahulu berkonsultasi dan meminta pendapat serta persetujuan badan legislative (DPR) sebagai pencerminan dari sistem pemerintahan yang demokratis. Setalah mendapat persetujuan dari dewan perwakilan rakyat, barulah pihak eksekutif menyatakan persetujuannya untuk terikat pada perjanjian tersebut.

3. Sedangkan mengenai mulai berlakunya, ditentukan di dalam klausula penutup perjanjian itu sendiri. Misalnya, perjanjian itu dinyatakan mulai berlaku pada saat setelah pertukaran piagam pengesahan antara para pihak (untuk perjanjian bilateral), atau dapat pula dinyatakan bahwa perjanjian (multilateral) itu mulai berlaku pada hari ke tiga puluh setelah tanggal penyimpanan ke tiga puluh lima instrument ratifikasi atau aksesi. Dengan ketentuan sebagaimana telah dikemukakan di atas, di dalamnya

Darwin : Pengaturan Hukum Perjanjian Non-Proliferasi ( NPT ) Dan Sanksi Atas Uji Coba Nuklir Korea Utara Dalam Perspektif Hukum Internasional, 2010.

terkandung suatu makna bahwa pihak yang berwenang dari pemerintah masing-masing pihak, khususnya badan legislative, sudah terlebih dahulu menyetujuinya. Dengan demikian, maka mulai berlaku serta mengikatnya maupun dalam penerapan perjanjian tersebut, diharapkan tidak akan timbul persoalan yang bersumber dari masalah di dalam negeri masing-masing pihak.

Dokumen terkait